Aku Pinjam Dia

Aku Pinjam Dia
Rumah Baru


__ADS_3

Pada malam hari yang cerah dan indah dengan taburan bintang - bintang di langit, pada hari itu dua kejadian tak terduga yang Jester alami di festival square membuat Jester ingin segera mengakhiri pergolakan batinnya. Semakin malam maka semakin banyak pula pengunjung yang datang, saat itu Jester menjadi pusat perhatian banyak orang karena sebelumnya Selena menangis terisak isak di dada Jester dan membuat Jester lebih sering membatu. Suasana disana pun semakin indah namun keindahan itu tidak dapat Jester nikmati karena sikap dan pertanyaan Selena, dengan tarikan nafas yang panjang dan menghembuskannya agak keras Jester mulai mengambil sikap akan Selena dan Selena tatapannya pada Jester begitu menekan.


"Aku dan dia hanya settingan, aku sudah katakan padamu saat diperpustakaan kampus. Aku tidak bisa memberikan perasaan palsuku padamu maupun kepada Naomi, aku masih mencintai Camilla entah sampai kapan itu" tegas Jester yang membuat hati Selana sedih, Selena melepaskan tangannya dari baju Jester dan menghentakkan kaki.


"Tapi sampai kapan kamu akan mengabaikanku? apa kurangku dibanding Camilla?" tanya Selena yang terlihat masih emosi, Jester berbalik terdiam memandang wajah Selena lalu tiba - tiba Jester tersenyum dan mengelus kepala Selena.


"Kamu menang segalanya dari Camilla, tapi aku tidak bisa memalingkan hatiku saat ini. maaf ya" jawab Jester sambil terus tersenyum dan mengelus kepala Selena, sikap Jester saat itu membuat Selena tertegun memandangi mata Jester.


"Maaf kak..." ucap Selena dengan mencoba menahan air matanya yang sedari tadi sudah banyak menetes membasahi pipinya, Jester melepaskan tangannya dari kepala Selena.


"Hah? kenapa kamu minta maaf?" tanya Jester heran mendengar Selena tiba - tiba meminta maaf.


"Aku minta maaf karena aku akan menjadi orang paling keras kepala yang akan kakak temui seumur hidupmu, aku akan terus mengejarmu sampai kamu jadi milikku" jawab Selena tersenyum menatap Jester


"Haah?! aku sudah cukup dengan papa ku, kamu jangan ikut ikutan donk" Jester merespon dengan kepanikan mendengar jawaban Selena, namun Selena terlihat tidak peduli dan malah tertawa sembari mengusap air matanya yang masih menetes dipipinya.


Meninggalkan festival square dengan segala hal tak terduga yang dibalut keindahan tempat itu, Jester segera mengantar Selena menuju cafe MoonBuck. Setibanya disana Jester menurunkan hadiah - hadiah yang dia dapatkan untuk Selena, Selena turun dari Porsche 911 Jester dan tidak lupa mengucapkan terima kasih dengan penuh kebahagiaan dan senyuman manis.


Jester pun meninggalkan Selena disana dan segera munuju rumah, setelah beberapa menit perjalanan yang lancar akhirnya sampai juga Jester di rumah keluarga Gates. Di pintu masuk terlihat William dan Marrie saling berbincang dengan beberapa tas serta koper di dekat mereka berdua, seperti seseorang akan melakukan perjalanan yang jauh dan membutuhkan waktu lama. Jester turun dari Porsche 911 merah miliknya lalu segera mendekati William dan Marrie, dengan senyuman Jester menatap kedua orang tuanya itu.


"Waah papa mau melakukan perjalanan bisnis?" tanya Jester terlihat senang, namun saat itu baik William ataupun Marrie tidak membalas senyum Jester.


"Tidak" William menjawab dengan singkat dan dingin, Jester heran melihat respon William lalu mengalihkan pandangannya menatap Marrie


"Hmm.. berarti mama yang akan pergi?" tanya Jester lagi nampak heran, Marrie mulai tersenyum menatap Jester


"Hohoho, Tidak Jess... Ini adalah barang barangmu, mama sudah merapihkan semua barangmu dalam tas dan koper ini" dengan senyuman Marrie mengatakan itu, Jester terdiam agak lama mengolah kata kata Marrie dan tiba - tiba Jester terkejut karena baginya dia sedang di usir oleh orang tuanya


"Haah!! kenapa kalian tiba tiba mengusirku?!!" tanya Jester dengan nada panik, William menepuk punggung Jester dengan keras sembari menahan air matanya keluar.


"Dasar anak papa!! sekarang kamu sudah semakin besar dan hebat ya!! papa tidak menyangka kamu akan secepat ini pisah dari kami dan memulai hidup mandiri!!!" WIlliam terharu saat mengatakannya


"Papa dan Mama pasti akan merasa sangat kesepian, tapi ini memang resiko menjadi orang tua. Selamat ya Jess, kamu sudah dewasa sekarang" Marrie juga menahan tangis harunya, Jester tidak dapat berkata kata dan hanya bengong menatap kedua orang tuanya. William pun tiba tiba memberikan sebuah kunci rumah dan menaruhnya di tangan Jester dengan paksa, Jester menatap kunci yang dia pegang.


"Papa sudah kirim lokasi rumahmu lewat ChatMe dan semoga kamu betah dirumah itu" jelas William, tanpa menunggu Jester sadar dari rasa syoknya tiba - tiba William dan Marrie masuk kedalam rumah dan mengunci pintunya. Jester masih bengong didepan pintu tanpa sepatah katapun, tidak lama pintu rumah terbuka kembali dan Marrie sedikit menapakkan wajahnya dari balik pintu yang terbuka itu.


"Jess pikirkanlah perasaan papa mu, dia sangat sedih kamu akan memulai hidup baru lepas dari kami. tapi mama tau itu yang terbaik, saat ini papamu sedang menangis jadi dia tidak ingin..." belum selesai Marrie berbicara William tiba tiba muncul kembali dari belakang Marrie


"Kamu bisa anakku!! kamu hebat!! papa sangat emosional saat ini!!" William menangis haru lalu menutup pintunya dan menguncinya kembali meninggalkan Jester di luar rumah, masih terdiam beberapa saat Jester akhirnya tersadar karena mendengar suara kelakson mobil yang lewat.


"Arrrrggghhh.... Drama apa lagi ini?!!! dasar papa bodoh!!!!" Jester meluapkan kekesalannya dalam satu tarikan nafas saat itu.


Setelah itu Jester membawa masuk semua tas dan kopernya kedalam Porsche 911 miliknya lalu segera memacu mobilnya menuju rumah yang sudah disediakan untuknya dengan bantuan petunjuk arah di handphone, rumah itu tidak terlalu jauh dari rumah keluarga Gates dan Jester membutuhkan waktu tiga puluh menit untuk sampai di depan rumahnya.


Sebuah rumah minimalis sederhana namun terlihat mewah dan modern dengan sedikit aksen jepang, Jester memarkirkan mobilnya di garasi rumah itu dan terlihat cukup untuk memarkirkan dua mobil. Jester masuk kedalam rumah dan menghidupkan lampunya lalu mulai berkeliling rumah, semua perabotan telah tersedia disana.


Rumah itu memiliki kolam renang yang bersebelahan dengan ruang keluarga yang cukup luas dan tergelar tatami mewah serta televisi besar dengan home theater dan meja serta beberapa sofa minimalis. Sebuah kamar mandi dengan bathtub, air panas dan dingin untuk mandi, dan sebuah wastafel dengan kaca rias. Ruang dapur yang lengkap dengan dengan segala peralatan memasak dan bersebelahan dengan ruang makan dengan sebuah meja makan enam kursi dan mini bar di pojok ruangan.


Jester pun mulai menuju kamar tidur yang menjadi satu satunya kamar tidur dirumah itu, Jester membukanya dan mendapati sebuah bed besar dengan segala perabotan kamar yang mewah. Setelah mengganti pakaiannya di kamar dengan sebuah boxer dan kaos Jester mulai merebahkan tubuhnya di kasur besar yang empuk dikamar itu, tiba tiba dia teringat ketika Naomi menciumnya saat di taman labirin. Wajah cantiknya terbayang jelas dimata Jester, hingga tiba tiba dia malu sendiri dan melempar bantalnya kesebuah jendela


"Sial!! apa apaan Naomi saat itu!" ucap Jester kesal, Jester berdiri dan mengambil handphone nya lalu segera melakukan panggilan telepon sembari merebahkan badannya lagi dikasur.

__ADS_1


***


"Heeei Luke ini aku Jester" ucap Jester ketika teleponnya terangkat


"Iya aku tau lah bodoh, aku kan simpan nomormu. ada apa menelponku malam malam seperti ini?" tanya Luke


"Aku di usir oleh papa dan sekarang aku tinggal sendiri dirumah yang dia siapkan" jawab Jester singkat


"Loh bukannya itu bagus" ucap Luke yang terdengar senang


"Bagus dari mana?" tanya Jester heran


"Bukankah bagus kamu bisa berduaaan dengan Naomi dirumah itu" dengan nada mesum Luke mengucapkannya


"Bodoh!! dasar gorila otak mesum!!" Jester benar - benar kesal mendengar jawaban Luke


"Tapi mungkin memang inilah saatmu untuk mandiri, tidak masalah bro. kalau kamu butuh teman kamu tinggal atur saja jadwalku boleh menginap" ucap Luke lagi terdengar senang dengan kemajuan Jester


"Baiklah... aku cuma mau kabarin kamu kalau aku tidak tinggal dirumah papa, aku akan kirim lokasiku di ChatMe" ucap Jester


"Baiklah, sampai jumpa" Luke menutup teleponnya


***


Setelah telepon tertutup, Jester mulai mencari nomer Harry saat itu dan langsung meneleponnya


***


"Aaaah.... Harry... hentikan geli~" suara perempuan terdengar didalam telepon itu


"Aarrghhh sial!! kenapa kamu angkat saat kamu sedang mesum!!" Jester semakin kesal


"Aku merasa tidak enak jika kamu yang menelepon dan tidak aku angkat, jadi ada..." belum selesai Harry berkata Jester sudah menutup teleponnya


***


Jester membuang handphone dikasur dan mulai memejamkan matanya untuk tidur namun tiba - tiba bayangan wajah Naomi ketika menciumnya mendadak muncul lagi, Jester langsung tersentak karena malu mengingat kejadian itu.


"Aarrrhhhggg apa - apaan ini otakku... sial! aku gak bisa tidur jika terus begini!!" ucap Jester dengan emosi, namun baru lima menit dia mulai tertidur pulas hingga pagi tiba.


Di sabtu pagi, kegiatan kampus pun libur. Jester masih nampak terdiam walau sudah membuka matanya, dia melihat sekeliling yang terlihat sangat berantakan. Jester terlihat menunggu William muncul dari balik pintu namun beberapa saat Jester tersadar dia tinggal sendiri saat itu, Jester mulai beranjak dari kasurnya, keluar dari kamar tidur itu dan menuju ke kamar mandi.


Disana Jester menggosok giginya di depan wastafel lalu segera berkumur dan mencuci muka, tidak lama terdengar suara bel rumah berdering. Jester berjalan menuju pintu utama rumah dan membukanya untuk melihat siapa yang datang sepagi ini, dengan penampilan baru bangun tidur, boxer dan sebuah kaos Jester membukakan pintu untuk Evans, Naoko dan Naomi, semua yang ada disana nampak terdiam beberapa saat saling memandang.


"Eeeh...." ucap Jester, Naoko dan Naomi membuang muka bersamaan


"Pagi Jester, maaf kami datang pagi - pagi seperti ini" ucap Evans dengan lembut memberi salam sembari menahan tawanya, Jester membungkuk dan memberi gestur dengan tangan agar keluarga Scott masuk kedalam rumah.


"Maaf, silahkan masuk.... aku akan segera kembali!!" Jester yang panik langsung berlari menuju kamar, didalam kamar Jester langsung menutup pintu dan mengatur nafas karena malu. Jester segera mengenakan pakaian yang layak untuk bertemu keluarga Scott, merapihkan rambutnya dan memakai kacamatanya. Setelah Jester merasa penampilannya layak untuk bertemu dengan keluarga Scott, Jester mulai menarik nafas dan segera keluar dari kamar itu.


"Apa yang terjadi? mengapa mereka kesini?" tanya Jester panik pada dirinya sendiri sembari terus berjalan menuju ruang keluarga, kemunculan Jester diruang keluarga itu membuat keluarga Scott mengalihkan perhatiannya menatap Jester.

__ADS_1


"Pagi Jester San" dengan lembut Naomi mengucapkan salam


"Pagi Jester San, kami belum sempat mengucapkan salam tadi" ucap Naoko dengan senyum, Jester kembali membungkuk kearah keluarga Scott.


"Pa..pagii.. senang bisa menerima keluarga Scoot di rumah kecil ini!" jawab Jester masih menyimpan perasaan malu, Jester merasa ingin masuk kedalam lubang dan mengubur dirinya hidup - hidup daripada harus menatap keluarga Scott saat ini karena kejadian tadi.


"Yaah rumah ini memang sesuai dengan yang aku dan papa mu pikirkan" celetuk Evans, mendengar perkataan Evans membuat Jester sedikit bingung.


"Hah? maksud anda?" tanya Jester sembari mengangkat badannya kembali menatap Evans


"Loh? Will tidak menjelaskannya padamu?" Evans heran dengan kebingungan Jester, Jester terlihat semakin bingung dengan perkataan Evans lalu menatap Naomi namun Naomi hanya menatap Jester tanpa sepatah katapun.


"Naomi dan Jester san akan tinggal disini, keluarga Gates yang mencari rumahnya dan keluarga Scott yang memberikan perabotannya. Semoga kamu senang dengan nuansa jepang seperti ini" Naoko mencoba menjelaskan perkataan Evans kepada Jester yang terlihat bingung, Jester terkejut namun masih berusaha bersikap tenang.


"Tu... Tunggu... aku akan segera kembali" Jester kemudian berlari meninggalkan keluarga Scott lagi dan menuju kamarnya lalu mengambil handphone untuk menelepon William


***


"Yoo Jester!! apa kamu sudah rindu dengan papamu?!!" William menganggkat teleponnya dengan antusias dan penuh semangat seperti biasanya


"Apa apaan ini?!! kalian tidak memberitahuku kalau Naomi akan tinggal bersamaku di rumah ini!!" ucap Jester panik


"Loh? kenapa? tenang saja, aku tidak memaksaamu untuk memberikan cucu sebelum kalian resmi menikah kok" ucap William tanpa beban merespon kepanikan Jester


"Aaarrrggghhh!! papa!! apa tujuan dari ini?!" bentak Jester kehabisan kata kata


"Tujuan ya? kalau kamu tanya tujuan maka tujuan sebagai pria itu untuk menemani wanita nak" dengan tenang William menjawab pertanyaan Jester


"Papa... aku tiba tiba capek, tolong katakan padaku ada apa ini?" tanya Jester berusaha untuk tenang


"Itu ide Mama dan Naoko agar kalian berdua bisa lebih dekat, karena kedua pihak sudah sangat setuju dengan hubungan kalian. Kamu paham kan Evans adalah sahabatku" jawab William masih terlihat tenang


"Tapi kan tidak harus begini papa!!" dengan penuh amarah Jester katakan itu


"Sepertinya harus, karena pernikahanmu akan dilaksanakan tahun depan" William mengucapkan kalimat berat itu tanpa beban, Jester merasa dirinya disambar petir pada siang bolong.


"Haaah??!! siapa yang memutuskan itu?!!" Jester kaget dan panik


"Loh? bukan kah kamu curhat sama mama katanya kamu ingin segera menikahi Naomi? lalu papa juga dapat info dari Naoko katanya Naomi juga ingin segera menikah denganmu" jawab William dan mengatakannya dengan nada bingung


"Haaah? apa - apaan ini? aku..." perkataan Jester mendadak di potong oleh William


"Karena itulah perpisahan kita semalam begitu emosional bagiku Jester!! kamu sudah tumbuh menjadi pria dewasa!! aku akan menangis jika harus terus berbicara denganmu seperti ini!! siall!! aku tidak ingin terdengar menangis didepan anakku yang bodoh!! sampai jumpa Jester!!!" William menutup teleponnya


***


Jester yang panik dan kaget lalu melempar handphone kekasur untuk melampiaskan kekesalannya, wajah marah Jester tidak dapat dia sembunyikan lagi saat itu dan bantal serta kasur menjadi sasaran amukannya.


"Arrrgh papa bodoh!!! mama juga Bodoh!!! kenapa bisa seperti ini sih?!!" Jester sangat marah sembari memukuli bantal dan kasur saat itu, namun ditengah luapan emosinya itu Jester mendapatkan ide brilian.


"Ooh iya, Naomi pasti akan menolak ini jika tahu apa yang terjadi kan. Ahahaha... dasar papa bodoh, dia pikir Naomi akan menerima keputusanmu?!" dengan penuh keyakinan Jester mengatakannya, Jester mengatur nafas agar dirinya bisa mengendalikan amarahnya lalu segera berjalan ke ruang tengah menemui keluarga Scott.

__ADS_1


__ADS_2