
Sore hari yang cerah menjelang senja disebuah cluster perumahan, disalah satu rumah dengan aksen khas budaya jepang yang terdapat sebuah kolam renang. Disana terlihat Jester dan Naomi duduk bersama dipinggiran kolam, keduanya terlihat sedikit basah karena sebelumnya Jester memukul air kolam hingga airnya memercik kemana - mana. Mereka terdiam saat Jester selesai menceritakan kisahnya, Naomi pun mengerutkan dahinya mencoba mencerna semua cerita Jester dengan baik.
"Luna tidak terlihat seperti wanita yang suka mempermainkan orang, kenapa dia tiba - tiba bersikap seperti itu?" tanya Naomi merasa sangat heran setelah mendengar cerita Jester
"Tanyakan saja padanya!" jawab Jester terdengar sedikit menyentak Naomi, mendengar Jester yang masih emosi membuat Naomi sedih dan terdiam menatap Jester.
"Maaf Naomi... aku sangat malu kalau mengingat kejadian itu dan rasa malu itu membuat aku sangat marah pada diri sendiri, andai aku tidak pernah bertemu...." belum selesai kalimat Jester, Naomi tiba - tiba memotong
"Orang baik akan memberi kebahagiaan hidup, orang yang tidak baik akan memberi pengalaman, orang yang sangat baik akan memberi kenangan, dan orang yang jahat akan memberi pembelajaran. Kamu yang mengatakan itu padaku kan?" dengan suara yang lembut Naomi mengatakannya, Jester menoleh menatap Naomi dan sorot matanya menunjukkan betapa sedihnya dia saat ini.
"Kamu benar... Luna memberikan aku pembelajaran tentang cinta" jawab Jester terdengar pasrah, perlahan Naomi menepuk pipi Jester dengan lembut dan menatap matanya dalam - dalam.
"Jangan mengatakan seperti itu, tapi Jester... perubahan sikap Luna sangat tidak masuk akal, aku yakin sesuatu terjadi padanya dan tidak kamu ketahui atau bahkan memang dia tidak ingin kamu mengetahuinya. Sebagai sesama wanita aku rasa itu yang sebenarnya terjadi, kadang wanita bersikap sangat misterius" ucap Naomi dengan yakin dan tanpa keraguan, mendengar ucapan itu membuat Jester sejenak terpaku menatap Naomi.
"Kenapa kamu membela dia? apa menurutmu aku pantas mendapatkan perlakuan seperti itu?" tanya Jester sedikit menekan, Naomi menggelengkan kepalanya beberapa kali merespon pertanyaan Jester.
"Tidak, aku tidak mengatakan seperti itu. Apa yang dilakukan Luna tidak dapat dibenarkan, namun aku yakin kalau sesuatu terjadi pada Luna dibelakangmu. Apa pernah kamu berfikir seperti itu?" tanya Naomi lembut mencoba memberikan pengertian, Jester melepaskan tangan Naomi yang menyentuh pipinya dan menatap langit.
"Aku pernah berfikir seperti itu, aku pernah mengira Luna sengaja melakukan itu untuk melindungi dirinya dari sesuatu. Tapi sekarang semua pemikiran itu tidak masuk akal, dia menghilang dari hidupku tanpa permintaan maaf atau penjelasan kenapa dia melakukannya" jawab Jester terdengar sedih, mereka terdiam tanpa sepatah katapun untuk beberapa saat. Naomi terlihat menatap air dikolam sedangkan Jester menatap langit.
"Apa kamu akan mengijinkan aku untuk mencari tahu alasannya?" tanya Naomi memecah keheningan, Jester terkejut dengan pertanyaan Naomi dan membuatnya mengalihkan pandangannya menatap Naomi.
"Hah?! buat apa?!" tanya balik Jester dengan nada yang terdengar panik, Naomi balik menatap wajah Jester.
"Aku ingin kamu mengetahui kebenarannya, mungkin dengan begitu kamu bisa berdamai dengan hatimu" jawab Naomi dengan suara yang terdengar lembut, Jester terdiam sejenak dan terus menatap Naomi mencoba mencari tahu apakah Naomi bersungguh - sungguh atau hanya bercanda dari sorot matanya.
"Serahkan padaku, aku akan membantumu agar kamu bisa berdamai dengan hatimu sendiri" dengan tegas Naomi mengatakannya namun Jester membuang muka seakan menghindari kontak mata dengannya.
"Tidak perlu.... biarkan saja seperti ini, lagi pula aku sekarang.... sudah punya kamu kan...." celetuk Jester terbata, mendengar celetukan itu Naomi terkejut dan wajahnya mendadak memerah. Naomi membalikkan badan dan memunggungi Jester lalu keduanya terdiam beberapa saat.
"Ka... kamu benar... kamu sudah punya aku... tapi ini gak ada hubungannya kan? kamu tetap harus menyembuhkan luka itu" timpal Naomi terbata
"Naomi...." ucap Jester menggantung, Naomi yang penasaran menoleh menatap Jester yang masih membuang muka menghindari kontak mata dengannya.
"Ya Jester?" tanya Naomi yang terdengar penasaran, entah mengapa saat itu jantung Naomi pun berdetak kencang menunggu jawaban Jester.
"Apa kamu akan bersikap seperti Luna? kita memang tidak tahu kenapa Luna seperti itu namun, saat kamu berada diposisi Luna.... apa kamu akan bersikap yang sama?" tanya Jester dengan nada yang terdengar sedih, mendengar pertanyaan itu membuat hati Naomi merasa sakit. Naomi perlahan mengarahkan tangannya ke dada dan meremas bajunya yang basah itu, Naomi terdiam beberapa saat dan tidak menjawab pertanyaan Jester.
"Apa itu artinya kamu juga akan melakukan hal yang sama?!" tiba - tiba Jester terdengar panik, Jester menoleh menatap Naomi dengan sorot mata yang terlihat penuh ketakutan. Sorot mata Jester saat itu membuat Naomi terkejut
__ADS_1
"Tidak... aku sudah janji sama kamu kalau aku akan selalu ada disisimu..." jawab Naomi dengan suara yang lembut berusaha menenangkan Jester, tangannya menyentuh pipi Jester dan matanya menatap Jester begitu dalam.
"Biarkan aku mengusahakan sesuatu untuk membuat hatimu kembali damai, kamu cuma membutuhkan alasan kenapa Luna berubah kepadamu kan? lalu tentangku... kamu tidak perlu khawatir, aku akan terus berada disisimu sesuai janjiku" dengan tegas Naomi mengatakannya walau suaranya terdengar sangat lembut mencoba memberikan rasa nyaman kepada Jester
Suara lembut Naomi mampu membuat ketakutan Jester memudar, kedua mata mereka bertemu dan dengan wajah yang memerah. Perlahan kepala Jester mendekati wajah Naomi, Naomi yang menyadari Jester akan menciumnya pun terlihat pasrah. Naomi menutup kedua matanya dan membiarkan bibir Jester mendekati bibirnya, perlahan Jester mendekati Naomi sembari memejamkan matanya. Hingga bibir mereka sedikit bersentuhan, tiba - tiba....
"Ehem" suara berat Luke membuyarkan suasana romantis keduanya
Jester dan Naomi pun terkejut, dengan wajah yang masih memerah. Keduanya menatap pintu masuk menuju ruang keluarga dan disana Luke dan Harry terlihat berdiri sembari tersenyum mesum menatap Jester dan Naomi, Naomi pun membalikkan badannya dan menutupi muka dengan kedua tangannya sedangkan Jester langsung berdiri dan berhadapan langsung dengan Luke dan Harry.
"Kenapa kalian bisa masuk?!!" bentak Jester, Luke dan Harry semakin menunjukkan raut wajah yang membuat Jester semakin kesal dan marah.
"Duh duuh, yang sedang di mabuk asmara sampai tidak mengetahui kehadiran kami" ucap Harry dengan nada yang menggoda Jester
"Sepertinya kita menganggu Harry, apa lebih baik kita pulang saja?" tanya Luke menggoda Jester, Naomi menendang - nendang air kolam dengan sangat keras karena malu.
"Argh!!!!" teriak Jester sembari melompat masuk kedalam kolam, Luke dan Harry tidak membiarkan Jester berenang sendirian. Keduanya tiba - tiba berlari sembari berteriak dan melompat masuk kedalam kolam lalu tertawa bersama, Naomi pun tertawa melihat tingkah Jester, Luke dan Harry. Terlalu bahagia momen itu sampai - sampai membuat mereka tidak sadar sore berganti malam, namun dinginnya suhu malam itu tidak dihiraukan dan mereka berempat pun terus bersenda gurau bersama.
Hingga beberapa menit berlalu, Jester, Luke dan Harry pun mengeringkan tubuh mereka. Ketiganya berkumpul diruang keluarga dengan handuk berada dikepala, segelas teh hangat untuk masing - masing dan baju Jester yang dikenakan juga oleh Luke dan Harry. Sedangkan Naomi saat itu masuk kedalam kamar untuk bersiap menuju rumah sakit dimana Becca sedang dirawat
"Kami mau membahas sesuatu denganmu, itulah maksut kedatangan kami" ucap Luke dengan tegas, Jester yang meniup segelas teh panas ditangannya mendadak mengalihkan pandangannya menatap Luke.
"Bukan, kami ingin membahas tentang hatimu" jawab Luke.
"Hatiku?" tanya Jester terdengar heran
"Naomi bilang kalau kamu sudah menyatakan bahwa kamu akan berpaling hati" celetukan Harry itu tidak membuat Jester beraksi seperti biasanya, Jester hanya menundukkan kepalanya dan terdiam.
"Sekarang ada apa lagi?" tanya Luke yang melihat Jester tiba - tiba murung
"Aku cuma takut patah hati lagi" jawab Jester terdengar sedih, Luke dan Harry menghela nafas bersamaan.
"Kamu terlalu berfikir berlebihan, Naomi tidak akan..." belum selesai Luke berkata, Jester memotong
"Itu yang kamu katakan saat aku menyatakan aku mencintai Luna, tapi lihat apa yang terjadi setelahnya!!" dengan bentakan Jester mengatakannya, bentakan itu membuat Luke dan Harry terdiam.
"Jester... kalau kamu tetap tidak bisa berdamai dengan hatimu sendiri, kamu akan selalu dihantui ketakutan jika aku akan meninggalkanmu walau aku tidak pernah memikirkan hal itu sama sekali" celetuk Naomi ditengah keheningan, Jester, Luke dan Harry menatap Naomi yang terlihat berjalan mendekati Jester dan kemudian duduk disebelahnya.
"Kamu akan selalu berfikiran negatif kepadaku dan itu akan sangat mengganggu hubungan kita kan?" tanya Naomi dengan lembut, Jester membuang muka menghindari kontak mata dengan Naomi.
__ADS_1
"Maaf Naomi, tidak seharusnya aku bersikap seperti ini padamu...." dengan penuh penyesalan Jester mengatakannya, Naomi mengelus punggung Jester dengan lembut.
"Serahkan padaku, aku akan cari cara buat mendamaikan hatimu... kali ini biarkan aku yang menolongmu, oke?" dengan suara yang lembut Naomi mengatakannya, suara lembut itu membuat Jester tersentak seakan tersadar akan sesuatu. Jester menatap Naomi dengan senyuman diwajahnya
"Tidak usah, aku sudah punya kamu yang berjanji tidak akan meninggalkan ku" suara Jester terdengar senang dan perkataan Jester itu membuat wajah Naomi memerah, sadar akan kata - katanya yang seakan adalah gombalan membuat Jester panik.
"Tidak!! maksudku bukan seperti itu!!" ucap Jester terdengar panik, Luke dan Harry langsung menatap Jester dengan tatapan yang membuat Jester semakin malu.
"Kalian..." belum selesai Jester membentak Luke dan Harry, Naomi memegang tangan Jester begitu erat dan pandangan mata Jester beralih menatap Naomi.
"Aku berjanji tidak akan meninggalkanmu apapun yang terjadi" suara Naomi terdengar malu - malu saat mengatakannya, Luke dan Harry pun tertawa menggoda Jester yang wajahnya memerah.
Terjadi kehebohan dirumah Jester dan Naomi pada malam hari itu, suara canda tawa terdengar jelas sampai keluar rumah. Tidak lama mereka berempat pun menuju garasi dan masuk kedalam mobil untuk menuju rumah sakit dimana Becca dirawat, canda tawa dan obrolan ringan menghiasi perjalanan mereka. Hingga beberapa menit perjalanan, akhirnya mereka sampai di rumah sakit. Naomi dan Jester pun turun dan seperti biasanya Naomi langsung merangkul tangan Jester lalu berjalan masuk kedalam rumah sakit, sedangkan Luke dan Harry berjalan dibelakang Jester dan Naomi sembari sedikit menggoda kemesraan mereka.
Didepan kamar Becca, Naomi berpisah dengan Jester, Luke dan Harry. Naomi masuk kekamar Becca sedangkan Jester, Luke dan Harry menuju cafetaria. Didalam kamar, Naomi hanya melihat Becca dan Daniel. Becca tersenyum senang melihat kehadiran Naomi saat itu, sedangkan Daniel membuang muka mengetahui Naomi sudah datang. Naomi langsung berjalan mendekati Becca dan menarik kursi lalu segera berbincang dengan Becca tanpa mempedulikan Daniel, tanpa berbicara apapun Daniel keluar dari kamar dan meninggalkan Naomi dan Becca berduaan. Tiga puluh menit lebih Naomi dan Becca bercerita dan berbincang dengan penuh tawa, sampai tiba - tiba Daniel kembali memasuki kamar dan mendekati Naomi sembari membawa satu bucket mawar merah.
"Naomi...." ucap Daniel dengan lembut, Naomi menoleh dan menatap bunga yang dibawa Daniel.
"Maafkan aku... bisakah kita berbaikan?" tanya Daniel sembari memberikan bunga itu kepada Naomi, Becca terlihat senang melihat Daniel dan Naomi terlihat mesra.
"Aaa~ seperti cerita di dongeng - dongeng, kak Naomi terima donk bunga dari kak Daniel" ucap Becca terdengar senang, Naomi mengalihkan pandangannya menatap Becca dan tersenyum.
"Becca.... kak Naomi gak bisa terima bunga itu" tolak Naomi dengan tegas namun suaranya tetap lembut, wajah Becca menjadi sedih mendengar penolakan Naomi.
"Kenapa~?" tanya Becca terlihat ingin menangis, Naomi terdiam beberapa saat dan memegang tangan Becca dengan lembut.
"Kak Naomi dan Kak Daniel sudah tidak seperti dulu... ada batasan yang harus kami jaga sekarang" jawab Naomi dengan lembut, tapi Becca tidak menerima perkataan Naomi saat itu
"Demi aku pun kak Naomi tidak bisa menerimanya~?" tanya Becca masih memaksa Naomi untuk menerima bunga itu, Naomi menghela nafas lalu berbalik menatap Daniel.
"Terima kasih" ucap Naomi terdengar senang dan tangannya menerima bunga pemberian Daniel, dengan senyuman Daniel memberikan bunga itu.
"Yeey...kak Naomi mau menerima bunganya, kalian harus segera berbaikan seperti aku dan Beccy yang selalu akur" sorak Becca bahagia, Naomi segera kembali menatap Becca dengan bunga ditangannya yang dia terima dari Daniel.
Naomi dan Becca pun kembali berbicang berduaan dengan canda tawa, melihat dirinya dicuekin saat itu membuat Daniel melangkahkan kakinya keluar kamar. Hingga beberapa menit berlalu, Becca tertidur karena efek obat. Naomi beranjak dari tempat duduknya dan segera keluar dari kamar, diluar kamar Becca saat itu Naomi melihat Daniel duduk di kursi yang tersedia didepan kamar. Daniel berdiri dan mendekati Naomi namun Naomi langsung melangkahkan kakinya menuju cafetaria untuk menemui Jester, tidak ingin kehilangan momen itu Daniel menarik lengan Naomi.
"Naomi tunggu... aku minta maaf, tolong maafkan aku" ucap Daniel penuh penyesalan, Naomi menarik lengannya agar genggaman tangan Daniel terlepas.
"Kedepannya aku tidak ingin kejadian seperti ini akan terulang kembali!" dengan sedikit bentakan Naomi mengatakannya, Daniel pun terdiam saat Naomi berjalan mendekati tempat sampah lalu membuang bunga pemberian Daniel disana.
__ADS_1
"Berhenti melakukan tindakan bodoh seperti ini" ucap Naomi dan meninggalkan Daniel dilorong rumah sakit itu.