
Pagi hari dengan sinar matahari yang bersinar cukup terang, di pelataran rumah dengan aksen khas budaya jepang saat itu terlihat Grece berdiri dihadapan Jester sembari menunjukkan layar handphone miliknya yang berisi chating antara Grece dengan Naomi. Masih dengan wajah terkejut dan seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja Jester baca, Jester menatap Grece dengan garis senyum yang merekah.
"Itu... tidak bohong kan?" tanya Jester mencoba memastikan apa yang dia baca, Grece yang sedari tadi terlihat sumringah hanya merespon pertanyaan Jester dengan anggukan kepala.
Segera Jester berbalik lalu berlari menuju kamar dan membiarkan pintu terbuka, didalam kamar Jester segera mengambil handphone miliknya dan segera mencari nama "Sarah". Jester pun melakukan panggilan telepon kepada Sarah, namun setelah lama berdering Sarah tidak juga mengangkat telepon itu. Meski kesal namun Jester tidak putus asa, di telponnya kembali Sarah untuk kedua kalinya dan akhirnya telepon itu pun terangkat.
***
"Ya Jester.... aku masih ngantuk, teleponlah lagi nanti" ucap Sarah ketika telepon terangkat
"Tidak bisa Sarah, ada hal yang harus segera aku sampaikan!" terdengar panik namun tersirat perasaan bahagia saat Jester mengucapkannya
"Jester... Jester... apapun itu aku tidak mau peduli, aku sangat lelah... Hooaaammss..." timpal Sarah terdengar tidak peduli
"Naomi ingin tampil di acara band dan kamu harus menambah satu kostum lagi untuk Naomi!!" ucap Jester
"Hah?!! kamu bercanda kan Jester?!!" terdengar suara Sarah yang begitu kaget mendengar perkataan Jester.
"Aku juga tidak bisa mempercayainya, tapi itu yang dikatakan Naomi pada Grece!!" masih dengan nada yang terdengar panik karena terlalu bahagia Jester mengucapkannya
"Oke oke! Noted Jester! tapi biarkan aku untuk tidur tiga puluh menit lagi... aku benar - benar lelah" dengan helaan nafas Sarah mengucapkannya
"Oke, selamat istirahat" ucap Jester lalu memutuskan sambungan teleponnya
***
Jester kemudian hendak berbalik namun di pintu keluar kamar, Jester melihat Luke dan Harry sedang berdiri menatap Jester dengan wajah penasaran. Walau tidak berkata apapun saat itu, namun Jester sangat memahami apa yang Luke dan Harry tunggu keluar dari mulutnya.
"Kita akan tampil malam ini bersama dengan Naomi" celetuk Jester terdengar senang, mendengar celetukan itu ekspresi wajah Luke dan Harry serentak nampak senang sekaligus tidak percaya.
"Hei Jester! kamu gak bercanda kan?!" tanya Harry
"Aku serius!" jawab Jester terdengar senang
"Saat bertemu nanti kita harus merayakannya!!" terdengar antusias Luke mengatakannya, Jester berjalan keluar dari kamar melewati Luke dan Harry menuju pelataran rumah. Diikuti Luke dan Harry saat itu mereka bertiga menemui Grece yang masih menunggu Jester di pelataran rumah, dengan wajah kesal Grece menatap Jester.
"Benarkah kamu tidak menyuruhku untuk masuk?" tanya Grece dengan nada yang terdengar sedikit marah, Jester tertawa kecil lalu memberikan gestur tangan agar Grece masuk.
__ADS_1
Selama ini hanya Luke dan Harry lah yang sering keluar masuk tanpa ijin Jester, mereka tidak hanya bersahabat tetapi lebih dari itu. Mereka menjalin persahabatan dan rasa persaudaraan mereka bahkan sejak kecil yaitu ketika William memutuskan untuk mengadopsi Luke dan Harry. Sejak saat itulah mereka menjadi three musketeers yang sulit terpisahkan.
"Lain kali masuklah langsung, kamu lebih dari sekedar teman dan sahabatku. Rumahku adalah rumahmu juga, jadi aku tidak keberatan kamu keluar masuk rumah ini Grece" ucap Jester, mendengar perkataan Jester membuat Grece tersenyum senang.
"Benarkah?! jangan menyesal dengan perkataan mu ya!!" terdengar antusias Grece merespon perkataan Jester, namun senyum Jester berubah menjadi ekspresi kesal.
"Entah kenapa mendadak aku menyesal" penuh penyesalan Jester ketika mengucapkannya, mereka berempat pun tertawa keras
Tidak lama terlihat taksi berhenti didepan rumah, Justin turun dari taksi dan menyapa teman - temannya dengan begitu bersemangat. Pagi itu dirumah Jester dan Naomi terdengar ramai sejak kedatangan Justin dan Grece, sebuah pemandangan yang menjadi sering terlihat akhir - akhir ini dirumah yang sebulan belakangan memiliki aura - aura kesedihan yang kental.
Menjelang siang disebuah gedung perkantoran yang ramai, para karyawan terlihat sangat sibuk saat itu. Tidak terkecuali Camilla yang sedang sibuk mengatur beberapa karyawan lainnya agar mereka semua bekerja sesuai perintah dari Jessica, disaat bersamaan Jessica sendiri sedang sibuk di dalam ruangannya dengan detail - detail kecil dari baju pentas yang akan digunakan oleh Jester, Luke, Harry, Justin dan Grece.
Sarah keluar dari lift dan berjalan menuju ruangan Jessica, disana Sarah sempat berpapasan dengan Camila dan tatapan mata mereka bertemu. Bersamaan dengan pegawai Arielle Corp yang lain, Camilla menundukkan badannya memberi hormat pada Sarah. Dengan lambaian tangan Sarah membalas salam para pegawainya itu, saat itulah Camilla menyadari Sarah dengan sengaja mengenakan sarung tangan yang senada dengan pakaian yang dia gunakan hari itu untuk menutupi luka akibat tusukan gunting.
"Wah cantik... nona Sarah memang selalu tampil modis" ucap pegawai yang berada disebelah Camilla ketika Sarah sudah masuk kedalam ruangan Jessica
"Tapi baru kali ini aku melihat nona Sarah pakai sarung tangan... apa itu menjadi tanda akan ada model baju baru yang akan dikeluarkan Exo ya?" tanya pegawai lainnya
"Sejak dibawah Exo, Arielle Corp gak bisa berkembang dengan baik... nona Sarah seperti meninggalkan kita begitu saja" dengan sedih pegawai lainnya menimpali
"Hei Camilla, bagaimana menurutmu? sejak melihat nona Sarah, raut wajah semangatmu menghilang" celetuk pegawai lainnya, Camilla pun tersentak dan pandangannya beralih menatap orang yang bertanya kepadanya.
"Camilla, diminta Nyonya Arielle untuk menghadap" perintah sekertaris Jessica kepada Camilla, perintah itu membuat Camilla mendadak pucat pasi.
"Aaah... i...iya..." terbata Camilla mengucapkannya, sekertaris Jessica berbalik hendak berjalan menuju ruangan diikuti oleh Camilla dibelakangnya.
Karyawan lain yang melihat Camilla berjalan dibelakang sekertaris Jessica pun mulai bergumam satu sama lain, sudah menjadi rahasia umum dikalangan pegawai Arielle Corp jika Jessica memanggil karyawannya lewat sekertaris maka hanya akan ada kemungkinan yaitu pecat atau naik jabatan. Mengingat Camilla yang baru menjadi pegawai disana dalam waktu singkat, tentu saja mereka semua mengira jika Camilla akan segera dipecat.
Bagi Camilla yang belum mengetahui rahasia umum di Arielle Corp, dia menduga pemanggilan ini pasti ada hubungannya dengan tragedi bersama Sarah. Kini otaknya penuh dengan alasan yang akan dia ucapkan pada Jester ketika Jester mendengar kabar pemecatan dirinya, bagaimana pun ada beban moral dalam diri Camilla jika dirinya yang baru bekerja sudah mendapatkan pemecatan.
"Masuklah, aku harus mengerjakan beberapa hal" perintah sekertaris Jessica didepan pintu ruangan Jessica, Camilla hanya mengangguk dan sekertaris itu pergi meninggalkan Camilla ditempat itu.
Tangan Camilla bergemetar saat hendak menggenggam ganggang pintu, entah darimana saat itu kupingnya terasa banyak sekali suara - suara yang membentak, merendahkan, dan mengejek dirinya. Hatinya dihantui oleh pemikirannya sendiri, mendadak kepala Camilla terasa sakit dan kedua tangannya pun dia arahkan ke kepalanya untuk menahan rasa sakit yang begitu mengganggunya.
Dengan mata terpejam dan kedua tangan yang menggenggam erat kepalanya untuk menahan sakit, seketika itu Sarah terlihat membuka pintu ruangan Jessica dan mendapati Camilla sedang merintih kesakitan didepan pintu ruangan Jessica.
"Kamu baik - baik saja?" tanya Sarah khawatir, pertanyaan Sarah membuat Camilla terkejut sampai mundur beberapa langkah sembari menatap mata Sarah.
__ADS_1
"Hei!! kamu kenapa?!" tanya Sarah lagi sedikit panik, Camilla menggelengkan kepalanya dan kemudian menundukkan kepalanya lagi.
"Baguslah kalau kamu baik - baik saja, masuklah" perintah Sarah sembari membalik badannya dan membiarkan pintu tetap terbuka, Camilla berjalan perlahan masuk kedalam ruangan itu dengan langkah yang terlihat ragu - ragu.
Didalam ruangan, Camilla perlahan menutup pintu dan segera berbalik berjalan mendekati Jessica yang duduk di mejanya. Sejenak mata Camilla menatap Jessica dan Sarah sebelum akhirnya pandangannya kembali tertunduk, tubuhnya terlihat bergemetar saat menghadap Jessica.
Melihat tubuh Camilla yang bergemetar itu untuk sejenak Jessica dan Sarah saling menatap dengan wajah yang terlihat khawatir melihat keadaan Camilla. Ruangan yang sepi itu pun pecah seketika saat Jessica menghela nafasnya dan kembali menatap Camilla, tubuh Camilla terlihat tersentak begitu mendengar helaan nafas Jessica.
"Camilla, apa memar - memar mu sudah hilang?" tanya Jessica dengan nada yang terdengar khawatir, Camilla hanya menganggukkan kepalanya.
"Benarkah? jika memar itu seperti yang mama bilang, bekasnya masih akan nampak sampai sekarang" timpal Sarah dengan curiga menatap Sarah
Seakan ingin memastikan sesuatu kepada Camilla, dengan serius Sarah akan mencoba melakukan beberapa hal kepada Camilla untuk menguatkan pemikirannya selama ini.
"Itu benar, mana mungkin mama membohongimu" ucap Jessica, tangan Sarah pun merogoh tas miliknya yang dia letakkan diatas meja Jessica untuk mengambil cairan pembersih make up. Bersama dengan sebuah kapas yang Sarah genggam, Sarah berjalan mendekati Camilla dan memberikan cairan pembersih make up dan kapas itu kepada Camilla.
Terkejut lah Jessica dan Camilla melihat apa yang Sarah lakukan, Jessica sampai berdiri untuk menegur anak semata wayangnya itu.
"Sarah!!" bentak Jessica terdengar marah
"Aku harus lakukan ini karena seperti yang aku katakan pada mama tadi jika dia ini serigala berbulu domba, aku harus pastikan semuanya adalah fakta dan bukan rekayasanya" dengan tegas Sarah mengatakannya, Camilla pun membatu menatap wajah Sarah.
"Tapi..." belum selesai Jessica berbicara, Sarah memotong
"Bisakah aku mempercayaimu, Camilla McBride?" tanya Sarah terdengar begitu menekan, perlahan tangan Camilla mengambil dua benda yang Sarah diberikan padanya.
Camilla membawanya menuju sebuah cermin dan mulai membersihkan foundation yang sengaja Camilla oleskan untuk menutupi memar - memar yang masih membekas diwajahnya , usapan demi usapan Camilla lakukan untuk membersihkan wajahnya dari foundation. Tidak lupa Camilla melepaskan lensa kontak yang dia gunakan untuk menutupi matanya yang memerah karena bekas pukulan, begitu selesai Camilla pun berbalik dan membiarkan Sarah menatap wajahnya yang membuat miris hati.
Tumpukan banyaknya kapas dengan bekas foundation yang menempel dengan begitu tebalnya menandakan betapa banyaknya Camilla mengaplikasikan foundation itu pada wajahnya yang nyaris seluruhnya dipenuhi dengan bekas memar yang masih membiru, bahkan diarea dekat pupil matanya yang kecil terlihat beberapa bintik merah bekas pukulan keras yang Camilla terima. Dengan lensa mata berukuran lebih besar Camilla berhasil menutup bekas merah itu dengan sempurna.
Mata Sarah terlihat melotot dan tidak dapat mempercayai apa yang baru saja dia lihat, sedangkan Jessica seakan sudah tidak mampu lagi untuk melihat itu dan lebih memilih untuk duduk lalu memutar kursinya menatap kaca jendela. Ruangan itu kembali sunyi dan hanya ada suara angin AC yang berhembus mendinginkan ruangan, Sarah berbalik dan berjalan mendekati meja Jessica untuk mengambil beberapa perlengkapan make up miliknya yang dia letakkan dalam tas.
Beberapa peralatan make up itu dia berikan pada Camilla tanpa kata, hanya ada tatapan mata yang merasa iba. Otak Sarah kini penuh dengan cerita Jester tentang Camilla, untuk sejenak ada perasaan marah Sarah jika mengingat Camilla adalah salah satu korban dari kejamnya Arthur sang kakek saat menghukum seseorang.
"Ceritakan padaku apapun yang mungkin kamu butuhkan untuk menghadapi semua trauma mu, maaf aku mendengar sisi gelap mu dari Jester sebelum ini namun aku tidak mempercayai itu. Tidak semua orang sama Camilla... aku akan berdiri disisi mu untuk membuktikan jika pemikiran mu itu salah" dengan penuh penyesalan Sarah mengucapkannya, air mata Camilla pun tidak terbendung lagi.
"Ma... Maaf... dan terima... kasih...." terbata Camilla mengucapkannya, Sarah pun memeluk Camilla dengan erat.
__ADS_1
Suasana yang begitu haru begitu terasa di ruangan Jessica siang itu, seakan siang itu akan menjadi titik balik dari hubungan yang akan membaik bagi Sarah dan Camilla... Ya... Siapa yang tahu....
Hati selalu cepat berubah