
Maaf... maaf... maafkan aku Jester... hanya itu yang tertanam dihati dan pikiran Naomi, remuk hatinya karena kejadian yang tidak pernah dia duga akan terjadi padanya. Dihancurkan oleh sosok yang pernah begitu dia cintai dan pernah mengisi hari - harinya dengan penuh kebahagiaan didalam relung hatinya, Daniel kini menjelma menjadi sesosok monster yang begitu menakutkan dan kejam bagi Naomi.
Menghancurkan hati yang sudah menjadi kepingan karena luka yang telah dia torehkan dihati Naomi, raganya terluka, membekas dan membiru... semua luka fisik itu terasa sakit namun tidak sesakit hatinya. Setiap mengingat sentuhan Daniel menjadikan Naomi merasa jijik, membuat Naomi membenci dirinya, hingga membuatnya mengutuk dirinya. Hati yang pernah berdamai dengan kehadiran Daniel yang pernah menyakitinya kini lenyap sudah, berganti dengan perasaan benci dan takut yang terus mengerogoti akal sehatnya.
Benaknya pun meracau dan batinya begitu menderita melihat penerimaan Jester terhadap dirinya, dalam benaknya berfikir 'aku tidak pantas... aku tidak pantas.... aku tidak pantas untukmu.... aku terlalu hina untukmu Jester... tinggalkan aku... jangan peluk aku sekuatĀ ini... kamu berhak bahagia dan mendapatkan yang terbaik... bukan aku... bukan aku....'
Saat itu pelukan Jester yang biasanya menenangkan bagi Naomi kini berubah menjadi pelukan yang terasa memilukan dihatinya, hanya derai air mata yang mampu Naomi berikan... bahkan pelukan Jester pun tidak mampu Naomi balas. Mentalnya benar - benar sudah hancur.
Senin menjelang siang yang mendung, sebuah Mercedes Benz V260 terlihat melaju dengan kecepatan rendah dijalan cluster perumahan. Mobil itu pun mulai melambat ketika hendak masuk kedalam garasi disalah satu rumah, tidak butuh waktu lama sampai mobil itu sudah terparkir sempurna didalam garasi rumah. Jester terlihat turun dari dalam mobil dan segera berlari menuju pintu kursi penumpang depan, begitu terbuka dia langsung kembali membopong Naomi yang tubuhnya tertutupi selimut hotel. Jester membopong Naomi hingga sampai kedalam kamar, menidurkannya dikasur, lalu segera ingin pergi dari tempat itu.
"Jess...." celetuk Naomi ketika melihat Jester akan pergi
"Aku tidak akan kemana - mana, hanya saja kamu butuh ruang untuk mengganti bajumu kan. Selesai berganti, aku akan kembali dan menemanimu" timpal Jester lalu kembali beranjak untuk keluar dari kamar
Untuk beberapa saat Naomi masih terdiam menatap langit - langit kamar, seakan masih tidak mempercayai apa yang baru saja terjadi padanya. Tidak beberapa lama, Naomi menggerakan tubuhnya dan hendak mengganti pakaian yang sudah penuh dengan sobekan itu. Namun ketika bergerak, rasa sakit dan linu disekujur tubuh akibat dari perbuatan kasar Daniel padanya kini mulai terasa. Merasakan sakit pada setiap bagian tubuhnya membuat Naomi mencari sebab sakit dibeberapa bagian tubuhnya yang memang terlihat memar, seketika itu ingatannya akan percobaan pemerkosaan yang hendak dilakukan Daniel kembali terputar dikepalanya.
"AAAAAA!!!!" teriak Naomi ketika itu, perasaan marah, malu, trauma dan seakan jijik pada dirinya sendiri menguasai pikirannya
"Naomi!!" Jester berlari masuk kedalam kamar dengan panik dan melihat Naomi yang saat itu duduk dipojokan kasur memegang kepalanya dan terus berteriak, dengan sigap Jester memeluk Naomi berusaha untuk memberinya rasa aman. Namun bagi Naomi ketika merasakan pelukan Jester saat itu malah membuat Naomi tersentak, matanya pun terbelalak dan tubuhnya bergemetar hebat.
"Jester!!! Tolong!!!" teriak Naomi, namun saat itu tangannya mendorong Jester dengan kuat lalu menjauhi Jester hingga bersandar ke dipan kasur dan menatap Jester dengan sorot mata yang ketakutan.
"Ini aku.... Naomi..." terkejutlah Jester melihat keanehan tingkah Naomi saat itu, menyadari dihadapannya adalah Jester membuat sorot mata ketakutan Naomi pun berangsur - angsur menghilang dan berganti sedih.
"Jess..... tolong aku...." lirih Naomi mengatakannya, mendengar permintaan Naomi itu membuat Jester tertegun bingung apa yang harus dia lakukan disaat seperti ini. Hatinya begitu sakit melihat Naomi yang seakan mendapatkan gangguan mental, agak lama tertegun Jester mulai mengatur nafas untuk menenangkan pikiran.
"Iya aku akan menolongmu, katakan saja..." dengan lembut Jester mengatakannya, Jester kembali mendekati Naomi dan menyelimuti tubuh Naomi yang masih mengenakan pakaian penuh dengan sobekan yang membuat tubuhnya pun tersingkap.
"Aku... mau mandi.... banyak yang harus aku bersihkan dari tubuhku... aku sudah tidak tahan..." terdengar pilu Naomi saat mengatakannya, Jester pun langsung membopong Naomi lalu membawanya ke kamar mandi. Didalam kamar mandi itu Jester membantu Naomi untuk berdiri dan mendekat ke shower
"Aku didepan pintu, kalau kamu butuh sesuatu teriak saja" ucap Jester lalu meninggalkan Naomi didalam kamar mandi itu, tidak lama suara shower menyala pun terdengar ditelinga Jester yang sudah berdiri tidak jauh dari pintu masuk kamar mandi.
Jester saat itu terdiam sambil memejamkan mata dan berfikir apa yang harus dia lakukan untuk menolong Naomi, larutlah Jester dalam lamunannya. Tidak terasa hampir enam puluh menit berlalu dan Jester tersadar dari lamunannya, Jester yang menyadari Naomi tidak juga kunjung keluar dari kamar mandi pun kini menjadi cemas. Dia mendengar suara shower yang masih menyala dan terdengar air begitu deras mengguyur keluar, karena cemas Jester pun mengetok pintu kamar mandi.
"Naomi... kamu baik - baik saja?" tanya Jester sambil mengetok pintu, namun tidak ada jawaban dari Naomi. Hal itu membuat Jester semakin khawatir, dengan sigap Jester langsung membuka pintunya dan berlari menuju shower dimana Naomi seharusnya berada.
Jester melihat Naomi duduk meringkuk diguyur air yang keluar dari shower, ditempat itu terlihat begitu berantakan dengan tempat sabun, sampho, conditioner dan lain - lainnya yang tergeletak dilantai seakan habis dilempar oleh Naomi. Masih dapat terlihat sisa busa - busa yang begitu banyak seakan Naomi menghabiskan semua perlengkapan mandi yang ada dikamar mandi itu, dengan masih mengenakan baju yang robek - robek itu Naomi terlihat penuh dengan sisa - sisa busa yang belum terbilas bersih.
__ADS_1
"Naomi..." celetuk Jester
"Tidak hilang.... noda itu tetap tidak hilang meski aku sudah membersihkannya.... aku sudah menggosoknya dengan kuat.... sudah gunakan semua pembersih.... tapi noda ini tidak mau hilang... tolong aku.... Jester...." suara Naomi pun semakin terdengar pilu membuat Jester semakin emosi jika mengingat siapa yang membuat Naomi menjadi seperti ini
Perlahan Jester berjalan mendekati Naomi dengan membawa handuk yang tersedia didekatnya, dia mematikan shower lalu menghanduki Naomi dengan lembut semampunya dan berusaha mengeringkan tubuh Naomi. Kemudian Jester menyelimuti tubuh Naomi dengan handuk itu dan kembali membopong Naomi untuk keluar dari kamar mandi hendak membawanya kedalam kamar, ketika melintasi lorong utama rumah Jester melihat Luna dan Selena baru sampai dirumah yang nampak terkejut melihat kondisi Naomi dan Jester.
"Luna... bantu aku mengeringkan tubuh Naomi" pinta Jester ketika Luna dan Selena hanya terdiam menatapnya dengan wajah menunjukkan keterkejutannya, Luna hanya mengangguk merespon permintaan Jester.
Mereka pun masuk kedalam kamar dan Jester membaringkan tubuh Naomi dikasur lalu segera beranjak keluar kamar, berjalan termenung menuju ruang keluarga dan duduk disalah satu sofa menghadap kekolam. Pikiran Jester pun mulai kacau memikirkan keadaan Naomi, perasaan bersalahnya semakin mengerogoti emosinya. Tatapan matanya saat itu menunjukkan seberapa dendam dia kepada Daniel, namun lamunannya terganggu saat mendengar suara langkah kaki yang mendekat.
"Gimana keadaanya?" tanya Jester tanpa menoleh menatap Luna dan Selena yang baru saja akan masuk kedalam ruang keluarga
"Dia sedang tidur, kejadian itu membuatnya sangat terpukul... kamu harus sabar menghadapinya kak" jawab Luna terdengar sedih
"Apa Luke melakukan tugasnya dengan baik?" tanya Jester lagi terdengar tenang namun Luna dan Selena tahu Jester sangat marah saat ini, dengan helaan nafas Selena hendak menjawab pertanyaan Jester.
"Kak Luke mematahkan tangan kiri dan kaki kanan Daniel, dia pingsan ditempat dan kak Harry yang memanggil pertolongan buat Daniel" jawab Selena
"Kenapa Harry memanggil pertolongan? dia memihak siapa?" tanya Jester lagi, tersirat amarahnya kepada Harry saat itu.
"Kak bukan gitu, jika tidak ditolong kak Luke akan menghadapi masalah berat melakukan pembunuh..." belum selesai Selena berkata, Jester memotong.
"Kamu sedang emosi, jangan pikirkan masalah ini dulu" timpal Selena terdengar kesal, Jester pun berdiri dan hendak pergi dari tempat itu.
"Kak!! kamu mau kemana?!!" bentak Selena ketika melihat Jester yang hendak pergi
"Aku akan pastikan dia kehilangan nyawanya hari ini" jawab Jester dengan tenang, Luna dan Selena pun terlihat emosi dengan jawaban Jester.
"Kalau kamu lakukan dan kamu masuk penjara, Naomi akan semakin dihantui rasa bersalah!!!" bentak Selena
"Kak!! kamu harus tenang!! fokusmu seharusnya pada Naomi dan bukan dendam sesaatmu!!!" Luna pun ikut membentak Jester, bentakan dari kedua orang ini mampu menghentikan langkah Jester. Saat ini Luna dan Selena menghadapi hal yang juga berat, harus memikirkan dan membantu memulihkan keadaan Naomi dan juga berusaha keras meredam amarah Jester. Bukan hal yang mudah tapi mereka berusaha sekeras mungkin agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.
"Naomi sangat memerlukan sosokmu untuk terus berada disampingnya, saat ini mentalnya tergunjang!! kamu sendiri sudah dengar, dia meneriakkan namamu dan tentu berharap kamu akan datang untuk menolongnya!!" Luna kembali membentak Jester sambil berjalan mendekat lalu menepuk pundaknya, tepukan itu membuat Jester menoleh menatap Luna.
"Naomi membutuhkan kamu untuk berada disisinya dan bukan membutuhkanmu untuk membalaskan dendamnya, jangan sampai kamu salah mengartikan permintaan Naomi dan membuatmu menyesal dikemudian hari" tegas Luna mengatakannya untuk meyakinkan Jester dan berusaha meredam emosinya, tatapan mata penuh perasaan dendam Jester pun berangsur menghilang.
"Aku mengerti...." Jester terdengar mulai tenang dan kembali menundukkan kepalanya
__ADS_1
"Pergilah kekamar dan temani dia, saat bangun dia pasti akan sangat senang langsung melihat keberadaanmu" saran Luna pada Jester yang masih terlihat murung, Jester hanya menganggukkan kepalanya lalu berjalan menuju kamar meninggalkan Luna dan Selena diruang keluarga.
"Gimana ini? waktumu semakin sempit dan kejadian ini akan mengganggu rencanamu" tanya Selena terdengar khawatir
"Masih ada dua puluh hari lagi, aku masih punya banyak waktu untuk melakukan semua check list ku" jawab Luna dan tersenyum menatap Selena
"Bukankah sekarang jadwalmu untuk konsultasi? apa perlu kita berangkat sekarang?" tanya Selena lagi
"Tidak perlu, dia juga pasti sudah kembali bekerja dan aku menolak untuk menemuinya ditempat kerja. Biarkan saja, nanti aku telepon papa buat atur ulang jadwal, aku pinjam ponselmu lagi yak" jawab Luna dengan sedikit tertawa, Selena pun tertawa kecil.
"Dasar... setidaknya belilah handphone sendiri..." suara Selena pun terdengar sedih saat mengatakannya, namun Luna hanya tertawa merespon perkataan Selena.
Disaat bersamaan pada siang hari dikampus, kampus itu masih terlihat ramai dengan mahasiswa dan mahasiswi yang sibuk dengan kegiatan kampus mereka masing - masing. Tidak terkecuali Justin dan Grece yang sedang berjalan dilorong kampus menuju parkiran mobil, Grece terlihat menatap layar handphone dengan wajah yang cemas. Kecemasan Grece membuat Justin tersenyum, karena bagi Justin raut wajah Grece saat cemas terlihat lucu dan imut.
"Kamu selalu cantik saat menunjukkan kecemasanmu" celetuk Justin ditengah kebisuan mereka, celetukan itu membuat Grece sebal pada Justin.
"Aku ini benar - benar cemas tahu!" bentak Grece
"Kamu ini cemas karena teman - teman gak ada yang mengangkat teleponmu atau cemas band kita hancur berantakan sebelum tampil?" tanya Justin dengan sedikit tertawa, Grece pun membuang muka ketika mendengar pertanyaan Justin.
"Tentu saja aku cemas karena teman - teman menghilang tiba - tiba!!" jawab Grece dengan sedikit bentakan, raut wajah Grece terlihat marah.
"Naomi bilang band nya dibatalkan loh waktu kita ke acara ulang tahun Jester" timpal Justin dengan suara yang menggoda Grece
"Tidak!!! jangan gitu donk!!! benarkah Naomi mengatakan itu?!!" dengan panik Grece mengatakannya sambil menatap Justin, namun Justin justru tertawa terbahak - bahak. Merasa dikerjai Grece pun marah pada Justin dan memukulinya bertubi - tubi
"Maaf... maaf... ahaha..." ucap Justin sambil berusaha menahan setiap pukulan Grece
"Aku marah sama kamu!!" timpal Grece dengan bentakan, Justin pun berusaha menahan tawanya.
"Iya... iya... maaf ya cantik...." ucap Justin sambil memegang dagu Grece seakan dia akan mencium bibirnya, wajah Grece pun memerah karena malu.
"Jus... Justin... in..ini kampus..." terbata Grece mengatakannya, tiba - tiba Justin melepaskan tangannya dari dagu Grece lalu membalik badannya sambil menghela nafas.
"Iya aku tahu, emang apa yang kamu pikir akan aku lakukan padamu dikampus?" dengan suara yang menggoda Justin bertanya, Grece semakin marah karena sikap Justin yang terus mengerjainya. Grece pun kembali memukuli Justin bertubi - tubi penuh dengan emosi, namun Justin hanya tertawa sambil menahan setiap pukulan Grece.
"Eeh tapi... perlukah kita kerumah Naomi? semua teman - teman tidak ada yang merespon dan tidak ada kejelasan bagaimana nasib band kita, padahal kurang dari tiga bulan lagi untuk penampilan perdana kita" celetuk Justin agar Grece berhenti untuk memukulinya, sejenak Grece terhenti sambil menatap Justin.
__ADS_1
"Iya ya... kalau gak bisa dihubungi, kenapa gak kerumahnya aja. Yuk berangkat!!" dengan penuh semangat Grece mengatakannya sambil menarik tangan Justin agar segera berlari menuju parkiran kampus, perubahan sikap Grece yang selalu tiba - tiba itu membuat Justin semakin tertawa.