Aku Pinjam Dia

Aku Pinjam Dia
Janji Yang Telah Terucap


__ADS_3

Hari jumat yang cerah saat senja menjelang malam, dipadatnya jalanan perkotaan saat itu terlihat Mercedes Benz C200 melaju dengan kecepatan cukup tinggi menuju rumah sakit dipinggiran kota. Didalam mobil itu Naomi dan Selena masih terdiam sejak mereka sedikit bertengkar ketika di mall, satu - satunya percakapan mereka adalah saat Naomi meminta Selena mengantarnya kerumah sakit dimana Becca sedang dirawat. Didalam keheningan itu, Naomi masih berfikir tentang apa yang sedang Jester dan Luna lakukan di festival squere. Pikirannya penuh dengan hal - hal yang membuat api cemburunya kembali membara, tidak terasa Naomi menghela nafasnya cukup keras dan menarik perhatian Selena.


"Kenapa?" tanya Selena terdengar mengkhawatirkan Naomi, Naomi yang saat itu melamun pun terkejut mendengar pertanyaan Selena.


"Aah... Eeh... tidak... aku cuma melamun tadi" jawab Naomi terbata, namun jawaban Naomi saat itu membuat Selena tertawa.


"Kenapa tertawa?" tanya Naomi terdengar kesal, sejenak Selena terdiam lalu mengatur nafasnya agar tawanya dapat dia redam.


"Apa kamu ingat kenapa kita bisa menjadi sahabat padahal saat kecil dulu kita selalu bertengkar?" tanya balik Selena, Naomi mengerutkan dahinya mencoba mengingat alasan kenapa mereka bisa menjadi sahabat.


"Kalau tidak salah... saat kita kelas empat SD, kamu mengirimi aku surat tantangan buat berantem..." Naomi menggantung kalimatnya dan kembali mencoba mengingat kejadian itu, Selena pun kembali tertawa.


"Kamu mengira surat yang dikirim adalah surat tantangan, padahal itu surat pengajuan genjatan senjata" timpal Selena dengan sedikit tertawa, saat itu Naomi seperti teringat kembali kenangan yang mereka alami bersama.


"Benar!! aku ketaman cluster dan siap untuk adu pukul denganmu, tapi saat itu kamu malah memberiku kue coklat dan mengajakku berteman!" dengan antusias Naomi mengatakannya sambil tertawa, lalu mereka pun tertawa bersama.


"Sejak itu aku dan kamu menjadi penguasa cluster, tidak ada satupun anak cluster yang berani menentang apapun yang kita perintahkan" Naomi terdengar senang mengenang masa lalunya bersama Selena, namun saat itu Selena menghela nafasnya cukup keras dan membuat Naomi heran.


"Semua karena Luna.... jika tidak ada Luna mungkin aku dan kamu tidak akan pernah berteman..." dengan suara yang terdengar sedih Selena mengatakannya, Naomi kembali dibuat bingung dengan perkataan Selena.


"Maksudmu semua itu rencana Luna?" tanya Naomi penasaran


"Iya... dia anak dari supir pribadi papa yang sudah bekerja sama papa bahkan sebelum aku lahir, aku dan Luna lahir dihari, tanggal, bahkan dijam yang sama... uniknya kami juga dilahirkan dirumah sakit yang sama, kedua orangtua kami selalu mendekatkan kami bahkan sejak kami masih bayi" sorot mata Selena saat itu terlihat begitu sedih, Naomi merasakan kesedihan Selena saat itu karena mereka akan berpisah dalam beberapa hari kedepan.


"Kamu tahu kan aku bukan orang yang pandai bergaul, jadi satu - satunya temanku saat itu cuma Luna... jujur saja aku sering menjelek - jelekkan kamu didepannya dan berharap dia juga ikutan membencimu tapi yang aku dapati saat itu dia selalu mendorongku untuk berteman denganmu" ucap Selena melanjutkan ceritanya, sejenak Selena terdengar mengatur nafasnya agar dirinya tidak menangis.


"Aku yakin dia seorang cenayang... kamu tahukan cenayang yang bisa baca masa depan?" tanya Selena dengan sedikit tertawa, mendengar tawa Selena yang saat itu ingin menangis tidak membuat Naomi ikutan tertawa dan dia hanya terus terdiam mendengarkan cerita Selena.


"Dia pernah bilang.... Aku mungkin tidak bisa selalu berada disebelahmu untuk menjadi temanmu, kamu harus memulai mencari seorang sahabat yang bisa menjadi sandaranmu ketika aku tidak lagi ada disebelahmu..." Selena pun meneteskan air matanya, sejenak Selena terdiam dan meminggirkan mobil lalu berhenti sejenak untuk menyelesaikan tangisannya.


"Kenapa Luna... memilihku?" tanya Naomi sambil mengelus punggung Selena, Selena menyeka air mata yang keluar saat itu dan berusaha mengatur emosinya agar kembali stabil.


"Dia bilang kalau aku dan kamu itu bertolak belakang, kita akan saling melengkapi satu sama lain kalau kita bersahabat. Aku menolaknya dengan keras tapi sekeras itu juga Luna mendorongku untuk berdamai denganmu dan akhirnya aku menyerah, surat dan kue coklat yang kamu terima itu semua Luna yang mempersiapkannya" jawab Selena lalu mengatur nafasnya kembali, tidak lama Selena kembali mengarahkan mobilnya untuk menuju rumah sakit pinggiran kota.


"Naomi... aku tahu kamu saat ini dibakar api cemburu karena Luna, tapi aku pastikan lagi padamu... dia tidak ada niat sama sekali untuk merebutnya darimu. Kalau kamu tidak mempercayai Luna, setidaknya kamu percaya sama aku yang pernah menjadi sahabatmu" celetuk Selena ketika keheningan kembali terjadi diantara keduanya, Naomi menghela nafas mendengar kata - kata Selena.


"Kamu benar aku memang cemburu saat ini, pikiranku selalu mencoba menerka - nerka apa yang mungkin Jester dan Luna lakukan sekarang... tapi kamu salah tentang satu hal..." Naomi menggantungkan kalimatnya, bersamaan Naomi dan Selena mengalihkan pandangannya saling menatap.


"Kamu masih sahabatku apapun yang terjadi dan aku selalu percaya padamu" dengan senyum penuh kehangatan Naomi mengatakannya, Selena pun terkejut mendengar perkataan Naomi saat itu. Tertegun sejenak, Selena pun mengalihkan pandangannya dan tersenyum.

__ADS_1


"Maaf aku pernah sangat jahat padamu Naomi... aku saat itu..." belum selesai Selena berbicara, Naomi memotong.


"Jika aku dulu tahu kamu memiliki beban janji pada Luna, aku tidak akan sekeras itu padamu... dengan segelas teh hijau buatanku, harusnya kita bisa bicara dari hati ke hati..." dengan nada yang terdengar kesal Naomi mengatakannya, mereka pun kembali tertawa bersama.


"Entah kenapa aku tadi teringat ketika aku dan Jester bertemu ditaman labirin... aku tidak menyangka Daniel mengajakku ketaman labirin saat itu" ucap Naomi ketika mereka berhenti tertawa, Selena pun menghela nafas mendengar perkataan Naomi.


"Apa kamu mempercayai mitosnya Naomi?" tanya Selena, pertanyaan Selena membuat Naomi tersentak karena malu.


"Aah.. Eeh... tidak! kita ini orang yang rasional, mana mungkin aku percaya mitos?!" dengan panik Naomi mengucapkannya, kepanikan itu membuat Selena tertawa.


"Luna dan kak Jester juga pernah bertemu ditaman labirin di kencan pertama mereka" celetuk Selena lagi dan celetukan itu membuat Naomi terkejut setengah mati sampai membuatnya terdiam karena syok.


"Disana mereka saling mengikat janji, sayangnya Luna tidak pernah memberitahu apa isi janji mereka" ucap Selena meneruskan celetukannya, Naomi hanya terdiam saat itu disepanjang perjalanannya.


Disisi lain pada saat bersamaan dengan perjalanan Naomi dan Selena menuju rumah sakit tempat Becca dirawat, di festival squere yang terlihat ramai pengunjung. Lampu - lampu pun mulai menyala, lonceng pun berbunyi, dan kemeriahan tempat itu semakin terasa. Namun kemeriahan itu seakan tidak terasa bagi Jester dan Luna yang berada ditaman tengah labirin, keduanya terdiam saling menatap ditemani suara bunyi lonceng tanpa ada gangguan dari siapapun.


"Kami berjanji untuk saling menemani dalam keadaan apapun... sedih, senang, terpuruk, hingga bangkit, sampai kematian yang akan memisahkan kita...." celetuk Luna saat lonceng berhenting berdenting, mata Jester terbelalak menatap Luna karena terkejut mendengar perkataan Luna.


Semua memorinya tentang Luna benar - benar terbuka dan ingatan itu tergambar jelas, tidak ada satu pun lagi kenangan yang Jester lupakan tentang Luna... tentang cinta pertama dan sakit hati pertamanya dalam hidup. Seakan terputar seperti sebuah rekaman vidio yang otomatis memutar, Jester mengingat tentang janji yang pernah mereka ucapkan bersama - sama ditempat itu.


"Kami berjanji..." belum selesai Luna berkata, Jester memotong.


"Kami berjanji bahwa hanya kematian yang akan memisahkan kita, demi apapun... kami mengikrarkan janji ini secara sadar dan tanpa paksaan..." secara bersamaan Luna dan Jester mengatakannya, Luna menangis sejadi - jadinya saat mengatakannya.


"Maaf.... maaf.....maaf...... aku melanggar janji kita.... maafkan aku...." dengan pilu Luna mengatakannya, tubuhnya bergementar hebat mencoba menahan tangisannya namun Luna benar - benar tidak kuasa untuk menahannya.


"Ke....napa.... kenapa kamu sejahat ini padaku?!! Jelaskan Luna!!!" begitu emosional Jester mengatakannya sampai dia kembali tidak sadar telah membentak Luna untuk kesekian kalinya, air matanya pun menetes menunggu jawaban Luna.


"Kak.... aku cuma bisa minta maaf.... maafkan aku...." jawab Luna dengan pilu, tangisannya pun semakin menjadi - jadi hingga membuatnya sesegukan. Jester memegang kepalanya begitu kuat seakan melampiaskan semua kekesalannya pada tubuhnya sendiri, namun hal itu tidak juga kunjung membuat emosinya mereda.


"AAAAAAAAAAA!!!" teriak Jester sangat keras, air matanya pun menetes begitu deras membasahi pipi dan dagunya. Untuk beberapa saat, Jester dan Luna terdiam dalam tangisannya masing - masing.


Suasana meriah festival squere tidak mampu untuk meredam kesedihan keduanya, dua orang yang sebenarnya saling mencintai harus terpisah karena keadaan. Setelah beberapa menit berlalu hingga gelapnya malam sudah benar - benar menelan cahaya matahari, terlihat Jester dan Luna sudah mulai tenang dan mereka duduk bersebelahan disebuah kursi taman disebelah air mancur dengan hiasan lingkaran bunga berbentuk hati tepat dibelakang kursi itu.


"Kak... aku akan ceritakan kenapa saat itu aku menolakmu, kenapa Selena bersikap sepertiku, dan kenapa saat ini aku kembali dikehidupanmu yang sebenarnya sudah damai tanpa aku..." celetuk Luna ditengah keheningan mereka, namun Jester terlihat tidak tertarik sama sekali.


"Aku memang penasaran namun sekarang rasa penasaranku hilang dalam sekejap" timpal Jester dengan helaan nafas, Luna mengalihkan pandangannya menatap langit gelap malam itu.


"Kalau begitu aku sudah tidak perlu mengatakannya padamu... aku berharap hatimu terobati sejak hari ini" terdengar senang Luna mengatakannya, keduanya kembali terdiam tanpa saling menatap.

__ADS_1


"Apa kamu percaya dengan mitos ditempat ini kak?" tanya Luna, namun Jester tertawa mendengar pertanyaan Luna seakan mengejek Luna karena menanyakan hal yang tidak masuk akal seperti itu.


"Tidak, kalau pun aku memaksakan diri untuk percaya... pertama kamu pergi meninggalkanku, kedua aku dan Naomi juga bertemu ditaman ini dan apa menurutmu aku akan punya dua istri?" tanya Jester dengan sedikit tawa, Luna menghela nafasnya


"Aku percaya pada mitos itu... mungkin sebenarnya aku akan menjadi istrimu jika aku masih punya waktu, tapi ketika aku tidak punya waktu maka jodohmu yang lain akhirnya dipertemukan kembali ditaman ini menggantikan aku" jawab Luna dengan tenang


"Lalu kamu mau apa sekarang? Aku memang pernah mencintaimu begitu dalam, tapi sekarang ruang di hatiku ini sudah tidak bisa lagi diisi oleh dirimu" tanya Jester dengan suara yang penuh penyesalan, Luna terdengar tertawa kecil saat mendengar pertanyaan Jester


"Maaf... itu semua salahku..." jawab Luna begitu menyesali apa yang sudah terjadi diantara mereka


"Bukan, ini bukan salahmu. Aku hanya merasa kosong dan seperti ada yang kurang saat kamu tidak ada, tapi sekarang Naomi sudah mengisi kekosongan itu" tegas Jester mengatakannya, garis senyum Luna yang nampak berat tetap berusaha Luna tampakkan saat itu walau Jester tidak menatapnya sama sekali sejak mereka duduk bersama.


"Aku mengerti...." Luna mengucapkannya begitu pasrah


"Aku tidak tahu apa yang akan kamu lakukan setelah kejadian ini, tapi aku tidak ingin memberi harapan palsu kepadamu. Terima kasih atas segalanya" ucap Jester lalu berdiri hendak meninggalkan tempat itu, tidak beberapa lama Luna membuntuti Jester dan mereka hendak pulang dari festival squere.


Dimalam itu perjalanan pulang antara Jester dan Luna masih dibalut nuansa kesedihan dan kekecewaan, keduanya terdiam tanpa sepatah katapun hingga empat puluh menit perjalanan. Ketika mereka sampai rumah secara kebetulan Naomi dan Selena juga baru sampai didepan pintu masuk rumah, Naomi yang saat itu hendak membuka pintu pun mengalihkan pandangannya menatap Mercedes Benz V260 terparkir sempurna di garasi. Tidak lama Jester dan Luna turun bersamaan, tidak ada senyum sama sekali yang terlihat dari keduanya.


Naomi menyadari telah terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan antara Jester dan Luna, tanpa bertanya apapun dia langsung membukakan pintu lalu membiarkan Jester masuk terlebih dahulu. Saat itu tangan Selena menahan Luna agar dia berhenti berjalan, dari sorot mata Luna yang sembab itu Naomi dan Selena semakin yakin bahwa perjalanan mereka tidak sebahagia yang seharusnya. Festival squere yang selalu memberikan kebahagiaan bagi para pengunjungnya, tidak memberika efek apapun terhadap Jester dan Luna.


Selena langsung memeluk Luna begitu erat dan membiarkan Luna menangis dalam pelukannya, Naomi yang saat itu merasakan kepedihan hati Luna cuma bisa terdiam sembari membelai rambut Luna begitu lembut. Sesekali pandangan Naomi menatap pintu masuk ruang keluarga yang sudah tertutup rapat. Malam itu menjadi malam yang menyedihkan dengan kepiluan dimasing - masing hati mereka berempat, sungguh bukan malam yang menyenangkan.


Malam berganti pagi yang cerah, Jester pun membuka matanya terbangun dari tidurnya diruang keluarga. Dengan perasaan yang masih campur aduk, membuatnya enggan untuk memulai aktifitas. Jester kembali menarik selimut dan hendak tidur sampai tiba - tiba suara ketokan pintu terdengar, dia menghela nafasnya dan sudah menduga akan seperti ini. Tidak lama Jester pun beranjak dari kasur lipatnya lalu segera membuka pintu ruang keluarga, disana Jester melihat Naomi yang tersenyum manis menatapnya.


"Pagi Jester.... aku tebak kamu baru bangun dan baru saja memutuskan buat tidur lagi" dengan candaan Naomi mengatakannya, Jester sedikit tersenyum sambil mengusap kedua matanya untuk menghilangkan kotoran dimatanya.


"Heeii.... kenapa kamu murung lagi? gak seperti kamu yang biasanya..." tanya Naomi dengan nada yang terdengar sedih melihat Jester kembali murung, dengan tawa kecil Jester merespon perkataan Naomi.


"Engga kok, ini karena baru bangun tidur aja" jawab Jester, tiba - tiba Naomi menempelkan kedua tangannya dikedua pipi Jester dan memaksanya untuk terus memandang wajahnya.


"lihat aku~" dengan manja Naomi mengatakannya, Jester pun terkejut dan wajahnya memerah.


"Waaa! apa ini Naomi?!!" tanya Jester yang panik karena seakan mereka akan berciuman dipagi hari itu


"senyum donk~ kayak gini...." jawab Naomi sembari tersenyum manis menatap Jester, senyum dan tindakan spontan Naomi saat itu membuat Jester tertawa. Tidak lama, Jester mengatur nafasnya lalu tersenyum tulus menatap Naomi.


"Nah gitu donk~ kamu itu... kelihatan keren kalau tersenyum" ucap Naomi lalu mendekatkan dahi memberi kode kepada Jester agar dia menciumnya, Jester saat itu mencium dahi Naomi dengan lembut.


"Yuk sarapan!" ajak Naomi dengan penuh semangat sambil menarik tangan Jester, semangat Naomi saat itu seakan kembali membakar semangat Jester dipagi hari itu.

__ADS_1


Jester sedikit berlari mengikuti arah tarikan tangan Naomi menuju ruang makan, disana Luna dan Selena sudah menunggu Jester dan Naomi. Dibumbui dengan pertengkaran Naomi dan Luna, Jester menikmati sarapannya tanpa terganggu sedikit pun. Sesekali Jester tertawa mendengar ejekan Naomi pada Luna dan sebaliknya, disaat itu juga seperti biasa Selena mencuri kesempatan untuk bermesraan dengan Jester yang membuat Naomi dan Luna menyeret Selena dalam pertengkaran mereka.


__ADS_2