
***
"Permintaanku... turuti apapun yang Luna ingin lakukan disana... Jess, aku sangat berharap banyak padamu..." ucap Naomi dari balik telepon
"Ta... tapi... ini gak masuk akal, kamu merelakan aku berduaan dengan wanita lain? apa - apaan" timpal Jester dengan suara yang terkejut
"Saat ini hanya kamu yang bisa memberikannya kenangan terbaik, aku cuma bisa minta tolong padamu untuk ini" terdengar tenang Naomi mengatakannya, ketenangan Naomi berbanding terbalik dengan raut wajah Jester yang mulai terlihat semakin emosi.
"Aku tidak punya kewajiban untuk membahagiakan orang yang tidak aku cintai!!" agak membentak Jester mengatakannya, Naomi pun menghela nafasnya
"Aku tahu kamu kecewa padaku, kamu marah padaku, dan mungkin kamu saat ini berfikiran buruk tentangku... tapi Jess, jika bukan kamu... aku gak tahu lagi harus meminta tolong pada siapa..." terdengar sedih saat Naomi mengatakannya, Jester sampai membatu mencoba memikirkan apa yang sebenarnya terjadi.
"Jess, kalau kamu mau marah... tahan amarahmu sampai kita bertemu, aku akan terima semua kemarahanmu..." ucap Naomi lagi ketika Jester tidak membalas perkataannya
"Apa yang kamu rencanakan?" tanya Jester terdengar mulai tenang
"Tidak ada Jess... tidak ada satupun yang sedang aku rencanakan, ini semua murni karena aku ingin membuat Luna mendapatkan kenangan terbaiknya dan itu.... dan itu hanya bisa dilakukan denganmu..." jawab Naomi
"Aku... sulit untuk melakukannya.... meskipun kamu yang memintaku, tapi hatiku tidak akan pernah bisa..." belum selesai Jester berkata, Naomi memotong.
"Iya... aku tahu itu sulit untukmu, karena itulah aku memohon padamu..." timpal Naomi terdengar tenang, saat itulah Jester seakan tidak memiliki pilihan lain selain mencoba untuk menuruti permintaan Naomi.
"Aku... tidak punya pilihan kan?" tanya Jester terdengar berat hati, Naomi pun tertawa.
"Benar... kamu gak punya pilihan" jawab Naomi dengan tawa kecil yang menyertai setiap katanya
"Kamu selalu seperti ini... memaksaku untuk melakukan hal yang tidak ingin aku lakukan..." suara Jester terdengar lembut namun tersirat kekesalan
"Maaf..." penuh penyesalan Naomi mengatakannya
"Oke... aku akan mencoba mengabulkan permintaanmu... tapi jangan salahkan aku kalau aku berpaling..." belum selesai Jester berkata, Naomi memotong.
"Kamu akan tetap milikku dan aku akan selalu menjadi milikmu" timpal Naomi tegas, Jester pun menghela nafasnya
"Bahkan ancaman seperti itu tidak bisa membuatmu merubah permintaanmu... kamu benar - benar serius tentang ini, aku mengerti Naomi... aku akan melakukannya" ucap Jester tegas
"Dimana Luna? aku ingin berbicara dengannya" tanya Naomi, Jester pun menoleh kebelakang dan menatap Luna yang masih berdiri dan menangis dibelakangnya dengan jarak yang cukup jauh.
"Dia.... ada disini, aku sempat marah dan membentaknya...." jawab Jester terbata dengan perasaan bersalah
"Minta maaflah padanya, dia tidak berniat jahat apapun.... mungkin caranya yang salah, tapi.... duuh sudahlah, berikan handphonemu padanya" ucap Naomi
"Iya, bentar ya" ucap Jester sembari berjalan mendekati Luna
***
Luna yang saat itu sedang menangis sambil menundukkan kepala tidak menyadari Jester berjalan mendekatinya, perhatiannya pun teralihkan ketika Jester memberikan ponselnya kepada Luna. Perlahan Luna mendongakkan kepala menatap Jester dengan air mata yang masih terus mengalir deras, Jester pun menatap Luna dengan tatapan mata yang menunjukkan rasa bersalah dan iba.
"Ini Naomi... dia ingin bicara denganmu" celetuk Jester, perlahan tangan Luna pun mengambil handphone itu dan kemudian meletakkannya ditelinga.
***
"Halo..." dengan suara serak sehabis menangis Luna mengucapkan salam
"Luna.... jangan menangis ya, Jester hanya terkejut dengan yang terjadi... maafkan dia..." terdengar sedih Naomi mengatakannya, namun Luna hanya terdiam.
__ADS_1
"Aku.... sudah mendengar semuanya.... aku tahu alasan kamu sampai seperti ini dan...." ucapan Naomi pun menggantung
"Apa... Selena sudah..." belum selesai Luna bicara, Naomi memotong.
"Kita ganti video call, sebentar...." timpal Naomi
***
Telepon pun terputus, Luna menatap layar handphone Jester. Dengan heran Jester pun menatap layar handphonenya, tidak lama handphone itu kembali berdering tanda ada video call masuk. Jester dan Luna pun sempat saling bertatapan mata dan dengan gestur tangan, Jester meminta Luna untuk mengangkat panggilan itu.
***
"Haiii!!!" sapa Naomi, Luke, Harry, Justin, Grece, dan Selena serantak dari balik layar terlihat senang dan penuh senyum, Jester dan Luna pun terkejut melihat semuanya berkumpul dengan senyum dan terlihat senang.
"Hei disana lagi musim apa?" tanya Luke
"Apa kalian bisa bahasa prancis? gimana nanti kalian kalau butuh sesuatu?" tanya Grece
"Apa itu dibandara? kalian masih belum menuju hotel?" tanya Naomi penasaran
"Hei Jester, jam berapa disana? sepertinya masih terang ya" tanya Harry
"Luna.... jangan memaksakan diri ya" celetuk Selena, Justin hanya terdiam dan melambaikan tangannya. Saling bersahutan mereka terlihat senang melakukan panggilan video dengan Luna dan Jester yang terpisah jauh, suasana yang sempat tegang dan penuh aura permusuhan benar - benar tidak nampak lagi diantara mereka semua. Justru kehangatan dari sebuah persahabatan yang tercipta, seperti sebuah dukungan penuh cinta antar sahabat. Luna sangat merasakan dukungan moral itu, perasaan bersalahnya pun semakin merasuki hati dan pikirannya.
"Kalian..." Luna tidak dapat melanjutkan kata - katanya karena terlalu terkejut melihat teman - temannya berkumpul bersama setelah apa yang terjadi.
"Luna.... Aku pinjamkan Jester padamu, bersenang - senanglah...." ucap Naomi ketika melihat Jester dan Luna hanya terdiam dengan wajah yang terkejut, seketika air mata Luna kembali mengalir dengan deras dan disaat itu baik Luke, Harry dan Grece pun kehilangan senyumannya.
"Aku... aku pinjam dia ya....Naomi, aku... juga minta maaf.... semua ini adalah rencanaku... kak Luke... kak Harry.... maafkan aku... kalian pasti menderita karena obat itu... dan Grece... aku minta maaf kamu gagal menuju paris, aku dengar dari kak Justin kamu sangat ingin kemari... maafkan aku... dan khusus untuk Selena dan kak Justin..... terima kasih banyak sudah mendukung rencanaku...." terbata Luna mengatakannya dengan suara yang serak karena menangis, saat itu Jester masih tidak memahami apa yang sebenarnya terjadi dan hanya bisa terdiam sembari terus berfikir tentang yang terjadi.
"Kalian segera ke hotel dan beristirahatlah... dan Jess... aku minta sekali lagi padamu...." belum selesai Naomi berkata, Jester memotong
"Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi liburan ini akan aku nikmati sebaik mungkin... aku harap kalian semua tidak menyesal" ucap Jester, mereka semua pun tertawa bersama. Setelah obrolan ringan lainnya, tidak beberapa lama panggilan video pun terputus.
***
Luna mengembalikan handphone Jester dengan kepala yang masih tertunduk, Jester menerima handphone itu dan segera meletakkannya kembali kedalam saku celana. Sempat terdiam untuk beberapa saat, Jester menghela nafasnya dan membuat Luna mengalihkan perhatiannya menatap Jester.
"Aku benar - benar tidak tahu kenapa ini bisa terjadi, tapi bisa kamu jelaskan apa yang kamu rencanakan?" tanya Jester terdengar lembut, tangan kiri Luna pun merogoh sling bag nya dan mengambil sebuah note kecil lalu memberikannya pada Jester.
Sebuah note kecil berwarna pink dengan daftar beberapa rencana kegiatan tertulis dengan indah disana, begitu rapi dengan tinta berwarna hitam dan tinta berwarna merah untuk setiap tanda centang yang terselip disetiap bagian akhir dari urutan setiap kegiatan. Pada bagian atas tertulis 'Last Dreams'
***
Last Dreams :
1. Minta maaf sama kak Jester ✓
2. Menyatukan kak Jester dengan (tertulis Selena dengan coretan yang menutupi) Naomi ✓
3. Berkunjung ke festival squere ✓
4. Masuk kedalam taman labirin dan mengucapkan janji yang pernah terucap baik bersama maupun tanpa kak Jester ✓
5. Menjadi teman Naomi ✓
__ADS_1
6. Merayakan ulang tahun kak Jester ✓
7. Menyatukan Selena dengan teman - teman kak Jester dan Naomi ✓
8. Liburan ke Paris berdua dengan kak Jester sesuai janji yang pernah terucap
9. Menonton bioskop terbuka seperti yang kak Jester ceritakan
10. Mengunjungi cafe - cafe populer yang pernah kak Jester ceritakan
11. Berlayar di sungai Seine
12. mengunjungi museum Modern Art Museum\, Victor-Hugo and Balzac Houses\, Bourdelle Museum\, Carnavalet Museum\, Cernuschi Museum\, Marechal Leclerc Memorial\, Petit Palais\, Zadkine Museum\, dan the Museum of Romantic Life
11. Berfoto di Eiffel\, Museum Louvre\, Arc de Triomphe\, Katedral Notre Dame\, dan Taman Luxembourg
***
Sedih, terharu, marah, kecewa, heran dan penuh tanya, semua perasaan itu campur aduk didalam otak Jester dan memenuhi kepalanya. Namun Jester segera membuang semua pemikiran itu dan kembali fokus untuk memenuhi permintaan Naomi kepadanya, lalu tentang catatan Luna... Jester pun memutuskan akan memenuhi semua keinginan Luna atas dasar permintaan Naomi.
"Baik.... berarti datang ke paris bersama Jester bisa kamu centang kan?" tanya Jester sembari menatap Luna, Luna hanya menganggukkan kepalanya menjawab Jester. Setelah mendapat jawaban, Jester kembali membaca list yang belum mendapatkan centang.
"Disini kita akan... menonton film di bioskop terbuka, mengunjungi cafe - cafe populer, berlayar di sungai seine, berkunjung ke museum Modern Art Museum, Victor-Hugo and Balzac Houses, Bourdelle Museum, Carnavalet Museum, Cernuschi Museum, Marechal Leclerc Memorial, Petit Palais, Zadkine Museum, dan the Museum of Romantic Life... wow, kamu semangat banget buat ke museum" terkejut Jester menatap Luna, mendengar aksen bicara Jester membuat Luna tertawa.
"Kamu bisa bahasa perancis kak?" tanya Luna penasaran
"Ya... aku bisa, lalu... kita berfoto di Eiffel, Museum Louvre, Arc de Triomphe, Katedral Notre Dame, dan Taman Luxembourg, mungkin tiga hari tidak akan cukup... tapi kita akan lakukan yang terbaik" ucap Jester lalu menutup note itu dan memberikannya kembali kepada Luna, perlahan tangan Luna menerima note itu dan kepalanya kembali tertunduk.
"Kak.... aku masih punya hutang maaf padamu, aku tahu kamu marah dan sampai sekarang pun aku tahu kamu ingin segera pergi dari sini... maafkan aku" ucap Luna dengan lembut, Jester pun menarik nafasnya dalam - dalam lalu menghembuskan perlahan.
"Aku terima maafmu dan sekarang kita harus fokus untuk menyelesaikan rencanamu disini, aku sudah berjanji pada Naomi akan menemanimu dengan baik maka aku akan penuhi janji itu" ucap Jester, Luna pun menatap Jester dengan senyumannya.
"Terima kasih...." timpal Luna, dengan sigap Jester menarik koper Luna ditangan kiri dan kopernya sendiri ditangan kanan.
"Untuk sementara kita harus ke hotel dulu, ayo" ajak Jester lalu berjalan mencari taksi
Mereka pun naik taksi untuk menuju kesalah satu hotel terkenal yang berada didekat dimenara Eiffel, dengan kemampuan Jester dalam berbahasa prancis membuat semuanya menjadi mudah. Disepanjang perjalanan Jester menjelaskan dengan baik kepada Luna tentang apa - apa saja yang berada disekitar mereka dan kebetulan mereka lewati, Luna juga terlihat tidak segan - segan untuk bertanya kepada Jester.
Tidak beberapa lama mereka pun sampai dihotel yang dituju, Luna terlihat kagum dengan arsitektur hotel itu. Didalam hotel Jester langsung check in atas nama Selena sebagai pemesan. Jester pun mendapatkan satu kunci kamar, sempat terdiam sejenak menatap kunci itu Jester pun kembali memesan satu kamar yang bersebelahan. Saat itu Luna terlihat diam saja karena Jester dan resepsionis berbicara dalam bahasa prancis namun sedikit - sedikit Luna paham kalau Jester tidak ingin satu kamar dengannya. Tidak lama Jester pun mendapatkan dua kunci kamar dan salah satunya dia berikan pada Luna, melihat nomor kamarnya yang terpaut satu lantai membuat Luna terlihat sedih karena begitu berjauhan dengan kamar Jester.
"Kamarmu bisa langsung melihat indahnya menara Eiffel, sayangnya aku tidak mendapat kamar yang bersebelahan denganmu" ucap Jester sambil menyodorkan kunci kamar yang berbentuk kartu itu
"Kita tukaran kamar saja, aku...." belum selesai Luna berbicara, Jester memotong
"Tidak apa... kamu gunakan saja kamar itu" timpal Jester, lalu Luna pun menerima kunci dan mereka berjalan menuju lift. Sampai dilantai kamar Luna, Luna keluar dari lift dan disaat itu Luna berbalik dan menatap Jester sebelum pintu lift kembali tertutup.
"Kita akan bertemu di lobby satu jam lagi" celetuk Jester dan Luna hanya menganggukkan kepalanya, lalu pintu lift pun tertutup dan Jester naik satu lantai lagi.
Jester berjalan dilorong hotel menuju kamarnya, begitu sampai didalam kamar Jester langsung mengarahkan kakinya kekamar mandi setelah menaruh semua barang - barangnya ditempatnya. Ditengah guyuran air shower saat itu, Jester terus berfikir dan mencoba menerka - nerka apa yang sebenarnya terjadi. Terutama Luke dan Harry yang nampak biasa saja mendengar semua ini adalah rencana Luna, seperti bukan Luke dan Harry yang Jester kenal bisa menerima begitu saja termakan oleh rencana Luna.
Disisi lain Jester juga merasa heran dengan sikap Naomi, dia dengan sadar merelakan pacarnya berduaan dengan wanita lain untuk liburan diluar negeri. Sebuah sikap yang tidak akan bisa dilakukan oleh wanita manapun, namun mengorbankan diri demi orang lain bukalah hal yang baru Jester dengar dari seorang Naomi. Setelah berdiam diri selama beberapa menit dengan guyuran air shower, Jester pun menyudahi mandinya dan segera bersiap untuk menuju lobby dimana dirinya dan Luna janjian untuk bertemu.
Ketika itu handphone Jester pun berbunyi tanda pesan masuk, sebuah foto dan pesan yang dikirim oleh Naomi diaplikasi ChatMe dan mampu membuat Jester tersenyum memandangi foto itu. Foto dimana Naomi menunjukkan wajah ngambeknya sembari rebahan dikasur dengan caption "Aku merindukanmu tidur disebelahku"
"Kamu yang memintaku pergi dan kamu pula yang ngambek karena aku pergi... haah.." gumam Jester sembari membalas pesan Naomi lalu melemparkan handphone itu kekasur, pesan itu berbunyi "Setelah ini kita tidak akan lagi terpisah"
__ADS_1