
Minggu pagi yang cerah, dirumah Jester dan Naomi terlihat Mercedes Benz C200 terparkir didepan rumah mereka. Diruang keluarga dari rumah itu terlihat Selena dengan wajah yang cemas sedang duduk sambil menunggu, tidak lama Jester dan Naomi yang baru keluar dari kamar setelah mengobrol berdua pun masuk kedalam ruang keluarga. Namun Jester dan Naomi heran melihat Selena hanya sendirian diruangan itu, tapi Jester dan Naomi menahan rasa penasaran mereka sampai mereka duduk disofa berhadapan dengan Selena.
"Mana Luna?" tanya Naomi sembari menoleh kanan kiri mencari keberadaan Luna
"Dia... ada dikamar mandi" jawab Selena singkat
"Eeh iya, gimana dengan rencana kita buat liburan? benarkah Luna ingin ke paris?" tanya Naomi lagi terdengar antusias, Selena pun tersenyum menatap Naomi.
"Sebenarnya dia tidak ingin kesana, cuma.... mungkin kak Jester bisa kasih jawaban kenapa Luna ingin kesana" jawab Selena sambil menatap Jester dengan tajam, jawaban Selena membuat Naomi mengalihkan pandangannya menatap Jester.
"Apa yang terjadi sampai Luna ingin kesana?" tanya Naomi penasaran
"Aaah yaah... dulu aku pernah bilang padanya ingin mengunjungi paris, tapi yaah kamu tahukan dia dulu ingin selalu ikut denganku. Jadi dulu kami pernah berjanji untuk kesana berdua" jawab Jester datar, Naomi pun mengangguk lalu menatap Selena.
"Jadi... kapan rencananya kita akan berangkat?" tanya Naomi
"Kalian sudah tahukan waktu luna cuma tinggal sebelas hari lagi, jadi mungkin dalam dua tiga hari ini aku akan mempersiapkan semua hal untuk keberangkatan kita" jawab Selena, mendengar perkataan Selena membuat Naomi bersemangat.
"Tidak usah! aku yang akan persiapkan semuanya, kita akan naik jet pribadi ayah!" timpal Naomi begitu bersemangat, namun semangat Naomi saat itu berbanding terbalik dengan Jester yang masih nampak berat hati untuk melakukannya.
"Tidak usah, jangan repotkan dirimu. Kami yang mengajak dan sudah jadi kewajiban kami akan memenuhi semua kebutuhan kita liburan ditempat itu" tolak Selena dengan tegas
"Asyik liburan..." celetuk Jester dengan datar dan tidak bersemangat sama sekali, mendengar celetukan itu membuat Naomi kesal lalu mencubit perut Jester dengan sangat keras.
"AAAAA!!! Sakit Naomi!" rintih Jester kesakitan, Naomi menatap mata Jester begitu dalam menunjukkan seberapa marah dia padanya.
"Kak... aku tahu kamu ingin menghindari kami, aku juga tidak bisa memaksamu terus menerus agar mau menuruti segala keinginan kami... tapi aku harap kamu tidak akan menyesal sudah bersikap seperti ini" terdengar menekan Selena mengatakannya, amarahnya pun sangat terasa disetiap kata yang terlontar.
"Aku pastikan tidak akan..." belum selesai Jester berkata, Naomi langsung mencubit perut Jester begitu keras.
"AAAA!! Naomi!!" teriak Jester karena kesakitan
"Aku marah sama kamu!! sungguh!" bentak Naomi sembari melepaskan cubitannya
"Duuh iya iya maaf.... jangan marah lagi ya...." penuh penyesalan Jester mengatakannya untuk merayu Naomi, namun Naomi membuang muka dan membalikkan badannya memunggungi Jester.
"Lagian kenapa sih harus terus melibatkan aku? aku juga punya kehidupan sendiri yang harus aku jalani" ucap Jester terdengar kesal, tidak lama suara Luna pun terdengar dari arah masuk ruang keluarga.
"Maaf ya kak aku merepotkanmu... aku janji ini yang terakhir..." celetuk Luna, mendengar suara Luna membuat Jester, Naomi, dan Selena pun mengalihkan pandangannya menatap Luna yang masih berdiri didekat pintu masuk. Selena yang mengetahui Luna sudah datang langsung berdiri dan kembali menatap Jester, tatapan tajam penuh amarah pun dia tampakkan didepan Jester.
"Maaf mengganggu, aku dan Luna pamit" ucap Selena lalu berjalan mendekati Luna dan menariknya untuk pergi dari rumah itu
"Mereka itu sebenarnya kenapa sih? maksa banget" celetuk Jester ketika suara pintu utama rumah tertutup tanda Selena dan Luna sudah pulang, saat itu Naomi pun berdiri dan beranjak pergi dari ruang keluarga.
Sikap Naomi sebenarnya membuat Jester kecewa, bagaimana bisa Naomi marah sedangkan yang Jester lakukan semata - mata untuk menjaga perasaannya. Jester cemas Luna akan melakukan tindakan yang dapat melukai hati Naomi, mengingat dulu pernah ada cinta diantara Jester dan Luna.
"Naomi" panggil Jester ketika melihat Naomi yang pergi begitu saja tanpa kata, namun Naomi bergeming dan terus berjalan hingga menuju ruang makan dan dapur yang menjadi satu. Dengan helaan nafas Jester pun berdiri dari duduknya dan berjalan menuju dapur untuk menemui Naomi, dilihatnya Naomi yang terlihat sibuk mempersiapkan sarapan. Jester pun berjalan mendekati Naomi dan menyentuh lembut bahu Naomi, namun Naomi menepis tangan Jester.
"Maaf ya..." celetuk Jester saat itu, tapi Naomi tidak merespon apapun.
"Ada cara biar kamu maafin aku? aku beliin ice cream ya? atau coklat?" tanya Jester dengan penuh penyesalan, Naomi hanya menggelengkan kepalanya dan terus sibuk sendiri dengan aktifitasnya.
"Iya iya aku tahu aku salah... aku cuma belum terbiasa aja, jadi kalau dengan meminta maaf pada Luna dan Selena bisa membuatmu baikan... aku akan lakukan" ucap Jester dengan lembut, Jester pun pergi menuju kamar untuk mengambil handphonenya. Setelah itu dia menelepon Selena sembari berjalan kembali menuju dapur, telepon pun terangkat ketika Jester sudah berada didapur agak dekat dengan Naomi.
***
"Ya" sapa Selena dari balik telepon ketika telepon itu terangkat
__ADS_1
"Selena... aku minta maaf atas sikap dinginku tadi, aku tidak tahu apa yang harus aku ucapkan selain kata maaf jadi semoga kamu dan Luna memaafkan aku" ucap Jester, saat itu sorot mata Naomi pun teralihkan menatap Jester sembari menghentikan aktifitas memasaknya. Sempat terdiam sejenak, suara Luna pun samar - samar terdengar dari balik telepon itu.
"Luna sudah memaafkanmu dan dia tidak bermasalah sama sekali dengan sikapmu tadi" ucap Selena
"Bagaimana denganmu?" tanya Jester
"Aku? kamu tidak perlu kata maaf dariku karena aku tidak akan memaafkanmu!" bentak Selena lalu menutup teleponnya begitu saja
***
Jester menatap layar handphonenya ketika Selena menutup telepon, sempat termenung sebentar lalu Jester mengalihkan pandangannya menatap Naomi yang masih terdiam menatap Jester begitu tajam. Dengan helaan nafas, Jester kembali berjalan untuk mendekati Naomi.
"Aku sudah minta maaf dan Luna sudah memaafkanku" ucap Jester dengan lembut, Naomi membuang muka dan kembali melanjutkan memasak.
"Selena?" tanya Naomi singkat dan terkesan marah pada Jester.
"Dia.... dia bilang gak bakal maafin aku, tapi Naomi... tidak adil jika kamu marah padaku karena ini..." jawab Jester sedikit menekan Naomi, mendengar jawaban itu membuat Naomi kembali terdiam.
"Ayolah Naomi... katakan saja syarat apapun maka aku akan lakukan asal kamu tidak marah seperti ini" ucap Jester lagi mencoba merayu Naomi
"Apapun?" tanya Naomi singkat dan menekan
"Apapun" jawab Jester tegas, Naomi pun berbalik menatap Jester.
"Kamu harus janji sama aku kalau kamu tidak akan bersikap seperti itu lagi kepada Luna dan Selena, kalau kamu melanggar... aku akan marah padamu" tegas Naomi mengatakannya dan Jester pun menghela nafas mendengar permintaan Naomi
"Apa ada yang..." belum selesai Jester bicara, Naomi menggebrak salah satu konter dapur
"Iya!! iyaa!! aku janji" ucap Jester dengan terpaksa, Naomi menatap Jester dengan tajam untuk mengintimidasi.
"Janji apa?" tanya Naomi tegas
"Hari ini mood ku sangat buruk, sana... sana... pergi, jangan dekat - dekat aku!" usir Naomi, Jester pun berjalan pergi menuju ruang keluarga tanpa semangat sama sekali.
Hari itu Naomi untuk pertama kalinya bersikap jutek selama seharian didepan Jester, walau Jester sudah berkali - kali meminta maaf namun Naomi tidak juga merubah sikap juteknya. Hingga malam pun tiba, Naomi menyuruh Jester untuk tidur diluar. Walau berat hati namun Jester tetap keluar kamar dan tidur diruang keluarga lagi, sebuah keadaan yang membuat Jester pun menyesal dengan sikapnya tadi pagi.
Malam pun berganti pagi, hari senin pagi Jester dan Naomi pun terlihat bersiap untuk ngampus. Masih terlihat jutek, Naomi masuk kedalam mobil dan memulai perjalanan mereka menuju kampus. Seharian itu Jester merasa tersiksa dengan sikap Naomi, seakan bagaimanpun usahanya untuk meredakan amarah Naomi tidak akan ada yang berhasil. Senin malam pun Naomi masih terlihat jutek kepada Jester dan malam itu Naomi menyuruh Jester untuk tetap tidur diluar kamar, walau berat hati namun Jester hanya bisa pasrah menuruti permintaan Naomi.
Selasa pagi pun tiba, pagi itu Naomi masih terlihat jutek kepada Jester. Setelah selesai sarapan bersama dalam keheningan, Naomi kembali kedalam kamar untuk bersiap mandi. Jester yang masih terdiam diruang makan pun hanya bisa menghela nafas melihat sikap dingin Naomi, tidak lama terdengar suara ketokan pintu. Dengan segera Jester berjalan menuju pintu utama rumah dan membuka pintu itu, Jester melihat Selena yang datang pada pagi itu. Tanpa berkata apapun, Selena hanya memberikan dua lembar tiket kepada Jester dengan cara menempelkan tiket itu kedada Jester lalu segera berbalik dan hendak pergi lagi.
"Selena!! hei tunggu!" ucap Jester sambil berlari mendekati Selena yang terus berjalan hingga depan rumah, namun Selena bergeming dan terus berjalan meninggalkan Jester.
"Tunggu dulu! aku minta maaf!!" agak memaksa Jester mengatakannya sambil terus mengejar Selena yang hendak masuk kedalam mobil, Jester pun menahan pintu mobil agar Selena tidak dapat membukanya.
"Apa?!" bentak Selena sambil menatap Jester penuh amarah, Jester pun menghela nafasnya melihat Selena yang terlihat begitu marah padanya.
"Maafkan aku, aku berlebihan bersikap padamu dan Luna... aku cuma.... berusaha menjaga jarak" jawab Jester terdengar sangat menyesal, kemarahan Selena saat Jester dingin terhadap Luna selalu menimbulkan banyak tanya dalam benaknya. Jester merasa sudah melakukan hal yang benar dan tidak ingin lagi dicap sebagai pria plin - plan, bagaimana pun fokusnya sekarang adalah pada Naomi.
"Minggir!" bentak lagi Selena sembari berusaha mendorong Jester agar dia dapat membuka pintu mobil, namun Jester tetap menahan Selena hingga tiba - tiba suara Naomi pun terdengar dari pelataran rumah
"Selena!" agak berteriak Naomi mengucapkannya dengan gestur tangan agar Selena mendekat, Selena langsung melangkahkan kakinya mendekati Naomi diikuti Jester dibelakang Selena.
Naomi dan Selena berjalan masuk kedalam kamar dan ketika Jester mengikuti mereka, Naomi langsung menutup pintu itu dengan keras tepat didepan wajah Jester. Dengan raut wajah yang sedih, Jester pun berjalan pergi menuju ruang keluarga menunggu Naomi dan Selena selesai berbicara. Didalam kamar Naomi duduk dikasur berhadapan dengan Selena yang duduk dikursi rias, dengan raut wajah yang terlihat menyesal Naomi menatap Selena.
"Maafkan sikap Jester.... aku tidak tahu cinta akan membuatnya seperti itu..." dengan penuh penyesalan Naomi mengatakannya, Selena hanya tertawa kecil menanggapi Naomi.
"Aku tidak menyangka Jester akan sampai bersikap seperti itu, kamu tahu kan? itu bukan karena aku yang membuatnya dingin dan tidak berperasaan" lanjut Naomi, Selena pun menghela nafasnya.
__ADS_1
"Tapi setidaknya kamu bisa tenang, kak Jester benar - benar menjaga hatinya untukmu" timpal Selena datar
"Lalu bagaimana dengan rencana liburannya? benarkah waktu Luna sudah tinggal sembilan hari lagi? apa tidak bisa ditunda?" tanya Naomi terdengar sedih
"Jadwalnya sudah ditentukan dan.... kamu tahu sendiri paspornya pun sudah siap, jadi hanya tinggal menunggu dokumen kepindahannya..." Selena menggantung kalimatnya dan membuat Naomi penasaran
"Naomi... apapun yang nanti terjadi... percayalah padaku dan Luna, kak Jester akan tetap milikmu" ucap Selena terbata melanjutkan kalimatnya yang sempat dia gantung tadi, Naomi semakin dibuat bingung dengan perkataan Selena.
"Kenapa kamu mengatakan seperti itu?" tanya Naomi terdengar sangat kebingungan, Selena hanya tersenyum lalu berdiri dari duduknya hendak pulang.
"Kita akan berangkat hari kamis, semua tiket, akomodasi transport, hotel, dan lain - lain sudah aku persiapkan. Tiketmu dan kak Jester sudah aku berikan pada kak Jester" ucap Selena lalu keluar kamar diikuti oleh Naomi, dilorong utama rumah Jester terlihat muncul dari ruang keluarga mencegat Selena yang hendak keluar rumah.
"Selena... aku mohon maafkan aku, aku janji tidak akan seperti itu lagi" ucap Jester dan Selena hanya tersenyum merespon perkataan Jester lalu kembali berjalan melewati Jester untuk pulang, Jester dan Naomi pun hanya terdiam melihat Selena yang keluar dari rumah.
"Mana tiket kita?" tanya Naomi ketika Selena sudah menutup pintu utama rumah, Jester mengalihkan pandangannya menatap Naomi sembari merogoh saku celananya untuk memberikan tiket mereka kepada Naomi.
"Naomi.... tolong maafkan aku, aku janji tidak akan seperti itu lagi. Aku tidak tahan bertengkar denganmu seperti ini" ucap Jester terdengar sedih, Naomi mengambil tiket ditangan Jester lalu membaca jadwal penerbangan mereka.
"Selena membelikan kita tiket ekonomi? apa - apaan Selena itu?" celetuk Naomi, Jester pun penasaran dan menatap tiket itu.
"Aku akan tanyakan pada Selena" timpal Jester sambil berjalan menuju ruang keluarga untuk mengambil handphonenya, namun tangan Naomi menarik lengan Jester.
"Tidak usah, kita percayakan saja padanya" ucap Naomi, Jester pun hanya menganggukkan kepala merespon perkataan Naomi.
"Jess... aku ingin kamu percaya pada Luna dan Selena, aku juga tidak tahu apa yang sebenarnya mereka rencanakan namun.... aku percaya Luna dan Selena tidak berniat memisahkan kita..." walau terdengar ragu namun Naomi seperti sudah membulatkan tekadnya untuk percaya pada rencana Luna dan Selena, dengan berat hati Jester hanya menganggukkan kepalanya untuk merespon perkataan Naomi.
"Apa ini artinya.... kamu sudah memaafkanku?" tanya Jester, Naomi pun tersenyum dan mengecup bibir Jester.
Jujur saja Naomi merasakan bahwa sikapnya sudah berlebihan kepada Jester, Naomi sadar jika sikap Jester semata - mata hanya ingin menjaga hatinya. Sebenarnya rasa cemburu itu ada saat melihat Jester bertemu dengan Luna, namun tidak dapat Naomi pungkiri ketulusan hati Luna begitu terasa baginya. Bagaimana pun Luna sudah sangat berjasa baginya dan kehadiran Luna sangat berarti bagi Naomi, itulah yang menggerakkan Naomi untuk memberikan kenangan terindah disisa kebersamaan mereka sebelum Luna pergi.
"Maaf ya... aku cuekin kamu dua hari ini" jawab Naomi dengan senyuman, Jester pun terlihat lega.
"Yuk siapin sarapan" ajak Naomi sambil menarik tangan Jester menuju dapur
Semua berjalan normal sampai pada hari keberangkatan mereka untuk berangkat menuju perancis, Kamis pagi disebuah bandara internasional yang terlihat ramai. Jester, Naomi, Luna, Selena, Luke, Harry, Justin dan Grece terlihat diantara orang - orang yang berada dibandara, mereka terlihat meneliti kembali barang bawaan mereka agar tidak ada yang tertinggal.
"Mana Sarah? kamu tidak mengundangnya?" tanya Jester kepada Luke
"Dia sibuk, katanya kalau sempat dia akan menyusul kita" jawab Luke terdengar sedih, Jester pun hanya tertawa mendengar jawaban Jester.
"Kita akan berangkat satu jam empat puluh lima menit lagi, apa kalian mau sarapan terlebih dahulu?" tanya Justin kepada semuanya, semuanya pun setuju dan mereka pun berjalan menuju salah satu rumah makan yang tersedia dibandara.
Disana mereka memesan makanan yang mereka inginkan, sembari menunggu pesanan datang saat itu Justin mengajak Jester, Luke dan Harry untuk melihat - lihat disekitaran bandara. Tersisalah Naomi, Grece, Luna dan Selena yang menunggu dirumah makan itu, dengan obrolan ringan yang menyenangkan membuat mereka pun terdengar penuh canda tawa.
"Ada yang mau ke toilet?" tanya Luna menatap Naomi, Grece, dan Selena bergantian
"Aku ikut deh" jawab Naomi sambil berdiri dari duduknya
"Aku juga" timpal Grece lalu berjalan mengikuti Luna dan Naomi
Tersisalah Selena yang menunggu makanan mereka semua tersaji, tidak lama saat itu makanan pun datang dibawa oleh pelayan. Saat semua makanan sudah tersaji semua, Selena terlihat mengeluarkan sesuatu dari tas genggamnya. Sebuah kertas yang terlipat sedemikian rupa dan berisi sebuah bubuk putih, Selena pun menaburkan bubuk putih itu dimakanan yang dipesan Luke dan Harry. Tidak berhenti sampai disitu, Selena terlihat mencari tiket milik Naomi dan Grece lalu meremasnya dengan kuat dan membuangnya kedalam tas miliknya.
Setelah semua aksinya itu Selena pun berusaha untuk bersikap normal, tidak beberapa lama Selena melihat Naomi, Luna, dan Grece yang datang mendekat. Mereka bertiga kembali duduk dengan obrolan ringan, melihat makanan mereka sudah tersaji mereka pun mulai menyantap makanan itu. Tidak lama datanglah Jester, Justin, Luke dan Harry terdengar ribut dengan canda tawa mereka, ketika sudah sampai mereka pun langsung duduk dan menyantap makanan mereka masing - masing.
Semua berjalan normal dengan obrolan ringan menghiasi sarapan mereka menjelang keberangkatan menuju perancis, hingga beberapa menit pun berlalu dan mereka semua memutuskan untuk segera check in. Ditengah perjalanan menuju tempat check in, tiba - tiba Luke dan Harry merasakan mulas dan meminta izin untuk ke toilet. Dengan berlari kencang, mereka berdua sampai meninggalkan barang bawaan mereka begitu saja. Justin yang saat itu merasa khawatir pun mengatakan akan menemani mereka sembari membawa barang bawaan Luke dan Harry, dengan sigap Justin pun membawa barang miliknya dengan milik Luke dan Harry menuju toilet.
Ditengah menunggu itu suara panggilan untuk check in tiket mereka pun terdengar membuat Jester, Naomi, Grece, Selena dan Luna terlihat gelisah takut ketinggalan pesawat. Selena pun memberi ide agar mereka check in lebih dulu dan mereka semua setuju, saat itu Naomi dan Grece terkejut karena tiketnya tidak ada didalam tas mereka. Selena pun terlihat terkejut karena tiketnya juga hilang, dengan meyakinkan Selena mengatakan bahwa dia tadi sempat membuang beberapa kertas beserta tissue yang berserakan diatas meja saat makan.
__ADS_1
Naomi, Selena dan Grece sepakat untuk kembali ke restoran itu, ditengah paniknya mereka semua Naomi mengatakan agar Jester dan Luna check in lebih dulu dan mengatakan pada petugas jika beberapa orang akan sedikit terlambat. Dengan berat hati Jester dan Luna pun mulai berlari untuk melakukan Check in untuk mendapatkan boarding pass, namun ditengah mereka berlari terdengar suara operator sebagai panggilan terakhir untuk check in. Terpisahlah rombongan itu dengan kepanikan mereka masing - masing