Aku Pinjam Dia

Aku Pinjam Dia
Uluran Tangan


__ADS_3

Pagi yang cerah disebuah cluster perumahan mewah, disalah satu rumah dengan akses khas jepang sebuah Mazda 2 terlihat terparkir tepat didepan rumah. Seorang berpakaian tuxedo hitam berjaga didepan pintu masuk utama rumah yang terbuka, lebih kedalam rumah diruang keluarga terlihat Camilla dengan selimut yang menutupi seluruh badannya sedang meniup secangkir teh hangat yang ada ditangannya.


Wajah Camilla terlihat memar - memar dan pucat pasi karena kedinginan sejak semalam berada di pelataran rumah Jester, tubuhnya tampak bergemetar hebat dan tatapan matanya kosong menatap teh hangat yang berada ditangannya. Tidak lama Jester masuk kedalam ruang keluarga dan duduk di sofa berhadapan dengan Camilla, dengan helaan nafas Jester terlihat bingung dengan hadirnya Camilla dirumah itu.


"Sayangnya aku tidak memiliki makanan apapun disini, tapi aku sudah meminta supirku untuk mencarikan mu sup hangat diluar" celetuk Jester memecah keheningan, perlahan mata Camilla menatap Jester.


"Terima kasih" ucap Camilla singkat lalu kembali menatap teh yang belum sempat dia teguk


"Aku sebenarnya tidak ingin terburu - buru menanyakan ini setelah melihat kondisimu, tapi... akan bahaya jika teman - teman tahu aku menerimamu dirumah ku dengan Naomi ini. Jadi Camilla, kenapa kamu kesini?" tanya Jester sedikit menekan, perlahan tangan Camilla mendekatkan cangkir ke bibirnya dan meminum sedikit demi sedikit teh hangat itu. Tidak lama Camilla meletakkan cangkir teh dimeja dan menatap Jester, keduanya saling tatap namun masih terdiam.


"Apa ini salah satu rencana mu yang lain untuk membalas dendam?" tanya Jester Memecah keheningan


"Tidak... ini tidak ada hubungannya dengan itu... sebenarnya semalam..." Camilla menggantungkan kalimatnya lalu membuang muka menghindari kontak mata dengan Jester


"Ada apa?" tanya Jester lagi


"Maaf aku mengganggumu dan terima kasih atas tehnya" jawab Camilla lalu dia pun berdiri hendak pergi dari tempat itu


"Camilla!" teriak Jester sembari menggenggam lengan Camilla yang dingin itu untuk menahannya agar tidak pergi, Jester sampai terkejut merasakan lengan Camilla sampai sedingin itu.


Ada keanehan yang Jester rasakan dengan kehadiran Camilla dirumahnya dalam kondisi yang memprihatinkan, lebih lagi Camilla merupakan otak dibalik rencana Daniel untuk menyerang dirinya dan Naomi. Lalu apa yang menjadikan rumah Jester sebagai tujuan Camilla.


"Jika kamu memang enggan untuk berbicara denganku, kamu tidak akan datang kesini dan menunggu hingga semalaman. Katakan padaku ada apa, aku akan mendengarkan" ucap Jester dengan tekanan


"Semalam aku begitu bingung dan tidak tahu harus kemana... entah kenapa... wajahmu terbayang - bayang terus didalam kepalaku... dan disinilah aku sekarang... mengganggu pagi mu..." ucap Camilla terbata


"Oke... lalu?" tanya Jester lagi mencoba membuat Camilla berbicara


"Aku diusir oleh ibuku setelah sebelumnya aku dan ayahku bertengkar tentang kamu, aku tidak ingin lagi menuruti perintahnya dan membuat ayahku begitu marah padaku..." jawab Camilla, mendengar perkataan Camilla membuat Jester merasa miris.


"Jadi lebam - lebam di wajahmu itu..." belum selesai Jester berkata, Camilla memotong.


"Iya... ini adalah hal yang seharusnya terjadi setiap hari sebelum ayahku memberi perintah agar aku mendekatimu dan berpacaran denganmu... aku sudah menceritakannya padamu kan..... sekarang tolong lepaskan aku" timpal Camilla


"Kamu mau kemana?" tanya Jester dengan tekanan


"Aku...." Camilla menggantung kalimatnya dan terdiam untuk beberapa saat.


Sebuah pertanyaan Jester lontarkan kepada Camilla yang membuat Camilla bingung untuk menjawabnya, bahkan jika pertanyaan itu dia ucapkan sendiri pun Camilla tidak mampu untuk menjawab. Selama ini Camilla hanya hidup bersama kedua orang tuanya, terlebih ketika keluarganya jatuh miskin. Kehidupan mereka harus tergusur jauh ke pelosok desa dan membuat Camilla hanya memiliki ayah dan ibunya sebagai keluarga satu - satunya.

__ADS_1


"Kamu tidak punya tujuan kan?" tanya Jester lagi memecah keheningan diantara mereka, namun Camilla terdiam dan tidak menjawab pertanyaan Jester.


"Kamu tidak punya apapun dan juga tujuan, itu kenapa kamu mendatangiku kan?" tanya Jester lagi menekan Camilla, dengan penuh emosi Camilla berbalik dan menatap wajah Jester.


"Kalau iya kenapa?!! apa kamu ingin menginjak ku setelah kamu tahu aku tidak punya apapun dan tujuan?!! kamu ingin menginjak ku karena aku ingin meminta bantuan mu?!!! itu yang ada di kepalamu kan?!!! semua orang..." belum selesai Camilla berkata, Jester memotong.


"Itu sudah cukup untuk meminta tolong padaku, aku akan menolong mu tanpa meminta apapun darimu sebagai imbalan" timpal Jester dengan tegas dan membuat Camilla terdiam


"A..apa?" tanya Camilla yang terlihat terkejut itu, Jester melepaskan genggaman tangannya di lengan Camilla.


"Aku bilang aku akan menolong mu tanpa meminta imbalan apapun darimu, jadi aku harap kamu juga bekerjasama denganku. Teman - temanku akan sangat marah jika tahu aku menolong mu, aku hanya memintamu untuk diam dan tidak mengatakan apapun tentang semua bentuk pertolonganku. Apa aku bisa mempercayaimu?" tanya Jester kepada Camilla yang tertegun menatap mata Jester


Terkejut Camilla akan perkataan Jester. Dengan semua yang dia lakukan terhadap Jester, Camilla merasa seharusnya Jester tidak membantunya dan malah melakukan pembalasan atas perbuatannya saat itu.


"Ke.. kenapa..?" tanya Camilla terbata


"Sebagai bentuk permohonan maaf ku atas perlakuan keluarga besar ku... aku tidak ingin kamu memandang dunia seburuk yang kamu lihat sekarang" jawab Jester dengan penuh penyesalan


Untuk sejenak kalimat Jester terngiang didalam kepala Camilla bersamaan dengan perkataan terakhir ibunya, sebuah kalimat yang sama persis dan sulit untuk Camilla percaya. Bagaimana bisa dia percaya, jika bahkan orang tuanya saja begitu kejam kepadanya. Ucapan Jester seperti sebuah bualan bagi Camilla.


"Tidak.... tidak mungkin!! kamu pasti ingin memanfaatkan ku juga kan?!! katakan saja terus terang, apa yang kamu ingin kan!! Tubuhku kan?!! aku tahu Jester, aku tahu itu... ahahaha... tidak akan aku berikan tubuhku apapun yang akan kamu berikan padaku!!" teriak Camilla saat mengatakannya, wajah Jester semakin menunjukkan rasa iba nya menatap Camilla yang menggila itu.


"Apa... apaan wajahmu itu... kemari lah~ paksa aku~ itu kan yang kamu inginkan?" dengan nada manja Camilla mengatakannya, Jester menjulurkan tangan kanannya kearah Camilla.


Berkali - kali Camilla dihadapkan dengan pria hidung belang yang hanya menginginkan tubuhnya, semuanya menampilkan wajah yang sama. Tidak pernah ada ketulusan, yang ada hanyalah raut wajah yang seakan ingin segera menerkam dan menikmati tubuh Camilla begitu saja. Namun wajah yang Jester tunjukkan kepada Camilla begitu tulus, tidak pernah ada yang berubah dari Jester. Selalu sama seperti Jester yang Camilla kenal.


"Ke...kenapa...?" tanya Camilla lagi terbata


"Dunia tidak seburuk yang kamu duga Camilla... semua tergantung dari sudut mana kamu memandangnya dan aku menawarkan mu untuk melihat sisi lain dunia yang selama ini kamu pandang dengan buruk... hanya itu dan tidak lebih, kemari lah dan terima kebaikan seseorang" dengan lembut Jester menjawab pertanyaan Camilla, tangan Jester masih menjulur menunggu sambutan tangan Camilla.


Perlahan tangan Camilla terangkat menyambut tangan Jester, air matanya kini menetes deras membasahi pipinya. Kepalanya pun tertunduk dan membiarkan air mata membasahi tatami.


"Tolong aku..... tolong aku Jester..." ucap Camilla dengan lirih


Sebuah kalimat yang terdengar sangat memilukan bagi Jester harus dia dengar dari Camilla, wanita yang pernah mengisi relung hati Jester. Keceriaan yang selama ini Camilla tampakkan benar - benar mampu menutupi sisi kelam yang sudah dijalani Camilla, iba Jester dibuatnya. Penyesalan dan rasa bersalahnya kembali terasa, sisa dari kekejaman sang kakek terlihat dengan jelas kini dihadapan Jester. Hal itu membuat Jester tidak ingin mengulang kembali sejarah kelam Arthur Gates.


"tentu" jawab Jester dengan tegas


Tidak lama supir Jester masuk membawa tiga porsi sup hangat, dengan segera Jester menerima dua porsi sup hangat itu dan memberikan satunya untuk supir. Jester segera menyajikan sup hangat kepada Camilla dan mengajaknya makan bersama di ruang makan, perlahan Camilla berjalan keluar dari ruang keluarga dan menuju ruang makan.

__ADS_1


Mereka berdua makan bersama dalam keheningan, sejenak Jester tiba - tiba teringat kenangannya bersama Naomi ketika mereka selalu makan bersama diruang itu. Beberapa menit berlalu dan mereka selesai makan, Jester meminta supir untuk menunggunya didalam rumah karena Jester dan Camilla akan pergi berdua menggunakan Mazda 2 milik Camilla.


Jester masuk kebagian pengemudi dan Camilla duduk di penumpang depan, mereka berdua memulai perjalanan mereka menuju sebuah pusat perkantoran ditengah perkotaan. Diparkiran salah satu kantor, Jester dan Camilla keluar kemudian masuk kedalam salah satu gedung yang terlihat ramai oleh pengunjung. Disalah satu lantai, Jester dan Camilla bertemu dengan Jessica.


Camilla yang datang bersama dengan Jester cukup mencuri perhatian Jessica, untuk pertama kalinya Jester membawa teman wanitanya menuju kantornya. Camilla yang sejak awal selalu tertunduk saat itu juga membuat Jessica penasaran tentang apa yang terjadi pada Camilla.


"Jester? ada apa? aah kamu mengagetkanku dengan kedatangan mu yang tiba - tiba" ucap Jessica terdengar kaget, Jester tertawa kecil mendengar perkataan Jessica.


"Maaf bibi aku tidak memberi kabar sebelumnya, aku ingin minta pertolongan bibi" jawab Jester, mata Jessica beralih menatap Camilla yang masih menundukkan kepalanya.


"Baiklah... apa itu Jester?" tanya Jessica penasaran lalu kembali menatap mata Jester, dengan gestur tangan Jester memperkenalkan Camilla kepada Jessica.


"Dia temanku bernama Camilla McBride, mahasiswa seangkatanku dan terpintar nomor dua di kampus. Aku ingin bibi menerimanya bekerja disini atas rekomendasi ku, dia tidak akan merepotkan bibi dan jika masalah gaji... dia akan digaji langsung oleh Gates Family Grup"  pinta Jester pada Jessica, mendengar permintaan Jester membuat Jessica menatap Camilla dengan tajam.


"Hei angkat kepalamu dan biarkan aku melihat wajahmu" perintah Jessica pada Camilla, namun Camilla menolaknya dengan gelengan kepala.


"Bagaimana mungkin aku bisa mempekerjakan orang seperti..." belum selesai Jessica berkata, Jester memotong.


"Bibi... ada hal yang sebelumnya harus bibi tahu, dia..." belum selesai Jester berkata, Camilla mengangkat wajahnya dan menunjukkan wajahnya yang lebam - lebam itu.


"Astaga!! kenapa dengan wajahmu?!! Jester!! apa kamu yang melakukannya?!!" tanya Jessica panik, namun Jester berusaha menenangkan Jessica agar tidak menarik perhatian.


"Bibi... tenang dulu..." ucap Jester berusaha menenangkan Jessica


"Maaf... ini alasan aku tidak ingin menunjukkan wajahku sekarang tapi aku tidak ingin merepotkan Jester lebih dari ini... aku akan segera menutupi lebam - lebam ini..." celetuk Camilla kemudian kembali tertunduk, Jessica berusaha mengatur nafasnya agar dirinya lebih tenang.


"Baik... aku tidak tahu kenapa tapi aku tidak akan memaksamu berbicara kenapa kamu sampai seperti itu, asal bukan Jester yang melakukannya maka aku akan berusaha untuk diam" ucap Jessica berusaha untuk tenang, mendengar perkataan Jessica membuat Jester kesal


"Apa wajahku terlihat akan tega melakukan itu pada perempuan?" tanya Jester dengan kesal, Jessica menatap Jester dengan sinis.


"Kamu berdarah Gates" sindir Jessica


Sindiran Jessica terhadap Jester terdengar Camilla dan membuat Camilla kembali mengingat kekejaman Arthur Gates kepada keluarganya, hal yang membuat Camilla sulit untuk percaya Jester benar - benar tulus untuk membantunya.


"Itu bukan berarti aku juga bertindak seperti kakek!!" bentak Jester begitu kesal


"Berani membentak bibimu?! kamu ini benar - benar berdarah dingin, oooh bibi lupa kalau kamu berdarah Gates!!" sindir Jessica lagi, keduanya kemudian terlibat adu mulut sampai membuat Camilla tertawa kecil dan terdengar oleh Jester dan Jessica. Keduanya pun terdiam dan menatap Camilla yang berusaha menahan tawanya, Jessica mengulurkan tangannya kepada Camilla.


"Kemari lah nak... aku akan melindungi mu dari siapapun yang ingin menyakitimu" ucap Jessica dengan lembut, Camilla mengangkat kepalanya perlahan dan menatap tatapan mata tulus Jessica dan Jester.

__ADS_1


Tatapan mata tulus keduanya kembali membuat Camilla menangis, perlahan Jessica berjalan mendekati Camilla dan memeluknya dengan erat.


"Aku tidak tahu apa yang kamu derita selama ini, tapi aku merasakan beban hatimu... ayo sama - sama berjuang... kita adalah wanita tangguh" ucap Jessica dengan lembut, ditengah tangisannya Camilla pun menganggukkan kepalanya dan tenggelam didalam pelukan Jessica.


__ADS_2