Aku Pinjam Dia

Aku Pinjam Dia
Harapan Untuk Keluarga Gates


__ADS_3

Pagi yang cerah disebuah perbukitan yang cukup jauh dari pusat kota, terlihat kediaman besar Gates masih dijaga oleh banyak sekali pria berbadan tegap dengan setelan tuksedo hitam dan sebuah kacamata hitam yang menghiasi wajah mereka. Diperjalanan dari kamar menuju pintu depan Jester dan Naomi berjalan berpapasan dengan banyak sekali wanita - wanita berpakaian maid yang bertugas membersihkan seluruh rumah itu dan semuanya menundukkan kepala ketika bertemu dengan Jester, hingga sampai depan pintu Jester dan Naomi melihat dua orang pria penjaga.


"Selamat pagi tuan muda Jester, maaf anda tidak diperkenankan untuk keluar dari rumah ini" ucap salah satu penjaga yang menjaga pintu depan itu, Jester pun mengerutkan dahi menatap penjaga.


"Siapa yang melarang ku?" tanya Jester dengan sedikit tekanan


"Tuan besar Arthur yang melarangnya" jawab penjaga itu


"Kakek lagi hah, ayo kita temui dia" timpal Jester sambil membalikkan badannya untuk menemui Arthur didalam rumah, Naomi tiba - tiba memegang lengan Jester dengan erat sampai membuat Jester menoleh menatap Naomi.


"Jess, kamu tahu dimana kamar kakek mu? rumah ini luas loh" tanya Naomi, Jester pun tertawa kecil mendengar pertanyaan Naomi.


"Gak tau sih... tapi nanti kita tanya - tanya saja sama pekerja disini" jawab Jester dengan sedikit malu - malu, tidak lama terdengar gema suara kaki yang terdengar menekan.


"Gates muda... kamu mau kemana?" tanya Arthur yang muncul dari belakang Jester yang saat itu posisinya agak jauh, suara berat dan besar Arthur membuat gema di seluruh ruangan itu. Jester langsung membalikkan badannya menatap sumber suara, sedangkan Naomi bersembunyi dibalik punggung Jester menutup wajahnya.


"Aku mau ke kampus, aku menjadi panitia penguji untuk lomba antar universitas" jawab Jester dengan tenang


"Kamu gak perlu merepotkan dirimu dengan hal receh seperti itu, jika ingin aku akan tutup universitas mu sekarang juga agar kamu bisa fokus dengan tugasmu" timpal Arthur dengan datar sembari terus berjalan mendekati Jester


"Ya engga gitu juga donk kakek... kenapa semua selalu diselesaikan dengan cara seperti itu sih?" terdengar kesal Jester bertanya


"Yang merepotkan memang harus segera diselesaikan dengan cepat, begitu pula Arielle Corp yang seharusnya kamu selesaikan mereka dengan cepat" jawab Arthur dengan menekan, Jester menghela nafasnya sambil menggaruk dahi beberapa kali.


"Jika memang sudah diserahkan padaku, lebih baik kakek lepaskan saja pikiran tentang Arielle Corp itu" timpal Jester masih dengan nada yang terdengar kesal, Arthur pun tertawa mendengar perkataan Jester lalu menepuk pundak Jester dengan cukup keras dan berdiri bersebelahan dengan Jester.


"Aku masih meragukan kemampuanmu, bagaimana mungkin aku bisa tenang menyerahkan masalah ini seratus persen kepadamu. Tapi aku suka caramu saat berhadapan denganku Gates muda, lakukan sesukamu" ucap Arthur dengan tegas, lalu kembali berjalan menuju pintu keluar.


"Biarkan anak William keluar masuk rumah ini, jangan ada yang menghalanginya melakukan apapun dirumah ini" ucap Arthur dengan suara lantang sampai membuat Naomi tersentak dan tangannya meremas kuat pundak Jester, suara yang menggema itu membuat beberapa orang mendengar apa yang baru saja Arthur ucapkan.


"Siap!" serentak setiap pekerja yang berada disana mengucapkannya baik pria dan wanita, suaranya menggema dan membuat bulu kuduk Jester sampai berdiri karena kagum akan kharisma kakeknya itu.


Arthur keluar dari ruangan itu menuju sebuah mobil Bentley State Limousine yang sudah menunggunya didepan pelataran rumah, dengan sigap supir membukakan pintu belakang mobil dan menutupnya kembali ketika Arthur telah masuk kedalam mobil. Supir itu kemudian berlari memutari mobil untuk mengemudikannya, tidak lama mobil tersebut pun berjalan meninggalkan kediaman Gates.


Jester dan Naomi yang berjalan menuju pelataran rumah melihat Bentley State Limousine Arthur pergi mendadak tersadar sesuatu yang mereka tidak pikirkan sebelumnya, yaah... mereka berdua berada dikediaman besar Gates karena dipaksa dan dibawa oleh pengawal Arthur.


"Jess... kamu melupakan sesuatu yang penting kan?" tanya Naomi datar


"I... iya... kita kesini gak bawa mobil sendiri ya..." jawab Jester terbata dan merasa malu karena hal kecil seperti ini luput dari perhatiannya, Naomi menepuk dahinya perlahan dan menghela nafasnya.


"Duuh... Jess.... terus gimana?" tanya Naomi terdengar pasrah menunggu keputusan Jester, sempat berfikir sejenak Jester lalu mendapat ide dan segera berbalik menatap salah satu penjaga yang berdiri didepan pintu masuk.


"Hei pak, bagaimana caraku bertemu dengan pak Julius?" tanya Jester sambil berbalik dan menatap salah satu penjaga


"Saya bisa hubungi kepala Julius dengan alat komunikasi kami untuk menentukan lokasinya" jawab penjaga itu


"Lakukan" timpal Jester dengan tegas, penjaga itu langsung menekan alat yang menempel di telinganya.


"Selamat pagi kepala Julius, tuan muda Jester ingin bertemu dengan anda di pelataran utama rumah" ucap penjaga itu, lalu melepaskan tangan dari alat yang menempel di telingannya.


"Tuan muda Jester, kepala Julius sedang berjalan menuju kemari dan meminta tuan muda Jester untuk bersedia menunggu kepala Julius" ucap penjaga itu dengan sopan, Jester hanya menganggukkan kepalanya lalu kembali menatap air mancur yang cukup jauh dari posisi Jester saat ini. Tanpa disadari Jester, saat itu dia melamun dan menatap air mancur itu.


"Jess.... Jess? Jester!!" agak membentak Naomi menyebut nama Jester, seketika Jester sadar dari lamunannya dan menatap Naomi dengan wajah yang terkejut.


"Jess? kamu kenapa?" tanya Naomi khawatir


"Eeh... yah... tadi aku sedikit melamun gara - gara menatap air mancur didepan kita itu, entah kenapa seperti ada kenangan buruk berhubungan dengan air mancur itu" jawab Jester terdengar bingung, Naomi juga terlihat heran mendengar jawaban Jester.


"Kamu... punya kenangan buruk disini? tapi kan ini pertama kalinya kamu disini?" tanya Naomi heran

__ADS_1


"Iya memang ini pertama kalinya... tapi entah kenapa disana seperti ada aura - aura negatif yang membuat perasaanku menjadi sedih kalau menatapnya" jawab Jester masih dengan keraguan tentang apa yang sebenarnya dia rasakan saat itu, Naomi menggenggam erat lengan kanan Jester dan wajahnya menunjukkan ketakutan.


"Jess... aku ini takut sama hal - hal begitu loh!! jangan jadi freak gitu aaa~" timpal Naomi ketakutan, Jester pun tertawa lalu tangan kirinya mengelus lembut kepala Naomi berusaha untuk menenangkannya. Tidak lama pintu utama rumah terbuka, Jester dan Naomi pun menoleh menatap pintu yang terbuka itu dan melihat Julius berjalan mendekati mereka.


"Tuan muda Jester dan nona muda Scott, maaf jika membuat kalian menunggu selama ini" celetuk Julius sambil berjalan mendekati Jester dan Naomi


"Pak Juliu..." belum selesai Jester berkata, Julius memotong.


"Julius saja tuan muda Jester" timpal Julius dengan tenang, Jester terdiam sejenak dan menatap Julius dengan wajah kesal.


"Bisakah kita hentikan perdebatan tidak berguna itu? aku benar - benar kesulitan jika memanggilmu hanya dengan nama saja" kesal Jester saat mengatakannya, namun Julius menggelengkan kepalanya beberapa kali untuk merespon kekesalan Jester.


"Ayolah... itu tidak penting kan?" tanya Jester masih terdengar kesal


"Tidak tidak tidak... itu penting tuan muda" jawab Julius tegas, mereka berdua pun berdebat kecil mengenai problem Jester yang kesulitan untuk menyebut nama Julius tanpa embel - embel. Perdebatan mereka membuat kedua pria penjaga ingin tertawa namun dengan sekuat tenaga mereka menahannya, Naomi yang awalnya merasa sangat tertekan sejak tadi akhirnya pun tertawa kecil


"Sudah sudah... apa sih yang seperti itu aja diperdebatkan?" tanya Naomi dengan sedikit tawa, Jester dan Julius pun mengalihkan pandangannya menatap Naomi. Garis senyum Julius terlihat beberapa saat, lalu dia mencoba untuk mengatur sikapnya lagi.


"Ehem... baik tuan muda Jester, ada keperluan apa mencari Julius?" tanya Julius dengan sopan sembari sedikit menutup bibirnya dengan kepalan tangan agar garis senyumnya tidak terlihat


"Aku membutuhkan mobil untuk ke kampus, disini kalian kan menculik ku dan aku tidak punya mobil disini" jawab Jester, mendengar jawaban Jester membuat Julius terlihat heran.


"Anda hanya perlu ke garasi diarea rumah ini dan pilihlah mobil yang anda sukai untuk anda pakai, apa repotnya?" dengan nada yang terdengar heran Julius mengatakannya, Jester dan Naomi saling menatap ketika mendengar jawaban Julius.


"Benarkah boleh seperti itu?" tanya Naomi heran dan menatap Julius dengan ragu, Julius menghela nafasnya sebelum menjawab pertanyaan Naomi.


"Selama tidak ada perintah larangan dari tuan besar Arthur, berarti semuanya boleh dilakukan" jawab Julius datar, Jester pun tersenyum lebar mendengar jawaban Julius.


"Katakan dimana garasi dirumah ini" terdengar antusias Jester mengatakannya


"Mari ikuti saya tuan muda Jester" ajak Julius kepada Jester dan Naomi


Julius, Jester dan Naomi pun berjalan memutari rumah dan didapatinya sebuah garasi dengan kaca yang terlihat seperti sebuah showroom mobil, berbagai jenis mobil dari berbagai merk terlihat berjejer di garasi itu. Mata Jester pun berbinar ketika melihat mobil - mobil sport keluaran terbaru berjejer disana, selama ini Jester menggunakan mobil keluarga mewah dimana Jester merasa itu belum cocok untuknya saat ini.


"Tuan muda selama ini menggunakan mobil apa?" tanya Julius penasaran karena mendengar ucapan Jester


"Aku dikasih Mercedes Benz V260 sama papa!" jawab Jester sambil berlari mendekati salah satu mobil di garasi itu, ditengah Jester asyik memilih mobil terlihat Julius menatap Naomi yang terdiam melihat Jester.


"Mercedes Benz V260 tidak cocok untuk kalian, mengapa tuan William memberikan mobil seperti itu?" tanya Julius pada Naomi, mendapat pertanyaan itu membuat Naomi pun sedikit tertawa malu.


"Ceritanya panjang dan sedikit memalukan, bagaimana pun aku dan Jester bisa berpacaran seperti ini juga karena kebohongan kami yang akhirnya malah jadi kenyataan" jawab Naomi dengan rasa malu yang tersirat dari perkataannya, Julius pun tersenyum mendengar jawaban Naomi.


"Begitu ya... bagaimana kabar hubungan nona dengan seorang selebgram bernama Daniel itu?" tanya Julius sedikit menekan, pertanyaan Julius membuat Naomi tersentak kaget dan menatap Julius dengan ketakutan.


"Kaget nona?" tanya Julius menatap Naomi dengan datar


"Se... sejauh mana... kamu tahu?" tanya Naomi terbata, Julius mengalihkan pandangannya menatap Jester yang masih asyik keluar masuk mobil - mobil itu.


"Tuan besar Arthur sudah menyelidiki semua tentang kalian berdua, tuan besar Arthur juga tahu jika kalian pasangan yang berawal dari suatu kebohongan namun baik tuan William dan tuan Scott sangat senang dengan hubungan kalian berdua. Kalian bisa menjadi sepasang kekasih juga karena usaha dari nyonya Marrie dan nyonya Scott, dengan rencana mereka berdua akhirnya bisa menjadikan kebohongan itu menjadi kenyataan" jawab Julius datar, Naomi masih terlihat ketakutan mendengar jawaban Julius.


"Aku hanya berfikir tentang hubungan anda dengan selebgram itu, bukankah kalian saling mencintai? apa anda benar - benar mencintai tuan muda Jester?" tanya Julius menekan Naomi tanpa menatapnya secara langsung


"Julius... aku mencintai Jester dengan seluruh hatiku... tentang masa laluku, itu sudah tidak berarti lagi... aku yang sekarang hanya ingin bersama Jester" jawab Naomi terbata, namun ketegasan Naomi masih begitu terasa di setiap katanya dan membuat Julius kembali mengalihkan pandangannya menatap Naomi.


"Aku berharap itu yang benar - benar terjadi nona muda Scott" timpal Julius terdengar datar


"Naomi! kita pilih Ferrari 458 ini saja, yuk kita berangkat sekarang!" terdengar antusias Jester mengatakannya sambil sedikit berteriak, Julius menatap Jester kembali.


"Dia harapanku untuk merubah keluarga dingin ini agar menjadi lebih hangat, harap nona muda Scott memahami arti dari perkataan Julius ini" celetuk Julius datar, Naomi pun menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Aku.... mengerti..." timpal Naomi terbata, dia segera melangkahkan kakinya mendekati mobil yang dipilih Jester untuk digunakan mereka menuju kampus.


Dengan segera Jester melajukan mobil Ferrari 458 itu setelah Naomi masuk kedalamnya, diperjalanan menuju pagar depan terlihat banyak sekali penjaga yang menundukkan kepalanya ketika Jester lewat. Hal itu membuat Jester sedikit merasakan risih, begitu mereka keluar dari area kediaman Gates saat itu Jester langsung membuka pembicaraan dengan Naomi.


"Wow, lama gak pakai mobil bertenaga besar seperti ini membuat aku ingin terus menginjak gasnya!" celetuk Jester dengan antusias, Naomi hanya terdiam menundukkan kepalanya.


"Naomi?" Jester melihat Naomi yang terus menunduk dan terlihat melamun, tangan Jester dengan lembut menepuk pundak Naomi untuk menyadarkannya dari lamunannya. Mendapatkan sentuhan dari Jester membuat Naomi tersadar dan menatap Jester namun masih terdiam, tatapan kaget Naomi membuat Jester merasakan khawatir.


"Hei, ada apa?" tanya Jester khawatir, Naomi menggelengkan kepalanya beberapa kali untuk merespon pertanyaan Jester.


"Kamu sudah janji untuk tidak ada yang disembunyikan dariku kan?" tanya Jester lagi dengan sedikit tekanan kepada Naomi, dengan helaan nafas Naomi memulai untuk berbicara.


"Tidak ada apa - apa Jess... aku cuma kepikiran tentang tantangan kakek mu dan... jika kamu menjadi pemimpin keluarga Gates, apa kamu akan...." Naomi menggantungkan kalimatnya sejenak lalu menatap Jester, kedua mata mereka pun bertemu.


"Akan...?" tanya Jester penasaran


"Akan berubah jadi seperti kakek mu atau malah kamu akan merubah aturan yang ada di keluarga Gates?" tanya Naomi meneruskan kalimatnya yang sempat terputus tadi, Jester menatap Naomi dengan heran lalu kembali melihat jalanan.


"Pertanyaan yang aneh... tapi yang pasti aku tidak tertarik buat jadi penerus kakek sih" jawab Jester dengan tenang dan terkesan tanpa beban, jawaban Jester membuat Naomi merasa heran.


"Kenapa?" tanya Naomi penasaran


"Karena aku ingin memulai semuanya dari awal bersamamu dirumah kecil kita saat ini, rumah dimana aku menyadari bahwa aku mencintaimu. Aku ingin terus bersamamu, dirumah itu" tegas sembari tersenyum Jester mengatakannya dan menatap Naomi, tertegun Naomi memandang mata Jester yang terlihat begitu tulus saat mengatakannya.


"Goomballl~" celetuk Naomi yang tersipu malu dan membuang muka karena Naomi tidak tahan terus menatap mata Jester, mendengar celetukan Naomi membuat Jester pun tertawa cukup keras.


"Ayoo kita urus dulu lomba antar kampus ini sambil menunggu kabar dari papa dan nyonya Jessica, setelah itu band kita yang sudah dijadwalkan dua bulan lagi!" dengan semangat Jester mengatakannya, Naomi tersenyum.


"Jangan lupa..." Naomi menggantungkan kalimatnya dan membuat Jester menatap Naomi


"Kita akan menikah empat bulan lagi... kamu jangan menyesal ya punya istri seperti aku..." Naomi meneruskan kalimatnya sambil menatap Jester dengan senyum dan pipi yang memerah, tiba - tiba Jester melepaskan kemudinya dan mengangkat kedua tangannya bersamaan.


"Ayo kita menikah dan punya banyak anak!!!" dengan semangat Jester mengatakannya, Naomi pun tertawa mendengar ucapan penuh semangat Jester saat itu.


Penuh canda tawa antara Jester dan Naomi disepanjang perjalanan mereka, tidak lama suara dering handphone Jester pun terdengar. Naomi mengambilkan handphone Jester didalam tas kecil Jester, kemudian melihat siapa yang menelepon pagi hari ini. Tertulis 'Dekan' yang menelepon Jester saat itu, dengan segera Jester mengangkat telepon.


***


"Selamat pagi Jester" sapa dekan kepada Jester begitu telepon terangkat


"Pagi pak, ada apa?" tanya Jester


"Bapak sudah lihat daftar peserta dan sepertinya membeludak ya, nama - nama tidak populer dikalangan ranking atas pun sepertinya antusias untuk ikutan lomba antar kampus kali ini" jawab dekan terdengar heran, saat itu baik Jester dan Naomi sama - sama terdiam tidak tahu harus menjawab apa.


"Tapi bapak suka dengan semangat ini, jadi bapak sudah memberikan broadcast lewat website resmi universitas untuk mengadakan seleksi tahap awal yang akan diadakan hari ini" dengan semangat dekan mengatakannya, Naomi pun terkejut setengah mati mendengar perkataan dekan, karena bagaimana pun Naomi sadar dia tidak terlalu pintar dan dia juga tidak sempat belajar belakangan ini.


"Aaa anu pak... apa tidak terlalu mendadak?" tanya Jester terdengar keberatan


"Sengaja bapak buat mendadak agar seleksi kali ini berjalan fair, bagaimana pun lomba antar universitas ini sangat bergengsi jadi yang terbaik dari terbaik yang harus mendampingi mu" jawab dekan masih terdengar antusias dan senang


"Bagaimana kalau ada yang... tidak hadir?" tanya Jester lagi


"Dia langsung gugur... Ahahaha, ya tentu saja... pokoknya kamu segera ke kampus dan segera berkumpul dengan panitia lainnya, sampai ketemu di kampus Jester!" jawab dekan lalu menutup teleponnya


***


Perlahan Jester meletakkan handphonenya di partisi yang ada disebelah kirinya, lalu menoleh menatap Naomi yang bengong menatap jalanan dengan tatapan mata kosong. Jester tahu Naomi begitu cemburu jika yang memenangkan audisi itu adalah Selena atau Camilla, namun Jester tidak dapat berbuat apa - apa.


"Na... Naomi... kamu... baik - baik saja?" tanya Jester memecah keheningan

__ADS_1


"Aaaa~ Jester!!! kamu harus memberiku kunci jawaban!!!" teriak Naomi mendadak sambil memukuli Jester bertubi - tubi


Pagi itu di jalanan perbukitan dikelilingi dengan hutan yang begitu hijau dan asri, sebuah Ferrari 458 melaju cukup pelan dan berjalan zig zag, beberapa hewan liat yang kebetulan ada dipinggir jalan pun sampai berhamburan masuk kedalam hutan karena takut melihat mobil yang bejalan zig zag itu. Jester dan Naomi terlibat pertengkaran kecil walau terlihat sangat jelas jika Naomi yang begitu dominan di hubungan mereka, Jester hanya dapat menolak permintaan curang Naomi dan juga menahan setiap pukulan Naomi.


__ADS_2