Aku Pinjam Dia

Aku Pinjam Dia
Hanggar Nomor Dua Belas


__ADS_3

Pagi hari yang cerah disebuah jalanan perkotaan, kemacetan yang seakan menjadi ciri khas pada kota besar menjadi pemandangan yang sudah lumrah terlihat terutama pada jam sibuk di pagi hari. Kepanikan beberapa orang selalu saja ada dalam situasi seperti itu, tak terkecuali pada sebuah Mercedes Benz S450 terlihat diantara mobil - mobil lain yang terjebak didalam kemacetan jalan perkotaan, didalam mobil pada penumpang belakang terlihat Jester dengan kepanikan yang dirasakannya sedang berusaha menelepon seseorang dari handphonenya. Tidak lama seseorang yang Jester telepon saat itu pun mengangkatnya


***


"Papa! aku butuh bantuan mu! Naomi akan pergi entah kemana dengan jet pribadi!" ucap Jester dengan nada panik ketika telepon terangkat


"Apa?! kamu tidak sedang mengerjai ku kan nak?" tanya William panik


"Aku tidak sedang bercanda papa! Saat ini aku terjebak kemacetan" jawab Jester


"Aku akan ke bandara nak, jet pribadi Evans ada di hanggar nomor dua belas. Aku akan blokade jalur penerbangannya!" ucap William lalu telepon pun tertutup


***


Begitu telepon tertutup, Jester langsung mencari nomor seseorang lagi di handphonenya. Kali ini Jester menelepon 'Si Gorilla', lama berdering namun Luke tidak juga kunjung mengangkatnya dan membuat Jester semakin panik.


"Sial!! dimana gorila itu ketika sedang dibutuhkan!!" bentak Jester begitu terdengar marah, tidak lama telepon pun terangkat.


***


"Ya Jester, ada apa?" tanya Luke dengan suara yang begitu jelas jika dia baru saja bangun dari tidurnya


"Luke!! aku terjebak macet, Naomi akan meninggalkanku! bantu aku untuk mencari dan menahannya, dia ada di bandara sekarang!!" jawab Jester begitu panik


"Hah?!! dimengerti!! aku akan panggil teman - teman yang lain!!" timpal Luke yang juga panik, lalu telepon pun terputus.


***


Jester meletakkan handphone miliknya di partisi yang tersedia dalam mobil, lalu bersandar pada jog mobil sembari menahan berat kepalanya dengan tangan yang bersandar pada sandaran tangan mobil.


Ribuan pertanyaan tentang kepergian Naomi seakan menghujani pikiran Jester, baru saja dirinya merasa memiliki harapan setelah kepulangan Naomi kembali ke rumah mereka, kini harus pupus begitu saja dan meninggalkan ketakutan yang hebat bagi Jester.


Selena hanya bisa diam menatap Jester yang terlihat begitu panik dan bingung, belum sempat Selena bercerita apapun karena ketika masuk mobil saat itu Jester langsung menghubungi William. Melihat Jester dengan keadaan yang menyedihkan membuat hati Selena terluka, bagaimanapun keadaannya kekasih Naomi itu adalah pria yang juga Selena cintai.


"Apa yang terjadi, Selena?" tanya Jester dengan nada yang terdengar begitu sedih

__ADS_1


Sebuah pertanyaan yang tak pernah Jester pikirkan akan terucap, pada akhirnya terucap dengan perasaan yang campur aduk. Pertanyaan itu sempat Jester buang karena merasa kepulangan Naomi adalah titik balik dari kebahagiaannya bersama Naomi mulai terjalin lagi dan tidak akan pernah terpisahkan, namun pada kenyataannya Jester keliru dan akhirnya melontarkan pertanyaan itu kepada Selena.


"Sebenarnya... malam - malam saat aku ingin menceritakan ini.... Naomi memang mengatakan jika dia ingin bertemu denganmu setidaknya satu hari saja untuk menguatkan tekadnya" jawab Selena sedikit terbata


"Apa maksudnya?" tanya Jester lagi masih dengan nada penuh kesedihan yang sama


"Kak... aku bertemu dengan nyonya Scott beberapa hari belakangan ini, setelah melihat keadaannya... aku tidak bisa berkata - kata lagi... aku semakin paham mengapa Naomi memilih untuk meninggalkanmu..." jawab Selena, penyebutan nama Naoko pun menarik perhatian Jester.


Perlahan Jester menoleh menatap Selena yang duduk tepat disampingnya, kedua mata mereka kini bertemu dan Jester melihat Selena yang terlihat begitu sedih. Jester yang masih kurang memahami apa yang sebenarnya ingin Selena katakan hanya bisa mengernyitkan dahi, kebingungan dan keheranan Jester pun dapat ditangkap dengan baik oleh Selena.


"Sejak kematian tuan Scott, ibu Naomi begitu terpuruk dan ini sudah lebih dari satu bulan. Selama itu pula nyonya Scott tidak pernah makan selain beberapa suap makanan yang Naomi suap kan, minum pun jika Naomi yang meminta, dan nyonya Scott hanya berbaring didalam kamarnya dan kini sosok cantik itu seperti.... mayat hidup...." ucap Selena menceritakan kondisi Naoko, terkejut lah Jester mendengar cerita Selena.


"Benarkah itu?!" tanya Jester mencoba untuk memastikan jika Selena tidak mengada - ada, Selena hanya menganggukkan kepala merespon pertanyaan Jester.


"Seminggu setelah kematian tuan Scott... ibu Naomi ingin meninggalkan negara ini dan pergi menuju kampung halamannya di jepang, Naomi bilang kalau ibunya sudah tidak kuat terus dihantui oleh kenangan - kenangan indah bersama ayah Naomi namun... Naomi menahan ibunya untuk beberapa saat karena.... Naomi berat hati untuk pergi meninggalkanmu..." Selena melanjutkan ceritanya, Jester pun mematung menatap Selena.


"Naomi bimbang kak.... dia bimbang untuk memilih pergi bersama ibunya agar bisa merawatnya atau tetap disini bersamamu dan meninggalkan ibunya sendiri menyembuhkan diri dari keterpurukan.... apa kamu bisa memahami beratnya beban yang Naomi pikul?" tanya Selena menekan Jester


"Aku...paham... lalu apa yang terjadi?" tanya Jester terbata


Terlihat berat bagi Selena menceritakan semuanya kepada Jester, tidak Selena duga bahwa Jester akan mengalami kehancurannya untuk kedua kali. Namun tekad Jester yang menguatkan hatinya untuk mencari jawaban atas kepergian Naomi membuat Selena ikut menguatkan hatinya menceritakan semuanya kepada Jester.


"Disisi lain.... Naomi tidak ingin pergi dari negara ini, dia tidak ingin meninggalkanmu karena dia sangat mencintaimu... karena itulah, saat malam - malam aku kerumahmu... aku hanya ingin mengatakan jika...." Selena menggantung kalimatnya sejenak


"Jika... Naomi tiba - tiba pulang kerumah kalian... bersikaplah seolah kamu terpuruk, buat dia merasakan jika kamu adalah prioritasnya dan tidak mungkin untuk meninggalkanmu sendiri disini.... apa yang terjadi ketika Naomi pulang kerumah kalian kak?" tanya Selena penasaran


"Aku.... dan teman - teman.... bersenang - senang menyambut kepulangan Naomi... berkumpul bersama kami..." jawab Jester terbata. Kepalanya tertunduk dan tangannya terlihat mengepal, Jester terlihat menyesal karena salah mengartikan kedatangan kembali Naomi. Jester semakin terpuruk dengan keadaan dirinya menyadari bahwa dia tidak mampu peka terhadap hubungannya bersama Naomi.


Mendengar Jawaban Jester membuat Selena kaget dan menyesal karena memilih untuk menunda mengatakan yang sebenarnya kepada Jester.


"Maaf.... aku tidak menyangka kalau Naomi.... akan datang secepat itu..." ucap Selena terdengar menyesal


"Kenapa tidak kamu langsung katakan saja?!" bentak Jester sampai membuat Selena tersentak


"Aku tidak katakan langsung karena disaat seperti itu, kamu pasti akan bertindak gegabah!! Di restoran keluarga juga kamu akan lebih percaya pada Sarah!!" jawab Selena juga dengan bentakan, keduanya tiba - tiba terdiam dan saling menatap.

__ADS_1


"Baik...!! jujur.... aku tidak bisa mengesampingkan keegoisanku... aku merasa memiliki kesempatan dan...." belum selesai Selena berbicara, Jester memotong.


"Tapi yang kamu lakukan ini sangat buruk untukku" begitu menekan Jester saat mengatakannya dan membuat Selena hanya bisa terdiam.


Ditengah kemacetan itu Jester dan Selena pun terdiam tanpa ada lagi obrolan apapun, hati Jester mulai bertanya - tanya apakah dia masih sempat untuk menyusul Naomi. Ditengah keputusasaannya itu, Jester berharap baik William atau teman - temannya yang bisa lebih dulu sampai di bandara untuk menyusul Naomi.


Disisi lain, di bandara internasional yang cukup ramai pagi itu. Sebuah helikopter mendarat di helipad dekat dengan hanggar - hanggar tempat pesawat terparkir dalam area bandara, tak lama William dan Marry turun dari helikopter itu dan langsung disambut empat mobil Range Rover Evoque berwarna hitam. Dengan segera William dan Marry masuk kedalam salah satu dari keempat mobil itu, setelah masuk keempat mobil itu segera berjalan menuju hanggar dua belas.


Benar saja, ketika itu pintu hanggar dua belas sudah terlihat terbuka. Dengan jantung yang berdetak kencang, William dan Marry berharap mereka masih sempat untuk mencegat jet pribadi keluarga Scott. Harapan William dan Marry terkabul, pesawat itu masih dipersiapkan sedemikian rupa oleh beberapa teknisi. Kedatangan empat mobil Range Rover Evoque  berwarna hitam ketika itu mengagetkan para teknisi, mereka berhenti bekerja dan bertanya - tanya tentang apa yang sedang terjadi. William keluar sambil membawa pengeras suara, tidak lama Marrie pun keluar lalu berdiri disebelah William.


"Naoko!! keluarlah!! aku William dan Marrie ingin bicara denganmu!!" ucap William dengan menggunakan pengeras suara, ketika itu para teknisi pesawat serentak menatap pintu masuk pesawat yang terbuka.


"Naoko!! ayo kita bicara!! kamu tidak boleh seperti ini!! mengorbankan kebahagiaan anak kita, itu tidak bijaksana sebagai orang tua!!" ucap William lagi dengan lantang, suaranya terdengar begitu menggema di hanggar.


Tidak lama terlihat seseorang yang akan keluar dari pintu pesawat jet itu, perlahan langkah kakinya melangkah dan menuruni anak tangga. Sesosok perempuan yang biasanya terkenal begitu cantik itu kini seperti tulang yang berbalut kulit, kantung mata yang nampak membengkak dan kehitaman, keriput di wajah yang nampak jelas terlihat, dan pipi yang terlihat cekung.


William dan Marrie pun terkejut melihat sosok Naoko sekarang, hanya lewat satu bulan sosok Naoko kini hampir tidak dapat dikenali oleh William dan Marrie. Dengan dibantu sebuah tongkat untuk berjalan, Naoko kini hanya berjarak beberapa langkah dari posisi William dan Marrie.


"Ada apa ini.... tuan Gates?" suara Naoko terdengar begitu serak, perlahan pengeras suara yang semula masih terus William arahkan di mulutnya kini mulai turun.


"Sayang... aku tidak bisa berkata apa - apa..." bisik William kepada Marrie yang berada disebelahnya, seakan sedang menguatkan diri saat itu Marrie menarik nafas dalam - dalam dan berjalan mendekati Naoko.


"Naoko, aku ingin bicara tentang Naomi dan Jester. Kamu tidak bisa melakukan ini setelah apa yang sudah kita rencanakan! tolonglah untuk tidak egois!!" ucap Marrie dengan nada yang terdengar marah sembari berjalan terus hingga berdekatan dengan Naoko.


Pembicaraan antara orang tua Jester dan Naomi pun terjadi, walau harus dalam keadaan yang tidak membuat nyaman. Semua mereka lakukan untuk kejelasan hubungan putra dan putri ketiganya. Kenyataan bahwa rencana pernikahan Naomi dan Jester yang kurang dari satu bulan lagi pun membutuhkan jawaban dan kepastian. Ada William dan Marrie yang membawa harapan besar agar bisa membawa Naomi kembali pada Jester, namun mereka tidak bisa menghindari untuk berhadapan dengan Naoko dengan ketegasan sikap yang dia ambil dengan keputusan Naomi.


"Marrie... kamu salah paham tentangku" jawab Naoko dengan sedikit suara tawa yang terdengar, Marrie pun mengernyitkan dahinya ketika mendengar perkataan Naoko.


"Salah paham apa aku kali ini?" tanya Marrie heran


"Aku tidak pernah meminta Naomi untuk pergi bersamaku, tapi Naomi sendiri yang meminta untuk menemaniku" jawab Naoko, jawaban itu membuat Marrie tertawa sinis.


"Tentu saja, aku yakin kamu mengancam Naomi dengan segala cara. Jadi bagaimana mungkin Naomi tidak menurutimu" sindir Marrie


"Dua hari yang lalu, Naomi meminta izinku untuk pulang kerumah mereka dan aku membiarkannya untuk berkumpul bersama Jester, dan baru sehari pulang Naomi sudah kembali kepadaku dan mengatakan jika dia akan ikut denganku" timpal Naoko membalas sindiran Marrie, mendengar perkataan Naoko saat itu membuat Marrie terkejut.

__ADS_1


"Benarkah Naomi... sempat pulang dan berkumpul dengan Jester?" tanya Marrie lagi mencoba memastikan, Naoko menghela nafasnya sejenak sebelum merespon pertanyaan Marrie.


"Biar aku ceritakan apa yang mungkin ingin kamu dengar.... aku lelah, jadi tolong dengarkan ini baik - baik karena aku tidak akan mengulangnya lagi... setelah itu, terserah kamu mau berfikiran apa tentangku" ucap Naoko


__ADS_2