Aku Pinjam Dia

Aku Pinjam Dia
Siasat Luke dan Harry


__ADS_3

Selasa pagi yang cerah disalah satu sudut taman kampus, Luke dan Harry terlihat mengendap - endap mendekati Naomi, Selena dan Luna yang baru saja sampai ditaman itu dan duduk bersebelahan disebuah kursi taman. Disana mereka terlihat berbicang dengan akrab, tidak terlihat sama sekali ketiganya baru kenal. Luke dan Harry yang berusaha mendekat saat itu pun terlihat ingin menguping pembicaraan ketiganya, walau suara yang terdengar agak samar namun keduanya tidak menyerah begitu saja. Keberadaan mereka bertiga cukup membuat Luke dan Harry menaruh curiga pada mereka.


"Lalu apa rencanamu?" tanya Naomi yang menatap Luna dengan serius, Luna tersenyum membalas tatapan Naomi.


"Masih tetap seperti diawal, aku cuma mau kembali berada disisi kak Jester" jawab Luna tenang, Naomi pun menghela nafas saat mendengar jawaban Luna.


"Dia sangat membencimu" celetuk Naomi


"Aku tahu, tapi jika seperti ini terus tidak akan ada kemajuan sama sekali. Jadi aku akan memaksakan diri untuk dekat dengannya" timpal Luna terdengar sedih, Naomi membuang muka ketika mendengar perkataan Luna. Rasa cemas akan keadaan Jester dengan kembalinya Luna dan juga rasa cemburunya berkecambuk jadi satu setelah mendengar perkataan Luna, Naomi terlihat bingung dari raut wajahnya.


"Semua demi kak Jester, aku harap kamu mau mengerti Naomi" celetuk Selena saat Naomi terlihat keberatan, perlahan Naomi mengalihkan pandangan menatap Selena.


"Aku tahu, aku sangat mengerti... tapi aku butuh kejelasan, kenapa?" tanya Naomi agak menekan, saat itu Luna berdiri dan mendekati Naomi lalu berlutut sambil menggenggam tangannya begitu erat.


"Jika saatnya tiba, kamu akan tahu kenapa. Saat ini kamu tidak perlu tahu, aku cuma mau kamu percaya padaku dan membantuku lagi" jawab Luna penuh harap


"Baik, aku akan bantu kamu. Tapi aku punya syarat yang harus kamu penuhi" pinta Naomi, Luna menganggukkan kepalanya dan tersenyum sebagai tanda setuju akan syarat yang akan Naomi berikan.


"Jangan sampai Jester tahu aku terlibat, bagaimana pun Jester sangat mempercayaiku saat ini. Lalu Selena, aku harap kamu tidak melakukan kebodohan apapun lagi seperti saat kamu bersama Camilla" tegas Naomi mengatakannya, Luna dan Selena mengangguk merespon perkataan Naomi.


Disisi lain, Harry dan Luke yang menguping pembicaraan mereka seakan tidak mempercayai keterlibatan Naomi. Luke yang terlihat emosi hendak melabrak ketiganya namun Harry menahan, dengan sigap Harry menarik Luke manjauh dari taman dan berhenti disalah satu lorong kampus. Keduanya pun terdiam untuk beberapa saat, seakan sedang berfikir apa yang sebenarnya Luna, Selena dan Naomi rencanakan.


"Sekarang ada titik terang, Naomi dan Selena bersahabat, Luna dan Selena bersahabat, maka tidak menutup kemungkinan memang Naomi juga sahabat Luna" celetuk Harry memecahkan keheningan, Luke memukul tembok didekat mereka untuk meluapkan emosinya.


"Sial!! apa tujuan mereka?!" tanya Luke yang terlihat begitu emosional, Harry kembali berfikir keras menerka tujuan ketiganya.


"Kemungkinan Luna mempersiapkan dua pionnya untuk menjaga Jester agar tidak berpacaran dengan siapapun kecuali dengan Luna" jawab Harry namun masih penuh keraguan


"Jika seperti ini, menyerahkan Jester pada Camilla terlihat lebih baik daripada membiarkan Jester tetap bersama Naomi!" agak dengan bentakan Luke mengatakannya


"Benarkah?" tanya Camilla yang muncul mendadak dibelakang Luke dan Harry, mereka pun terkejut lalu berbalik menatap Camilla yang tersenyum.


"Sejak kapan kamu disini?!" tanya Luke panik, Camilla pun tertawa lalu menepuk kedua tangannya


"Sejak Harry bilang Luna menyiapkan dua pion, ada apa nih?" tanya Camilla lagi terdengar antusias, Luke dan Harry pun bersamaan menepuk dahi mereka.


"Kalau aku minta kamu untuk lupakan yang kami katakan barusan, apa kamu akan menerima?" tanya Harry terdengar kesal, Camilla pun tertawa


"Tentu saja tidak, semua hal yang mungkin bisa aku pakai untuk mendapatkan Jester akan aku kumpulkan mulai sekarang" jawab Camilla dengan sedikit tertawa, Luke dan Harry pun saling menatap.


"Sebenarnya tujuanmu apa? kamu tidak benar - benar mencintai Jester, tapi kenapa kamu sekeras ini mengejarnya?" tanya Harry lagi, senyum Camilla pun menghilang saat mendengar pertanyaan Harry.


"Aku sudah katakan aku mencintai Jester, tapi karena aku pernah menolaknya jadi kalian seakan menutup mata akan fakta itu" jawab Camilla tegas namun Luke dan Harry tetap tidak mempercayai Camilla.


"Bagaimana dengan foto itu?" tanya Harry kembali mencurigai Camilla


"Fotoku yang sedang bermesraan dengan Daniel? yah... memang dulu kami pernah berpacaran dan Naomi merebutnya dariku, tapi bukan berarti aku ingin balas dendam" jawab Camilla tenang


"Bagaimana mungkin kami percaya, kamu itu penuh tipu daya" celetuk Luke agak membentak


"Terserah kalian saja, sampai ketemu empat bulan lagi~" ucap Camilla lalu meninggalkan mereka


"Tunggu, mau bekerjasama dengan kami?" tanya Harry saat Camilla agak jauh, perlahan Camilla berbalik dan tersenyum.


"Boleh, asal kalian bisa menyembunyikan foto itu dengan baik" Camilla menerima permintaan itu tanpa pikir panjang, walau terlihat keberatan namun Luke tidak memprotes keputusan sepihak Harry. Lalu mereka bertiga berjalan bersama menuju cafetaria dan segera berdiskusi tentang rencana untuk membalas rencana Naomi, Selena dan Luna. Dua kubu seakan sedang perang dingin untuk memperebutkan Jester, sesuatu yang tidak akan Jester pikir dan bayangkan sebelumnya.


Sementara itu sembilan puluh menit kembali berlalu, Jester keluar kelas dengan raut wajah yang terlihat murung. Tidak lama handphonenya berdering tanda ada pesan masuk, Jester mengambil handphonenya dari saku celana dan membuka aplikasi ChatMe. Sebuah pesan masuk dikirim oleh Justin


***

__ADS_1


"Jester, latihan band" diterima


"Oke" dikirim


***


Masih di aplikasi yang sama, Jester membuka chat bersama Naomi.


***


"Naomi, Justin ngajakin latihan. Kamu kosong kan sampai jam enam sore?" dikirim


"Yuks, kita ketemu disana ya sayang. (emot cium)" diterima


***


Jester tiba - tiba tersenyum membaca balasan Naomi, perlahan Jester kembali memasukkan handphonenya kedalam saku celana namun handphone itu kembali berdering tanda pesan masuk. Jester kembali mengeluarkan handphone dan melihat siapa yang mengiriminya pesan, sebuah pesan masuk kembali dari Naomi.


***


"Hanya dibaca? aku akan cubit perutmu sepuluh kali saat kita bertemu, sungguh" diterima


"(Emot cium) (emot cium)" dikirim


***


Naomi hanya membaca pesan yang dikirim oleh Jester, hal itu membuat Jester berkeringat dingin mengingat Naomi akan mencubit dirinya sepuluh kali. Jester kembali memasukkan handphonenya kesaku celana dan menggelengkan kepalanya beberapa kali, sempat terdiam beberapa saat Jester kembali berjalan menuju ruang musik kampus.


Dekat dengan ruang musik, Jester bertemu dengan Naomi yang juga akan masuk. Wajah ngambek Naomi saat itu terlihat jelas dan membuat Jester kembali berkeringat dingin, perlahan Naomi yang ngambek melirik Jester. Tidak ingin masalahnya berlarut, Jester berlari lalu mencium dahi Naomi dengan lembut. Wajah Naomi memerah dan terkejut setengah mati, Naomi mendorong Jester agar sedikit menjauhi dirinya lalu memunggungi Jester dan mengatur nafasnya yang tidak beraturan.


"Jester!!" agak membentak Naomi mengatakannya, perasaan gugup dan malu menguasai diri sampai membuatnya salah tingkah.


"Tidak~ aku mengirimi emot itu untuk mencium bibirmu" dengan manja Naomi mengatakannya, kali ini giliran Jester yang memerah dan membatu dirundung perasaan malu. Sebuah pemandangan yang bikin geli, percintaan mahasiswa dan mahasiswi yang terlihat seperti anak - anak yang sedang belajar untuk berpacaran ditunjukkan oleh Jester dan Naomi.


"Duuh tinggal cium aja apa sulitnya sih!!!" bentak Grece yang tiba - tiba membuka pintu ruang musik dengan keras, Jester dan Naomi pun terkejut ternyata sedari tadi Grace dan Justin menunggu mereka untuk berciuman.


"Ahahaha... mesranya pasangan baru ini" celetuk Justin dengan tawa yang berusaha dia tahan, wajah Jester dan Naomi semakin memerah mendengar ucapan Justin dan Grece. Sontak Naomi berbalik memunggungi Grece dan Justin sembari menutup wajah dengan kedua tangannya, sedangkan Jester menatap Justin dan Grece dengan kesal walau wajahnya masih memerah karena malu.


"Berhenti menggodaku!!!" bentak Jester, namun bentakan itu membuat Justin dan Grece malah semakin tertawa. Terjadi keributan kecil disana, suasana akrab tergambar jelas diantara mereka. Tidak lama Luke dan Harry terlihat berjalan mendekat, menampakkan wajah yang tidak senang Luke menatap Naomi dari kejauhan.


"Luke ingat untuk bersikap normal" bisik Harry saat kehadiran mereka masih tidak disadari


"Aku akan berusaha tapi aku tidak bisa jamin" bisik Luke saat itu merespon Harry, walau tahu Luke akan tetap mengacau namun Harry terlihat pasrah saja menunggu apa yang akan Luke lakukan ketika mereka berkumpul.


"Hei semua, lama menunggu?" sapa Harry dari kejauhan, mendengar sapaan itu membuat Jester, Naomi, Justin dan Grece mengalihkan pandangannya menatap Luke dan Harry yang berjalan mendekat.


"Tidak, baru saja kami melihat pasangan ini bermesraan seperti biasa" jawab Justin menggoda Jester


"Berhenti menggoda kami seperti itu!!" bentak Jester, bentakan itu membuat Justin dan Grece tertawa


"Langsung saja segera latihan, aku dan Harry harus segera pergi" celetuk Luke terdengar tidak senang, celetukan Luke saat itu membuat Justin dan Jester heran. Seakan mengetahui Luke sedang marah akan sesuatu, namun keduanya masih memilih untuk menerka ada apa dengan Luke.


"Gini... aku dan Luke ada sedikit urusan setelah ini, jadi kalau bisa kita selesaikan latihan ini secepat mungkin dan..." belum selesai Harry berkata, Luke memotong


"Atau kalian cari saja penggantiku" ucap Luke dengan ketus, Harry menepuk dahinya agak keras mendengar ucapan Luke. Kali ini tidak hanya Justin dan Jester yang terkejut, Naomi dan Grece pun sampai menatap Luke dengan wajah yang terkejut. Luke begitu sulit untuk menyembunyikan kebenciannya pada Naomi, kecurigaannya pun membuat Luke seperti enggan untuk berkumpul bersama Naomi.


"Luke! ada apa? kamu punya masalah sama salah satu diantara kita?" tanya Justin terdengar khawatir


"Tidak, aku hanya tidak ingin membuang waktuku" jawab Luke ketus, Jester sedikit tersulut emosinya mendengar jawaban Luke.

__ADS_1


"Apa - apaan, kamu gak mau menolongku?!" tanya Jester dengan bentakan, Luke mengalihkan pandangannya menatap Jester dengan sinis.


"Aku sahabatmu, mana mungkin aku tidak menolongmu. Tidak ada Luke yang tidak menolong sahabatnya" jawab Luke tegas


"Artinya kamu tidak ingin menolongku, benarkan Luke?" dengan suara yang terdengar sedih Naomi bertanya, Luke kembali mengalihkan pandangannya menatap Naomi dengan sedikit tawa.


"Kita lihat apa kamu pantas untuk ditolong atau tidak" nada Luke kembali sinis, perkataan Luke membuat emosi Jester kembali terpancing.


"Luke!" bentak Jester penuh emosi, Harry sedikit berlari dan berdiri diantara Luke dan Jester untuk mengatisipasi kemungkinan terburuk.


"Cukup oke? kita langsung saja latihan dan segera selesaikan ini" ucap Harry mencoba mendinginkan suasana, namun saat itu Luke dan Jester terlihat saling menatap penuh amarah.


"Sepertinya kita tidak bisa latihan hari ini, Luke kamu selesaikan dulu urusanmu" celetuk Justin, mendengar celetukan itu Luke tersenyum sinis menatap Justin


"Itu lebih baik" timpal Luke sembari membalikan badan meninggalkan mereka semua


"Sepertinya mood Luke lagi gak baik, jangan diambil hati ya" ucap Harry lalu berlari mengejar Luke yang lebih dulu meninggalkan mereka, mereka masih membatu dan tidak menyangka hal seperti ini bisa terjadi. Ketika semua dirasa sudah sesuai rencana, terjadi sedikit gesekan yang masih tidak dapat dipahami Justin, Jester, Naomi dan Grece.


"Ada apa dengannya? Jester kamu tahu sesuatu?" tanya Justin memecahkan keheningan, Jester pun mulai mencoba menerka kenapa Luke tiba - tiba seperti itu namun dia sama sekali tidak memiliki pandangan. Agak lama berfikir, Jester menggelengkan kepalanya beberapa kali sembari menatap Justin dengan raut wajah yang bingung.


"Jester... apa aku ada salah sama Luke? sepertinya kemarahannya tertuju padaku" tanya Naomi. Jawaban Luke tentang kepantasannya dalam membantu Naomi membuat Naomi merasa Luke marah kepadanya.


"Tidak, aku rasa tidak ada. Aku akan urus ini, Luke itu sahabatku dan biarkan aku yang mengurusnya" jawab Jester terdengar kebingungan, mereka pun sepakat untuk menunda latihan dan bubar saat itu juga.


Disisi lain pada jam yang bersamaan, Luke dan Harry pun sudah tiba disebuah cafe dekat kampus. Keduanya turun dari sepeda motor dan berjalan masuk kedalam cafe itu mencari seseorang, seseorang itu adalah Camilla yang sudah menunggu dengan segelas minuman dingin diatas meja. Mereka berjalan mendekati Camilla dan duduk berhadapan, keduanya berwajah kusut dan tidak bersemangat.


"Apa perlu aku ambilkan setrika untuk memuluskan wajah kalian?" goda Camilla, mendengar pertanyaan itu membuat Luke dan Harry menatap Camilla bersamaan.


"Aku cuma gak nyangka akan mengajakmu bekerja sama" jawab Harry terdengar menyesal, Camilla tertawa mendengar jawaban Harry.


"Hei hei... katakan, sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Camilla terdengar antusias, Luke dan Harry pun menghela nafas hampir bersamaan.


"Camilla, aku hanya memintamu untuk merebut Jester dari Naomi. Kamu gak perlu tahu apapun selain itu" jawab Harry terdengar pasrah, Luke terlihat tidak berminat sama sekali untuk berbicara.


"Duuh... kerjasama macam apa ini? setidaknya beri tahu aku apa yang membuat kalian ingin Jester bersamaku" Camilla terdengar kesal mendengar jawaban Harry, perlahan Harry mendekatkan badannya kearah Camilla dan menatap matanya dalam - dalam.


"Apa yang membuatmu suka pada Jester?" tanya Harry tegas, raut wajah Camilla datar ketika mendengar pertanyaan Harry.


"Aku mencintainya pada pandangan pertama~ setiap hari aku memikirkannya dan saat tahu dia bersama Naomi... hatiku terbakar cemburu..." suara Camilla terdengar sedih, suara lembut dan memelas itu membuat Luke dan Harry terbawa suasana haru.


"Itu jawabanku kalau aku masih anak SMA, sekarang sih engga. Realistis aja, Jester anak tunggal dari keluarga kaya raya, wajahnya juga gak jelek - jelek amat dan dia tampan saat di make over Naomi, sepertinya jika jadi istrinya aku bisa hidup tenang sampai tua" ucap Camilla dengan sangat tegas, perkataan itu meruntuhkan suasana haru yang sempat terbangun diantara mereka.


"Dasar serigala betina!! apa hatimu tidak ada kelembutan sama sekali?!!" bentak Luke terbawa emosi karena kesal


"Kasihan kau Jester!! tidak ada satupun wanita yang benar - benar mencintaimu tulus!! kutukan apa lagi ini?!!" sedikit berteriak Harry mengatakannya walau terbesit rasa iba dan kasihan pada nasib Jester


''Tunggu! tidak ada satupun wanita yang benar - benar mencintai Jester dengan tulus? maksud kalian bahkan Naomi juga tidak tulus mencintai Jester?" tanya Camilla dengan perasaan curiga.


"Aaah aku kan sudah bilang, apapun selain kesepakatan kita kamu gak perlu tahu! lanjutkan saja obrolan kita tadi" jawab Luke kesal


"Oke..oke, Haah... ayolah buka mata kalian, kita ini manusia yang hidup butuh manusia lainnya. Sesekali berfikir realistis memilih hidup yang enak, apa salahnya? aku dengar kalian juga menjadi benalu di keluarga Gates, apa aku benar?" tanya Camilla dengan sindiran


"Enak aja!! aku tidak pernah menjadi benalu walau benar kami bisa kuliah disini karena Tuan Gates, tapi..." bentak Harry, namun Luke memotong.


"Tidak, itu benar. Kami memang benalu dikeluarga Jester" potong Luke dengan tegas, Harry pun sampai menoleh menatap Luke karena terkejut.


"Aku dan Harry adalah anak yang dibuang ke panti asuhan sejak kami masih bayi, dulu saat kami di panti Harry adalah anak yang selalu mengkhayal. Dia berkata ingin sekolah di tempat - tempat orang kaya, berkumpul dengan orang - orang kaya, dan suatu saat akan menjadi orang kaya. Dia terdengar seperti tukang khayal untukku yang selalu berfikir realistis sepertimu, namun saat itu aku hanya bisa mempercayainya suatu saat akan menjadi kenyataan" Luke melanjutkan kata - katanya, sorot matanya yang biasanya tajam dan tegas mendadak menjadi sayu dan terlihat sedih.


"Saat umur kami enam tahun, keluarga Gates mengunjungi panti kami dan itu adalah pertama kalinya aku bertemu Jester. Diantara semua anak - anak panti, entah kenapa Jester mendatangi kami dan mengajak kami bermain bersama. Saat itu khayalan Harry mendadak terkabul satu per satu, aku tidak menyangka Jester akan sebaik ini pada kami" lanjut Luke dengan sedikit tertawa, Camilla tersenyum mendengar cerita Luke.

__ADS_1


"Karena itu lah hutang budiku padanya sangat tinggi, aku dan Harry punya sumpah bahkan mengorbankan nyawa pun kami bersedia" ucap Luke tegas, tatapan matanya menunjukkan kesetiaannya kepada Jester dan keluarganya.


__ADS_2