Aku Pinjam Dia

Aku Pinjam Dia
Berteriaklah Naomi!!


__ADS_3

Sore hari yang indah di lingkungan pedesaan yang jauh dari kota, jalanan begitu sepi dan tentram. Hanya terlihat beberapa orang sedang berjalan kaki dan saling menyapa satu sama lain, tidak terkecuali Liam dan Blenda yang saat itu sedang bercocok tanam di pekarangan depan rumahnya saat melihat orang berjalan lewat depan rumah. Didalam pekarangan itu tedapat rumah yang kecil dan sederhana dan di salah satu kamar rumah, Daniel dan Naomi sedang memadu kasih. Daniel yang sudah melepaskan bajunya nampak menindih Naomi yang bagian atas dari dressnya terlihat terbuka, wajah Naomi yang memerah karena Daniel menciumi leher jenjangnya terlihat mulai tidak nyaman.


"Hentikan... Daniel!!" Naomi membentak Daniel, sesaat Daniel menghentikan menciumi leher Naomi lalu memandang wajah Naomi yang terlihat ingin menangis.


"Ada apa?" tanya Daniel yang masih dalam posisi menindih Naomi


"Hentikan... aku mohon..." pinta Naomi terbata dan memelas, suara Naomi terdengar serak karena menahan tangis.


"Kenapa? bukankah ini sudah jadi kebiasaan kita?" tanya Daniel yang masih bingung menatap Naomi, Naomi menggeleng - gelengkan kepalanya sebelum menjawab pertanyaan Daniel.


"Tidak untuk hari ini... lepaskan aku" pinta Naomi yang masih terdengar memelas, Daniel pun berdiri lalu memakai baju dan membenarkan posisi celananya.


"Terima kasih..." ucap Naomi sembari menutup kembali kancing dressnya, Daniel menoleh menatap Naomi yang masih duduk di kasur sembari membenarkan posisi dressnya dan menata rambut.


"Ada apa denganmu?" Daniel kembali bertanya memastikan ada apa dengan Naomi, namun Naomi kembali menggelengkan kepalanya beberapa kali sebelum menjawab pertanyaan Daniel


"Aku sedang banyak pikiran... Maaf ya..." jawab Naomi masih dengan suara yang memelas, mendengar jawaban Naomi itu membuat Daniel marah.


"Kamu pikir hanya kamu saja yang banyak pikiran?! hah!! aku juga!" Daniel mengatakannya sembari membentak Naomi tepat didepan wajahnya, walau terlihat tersentak namun Naomi juga terlihat marah pada Daniel.


"Aku jarang memaksamu untuk melakukan apa yang aku mau, untuk kali ini saja tidak bisakah kamu menurutiku tanpa bentakan darimu!!" Naomi pun mulai marah membalas Daniel


"Kita ini jarang bertemu dan ketika bertemu aku ingin melepaskan rinduku, salah?!" bentak Daniel kembali, Naomi terdiam sesaat menatap wajah Daniel dan tangannya mulai meremas sprei kasur itu dengan sangat kuat.


"Katakan padaku.... Katakan padaku kamu merindukanku atau hanya sebagai pemuasmu?!" tanya Naomi dengan bentakan, Daniel kaget mendengar pertanyaan Naomi saat itu.


"Apa apaan kamu itu?! kenapa kamu jadi seperti ini?!" Daniel kembali membentak Naomi tepat didepan wajahnya, air mata Naomi pecah seketika saat itu.


"Cukup Daniel!!" Naomi berjalan keluar dari kamar Daniel dan langsung melangkahkan kakinya menuju pekarangan, pertengkaran antara Naomi dan Daniel berlanjut hingga di luar rumah. Naomi terlihat hanya berjalan menjauhi Daniel tanpa sepatah kata pun namun Daniel terus membentak Naomi dengan kata - kata kasarnya dan berjalan terus mendekati Naomi dibelakangnya. Pertengkaran itu disaksikan oleh Liam dan Blenda yang sedari tadi berada diluar rumah, Liam berlari menghalangi Daniel mendekati Naomi sedangkan Blenda berlari lalu memeluk Naomi untuk memberikannya rasa aman.


"Ada apa ini Daniel?!!" Liam membentak Daniel, melihat orangtuanya melindungi Naomi membuat Daniel semakin marah


"Ayah jangan ikut campur! Naomi kembali sekarang juga!" bentak Daniel, Naomi menangis di pelukan Blenda dan hanya menggeleng - gelengkan kepalanya.


"Daniel... jangan bentak Naomi seperti itu..." ucap Blenda lembut untuk meredam emosi Daniel, namun kemarahan Daniel tidak juga kunjung mereda.


"Ibu tahu apa? dia itu berselingkuh tahu?!" Daniel tetap membentak dan menuduh Naomi


"Sudah aku katakan aku dan dia hanya settingan seperti dirimu dan Sarah! kenapa kamu tidak juga mengerti!" Naomi melepaskan pelukan Blenda dan menatap Daniel sembari membentak Daniel


"Apa untungnya bagimu punya hubungan settingan hah?!!" Daniel tetap membentak Naomi, Naomi berjalan mendekati Daniel melewati Liam dengan tatapan penuh amarah walau air matanya terus mengalir.


"Kamu tidak akan pernah paham! aku hanya buang waktu untuk menjelaskannya padamu!" jawab Naomi membentak Daniel, saat itu Daniel mengangkat tangannya hendak menampar Naomi tapi Liam menahan tangan Daniel dengan kuat.


"Tidak pantas kamu lakukan itu Daniel!!" Liam membentak sembari menurunkan tangan Daniel dengan paksa, Daniel menatap Liam beberapa saat lalu menarik lengannya dengan paksa.

__ADS_1


"Aku akan pulang! Ayo Naomi!!" ajak Daniel dengan bentakan sembari membalikkan bandannya dan hendak berjalan menuju mobil.


"Tidak!! aku tidak mau pulang bersama mu!" Naomi menolak ajakan Daniel dengan bentakan, Daniel kembali berbalik dan akan menampar Naomi namun Liam menghalangi lalu mendorong Daniel agar menjauhi Naomi.


"Pergilah Daniel, biar aku yang akan mengantar Naomi" ucap Liam dengan lembut berusaha mendinginkan suasana, Daniel sedikit tertawa mendengar perkataan Liam saat itu.


"Dengan apa ayah akan mengantarkannya?" tanya Daniel meremehkan


"Biarkan itu menjadi urusanku, pergilah" jawab Liam sembari mendorong - dorong Daniel untuk pergi, Daniel menghentakkan kakinya dengan keras lalu pergi meninggalkan rumah itu.


Di sebuah rumah kecil yang sederhana di pinggiran kota pada sore hari yang cerah, di ruang tamu rumah itu terlihat Naomi duduk di sebuah sofa sederhana menyandarkan kepalanya ke bahu Blenda dan masih menangis terisak - isak. Blenda menepuk - nepuk bahu Naomi untuk menenangkannya, sedangkan Liam sedang menelepon sana - sini untuk meminjam kendaraan namun semua usahanya gagal.


"Bagaimana?" tanya Blenda, Liam hanya menggelengkan kepalanya beberapa kali


"Disini memang sulit mencari orang yang mau meminjamkan mobilnya, sabar ya Naomi kami akan terus mencari caranya" ucap Blenda yang masih berusaha menenangkan Naomi, saat itu pandangan Naomi teralihkan pada tas miliknya yang terbuka di atas meja tepat didepannnya. Didalam tas itu handphonenya menyala dan berbunyi tanda ada pesan masuk, Naomi mengambil Handphonenya dan melihat siapa yang mengiriminya pesan. Pesan itu dikirim oleh Jester yang tertulis dengan nama "Bodoh"


***


"Maaf Naomi, aku lupa bilang tadi. kalau kamu ingin jemputanku, katakan saja" Pesan diterima


"Aku akan sangat merepotkan mu jika aku menerimanya" pesan dikirim


"Tidak apa, katakan saja jangan sungkan" pesan diterima


"*mengirim lokasi*" pesan dikirim


"Aku sudah katakan kamu akan kerepotan" pesan dikirim


***


Setelah pesan terakhir yang Naomi kirim terlihat Jester tidak membalas kembali dan hanya membacanya saja, saat itu Naomi berkali - kali menggulir handphonenya agar layar tetap hidup dan di dalam hatinya berharap Jester akan menjemputnya. Ketika harapan Naomi tinggi, tiba - tiba Naomi teringat bahwa hari ini dia menampar Jester tanpa alasan. Wajah terkejut Jester saat itu tergambar jelas dalam bayangan kepalanya, saat itu air mata Naomi kembali menetes.


"Kamu berfikir apa sih Naomi? tidak mungkin kan dia akan menjemputmu Naomi... kamu itu siapa Naomi? orang baik seperti Jester tidak akan menghiraukan orang jahat sepertimu setelah apa yang kamu lakukan padanya" gumam Naomi, air matanya kembali menetes deras bersamaan dengan gumamannya. Blenda kembali menepuk nepuk pundak Naomi untuk menenangkannya, tidak beberapa lama Handphone nya kembali berbunyi. Naomi membuka pesan dari Jester lagi.


***


"Maaf Naomi, ini mungkin akan memakan waktu. Jadi bersabar ya, aku sedang dalam perjalanan menuju lokasimu" pesan diterima


***


"Bodoh... kamu bodoh..." gumam Naomi. Air mata Naomi berderai semakin deras sembari meletakkan handphone yang dia genggam kedadanya, perasaan penuh rasa bersalah pada Jester malah semakin memenuhi kepalanya.


Malam pun tiba menjadikan suasana di sekitar rumah Liam dan Blenda menjadi sangat sunyi dan agak gelap karena hanya lampu jalanan yang menjadi satu - satunya penerangan di sepanjang jalan, diantara kegelapan itu tidak lama ada cahaya lampu putih mobil mendekat. Sebuah Mercedes Benz V260 tiba ditempat itu, Naomi yang di temani oleh Liam dan Blenda sudah menunggu didepan pagar rumah.


Jester dari dalam mobil melihat Naomi ditemani oleh orang asing, lalu Jester memberhentikan laju mobilnya sangat dekat dengan posisi Naomi, Blenda dan Liam saat itu. Tidak lama Jester turun dan memberi salam dengan sedikit membungkukkan badannya kearah Liam dan Blenda namun tiba tiba Naomi berlari dan memeluk Jester begitu erat sambil menangis dengan satu teriakan keras di pelukan Jester, mendengar tangisan Naomi membuat Jester mendadak memeluk kepala Naomi untuk memberikannya rasa aman.

__ADS_1


"Naomi... ada apa?" Jester panik saat itu karena Naomi menangis begitu pilu, Naomi hanya menggeleng - gelengkan kepalanya dan terus memeluk Jester dengan erat sambil terus menangis. Wajah Jester nampak memerah karena melihat Liam dan Blenda tersenyum menatap Jester yang dipeluk begitu erat oleh Naomi, hingga beberapa saat Naomi mulai melepaskan pelukannya dan tangisannya pun berangsur berhenti.


"Terima kasih.... pasti merepotkanmu ya....?" tanya Naomi tanpa menatap wajah Jester, Naomi hanya menunduk saat mengatakannya.


"Yaah... tidak juga, aku cuma mengkhawatikanmu... lokasimu begitu jauh dari rumah, jadi..." jawaban Jester terhenti ketika jari Naomi menempel di bibir Jester tanpa Naomi menatap wajahnya.


"Kamu.... cerewet ya..." celetuk Naomi yang mendadak tersenyum mendengar jawaban Jester, keduanya saling bertatapan dan membuat Jester terlihat kesal menatap Naomi.


Mereka berdua pun berpamitan pada Liam dan Blenda lalu segera melanjutkan perjalanan menuju rumah mereka, diperjalanan Naomi hanya terdiam saat itu tanpa sepatah katapun. Jester paham kacaunya perasaan Naomi malam ini dan berinisiatif merubah haluan mobil tidak langsung menuju kerumah, Jester membelokkan mobilnya keluar dari jalan Tol. Naomi terkejut karena tiba - tiba Jester merubah haluan mobilnya dan malah menjauh dari rumah, Naomi menatap Jester dengan heran.


"Heii kamu salah arah?!" tanya Naomi dengan heran, Jester tersenyum mendengar keheranan Naomi


"Tidak... ada tempat yang mau aku datangi, boleh aku minta temani?" tanya Jester dengan senyum namun Naomi hanya terdiam lalu mengalihkan pandangannya.


Perjalanan malam itu benar - benar memakan waktu sampai lewat tengah malam, hingga tibalah mereka di pinggir pantai dekat dengan mercusuar dan lampu - lampu jalanan yang menerangi pantai. Jester memarkirkan mobilnya di pinggir jalan dan segera keluar dari mobil, namun Naomi terdiam dan hanya melihat pantai itu dari dalam mobil sampai Jester membukakan pintu untuknya.


"Ayo, kita mendekat ke pantai" ajak Jester saat itu, Naomi pun turun dan berjalan mengikuti Jester dibelakangnya. Suara deru ombak dan angin malam pantai saat itu membuat Naomi tiba - tiba sedikit tersenyum, Jester berbalik menatap Naomi.


"Heeii!! kamu tahu, disini aku biasa melepaskan stresku!" teriak Jester saat itu karena posisi mereka agak berjauhan, Naomi berjalan mendekati Jester.


"Aku hanya merasa sedikit senang, tidak sampai membuat stresku hilang!" ucap Naomi dengan teriakan, Naomi mulai dekat dengan posisi Jester berdiri.


"ya tentu saja belum. Papa bilang padaku kalau kamu stres, kamu pergilah ke pantai lalu... WAAAAAAAAAAA!!!!!" Jester mendadak teriak di dekat Naomi, Naomi yang terkejut lalu melemparkan pasir kearah Jester.


"Kaget tahu!!" Naomi nampak kesal dan membentak Jester


"Yaa begitu, tapi tanpa melempar pasir padaku!!" ucap Jester dan memberi gestur tangan agar Naomi mengikutinya


"Tidak! aku tidak akan melakukan hal gila sepertimu!" tolak Naomi tegas, Jester menatap Naomi kesal.


"Aaah gak seru, ya sudah biar aku saja" Jester berlari meninggalkan Naomi dan mendekati bibir pantai lalu menarik nafas dalam - dalam


"AAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!" Jester benar - benar berteriak sekuat tenaga, Naomi pun tertawa melihat tingkah Jester saat itu sembari terus berjalan mendekatinya.


"Bagaimana? suaraku keras kan? kamu tidak akan bisa menyaingi teriakanku tahu" tantang Jester sembari berbalik menatap Naomi yang sudah ada didekatnya.


"Aku bisa lebih hebat dari itu, tapi aku tidak mau" jawab Naomi yang terdengar tidak mau kalah dari Jester namun Naomi engga menerima tantangan dari Jester, Jester tersenyum meremehkan Naomi.


"Tidak akan, kamu itu tidak akan pernah bisa mengalahkanku dari sudut manapun" dengan sombong Jester katakan itu, Naomi mendadak tertantang dan berlari kesebelah Jester dan menghadap pantai.


"Kyaaaa!!!!" Naomi berteriak namun suaranya masih terdengar pelan, Jester menertawakan Naomi


"Ahahaha... sudah aku katakan hanya keluarga Gates yang punya suara keras tahu" Jester masih menertawakan Naomi dengan nada yang mengejek, Naomi menatap Jester dengan kesal lalu Naomi menarik nafasnya lagi dalam - dalam dan menghadap laut.


"BODOOOOOOOOOHH!!!!!!!" Naomi berhasil berteriak keras saat itu sampai membuatnya kehabisan nafas, Naomi menatap Jester dengan bangga dan senyumannya pun merekah namun Jester menatap Naomi dengan tatapan iba seperti tahu beban berat yang di pikul oleh Naomi.

__ADS_1


"Bagaimana? lega? berteriak lah lagi jika masih ada yang mengganjal" ucap Jester dengan nada lembut dan penuh perasaan iba, mata Naomi berkaca - kaca mendengar ucapan Jester. Naomi kembali menatap laut dan menarik nafasnya dalam - dalam.


"AAAAaaaaaaaa....... aahahahaaa.... haaa....." teriakan Naomi menghilang bersamaan dengan Naomi menangis keras sampai membuatnya bersimpuh di bibir pantai, suasana dipantai itu mendadak pilu dengan suara tangisan Naomi.


__ADS_2