Aku Pinjam Dia

Aku Pinjam Dia
Kemenangan


__ADS_3

Pagi cerah disebuah rumah yang terlihat mewah dipuncak perbukitan pinggir kota, terlihat Jester membuka matanya disalah satu kamar yang berada didalam rumah itu. Seperti biasa Jester memulai aktifitasnya dari buang air kecil dikamar mandi dalam kamar, lalu melanjutkannya dengan menggosok gigi, bercermin dan merapihkan penampilannya. Setelah selesai, Jester berjalan keluar dari kamar mandi yang berada didalam kamar itu dan tidak lama terdengar ketukan pintu.


Dengan segera Jester membuka pintu kamar untuk melihat siapa yang mendatanginya pagi itu, William terlihat penuh semangat menatap Jester yang baru saja membukakan pintu untuknya. Sembari memberikan surat kepada Jester yang berisi undangan untuk melakukan rapat umum pemegang saham di Arielle Corp, dengan senyuman Jester menerima surat itu lalu membacanya dengan seksama.


"Pertunjukan dimulai nak!" penuh semangat William mengatakannya


"Apa tidak ada pergerakan dari kakek?" tanya Jester penasaran


"Kakekmu menutup diri di kamar sejak tahu berita ini dari Jeremy dan Burgess, sepertinya sekarang adalah pertaruhan terakhirmu" jawab William dengan penuh perasaan optimisme tinggi, Jester segera keluar dari kamarnya dan berjalan hendak menuju pelataran rumah


"Ayo papa, kita selesaikan ini" dengan perasaan senang Jester mengatakannya, Jester dan William berjalan menuju pelataran rumah namun ditengah jalan saat itu Julius mencegat mereka.


Dengan langkah yang terburu - buru serta ekspresi wajah yang menunjukkan kepanikan Julius mencegat Jester dan William untuk menyampaikan situasi dari Arthur yang dia ketahui. Ada perasaan bersalah dari diri Julius karena khawatir dirinya tidak lagi bisa membantu Jester secara diam - diam dari Arthur.


"Tuan muda, sepertinya tuan besar Arthur sedang merencanakan sesuatu untuk menjegal semua rencana anda" celetuk Julius ketika berpapasan dengan Jester


"Apa yang akan kakek lakukan?" tanya Jester penasaran


"Tuan besar Arthur memintaku untuk keluar dari kamarnya jadi Julius tidak tahu apa yang sedang tuan besar rencanakan" jawab Julius dengan khawatir, namun Jester seperti tidak terpengaruh dengan kekhawatiran Julius. Senyum penuh arti kemenangannya masih merekah diwajahnya, perasaan optimisme Jester membuat Julius semakin khawatir.


"Semua akan sesuai rencana pak Julius, nantikan kabar selanjutnya" celetuk Jester sembari kembali berjalan menuju pelataran rumah diikuti oleh William.


Dipelataran rumah, Jester menunggu seorang pekerja di kediaman Gates untuk membawakan mobil Mercedes Benz S450 dari garasi menuju depan pelataran. Begitu mobil itu terparkir sempurna didepan Jester, dengan segera Jester dan William menaiki mobil itu dan segera melajukan mobil itu menuju ke gedung perkantoran milik Arielle Corp. Satu jam lebih lima belas menit Jester dan William sampai didepan lobby kantor Arielle Corp, disana Sarah dan Jessica sudah menunggu kedatangan Jester dan William.


Jester, Sarah, William dan Jessica berjalan bersama menuju lantai enam dimana rapat umum pemegang saham akan diadakan, didalam suatu ruangan yang ada dilantai enam itu Jester melihat Jeremy dan Burgess dengan wajah pucat pasi menatapnya. Jester, William, Jessica dan Sarah duduk dikursi mereka masing - masing yang sudah tersedia, Sarah yang menjadi pemimpin rapat pun memulai meeting pada pagi itu.


Meeting yang berjalan alot karena penolakan Jeremy dan Burgess untuk menunjuk Jester menjadi presiden direktur membuat sedikit terjadi gesekan, tidak jarang diantara William, Jeremy dan burgess terjadi saling bentak. Namun jumlah suara menetapkan Jester untuk menjadi presiden direktur di Arielle Corp, Jeremy dan Burgess tidak dapat melakukan apapun disaat itu karena Jessica dan Sarah sebagai pemegang saham memilih Jester untuk memimpin perusahan.


Disana Jester menandatangani langsung kerjasama dan pengambilalihan perusahan Arielle Corp untuk menjadi anak perusahaan dari Exo Fashion and Style, begitu surat itu ditandatangani dengan segera Jeremy dan Burgess pun keluar dari ruangan dengan kekalahan mereka. Melihat kondisi sudah benar - benar sesuai dengan keinginan Jester, saat itu Jester dan Sarah bersorak bahagia begitu juga dengan William dan Jessica yang tertawa terbahak - bahak membayangkan kekalahan Arthur.


Jessica dan Sarah berniat untuk mengajak Jester dan William merayakan kemenangan itu, namun Jester menolaknya. Jester mengatakan jika tugasnya masih ada, perkataan Jester membuat William, Jessica dan Sarah heran karena semua rencana Jester sudah berjalan dengan sempurna. Dengan senyuman penuh perasaan lega, Jester mengatakan jika dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Naomi yang hampir satu bulan ini disekap oleh Arthur, mendengar jawaban Jester membuat Jessica dan Sarah memahami perasaan Jester.


Setelah Jessica dan Sarah memberikan ucapan semangat, Jester dan William meninggalkan gedung perkantoran itu untuk kembali menuju kediaman besar Gates. Diluar kantor saat itu Jester baru sadar jika pagi sudah berganti dengan sore hari yang mendung dengan sedikit rintik hujan, jantung Jester pun mendadak berdebar cukup keras menatap langit mendung. William yang merasakan hati Jester tiba - tiba menjadi tidak tenang pun akhirnya bertanya tentang kenapa tiba - tiba Jester kehilangan senyumnya, dengan perasaan khawatir Jester mengatakan jika mendung dan sedikit hujan seperti ini sering kali menjadi pertanda yang tidak baik untuknya.


Dengan tawa keras William merespon kecemasan Jester, William pun berusaha untuk meningkatkan kembali semangat Jester. Namun Jester hanya merespon usaha William dengan helaan nafas dan sebuah senyuman, kemudian mereka berdua kembali melanjutkan perjalan untuk pulang ke kediaman besar Gates. Satu jam lima belas menit berlalu dan Mercedes Benz S450 yang dinaiki oleh Jester dan William sampai didepan pelataran kediaman besar Gates, disana penjagaan terlihat lebih longgar terlihat dari tidak adanya penjaga pintu utama rumah.


Pemandangan yang membuat Jester dan William heran, kakinya melangkah perlahan untuk masuk kedalam rumah dan didalam rumah terlihat Julius sudah menunggu kedatangan Jester. Dengan senyuman Julius menatap Jester lalu memberikan gestur tangan agar Jester mengikutinya, tanpa banyak tanya Jester dan William segera mengikuti William untuk menuju salah satu ruangan yang dulu menjadi tempat pertama kali untuk Jester bertemu dengan Arthur dan menerima tantangan dari Arthur. Julius membuka pintu itu dan mempersilahkan Jester dan William untuk masuk, didalam itu Jester melihat Arthur, Andrews, Phillips, dan Naomi sudah berada didalam ruangan seakan sedang menunggu kedatangan Jester.


Jester dan William berjalan masuk untuk mendekati posisi Arthur, Andrews, dan Phillips yang berdiri didepan kursi mereka masing - masing, sedangkan Naomi terlihat berdiri disebelah kanan Arthur. Tatapan matanya terlihat senang saat melihat Jester setelah sebulan penuh mereka tidak saling bertemu, air mata Naomi pun tidak terbendung karena terlalu bahagia.

__ADS_1


"Naomi..." gumam Jester dengan nada yang terdengar lega melihat kekasihnya baik - baik saja.


"Gates muda, aku tidak percaya kamu bisa mengelabuiku dengan baik. Sikapmu yang tenang dan terkesan bodoh itu membuat aku mengurangi kewaspadaanku terhadapmu, aku terkesan dengan operasi senyapmu untuk menjadikan Arielle Corp menjadi anak perusahaan Exo yang membuat Exo menjadi nomor satu mengungguli Arielle Corp dan membuat Julius yang menjadi tangan kananku mengkhianatiku. Kamu layak untuk menjadi penerusku, apa kamu puas dengan pencapaianmu ini?" tanya Arthur dengan suara yang terdengar berat dan menekan


Kalimat sapaan sekaligus pujian juga sindiran terlontar dari Arthur untuk Jester dan membuat semua yang berada disana kembali tegang dan takut akan apa yang akan dilakukan Arthur pada Jester.


"Tidak" jawab Jester tegas, jawaban Jester membuat Arthur, Andrews, William, Phillips dan Naomi terkejut.


"Apa yang membuatmu tidak puas?" tanya Arthur terdengar heran


"Karena semua ini membuatku kehilangan satu bulan penuh masa remajaku dan masa perkuliahanku yang menyenangkan, aku kesepian karena ketidakhadiran Naomi, dan lebih parah lagi.... aku harus mengetahui beberapa fakta yang membuatku sedih" jawab Jester dengan nada yang terdengar sedih.


"Fakta?" tanya Arthur


"Paman Andrews adalah orang yang tidak jauh berbeda denganku dan papa, dia orang yang suka bercanda dan penyayang tapi.... semua kekangan kakek membuat paman menjadi orang yang dingin, belum lagi tentang paman yang meninggalkan Sarah.... aku telah menyaksikan hancurnya sebuah keluarga..." jawab Jester


"Anak - anak paman Philips juga dalam keadaan tertekan dan paman Phillips memintaku untuk memulangkan kedua anaknya itu agar dapat berkuliah dijurusan seni, aku pikir paman Phillips adalah orang cuek namun ternyata semua itu hanya ketika ada kakek disekitar kami... aku telah menyaksikan seseorang untuk selalu menggunakan topeng dan tidak bisa mengekspresikan dirinya sendiri..." lanjut Jester dengan suara yang semakin tegas


"Terakhir.... aku sudah berjanji pada Naomi untuk melakukan semuanya secara bersama - sama, mungkin benar jika Naomi punya tugasnya sendiri untuk membantuku namun dalam satu bulan ini aku benar - benar merasakan kesepian atas ketidakhadirannya disisiku... aku menyaksikan hidupku yang hampa tanpanya..." dengan nada yang terdengar sedikit ada kemarahan saat Jester mengucapkannya


"Kakek, apa kamu bahagia sekarang? aku sudah mengalahkanmu dan memenuhi harapanmu kan? mungkin caraku tidak kakek sukai tapi tidak perlu kakek risaukan dengan cara apa aku melakukannya, aku hanya akan memberikan yang terbaik dan mencari cara paling sedikit menyakiti orang. Apa kamu senang sekarang?" tanya Jester dengan menekan, Arthur pun tertawa mendengar perkataan Jester.


Sebuah luapan emosi yang menggebu disampaikan oleh Jester, kelembutan hati Jester yang penuh dengan empati membuatnya ingin sekali keluarga besar Gates menjadi sebuah keluarga yang hangat. Andrews dan Philips yang mendengar keluhan Jester sangat terkejut namun sekaligus bangga terhadap keponakannya itu, bertahun - tahun baik Andrews maupun Philips hanya berani mengikuti aturan dari Arthur dan tidak berani menolak apapun permintaan Arthur, mereka berharap keluhan dan kehadiran Jester mampu mengembalikan kehangatan yang pernah ada dikediaman besar Gates.


"Ingat - ingatlah perkataanku dan kamu harus siap menghadapi apapun rintangan yang sudah menunggumu didepan, dengan ini aku resmi memberikan kursi presiden direktur di Gates Family Grup kepadamu" tegas Arthur mengatakannya sembari menepuk kedua pundak Jester, mendapat tepukan dikedua pundaknya saat itu membuat Jester tertegun mamandangi wajah Arthur yang tersenyum.


Arthur berbalik dan menatap Naomi lalu memanggil Naomi dengan gestur tangan agar Naomi turun mendekatinya, mendapat gestur tangan itu dengan segera Naomi berjalan melewati beberapa anak tangga untuk mendekati Arthur yang memunggungi Jester. Tangan besar Arthur menepuk pundak kanan Naomi, dengan senyuman yang terlihat hangat Arthur menatap Naomi.


"Jaga dia nak, Jester terlalu naif menjadi orang. Kamu dan dia akan saling melengkapi.... dengan ini aku merestui pernikahan kalian" tegas Arthur mengatakannya, lalu Arthur menepuk kedua tangannya dan tiba - tiba semua pekerja didalam rumah itu masuk kedalam ruangan dengan rapih dan tertib.


"Kalian semua dengarkan aku!! aku bukanlah lagi tuan kalian melainkan Jester yang akan memimpin kalian semua, tunjukkan kesetiaan kalian pada tuan baru kalian!!" agak berteriak Arthur mengucapkannya, suara Arthur begitu menggema saat itu dan membuat Jester merasa merinding. Pekerja itu langsung membungkuk memberikan penghormatan kepada Jester, secara serentak mereka mengucapkan satu kalimat secara bersama - sama.


"Kami setia pada tuan besar Jester Gates!!" serentak semua pekerja mengucapkannya, Jester sampai berputar perlahan menatap semua pekerja yang memenuhi dan mengelilinginya sembari menunduk itu.


"Jester, aku ijin untuk istirahat" dengan lembut Arthur mengucapkannya lalu berjalan hendak meninggalkan ruangan


"Kakek!" celetuk Jester ketika Arthur baru beberapa kali melangkah, Arthur menghentikan langkahnya sejenak dan menoleh menatap Jester.


"Ada dua hal lagi yang ingin aku minta dari kakek" pinta Jester

__ADS_1


"Katakan saja" ucap Arthur


"Pertama tentang Sarah, dia ingin berbicara denganmu langsung untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi" ucap Jester dengan tegas


"Baiklah, aturkan saja pertemuanku dengannya" Arthur menerima permintaan Jester


"Kedua.... bisakah hubungan kita lebih baik sebagai kakek dan cucunya? menjalani hidup sebagai William itu salah satunya adalah menghargai ikatan kekeluargaan" pinta Jester, Arthur tertegun sejenak sembari terus menoleh menatap wajah Jester yang tepat berdiri dibelakangnya.


"Hidup seperti William ya, aku tidak terlalu mengerti namun permintaan keduamu akan kita bicarakan lagi nanti" jawab Arthur lalu kembali berjalan meninggalkan ruangan itu diikuti oleh Andrews dan Phillips


Jester hanya terus menatap Arthur yang berjalan menjauhi mereka menuju pintu keluar dibelakang kursi singgasana, sempat melamun namun lamunan itu segera pecah sesaat ketika Naomi tiba - tiba memeluk Jester begitu erat. Naomi membenamkan wajahnya didada bidang Jester, sedangkan Jester menatap ubun - ubun Naomi dengan senyum lalu mengelus kepala Naomi dengan lembut.


"Aku merindukanmu~" celetuk Naomi sembari mendongakkan kepalanya menatap wajah Jester


"Aku jauh lebih merindukanmu" timpal Jester dengan suara yang terdengar senang, Naomi menggelengkan kepalanya beberapa kali seakan menolak perkataan Jester.


"Aku lebih merindukanmu daripada kamu merindukanku" balas Naomi tidak mau kalah dari Jester, mendengar perkataan Naomi membuat Jester kesal.


"Tidak tidak Naomi, aku yang sangat merindukanmu dan melebihi rindumu padaku" timpal Jester tidak ingin kalah dari Naomi, dengan wajah marah Naomi kini menatap Jester.


"Aku yang pertama mengucakan rindu padamu, berarti aku yang lebih merindukanmu tahu!!" dengan sedikit bentakan Naomi mengatakannya


"Tapi itu tidak adil karena aku tadi sempat melamun, jika saja tadi aku tidak melamun maka aku sudah mengatakan rindu padamu lebih dulu" dengan nada kesal Jester mengucapkannya, pertengkaran Jester dan Naomi terus berlanjut sampai membuat William harus turun tangan


"Oorraaahh!!!" teriak William sembari membanting Jester dengan teknik judo, melihat kekasihnya yang dibanting begitu saja didepan matanya membuat Naomi terkejut sampai tidak dapat berkata apa - apa.


"Ugh!! papa!! apa - apaan itu?! adduuuh duhh!" rintih Jester sembari berguling - guling dilantai


"Hidup seperti William mengajarkan kita untuk mengalah pada wanita nak, apa kamu melupakan ajaran itu?!" bentak William, Jester pun berdiri dan berusaha untuk membalas perbuatan William. Aksi saling banting dengan teknik judo pun tidak terhindarkan dihadapan Naomi, tidak lama Naomi tertawa terbahak - bahak sampai membuat William yang memiting Jester mengalihkan pandangannya menatap Naomi.


"Apa yang kamu tertawakan nona Naomi?" tanya William dengan heran, sejenak Naomi berusaha untuk berhenti tertawa.


"Sakit...." gumam Jester yang masih dipiting oleh William.


"Aku tidak tahu papa... mungkin karena aku sudag terbiasa dengan pemandangan seperti ini, semoga papa tidak keberatan dengan caraku tertawa" jawab Naomi yang masih sedikit tertawa, William melepaskan pitingannya lalu berdiri dan meremas kedua bahu Naomi.


"Papa tidak keberatan nona Naomi! tertawalah sampai kamu puas!!" terdengar senang saat William mengatakannya, Jester mengalihkan pandangannya menatap William dengan kesal.


"Papa aneh" gumam Jester

__ADS_1


Mereka bertiga meninggalkan ruangan itu dengan penuh canda tawa, ketiganya berjalan bersama menyusuri koridor rumah menuju kamar William dan Marrie. Begitu sampai didalam, ketiganya melihat Marrie yang menatap jendela kamar dengan wajah khawatir. Mengetahui seseorang masuk kedalam kamar membuat Marrie pun berbalik dan menatap William, Jester dan Naomi, senyum Marrie merekah melihat kehadiran Naomi.


Dengan berlari cukup cepat Marrie segera mendekati Naomi dan memeluknya dengan erat, Marrie juga mencurahkan betapa khawatirnya dia akan kondisi Naomi yang disekap oleh Arthur. Mendapatkan pelukan hangat dan perasaan penuh rasa khawatir itu membuat Naomi terharu, tidak terasa air mata Naomi pun menetes dari kedua matanya lalu membalas pelukan Marrie.


__ADS_2