Aku Pinjam Dia

Aku Pinjam Dia
Pulang


__ADS_3

Pagi hari di Paris Prancis, Disebuah rumah sakit terlihat Naomi berlari mendekati Jester dan berdiri tepat didepannya dengan air mata yang mengalir. Untuk pertama kalinya Jester seakan membiarkan Naomi menangis didepan wajahnya, dia hanya membuang muka dan terus memeluk sebuah bingkai foto Luna. Seketika wajah Naomi terlihat begitu marah matap Jester, tatapan kecemburuan yang tidak pernah Naomi nampakkan dihadapan Jester.


"Kamu janji untuk menjaga senyumanku! apa kamu lupa janjimu?!" tangannya mengepal menahan amarah, nada Naomi agak membentak saat mengatakannya namun derai air matanya begitu deras mengalir, tetapi Jester bergeming dan terus menghindari kontak mata dengan Naomi.


Untuk pertama kalinya Jester tega membiarkan Naomi menangis dan mengabaikannya begitu saja, hati naomi seperti teriris teringat bagaimana Jester pernah berjanji akan selalu menjaga senyumnya tetapi kali ini justru tangis yang Jester hadirkan untuk Naomi.


"Jester!! jawab aku!" bentak Naomi


"Aku tidak akan melupakan janjiku yang pernah terucap, aku akan sekuat tenaga untuk menyelesaikan janji - janji itu" timpal Jester dengan nada yang datar


"Kamu buat aku sedih hari ini!! kamu menyentakku!! kamu marah padaku dan meningalkanku seperti ini, kamu tidak pernah seperti ini kepadaku!!" bentak Naomi lagi dengan begitu emosi, namun lagi - lagi Jester hanya terdiam.


"Aku... kali ini.... aku cemburu padanya.... kamu berubah padaku... aku gak tahu apa salahku sampai kamu berubah padaku.... kembali..... kembali Jess...." tangisan Naomi kembali pecah seketika, perlahan Jester melingkarkan tangan kanannya dikepala Naomi dan memeluknya lalu mencium kepalanya beberapa kali dengan lembut.


"Naomi... aku tidak berubah dan aku juga tidak kemana - mana...  aku masih ada disini untukmu tapi.... kali ini saja biarkan aku sendiri... ada hal yang harus aku selesaikan agar penyesalanku tidak berlarut" terdengar lembut Jester mengatakannya, namun tangisan Naomi masih begitu sedih terdengar bagi Jester.


"Maaf aku membuatmu cemburu... maaf tadi aku menyentakmu... ini alasanku tidak ingin kamu menyusulku kemari... hatiku sedang kacau, otakku tidak bisa berfikir dengan jernih, aku begitu marah pada diriku sendiri yang bodoh ini" ucap Jester meneruskan kalimatnya, Naomi pun menggelengkan kepalanya beberapa kali didalam pelukan Jester.


"Tidak benar... kejadian ini bukan salahmu, baik aku dan Luna.... kami sama - sama bersikap egois, Luna pernah bilang kalau dia ingin menemanimu kalau kamu ada masalah dan begitu juga aku, kita pernah berjanji apapun yang terjadi akan kita hadapi bersama... tapi.. kami malah menyelesaikannya sendiri tanpa melibatkanmu... ini bukan kesalahanmu... jadi berhenti menyalahkan diri sendiri..maafkan aku Jess...!!" dengan terisak - isak Naomi mengatakannya, Jester pun semakin erat memeluk Naomi.


Seketika Naomi menyadari kesalahannya kepada Jester yang membuat Jester bersikap seperti itu padanya, penuh penyesalan dan perasaan bersalah Naomi tunjukkan pada Jester dan berharap permintaan maafnya mampu meredam perasaan kecewa Jester.


"Terima kasih sudah mengatakannya, tapi aku tetap tidak bisa menerima itu Naomi. Kepekaanku terhadap kondisi kalian... sangat buruk, padahal aku mengatakan aku mencintai kalian tapi dua kali juga aku tidak bisa merasakan kalau telah terjadi sesuatu pada kalian... cinta apa yang seperti itu? kali ini.... izinkan aku menebus kebodohanku sendirian lalu...." Jester melepaskan pelukannya dan sedikit menjauh lalu tersenyum pada Naomi yang masih berlinang air mata.


"...Ini terakhir kalinya aku tidak peka dan bersikap bodoh didepanmu, kedepannya kamu beri aku seribu kode sekalipun aku akan berusaha untuk memecahkannya sebaik mungkin" ucap Jester dengan garis senyum yang terlihat, Naomi pun tertegun memandangi Jester.


"Aku pergi dulu... ada banyak hal yang harus aku selesaikan" dengan lembut Jester mengatakannya, tangan Jester pun membelai rambut Naomi lalu dia berjalan menuju pinggir jalan untuk menghentikan taksi. Naomi membiarkan Jester pergi saat itu dan tatapannya pun beralih menatap langit cerah pagi itu, dengan senyum yang merekah Naomi terlihat lega setelah mendengar perkataan Jester.


"Kamu sudah berjanji..." gumam Naomi


Dipinggir jalan perkotaan di paris, Jester melihat sebuah taksi yang berhenti, dengan segera Jester melangkahkan kakinya dengan cepat namun seseorang menyerobotnya.


"Maaf, aku sedang diburu waktu. sebentar lagi akan ada taksi berikutnya" ucap warga lokal yang menyerobot, Jester pun memberikan gestur tangan tanda dia setuju akan menunggu. Setelah warga lokal itu masuk tiba - tiba supir taksi pun keluar dan menyeret warga lokal itu untuk keluar dari mobil, sebuah pemandangan yang membuat warga lokal itu terkejut bahkan Jester pun sempat bengong dengan perlakuan supir taksi itu.


"Menyerobot bukan kebiasaan orang prancis" ucap supir paruh baya itu dengan kumis yang terlihat seram dan kaca mata hitamnya, badannya pun terlihat kekar dan terlihat sangat mengintimidasi.


"Aku akan laporkan kamu ke atasamu!" bentak warga lokal itu, namun supir itu tidak peduli dan memberi gestur agar Jester segera masuk.


"Masuklah nak*\, kamu sudah lebih dulu berlari mendekat*" ucap supir itu\, Jester pun masuk kedalam taksi dan tidak lama supir itu juga masuk. Dengan segera taksi itu pun melaju cukup cepat tanpa arahan dari Jester\, didalam taksi pun Jester tertawa cukup keras yang membuat supir itu heran lalu menatap Jester dari spion dalam mobil.


"Apa yang kamu tertawakan?" tanya supir itu terdengar sangat penasaran


"Papa, aku tahu itu kamu" jawab Jester dengan sedikit tawa yang dia tahan

__ADS_1


"Argh!! kenapa kamu bisa tahu?! aku sudah menyamar!!" timpal William sambil menarik kumis dan melepaskan kacamatanya, Jester pun semakin tertawa terbahak - bahak.


"Siapa lagi gumpalan otot yang memanggilku nak selain dirimu papa? setidaknya bersikaplah lebih natural, ketika berbahasa prancis kata Nak itu hanya diucapkan olehmu" dengan tawa yang semakin terbahak - bahak Jester mengatakannya, William pun terlihat kesal saat itu.


"Dapat darimana taksi ini?" tanya Jester yang berusaha menahan tawanya


"Pemilik perusahan taksi disini teman papa, jadi papa pinjam saja satu unit" jawab William terdengar kesal, seketika tawa Jester pun menghilang


"Haruskah papa melakukan ini? aku bisa melakukannya sendiri" tanya Jester dengan datar, William pun menghela nafasnya sejenak sebelum menjawab pertanyaan Jester.


"Sudah menjadi kewajiban seorang ayah untuk menemani anaknya dalam keadaan apapun, hatimu dan pikiranmu sedang kacau nak dan papa tidak bisa membiarkanmu melaluinya sendiri" jawab William, Jester meletakkan bingkai foto Luna dikursi sebelahnya dan saat itu William melihat air mata Jester kembali menetes.


"Aku sudah terlalu besar untuk didampingi olehmu papa, setelah dimenara Eiffel tinggalkan saja aku disana" timpal Jester


"Tidak ada kata besar, dimata papa dan mama... kamu masih anak kecil yang tidak mampu untuk berjalan sendiri, jadi biarkan papamu ini..." belum selesai William berkata tiba - tiba Jester memeluk William dari belakang.


"Terima kasih papa, kamu adalah sosok ayah paling keren yang pernah aku tahu... maaf aku menjadi anak yang selalu merepotkanmu" dengan suara serak karena menangis Jester mengatakannya, William pun tersenyum lalu menempuk tangan anak semata wayangnya itu beberapa kali.


"Kejadian ini akan mendewasakanmu, petiklah pelajarannya dan jadikan sebagai pengalaman yang berharga untuk kedepannya" dengan lembut William mengatakannya, Jester pun perlahan melepaskan pelukannya lalu kembali bersandar dikursi.


"Apa kamu bawa note yang dibawa Luna?" tanya William


"Tidak, tapi aku ingat semua" jawab Jester, William pun tertawa penuh semangat.


Pagi itu perjalanan Jester untuk menuntaskan check list Luna dimulai, Jester selalu membawa foto Luna disetiap tempat yang dia datangi sesuai dengan check list. Tidak lupa saat itu Jester selalu mengabadikan momennya disetiap tempat dengan berfoto bersama bingkai foto Luna, William yang bertugas sebagai fotografer kadang hampir meneteskan air matanya melihat Jester berusaha tersenyum setiap saat. William sangat mengetahui Jester berusaha mati - matian untuk tersenyum disetiap foto, walau hatinya perih melihat usaha Jester namun William terus menampakkan semangat membara agar Jester tidak larut dalam kesedihannya.


Jester benar - benar menjalankan janjinya dengan sangat baik, dia seakan sedang berjalan bersama Luna disetiap tempat yang dia datangi. Berbicara kepada foto Luna seakan Luna benar - benar berada disebelahnya, sesekali air matanya tidak dapat dia bendung. Dari kejauhan William menatap Jester, hanya sesekali saja William mendekati Jester saat Jester memintanya untuk mengambil foto. Sepanjang hari Jester dan William tidak kembali ke hotel sama sekali, mereka berdua terus berada dijalanan bahkan tidur pun mereka berada didalam mobil. Mereka melakukannya agar selalu dekat dengan tempat yang sedang mereka tuju, mereka melakukan kegiatan itu hingga dua hari berlalu.


Dihari kedua setelah kematian Luna, disuatu sore Jester dan William pun kembali kerumah sakit tempat Luna sempat dirawat. Didepan kamar jenasah Jester dan William melihat John yang duduk disebuah kursi, menyadari kedatangan keluarga Gates membuat John langsung berdiri dan berjalan menghampiri mereka.


"Tuan Gates dan tuan muda Gates, saya berterima kasih atas semua bantuannya..." ucap John sambil membungkukkan badannya


"Apa semuanya sudah beres?" tanya William


"Sudah selesai semua, bahkan sampai transportasi untuk membawa Luna pun sudah selesai... jika tidak ada tuan Gates saya tidak tahu harus bagaimana lagi" jawab John, William menepuk pundak John.


"Tidak usah dipikirkan, sekali lagi kami keluarga Gates sangat menyesal dan turut berduka cita dengan meninggalnya Luna" ucap William, John pun tidak kuasa menahan tangisnya lagi. Perlahan William memeluk John begitu erat sambil menepuk punggung John beberapa kali


Jester saat itu pergi meninggalkan William dan John untuk masuk kedalam ruangan dimana Luna dipetikan, perlahan Jester melangkahkan kakinya mendekati peti mati Luna dan disana Jester melihat Luna yang masih terlihat tersenyum.


"Hei aku sudah selesai dengan semua check list mu... apa kamu senang? semua sudah aku abadikan di foto, kamu senangkan? aku bahkan tidak melanggar janjiku padamu... tapi kamu? kamu melanggar janji kita untuk kedua kalinya... haruskah aku membalasmu? haruskah aku melupakanmu setelah ini? kenapa kamu hadir dalam hidupku lagi setelah kamu hilang? apa kamu sengaja? Heii... jawab pertanyaanku..." ucap Jester bersamaan dengan air mata yang menetes membasahi pipinya, Jester meletakkan foto didekat peti mati Luna lalu kembali menatap wajah Luna.


"Kenapa... kamu tersenyum? kamu senang melihatku menderita? hatiku sakit karenamu, apa kamu mengerti?" tanya Jester lalu menggenggam pinggiran peti itu begitu kuat.

__ADS_1


"Tentu saja kamu tidak akan menjawabnya! kamu hanya mayat tak bernyawa! apa yang kulakuan dua hari ini pun terlihat seperti orang bodoh!! berkeliling paris membawa sebuah foto!! itu tindakan orang bodoh!" terdengar sangat marah Jester saat itu, nafasnya pun semakin tidak beraturan.


"Selamat tinggal" ucap Jester lalu dia berbalik meninggalkan ruangan


Jadwal pemberangkatan mereka semua untuk kembali ke negaranya telah ditetapkan besok pagi, selama itu Jester hanya mengurung dirinya didalam kamar bersama Naomi. Dilantai yang sama namun berbeda kamar, terlihat Luke dan Harry pun tidak dapat menikmati momen pertama mereka berada diluar negeri walau menara Eiffel dapat mereka lihat dari balik kamar. Begitu pula dengan Justin dan Grece yang berada dikamar lainnya hanya duduk dikasur terdiam sembari menatap menara Eiffel, tangan Justin merangkul Grece yang terlihat sedang menangis dipundaknya.


Selena... dia sedang sibuk bersama Lisa dan John mempersiapkan kepulangan jenazah Luna, mereka bertiga terlihat masih tidak dapat menerima kepergian Luna yang begitu mendadak. Yang terakhir yaitu William sedang duduk disalah satu cafe dekat dengan menara Eiffel, dia menikmati sebotol Wine yang tersaji diatas mejanya sambil melihat keindahan menara Eiffel. Semua sedang larut dalam pikirannya masing - masing, kepergian Luna memberikan arti tersendiri bagi mereka.


Matahari kembali terbit menyinari kota Paris Prancis, didepan rumah sakit terlihat Jester, Naomi, Luke, Harry, Selena, Justin, Grece, Lisa dan John berdiri menyambut peti mati Luna yang akan dibawa menggunakan mobil jenazah untuk dibawa ke bandara. Mereka terlihat mencoba tegar saat peti mati melewati mereka semua dan masuk kedalam mobil jenazah, saat peti sudah masuk mereka pun membubarkan diri dan masuk kembali kedalam mobil - mobil yang sudah William sediakan untuk kepulangan mereka.


Beberapa menit berlalu, mereka pun sampai disalah satu hanggar di bandara Charles de Gaulle. Disana pesawat Jet pribadi milik keluarga Gates dan keluarga Scott terlihat siap untuk mengudara, William turun dari pesawat keluarga Gates dan menyambut kedatangan rombongan pengantar jenazah Luna.


"Penumpang semuanya naik ke pesawat Scoot dan jenazah dibawa dengan pesawat Gates" perintah William kepada para supir, seketika mobil pengantar jenazah mendekati pesawat jet keluarga Gates.


"Tuan Gates sekali lagi kami ucapkan terima kasih" ucap John


"Kami dengar sekilas tentang anda dari Luna, dia mengatakan anda orang kaya yang sangat baik dan tidak sombong... terima kasih sudah memberi kenangan dalam hidup anak kami" timpal Lisa


"Tidak usah terlalu dipikirkan, bagaimana pun aku sangat menyukai kepribadian Luna. Sangat disayangkan dengan apa yang terjadi, tapi aku harap kalian tabah" penuh penyesalan William mengatakannya, John dan Lisa pun membungkukkan badannya lalu segera melangkahkan kaki menuju pesawat jet Scott.


Semua persiapan telah selesai, jet - jet pribadi mulai bersiap untuk lepas landas. Jester meninggalkan Paris Prancis dengan segala kesedihannya, meski mampu untuk menahan setiap air mata yang akan tumpah namun semuanya paham hati Jester tidak baik - baik saja.


Enam belas jam berlalu dan langit gelap terlihat di negara asal Jester dan teman - temannya, dibandara internasional itu William sudah mempersiapkan beberapa mobil untuk mengantar Jester dan Naomi kembali kerumah, begitu pula dengan Luke dan Harry, Justin dan Grece, Selena, John dan Lisa serta mobil pengangkut jenazah. Mereka semua berpisah disana dan memutuskan untuk memakamkan Luna keesokan harinya, suasana haru masih menyilimuti mereka.


Malam berlalu berganti pagi yang terlihat mendung, awan mendung seakan menampakkan suasana hati Jester dan Naomi. Di pagi itu Naomi terlihat sedang bersiap untuk menuju ke pemakaman Luna, didepan kaca rias Naomi mulai berdandan sembari menunggu Jester keluar dari kamar mandi. Sesekali Naomi memperhatikan kasur dimana Luna dulu membantunya untuk bangkit, seketika itu matanya pun berkaca - kaca.


Setelah beberapa saat Naomi terlihat sudah selesai dengan persiapannya, dia berjalan menuju ruang tengah dimana Jester selalu berada jika ada dirumah. Perlahan Naomi membuka pintunya dan mendapati Jester tiduran disofa, melihat tidak ada gerakan dari Jester kala itu membuat Naomi memberanikan diri untuk mendekati Jester. Begitu dekat saat itu Naomi mendengar suara nafas Jester yang terengah - engah, merasa khawatir Naomi mencoba membangunkan Jester dan ketika menyentuh tubuh Jester saat itu Naomi menyadari suhu badan Jester yang tinggi.


"Jess!! suhu badanmu tinggi!" ucap Naomi panik, perlahan mata Jester pun terbuka dan menatap Naomi.


"Naomi, sudah siap? ayo kita segera berangkat" dengan nafas yang terengah - engah itu Jester mengatakannya, Jester pun hendak bangun dari rebahannya namun Naomi menahan Jester agar terus merebahkan badan.


"Jess! istirahat dulu, suhu badanmu sangat tinggi! aku akan ambilkan obat!" dengan panik Naomi mengatakannya dan segera ingin mengambil kotak obat yang ada diruang makan, namun Jester menahan Naomi dengan menggenggam lengannya begitu kuat.


"Naomi..." ucap Jester masih dengan nafas yang terdengar berat, Naomi pun berbalik menatap Jester kembali.


"Iya, Jess... kamu butuh sesuatu?" tanya Naomi dengan lembut


"aku merasa sedikit lelah... aku ingin tidur sebentar saja, maukah kamu menggenggam tanganku? aku akan segera bangun, sampai saat itu maukah kamu berada disisiku seperti ini?" tanya Jester sedikit terbata karena nafasnya yang semakin tidak beraturan, Naomi pun duduk ditatami sembari menggenggam tangan Jester begitu kuat.


"Aku akan disini... kamu tidurlah..." jawab Naomi yang merasakan panasnya tubuh Jester kala itu, Jester tersenyum menatap Naomi bersamaan dengan matanya yang tertutup perlahan.


"Terima kasih..." timpal Jester lalu dia pun mulai tertidur.

__ADS_1


__ADS_2