
Senin pagi yang cerah, disebuah kampus swasta terkenal dalam kota. Terlihat mahasiswa dan mahasiswi yang menuntut ilmu dikampus itu berdatangan untuk mengikuti perkuliahan mereka masing - masing, kampus pun menjadi ramai seketika. Canda tawa, saling tegur sapa, dan mengobrol pun terlihat disetiap sudut kampus, tidak terkecuali disalah satu lorong kampus dekat dengan ruang tata usaha. Terlihat Selena yang menunduk dengan derai air mata berhadapan dengan Jester yang raut wajahnya menampakkan penuh rasa bersalah.
"Maaf Selena... aku tidak tahu harus berkata apa lagi" ucap Jester memecahkan keheningan setelah permintaan Selena agar Jester menjauhinya, Selena pun menggelengkan kepalanya beberapa kali dan langsung membalikkan badannya hendak pergi dari tempat itu.
"Tapi kenapa.... ini terlalu mendadak, apa aku boleh tahu apa yang membuatmu tiba - tiba seperti ini?" tanya Jester dengan nada yang terdengar sedih melanjutkan kalimatnya dan berharap mendapatkan jawaban dari Selena, Selena menghentikan langkahnya namun tidak berbalik kembali menatap Jester.
"Camilla menyadarkanku tentang semuanya, tentang kebaikanmu padaku, tentang kesalahpahaman ku terhadap kebaikanmu, dan aku sudah tidak sanggup lagi harus berjuang sendirian tanpa ada sedikitpun balasan darimu" dengan suara yang terdengar pilu Selena mengatakannya, Jester terkejut dengan perkataan Selena yang menyebut nama Camilla.
"Camilla.... apa yang dia katakan padamu?" tanya Jester lagi penasaran, suara Jester pun terdengar lembut untuk memberikan rasa nyaman pada Selena.
"Dia bilang padaku kalau kamu tidak pernah menganggapku sebagai sosok wanita tapi hanya sekedar sebagai teman atau adik perempuan, mengatakan bahwa kamu tidak memiliki ketertarikan padaku, dan kamu bersikap baik hanya karena tidak ingin menyakiti hatiku" jawab Selena masih terdengar pilu, Jester menarik nafas panjang dan menghembuskan perlahan.
"Itu tidak benar, aku selalu melihatmu sebagai sosok wanita yang sangat cantik dan jika boleh aku katakan aku pun sering tersipu malu saat kamu menatapku. Aku bersikap baik memang karena aku tidak ingin menyakitimu, tapi jujur... aku selalu senang saat bersama denganmu" ucap Jester dengan nada yang terdengar lembut, Selena berbalik dan menatap Jester dengan tajam walau matanya masih berderai air mata.
"Berhenti berbohong padaku! jangan sakiti aku dengan kebohonganmu lebih dari ini kak.... aku mohon, kamu cukup menjauhlah dariku...." agak membentak Selena mengatakannya
"Tapi yang aku katakan itu sebuah kejujuran, apa kamu melupakan kejadian saat di festival squere untuk yang kedua kali? aku sangat kesal saat itu, bahkan sampai baru tiba ditempat itu pun sebenarnya aku sedang dalam mood yang tidak baik. Kala itu aku berat hati ingin menikmati momen bersamamu, tapi semua berubah saat aku melihat senyummu, semangatmu, dan suara tawamu yang mampu membuatku melupakan begitu saja kekesalanku pada hari itu dan mood ku jadi sangat membaik" timpal Jester dengan suara yang masih lembut, Jester berjalan mendekati Selena dan menatap matanya dalam - dalam.
"Yang Camilla katakan tidak benar, jantungku pun berdetak cepat setiap kamu menunjukkan pesonamu didepanku, kejutan dari setiap tingkah lakumu selalu membuatku ingin tertawa, aku menganggapmu sebagai sosok wanita yang menarik dan kalau kamu masih ingat aku pernah bilang padamu..." ucapan Jester menggantung, tangannya mengelus kepala Selena dengan lembut.
"Kamu menang segalanya dari Camilla, masalahnya hanya karena hatiku tidak bisa berpaling darinya. Aku minta maaf untuk itu" Jester meneruskan kalimatnya yang sempat dia putus, Selena menepis tangan Jester yang berada dikepalanya secara perlahan.
"Cukup kak...." timpal Selena dan kembali menundukkan kepalanya perlahan, tatapan mata Jester pun semakin menunjukkan kesedihan hatinya.
"Jika itu cuma dikatakan Camilla, mungkin aku akan mempercayai kata - katamu... tapi tatapan kak Luke dan kak Harry semakin mempertegas ucapan Camilla" Selena meneruskan kalimatnya, Jester kembali terkejut mendengar nama kedua sahabatnya itu disebut oleh Selena dan sesaat dirinya teringat tentang cerita Luke dan Harry yang menemui Camilla dan Selena.
"Luke dan Harry.... apa dia berkata kasar padamu?" nada bicara Jester berubah, ada sedikit kemarahan yang terdengar dipertanyaannya saat itu.
"Tidak, kak Harry dan kak Luke tidak mengatakan apapun padaku. Tapi tatapan mata mereka kepadaku saat itu, aku paham apa yang ingin mereka sampaikan padaku tanpa harus terucap. Jadi aku mohon padamu kak... menjauhlah dariku dan aku pun akan menjauhimu..." jawab Selena dengan suara yang masih terdengar serak, Jester berbalik dan hendak meninggalkan Selena disana.
"Aku sekarang paham kenapa kamu seperti ini secara tiba - tiba, pasti ulah Luke dan Harry kan? biar aku beritahu pada mereka bagaimana cara bersikap padamu!" suara Jester pun mendadak menjadi sangat marah, mendengar kemarahan Jester saat itu membuat Selena langsung menghentikan langkah Jester dengan menarik lengannya.
"Tidak... tidak kak, yang dilakukan kak Harry dan kak Luke sudah benar. Aku yang tidak tahu diri terus mengejarmu" dengan nada yang terdengar panik Selena mengatakannya, Selena terus terseret langkah Jester saat berusaha menarik lengannya agar berhenti berjalan.
"Aku sudah katakan pada Harry agar bersikap baik dan menghalangi Luke jika dia berkata kasar padamu, tapi sepertinya mereka tidak menghiraukanku" timpal Jester dengan nada yang terdengar sangat emosi
"Tidak, gak seperti itu. Kamu salah paham dengan perkataanku kak! berhenti dulu!! biar aku jelaskan!" ucap Selena dengan sedikit bentakan, namun Jester bergeming dan terus berjalan hendak mencari Luke dan Harry.
"Mereka harus belajar untuk mendengarkan permintaanku" timpal Jester lagi, Selena melepaskan tangannya dan berdiri tegak menatap punggung Jester yang terus berjalan menjauhinya dengan penuh emosi.
"Aku tidak akan pernah memaafkanmu kalau kamu masih menyalahkan mereka atas kesalahanku!!" bentak Selena dengan sedikit berteriak agar Jester mendengar jelas ucapannya dan kalimat Selena mampu menghentikan langkah Jester.
"Aku tidak akan pernah memaafkanmu! aku tidak akan pernah mau lagi mengenalmu!!" Selena kembali membentak saat Jester menghentikan langkahnya, Jester berbalik menatap Selena yang kembali berderai air mata.
"Aku tidak ingin kamu menjauh dariku karena perkataan Camilla yang dipertegas dengan tatapan mata Luke dan Harry, mungkin memang aku tidak bisa membalas perasaan cintamu padaku tapi kehadiranmu dalam hidupku sangat berarti" ucap Jester merespon kemarahan Selena padanya, mendengar perkataan Jester saat itu membuat Selena tertegun.
"Tapi aku sudah jahat padamu... aku juga sudah jahat pada Naomi, aku wanita paling tidak berperasaan yang mungkin pernah kamu kenal. Aku..." belum selesai kalimat Selena, Jester memotong.
"Bahkan jika kamu merencanakan pembunuhanku pun, aku tidak akan pernah marah padamu. Aku yakin kamu memiliki alasan kuat untuk itu" timpal Jester, Selena tersentak dengan perkataan Jester.
"Kenapa?" tanya Selena. Raut wajah Selena saat itu menjadi penuh dengan rasa yang berkecambuk antara bingung dan mencoba memahami setiap perkataan Jester, namun hatinya masih bertekad untuk menjauh dari Jester.
__ADS_1
"Karena kamu sangat berarti dihidupku" jawab Jester singkat, Selena terkejut dengan jawaban singkat Jester. Dalam hatinya pun kembali dipenuhi perasaan ragu untuk mempercayai perkataan Camilla, keduanya terdiam untuk beberapa saat dan saling menatap.
"Jika memang pergi dari hidupku adalah yang kamu inginkan dan kamu merasa itu yang terbaik, aku tidak akan menghalangimu. Aku cuma bisa mengatakan maaf dan aku berharap kamu bahagia" Jester memecahkan keheningan lalu kembali berbalik hendak meninggalkan Selena disana
"Apa tidak apa - apa kalau aku tetap ingin berada didekatmu?" tanya Selena dengan suara yang agak keras, Jester menghentikan langkahnya dan kembali berbalik menatap Selena.
"Aku sudah pernah bersikap jahat padamu kak, aku merencanakan sesuatu yang mengganggumu. Apa kamu tidak keberatan kalau aku memilih untuk tetap berada didekatmu?" Selena kembali bertanya saat Jester terlihat hanya diam menatapnya begitu dalam, Jester mengangkat tangannya seakan memberi gestur untuk menggandeng tangan Selena.
"Tidak apa, aku tidak pernah merasa kamu pernah berbuat jahat padaku. Akan lebih menyenangkan saat melihatmu berada dalam lingkaran pertemananku, kemarilah" jawab Jester dengan nada yang terdengar senang, senyum penuh kehangatan dari wajah Jester meruntuhkan tekad Selena untuk menjauh dari hidup Jester.
"Tidak sekarang kak, aku harus atur emosiku dulu tapi aku tarik ucapanku yang ingin menjauh darimu dan menyuruhmu untuk menjauhiku" Selena tersenyum sembari tangannya menyeka air mata yang masih tersisa dipipi hingga dagunya, Jester menurunkan tangannya dengan senyuman yang masih merekah menatap Selena.
"Jadi tentang kedai ice cream yang pernah kamu bicarakan, apa kita akan tetap jadwalkan untuk kesana?" tanya Jester dengan nada yang terdengar senang, Selena menganggukkan kepalanya beberapa kali untuk merespon pertanyaan Jester. Selena tersenyum manis menatap Jester dan tidak lama langsung berbalik meninggalkan Jester di lorong dekat ruang tata usaha kampus, Jester pun berbalik dan berjalan menuju kelasnya.
Jester mengikuti perkuliahan dengan tenang selama sembilan puluh menit pada jam perkuliahan pertama dihari itu, setelah selesai Jester pun berjalan menuju taman tengah kampus bersama Luke dan Harry yang berada disatu kelas yang sama. Sesampainya disana Jester duduk disalah satu kursi taman bersebelahan dengan Harry, sedangkan Luke terlihat berdiri didepan Jester dan Harry.
"Mungkin ini saatnya aku bicara padamu" ucap Luke tiba - tiba ketika ketiganya terdiam, membuat Jester menatap Luke dengan tajam.
"Aku juga ingin dengar penjelasanmu tentang yang terjadi antara kalian dengan Selena" timpal Jester dengan nada yang terdengar agak marah, Luke dan Harry saling menatap mendengar perkataan Jester.
"Harry aku sudah katakan padamu kalau kamu harus menjaga Selena dari kata - kata Luke kan?" tanya Jester sembari menatap Harry yang berada disebelahnya, Harry menghela nafasnya sebelum menjawab pertanyaan Jester.
"Sudah aku lakukan dan Luke tidak berkata apapun yang bisa menyakiti hatinya" jawab Harry tenang
"Tapi dia menangis pagi ini! Apa yang Camilla katakan pada Selena dan kalian terlihat menyetujui kata - katanya?!" tanya kembali Jester dengan bentakan, Luke menatap Jester tajam.
"Itu bukan salah kami, Selena pagi ini menangis karena kebodohanmu" jawan Luke agak menekan, Jester menatap Luke yang berdiri didepannya.
"Masih ingat tentang pembicaraan kita ditelepon tentang dirimu?" tanya Luke terdengar tenang
"Tentang aku yang terbawa arus? aku tidak paham yang kamu bicarakan" jawab Jester dengan kembali bertanya, raut wajah Jester kala itu terlihat kesal menatap Luke.
"Sampai kapan kamu akan memberi ketiga wanita ini harapan palsu?" tanya Luke dengan nada yang menekan
"Apa maksudmu aku memberi harapan palsu?" Jester semakin terlihat bingung
"Kamu sungguh tidak sadar atau pura - pura tidak sadar? Luke melihat kamu terombang - ambing tidak tentu arah, kamu ketarik sana - sini mengikuti sedang bersama siapa kamu saat itu. Kamu tahu, dimata kami kamu itu seperti playboy kelas kakap" jawab Harry berusaha menjelaskan yang ingin Luke katakan pada Jester, namun Jester masih terlihat bingung.
"Aku tidak merasa aku sedang terombang - ambing, kalian terlalu berlebihan menilaiku" bantah Jester agak membentak
"Saat bersama Naomi kamu seakan menjadi kekasihnya, saat bersama Camilla kamu mengatakan kalau kamu masih mencintainya, dan saat bersama Selena kamu menuruti semua keegoisannya sampai membuatnya merasa kalau kamu punya rasa padanya. Apa itu namanya kalau bukan pemberi harapan palsu?" tanya Harry menekan sampai Jester terdiam, matanya fokus menatap Luke yang menunggu respon Jester.
"Aku cinta pada Camilla, untuk masalah Naomi dan Selena aku hanya tidak ingin..." ucapan Jester dipotong oleh Luke
"Kamu masih yakin hatimu untuk Camilla? coba aku tanya padamu, kenapa tadi kamu marah saat Selena mengatakan Camilla yang sudah menyakitinya?" tanya Luke mencoba menyadarkan Jester
"Itu karena...." jawaban Jester menggantung, matanya bergantian menatap Luke dan Harry dengan wajah yang terlihat bingung.
"Kenapa kamu membantu Naomi sampai sejauh ini? apa untungnya buatmu?" tanya Harry menekan Jester
"Kenapa kalian menekanku seperti itu bodoh?!" Jester terdengar emosi saat bertanya, Luke dan Harry pun menghela nafas hampir bersamaan.
__ADS_1
"Sikap baikmu diterjemahkan secara salah oleh Naomi dan Selena, sedangkan hatimu saat ini bimbang antara memegang prinsipmu atau berpaling hati" ucap Luke mencoba kembali menyadarkan Jester
"Naomi itu seorang selebgram yang cantik dan terkenal, bisa - bisanya dia merendahkan dirinya dan menyatakan cintanya padamu secara terang - terangan seperti itu. Sampai kapan kamu akan sadar kalau sikapmu sudah seperti pria badboy diluaran sana?" tanya Harry menimpali Luke, Jester membuang muka dan berfkir keras mencerna kalimat Luke dan Harry.
"Lalu aku harus bagaimana? apa aku harus cuekin Naomi dan Selena?" tanya Jester terdengar pasrah
"Kamu yakin kamu tidak jatuh cinta pada Naomi?" tanya Harry, mendengar pertanyaan itu membuat Jester terkejut.
"Apa - apaan pertanyaanmu itu rubah bodoh?!!" teriak Jester dan wajahnya pun memerah
"Lalu apa kamu yakin kamu tidak jatuh cinta pada Selena?" tanya Harry kembali, Jester pun membuang muka sebelum menjawab pertanyaan Harry
"Tentu saja tidak, aku hanya merasa nyaman saat dia dekat denganku" jawab Jester terdengar lebih tenang
"Lalu bagaimana dengan Camilla, apa kamu masih mencintainya?" Harry kembali bertanya dengan nada yang menekan, Jester menatap Harry dengan tatapan heran.
"Kamu masih bertanya hal yang sudah pasti seperti itu?" Jester balik bertanya dengan nada yang terdengar heran, Luke dan Harru saling bertatapan.
"Jester, aku akan katakan yang sudah tergambar jelas didalam dirimu. Kamu mencintai Naomi dan sudah kehilangan rasa cintamu pada Camilla, lalu untuk Selena kamu benar - benar hanya menganggapnya sebagai teman" ucap Luke menarik kesimpulan dari setiap jawaban Jester, sedikit tersentak Jester menatap Luke dengan serius.
"Darimana kamu menarik kesimpulan seperti itu? Kalian bersikap seperti cenayang aja yang bisa menebak isi hati orang, ini kan hatiku. Yakin sekali kalian" tanya Jester dengan sebuah penolakan terhadap perkataan Luke dan Harry, tapi ekspresi wajah penuh keraguan tergambar jelas diwajahnya. Kalimat demi kalimat dari Luke dan Harry mengganggu pikiran dan hatinya, Jester mulai meragukan rasa cintanya pada Camilla.
"Dari setiap ekspresi wajahmu" jawab Luke singkat
"Lalu menurutmu aku harus bagaimana?" tanya Jester terdengar pasrah
"Kamu harus yakin dulu pada hatimu, berhenti membohongi dirimu sendiri. Cobalah untuk membuka pikiran dan hatimu, terima Naomi seperti kamu membuka hatimu pada Camilla" jawab Luke
"Kamu tahukan aku membuka hatiku pada Camilla itu terjadi begitu saja, Sejak kejadian dengan dia di SMA dulu" ucap Jester terdengar masih bimbang
"Dia ya.... bagaimana perasaanmu kalau mengingatnya kembali?" tanya Harry penasaran, Jester menoleh menatap Harry dengan wajah yang nampak sedih.
"Hatiku terasa sakit.... kalau aku memaksa untuk ingatpun, aku merasa sedikit pusing" jawab Jester sedikit terbata dan wajanya menunjukkan kesedihan
"Sudahlah gak usah bahas dia, lagian dia gak bakal hadir lagi" timpal Luke, untuk beberapa saat ketiganya terlihat hanya terdiam untuk beberapa saat.
"Kalau memang jatuh hati pada Naomi.... apa dia mau menerimaku? aku sudah terang - terangan padanya kalau aku mencintai Camilla, apa yang dia akan katakan padaku kalau aku tiba - tiba berpaling hati? bisa jadi dia akan ilfeel padaku kan, belum lagi..." perkataan Jester dipotong oleh Luke
"Kamu cerewet ya, biarkan Naomi yang menjawab pertanyaanmu dan kamu cukup buktikan saja dengan sikapmu kalau kamu mencintainya" timpal Luke terdengar kesal karena perkataan Jester, mendengar ucapan Luke membuat Jester membuang muka
"Aku takut dengan sebuah penolakan, sudah dua kali ini mendapatkan penolakan. Sepertinya aku benar - benar dikutuk menjadi jomblo abadi" ucap Jester dengan nada yang terdengar sedih, Luke dan Harry saling menatap dengan senyuman.
"Hei, lakukan yang kami perintahkan untuk mendekati Naomi dan aku pastikan gak akan ada penolakan" dengan penuh keyakinan Harry mengatakannya
"Kami akan patahkan kutukanmu dengan cara kami dan aku yakin Naomi adalah bidadari yang dikirim dari langit untuk mematahkan kejombloanmu" Luke pun terdengar bersamangat
Jester menoleh menatap Luke dan Harry dengan senyuman, lalu ketiganya tertawa bersama dan beranjak pergi dari taman tengah menuju kekelas mereka selanjutnya pada hari itu. Luke dan Harry memang selalu terdepan untuk Jester setiap kali Jester kebingungan dengan masalah percintaannya, patah hati pada saat SMA dengan gadis yang Jester cintai membuat Luke dan Harry menjadi begitu ekstra untuk menjaga hati sahabatnya itu agar tidak lagi larut dalam kesedihan tentang percintaannya.
Didalam kelas Jester mulai berfikir keras tentang perkataan Luke dan Harry, bukan hal yang mampu Jester bayangkan dia terjebak oleh tiga wanita sekaligus dalam hidupnya. Ulahnya yang menarik wanita secara acak malah menyeretnya masuk kedalam situasi yang sama sekali tidak diharapkannya, ya.... hidupnya mulai berubah sejak saat itu.
Kehadiran Selena juga menyadarkan dirinya tentang menjadi baik pada lawan jenis bukanlah hal yang mudah dilakukan apa lagi ketika tahu bahwa dia memiliki rasa suka, lalu tentang Camilla... apa mungkin hatinya sudah berpaling begitu saja dari Camilla? Apa harus melewati fase seberat ini untuk melepaskan kutukan jomblo abadinya? atau memang dalam urusan percintaan memang dirinya sepolos ini sebagai seorang anak yang lahir dari keluarga kaya raya dengan segudang prestasi akademik yang dia miliki? Semua pertanyaan itu membuat Jester melamun sepanjang kuliah.
__ADS_1