Aku Pinjam Dia

Aku Pinjam Dia
Magic Word


__ADS_3

Pagi yang cerah disebuah gedung perkantoran yang mewah, para pekerja yang bekerja di gedung kantor itu terlihat sibuk dengan urusan mereka masing - masing. Disalah satu ruangan yang menjadi ruang kerja presiden direktur, Jester dan William terlihat membaca berbagai berkas - berkas laporan milik Exo Fashion and Style yang menjadi anak perusahaan milik Gates Family Grup. Di ruang itu Jester dan William ditemani oleh seorang wanita yang menjabat sebagai sekertaris perusahaan, wajahnya terlihat keberatan melihat Jester dan William mengobrak - abrik semua dokumen - dokumen kantor.


"Aaa... maaf, tuan - tuan sedang mencari berkas apa?" tanya sekertaris itu kepada Jester dan William, sejenak mereka berdua menghentikan aktifitasnya dan menatap wajah wanita itu dengan serius.


"Aku yang menangani Exo mulai hari ini" jawab Jester kepada wanita didepannya


"Baik... saya mengerti" timpal wanita itu sedikit terbata


"Siapa namamu?" tanya William


"Lusi... nama saya Lusi Smith" jawab Lusi terbata


"Baik Lusi, aku dan anakku itu ingin tahu semua stok bahan mentah yang dimiliki perusahaan" ucap William kepada Lusi


"Semua stok bahan mentah? kami.... tidak pernah menghitung bahan - bahan itu karena..." terdengar kebingungan Lusi saat mengatakannya, ucapan Lusi saat itu menarik perhatian William juga Jester dan mereka terheran - heran.


"Karena.... tuan Andrews melarang kami untuk melakukan cek stok bahan..." terbata Lusi mengucapkannya, perkataan Lusi membuat Jester dan William heran sampai hampir bersamaan mengerutkan dahinya.


"Kenapa dia melarang kalian untuk cek stok?" tanya Jester dengan penuh keheranan, Lusi terlihat kesulitan untuk menjawab seakan ada hal besar yang tidak ingin Lusi bicarakan sehingga dirinya harus cepat mencari alasan yang tepat.


"Pasti ada hubungannya dengan Andrews" celetuk William, celetukan itu menarik perhatian Jester.


"Apa maksud papa?" tanya Jester masih terdengar heran.


"Stok itu mungkin tidak pernah ada dan data yang pernah kita pegang itu hanyalah fiktif" jawab William menduga - duga, perkataan William membuat Lusi ketakutan menatap William.


"Benarkah begitu?" tanya Jester lalu mengalihkan pandangannya kembali menatap Lusi


"Eeeh... itu... saya tidak tahu..." terbata Lusi mengatakannya, Jester dan William saling menatap dan terdiam untuk beberapa saat.


"Hanya satu yang bisa kita lakukan, kita harus cek langsung gudang pe..." belum selesai William berkata, pintu ruang presiden direktur terbuka dan membuat Jester, William, dan Lusi terkejut.


"Aku melarang kalian untuk menuju gudang dengan alasan apapun" ucap seseorang dari balik pintu yang terbuka dengan tegas, Jester dan William pun menatap orang dengan tatapan penuh kekesalan.


Andrews dengan langkah yang begitu tergesa - gesa menuju ruangan kerjanya setelah mengetahui William sang adik juga Jester sang keponakan telah berada dalam kantornya untuk melancarkan tugas yang diberikan oleh Arthur. Langkahnya terasa berat dengan nafas yang tidak beraturan karena emosi yang dia bawa, mengetahui perusahaan Arielle corp akan dihancurkan membuat Andrews begitu cemas. Dia tidak ingin usahanya melindungi Arielle Corp demi Sarah harus berakhir begitu saja walau harus mengorbankan perusahaannya sendiri. Andrews yang dari luar pintu mendengar perkataan William dengan segera membuka pintu secara keras sampai mengagetkan semua yang berada disana.


"Lusi, tinggalkan kami disini" perintah Andrews kepada Lusi, dengan segera Lusi menundukkan kepalanya lalu meninggalkan ruangan itu. Begitu pintu tertutup rapat, Andrews berjalan menuju sofa yang berada disana lalu duduk menatap William dan Jester bergantian.


"Kakak pertama, kamu tahu kan perintah papa?" tanya William pada Andrews dengan sedikit menekan


"Will, kamu seharusnya sangat memahami kenapa aku seperti ini" jawab Andrews, mendengar perkataan Andrews saat itu membuat William menghela nafasnya.


"Aku tidak akan membiarkan anakmu menghancurkan anakku!!" bentak Andrews terdengar begitu marah, namun Jester dan William hanya memasang wajah datar melihat kemarahan Andrews.


"Aku mengorbankan segalanya untuk membangun Arielle Corp untuk anakku! tidak sepertimu, Will! kamu bisa terus melindungi anakmu karena diantara kalian memang tidak memiliki jarak dan halangan!! hanya ini satu - satunya cara aku bisa menjadi sosok ayah bagi Sarah!" bentak Andrews lagi begitu emosi


"Lalu paman mau aku gimana? memintaku merelakan calon istriku disekap oleh kakek dan membiarkan pernikahanku hancur didepan mata?" tanya Jester terdengar kesal pada Andrews, mendengar pertanyaan Jester membuat Andrews bingung harus menjawab apa.


"Paman seharusnya tahu jika Arielle harus hancur itu bukan karena aku, tapi semua karena kakek. Kita tidak seharusnya saling bermusuhan kan?" tanya Jester lagi tanpa beban, perlahan Andrews menundukkan pandangannya dan terlihat kebingungan.

__ADS_1


"Kakak pertama, aku juga dalam persimpangan dilema untuk membantu anakku atau membantumu. Tapi tidak ada cara lain yang bisa aku lakukan, pernikahan anakku sedang dalam pertaruhan dan aku sangat menyayangi calon menantuku itu" ucap William mencoba mendapatkan pengertian dari Andrews, ketiga orang itu pun terdiam untuk beberapa saat.


"Kakak pertama, dimana stok bahan mentah milik Exo yang ada didalam data itu? benarkah itu semua fiktif?" tanya William, perlahan Andrews menatap William dengan sorot mata yang terlihat sedih.


"Semua stok bahan mentah itu aku taruh di gudang luar kantor, aku menyimpannya untuk jaga - jaga jika Arielle Corp mengalami krisis bahan... aku sudah katakan itu pada Jessica namun dia tidak pernah sekalipun menyentuh bahan - bahan itu dan malah memilih untuk melakukan semuanya sendiri" jawab Andrews terdengar sedih karena tidak mampu mencegah keinginan William juga Jester.


"Berarti bahan - bahan itu masih utuh sesuai data?" tanya Jester kepada Andrews, dengan anggukan kepala Andrews merespon pertanyaan Jester.


"Kalau gitu kamu bisa gunakan data itu untuk kamu berikan pada nyonya Jessica, nak" timpal William dengan semangat, Jester segera mengambil data yang tertutupi berbagai jenis dokumen. Begitu mendapatkan kertas berisi data, Jester segera melakukan panggilan telepon kepada Sarah.


***


"Ya presdir, ada apa?" tanya Sarah begitu telepon terangkat


"Aku sudah mendapatkan data stoknya, kita bertemu di mall ujung kota" jawab Jester dengan semangat


"Baik, aku akan sampai disana bersama mama dalam..." belum selesai Sarah berkata, Jester memotong.


"Datanglah sendiri" timpal Jester, mendengar perkataan Jester membuat Sarah terdiam sejenak dan suara nafasnya mendadak menjadi terdengar berat.


"Datanglah sendiri.... sudah waktunya kamu harus mendengar apa yang sangat ingin kamu dengar" ucap Jester lagi ketika Sarah hanya terdiam.


"Jester... kamu akan...." belum selesai Sarah berkata, Jester memotong


"Iya, sesuai janjiku" timpal Jester lagi


"Aa...aku... mengerti..." terbata Sarah mengatakannya


***


"Gimana nak?" tanya William, perlahan Jester mengalihkan pandangannya menatap Andrews.


"Semua sudah sesuai rencana ku papa dan untukmu paman... ikutlah denganku, sudah waktunya paman untuk menceritakan semua pada Sarah" jawab Jester, perkataan Jester membuat Andrews terlihat kaget.


Terkejut Andrews ketika Jester menyebut nama Sarah, selama ini Andrews tidak mengetahui bahwa Jester mengenal putrinya. Mendengar perbincangan Jester ditelepon dengan seseorang membuat Andrews yakin bahwa sosok dibalik telepon itu adalah Sarah, terlebih sesaat setelah mengakhiri telepon itu Jester mengajak dirinya untuk menemui Sarah. Tanpa tahu apa yang Jester rencanakan untuk dirinya dengan Sarah, saat itu perasaan campur aduk berkecamuk di hati Andrews. Akan menjadi pertemuan pertama baginya bersama Sarah jika yang Jester rencanakan benar - benar terjadi.


"Nak, bukankah ini bukan waktu yang tepat?" tanya William terdengar bingung dengan perkataan Jester, selama ini William bekerja sangat hati - hati agar rencana Jester tidak sampai bocor kepada siapapun.


"Tidak apa papa, tujuan paman adalah melindungi Sarah dan sama dengan tujuanku yang ingin melindunginya. Jika paman mengacau berarti dia secara tidak langsung sedang menghancurkan anaknya sendiri, tentu saja paman tidak menginginkan itukan?" ucap Jester masih menatap Andrews yang masih terkejut memandangi wajah Jester


"Tapi..." belum selesai William menimpali, Jester kembali memotong sembari mengalihkan pandangannya menatap William.


"Tidak apa papa, percaya padaku jika paman akan mengikuti rencana ku" dengan senyum Jester mengatakannya, melihat senyum tulus Jester saat itu membuat William tidak memiliki pilihan lain selain mempercayai apa yang berusaha Jester percayai.


"Aku tidak tahu apa ini saat yang tepat, tapi untuk bertemu Sarah.... aku masih tidak sanggup menatapnya secara langsung" celetuk Andrews saat itu terdengar ragu - ragu, Jester dan William perlahan mengalihkan pandangannya menatap Andrews yang kembali tertunduk.


Meninggalkan Jessica dalam kondisi hamil karena larangan Arthur membuat Andrews belum pernah menemui Sarah putrinya secara langsung sampai dua puluh tahun berlalu. Andrews yang tidak mempunyai keberanian seperti William hanya bisa pasrah ketika harus terpisahkan dari Jessica dan putri mereka karena perintah dan tekanan sang ayah. Mengorbankan perusahaannya demi menyokong perusahaan Jessica adalah satu - satunya cara yang bisa dia lakukan untuk menyelamatkan putrinya agar mampu hidup dengan layak dan tidak mengalami kesulitan apapun. Bentuk kasih sayang dari seorang ayah yang tidak mampu dia tunjukkan secara langsung untuk putrinya.


"Anak paman... Sarah, sedang menantikan jawaban darimu atas semua yang menimpanya selama ini. Terlahir dengan tidak mengetahui siapa sosok ayahnya bukanlah kehidupan yang mudah, paman mau sampai kapan menyiksa Sarah seperti itu?" tanya Jester kepada Andrews, namun Andrews hanya dapat terdiam.

__ADS_1


"Aku juga sudah menyampaikan betapa sayangnya paman kepada Sarah dari setiap tindakan paman yang selama ini mendukung Arielle Corp dari balik layar dan Sarah juga sudah memahami itu, apakah paman tidak berfikir jika Sarah akan lebih bahagia jika paman sendiri yang langsung mengatakan itu kepadanya?" tanya Jester lagi mencoba memberi pengertian kepada Andrews


"Hmp... sombong sekali, Will... kamu harus sedikit memberitahu anakmu tentang sopan santun berbicara pada yang lebih tua" celetuk Andrews dengan sedikit garis senyum yang terlihat diwajahnya, Andrews tidak dapat membantah perkataan Jester. Walau kesal dengan perkataan pamannya itu, namun Jester hanya mengekspresikan kekesalannya lewat raut wajahnya saat menatap Andrews.


Ketegangan yang terjadi setelah perdebatan diantara ketiganya berganti dengan perbincangan yang hangat. Selain berpisah dengan Sarah, Andrews juga terpisah dengan William karena sang adik memilih untuk meninggalkan kediaman dan keluarga besar Gates sejak sembilan belas tahun yang lalu. Kehangatan antara kakak adik dan keponakan begitu terasa membahagiakan. Sebuah situasi yang jarang terlihat dalam kediaman Gates yang megah itu.


"Aku mengerti, aku akan menemui Sarah untuk pertama kalinya dalam hidupku sejak dia dilahirkan. Bisa kamu atur pertemuan kami?" pinta Andrews kepada Jester, dengan senyum Jester merespon permintaan Andrews.


"Tentu, saat ini juga sebenarnya kalian harus bertemu. Mall diujung kota menjadi tempat pertemuan kita" jawab Jester terdengar senang


"Baiklah!! tunggu apa lagi? ayo kita berangkat!" dengan penuh semangat William mengatakannya, mereka bertiga pun keluar dari ruangan itu bersama - sama dan bersiap menuju tempat janjian antara Jester dan Sarah.


Pagi menjelang siang yang cerah di padatnya jalan perkotaan, sebuah Mercedes Benz S450 terlihat berjalan diantara mobil - mobil lain yang melintas padatnya jalan saat itu. Hingga empat puluh menit berlalu dan Mercedes Benz S450 itu melaju pelan diparkiran mall untuk mencari tempat parkir ideal, begitu Mercedes Benz S450 itu terparkir sempurna para penumpang pun turun hampir bersamaan.


Terlihat Jester, William, dan Andrews berjalan masuk kedalam mall dan mencari tempat yang nyaman untuk mengobrol, namun ditengah perjalanan Andrews terlihat berhenti di toko bunga didalam mall. Melihat Andrews yang mengalihkan arah jalannya masuk kedalam toko itu, membuat Jester dan William heran lalu mengikuti Andrews untuk masuk kedalam toko itu. Didalam toko, Jester dan William mendekati Andrews yang terlihat bingung memilih warna bunga mawar hingga penjaga toko menghampiri Andrews.


"Ada pertemuan spesial dengan seseorang?" tanya seorang wanita penjaga toko kepada Andrews, mendapat sapaan itu membuat Andrews sedikit terkejut dan mengalihkan pandangannya menatap penjaga toko.


"Aah ya... seperti itulah" jawab Andrews terbata


"Baik... jika berkenan saya ingin merekomendasikan bunga sesuai yang anda butuhkan" terdengar lembut penjaga wanita itu


"Yaah boleh... sebenarnya saya akan bertemu dengan... bagaimana kata yang tepat ya..." dengan ragu - ragu Andrews mengatakannya, wanita penjaga toko itu pun tertawa kecil melihat tingkah Andrews.


"Mohon maaf tapi jika dilihat dari umur tuan, maka tidak mungkin kan anda akan bertemu dengan calon pacar anda?" tanya penjaga toko itu dengan sedikit suara tawa yang terdengar, serentak Jester dan William pun tertawa mendengar pertanyaan penjaga toko itu namun tidak dengan Andrews yang terlihat kesal.


"Mungkin ini memang tidak seperti aku akan bertemu calon pacar, namun ini lebih dari sekedar itu" celetuk Andrews terdengar kesal


"Maaf... baik, lalu kenapa tuan ragu untuk mengatakannya?" tanya wanita penjaga toko itu, Andrews pun mengambil satu tangkai bunga mawar pink dan memperhatikannya begitu dalam.


"Aku akan bertemu anak perempuanku yang pernah aku tinggalkan hingga dua puluh tahun... karena ketidaktegasan dan ketidakberdayaannya diriku. Aku meninggalkannya begitu saja berjuang dengan ibunya dan menutupi segala kebenaran tentang siapa ayahnya yang sebenarnya, entah apakah seorang ayah yang buruk ini masih punya muka untuk menemuinya" jawab Andrews terdengar sangat sedih yang tergambar dari setiap kata yang keluar dari bibirnya, sejenak suasana di toko itu menjadi haru.


"Aku juga seorang anak yang ditinggalkan oleh sosok ayah ketika masih kecil, sampai sekarang pun entah kemana dia" timpal penjaga wanita itu lalu mengambil tangkai bunga mawar pink yang dipegang oleh Andrews dan mengembalikannya pada tempatnya, perkataan wanita penjaga toko itu membuat Andrews, Jester dan William terdiam sembari menatap penjaga yang berjalan mengambil beberapa tangkai bunga mawar medium pink lalu berjalan menuju meja kasir.


"Sampai sekarang ayahku tidak pernah mencariku, umurku yang sudah menginjak tiga puluh tujuh tahun ini menandakan jika ayahku meninggalkanku selama tiga puluh tahun dan aku tidak pernah lagi melihat batang hidungnya" ucap wanita penjaga toko itu sembari membungkus beberapa bunga mawar medium pink itu dengan pembungkus bunga, tidak lupa dia juga menghiasnya begitu indah lalu mengambil secarik kertas dan hendak menulis sesuatu disana.


"Aku tidak tahu apa ayahku sudah meninggal atau masih hidup, namun aku tidak peduli lagi dan jika aku bertemu dengannya suatu saat nanti.... aku hanya ingin menyambutnya, mungkin ayahku sama seperti tuan yang bingung harus mulai darimana jika bertemu" terdengar lembut wanita penjaga itu mengucapkannya


"Siapa nama anak perempuan tuan yang beruntung itu?" tanya penjaga wanita itu dengan senyuman hangat menatap Andrews


"Sarah.... Sarah Ari... tidak maksudku... Sarah Gates" jawab Andrews terbata, penjaga toko itu pun tersentak mendengar nama yang diucapkan oleh Andrews.


"Apa sesuai dugaan ku, Sarah yang selebgram itu?" tanya penjaga toko terkejut


"Iya kamu benar... Sarah yang itu" jawab Andrews, dengan senyum yang semakin merekah wanita penjaga toko itu menuliskan nama Sarah Gates di note. Tidak lupa dia menuliskan pesan, begitu selesai wanita itu memberikannya pada Andrews.


"Mawar dengan warna medium pink bisa digunakan sebagai ungkapan rasa cinta, tanda terima kasih dan rasa penyesalan. Maaf jika saya lancang, saya menuliskan pesan didalam note yang tertempel itu agar nona Sarah dapat memahami penyesalan tuan" ucap wanita penjaga toko, Andrews pun menerima bunga itu lalu membaca pesan yang tertulis.


Hanya ada satu kata yang tertulis disana dan kata itu adalah "Maaf", melihat pesan itu membuat Andrews terkejut lalu tatapan matanya kembali menatap wanita penjaga toko yang tersenyum menatap Andrews.

__ADS_1


"Kata itu adalah kata sihir.... sebesar apapun kesalahan kita telah menyakiti seseorang dimasa lampau... tapi kata 'Maaf' adalah kata yang mampu meruntuhkan segala kebencian. Semua orang tahu kata 'Maaf' tidak akan merubah segalanya, tapi dari kata itu segalanya akan dimulai kembali" dengan senyuman yang hangat


Bergemetarlah tangan Andrews saat itu karena mengingat tentang jahatnya dirinya telah meninggalkan Sarah, air matanya tidak mampu untuk Andrews tahan lagi dan mengalir deras melewati kedua pipinya. Penyesalannya telah meninggalkan anaknya membuat dirinya tidak kuasa lagi menahan segala gejolak emosi yang selama ini dia tahan akibat dari tekanan Arthur, terasa haru toko bunga itu ketika suara tangis Andrews terdengar.


__ADS_2