
Malam yang indah dengan taburan bintang - bintang, di sebuah rumah sakit pinggiran kota terlihat sebuah Mercedes Benz V260 terparkir di area parkir rumah sakit itu. Didalam mobil itu Jester dan Naomi terdiam memandangi pintu masuk kebagian administrasi rumah sakit, Naomi terlihat meremas tali sling bag nya dan terlihat berat hati untuk keluar dari mobil itu. Melihat Naomi yang masih terdiam setelah beberapa menit saat keduanya sampai dirumah sakit, membuat Jester heran namun dirinya bingung untuk memulai pembicaraan.
"Kenapa?" tanya Jester memecahkan kebisuan diantara mereka, Naomi menghela nafasnya dan mengalihkan pandangannya menatap Jester.
"Aku... gugup" dengan senyuman Naomi mengatakannya, Jester menoleh menatap Naomi dengan penuh pertanyaan didalam kepalanya.
"Gugup karena akan bertemu Becca? atau karena Daniel? atau karena sakit Becca begitu parah sampai kamu merasa sangat sedih? atau karena orangtua Daniel?" tanya Jester, Naomi tertawa mendengar semua pertanyaan Jester itu. Naomi kembali menghela nafas dan menatap pintu masuk rumah sakit, tangannya kembali menggenggam tali sling bag nya begitu erat.
"Aku gugup harus bertemu Daniel lagi, aku tidak tahu kenapa tapi saat bertemu dengannya... dalam kepalaku tiba - tiba terbayang wajahmu dan suaramu memanggil namaku terngiang di telingaku" jawab Naomi sedikit terbata dan tatapan matanya menjadi sedih, mendengar jawaban itu wajah Jester pun memerah dan jantungnya kembali berdetak sangat kencang.
"Na.. Naomi... bisakah kamu... berhenti bercanda seperti itu?" tanya Jester terbata dengan wajah yang memerah dan perasaan gugup, Naomi kembali menatap Jester dan tersenyum manis.
"Aku tidak bercanda, aku bersungguh - sungguh" jawab Naomi dengan tegas namun dengan suara yang lembut, Jester pun membuang muka karena tidak tahan menatap wajah Naomi saat itu. Keduanya pun terdiam beberapa saat, tidak lama Naomi membuka sabuk pengamannya dan hendak turun namun tiba - tiba tangan Jester menggenggam lengan Naomi walau tatapan mata Jester masih menatap spion dikanannya.
"Bi... biarkan aku... menemanimu kedalam buat malam ini..." ucap Jester terbata, Naomi pun tertawa kecil mendengar ucapan Jester saat itu
"Hihihi, benarkah kamu bersedia?" tanya Naomi terdengar senang, Jester tidak menjawab Naomi dan langsung melepaskan sabuk pengamannya lalu segera turun dari mobil. Naomi pun turun dari mobil dan langsung mengejar Jester lalu merangkul lengan Jester begitu erat, Jester yang terkejut saat itu mengalihkan pandangannya menatap Naomi dan keduanya pun saling menatap.
"Terima kasih" ucap Naomi dengan senyum yang merekah, wajah Jester kembali memerah lalu Jester membuang muka secepat yang dia bisa dan menutupinya dengan tangan kanannya agar Naomi tidak melihat wajahnya.
Keduanya pun kembali berjalan sampai didepan pintu masuk rumah sakit dan secara kebetulan Daniel dan Sarah akan keluar dari rumah sakit itu, Jester dan Naomi berpapasan dengan Daniel dan Sarah. Ekspresi terkejut Sarah, Daniel dan Jester saat itu jelas nampak di wajah mereka masing - masing, namun Naomi menatap Daniel dan Sarah dengan wajah yang datar seakan tidak ada apapun diantara mereka.
"Hai Sarah" sapa Naomi memecah keheningan mereka, saat itu mata Sarah terpaku melihat tangan Naomi yang merangkul lengan Jester begitu erat.
"Oh hai Naomi, mesra sekali kalian" sapa balik Sarah dengan senyum yang penuh keterpaksaan, wajah terkejutnya masih belum hilang dan terus menatap heran Naomi yang menggandeng Jester begitu erat.
"Ayo Jess" ucap Naomi sembari menarik Jester menuju kamar Becca melewati Daniel dan Sarah begitu saja, Daniel dan Sarah pun terdiam sembari menatap punggung Jester dan Naomi yang berjalan semakin menjauhi mereka.
"Apa yang terjadi hah?" tanya Sarah dengan nada yang terdengar bingung, Daniel memegang kepalanya dengan kedua tangannya lalu menunduk.
"Aku melakukan kesalahan fatal, aku kehilangan dia" jawab Daniel, mendengar jawaban itu membuat Sarah tertawa sinis.
__ADS_1
"Apa kamu tidak memperlakukannya dengan baik? setelah merelakan mu bermesraan denganku, setidaknya kamu harus memperlakukannya selayaknya ratu kan?" tanya Sarah dengan sindiran, Daniel menggelengkan kepalanya beberapa kali.
"Kamu sudah kehilangan orang yang sangat baik, tidak akan ada lagi wanita seperti itu di dunia ini. Dadah Daniel, aku akan menjenguk adikmu lagi kapan - kapan" ucap Sarah lalu berjalan meninggalkan Daniel begitu saja, namun tidak jauh berjalan Sarah berbalik menatap Daniel kembali.
"Ooh iya, kontraknya aku taruh di meja kamar tunggu. Segera tanda tangani, kamu butuh uang untuk biaya kan" celetuk Sarah dan kembali berbalik dan berjalan meninggalkan rumah sakit itu, namun saat itu Daniel masih membatu ditempatnya berdiri.
Dilorong rumah sakit, terlihat Naomi yang terus menarik Jester untuk mengikuti langkah kakinya menuju kamar Becca. Hingga beberapa saat didalam keheningan itu akhirnya sampailah Jester dan Naomi didepan kamar Becca, Naomi berhenti dan melepaskan tangannya lalu segera berbalik menatap Becca yang sedang makan disuapi oleh Blenda lewat jendela kamar Becca. Becca yang menatap Jendela kamarnya dan mendapati Naomi datang menjenguk, langsung tersenyum senang. Sesaat Blenda pun mengalihkan pandangannya menatap jendela kamar itu lalu segera berdiri menuju pintu dan membukanya, memberi gestur tangan agar Naomi masuk kedalam.
"Masukalah Naomi, Becca menantimu. Dan ajak juga pria tampan disebelahmu itu" ucap Blenda yang terdengar senang melihat kehadiran Naomi, sesaat Naomi mengalihkan pandangannya menatap Jester yang berdiri dibelakangnya.
"Yuk Jester kita..." ucapan Naomi saat itu dipotong oleh Jester
"Kamu saja, aku akan menunggu di cafetaria. Kamu tahu kan ini akan canggung" ucap Jester dengan senyuman, Jester pun sedikit menundukkan badannya kearah Blenda lalu segera berjalan meninggalkan tempat itu.
Naomi tersenyum melihat Jester yang meninggalkannya disana, lalu berjalan mendekati Blenda dan masuk kedalam kamar Becca. Becca pun terlihat sangat senang melihat kehadiran Naomi, keduanya mengobrol berdua dan tertawa bersama. Tidak ingin ketinggalan momen itu, Blenda bergabung untuk ikut mengobrol bersama keduanya. Setelah hari - hari yang dilewati Becca dan Blenda penuh isak tangis, momen tertawa bersama itu sangat dinantikan oleh Blenda.
Disisi lain disebuah cafetaria yang terlihat tidak terlalu ramai oleh pengunjung, Jester duduk lalu memesan sebuah minuman hangat dan menunggu Naomi ditempat itu sembari menghabiskan waktunya bermain game dengan handphone nya. Tidak lama terlihat Daniel yang berjalan mendekati Jester, Daniel pun langsung duduk didepan Jester tanpa sepatah katapun. Menyadari kehadiran orang didepannya, Jester menaruh handphone nya di meja lalu menatap Daniel dengan tatapan yang datar.
"Kalian hanya settingan kan?" tanya Daniel dengan sedikit bentakan
"Lalu kenapa kamu sampai sejauh ini dengannya?!" tanya Daniel dengan bentakan, namun Jester tetap terlihat tenang dengan bentakan Daniel.
"Karena kamu terus menyakiti hatinya" jawab Jester tetap tenang, mendengar jawaban Jester saat itu membuat Daniel marah. Daniel berdiri dan memajukan badannya agar dekat dengan Jester lalu menarik kerah baju Jester, keduanya saling bertatapan mata dengan penuh amarah.
"Kamu tidak berhak mengatakan itu padaku!!" bentak Daniel tepat didepan wajah Jester, Jester menepis tangan Daniel dengan keras lalu merapihkan bajunya.
"Tidak perlu hak untuk menolong seseorang" timpal Jester masih terdengar tenang, Daniel pun menggebrak meja meluapkan emosinya.
"Dia itu milikku dan selamanya pun akan tetap menjadi milikku!! apa kamu tidak paham?!" dengan bentakan Daniel mengatakannya
"Kenapa kamu menyakiti hatinya? apa dia milikmu yang tidak berharga jadi bisa dengan sesuka hati kamu menyakitinya? atau karena kamu percaya dia adalah milikmu selamanya makanya kamu tidak peduli dengan hatinya?" tanya Jester dengan sedikit bentakan, Daniel kembali menarik kerah baju Jester dengan kasar namun saat itu Jester mendorong Daniel sampai dia terjatuh. Daniel berusaha berdiri namun Jester sudah berdiri didekat Daniel saat itu menatapnya dengan penuh amarah, Daniel yang ketakutan merangkak menjauhi Jester dan langsung berdiri menatap Jester kembali.
__ADS_1
"Tahu apa kamu tentang hu..." belum selesai Daniel berkata, Jester pun memotong
"Aku tidak perlu tahu tentang hubungan kalian, jika kamu memang sudah memilikinya maka sudah kewajibanmu untuk selalu membahagiakan dia. Jika kamu memang tidak mampu, maka lepaskan saja dia dan berhenti untuk mengganggunya!" bentak Jester saat itu, Daniel pun terdiam menatap Jester. Tidak lama beberapa orang terlihat ingin melerai mereka berdua, seseorang menarik Jester untuk pergi dari tempat itu dan orang lainnya membantu Daniel untuk berdiri.
"Tidak akan aku serahkan dia padamu, aku akan terus mengejarnya" tegas Daniel mengatakannya, Jester menoleh menatap Daniel dan tersenyum. Daniel terkejut melihat senyuman Jester saat itu, tanpa sepatah kata pun Jester kembali berjalan menjauhi tempat itu. Jester berjalan dilorong rumah sakit itu hendak menuju kamar Becca, namun ditengah perjalanan Naomi berpapasan dengan Jester.
"Baru saja aku mau menemuimu di cafetaria" celetuk Naomi saat melihat Jester yang berjalan mendekatinya, Jester tersenyum menatap Naomi.
"Apa sudah selesai? kok bentar?" tanya Jester penasaran, Naomi menghela nafas sejenak sebelum menjawab pertanyaan Jester.
"Becca tertidur karena obat, daripada mengganggunya lebih baik aku pulang" jawab Naomi dengan santai terdengar senang, tidak lama suara Daniel terdengar dari belakang Jester.
"Naomi!!" agak berteriak Daniel menyebut nama Naomi, Jester berbalik dan menatap Daniel dengan datar. Tidak lama Naomi langsung menarik tangan Jester untuk segera pergi dari tempat itu, namun Daniel langsung berlari menghalangi langkah Naomi untuk pergi dari tempat itu.
"Minggir!" bentak Naomi pada Daniel yang menghalanginya berjalan, Daniel langsung berlutut didepan Naomi sembari memegang tangan kiri Naomi dan meletakkannya didahi Daniel.
"Maafkan aku Naomi, aku mohon padamu... kembalilah, aku sangat merindukanmu, aku sangat mencintaimu, dan aku sangat menyesal telah melukai hatimu... tolong Naomi kembali lah.." dengan suara serak Daniel mengatakannya, tidak terasa air matanya pun pecah saat itu.
"Aku telah sampai dititik dimana aku berfikir bahwa yang paling penting dalam hidupku adalah kebahagiaanku" ucap Naomi sembari menarik tangannya yang Daniel pegang begitu erat, Daniel yang masih menangis saat itu mengangkat kepalanya menatap wajah Naomi yang terlihat sangat marah.
"Selama ini aku menyerah dan pasrah memberikan seluruh hatiku padamu, aku hanya peduli padamu, perasaanmu, dan kebahagiaanmu. Sampai aku lupa kalau diriku pun membutuhkan cinta, aku butuh mencintai diriku sendiri dan aku perlu menghargai diriku sendiri. Aku pernah bodoh.... dan ini terakhir kali Daniel... terakhir kali aku akan katakan padamu..." ucapan Naomi pun menggantung, tatapan Daniel kosong saat itu menatap Naomi dengan air mata yang semakin deras menetes dari matanya.
"Aku tidak mencintaimu lagi! aku sudah sangat muak padamu!!" bentak Naomi saat itu dan bentakan itu membuat Jester sangat terkejut, namun Daniel membatu menatap Naomi yang terlihat sangat marah padanya. Naomi kembali menarik Jester saat itu menuju parkiran rumah sakit, sedangkan Daniel masih berlutut dan membatu ditempat itu.
Diparkiran mobil Jester dan Naomi pun masuk kedalam Mercedes Benz V260, Jester dan Naomi memasang sabuk pengaman dan Jester menghidupkan mesin. Setelah suara mesin stabil biasanya Jester akan langsung injak gas, namun kali ini tidak. Jester terdiam memandangi pintu masuk rumah sakit, Naomi pun terlihat terdiam sembari menunduk menatap kakinya.
"aku tidak tahu apa yang kamu rasakan saat ini, tapi kalau mau menangis maka menangislah" celetuk Jester memecahkan keheningan, air mata Naomi pun mulai menetes deras dari mata melewati pipi dan dagunya lalu jatuh ke kedua tangan Naomi yang berada diantara pahanya.
"Papa pernah bilang jangan pernah menyesal bertemu dengan seseorang dalam hidup, orang baik akan memberi kebahagiaan, orang yang tidak baik akan memberi pengalaman, orang yang sangat baik akan memberi kenangan, sedangkan orang yang jahat akan memberimu pelajaran" ucap Jester dengan lembut, Naomi tetap menangis dengan pilu disebelah Jester dengan air mata yang semakin deras mengalir.
"Dia jahat Jester.... dia jahat padaku.... aku bodoh pernah memberikan hatiku padanya" dengan suara yang terdengar pilu Naomi mengatakannya, Jester menoleh menatap Naomi yang duduk disebelahnya dan tangannya mengelus kepala Naomi dengan lembut.
__ADS_1
"Maka dia akan memberikanmu pelajaran yang sangat berharga" timpal Jester dengan lembut, Naomi mengusap air matanya dan kembali menatap Jester dengan senyuman
"Terima kasih, aku akan ingat baik - baik ucapanmu. Sekarang aku pingin ice cream, beliin" ucap Naomi masih dengan suara serak sehabis menangis, Jester pun tertawa lalu mengijak pedal gas untuk mencarikan ice cream untuk Naomi.