Aku Pinjam Dia

Aku Pinjam Dia
Pesta Kecil


__ADS_3

Sabtu pagi yang cerah, di sebuah rumah minimalis namun terlihat mewah dengan aksen khas jepang. Di ruang keluarga rumah itu, terlihat Jester, Naomi dan Selena duduk di tatami mewah sedang membicarakan hal serius yang dapat dilihat dari ekspresi wajah ketiganya. Jester dan Naomi nampak sangat tertekan dengan pertanyaan Selena yang terkesan tiba - tiba dan spontan, seakan Selena mulai tidak mempercayai Jester dan Naomi bahwa mereka memang tidak memiliki rasa satu dengan lain.


"Kenapa? apa benar sekarang kalian mulai tumbuh rasa saling suka?" tanya Selena curiga melihat ekspresi Jester dan Naomi yang masih terdiam


"Tidak tidak... kamu bicara apa sih Selena, hatiku masih milik Daniel. Kamu tahukan seberapa cintanya aku padanya?" Naomi berusaha menutupi kepanikannya dan meyakinkan Selena dia tidak berubah


"Iya sih... tapi aku curiga pada kalian" ucap Selena, sambil terus menatap curiga keduanya. Ditengah ketegangan diantara ketiganya, tiba - tiba seseorang menyapa dari belakang Jester dan Naomi yang saat itu duduk berhadapan dengan Selena yang dipisahkan meja.


"Loh? Selena?" sapa Harry yang muncul tiba - tiba tanpa pemberitahuan, Harry terlihat kaget saat masuk dan mendapati Selena sudah berada dirumah itu bersama Jester dan Naomi.


"Kak Harry... Kak Luke..." Selena terkejut melihat Harry dan Luke datang kerumah Jester dan Naomi, Jester dan Naomi berbalik menatap Harry dan Luke dan terkejutlah semuanya secara bersamaan.


"Gaaah!! aku lupa sudah memberikan mereka alamat rumahku!!" dengan nada panik Jester mengatakannya


"Wow ada Naomi disini!!" Luke heboh karena melihat Naomi secara langsung hari itu, Luke dan Harry terlihat sangat antusias karena bisa bertemu dengan seorang selebgram. Naomi memaksa dirinya untuk tersenyum sembari menyembunyikan perasaan khawatirnya, sedangkan Jester dan Selena sama - sama mengkhawatirkan bocornya identitas Naomi.


Setelah saling terkejut akhirnya sebuah pesta kecil diadakan di rumah itu, mereka berlima nampaknya membaur dengan sangat baik. Memesan Pizza dan soft drinks, Saling balas candaan dan ejekan, ngobrol tidak penting kesana kemari, bahkan saling lempar bantal pun terjadi seperti mereka adalah teman yang sangat akrab dan sudah berteman sejak lama. Hingga malam pun tiba yang terasa begitu cepat datang, mereka berlima terlihat sangat menikmati kebersamaan mereka dan juga mulai merasa capek hingga membuat mereka sedikit lebih tenang.


"Ini sungguh menyenangkan...." ucap Selena yang terlihat bahagia atas momen yang tidak terduga terjadi hari ini, Luke dan Harry pun tersenyum mendengar ucapan Selena.


"Semua berkat Naomi loh, aku pikir dia akan memberi jarak pada orang orang sepertiku dan Harry" timpal Luke sembari menatap Naomi yang sudah terlihat tenang tidak sepanik diawal pertemuan mereka


"Eeeh.. aah.. tidak aku tidak akan melakukan itu, lagi pula kamu pernah begitu memikirkan hubungan kami, terima kasih ya" ucap Naomi sembari tersenyum manis menatap Luke, keramahan Naomi membuat Luke terpesona.


"Tapi... aku seperti pernah melihatmu di kampus" dengan nada penuh rasa penasaran Harry mengatakannya, Jester, Naomi dan Selena terkejut dan serentak menatap Harry.


"Waaa.... Mana mungkin bodoh?!" Jester panik berusaha mengalihkan perhatian Harry yang terus menatap wajah Naomi.


"Benar, mana mungkin" timpal Luke menatap kesal Harry, Harry mengalihkan pandangannya menatap Selena.


"Selena, kamu tidak mengundang Aoi? akan lebih seru kan kalau lebih ramai" tanya Harry tanpa beban, lagi - lagi pertanyaan Harry membuat Jester, Selena dan Naomi terkejut.


"Eeeh..." Selena dan Naomi mengucapkan hal yang sama sembari menatap Harry, Luke menepuk dahinya


"Harry! apa - apaan ooi. Lagian kita aja datang tanpa undangan, sudah untung kita tidak di usir tahu" timpal Luke lagi, Selena dan Naomi mendadak lega karena Luke menimpali dengan jawaban yang baik.


"Ba...bagaimana kalau kalian pulang saja?!" Jester terlihat sudah tidak tahan lagi, dalam benak Jester kepanikannya sudah dalam tahap yang bahaya bagi kesehatan mentalnya.


"Haah? kenapa? aku sudah putuskan untuk menginap disini, besok juga hari minggu" jawab Luke tegas


"Benar benar... lagian para wanita juga akan pergikan? aku tidak tega meninggalkanmu sendirian disini" Harry menimpali keputusan Luke, Jester dengan kesal mau menimpali jawaban Harry dan Luke namun Selena tiba - tiba menimpali lebih cepat daripada Jester.


"Mereka tinggal berdua disini" celetukan Selena bagai sambaran petir disiang bolong, Jester, Naomi, Luke dan Harry terkejut dengan celetukan Selena


"Ini keputusan sembrono papa!!" Jester panik berusaha menjelaskan kepada Luke dan Harry yang menatapnya dengan senyuman mesum, senyuman itu membuat Naomi memerah dan Jester semakin marah


"Hentikan pikiran kotor kalian bodoh!!" Jester membentak Luke dan Harry, namun senyuman mesum itu masih tetap mereka tampakkan didepan Jester dan Naomi yang semakin terpojok.


"Aku juga akan menginap disini!" celetuk Selena tiba - tiba,


"Haaah?! kenapa kamu jadi ikut ikutan?!" Naomi kaget menatap Selena yang tertunduk


"Tidak apa kan? jadikan saja hari ini sebagai perayaan... benarkan?" tanya Selena mencari dukungan Luke dan Harry, keduanya mengangguk bersamaan ketika Selena menatap mereka.


"Kalian ini seenaknya ya..." Ucap Jester dengan penuh kekesalan


"Sudahlah... ayo kita buat acara menginap ini lebih menyenangkan, mau bermain truth or dare?" ajak Selena kepada semuanya


"Waah boleh itu, ayo ayo" ucap Harry dengan antusias tinggi


"Boleh lah... tidak seru membiarkan Jester terlalu pagi menuju kamar berduaan dengan Naomi" ucapan Luke memicu Jester untuk bergulat seru dengan Luke, Naomi tersenyum kecut menerima ajakan Selena.


Mereka berlima akhirnya duduk dengan tenang melingkar dan ditengah mereka ada sebuah botol yang dipegang oleh Luke, Luke memutar botol itu dan beberapa saat ujung botol mengarah pada Naomi. Harry dan Luke nampak bersemangat namun Selena dan Jester terlihat khawatir, Naomi kembali tersenyum kecut saat tahu dia yang pertama menerima tantangan.


"Baiklah... Truth or Dare Naomi?" tanya Luke dengan antusias tinggi

__ADS_1


"Dare!" jawab Naomi agak panik


"Baiklah, ci...." belum selesai kalimat tantangan Luke, Jester memotong dengan nada penuh kemarahan.


"Jangan berikan perintah aneh - aneh gorila bodoh!!" bentak Jester, Luke terlihat kesal mendengar teguran Jester.


"huu gak seru" Luke menjawab dengan kesal


"Naomi! jangan Dare, mereka itu punya pikiran mesum tahu!" Jester menatap Naomi dengan kesal, tatapan Jester itu membuat Naomi tersadar akan kebodohan dari pilihannya.


"Aah.. eeh... begitu ya, Thruth deh..." ucap Naomi terbata, Luke dan Harry terlihat kecewa


"Untung cantik, jadi untuk kali ini Naomi boleh merubah jawabannya" celetuk Harry dengan penuh penyesalan, Jester kembali kesal mendengar celetukan Harry.


"Apa maksudmu untung cantik dasar rubah bodoh!" bentak Jester kepada Harry


"apa yang membuatmu suka pada Jester?" tanya Luke tanpa beban, Jester panik dan Naomi terlihat mulai tidak tenang


"Apa apaan Luke?!" bentak Jester lagi gara - gara mendengar pertanyaan Luke


"Loh? kan bagus aku mewakilimu" Luke tanpa beban menjawab pertanyaan Jester, walau raut wajahnya menunjukkan penyesalan saat Naomi mengganti tantangannya.


"Dia baik... " jawab Naomi singkat


"Itu cuma jawaban template yang umum digunakan" timpal Harry dengan raut wajah yang masih menyesal


"Benar benar... kamu harus lebih spesifik dong" Luke menimpali lagi memaksa Naomi untuk berkata jujur, Naomi kembali tersenyum kecut menatap Luke dan Harry.


"Kalian ini..." Jester mulai geram melihat kelakuan dua sahabatnya itu


"Aku cinta padanya tanpa alasan... aku tidak bisa jelaskan, cinta kadang aneh kan" jawab Naomi saat itu dengan senyuman, mendengar jawaban Naomi membuat Selena meremas bantal yang dipeluknya sejak tadi.


"Yaah boleh sih... baiklah, Harry giliranmu" ucap Luke, Harry memutarnya dan botol menunjuk kearah Selena


"Thruth!" jawab Selena


"Waaah... apa apaan?!" dengan panik Jester mengatakannya, Luke dan Harry hampir bersamaan menatap Jester dengan tatapan penuh kekesalan.


"Kamu jadi panikan ya Jester, permainan ini jadi gak seru gara - gara laranganmu" Luke nampak heran melihat tingkah Jester


"Kamu tidak tahu sih..." dengan kesal Jester katakan itu sembari menunduk dan memegangi kepala dengan kedua tangannya.


"Kak Jester!! aku menyukai... Kak Jester" jawab Selena dengan tegas, Luke dan Harry terkejut tidak terkecuali Jester yang saat itu bersamaan menatap Selena.


"Woo... panas.... hahaha" Luke tertawa bahagia mendengar jawaban Selena, seperti tidak percaya mendengar jawaban Selena karena Naomi ada didekat mereka.


"Hei Naomi, Jester dan Selena itu satu kampus loh!! awas Jester direbut olehnya" celetuk Harry menggoda sambil tertawa terbahak - bahak, Naomi tersenyum kecut menatap keduanya.


"Baiklah Selena giliranmu" ucap Harry, Selena memutar botol itu dan menunjuk arah Jester


"Haah... truth" ucap Jester yang terlihat capek dengan kepanikannya sendiri, Selena menunduk sebelum mengajukan pertanyaannya,


"Siapa... ciuman pertamamu kak?" tanya Selena dengan malu - malu, pertanyaan Selena membuat Luke dan Harry mendadak tertawa keras sampai berguling - guling kesana kemari di tatami ruang keluarga itu.


"Yah tentu saja Naomi, dia ini jomblo akut. Wahahaha" Luke menjawab sembari tertawa keras, Luke benar - benar tidak menahan perasaan gelinya pada pertanyaan Selena.


"Itu pun kalau Naomi memberikan ciuman pada Jester" timpal Harry ikutan menertawakan Jester dengan sangat keras


"Arrrghh!!! aku kesal!! hari ini sangat buruk buatku!!" teriak Jester sembari berdiri lalu berjalan meninggalkan ruang keluarga menuju kamar, namun suara tawa Luke dan Harry masih terdengar.


Sesampainya di kamar, Jester nampak kesal dan marah lalu merebahkan badannya dengan keras ke kasur. Jester meluapkan emosinya dengan memukuli kasur dan melemparkan bantal bantal, Jester benar - benar sudah pada puncak kekesalannya hari ini. Didalam kamar itu Naomi masuk kedalam kamar dan melihat seberapa marahnya Jester, Naomi mengambil bantal - bantal yang Jester lempar saat itu dan melemparnya kembali ke kasur.


"Waah kamu meluapkan amarahmu cukup keras ya" celetuk Naomi dengan tenang, Jester duduk dikasur dengan wajah yang sangat terlihat kesal dan marah.


"Arrrghhh... Kesal, aku kesal!! hari ini benar benar buruk buatku!!" ucap Jester yang masih belum selesai meluapkan emosinya, Naomi tersenyum menyidir Jester.

__ADS_1


"Benarkah... itu ciuman pertama mu?" tanya Naomi sedikit menahan tawanya, Jester menatap Naomi dengan wajah kesal lalu merangkak ke pojokan kasur menjauhi Naomi dan duduk disana.


"Wajahmu sudah mencerminkan jawabanmu" celetuk Naomi sembari berjalan mendekati Jester dan duduk disebelah Jester, Naomi menatap Jester namun Jester masih terpaku menatap lantai didepannya.


"Aku tidak mengira itu akan menjadi ciuman pertamamu bahkan dengan seseorang yang tidak kamu harapkan" ucap Naomi kembali, Naomi terdengar menyesal saat itu.


"Sudahlah, aku hanya kesal pada teman temanku tahu?! aku bukan mempermasalahkan ciuman itu!" jawab Jester dengan nada yang agak tinggi


"Begitu ya? tapi kalau memang itu masalahnya, menurutku ciuman itu tidak masuk hitungan walau itu tepat di bibir. Karena itu bukan keinginanmu" Naomi menimpali jawaban Jester, Jester mengalihkan pandangannya menatap Naomi yang berada disebelahnya


"itu benar, seharusnya memang seperti itu kan?" tanya Jester yang masih terdengar kesal, keduanya agak terdiam beberapa saat sembari saling bertatapan mata.


"Apa itu... sebegitu buruknya untukmu?" tanya Naomi yang sorot matanya seperti menampakkan kesedihan


"Haah?" Jester terkejut dengan pertanyaan Naomi


"Jika memang itu menjadi ciuman pertama mu... apa itu sangat buruk bagimu?" tanya Naomi lagi sembari mengalihkan pandangannya ke langit - langit kamar, Jester membuang muka sebelum menjawab pertanyaan Naomi.


"Ten.. tentu saja itu buruk... bukan karena kamu yang jadi ciuman pertama ku, tapi itu buruk untuk dirimu" jawab Jester yang wajahnya mendadak sedikit memerah, Naomi bingung mendengar jawaban Jester


"Kenapa begitu?" tanya Naomi heran


"Haah... aku dari tadi berfikir untuk menemui Daniel tahu" jawab Jester lalu menoleh menatap Naomi


"Aah.. Eeh.. buat apa?!" tanya Naomi dengan raut wajah heran


"Aku ingin meminta ijinnya dan mengatakan padanya, aku pinjam dia ya dan aku berjanji akan berusaha membahagiakanmu. Walau aku tidak yakin dia akan meminjamkan mu padaku, lagian kata kata itu seperti kamu barang aja, jadi aku saat ini merasa bersalah padanya tahu gak? jika saja dia tahu kamu mencium ku dia pasti akan sangat marah padaku, aku tahu kamu dan dia saling mencintai makanya saat ini aku merasa marah pada diriku sendiri jadi tentang ciuman itu..." belum selesai Jester berkata Naomi tiba - tiba mencium bibir Jester hingga beberapa saat.


"Kamu.... cerewet ya..." ucap Naomi lalu meninggalkan Jester di kamar itu sendirian, Jester membatu dipojokan kasur sesaat lalu merebahkan badannya.


"Apa... Apa - apaan... Naomi..." Jester masih terdiam karena syok, setelah syok beberapa saat Jester tersadar dan kembali berjalan keluar dari kamarnya menuju ruang keluarga namun Selena tidak ada disana. Jester hanya melihat Naomi yang sedang menonton televisi sedangkan Luke dan Harry bersiap tidur di tatami itu, Jester mendekati Luke dan Harry.


"Dimana Selena?" tanya Jester pada Luke


"Dia pulang, tiba tiba ibunya menelepon" jawab Luke


"Kenapa wajahmu mendadak memerah Naomi?" tanya Harry yang menatap wajah Naomi sejak tadi


"Heei... kamu suka sekali ya memperhatikan wajah orang, tidur sana... ini hampir tengah malam" Luke memperingatkan Harry agar tidak menatap wajah Naomi terlalu lama seperti itu


"Aku kesini untuk tidur juga bersama kalian" celetuk Jester namun Luke dan Harry menatap Jester dengan heran


"Kamu bodoh ya? bukankah ini seharusnya menjadi hari pertamamu tidur dengan Naomi dikamar?" tanya Luke, Jester dan Naomi terkejut


"Waaa... kenapa harus seperti itu bodoh, mana mungkin aku..." belum selesai Jester menjawab Luke memotong


"Kalian ini pasangan kan? aku sudah diberitahu tuan Will kalau kamu dan Naomi akan menikah tahun depan, jadi santailah" Luke menimpali kalimat Jester, keringat Jester menetes mendengar perkataan Luke saat itu.


"Uuuhhh irinya, sial sial!!" ucap Harry yang kesal, Naomi dan Jester saling bertatapan namun tetap terdiam.


"Ada apa? aku tidak percaya kamu akan menyia - nyiakan kesempatan ini, kecuali kalian ini bukan pasangan" ucap Luke lagi yang terheran karena Jester dan Naomi terlihat enggan untuk tidur bersama, Naomi berjalan mendekati Jester lalu menarik tangan Jester untuk masuk kedalam kamar meninggalkan Luke dan Harry di ruang keluarga.


Naomi melepaskan genggaman tangannya dari tangan Jester saat mereka berdua sudah berada didalam kamar, Naomi tanpa menoleh terus berjalan sampai ke kasur dan segera merebahkan badannya sembari menyelimuti tubuhnya dengan bed cover dan memunggungi Jester. Sedangkan Jester masih membatu didepan pintu, pikirannya semakin kacau karena Jester merasa dirinya tidak memiliki pilihan lain.


"Ti.. Tidak apa nih?" tanya Jester terbata, Naomi terdiam beberapa saat


"Iya, kalau kamu macam - macam aku akan langsung teriak kok" jawab Naomi dengan tenang, mendengar jawaban Naomi membuat Jester malah semakin gugup.


"Be.. begitu ya, baiklah" Jester hendak tidur di sebuah sofa yang ada didalam kamar itu, Naomi menyadari Jester tidak tidur dikasur lalu berbalik dan menatap Jester yang bersiap tidur di sofa.


"Heeii tidak apa, sini" ajak Naomi sembari menepuk - nepuk kasur, Jester terkejut dengan ajakan Naomi.


"Haaah?!! gak gak gak, aku gak bisa... aku tidak akan bisa tidur semalaman kalau bersebelahan denganmu!" Jester menolak dengan gugup, wajahnya memerah menahan perasaan malu. Naomi menaruh sebuah bantal yang diletakkan ditengah kasur untuk memisahkan wilayah tidur Naomi dan Jester.


"Bantal ini akan memisahkan kita, jadi kamu tenang aja" ucap Naomi santai, dengan malu - malu Jester berjalan menuju kasur dan tidur disebelah Naomi namun terpisah oleh sebuah bantal. Keduanya saling memunggungi, namun Naomi benar benar tidak bisa tidur saat itu. Jantungnya berdetak terlalu keras ditengah kegelapan kamar dan hanya ada suara mobil serta beberapa orang sedang berbicara disekitaran cluster perumahan itu, hal itu membuat Naomi semakin kesulitan untuk tidur. Naomi berinisiatif untuk memecahkan keheningan di kamar itu, mencoba memberanikan diri akhirnya Naomi pun memutuskan untuk berbicara dengan Jester.

__ADS_1


"Heeii Jester... kamu dan teman - temanmu itu sejak kapan bertemu?" Naomi bertanya basa - basi untuk mengurangi perasaan gugupnya namun Jester tidak juga kunjung menjawab, Naomi berbalik dan melihat Jester yang ternyata sudah tertidur dengan pulasnya.


"Heeeh~ benarkah... kamu benar benar bisa tidur disaat seperti ini~?" tanya Naomi dengan heran menatap wajah Jester yang terlihat pulas, Naomi kembali berbalik dan tiduran. Tidak lama terdiam bengong, Naomi mendadak tersenyum sendiri.


__ADS_2