Aku Pinjam Dia

Aku Pinjam Dia
Bonsai Pertama


__ADS_3

Malam hari di rumah keluarga Gates, kedatangan Jester dan Sarah dirumah itu cukup mengejutkan bagi William dan Marrie. Hal itu karena untuk pertama kalinya Sarah berkunjung ke rumah keluarga Gates. Saat itu Sarah datang dan menyampaikan sebuah keinginan yang semakin membuat Jester, William dan Marrie terkejut dan heran, tanpa bertanya lebih lanjut saat itu William menerima permintaan Sarah.


Mereka berempat masuk kedalam rumah bersama - sama namun Jester dan Marrie menuju ruang keluarga, sedangkan Sarah dan William masuk kedalam ruang kerja William.


Di ruangan bernuansa khas kerajaan inggris itu William dan Sarah duduk disebuah sofa yang saling berhadap - hadapan, wajah serius William dan Sarah seakan menandakan akan ada pembicaraan yang cukup berat diantara keduanya. Dengan sebuah helaan nafas dari William, keheningan diantara paman dan keponakan perempuannya itu akan segera dimulai.


"Baik, apa ini tentang nona Naomi yang tiba - tiba pergi dari panggung?" tanya William, Sarah tertawa kecil mendengar pertanyaan itu.


"Berbicara dengan paman memang sangat menyenangkan, semua langsung masuk pada intinya dan aku tidak perlu repot- repot menjelaskannya dari awal" puji Sarah, senyuman kecil William merespon pujian itu.


Kedekatan Sarah dan Jester membuat William bahagia, selama ini Jester tidak memiliki hubungan yang dekat dengan sepupu lainnya, terlebih Sarah menunjukkan perhatiannya terhadap hubungan Jester dan Naomi.


Untuk sejenak William tenang karena ada sosok perempuan yang bisa bertukar pikiran dengan Jester, selama ini hanya Luke dan Harry yang dikenal oleh William sebagai sahabat laki - laki Jester, tempat Jester mencurahkan perasaannya begitu saja. Namun Willam merasa sebagai lelaki mereka hanya akan mementingkan logika mereka masing - masing. Dengan kehadiran Sarah, William berharap Jester akan menghadapi masalah dengan dua sudut pandang yang berbeda.


"Terima kasih sudah memperhatikan Jester sampai sejauh ini Sarah" ucap William


"Tidak perlu berterima kasih paman, semua aku lakukan karena aku benar - benar merasakan ikatan kuat diantara kami. Aku sempat merasakan ini adalah cinta, namun semakin jauh berjalan aku baru sadar jika ikatan yang aku rasakan itu adalah ikatan darah kekeluargaan. Keluarga saling melindungi, bukan begitu paman?" tanya Sarah sedikit menekan, William memandangi Sarah dalam diam untuk beberapa saat.


"Kali ini ada apa?" tanya William lagi dengan tegas


"Naomi.... aku merasa dia ingin meninggalkan Jester" jawab Sarah dengan tegas, namun William tidak terkejut sama sekali mendengar jawaban Sarah.


"Sudah aku duga paman memiliki pemikiran yang sama denganku" celetuk Sarah ditengah diamnya William, suara nafas berat terdengar dari William.


"Aku sudah menduganya sejak kematian sahabatku Evans... Sejak saat itu aku melihat nona Naomi seakan sedang membangun tembok diantara dirinya dengan Jester" timpal William dengan nada yang terdengar sedih


Keduanya kini saling terlihat semakin serius membahas permasalahan Naomi dan Jester, hubungan antara paman dan keponakan itupun semakin erat terjalin. Sarah merupakan wanita dengan intuisi yang kuat bagi William, seketika William tidak meragukan kekuatan Seorang darah Arthur Gates yang luar biasa.


"Tentu saja, jika aku Naomi maka aku juga akan melakukan hal yang sama. Tapi Naomi tidak bisa membohongi Jester terus tentang keadaannya yang sudah tidak suci itu, dia..." belum selesai Sarah berkata, William memotong.


"Jester sudah tahu bahkan sebelum berita itu tersebar" timpal William dengan penuh keyakinan, Sarah terkejut mendengar perkataan William.


"Maksud paman, Jester..." lagi - lagi perkataan Sarah dipotong oleh William


"Aku yakin Jester sudah mengetahui itu sejak lama namun dia memilih untuk diam dan menerima keadaan nona Naomi apa adanya, permasalahannya bukan terletak pada keadaan nona Naomi. Ini tentang mental nona Naomi yang dihadapkan pada kenyataan dia akan kehilangan Naoko sebagai sosok ibu" timpal William, Sarah pun terdiam mencoba untuk mencerna perkataan William.


"Setelah kehilangan Evans, nona Naomi kini dihadapkan dirinya akan kehilangan Naoko sebagai ibu. Saat aku dan Marrie berbicara tentang kasus yang menimpa nona Naomi, saat itu Naoko terlihat begitu syok dan bergumam tentang kegagalannya menjadi seorang ibu dan istri. Naoko lalu berkata jika dia sudah lelah untuk mendidik Naomi" ucap William meneruskan kalimat sebelumnya.

__ADS_1


"Artinya tembok yang dibangun Naomi adalah...." belum selesai Sarah berkata, William kembali memotong perkataan Sarah.


"Perintah dari Naoko untuk membatalkan pernikahan" timpal William dengan penuh keyakinan, Sarah mengernyitkan dahi sembari menatap mata William dengan tajam.


"Dan paman membiarkan semuanya berjalan meski sudah menduganya sejauh itu?" tanya Sarah sedikit emosi, William menghela nafasnya.


"Itulah kenapa aku mengambil alih semua pekerjaan Jester agar Jester fokus dengan permasalahannya dengan nona Naomi" jawab William


"Tapi Jester tidak seperti yang paman duga, dia malah menjadi pria tidak punya pendirian dihadapan Naomi, Menuruti semua permintaan Naomi, menjadi serba takut untuk melakukan sesuatu karena Naomi, dan lebih parahnya... Jester menjadi lemah saat berhadapan dengan Naomi" agak sedikit dengan bentakan saat Sarah mengatakannya, William terdiam menatap Sarah.


"Pria yang seperti itu tidak akan bisa menjadi pegangan kami para wanita, Jester tidak lebih dari pondasi yang akan runtuh ketika yang di topangnya sedang rapuh" ucap Sarah meneruskan kalimatnya


Perkataan Sarah membuat William menyesal telah mengambil keputusan yang Salah dengan membiarkan Jester melalui permasalahan Jester sendiri tanpa bantuan darinya. Pengalamannya ketika bersama Luna ketika itu William harapkan bisa menjadi pelajaran bagi Jester dalam urusan percintaan, namun harapan William tidak terjadi karena Jester tetaplah Jester yang selalu bodoh dengan urusan percintaannya.


"Anak itu memang selalu menjadi orang bodoh saat berhadapan dengan cinta" dengan helaan nafas William mengucapkannya


"Aku rasa ini sudah saatnya paman dan bibi untuk turun tangan sebelum semuanya terlambat" tegas Sarah mengucapkannya, William kembali terdiam dan memandang wajah Sarah.


Sarah mengatakannya kalimatnya seakan benar - benar menginginkan Paman dan Bibinya itu untuk segera ambil bagian dalam hubungan Jester dan Naomi, Sejauh yang Sarah ketahui Naomi dan Jester sudah berada diujung waktu menjelang pernikahan mereka. Sarah sangat berharap jika Naomi dan Jester tidak terpisahkan dan mampu mewujudkan pernikahan impian mereka berdua.


"Kamu benar, mungkin memang sudah waktunya para orang tua untuk membantu anak mereka mencarikan jalan agar tidak terus menerus tersesat" ucap William lalu berdiri dari duduknya, Sarah masih diam dan menatap wajah William.


"Aku akan segera bicara dengan Marrie untuk menemui Naoko, terima kasih sarannya Sarah" William mengucapkannya sembari berjalan hendak keluar dari ruang kerja, Sarah berdiri dan mengikuti William untuk keluar dari ruang kerja William.


William dan Sarah berjalan sampai keruang keluarga dan bertemu dengan Jester dan Marrie yang sedang mengobrol, diruang keluarga untuk beberapa saat Jester, William, Marrie dan Sarah mengobrol dengan berbagai topik namun tidak membicarakan Naomi sama sekali. Tidak lama, Sarah pun berpamitan untuk pulang ke kediaman besar Gates.


Jester yang saat itu hendak pulang kerumahnya bersamaan dengan kepulangan Sarah harus bertahan dirumah keluarga Gates karena permintaan Marrie, dengan alasan Marrie masih kangen mengobrol dengan Jester yang membuat Jester dengan berat hati menuruti permintaan Marrie.


Jester dan Sarah berjalan bersama hingga sampai pelataran rumah, di pelataran rumah itu Sarah berpisah dengan Jester dan tidak lupa Jester memerintahkan supirnya untuk membawa mobil Mercedes Benz S450 miliknya ke rumah milik Jester dan Naomi di cluster perumahan. Setelah memastikan Sarah dan supir pribadi Jester pergi, Jester pun berjalan masuk kembali kedalam rumah untuk menemui kedua orangtuanya.


Disisi lain saat bersamaan, disebuah rumah mewah dengan khas budaya jepang. Sebuah mobil Mercedes Benz C200 melaju pelan menyusuri jalan menuju depan pelataran rumah keluarga Scott, didepan pelataran itu Selena menghentikan mobilnya lalu turun dan segera berjalan mendekati pintu utama rumah.


Didepan pintu utama Selena menekan tombol bel rumah beberapa kali, namun pintu itu tidak juga kunjung terbuka. Selena mengeluarkan handphone miliknya dari dalam tas lalu melakukan panggilan telepon ke nomor Naomi, hingga beberapa saat berdering akhirnya Naomi pun mengangkat teleponnya.


***


"Halo" ucap Naomi saat telepon terangkat

__ADS_1


"Hai Naomi, apa kamu dirumah?" tanya Selena


"Iya... aku ada dirumah, kenapa?" tanya Naomi


"Aku ada didepan rumahmu, apa bisa aku bertemu?" tanya Selena lagi, sejenak Naomi terdiam


"Ada apa?" tanya Naomi lagi sedikit menekan


"Ada hal penting tentang permintaanmu yang harus aku bicarakan" jawab Selena tegas, Naomi terdengar menghela nafasnya.


"Aku ada diruang bonsai ibu, kamu tahukan jalan menuju sini?" tanya Naomi


"Tentu saja" jawab Selena lalu menutup teleponnya


***


Selena kembali menuruni anak tangga lalu berjalan menyusuri taman samping dari rumah, memutari sebuah kolam renang dan diujung jalan Selena melihat rumah kaca dimana Naoko meletakkan seluruh bonsainya didalam rumah kaca itu. Selena membuka pintu rumah kaca itu lalu tatapan matanya langsung tertuju pada punggung sesosok wanita yang berdiri menatap sebuah bonsai yang seakan memiliki tempat khusus diantara bonsai - bonsainya yang lain.


"Naomi?" tanya Selena memastikan jika yang dilihatnya benar - benar Naomi, perlahan Naomi berbalik menatap Selena lalu tersenyum.


"Hai" sapa Naomi lalu kembali menatap bonsai yang daunnya mulai menguning itu, Selena berjalan mendekati Naomi sembari menatap kanan kiri.


Sebuah kenangan masa lalu tiba - tiba hadir dalam ingatan Selena, yang menjadi gambaran kedekatan Selena dan Naomi yang menjalin persahabatan sejak mereka kecil. Dengan wajah yang memancarkan sedikit tawa, Selena seakan mengingat dulu mereka adalah sahabat yang begitu dekat, sebelum retak karena urusan percintaan.


"Aku jadi teringat kita pernah dimarahi habis - habisan oleh ibumu karena bermain disini, untung saja ayahmu menyelamatkan kita dengan memanggil ibumu masuk kedalam rumah" celetuk Selena dan berhenti tepat di samping Naomi, suara tawa kecil Naomi terdengar seakan sedang mengingat kejadian yang diceritakan Selena.


"Umur kita tujuh tahun saat itu... semua amarah itu karena aku hampir menjatuhkan bonsai didepan kita ini" timpal Naomi dengan suara yang terdengar begitu sedih, Selena menoleh menatap wajah Naomi namun masih terdiam seakan sedang menunggu Naomi untuk bercerita tentang bonsai itu.


"Ini bonsai pertama pemberian ayah kepada ibu sebagai salah satu hadiah pernikahan mereka... umur bonsai ini sama dengan umur pernikahan ayah dan ibu. Sekarang bonsai ini akan mati karena aku salah merawatnya dalam satu bulan belakangan...." ucap Naomi sedikit terbata, sejenak Naomi terdiam lalu menghela nafasnya.


"Sejak ayah meninggal, ibu tidak pernah lagi merawatnya. Awalnya aku bingung harus memilih untuk merawatnya atau membiarkannya begitu saja, tapi dengan egoku aku memilih untuk merawatnya menggantikan ibu dan aku malah merusaknya lebih cepat" Naomi melanjutkan ucapannya, Selena melihat air yang begitu banyak menggenang pot bonsai.


"Kamu terlalu banyak memberi air" celetuk Selena, Naomi menghela nafasnya lagi.


"Dari dulu sampai sekarang selalu begini, saat aku memutuskan sesuatu maka selalu saja ada korban..." timpal Naomi dengan nada yang terdengar sedih.


"Dan butuh berapa lama kamu menyadari jika keputusanmu sekarang akan mengorbankan hati kak Jester?" tanya Selena dengan sindiran, pertanyaan Selena membuat Naomi mengalihkan pandangannya menatap Selena dengan tatapan penuh kesedihan.

__ADS_1


__ADS_2