
"Maafkan aku.... aku tidak bisa..." gumam Naomi dalam pelukan Jester
Pagi menjelang siang yang cerah, di bandara internasional yang padat dengan aktifitas baik calon penumpang dan penumpang yang baru turun dari pesawat. Disalah satu area tunggu boarding, terlihat Jester dan Naomi yang sedang berpelukan didepan Selena yang juga berada disana. Wajah Jester dan Selena terlihat sangat terkejut setelah mendengar apa yang Naomi gumam kan, namun Jester seakan enggan untuk melepaskan pelukannya dan Naomi pun tidak melepaskan pelukannya.
"Naomi... kamu bercanda kan... kamu sedang mengerjai ku kan... hei... ini tidak lucu, kamu tahu?" terbata Jester mengucapkannya, tangisan Naomi semakin menjadi - jadi mendengar ucapan Jester.
"Naomi!! katakan kau sedang bercanda!!" bentak Jester sembari meremas kedua bahu Naomi dan mendorongnya sedikit agar Jester dapat menatap wajah Naomi secara langsung, namun Naomi hanya terdiam dan terus menangis begitu terisak - isak.
Tanpa memperdulikan dirinya yang menjadi tontonan banyak orang, Jester membabi buta melampiaskan segala keluhan dan pertanyaannya terhadap Naomi yang memberi isyarat ingin pergi meninggalkan Jester. Tentu saja tidak ada ketenangan bagi Jester mendengar gumaman Naomi, kehilangan orang terkasih memanglah ketakutan Jester dan itu membuat dirinya semakin sulit mengatur emosinya.
"Heii... aku salah apa...? apa aku menyakiti hatimu? apa aku.." belum selesai Jester berkata Naomi memotong
"Jess dengarkan aku..." ucapan Naomi kembali dipotong Jester
"Katakan apa salahku... apa saja aku akan berikan asal kamu tetap berada disini... tolong jangan seperti ini padaku.." terdengar begitu pilu Jester mengatakannya, perlahan tangan Naomi menyentuh kedua pipi Jester.
"Jess diam dulu.. dengarkan..." seakan tidak ingin memberikan Naomi waktu bicara, Jester kembali memotong.
Suara Jester bergetar karena begitu emosional, dengan penuh harap Jester mencoba untuk mempertahankan Naomi dengan segala cara yang Jester mampu. Memohon dan memohon agar Naomi tetap berada disisinya, kondisi Jester sangat terpuruk akan ucapan maaf Naomi, ketakutan akan kehilangan kembali merasuki pikiran Jester hingga membuatnya tidak bisa lagi mengontrol rasa paniknya.
"Apa yang kamu inginkan? katakan saja sayang.... tapi kumohon tetaplah disini yaa... aku mohon... aku janji jadi pria yang baik untukmu... tidak akan melakukan kesalahan apapun untukmu... tetap disini ya..." timpal Jester lagi terus memaksa Naomi dengan air mata yang semakin berderai deras keluar dari matanya
"Jess.... tolong dengarkan aku..." pinta Naomi, namun Jester menggelengkan kepalanya
Begitu pilu Naomi melihat Jester yang memohon untuk dirinya agar tetap bertahan disisi Jester, air mata Naomi juga tak mampu tertahan. Naomi seakan dejavu dengan keterpurukan Jester ketika dulu kehilangan Luna, namun keadaan Jester kali ini jauh lebih buruk. Rasa dilema kembali mengganggu Naomi, namun dia percaya bahwa Jester memiliki teman yang akan selalu ada untuknya dan Naoko sang ibu lebih membutuhkan kehadiran Naomi.
"aku tidak mau!! aku tidak mau mendengar apapun selain kamu mengatakan ingin tetap berada disini..... tetaplah disini Naomi..... aku mohon...." ucap Jester, seakan tidak lagi memiliki kekuatan apapun saat itu Jester perlahan sampai bersimpuh dari berdirinya dan terus menunduk.
"Hei sayang... aku akan kembali.... aku pasti akan kembali.... oke?" ucap Naomi mencoba meyakinkan Jester, Naomi pun ikut bersimpuh didepan Jester yang menangis begitu pilu.
Perkataan Naomi seakan tidak memberikan pengaruh apapun bagi Jester, dalam simpuhnya Jester hanya dihantui pikiran akan ditinggalkan Naomi dan itu membuat Jester semakin terpuruk. Sementara Naomi masih berusaha untuk menenangkan Jester dengan kalimatnya yang sangat lembut.
"Beri aku waktu untuk menebus kesalahanku pada ayah dan ibu... aku janji aku pasti kembali untukmu... sampai saatnya itu tiba... aku mohon padamu..." Naomi menggantungkan kalimatnya sejenak, nafasnya pun semakin berat dengan air mata yang masih terus mengalir membasahi pipinya.
__ADS_1
Sejenak mata Naomi terpejam diiringi air matanya yang mengalir deras dari kedua matanya, ditariknya nafasnya dalam - dalam dan dihembuskan perlahan. Saat matanya terbuka, dengan penuh rasa cinta Naomi menatap mata Jester dan tangan lembutnya menyentuh pipi Jester. Naomi seakan ingin mengatakan sesuatu yang sangat sulit dan berat untuk diucapkan bukan hanya untuk Jester namun juga bagi dirinya.
"Jes....Aku mohon biarkan hatimu tetap terbuka... aku mengizinkanmu untuk mencari penggantiku, aku tidak akan mempermasalahkan itu. Namun jika sampai aku kembali kamu tetap tidak bisa menemukan wanita lain, aku pasti akan menerimamu...." ucapan Naomi dipotong oleh Jester.
Apapun perkataan Naomi saat itu, hanya penolakan yang Jester berikan. Jester tidak bisa menerima semua perkataan Naomi begitu saja, dalam hatinya Jester berharap jika Naomi akan membatalkan kepergiannya dan memilih untuk bersama Jester. Mewujudkan impian pernikahan mereka berdua yang tersisa beberapa hari lagi.
"Bohong... kamu bohong Naomi!! kamu memang berniat untuk tidak kembali!!! aku..." belum selesai bentakan Jester kepada Naomi, tiba - tiba Naomi mencium bibir Jester untuk beberapa saat lalu melepaskannya perlahan.
"Apa kamu masih ingat janji kita? aku akan menjadi malaikat pelindungmu dan menemanimu selamanya... bagi yang melanggar maka dia akan dikutuk menjadi orang paling kesepian disepanjang hidupnya sampai dia kembali untuk menepati janjinya...." ucap Naomi, Jester pun tertegun memandangi wajah kekasihnya itu.
"Kalau begitu... kalau begitu kenapa kamu tidak menepati janjimu?! kamu mengingkari janji dan pergi entah kemana... kamu pergi meninggalkanku entah kemana... pembohong... pembohong!!" timpal Jester
Kondisi Jester begitu menyakitkan hati Naomi, memberi rasa sakit seperti Luna pada Jester bukanlah pilihan yang Naomi inginkan. Keadaan Naoko lah yang memaksa Naomi menjadi begitu tega terhadap Jester. Tidak mungkin Naomi meninggalkan sang ibu tanpa pendampingan, seakan ingin menebus kesalahannya karena merasa gagal sebagai seorang anak Naomi memohon Jester untuk memahami pilihannya.
"Aku akan menjadi orang yang paling kesepian itu.... aku tidak akan punya alasan untuk tidak kembali padamu... beri aku waktu Jess... aku akan menerima semua kutukan itu, tapi jika kamu tidak sanggup menungguku... aku tidak melarang mu untuk mencari penggantiku meski suatu saat aku akan kembali..." Naomi melanjutkan kalimatnya
"Tapi... aku tidak akan sanggup... membayangkan hariku tanpamu.... aku akan kesepian Naomi" terdengar pilu saat Jester mengatakannya, Naomi menggelengkan kepalanya beberapa kali merespon perkataan Jester. Perlahan tatapan mata Naomi menatap belakang Jester, disana Naomi melihat Luke, Sarah, Harry, Justin, dan Grece sudah sampai.
Luke dan Harry menatap dengan penuh perasaan iba, Justin seakan sudah menduga akan seperti ini hasil akhirnya, Grece mencoba untuk menahan tangisnya menatap Naomi, sedangkan Sarah seakan marah kepada Naomi namun tidak berani untuk meluapkannya saat itu. Naomi kembali menatap Jester dengan senyuman, meski air mata masih terus mengalir membasahi pipinya.
Naomi yang juga terlihat terpuruk dengan senyum yang dipaksakan memberanikan diri menghadapi Luke, Harry, Sarah, Justin dan Grece yang menatapnya dengan wajah yang mewakili perasaan mereka masing - masing. Rasa sesak di dada nya semakin Naomi rasakan karena merasa telah berbuat hal yang jahat kepada Jester dan juga kembali menyakiti perasaan sahabat Jester karena keputusannya.
"Luke... Harry... aku tahu kalian akan membenciku... tapi aku punya alasan kuat, aku titip Jester untuk sementara ya. Aku mohon pada kalian..." pinta Naomi, tangisan Naomi yang terlihat begitu memilukan itu pun membuat Luke dan Harry tidak sanggup untuk terus menatap mata Naomi. Keduanya hanya mengangguk sembari membuang muka, kini tatapan mata Naomi menatap Justin dan Grece.
"Aku menyebabkan banyak masalah dan meninggalkan masalah itu dengan luka dalam pada hati Jester... Justin dan Grece, aku titipkan Jester pada kalian... bantu dia bangkit.... aku mohon pada kalian" pinta Naomi lagi, Grece pun memeluk Naomi dengan erat dan kini air matanya tidak dapat dia bendung lagi. Sedangkan Justin hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya, perlahan Naomi dan Grece melepaskan pelukannya.
Dari jarak yang tidak terlalu jauh Selena terlihat menangis dengan apa yang dilihatnya, Jester yang masih bersimpuh seakan kehilangan kekuatan untuk menopang tubuhnya dan Naomi yang terlihat begitu hancur menitipkan Jester kepada Sahabat Jester membuat Selena memahami beban berat yang dibawa oleh Naomi. Ada rasa sesal di hati Selena ketika merasa terlambat karena menunda untuk memberi tahu Jester tentang rencana Naomi.
"Sarah... aku tahu kamu pasti marah padaku, kamu saudara Jester... kalian saling peduli dan saling membantu.... maaf aku meninggalkan Jester dalam keadaan seperti ini, tapi percaya padaku... aku mencintai adik sepupumu itu lebih dari apapun, kamu tahu gimana aku jika mencintai seseorang... aku mohon, bantu Jester untuk bangkit sampai aku kembali...." pinta Naomi kepada Sarah, tiba - tiba Sarah menampar Naomi.
Seperti tidak merasakan sakit, Naomi membiarkan begitu saja bekas tamparan Sarah pada pipinya. Air mata Naomi semakin tidak terbendung karena merasa waktunya untuk pergi meninggalkan Jester sudah semakin dekat.
"Aku tidak suka caramu, menyakiti keluargaku berarti menyakitiku juga! Tapi tentang permintaanmu... aku menerimanya, kembalilah secepat mungkin" Sarah lalu memeluk Naomi, mengusap punggungnya beberapa saat lalu melepaskannya. Larut dalam pelukan Sarah, Naomi menangis sejadi - jadinya hingga nafasnya semakin sesenggukan. Tidak lama Sarah langsung menjauh dari tempat itu, bersamaan dengan Naomi yang berjalan mendekati Selena.
__ADS_1
"Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan, Selena... aku titipkan dia padamu.... aku dan kamu adalah wanita yang mencintainya, seharusnya kamu tahu kalau kamu jangan seperti diriku yang menyakiti hatinya.... hai sahabat masa kecilku... tolong ya..." pinta Naomi begitu lirih, Selena seakan tidak mampu lagi membendung air matanya ketika itu namun Selena tidak menjawab apapun.
Naomi pun kembali berjalan mendekati Jester dan bersimpuh kembali didepan Jester yang masih bersimpuh dan menangis itu, tangan Naomi menggenggam kedua tangan Jester dan meremasnya begitu kuat.
"Jess... dengarkan aku...." ucap Naomi, perlahan Jester mengangkat kepalanya dan menatap wajah Naomi yang berusaha keras tersenyum dihadapannya.
"Kedepannya kamu akan menjalani hidupmu tanpaku... mungkin kamu akan melupakan kenangan yang pernah kita lalui... kamu akan terus terbang jauh menyusuri hidupmu dan memulai kisah hidup baru tanpa aku. Tapi...." Naomi menggantungkan kalimatnya sejenak dan mengatur nafasnya yang kacau itu
"Kamu harus tahu jika sebenarnya aku tidak ingin pergi, meninggalkan kamu sendiri dengan luka hatimu... kamu juga harus tahu, aku selalu cinta padamu... aku harap kamu tidak akan melupakan kenangan kita dan menyimpannya dalam kotak pandoramu..." ucap Naomi dengan tenang meski hatinya terasa hancur, perlahan Naomi berdiri dan berbalik untuk kembali melanjutkan perjalanannya.
Baik Jester, Luke, Harry, Sarah, Justin dan Grece sudah tidak mampu lagi untuk menahan Naomi dengan tekadnya yang begitu kuat, namun tidak dengan Selena. Baru beberapa langkah Naomi beranjak dari tempatnya, tiba - tiba Selena maju beberapa langkah mendekati Naomi.
"Aku tidak mau menjadi alatmu!!! kamu dan Luna sama saja!! kalian seenaknya terhadapku!! apa kamu pikir aku ini robot, hah?!!! Aku tidak akan melakukan apapun yang kamu minta dariku!!! tidak akan ada satupun!!! apa kamu mendengarnya Naomi?!!!" teriak Selena saat itu dengan begitu marah, tubuh Selena sampai bergemetar hebat setelah meluapkan semua emosinya itu.
"Jadi.... jadi berjanjilah kamu akan kembali... aku akan menjaganya sampai kamu kembali.... Aku hanya akan meminjam dia!!! kamu dengar Naomi!! aku pinjam dia!!!!" teriak Selena lagi dan kali ini air matanya mengalir deras, kalimat terakhir Selena pun mampu menghentikan langkah Naomi.
Perlahan Naomi berbalik dan menatap Selena dengan senyuman, tidak lama Naomi kembali berjalan menuju tempat boarding khusus meninggalkan Jester, Luke, Harry, Selena, Grece, Justin dan Sarah disana. Dengan tangisan, mereka semua menutup perpisahan yang entah sampai kapan itu. Perlahan Luke dan Harry membantu Jester untuk berdiri dengan membopongnya ketempat dimana mereka semua dapat melihat berbagai pesawat lepas landas.
Disisi lain, di hanggar nomor dua belas. Saat itu William dan Marrie seakan sudah dapat mengerti atas keputusan Naomi dari Naoko, baik William dan Marrie kini seakan sudah tidak mampu lagi untuk menahan Naoko dan Naomi untuk pergi. Tidak lama sebuah mobil operasional bandara masuk kedalam hanggar itu, Naomi terlihat turun dari mobil dan berjalan masuk kedalam jet pribadi itu tanpa sedikit pun menoleh menatap William dan Marrie yang terus menatapnya dengan perasaan sedih.
Namun saat itu William melihat air mata yang berjatuhan dari dagu Naomi, tidak kuasa untuk menahan membuat William seakan membiarkan Naomi masuk kedalam jet pribadi itu tanpa kata perpisahan. Dengan sedikit membungkukkan badan, Naoko seakan memohon pamit kepada William dan Marrie. Perlahan tubuh kurus itu Naoko arahkan masuk kembali kedalam jet pribadi keluarga Scott, begitu Naoko masuk saat itu pintu jet pribadi pun tertutup perlahan.
William dan Marrie kembali masuk kedalam mobil untuk mencari tempat aman agar pesawat jet bisa lepas landas, dipinggir landasan pacu saat itu William merangkul Marrie yang menaruh kepalanya di bahu William. Menyaksikan jet pribadi keluarga Scott keluar dari hanggar secara perlahan, mengambil ancang - ancang untuk lepas landas, lalu pesawat itu pun mulai terbang meninggalkan negara kelahiran Naomi menuju Jepang.
Disisi lain dalam ruang tunggu boarding, Jester terlihat berdiri didepan kaca jendela besar. Menatap dengan tajam pesawat Jet pribadi keluarga Scott yang lepas landas itu. Dibelakang Jester terlihat Luke, Harry, Justin, Sarah, Selena dan Grece sedang duduk dengan kesedihannya masing - masing, setelah memastikan pesawat jet pribadi keluarga Scott terbang saat itu Jester masih berdiri memandangi langit cerah disiang hari.
Semua masih mematung tidak ada satupun yang bisa bergerak, mereka semua paham jika hati Jester saat ini sedang hancur total. Bagi Luke dan Harry, ini akan menjadi sulit karena pengalaman yang mereka punya sebelumnya ketika Jester patah hati karena Luna.
Ditengah kebisuan itu, Selena berjalan mendekati Jester dan berdiri disebelahnya. Perlahan Selena menempelkan kedua tangannya di pipi Jester dan memaksa Jester untuk menatapnya, walau terlihat kesal namun Jester membiarkan apa yang diperbuat Selena kepadanya.
"Hei.... dia janji akan kembali.... semangat kak, kami pasti akan terus menemanimu, pagi... siang.. sore... malam... kapan pun kamu membutuhkan teman... aku dan teman - teman yang lain akan menemanimu. Kamu tidak sendiri, ayolah semangat sambil menunggu Naomi kembali" ucap Selena, perlahan wajah cemberut Jester berangsur hilang meski senyum masih sulit untuk Jester angkat.
"Sakit ku kini bukan tentang kepergiannya... tapi tentang siapa yang akan menemaninya setelah aku..." ucap Jester terdengar sedih, Selena yang masih memegang pipi Jester dengan kedua tangannya itu langsung menunjukkan ekspresi cemberut.
__ADS_1
"Tentu saja kamu! apa kamu tidak dengar kalau dia akan kembali?!" agak membentak Selena mengatakannya, seakan mendapatkan pancingan dari Selena saat itu Luke, Harry, Justin, Grece, dan Sarah terpancing untuk ikut menghibur Jester.
Mereka semua tiba - tiba berlari mendekati Jester dan memeluk Jester beramai - ramai, Jester yang terkejut pun tidak kuasa menahan kakinya untuk terus berdiri. Akhirnya mereka semua pun terjatuh dan suara tawa terdengar pertama kali dari bibir Grece, suara tawa yang seakan menular kepada yang lain. Mereka semua tertawa dan tidak terkecuali Jester, terasa hangat saat itu hati Jester dikelilingi teman - temannya yang setia menemaninya.