
Malam mendung disebuah cluster perumahan mewah, disalah satu rumah dengan aksen khas budaya jepang ketika itu terlihat Naomi dan Jester berdiri saling berhadapan di dapur dalam rumah. Tangan Naomi yang terlihat menempel dengan lembut di pipi Jester seakan membuat Jester mematung, kata - kata yang sempat Naomi lontarkan juga semakin menambah beban pikiran Jester tentang apa yang sebenarnya ingin Naomi sampaikan padanya.
Sepasang kekasih yang seharusnya saling melepas rindu setelah sekian lama tidak bersama itu seperti sedang tidak mampu melepas rindu tanpa beban, diantara semua masalah yang mereka lalui bersama memang masalah inilah yang paling berat dan sangat berpengaruh buruk untuk hubungan percintaan keduanya.
Jester yang merasa semua akan kembali baik - baik saja sesuai dengan yang dia katakan pada Justin, kini kembali memiliki keraguan atas perkataan dan sikap Naomi. Berbeda dengan Naomi yang terlihat lebih mudah untuk mencairkan suasana canggung diantara keduanya, namun sikap yang Jester tunjukkan seolah sulit untuk baik - baik saja dan terasa begitu canggung.
"Apa itu... maksudnya?" tanya Jester terdengar heran, Naomi tertawa kecil lalu melepaskan tangannya dari pipi Jester. Tanpa menjawab, Naomi berjalan melewati Jester dan hendak keluar dari dapur.
"Naomi!! apa itu maksudnya?!" tanya Jester lagi dengan bentakan, Naomi menghentikan langkahnya lalu berbalik menatap Jester dengan senyuman.
"Kamu sedang lelah, kemari lah... kita harus istirahat lebih dulu" jawab Naomi lalu kembali berbalik dan berjalan menuju kamar meninggalkan Jester yang masih mematung disana.
Dengan perasaan campur aduk antara bingung, marah, dan kesal Jester melangkahkan kakinya menyusul Naomi ke dalam kamar. Di dalam kamar, Jester melihat Naomi sedang duduk berhadapan dengan cermin. Seakan sudah menjadi kebiasaan Naomi yang Jester pahami apa yang sedang Naomi lakukan sebelum tidur, dengan segera Jester berjalan melewati Naomi menuju kasur.
Jester duduk dipinggiran kasur sembari menatap Naomi yang sedang mengusap - usap wajahnya dengan serum, sesekali tatapan mereka bertemu dari pantulan cermin dan Naomi tersenyum setiap kali mereka saling bertatapan. Berbanding terbalik dengan Jester, nampak raut wajah kecewanya pada Naomi dia tunjukkan.
"Cemberut terus, kamu akan mengikuti jejak ku dengan banyak keriput di wajah" sindir Naomi dengan suara tawa yang terdengar
"Ini bukan saatnya untuk bercanda" timpal Jester terdengar sangat kesal, Naomi menyelesaikan perawatan wajahnya lalu menghembuskan nafasnya terdengar begitu berat.
"Jess... kenangan apa yang sangat membekas tentangku?" tanya Naomi
Pertanyaan Naomi tentang kenangan pun akhirnya kembali mengganggu pikiran Jester yang saat itu memang sedang dilanda overthinking, Jester hanya ingin melepas rindu dengan Naomi. Namun beberapa kali Naomi mengatakan hal yang membuat Jester kembali harus berfikir keras tentang maksud dari setiap ucapan Naomi.
"Kenangan? semuanya! tidak ada satupun hal tentangmu yang aku lupa" jawab Jester dengan sedikit bentakan
"Ingat awal mula kenapa kita bisa bertemu?" tanya Naomi lagi, pertanyaan Naomi saat itu membuat Jester mengingat kenangan dirinya yang tiba - tiba menarik lengan Naomi di parkiran kampus.
"Iya, aku mengingatnya... ketika itu aku terpojok oleh papa karena menuduhku sebagai penyuka sesama jenis" jawab Jester, Naomi pun tertawa mendengar jawaban itu.
"Entah kenapa saat papa menanyakan namaku... aku langsung menjawabnya dengan nama asliku, aku ikut sandiwara mu walau aku bingung, dan akhirnya aku juga terjebak karena ayah dan ibu benar - benar menganggap hubungan kita serius lalu menyetujuinya" timpal Naomi meneruskan jawaban Jester, perlahan Naomi berbalik agar dapat menatap langsung mata Jester yang bingung itu.
"Aku masih mencintai Daniel... kamu pun mencintai Camilla, belum lagi Selena yang terang - terangan ingin memilikimu. Karena kamu.... aku berani untuk keluar dari zona aman ku, aku melepaskan Daniel... setelah itu Luna datang dan membuatmu terpuruk, aku berusaha dengan keras untuk menyelamatkanmu namun malah kamu lagi yang menyelamatkanku..." ucap Naomi meneruskan ceritanya
__ADS_1
"Menyelamatkanmu?" tanya Jester yang mulai kebingungan.
Keadaan Jester saat ini seakan sulit untuk mencerna apa yang diinginkan oleh Naomi melalui kenangan yang Naomi ungkit kembali. Jester masih saja menjadi sosok yang sulit untuk mengendalikan diri sendiri, gejolak emosinya tampak tidak stabil, perasaannya terasa begitu sensitif. Sementara Naomi masih terlihat berusaha keras untuk mencairkan suasana, Jester yang dihadapannya saat ini memang berbeda dengan Jester yang Naomi kenali sebelumnya. Namun Naomi masih dengan sikapnya yang memperlihatkan bahwa semua memang sudah baik - baik saja.
"Tindakan bodoh Daniel yang pertama.... ingat?" ucap Naomi, Jester pun menganggukkan kepalanya.
"Setelahnya.... Luna meninggal membawa luka baru untukmu, setelahnya kita dikejutkan dengan penculikan kita oleh kakek Arthur... kita terpisahkan... lalu kamu menyelesaikan tugasmu dengan baik... kita bersatu kembali... dan terjadilah.... kebodohan Daniel untuk kedua kalinya...." terbata Naomi mengucapkan per kalimatnya
"Banyak hal telah kita lalui dan menjadikan kita lebih kuat lagi untuk menerima ujian berikutnya.... aku telah banyak belajar dan aku ingin mengubah beberapa hal dalam diriku agar aku hidup lebih baik, bagaimana denganmu? apa ada yang bisa kamu pelajari dengan semua kejadian yang pernah kita alami bersama?" tanya Naomi
"Aku... bingung, aku rasa aku tetap seperti aku. Bukankah tentang Camilla kamu yang memintaku untuk tetap menjadi diriku?" tanya Jester terdengar bingung, Naomi terdiam beberapa saat dan tiba - tiba tersenyum.
"Benar... aku rasa kamu sudah tidak memiliki hal lain yang harus diubah" sedikit tertawa Naomi saat mengucapkannya, ekspresi wajah Jester pun terlihat kesal.
"Tapi memang begitulah dirimu.... kamu selalu terlibat masalah orang lain, Aku dengan Selena, Luna dengan penyakitnya, Sarah dengan keluarganya, aku dengan Daniel.... tapi kamu sendiri seakan tidak memiliki masalahmu yang bisa aku bantu..." ucap Naomi
"Aku paham kenapa kamu tidak merasa perlu mengubah apapun dari hidupmu" Naomi kembali tersenyum saat mengucapkannya
Senyum Naomi seakan tidak merubah apapun dari Jester, suasana canggung itu masih kental terasa. Ketegasan Jester akan setiap perkataan Naomi semakin membuat suasana yang terjalin diantara keduanya terasa begitu berbeda. Entah lelah atau memang Jester tidak mampu lagi menampung beban untuk pikirannya, atau malah Jester merasa lega bahwa kekasih yang dia tunggu sudah berada dihadapannya dan kerinduannya membuatnya canggung. Namun sosok Naomi masih selalu berusaha keras untuk memecahkan kecanggungan diantara keduanya.
"Naomi.... aku merasa beruntung bertemu denganmu, aku..." belum selesai Jester berkata, Naomi memotong.
"bukan begitu.. akulah yang merasa beruntung bertemu denganmu, akulah yang merasa tertolong. Kalau kamu tidak ada, aku sekarang pasti seorang diri disini... dan mungkin hanya bisa menangis" ucap Naomi lalu berdiri dan berjalan mendekati Jester, perlahan Naomi mengalungkan tangannya dibahu Jester dan menempelkan dahinya di dahi Jester.
"Semua kenangan itu... pembelajaran itu.... atau apapun itu.... luapkan semua pada malam ini......" terbata Naomi mengucapkannya.
Badan Naomi semakin maju mendekati Jester yang masih duduk dipinggiran kasur, Jester yang mendongak karena Naomi menempelkan dahinya pun kemudian menarik pinggul Naomi agar lebih masuk mendekat dengan tubuhnya. Tepat diantara dua pahanya yang terbuka kini terisi oleh tubuh Naomi yang tak lagi sama, tubuh Naomi yang kini terasa begitu mengecil dan sentuhan tangan Jester seakan hanya terhalang sedikit lemak dan daging yang membungkus tulangĀ punggung Naomi.
Mata keduanya masih saling terpejam dengan suara nafas yang bisa saling terdengar, aroma tubuh Naomi tidak pernah berubah. Masih dan selalu menjadi aroma tubuh yang dirindukan oleh Jester, perlahan namun pasti dorongan dari tubuh Naomi dapat dirasakan oleh Jester. Tanpa perlawanan Jester mengikuti arah pergerakan Naomi hingga saat Jester membuka mata, wajah cantik Naomi sudah tepat berada diatasnya. Tubuh Naomi terasa begitu ringan bagi Jester, sebuah perubahan yang sangat terasa, tatapan mata mereka beradu....senyum penuh kerinduan terlihat diraut wajah keduanya, perlahan Naomi mengecup bibir Jester.... semakin lama semakin intim kedua bibir mereka bertaut, tangan Jester yang awalnya berada dipunggung Naomi kini semakin bergerak liar mengelus tubuh ringkih Naomi.
Begitulah mereka melampiaskan kerinduan keduanya, menikmati sebuah keintiman dalam suasana yang tidak seperti biasanya. Namun sentuhan dan ciuman yang sama tak pernah terasa berubah, selalu saja terasa penuh dengan cinta. Bergulat dalam sebuah kamar yang menjadi saksi kemesraan keduanya melampiaskan cinta dan kerinduan. Larut dalam suasana hening dan sunyi hingga keduanya terlelap ketika lelah mulai terasa.
Tengah malam Naomi terlihat membuka matanya, sejenak menatap wajah Jester yang tertidur pulas disampingnya. Perlahan Naomi beranjak dari kasur lalu mengenakan seluruh pakaian yang sempat dia tanggalkan, kemudian Naomi mengambil handphone miliknya yang berada disebuah meja. Jari jemarinya terlihat sedang menuliskan pesan kepada seseorang, begitu selesai Naomi berjalan menuju keluar pintu kamar dan membukanya.
__ADS_1
"Sayo...nara.... Jester...." gumam Naomi dengan air mata yang terlihat deras keluar dari kedua matanya, Naomi keluar dari kamar dan menutup pintu kamar secara perlahan.
Malam berganti pagi dirumah Jester dan Naomi, saat itu tangan Jester terlihat meraba - raba kasur disebelahnya seakan sedang mencari sesuatu. Tersadar sesuatu yang dia cari tidak ada, dengan segera Jester membuka matanya dan terjaga mencari Naomi disekitar kamar. Namun Jester tidak mendapati Naomi berada disana, setelah mengenakan pakaiannya dengan sempurna saat itu Jester berlari keluar dari kamar dan berharap Naomi sudah menunggunya di dapur seperti biasa.
Belum juga kaki Jester sampai di pintu dapur, seseorang terdengar menggedor pintu rumah begitu keras dan berulang - ulang seakan sedang terjadi hal gawat. Mengesampingkan mencari keberadaan Naomi didalam rumah, Jester pun berlari menuju pintu utama rumah. Suara keributan seorang wanita dengan pria begitu terdengar, sampai akhirnya Jester membuka pintu dan mendapati Selena sedang bertengkar dengan supir pribadi Jester.
"Nona, tuan presiden direktur sedang istirahat. Nona tidak bisa memaksa seperti itu!" agak membentak supir pribadi Jester menegur Selena
"Tidak ada waktu!! kak Jester harus segera menyusul Naomi kalau tidak maka semua akan terlambat!!" bentak Selena terdengar begitu emosi
"Selena! ada apa?! tanya Jester dengan sedikit bentakan, bentakan itu membuat Selena dan supir pribadi Jester mengalihkan pandangannya menatap Jester.
"Kak! apa Naomi semalam kesini?!!" tanya Selena terdengar panik, Jester pun heran dengan pertanyaan Selena.
"Iya... tapi sepertinya dia sudah pergi" jawab Jester heran
"Gawat! kamu harus segera ke bandara kak!!" perintah Selena, mendengar kata bandara membuat Jester bingung.
"Bandara? kenapa dengan bandara?" tanya Jester masih kebingungan, dengan segera Selena mengambil handphone miliknya dan menunjukkan chat dari Naomi.
***
Selena... aku mendengar kamu bertengkar dengan Sarah, Jester juga mengatakan jika dia lebih percaya pada Sarah daripada dirimu... jangan dimasukkan kedalam hati... semua akan baik - baik saja.... aku titipkan dia padamu... aku percayakan kebahagiaan Jester padamu...
***
Begitu selesai membaca pesan yang Naomi kirim kepada Selena membuat mata Jester terbelalak, seakan tidak mau percaya dengan apa yang dia baca setelah semua yang terjadi semalam namun melihat kepanikan Selena membuat Jester mau tidak mau harus mempercayai Selena.
"Mau kemana dia?!" bentak Jester kepada Selena
"Ini... ini hal yang sebenarnya ingin aku bicarakan denganmu kak... tapi kita tidak punya waktu! kak, kita harus segera susul Naomi dan menahannya!" jawab Selena dengan panik
"Antar aku ke bandara! Selena kamu ikut aku dan ceritakan semuanya!" perintah Jester pada supir pribadinya dan Selena
__ADS_1
Mereka bertiga berlari ke Mercedes Benz S450 dan masuk kedalamnya, dengan segera supir prbadi Jester memacu mobilnya menuju bandara. Namun baru keluar dari gerbang cluster, pagi itu sudah sangat terlihat padatnya jalan perkotaan.