Aku Pinjam Dia

Aku Pinjam Dia
Terkubur


__ADS_3

Dihari sabtu siang menjelang sore yang cerah, dirumah Jester dan Naomi. Mereka menikmati pesta barbeque yang telah dipersiapkan oleh Luna dan Selena bersama Luke dan Harry. Pesta itu membawa kebahagiaan bagi mereka masing - masing, seakan menjadi momen untuk melunturkan segala kecurigaan, kecanggungan, dan kemarahan yang sempat terjadi diantara mereka.


Jester yang awalnya tidak bisa menerima kehadiran Luna pun saat itu terlihat mulai dapat menerima Luna dilingkungannya, Luke dan Harry yang menaruh curiga pada Naomi juga terlihat saling mengobrol santai dengan canda tawa seakan tidak pernah terjadi masalah diantara mereka, Selena yang juga memiliki masalah sendiri dengan Luke dan Harry saat itu juga dapat membaur dengan baik.


Hingga senja pun berlalu, Jester dan Naomi meninggalkan rumah untuk menuju rumah sakit dimana Becca sedang dirawat. Dengan perjalanan yang dipenuhi canda tawa antara Jester dan Naomi, semua terlihat mulai berangsur normal kembali. Selama perjalanan itu Naomi terlihat bahagia melihat perubahan sikap Jester yang kembali normal sejak kedatangan Luna, semua pengorbanannya terbayar lunas dengan hasil yang sesuai dengan harapan.


Sesuai janji Naomi memang selalu berkunjung untuk menjenguk Becca, walaupun konsekuensi yang didapat kadang dia bertemu dengan Daniel. Hal yang begitu dia benci meskipun hatinya mampu untuk berdamai, belum lagi gejolak hatinya jika Becca sering kali menanyakan ketidak bersamaannya dengan Daniel, hal itu berat bagi Naomi untuk menjawab mengingat kondisi Becca yang sedang sakit.


Beberapa menit pun berlalu, hingga sampailah Naomi dan Jester dirumah sakit. Seperti sudah menjadi rutinitas mereka saat berada dirumah sakit, Jester dan Naomi berjalan bergandengan hingga berpisah didepan kamar Becca. Naomi masuk kedalam kamar sedangkan Jester menuju cafetaria, didalam kamar itu Naomi melihat Liam, Blenda, Beccy, dan Daniel yang sedang menunggu Becca tidur dengan raut wajah yang terlihat sedih. Mengetahui kehadiran Naomi saat itu mengalihkan pandangannya mereka semua, sontak Beccy pun berlari memeluk Naomi yang baru masuk kedalam kamar sambil menangis.


"Kak Naomi..." ucap Beccy terdengar sedu


"Kenapa Beccy? kok nangis?" tanya Naomi heran sambil mengelus kepala Beccy dengan lembut


"Becca mau operasi...." semakin menjadi - jadilah tangisan Beccy saat menjawab pertanyaan Naomi, mendengar jawaban Beccy membuat Naomi mengalihkan pandangannya menatap Liam dan Blenda yang menatapnya dengan senyuman yang menyiratkan kesedihan.


"Bagaimana kondisinya?" tanya Naomi terdengar sangat khawatir, Liam dan Blenda pun menggelengkan kepalanya bersamaan.


"Tidak baik nak, tidak ada cara lain selain menjalani operasi untuk mengeluarkan tumor diotaknya" jawab Liam terdengar sangat sedih, Blenda pun tidak dapat menahan tangisannya.


"Begitu ya.... boleh aku berbicara dengan dokternya? aku mau tahu langkah - langkah yang akan diambil" pinta Naomi, Liam pun menghela nafasnya mendengar permintaan Naomi.


"Daniel... kamu antar Naomi mencari dokter" perintah Liam pada Daniel, tanpa berkata apapun Daniel pun berdiri dari duduknya dan segera keluar dari kamar diikuti oleh Naomi dibelakangnya.


Setelah beberapa saat perjalanan dalam keheningan diantara mereka, mereka pun sampai di depan ruang dokter. Disana Naomi dan Daniel langsung masuk dan bertanya pada seorang perawat lalu diarahkan kesebuah ruangan. Diruangan itu Naomi dan Daniel bertemu dengan dokter yang menangani Becca, berbagai pertanyaanpun diajakukan oleh Naomi dan mendapat jawaban yang memuaskan rasa penasarannya. Hingga beberapa menit pun berlalu, Naomi dan Daniel keluar ruangan lalu berjalan kembali menuju ruang perawatan Becca.


"Sepertinya Becca tidak akan selamat" celetuk Daniel terdengar putus asa dan sedih


"Gak boleh bilang seperti itu, dokter mengatakan operasi ini mempunyai potensi berhasil enam puluh persen..." belum selesai Naomi bicara, Daniel memotong.


"Kalau ditangani dirumah sakit besar, tadi kamu juga dengar kalau peralatan medis disini kurang mumpuni dan ada kemungkinan akan dirujuk kerumah sakit lain" timpal Daniel, Naomi pun menghela nafasnya.


"Aku ingin membawa Becca kerumah sakit Scott, tapi aku takut ibuku tahu aku masih berhubungan denganmu" penuh penyesalan Naomi mengatakannya


"Tidak adakah cara supaya kita kembali lagi?" tanya Daniel tiba - tiba, pertanyaan Daniel saat itu membuat emosi Naomi tersulut.


"Aku gak suka ya kamu ungkit hubungan kita disaat seperti ini!" agak membentak Naomi mengatakannya, tiba - tiba Naomi melihat tubuh Daniel bergemetar hebat.


"Aku juga sudah mencoba untuk mengiklaskan hubungan kita, namun permintaan Becca yang membuat aku kembali berat untuk mencobanya.... dia ingin aku berbaikan denganmu..." Daniel pun meneteskan air mata saat mengucapkannya, seketika perasaan marah Naomi pun sirna berganti menjadi sedih.


"Jika ada satu cara apapun itu untukku kembali padamu... aku akan lakukan Naomi.... tolonglah..." terbata Daniel mengatakannya, namun Naomi seakan tidak mempedulikan dan langsung berlalu begitu saja meninggalkan Daniel dilorong rumah sakit. Sesampainya dikamar Becca, Naomi pun masuk kedalam kamar itu dan melihat Becca duduk dikasur sudah terbangun dari tidurnya.


"Becca" terdengar senang Naomi menyebut namanya, Becca pun tersenyum manis dan menjulurkan kedua tangannya seakan meminta Naomi untuk memeluknya.


"Kak Naomi!!" suara Becca pun terdengar bahagia, Naomi sedikit berlari mendekati Becca dan kemudian memeluknya dengan lembut.


"Cepat sehat ya sayang" ucap Naomi, Becca menganggukkan kepalanya beberapa kali didalam pelukan Naomi. Setelah beberapa saat berpelukan, Naomi pun melepaskan pelukannya lalu melihat sekeliling mencari keberadaan Liam, Blenda dan Beccy yang tidak terlihat dikamar.


"Dimana ayah, ibu sama Beccy?" tanya Naomi heran, bersamaan dengan pertanyaan itu Daneil pun masuk kedalam kamar dan berdiri dibelakang Naomi bersandar pada sebuah meja memandangi Becca.


"Ayah sama yang lain beli makan, tapi ibu bilang kak Naomi sudah disini jadi aku tenang dan gak takut lagi sendirian disini" jawab Becca, lalu Becca merintih kesakitan sembari memegang kepalanya dengan sangat erat.


"Becca!" panik Naomi mengatakannya, dia pun menatap Daniel yang berdiri dibelakangnya memberi gestur tangan agar dia segera memanggil dokter. Baru akan berlari keluar kamar, Becca memegang tangan Naomi dengan erat.

__ADS_1


"Gapapa kak Naomi, sering begini memang... kadang tiba - tiba sangat sakit..." dengan rintihan Becca mengatakannya, Naomi pun mengela nafasnya sambil mengelus kepala Becca.


Keadaan Becca yang memburuk menyakitkan bagi hati Naomi, usianya masih telalu kecil untuk menanggung penderitaan sebesar ini. Naomi begitu menyayangi Becca seperti adik kandung sendiri, terlepas perlakuan kakaknya yang membuat Naomi sangat muak.


"Sebentar lagi Becca sembuh kok, sabar ya sayang..." lembut Naomi mengatakannya untuk memberi ketenangan pada Becca, namun Becca terlihat sedih menatap Naomi.


"Becca.... akan mati ya...." celetuk Becca dengan mata yang berkaca - kaca, celetukan itu membuat Naomi dan Daniel terkejut.


"Becca!! gak boleh ngomong gitu!" bentak Daniel, mendengar bentakan Daniel saat itu membuat Becca tersentak lalu menundukkan kepalanya. Air matanya menetes deras dan membasahi selimut yang dia gunakan, Naomi pun memeluk Becca dengan lembut sembari mengelus kepalanya dengan lembut.


"Becca akan tetap sehat kok... yang penting percaya dokter akan menyembuhkan Becca..." Naomi pun berusaha menenangkan Becca saat itu, namun Becca menggelengkan kepalanya beberapa kali dipelukan Naomi.


"Ayah sama ibu selalu menangis setiap malam....pasti mereka sedih kerena Becca sakit..." terisak - isak Becca mengatakannya, tidak terasa air mata Naomi pun menetes dan bibirnya pun berkali - kali mencium ubun - ubun Becca untuk menenangkannya. Kebisuan terjadi diruangan itu, dengan suasana haru yang sangat pekat melihat kondisi Becca yang semakin tidak baik.


"Kak Naomi...." celetuk Becca memecahkan keheningan, Naomi pun melepaskan pelukannya lalu mengucap air mata yang masih tersisa dipipi dan dagunya.


"Iya sayang? kenapa?" tanya Naomi dengan lembut, Becca dan Naomi pun bertatapan mata saat itu.


"Kak Naomi sama Kak Daniel belum berbaikan?" tanya Becca terdengar sedih, Naomi pun tersenyum menatap Becca.


Pertanyaan Becca membuat Naomi bingung untuk menjawab, hal yang dia khawatirkan terjadi. Entah apa yang membuat Becca menanyakan hal itu padanya yang jelas Naomi merasa ini ada hubungannya dengan Daniel.


"Kami baik - baik saja kok.... " jawab Naomi dengan senyuman, tapi Becca menggelengkan kepalanya seakan tidak mempercayai jawaban Naomi.


"Kak Naomi bohong!!" bentak Becca terdengar marah, raut wajahnya pun terlihat marah menatap Naomi.


"Becca.... kak Naomi gak bohong, yakan Daniel?" tanya Naomi sambil berbalik menatap Daniel dengan marah, Daniel pun membuang muka saat Naomi menatapnya begitu.


"Tuh kan... udah ya jangan marah lagi, nanti semakin lama sakitnya..." ucap Naomi sambil mengelus kepala Becca dengan lembut, namun Becca menepis tangan Naomi.


"Kalian bohong!! Becca bisa lihat kak Naomi masih marah sama kak Daniel!!" Becca kembali membentak


"Becca...." Naomi pun kehabisan kata - katanya, seketika itu Becca pun kembali menangis.


"Kak Naomi.... baikkan yah sama kak Daniel.... demi Becca yang akan segera dioperasi...." terbata Becca mengatakannya dengan air mata yang semakin deras menetes dari kedua matanya, Naomi pun tak kuasa menahan emosinya yang bercampur aduk saat itu.


"Becca... kak Naomi bicara sama kak Daniel dulu diluar ya..." ucap Naomi lalu memberi kode kepada Daniel agar mereka keluar, Becca hanya menganggukkan kepalanya. Keduanya pun berjalan keluar dan segera berhadap - hadapan, dengan tatapan penuh amarah Naomi menatap mata Daniel yang terlihat begitu sedih.


"Apa yang sudah kamu katakan pada Becca?!!" tanya Naomi begitu emosi


"Aku mengatakan aku dan kamu putus dan dia menangis seperti tadi" jawab Daniel terdengar begitu pasrah dan terlihat siap untuk menerima amarah Naomi padanya, tangan Naomi pun terlihat bergemetar hebat meremas tali sling bag yang dia gunakan sejak tadi.


Sudah Naomi duga Daniel lah yang membuat Becca sampai bertanya tentang hubungannya dengan kakaknya, hal ini membuat Naomi dalam keadaan yang sangat dilema. Naomi tidak ingin mengecewakan Becca tetapi kebenciannya terhadap Daniel sudah amat sangat parah, belum lagi hubungannya dengan Jester semakin membaik dan persiapan pernikahannya pun sudah dibahas. Emosi Naomi pada Daniel saat ini begitu memuncak, Daniel tidak lebih dari sosok yang tidak berguna, picik dan bodoh yang tidak bisa diandalkan.


"Buat apa kamu katakan itu pada Becca?!!" suaranya pun terdengar semakin emosi, Daniel menghela nafasnya sejenak sebelum menjawab pertanyaan Naomi.


"Aku tidak sanggup untuk berbohong kepada Becca... melihat tatapan matanya dan mendengar semua pertanyaannya yang selalu menanyakan kehadiranmu... aku tidak sanggup untuk terus membohonginya..." terdengar sangat menyesal Daniel mengatakannya, perkataan Daniel saat itu membuat Naomi semakin emosi hingga dia menghentakkan kakinya.


"Tidak berguna!! bahkan hanya seperti itupun kamu tidak bisa lakukan?! apa gunamu sebagai kakak laki - lakinya?!!" dengan begitu emosi Naomi mengatakannya


"Aku tahu!! aku tahu aku tidak berguna... baik sebagai anak bagi kedua orangtuaku, kakak bagi Becca dan Beccy, bahkan sebagai pasanganmu pun aku tidak berguna... aku tahu itu Naomi..." begitu pasrah Daniel mengatakannya, seakan dirinya sudah putus asa menjalani perannya.


"Aku akan bantu kamu untuk terakhir kalinya" celetuk Naomi terdengar begitu berat hati yang tersirat dari nada bicaranya, Daniel pun terkejut lalu menatap Naomi dengan tatapan tidak percaya Naomi akan membantunya.

__ADS_1


"Bantu? apa yang..." belum selesai Daniel berkata, Naomi langsung menarik kerah baju Daniel.


"Dengar! kita akan bersandiwara didepan Becca jika kita berbaikan, tapi ini hanya berlaku didepan Becca dan sampai dia selesai operasi! apa kamu mengerti?!" begitu emosi Naomi mengatakannya sampai kembali mengejutkan Daniel yang tidak pernah mendapatkan perlakuan begitu kasar dari sosok Naomi yang terbiasa lemah lembut, nyali Daniel pun menciut seketika.


"Aku.. mengerti... terima kasih" terbata Daniel mengatakannya, Naomi pun melepaskan tangannya dari kerah baju Daniel lalu segera berjalan hendak masuk kembali kekamar Becca.


"Tidak berguna!" dengan bentakan Naomi mengatakannya sambil terus berjalan meninggalkan Daniel


Naomi pun kembali kekamar Becca dengan senyuman menatap Becca yang sedang membaca sebuah buku dongeng disney, mengetahui Naomi dan Daniel masuk kembali kedalam kamar membuat Becca menutup bukunya. Naomi dan Daniel pun berdiri bersebelahan dekat dengan Becca.


"Apa... kalian sudah berbaikan?" tanya Becca terdengar sedih, Naomi dan Daniel pun saling menatap untuk beberapa saat sambil tersenyum lalu kembali menatap Becca terlihat bahagia.


"Iya.. kami berbaikan, karena itu Becca harus optimis sehat ya sayang..." jawab Naomi dengan lembut dan terdengar senang, ekspresi wajah kebahagiaan Becca pun tergambar jelas diwajahnya.


Tatapan mata Becca yang berbinar - binar terhadap Daniel dan Naomi menjadikan hal yang membahagiakan Daniel, mengetahui harapan besar Becca saat itu membuat Daniel sedikit nakal dengan merangkul Naomi untuk menunjukkan kemesraan mereka. Naomi yang masih tersenyum itu pun meremas kembali tali slingbag nya begitu erat untuk menahan emosi atas perbuatan Daniel kepadanya, Naomi sadar Daniel mencuri kesempatan dengan keadaan ini. Namun saat itu tindakan Daniel malah membuat Becca semakin yakin dan membuat Naomi semakin tidak bisa berbuat apa - apa.


"Gitu donk... Becca kan jadi senang melihat kalian akrab... kak Naomi dan kak Daniel sangat penting bagi Becca, jangan marahan lagi ya...." terdengar bahagia Becca mengatakannya, Naomi pun perlahan menurunkan tangan Daniel dari bahunya.


"Ooh iya... sebentar!!" dengan penuh semangat Becca mengatakannya lalu mencari sebuah buku ditumpukan buku yang tersusun rapih disebuah meja didekatnya, setelah beberapa saat Becca menunjukkan gambar seorang pangeran dan seorang putri sedang berciuman kepada Daniel dan Naomi.


"Dicerita ini pangeran tampan mencium putri raja sebagai tanda mereka saling bermaaf - maafan!!" dengan semangat Becca mengatakannya, terkejutlah Naomi saat mendengar perkataan Becca saat itu.


"Becca.. ini hanya dongeng, tidak perlu seperti itu didunia nyata..." timpal Naomi terbata, namun Becca seakan tidak peduli.


"Terjadi kok, kak Naomi sama kak Daniel dulu sering berciuman saat dirumah. Becca sama Beccy juga sering lihat" bantah Becca dengan tegas, Naomi pun dibuat bingung dengan tingkah Becca saat itu.


"Kak Naomi.... kalian berdua berbohong lagi sama Becca?" tanya Becca dengan penuh perasaan curiga, Naomi pun menatap Daniel dengan perasaan marah.


"Daniel!" dengan bisikan namun menekan Naomi mengatakannya, seakan meminta Daniel untuk membantunya membantah Becca. Namun saat itu Daniel terkesan tidak ingin membantu Naomi, dengan gestur menaikkan bahunya. Semakin memuncaklah emosi Naomi saat itu menatap Daniel, tidak ingin berlama - lama Naomi pun kembali menatap Becca.


"Becca... kak Naomi gak bohong kok, ada cara lain gak buat buktikan?" tanya Naomi memohon pada Becca, namun Becca hanya membuang muka dan tertunduk sambil meremas selimut dengan kedua tangannya.


"Baik.. baik Becca... liat ya..." Naomi pun menatap Daniel dengan tatapan penuh amarah.


Sejenak mereka terdiam saling menatap, Naomi pun menarik kerah Daniel dan menariknya dengan kasar. Naomi mendekatkan bibirnya dengan bibir Daniel dan dengan cepatnya menyentuhkan bibirnya dengan bibir Daniel lalu melepaskannya begitu saja, sebuah kecupan singkat yang bertujuan untuk memuaskan keinginan Becca. Naomi pun kembali menatap Becca dan tersenyum, saat itu Becca terlihat bahagia.


"Sudah ya Becca... kak Naomi gak bohongkan?" tanya Naomi, Becca pun menganggukkan kepalanya dan tersenyum menatap Naomi.


"Yeey... kak Daniel dan kak Naomi berbaikan! aku akan katakan ini sama ayah, ibu dan Beccy" girang Becca mengatakannya, lalu Naomi mencium kening Becca untuk berpamitan.


"Becca... kak Naomi pulang dulu ya... masih ada acara habis ini..." ucap Naomi sembari mengelus kepala Becca, wajah Becca kembali cemberut.


"Biasanya kak Naomi ada disini sampai Becca tidur..." memelas Becca mengatakannya, Naomi pun tertawa.


"Becca kak Naomi sudah turuti Becca banyak hal... kak Naomi minta izin pulang dulu ya? udah malam, nanti kalau kak Naomi kenapa - kenapa dijalan karena ngantuk gimana?" tanya Naomi sedikit menekan, Becca pun menghela nafasnya.


"Iya deh.... besok datang lagi ya" ucap Becca lalu memberi gestur ingin mendapat pelukan dari Naomi, Naomi pun langsung memeluk Becca begitu erat beberapa saat dan melepaskannya lalu segera beranjak pergi dari kamar Becca diikuti oleh Daniel dibelakangnya. Sesampainya diluar kamar, Naomi langsung kembali menarik kerah baju Daniel.


"Aku tidak akan pernah memaafkanmu!! aku sangat membencimu!!" bentak Naomi saat itu, Daniel pun tersenyum sinis menanggapi kemarahan Naomi.


"Aku tahu, kamu tidak pernah bersikap sekasar ini kepadaku... kamu banyak berubah Naomi" timpal Daniel


"Aku bukan Naomi yang kamu kenal lagi, yang selalu diam saat kamu tindas, kamu injak, kamu lecehkan dan kamu sia - siakan, ingat baik - baik Daniel.... Naomi yang kamu kenal sudah terkubur bersama tumbuhnya cintaku pada Jester. Dia yang memintaku untuk melepaskan topeng yang selama ini aku pakai, dia yang membebaskan aku dari Naomi menyedihkan yang selama ini kamu kenal" ucap Naomi sambil melepaskan tangannya dari kerah baju Daniel.

__ADS_1


__ADS_2