Aku Pinjam Dia

Aku Pinjam Dia
Bioskop Terbuka Paris


__ADS_3

Pagi hari yang terlihat cerah di langit Paris Prancis, Jester terbangun dari tidurnya didalam kamar hotel. Setelah melewati hari yang penuh dengan kesedihan, menuruti permintaan Luna untuk menyanyikan lagu terakhir yang seharusnya dia nyanyikan dipanggung ajang pencarian bakat, dan mengabadikan moment dimana dirinya mengiringi Luna bernyanyi dengan lagu yang sangat menyentuh hati Jester. Mata Jester pun masih terlihat sembab menatap gorden kamar yang menutupi sinar matahari, tangannya meraba kasur mencari handphonenya. Ketika handphonenya berhasil dia raih, dia langsung kembali memutar video hasil rekaman saat Luna bernyanyi.


Termenung Jester menatap layar handphonenya, telinganya pun sibuk mendengarkan suara Luna, adegan saat Jester menghentikan permainan gitar karena jari jemarinya sudah tidak sanggup lagi untuk memetik senar gitar membuatnya melamun. Lamunannya pun terhenti seketika saat suara ketokan pintu kamar terdengar, perlahan Jester beranjak dari kasur lalu berjalan untuk membuka pintu. Terkejut Jester saat melihat orang yang mengetuk pintunya pagi itu, Naomi dengan wajah datarnya menatap Jester.


"Pagi Jess...." terdengar ada ketakutan saat Naomi mengatakannya


"Kenapa... kamu disini...?" tanya Jester terbata karena masih tidak percaya Naomi datang ke Paris tanpa pemberitahuan, Naomi menghela nafasnya sejenak sebelum merespon pertanyaan Jester.


"Selena.... sudah tidak mampu aku tahan, dia bilang akan melakukan apapun untuk segera menyusul Luna, kamu tahukan ikatan mereka sangat kuat" jawab Naomi mencoba menjelaskan pada Jester agar Jester tidak salah paham tentang kehadirannya disana


"Tapi... Luna ingin..." belum selesai Jester berkata Naomi memotong


"Kami tidak akan mengganggu rencana kalian berdua, kamu dan Luna bisa lanjutkan rencana kalian dan tidak usah pikirkan kami" timpal Naomi dengan tenang, Jester menatap Naomi dengan tatapan penuh perasaan bersalah. Bagaimanapun Jester merasa sedang berselingkuh secara terang - terangan didepan Naomi, perasaan itulah yang membuatnya kesulitan untuk bersikap biasa.


"Kenapa? aku tidak apa kok, aku.... cuma mengkhawatirkanmu, semua mengkhawatirkan keadaanmu.... setidaknya, izinkan aku berada disisimu..." penuh kekhawatiran Naomi mengatakannya, Jester pun terlihat tidak bisa berkata apapun untuk menjawab kekhawatiran Naomi.


"Kamu sama siapa saja kesini?" tanya Jester


"Aku, Selena, kedua orang tua Luna, Luke, Harry, Justin dan Grece.... mereka saat ini menjenguk Luna dirumah sakit bersama papa" jawab Naomi, Jester pun mempersilahkan Naomi masuk kedalam kamar dengan gestur tangannya.


Setelah Naomi melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar, perlahan Jester menutup pintu. Didalam kamar Naomi langsung berjalan mendekati kasur, disana Naomi menatap layar handphone Jester yang masih menyala dengan video yang terjeda. Perlahan tangan Naomi mengambil handphone dan memutar rekaman itu, saat itu Jester hanya terdiam menatap Naomi yang tertegun memandangi handphone Jester. Ditengah video itu pandangan mata Naomi beralih menatap Jester dengan tatapan mata penuh kesedihan, mendapat pandangan seperti itu membuat Jester membuang muka karena tidak sanggup menatap wajah Naomi.


"Kamu.... baik - baik saja...?" tanya Naomi terdengar sedih, pertanyaan Naomi itu membuat Jester terkejut sampai membuatnya kembali menatap Naomi. Sebuah pertanyaan yang tidak Jester duga, tidak terdengar adanya kecemburuan dari Naomi setelah melihat video itu.


"Apa?" tanya balik Jester karena dia tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar dari bibir Naomi, perlahan Naomi berjalan mendekati Jester lalu mengusap lembut pipi Jester penuh kelembutan.


"Aku bilang... apa kamu baik - baik saja?" Naomi pun mengulang pertanyaannya dengan perasaan khawatir, pertanyaan itu membuat Jester terdiam menatap dalam - dalam mata Naomi.


"Kamu terlihat bergemetar... sampai tidak mampu terus memainkan gitarmu... hatimu pasti sakit saat ini.... bagaimana perasaanmu? apa benar kamu baik - baik saja seperti yang kamu katakan padaku?" Naomi pun bertanya lagi karena Jester hanya terdiam


"Aku... baik - baik saja Naomi...." jawab Jester terbata


"Kalau hatimu lelah... kamu tidak harus terus berjuang sendirian... bersandarlah padaku, beristirahat dan pulanglah sejenak" timpal Naomi, mendengar perkataan Naomi itu membuat Jester tidak mampu lagi untuk menahan beban hatinya. Jester memeluk Naomi begitu erat namun tetap tanpa kata, walau Jester tidak mengatakan apapun saat itu tapi Naomi sangat memahami Jester sudah lelah.


Menemani Jester yang lebih banyak diam daripada biasanya, Naomi membiarkan Jester yang merebahkan kepala dipangkuannya. Naomi sangat memahami ini berat untuk Jester, yang dapat Naomi lakukan hanyalah menemani Jester sampai Jester siap untuk mengantarkannya kerumah sakit untuk bertemu Luna. Naomi sangat ingin bertemu dan mengetahui secara langsung keadaan Luna, hingga tiba - tiba Jester mulai terlihat bersiap dan menerima permintaan Naomi yang ingin bertemu dengan Luna.


Saat ini Naomi sedikit merasa lega, karena dapat merasakan Jester sedikit melepas lelah hatinya walau tanpa banyak kata. Melalui perjalanan yang tidak terlalu lama, sampailah mereka dirumah sakit tempat Luna dirawat. Dengan segera mereka melangkahkan kaki menuju kamar Luna. Membuka pintu dengan perlahan, pandangan Naomi terfokus pada Luna dengan penampilan tanpa rambutnya, wajah putih pucatnya dan kantung mata yang terlihat sedikit gelap. Dengan pendampingan kedua orang tua Luna, Selena, Justin dan Grece, suara penuh semangat Luna memecah kebekuan Naomi yang masih berdiri dipintu kamar rawat Luna seakan berat untuk melangkah masuk kedalam.


"Naomi~! aku kangen~" suara Luna seketika membuat tangis Naomi pecah, sosok periang penuh semangat yang baru saja mencuri hati Naomi sebagai sahabat harus dia lihat dalam keadaan yang memprihatinkan. Namun Naomi mencoba tegar, agar bisa menghadirkan senyum untuk Luna.


"Cepat sembuh ya..." ucap Naomi terlihat berusaha sekuat tenaga menahan tangisnya, Luna mengangguk beberapa kali merespon perkataan Naomi dan masih tersenyum.


"Gimana keadaanmu? apa lebih baik?" tanya Naomi lalu berjalan mendekati Luna dan menggenggam salah satu tangannya.


"Aku merasa sehat dan lebih bertenaga, perawatan disini lebih baik daripada dirumah sakitku dulu. Sayangnya kadang aku tidak mengerti apa yang perawat dan dokter katakan, jadi aku hanya bengong saat mereka berbicara padaku" dengan sedikit tawa Luna mengatakannya, namun tawa Luna saat itu tidak dapat Naomi balas.

__ADS_1


"Luna... ini jadwal dan tempat bioskop terbuka musim panas, tidak jauh dari sini tapi... kamu beneran mau pergi hari ini?" tanya Selena sembari menyerahkan handphonenya kepada Luna, mendengar perkataan Selena membuat Jester dan Naomi terkejut. Jhon dan Lisa pun terlihat khawatir mendengar ucapan Selena, melihat kondisi Luna yang seperti itu membuat perasaan mereka sebagai orangtua tercabik - cabik.


"Hah?! gak boleh!! kamu masih sakit" terdengar marah Naomi mengatakannya, namun kemarahan Naomi dibalas dengan sebuah tawa kecil dari bibir Luna.


"Aku sudah izin dokter kok dan dokter mengizinkannya" terdengar senang dan tanpa beban Luna mengatakannya, Naomi dan Jester pun menunjukkan wajah yang tidak percaya dengan perkataan Luna.


"Aku akan temui dokter" celetuk Jester sambil berjalan keluar kamar, diluar kamar saat itu Jester berpapasan dengan William, Luke dan Harry.


"Hei Jester, mau kemana?" tanya Harry


"Aku ingin menemui dokter, kata Luna dia mendapat izin untuk datang ke festival bioskop terbuka hari ini" jawab Jester, mendengar jawaban Jester membuat Harry menatap William.


"Yah memang benar yang dikatakan Luna, dia dapat izin khusus buat melakukannya" timpal William terdengar tenang tanpa beban, Jester pun mengerutkan dahinya menatap William.


"Kenapa dokter memberikannya izin? apa itu bukan tindakan..." belum selesai Jester berkata, William memotong.


"Dokter bilang satu - satunya keajaiban agar Luna sembuh hanya pikirannya sendiri... kamu tahu kan kekuatan pikiran positif nak? jika semangat hidup Luna tinggi, bukan tidak mungkin dia bisa melewati masa kritisnya. Memang diluar dari hal ilmiah namun bukan berarti dapat disepelekan" timpal William, tertegun Jester memandang William.


"Aku khawatir keadaannya semakin... memburuk..." terbata Jester mengatakannya


"Semua sudah dipersiapkan sama tim perawat, dia akan ketempat tujuan dengan kursi roda khusus yang membawa beberapa infus dan alat - alat medis kecil lainnya" ucap Harry meyakinkan Jester bahwa semua akan baik - baik saja, Luke berjalan mendekati Jester dan menepuk pundaknya dengan cukup keras.


"Luna mempercayakan mimpinya kepadamu, kamu harus bisa menjawab permintaan itu dengan baik" tegas Luke mengatakannya, Jester hanya menghela nafasnya untuk merespon perkataan Luke lalu berbalik untuk kembali masuk kedalam kamar Luna. Didalam kamar itu Luna menatap Jester dengan senyumnya, dia memberi gestur tangan agar Jester mendekat berkumpul bersama Naomi, kedua orangtua Luna, Justin, Grece dan Selena yang masih terlihat sedih bahkan meneteskan air mata.


Mendengar perkataan Luna membuat mereka semua mulai memaksakan diri untuk tersenyum, terlihat Naomi, Selena dan Grece menyeka sisa air matanya. Mereka semua menyadari bahwa yang Luna inginkan adalah suasana bahagia untuk meningkatkan semangat Luna dalam menjalani hari - harinya, perlahan semua dari mereka mulai saling menatap dan tiba - tiba tawa kecil Naomi terdengar.


"Itu senyum terburuk yang pernah aku lihat darimu, Selena" celetuk Naomi dengan tawa kecil yang terdengar


"Kamu harus ngaca dan melihat senyum palsumu itu sebelum menyindir seseorang" balas Selena terdengar kesal


"Kalian berdua seharusnya meniruku, senyum palsuku tetap menawan seperti biasa" timpal Grece memuji diri sendiri


"Itu lebih buruk dari apa yang sudah aku tunjukkan" Naomi dan Selena mengucapkan hal yang sama serentak, Justin pun tertawa mendengar Naomi dan Selena kompak mengejek Grece.


Seketika suasana hangat dan penuh canda pun tercipta, mereka menemani Luna dengan banyak cerita konyol dan lucu dengan harapan bisa memberikan kebahagiaan pada Luna. Kedua orang tua Luna begitu terharu akan pertemanan putrinya, mereka ikut menikmati momen kebersamaan bersama teman - teman Luna dengan senyum yang tulus agar putri mereka merasakan kebahagiaan dalam kondisinya saat ini. Merasakan suasana menyenangkan ditempat itu yang terbangun secara tiba - tiba membuat Jester menyadari bahwa dia tidak mampu untuk membuat Luna bahagia dengan usahanya sendiri, berkumpulnya teman - temannya saat itu membuat Jester merasa bodoh tidak mengandalkan teman - temannya sejak awal.


Tidak terasa senja pun tiba, Luna terlihat duduk dikursi roda dengan beberapa alat medis yang menempel pada tubuhnya dan menjadi satu kesatuan dengan kursi roda itu. Jester berdiri bersiap mendorong Luna menuju tempat diselenggarakannya festival bioskop terbuka, disaat itu Jester menatap Naomi, Selena, kedua orang tua Luna, Justin dan Grece hanya terdiam dipintu utama rumah sakit.


"Kalian... gak ikut?" tanya Jester heran, pertanyaan Jester itu membuat Luna menoleh kebelakang menatap teman - teman dan kedua orangtuanya.


"Hmm... tidak, aku sedikit lelah...aku merasakan jet lag" jawab Naomi sembari menatap teman - temannya


"Tidak apa kalau kalian mau ikut, lagian kalian juga sudah jauh - jauh sampai sini" timpal Luna


"Aah... Eeh... itu..." belum selesai Naomi berbicara, Luke memotong.

__ADS_1


"Tuan Will mengajak kalian untuk makan malam bersama disalah satu restoran milik temannya, khusus untuk Jester dan Luna kalian teruskan saja acara kalian" timpal Luke yang muncul mendadak dibelakang Naomi sembari berjalan mendekati mereka semua, pandangan mereka semua pun teralihkan menatap Luke.


"Kalau begitu ayo kita segera menemui papa, Jess hati - hati dan Luna kamu jangan memaksakan diri" ucap Naomi lalu berjalan menarik Selena dan Grece yang sejak tadi berdiri disebelah Naomi, seakan menyadari apa yang harus mereka lakukan saat itu orang tua Luna, dan Justin pun berjalan mengikuti dibelakang Naomi.


"Jess lakukan yang harus kamu lakukan" celetuk Luke lalu pergi berjalan mengejar Naomi, setelah agak jauh berjalan Luna pun mengalihkan pandangan menatap Jester yang berada dibelakangnya.


"Mereka semua kenapa?" tanya Luna terdengar bingung, Jester pun menatap Luna dan tersenyum.


"Mereka.... memberi waktu untuk kita berdua menyelesaikan impianmu, kita berangkat?" terdengar senang Jester mengatakannya, Luna pun tersenyum lalu menatap depan.


"AYoo berangkat!!" penuh semangat Luna mengatakannya, Jester pun mendorong kursi roda itu menuju tempat diadakannya acara nonton bioskop terbuka.


Dengan penuh semangat Jester melangkahkan kakinya dan mendorong kursi roda yang Luna duduki dengan wajahnya yang berbinar seakan menampakkan kebahagiaan dan keceriaan. Selama diperjalanan Luna terlihat sangat antusias dan senang melihat sekelilingnya, bias - bias lampu pertokoan dan jalanan membuat Luna terlihat sangat bahagia. Perjalanan mereka dipenuhi dengan obrolan yang menyenangkan, sesekali Luna melontarkan candaan yang membuat Jester tertawa dan begitu juga sebaliknya. Hingga beberapa saat berlalu, Jester dan Luna sampai ditempat yang dituju dengan sedikit keterlambatan karena film sudah dimulai.


Jester mencari kursi paling pinggir agar tetap berdekatan dengan Luna yang tetap duduk dikursi rodanya, setelah mendapatkan tempat yang menurut mereka paling nyaman saat itu Jester dan Luna pun mulai menikmati film yang sedang diputar. Dengan genre comedy yang ketika itu sedang diputar, sesekali Luna pun tertawa terbawa humor dari film yang dia tonton. Melihat tawa Luna membuat Jester pun termenung menatap wajah Luna, dia heran dengan sikap yang ditunjukkan oleh Luna seakan tidak ada sesuatu yang terjadi pada dirinya. Merasa diperhatikan membuat Luna mengalihkan pandangannya menatap Jester, sejenak mata Jester dan Luna bertemu namun masih terdiam untuk beberapa saat.


"Kenapa kak?" tanya Luna dengan wajah yang terlihat penasaran, Jester pun menundukkan pandangannya.


"Kenapa... kamu terlihat seakan semua baik - baik saja? suara tawamu... senyumanmu.... jika saja dokter tidak menjelaskan semua yang terjadi padamu, aku tidak akan percaya dengan semua ceritamu..." ucap Jester terbata dan terdengar sedih, Luna kembali menatap layar lalu menarik nafasnya dalam - dalam dan menghembuskan perlahan.


"Aku tidak mungkin selamat..." belum selesai Luna berkata, Jester pun memotong dengan penuh amarah.


"Luna! apa - apaan perkataanmu itu?!" agak membentak Jester mengatakannya, Luna pun mengalihkan pandangannya lagi menatap Jester.


"Aku yang paling tahu tentang tubuhku... aku tidak akan selamat kak... tapi, aku ingin terus tersenyum hingga saatnya tiba agar.... saat kamu mengingatku... kamu hanya akan mengingat aku yang tersenyum" perkataan Luna membuat Jester tersentak, Jester membuang muka menghindari menatap wajah Luna.


"Kak Jester...." celetuk Luna terdengar lembut, Jester pun kembali menatap Luna.


"kumohon... lupakan saja aku, sejak aku mengetahui penyakit yang aku derita ini, aku sudah menganggap diriku ini tidak pernah ada di dunia.. jadi lupakanlah aku..." tersenyum Luna saat mengatakannya


"Kamu... ingin pergi dariku lagi dengan cara yang sama?! kamu ingin aku membencimu lagi setelah apa yang baru saja kita lalui?! kamu anggap aku ini apa?!" terdengar marah Jester mengatakannya, namun kemarahan Jester saat itu tidak melunturkan senyum Luna sama sekali.


"Tentang hubunganku dengan semua orang selain keluarga, semua itu hanya ada dalam bayangan didalam kepalaku, disukai ataupun dibenci itu semua hanya ada dalam imajinasiku. Aku berencana untuk hidup sendirian sejak tahu aku sakit, tapi akhir - akhir ini aku malah tidak bisa hidup sendirian. Aku baru sadar ternyata manusia tidak mampu hidup sendiri saat aku sudah dipenghujung usia, aku... merasa bodoh karena itu" jawab Luna lalu kembali menatap layar didepannya, sempat terdiam sejenak Luna pun terdengar menghela nafasnya.


"Aku minta maaf sudah memintamu untuk melupakanku... aku hanya sedang bingung bagaimana aku harus bersikap didepanmu kak...." celetuk Luna terdengar penuh penyesalan


"Aku tidak ingin dengar kamu mengatakannya lagi" timpal Jester tegas


"Sejenak aku terfikirkan tentang kematian..." celetuk Luna lagi, perkataan Luna kembali membuat Jester tersentak


"Luna!!" bentak Jester, perlahan Luna menatap Jester dengan senyumannya.


"Menurutku manusia itu mengalami dua kematian, kematian pertama ketika nafas sudah berhenti dan kematian kedua ketika manusia sudah terlupakan dan namanya sudah tidak pernah disebut. Aku ingin mati dalam keadaan terus diingat oleh banyak orang, itulah kenapa aku menginginkan menjadi seorang penyanyi terkenal yang karyanya terus didengar oleh orang - orang. Namun sekarang... aku hanya ingin kamu, kedua orangtuaku, Naomi, Selena, kak Justin, kak Luke, kak Harry dan Grece yang terus mengingatku..." air mata Luna pun menetes ketika mengatakannya, namun senyumnya benar - benar tidak pernah dia lepaskan dari wajahnya.


"Kak... apa kamu... akan melupakanku saat aku mati nanti? aku takut.... aku takut sendirian.... kesepian.... apa kalian semua akan segera melupakan aku..?" tanya Luna begitu pilu

__ADS_1


__ADS_2