
Malam yang cerah dengan taburan bintang yang menghiasi langit, disalah satu rumah sakit pinggiran kota. Suasana khas yang sering terlihat pada setiap rumah sakit, selalu menjadi pemandangan yang biasa dijumpai oleh setiap orang yang berada disana. Jester, Luke dan Harry yang memutuskan menunggu Naomi di Cafetaria rumah sakit sedang asyik menikmati minuman yang mereka pesan masing - masing sambil mengobrol. Kalau bukan karena permintaan Naomi untuk ditemani, cafetaria rumah sakit bukanlah tempat yang asyik bagi three musketeers untuk berkumpul.
"Kenapa Luna muncul lagi ya?" tanya Harry saat itu memulai pembicaraan, Jester menaruh kepalanya dimeja dan terlihat tidak ingin melanjutkan pembicaraan itu.
"Mengingat Selena juga ada, bisa jadi ini termasuk dalam rencananya bersama Camilla" jawab Luke dengan yakin, namun Jester benar - benar tidak merespon apapun dan tetap pada posisinya semula. Luke dan Harry pun terlihat khawatir dengan kondisi sahabatnya itu, lalu Luke menepuk pundak Jester agak keras.
"Apa kehadiran Naomi gak bisa membuatmu melupakan Luna?" tanya Luke, Jester menoleh menatap Luke dengan tatapan mata kosong seakan melamun.
"Itu sesuatu yang berbeda Luke" jawab Jester dengan helaan nafas
"Lalu sekarang kamu maunya gimana?" tanya Luke terdengar sedikit kesal kepada Jester, Jester kembali menaruh kepalanya diatas meja.
"Entahlah, aku bingung" jawab Jester begitu pasrah, raut wajah Luke terlihat marah saat mendengar jawaban Jester namun dia masih berusaha sabar menghadapi sahabatnya itu. Sedangkan Harry hanya bisa tertawa melihat ekspresi wajah Luke.
"Heii Jester, aku dan Luke tidak akan pernah bisa memahami seberapa dalam luka dihatimu..." ucap Harry mengantungkan kalimatnya menunggu respon Jester, tidak beberapa lama Jester mengangkat kepalanya lagi menatap Harry namun tatapannya masih kosong.
"Tapi sudah ada seorang wanita yang mencintai dan menunggumu saat ini, apa kamu tidak punya hati nurani sampai tega mengabaikannya? kami cuma mengkhawatikan sikapmu, jika begini terus bisa jadi Naomi akan meninggalkanmu karena tidak tahan dengan kebodohanmu" Harry melanjutkan kalimatnya yang terputus tadi, namun Jester tetap terdiam.
"Tidak akan, meski dia bersikap bodoh seperti itu sampai akhir hayatnya... aku mau tetap ada disampingnya" timpal Naomi sembari berjalan mendekati Jester, Luke dan Harry. Ketiganya kemudian serentak menoleh mencari sumber suara Naomi, Naomi pun tersenyum sembari terus berjalan dan duduk disebelah Jester.
"Biarkan saja dia seperti ini, aku tidak keberatan selama Jester mengizinkanku berada disampingnya" Naomi kembali berbicara dengan suara yang lembut dan tersenyum manis menatap Jester, ucapan Naomi saat itu membuat Jester terpaku dan terpesona. Sontak Luke menarik kerah baju Jester dengan kasar dan Harry menangis sambil menggebrak meja beberapa kali.
"Brengsek!! darimana keberuntunganmu itu sampai bisa berpacaran dengan wanita sebaik dia?!!" bentak Luke terdengar marah dan iri
"Siiiaaall!!! aku iri!!!" timpal Harry dengan teriakan, Jester merespon dengan menutup telinga seakan tidak mempedulikan omongan keduanya.
Terjadilah keributan dicafetaria itu sampai membuat petugas keamanan rumah sakit mengusir mereka, akhirnya mereka berempat pergi meninggalkan cafetaria. Sebenarnya keributan yang diciptakan oleh mereka hanyalah sebuah candaan, ya... seperti biasa tingkah ketiga sahabat ini memang selalu heboh dimanapun mereka berkumpul.
Hendak pergi meninggalkan rumah sakit, mereka berempat berjalan melewati kamar Becca. Disana mereka melihat Daniel sedang berdiri seperti merenung, Luke dan Harry pun menunjukkan wajah yang terlihat tidak bersahabat, sedangkan Naomi menunjukkan sikap tidak peduli, dan mata Jester teralihkan pada bucket mawar merah yang berada ditempat sampah. Mereka melewati Daniel begitu saja tanpa kata, namun tiba - tiba Daniel berbalik menatap mereka yang terus berjalan.
"Jester!! Aku ingin mengatakan sesuatu!!" agak berteriak Daniel mengatakannya. Mendengar ucapan Daniel itu membuat Jester, Luke dan Harry menghentikan langkahnya bersamaan, sedangkan Naomi berusaha menarik Jester agar terus berjalan mengabaikan Daniel. Jester, Luke dan Harry membalik badannya menatap Daniel, sedangkan Daniel berjalan mendekat dan berhadapan dengan Jester yang berada dibelakang Luke dan Harry.
"Aku sangat mengenal tipe - tipe anak orang kaya sepertimu, kamu merasa semua mudah untuk kamu dapatkan atas dasar fasilitas orangtuamu..." belum selesai Daniel berbicara, Luke memotong
"Langsung saja pada intinya" celetuk Luke pada Daniel
"Ok, To the point aja!! Naomi tidak akan masuk dalam kriteria wanita yang..." ucapan Daniel kembali dipotong
"Daniel!!!" teriak Naomi saat itu terdengar sangat marah, mendengar bentakan Naomi membuat Jester, Luke dan Harry mengalihkan pandangannya menatap punggung Naomi.
"Cukup, belum puas kamu menyakitiku?! aku bahkan tidak membalas perbuatan jahatmu padaku!! tidak bisakah.... tidak bisakah kamu lepaskan aku...? tolong ijinkan aku bahagia dengan caraku...." air mata Naomi mendadak pecah saat mengatakannya, suaranya terdengar berat dan bergemetar. Mata Jester terbelalak saat menyadari suara Naomi yang terdengar menangis, hal yang sangat dibenci Jester saat melihat Naomi menangis karena Daniel. Emosi Jester mulai membara, mengingat sejak tadi Jester terlihat murung.
"Aku cuma menyadarkanmu kalau kamu itu milikku!!" bentak Daniel, mendengar bentakan itu membuat Luke menjadi sangat emosi dan kemudian dia berjalan mendekati Daniel, namun Jester menahannya sembari terus berjalan kearah Daniel dan berhadapan langsung dengannya.
__ADS_1
"Kamu tahu kriteriaku? Haah... jangan bercanda" sedikit tertawa dengan sindiran Jester mengatakannya, keduanya saling menatap penuh rasa benci.
"Dia itu milikku dan kamu tidak berhak merebutnya dariku!!" bentak Daniel, Jester tertawa mendengar ucapan Daniel.
"Kamu sudah dengar permintaannya? lepaskan saja dia, biarkan dia mencari kebahagiaannya sendiri" tegas Jester mengucapkannya, perkataan Jester membuat Daniel terlihat begitu emosi sampai tubuhnya bergemetar.
"Kamu tahu apa tentang aku dan dia?! kamu cuma orang asing yang tiba - tiba masuk kedalam hubungan kami!!" Daniel kembali membentak dengan penuh emosi, Jester pun kembali tertawa mendengar perkataan Daniel. Tawa Jester membuat Naomi terkejut dan membalik badannya menatap Jester, tidak terkecuali Luke dan Harry yang menunjukkan raut wajah heran.
"Hahaha...Kamu benar, aku hanya orang asing yang dulu menarik tangannya diparkiran kampus dan mengakuinya sebagai pacarku" agak tertawa Jester mengatakannya
"Jika memang begitu, kamu harusnya sadar diri!!" masih dengan bentakan Daniel menimpali ucapan Jester
"Bahkan orang asing ini bisa merebut hati Naomi darimu, aku curiga... dihati Naomi yang sebenarnya orang asing itu siapa?" tanya Jester menyindir Daniel, tidak terima dengan sindiran Jester membuat Daniel gelap mata. Sontak Daniel mengarahkan pukulannya kewajah Jester, namun kaki Jester lebih dulu menendang kaki Daniel hingga membuat Daniel terjatuh.
"Kamu pernah mendapatkan kesempatan dan kamu telah gagal, kamu harus berhenti hidup dimasa lalu. Hadapilah, kamu hanya terus melukai hatimu" tegas Jester mengatakannya
"Itu benar, seharusnya yang sudah berlalu biarkan saja berlalu dan hak setiap individu untuk mencari kebahagiaannya sendiri" celetuk Sarah yang tiba - tiba muncul dibelakang Naomi, celetukan Sarah itu mengagetkan semuanya dan mereka pun mengalihkan pandangannya menatap Sarah. Sambil melepaskan kacamatanya dan tersenyum Sarah menatap Luke, tatapan itu membuat bulu kuduk Luke berdiri.
"Sarah...." ucap Naomi menyapa Sarah dengan suara yang pelan dan sedikit serak, Sarah berjalan mendekati Naomi dan menyeka air mata Naomi dengan kedua tangannya.
"Air mata wanita itu mahal Naomi" dengan senyuman Sarah mengatakannya, Naomi pun tersenyum menatap Sarah.
"Aku akan ingat dengan baik" timpal Naomi, Sarah kembali berjalan melewati Harry, Luke dan Jester lalu menjulurkan tangannya kearah Daniel untuk membantunya berdiri.
"Mau apa kamu kesini?" tanya Daniel ketus, suara ketus Daniel membuat Sarah tertawa lalu berbalik menatap Jester.
"Jester kan? ini kedua kalinya kita bertemu, apa kamu ingat?" tanya Sarah dengan ramah, seketika Jester memasang raut wajah heran menatap Sarah
"Di restoran cepat saji kan? gara - gara itu hidupku berubah sekarang" jawab Jester datar, kali ini Sarah tertawa mendengar jawaban Jester.
"Daniel sangat mencintai Naomi, bisa kamu kembalikan Naomi pada pria menyedihkan ini?" tanya Sarah dengan senyuman, semua terkejut mendengar permintaan Sarah kepada Jester.
"Sarah!" bentak Naomi terdengar marah
"Itu benarkan? aku mengatakan apa adanya, tapi semua ada ditangamu kan Jester?" tanya Sarah lagi dengan santainya tanpa beban, Jester terdiam beberapa saat.
"Aku tidak bisa memutuskan, cuma Naomi yang bisa menjawabnya apa dia mau kembali atau tidak" jawab Jester datar, emosi Luke tersulut mendengar jawaban Jester lalu menarik bahu Jester dengan kasar
"Apa - apaan jawabanmu itu?! kamu merelakan Naomi kembali sama pecundang ini?!" tanya Luke dengan nada yang terdengar emosi, ucapan Luke membuat Sarah tersenyum.
"Hai... kita ketemu lagi, apa kamu mau mempertimbangkan tawaranku?" tanya Sarah mengalihkan pembicaraan, Luke tersentak mendengar pertanyaan itu dan membuat Jester, Naomi dan Daniel heran.
"Kalian saling kenal?" tanya Jester terdengar penasaran, sedikit panik Luke berbalik memunggungi Jester seakan menghindari pertanyaan
__ADS_1
"Lupakan saja, bukan waktunya untuk dibahas. tapi Jester... apa kamu benar - benar mencintai Naomi? karena jika tidak.... kamu akan menyakitinya lebih parah daripada Daniel menyakiti Naomi" terdengar tegas Sarah mengatakannya, Jester pun tersentak. Saat itu Jester hanya terdiam menatap mata Sarah yang seakan sedang menunggu jawaban Jester, perlahan Jester membuang muka menghindari kontak mata.
"Untuk apa kamu bertanya seperti itu? kenapa seakan kamu peduli sama Naomi? bukannya kamu yang membuat Naomi seperti ini?" tanya Harry menekan Sarah, namun Sarah tetap tersenyum dan mengalihkan pandangannya menatap Harry.
"Aku seorang profesional, aku dan Daniel tidak lebih dari hubungan bisnis. Jadi ketika tahu pekerjaanku mengganggu kisah cinta mereka, aku hanya bisa menyarankan sesuatu yang menurutku win win solution" jawab Sarah dengan tenang, perlahan Naomi mengepalkan kedua tangannya dan mengumpulkan keberanian untuk berbicara.
"Jester...." ucap Naomi ditengah keheningan diantara mereka, perlahan Jester menoleh menatap Naomi dan mendapati wajah Naomi yang memerah menatapnya.
"Apa kamu.... mencintaiku?" tanya Naomi dengan perasan malu dan penuh harap, saat itu wajahnya menunduk perlahan menghindari kontak mata dengan Jester yang juga terlihat memerah.
"Wow.... ditembak langsung tepat pada hati" celetuk Sarah dengan sedikit tertawa, Daniel ingin berbicara namun Luke mengancamnya dengan gestur tangan dan tatapan mata yang mengancam.
"Na...omi.... haruskah kamu bertanya.... disini?" tanya Jester terbata, Sarah tertawa geli mendengar pertanyaan Jester.
"Serius? ahaha... hei Luke, sahabatmu ini payah ya" celetuk Sarah dengan nada yang terdengar menyindir, Luke tersenyum kecut mendengar sindiran Sarah seakan menahan malu.
"Dia tidak mencintai Naomi!! apa kurang jelas?! dia bahkan tidak bisa menjawab pertanyaan Naomi!" Daniel yang sedari tadi diam seakan mendapat kesempatan untuk menyerang kebodohan Jester, dengan menggebu Daniel mengatakannya. Seperti menyetujui kalimat Daniel, Luke dan Harry pun menghela nafas karena kecewa dengan sikap yang ditunjukkan oleh Jester kepada Naomi.
"Tidak apa, aku mengerti Jester.... maaf bertanya disaat seperti ini" ucap Naomi terdengar sedih dan kecewa, Naomi pun berbalik hendak meninggalkan tempat itu membuat Luke dan Harry serentak menepuk dahi mereka. Jester terkejut melihat respon Naomi, sedangkan Daniel tersenyum sinis merasa menang atas situasi ini.
"Apa ini yang disebut cinta sejati ya?" celetuk Sarah saat itu bersamaan dengan Jester yang tiba - tiba berlari dan berlutut didepan Naomi dengan tatapan mata yang begitu dalam, raut wajah Jester menunjukkan penyesalan dan ketakutan. Naomi pun terkejut melihat ekspresi dan sikap Jester saat itu.
"Naomi.... tunggu...." ucap Jester terbata dengan nada yang terdengar panik, melihat Naomi yang tiba - tiba akan pergi membuat Jester teringat perkataan Harry di cafetaria tadi.
"Maaf Naomi.... aku.... bukan aku tidak ingin menjawab pertanyaanmu... aku hanya...." belum selesai Jester berbicara, Naomi pun tersenyum menatap Jester dan memotong perkataannya.
"Sudahlah jangan diteruskan... aku paham...." timpal Naomi terdengar senang dan terharu, nafas Jester terengah - engah seakan dirinya baru lolos dari ketakutannya. Tiba - tiba Sarah bertepuk tangan beberapa kali dan membuat semuanya kembali fokus menatap Sarah
"Pertunjukan yang bagus, seperti di film - film romansa... Aaah~ sayangnya hatiku mati rasa" celetuk Sarah bersamaan dengan berhentinya tepukan tangannya, Naomi membantu Jester untuk berdiri namun raut wajah Jester saat itu masih terlihat khawatir.
"Apa maumu sebenarnya?" tanya Harry dengan penuh kecurigaan, Sarah pun tertawa sembari berjalan mendekati Naomi yang menatapnya dan terlihat tidak ingin merespon pertanyaan Harry.
"Aku sudah membantumu kan Naomi? apa kamu bisa memaafkanku?" tanya Sarah dengan senyuman, kata - kata Sarah kembali membuat terkejut semua yang berada disana tidak terkecuali Daniel yang mulai menampakkan kemarahannya lagi.
"Aku gak pernah marah sama kamu" jawab Naomi walau dirinya merasa heran dengan sikap Sarah, setelah mendengar jawaban itu Sarah pun kembali berjalan meninggalkan mereka menuju pintu keluar rumah sakit.
"Aku kesini mau menjenguk Becca, tapi yang aku dapati malah keributan. Sisanya silahkan kalian lanjutkan, bye bye~ Daniel... kapan - kapan aku akan datang menjenguk lagi ya" ucap Sarah sambil berjalan meninggalkan mereka, baru beberapa langkah Naomi berbalik menatap Sarah.
"Sarah" agak berteriak Naomi memanggil, mendengar Naomi menyebut namanya membuat Sarah menghentikan langkahnya dan menoleh menatap Naomi yang tersenyum kepadanya.
"Terima kasih" dengan suara yang lembut Naomi mengatakannya, seketika Sarah tersenyum kepada Naomi
"Dari pecundang ke orang bodoh, benarkah itu pilihanmu Naomi? tapi selamat ya, aku menunggu undangan pernikahan kalian~" celetuk Sarah dan kembali berjalan menuju pintu keluar rumah sakit, semuanya pun terdiam untuk beberapa saat setelah kepergian Sarah. Dalam hati mereka masing - masing penuh dengan pertanyaan tentang tujuan Sarah yang terkesan menyindir Daniel.
__ADS_1