
"Kenapa kamu berfikir untuk bunuh diri?" tegas Jester bertanya pada Camilla, dengan wajah yang nampak sekali terkejut Camilla menatap Jester.
Siang hari disebuah apartemen mewah di tengah kota, dikamar nomor 1112 yang menjadi kamar milik Camilla saat itu terlihat Jester dan Camilla duduk di sofa saling berhadapan.
Perlahan ekspresi wajah kaget Camilla saat itu berubah menjadi tatapan penuh kesedihan, kepalanya menunduk seakan tidak mampu lagi untuk terus bertatapan mata dengan Jester. Dengan helaan nafas, Jester mencoba untuk kembali memancing Camilla agar mau bicara.
Dalam benak Camilla bertanya mengapa Jester tiba - tiba menanyakan hal itu kepadanya, seolah Jester bisa membaca pikirannya begitu saja. Namun Camilla memilih untuk tidak menjawab pertanyaan Jester dan membiarkan Jester melanjutkan kalimatnya. Terlihat dari ekspresi wajah Jester jika Jester ingin sekali mengungkapkan sesuatu kepada Camilla.
"Aku mengambil resiko untuk memasukkan mu di kantor milik Sarah, aku yakin keberadaan mu akan sangat cepat diketahui oleh Sarah dan dugaan ku benar terjadi. Tapi disana lah kamu akan merasakan lingkungan dengan etos kerja yang baik, bibi Jessica membangun perusahaan itu dengan penuh kasih sayang dan cinta" ucap Jester, perkataan Jester menarik perhatian Camilla.
"Kamu pasti merasakan kehangatan tempat kerjamu itu kan?" tanya Jester sedikit dengan tekanan, Camilla hanya mengangguk merespon pertanyaan Jester.
"Aku memilihkan mu apartemen ini karena aku ingin tidak ada yang bisa mengusik hidupmu, termasuk teman - temanku. Aku seperti sedang mengkhianati teman - temanku bahkan kekasihku, apa kamu paham perasaanku?" tanya Jester lagi dengan sedikit menekan, Camilla kembali membatu menatap mata Jester.
Kekesalan Jester diluapkan begitu saja kepada Camilla, Jester merasa dengan semua yang sudah dia korban kan Camilla seharusnya tidak akan pernah berfikir untuk ingin bunuh diri. Kebaikan Camilla kepada Naomi saat membuat kostum membuat Jester merasa Camilla yang saat ini dia kenal adalah sosok yang baik, dan sosok baik itu akan sayang sekali jika mempunyai pikiran untuk bunuh diri.
"Dengan semua pengorbananku itu aku cuma berharap kamu tidak berfikiran untuk bunuh diri, apa kamu paham?" tanya Jester lagi, tiba - tiba Camilla berdiri dan berjalan menuju kamar mandi.
Walau bingung namun Jester hanya berfikir kalau Camilla ingin buang air kecil, tidak lama Camilla berjalan kembali dan duduk kembali di sofa berhadapan dengan Jester. Tangan Camilla terlihat menggenggam sesuatu, perlahan Camilla meletakkan sesuatu di atas meja dan itu adalah tabung kecil berbahan plastik yang berisi beberapa butir obat.
"Apa ini?" tanya Jester sedikit mengernyitkan dahinya
"Obat penurun gula darah.... aku berniat bunuh diri dengan obat itu..." jawab Camilla terbata, emosi Jester pun naik mendengar jawaban Camilla.
"Jadi kamu..." belum selesai Jester berkata, tiba - tiba tangan Camilla menunjuk lemari kaca.
"Disana aku menyimpan tali tampar yang juga ingin aku gunakan untuk bunuh diri...." timpal Camilla, kemudian tangannya menunjuk tempat lain dan kali ini menunjuk sebuah lemari kecil. Jester dengan kesal mengikuti arah Camilla menunjuk tempat yang dia sebutkan.
"Didalam sana aku menyimpan sebuah pisau lipat yang juga aku ingin gunakan untuk bunuh diri...." ucap Camilla lagi, Jester pun sampai kehabisan kata-kata mendengar pengakuan Camilla.
Tampak polos Camilla saat mengucapkannya, wajah cantiknya itu tiba - tiba menampakkan ekspresi kekanak - kanakan yang membuat Jester terheran.
"Aku bingung mau pilih yang mana, karena aku ingin bunuh diri dengan sedikit rasa sakit" Camilla mengucapkannya dengan sedikit suara tawa yang terdengar, perkataan berat tanpa beban yang diucapkan Camilla membuat Jester kesal.
"Dasar bodoh!!! Tidak ada bunuh diri yang tidak sakit!!" kekesalan Jester diluapkan dalam satu tarikan nafas dan satu kalimat, Camilla tertawa melihat ekspresi dan nada bicara Jester yang terdengar begitu kesal padanya.
Hubungan diantara keduanya kini semakin membaik, Jester dan Camilla menjalin pertemanan dengan mulai menghilangkan batas yang pernah Camilla buat. Camilla yang pada awalnya memilih untuk menjaga jarak sejak perbuatannya kepada Naomi, kini mulai bisa membuka diri menjadi sosok yang baru bagi Jester.
Terlebih Jester memang membuat Camilla mampu merasakan sebuah ketulusan, sesuai dengan yang pernah dikatakan oleh ibu Camilla. Dirinya yang juga sudah meminta maaf kepada Naomi melalui kostum yang dia buat sendiri pun mulai merasa beban rasa bersalahnya sedikit berkurang.
__ADS_1
"Kenapa kamu malah tertawa?!! aku ini sedang sangat marah padamu!!" ucap Jester dengan bentakkan, Camilla menutup matanya lalu menarik nafas dalam - dalam dan menghembuskan perlahan.
"Dengan apa yang sudah aku perbuat kepadamu, kepada Naomi, dan semua hasil buruk yang terjadi... aku merasa tidak pantas diperlakukan seperti ini...." ucap Camilla, seketika Jester terdiam.
"Sebelum ibu mengusirku, dia bilang kalau suatu saat aku akan bertemu orang baik dan aku tidak akan merasa sendiri... dalam benakku aku pun berfikir itu konyol, namun... seketika itu juga dalam benakku aku melihat wajahmu... senyummu... dan mendengar suaramu...." suara Camilla terdengar begitu lembut, lalu perlahan mata Camilla terbuka dan terlihat ketulusan dari tatapan matanya kepada Jester.
"Tanpa sadar aku memacu mobilku sampai kerumahmu, tapi disaat itu juga ada pergolakan batin antara aku membutuhkan pertolonganmu dan juga merasa konyol karena aku memilihmu untuk minta pertolongan. Jester... aku ingin tanya ini untuk terakhir kali..." Camilla menggantung kalimatnya sejenak
"Apa yang kamu butuhkan dariku untuk membalas semua kebaikanmu? Jika kamu masih bersikeras mengatakan tidak ada.... jangan salahkan aku menganggap semuanya impas, karena..." belum selesai Camilla berkata, Jester memotong.
"Tidak ada" tegas Jester menimpali perkataan Camilla
"Jangan terburu..." belum selesai Camilla berkata, lagi- lagi Jester menyela
"Tidak ada" masih dengan suara yang terdengar tegas Jester mengatakannya, Camilla mematung menatap mata Jester.
"Kalaupun ada itu hanya aku ingin kamu hidup bahagia dan membuang semua keinginan untuk mengakhiri hidup" dengan sedikit tekanan Jester mengucapkannya, Camilla tersenyum lalu menundukkan kepalanya.
"Aku mengerti.... boleh aku anggap semua sudah impas? aku tidak akan lagi malu - malu untuk menikmati semua fasilitas yang kamu berikan padaku ini tanpa berfikir untuk membalas budi mu, kamu jangan menyesal ya...." ucap Camilla terdengar sedikit mengancam, tiba - tiba Jester menjulurkan tangannya untuk bersalaman.
"Kita anggap semua sudah impas, tidak ada dendam, tidak ada balas budi, dan tidak ada kecanggungan" tegas Jester menerima ancaman Camilla, perlahan Camilla kembali menatap mata Jester lalu menyodorkan jari kelingkingnya.
"Janji!" timpal Jester lalu melingkarkan kelingkingnya ke kelingking Camilla
Sebuah tindakan yang pernah dilakukan oleh Jester kepada Camilla dan membuat Jester bertingkah seperti anak kecil karena menggunakan kelingking sebagai tanda sebuah janji, kini Camilla menganggap bahwa janji jari kelingking merupakan janji yang penuh ketulusan.
Keduanya tiba - tiba tertawa bersama, dengan sedikit obralan kecil tidak lama Jester pun berpamitan untuk pulang. Tidak lupa Jester membawa semua alat - alat yang ingin digunakan Camilla untuk bunuh diri, Jester terus mengomel seakan dia adalah seorang kakak laki - laki yang sedang memarahi adik perempuannya.
Dengan wajah yang menunjukkan kekesalan, Jester berkeliling kamar untuk memeriksa dan menggeledah kemungkinan Camilla masih menyembunyikan sesuatu. Wajah kesal Jester saat itu ditanggapi dengan senyuman dan suara tawa Camilla, namun selain alat dapur saat itu Jester tidak menemukan hal lain kecuali yang sudah Camilla katakan.
Menjelang sore akhirnya Jester pun berpamitan, masih dengan omelan Jester menutup pertemuannya dengan Camilla. Tapi Camilla menanggapi semua Omelan Jester dengan kata 'iya iya' dan senyuman, hingga akhirnya Jester keluar dari kamar ditemani Camilla yang berdiri didepan pintu keluar.
Setelah pintu tertutup, senyum Camilla berangsur menghilang. Ekspresi wajahnya menunjukkan penyesalan dan kesedihan, masih berdiam diri dan mematung didepan pintu keluar Camilla pun bergumam.
"Aku ingin mendapatkan hatimu.... andai tidak ada Naomi...." gumam Camilla
Disaat bersamaan ketika Jester pulang dari apartemen Camilla, terlihat Porsche 911 melaju cukup cepat mendekati rumah keluarga Scott. Didalam mobil Porsche 911 itu William dan Marrie heran karena tidak ada yang membukakan pagar untuk mereka, tidak ingin ambil pusing saat itu William turun lalu membuka sendiri pagar rumah keluarga Scott lalu kembali ke mobil dan masuk hingga pelataran rumah.
William dan Marrie turun dari mobil dan menuju pintu utama rumah, beberapa kali William menekan bel rumah namun tidak ada satu orangpun yang membukakan pintu. Ditengah keheranan William dan Marrie saat itu, tiba - tiba Naomi terlihat berjalan dari samping rumah membawa sebuah kantung plastik besar berwarna hitam.
__ADS_1
Baik Naomi, William dan Marrie pun terkejut bersamaan, kedatangan keluarga Gates membuat Naomi panik. Sedangkan pemandangan Naomi yang membawa kantung plastik berwarna hitam yang seperti kantung sampah itu membuat William dan Marrie heran, kenapa hal seperti itu dikerjakan sendiri oleh Naomi.
"Papa...mama... selamat datang, aku tidak dengar kalian datang. Maaf sudah membuat kalian menunggu!" terdengar begitu panik Naomi saat mengatakannya, William berlari dan langsung mengambil alih kantung plastik yang dipegang oleh Naomi.
"Sini biar papa saja" ucap William dengan tegas, walau Naomi menolak namun tangan William berhasil mengambil alih kantung itu dari tangan Naomi
"Papa tidak usah, biar aku saja" tolak Naomi namun William tidak mempedulikannya dan segera membawa kantung itu menuju tempat sampah didepan pagar rumah.
Naomi berbalik dan menundukkan badannya kearah Marrie, sedangkan Marrie berjalan mendekati Naomi yang menunduk itu.
"Maaf mama, aku akan segera bukakan pin.." belum selesai Naomi berkata, Marrie mengangkat tubuh Naomi yang membungkuk itu lalu memeluknya.
"Apa yang terjadi sayang? kemana semua pekerja dirumah ini?"tanya Marrie dengan lembut, Naomi berusaha melepaskan pelukan Marrie yang kuat itu.
"Mama aku bau dan berkeringat" agak panik Naomi mengucapkannya, dengan segera Marrie melepaskan pelukannya namun tangannya menggenggam pundak Naomi lalu Marrie menatap mata Naomi dengan tajam.
"Keringat Will lebih bau darimu dan mama tidak pernah terganggu dengan itu, jadi alasan itu tidak masuk akal bagi mama untuk tidak memelukmu" tegas Marrie mengucapkannya lalu kembali memeluk Naomi dengan erat.
Naomi pun pasrah tubuhnya yang berkeringat itu dipeluk dengan erat oleh Marrie, hingga beberapa saat William kembali dan Marrie pun melepaskan pelukannya. Naomi meminta William dan Marrie untuk menunggu didepan pintu masuk, dengan segera Naomi berlari masuk kedalam rumah dari pintu belakang untuk membukakan pintu utama rumah.
Setelah pintu utama rumah terbuka, Naomi mempersilahkan William dan Marrie untuk masuk hingga sampai di sebuah ruangan yang terbentang tatami. Naomi meminta William dan Marrie untuk menunggunya disana, sedangkan Naomi kembali berlari menuju kamarnya untuk memperbaiki penampilannya.
Tidak beberapa lama, Naomi kembali dan masuk kedalam ruangan itu. Dipisahkan sebuah meja, William dan Marrie duduk bersimpuh berhadapan dengan Naomi. Kurusnya Naomi dengan wajah tidak terawat dan begitu terlihat lusuh membuat William dan Marrie pun iba, walau seperti itu namun kecantikan Naomi seakan tidak pudar dan menimbulkan decak kagum dari Marrie.
"Kamu memang pantas jadi anak Naoko, kecantikan mu tidak pudar meski kamu terlihat tidak terawat dan sangat kurus" puji Marrie namun dengan nada yang terdengar iba, Naomi tersenyum lalu menundukkan kepalanya.
"Terima kasih atas pujiannya mama...." ucap Naomi lalu kembali menatap William dan Marrie.
"Apa Naoko ada? mama ingin bicara dengannya" tanya Marrie, namun Naomi hanya menggelengkan kepalanya merespon pertanyaan Marrie.
"Ooh dia pergi?" tanya Marrie lagi
"Tidak mama, ibu ada di kamarnya tapi dia tidak bisa menemui papa dan mama..." jawab Naomi
"Apa dia sakit?" tanya Marrie khawatir
"Ibu tidak pernah keluar kamar sejak ayah meninggal.... maaf, aku sudah memaksanya untuk menemui mama dan papa... tapi ibu tidak merespon panggilanku..." jawab Naomi penuh penyesalan, untuk sejenak William dan Marrie terdiam beberapa saat.
"Kalau berkenan.... aku bisa sampaikan keperluan papa dan mama kepada ibu..." ucap Naomi memecah keheningan sejenak diantara mereka bertiga, William menghela nafas panjang.
__ADS_1
"Kami ingin membicarakan tentang pernikahanmu dengan Jester yang seharusnya akan diselenggarakan kurang dari tiga puluh hari lagi" tegas William mengatakannya, Naomi pun terkejut mendengar perkataan William yang begitu mendadak itu