
Malam yang indah dipinggir pantai, sorot lampu jalanan dan lampu - lampu dari sebuah restoran pinggir pantai menambah indahnya malam itu. Orang - orang ramai lalu lalang baik disekitar restoran maupun disekitaran bibir pantai, diantara orang - orang itu terlihat Jester berdiri di dekat pintu masuk restoran sembari menunggu kedatangan Camilla. Dengan penampilan baru yang lebih kekinian Jester nampak lebih tampan namun sepertinya Jester tidak merasa nyaman, beberapa kali Jester menatap dirinya didepan kaca restoran yang memantulkan bayangannya mencoba untuk melihat penampilan dirinya.
"Jester?" sapa Camilla dengan nada yang terdengar terkejut muncul dibelakang Jester, Jester berbalik dan melihat Camilla yang menatap dirinya dengan heran namun tetap tersenyum manis.
"Eeeh!! ya ya ini aku Camilla!" jawab Jester yang mulai panik saat berdekatan dengan Camilla, detak jantungnya pun mulai berdetak tidak beraturan.
"Aa... aku hampir tidak mengenalimu, apa yang terjadi?" tanya Camilla masih tidak percaya orang yang ada didepannya adalah Jester, Camilla yang terpesona saat itu tersenyum manis menatap Jester namun Jester melihatnya sebagai ejekan dari Camilla terhadap perubahan penampilannya hari ini.
"Aaah ini karena Naomi, aku akan pulang sebentar dan ganti penampilanku!" dengan panik Jester hendak pergi dari tempat itu, namun Camilla memegang tangan Jester untuk menahan langkahnya.
"Kita sudah tidak punya waktu, aku sudah reservasi untuk jam delapan tahu" timpal Camilla lalu melepaskan tangannya dan berjalan masuk kedalam restoran itu, Jester pun mengikuti Camilla masuk dengan ragu - ragu dan penuh harap dirinya tidak merusak suasana kencannya dengan Camilla.
Didalam restoran seafood itu mereka bedua dipandu oleh pelayan untuk menuju meja yang telah dipesan, setelah duduk keduanya langsung memesan makanan dan minuman yang terdaftar di menu. Setelah menerima pesanan pelayan meninggalkan meja itu dan tersisa lah Jester dan Camilla yang saling berhadapan, Jester terlihat gugup karena Camilla terus - menerus menatapnya dengan senyuman manis. Camilla yang duduk berhadap - hadapan dengan Jester saat itu sebenarnya terpesona namun Jester melihatnya sebagai sindiran, Camilla tertawa kecil saat keduanya terdiam untuk waktu yang cukup lama.
"Naomi yang mempersiapkan ini?" tanya Camilla membuka obrolan
"Eeh... iya iya, dia itu kadang ada - ada aja, kadang sering memaksakan kehendaknya juga" jawab Jester dengan terbata, Camilla pun tertawa mendengarkan jawaban Jester.
"Tidak buruk, dia memang pantas jadi seorang selebgram yang terkenal modis" timpal Camilla sembari terus menatap Jester, Jester terlihat malu dan menundukkan wajahnya sembari memperhatikan pakaian yang dia kenakan hari ini.
"Ahahaha.... benarkah? lalu ada apa mengajakku makan malam seperti ini?" Jester berusaha mengalihkan pembicaraan, perlahan Jester mengangkat kepalanya menatap Camilla lagi setelah bertanya.
"Aku mau minta maaf sama kamu, selama beberapa hari ini aku mengerjaimu berkali - kali" jawab Camilla dengan penuh penyesalan, Camilla mulai kehilangan senyumannya yang sejak tadi dia tampakkan didepan Jester dan raut wajahnya menjadi sedih.
"Tidak kok tidak apa - apa, aku baik - baik saja sungguh" Jester berusaha membuat Camilla berhenti menyalahkan dirinya sendiri, Camilla membuang muka agar tidak menatap Jester dengan masih menyimpan rasa penyesalan didalam dirinya.
"Benarkah? tapi aku tetap merasa tidak enak kepadamu, para dosen pun sepertinya sudah sangat marah padamu dan kamu juga pernah sampai diusir dari kelas karenaku" suara Camilla masih penuh dengan rasa penyesalan, mendengar penyesalan Camilla membuat Jester kembali berfikir tentang apa yang sebenarnya terjadi. Pertengkaran di taman tengah saat itu menjadi hal yang sangat mengganggu Jester, belum lagi tuduhan pada Camilla tentang dirinya yang mempermainkan Jester dan bekerjasama dengan Selena.
"Ta.. tapi ada apa denganmu? kamu bersikap aneh akhir - akhir ini" tanya Jester dengan ragu - ragu, Jester takut merusak suasana dengan mengungkit kembali kejadian ditaman tengah kampus. Terdiam untuk beberapa saat, Camilla masih tidak menatap Jester.
__ADS_1
"Aku.... Cemburu..." terbata Camilla katakan itu untuk menjawab pertanyaan Jester, mendengar perkataan Camilla membuat Jester terkejut sampai menggebrak meja dan menjadi pusat perhatian para tamu direstoran itu.
"Kamu cemburu?! aku gak salah dengarkan?!!" jantung Jester mendadak berdebar sangat kencang, otaknya mulai terjadi perang untuk mempertahankan kewarasannya.
"Engga, aku jujur... aku cemburu dengan kedekatanmu sama Naomi" jawab Camilla namun masih tidak mau menatap Jester, Jester mengatur nafasnya untuk menenangkan diri agar dapat mempertahankan pikiran warasnya. Belum lagi keinginan Jester untuk tidak merusak suasana kencan mereka berdua, maklum ini adalah kencan yang sangat diinginkan oleh Jester.
"Aku minta maaf sudah buat kamu jadi cemburu tapi itu semua terjadi karena kesalahanku, ini tidak ada hubungannya sama Naomi" dengan tegas Jester mengatakannya, Camilla menatap Jester namun tanpa senyuman saat mendengar Jester yang terkesan sedang membela Naomi didepan Camilla.
"Kamu selalu melindunginya ya" celetuk Camilla dengan nada sinis, Jester panik karena kata - kata itu juga pernah dilontarkan Selena padanya. Dalam benaknya berfikir ada apa orang - orang ini selalu berfikiran bahwa dirinya selalu membela Naomi, keringat pun mulai mengalir di dahi Jester karena takut Camilla tiba - tiba akan menghentikan kencan malam itu.
"Tidak bukan gitu, tapi... " belum selesai kalimat Jester, pelayan datang untuk menyajikan pesanan Jester dan Camilla. Selagi pelayan menyajikan makanan dan minuman, Jester dan Camilla terdiam tanpa saling menatap, Jester kemudian dipenuhi tentang pertanyaan kenapa Camilla bisa cemburu padanya sedangkan Jester mengetahui Camilla tidak mencintainya. Beberapa saat makanan dan minuman sudah tersaji, pelayan meninggalkan keduanya. Jester dan Camilla saling bertatapan mata lagi, dengan wajah yang serius Camilla tidak tersenyum sama sekali.
"Camilla, apa tujuan makan malam ini?" tanya Jester dengan tegas, Jester mulai dapat mengendalikan dirinya saat berhadapan dengan Camilla. Sejenak saling bertatapan dalam diam, Camilla mengalihkan pandangannya sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Jester sambil menatap mata Jester.
"Baiklah... aku akan jujur dan sepertinya kamu juga akan bertanya kenapa aku tiba - tiba berubah sikap terhadapmu akhir - akhir ini kan" jawab Camilla dengan tegas seperti memahami maksud sebenarnya dari pertanyaan Jester untuknya, dengan raut wajah yang terlihat sedikit marah Camilla menatap Jester.
"Iya itu juga, kamu tiba - tiba pindah kelas dan menempel padaku akhir - akhir ini, ada apa?" Jester semakin penasaran, Camilla menarik nafasnya lalu mengehembuskannya perlahan dan wajahnya pun mendadak memerah.
"Kamu... bercanda kan?" Jester berusaha menahan dirinya agar tidak terlihat terlalu bahagia dan kehilangan kewarasannya mendengarkan perkataan Camilla yang tidak akan pernah Jester duga sebelumnya, selain itu Jester juga ingin memastikan jawaban Camilla karena sudah terbiasa Camilla mengerjai Jester dengan segala cara dan tipu dayanya.
"Tidak, aku serius!" Camilla sedikit menggebrak meja dan menatap Jester agak kesal karena meragukan perkataannya, Jester menggeleng - gelengkan kepalanya beberapa kali dan membuang wajahnya
"Tidak mungkin, kamu sudah pernah menolakku dan bilang kalau aku harus fokus sama kuliahku. Luke dan Harry yang menyadarkan aku kalau kata - katamu hanyalah penolakan halus terhadapku" ucap Jester dengan nada yang terdengar sedih mengingat tentang penolakan Camilla atas pernyataan cintanya, mendengar perkataan Jester membuat Camilla menundukkan kepalanya.
"Itu... sebenarnya bohong, maafkan aku... tapi saat itu aku merasa hari itu bukanlah waktu yang tepat untuk menerima cintamu" dengan penuh penyesalan dan terbata Camilla mengatakannya, Jester terlihat marah atas jawaban aneh Camilla
"Tapi kenapa?!" dengan sedikit bentakan Jester mengatakannya, Camilla menatap Jester yang terlihat marah padanya saat itu.
"Di lantai dua lorong kampus saat itu kamu menembak ku, jujur aku seperti ingin melompat melewati jendela kampus karena terlalu bahagia. Tapi instingku mengatakan hari ini bukan saatnya dan jika aku menerimamu saat itu aku merasa hubungan kita tidak akan berjalan lancar karena sesuatu, walau itu cuma pikiranku mungkin. Tanpa pikir lebih panjang lagi aku spontan mengatakan itu padamu, jadi maafkan aku atas sikapku" jawab Camilla dengan lembut berusaha menenangkan kemarahan Jester, Jester dengan wajah kesalnya menatap Camilla
__ADS_1
"Jadi maksudmu kamu menolakku karena itu bukan hari keberuntunganmu?" tanya Jester dengan nada yang terdengar kesal, Camilla sedikit tertawa dengan pertanyaan Jester yang menangkap penjelasannya sesederhana itu.
"Tidak tidak, bukan seperti itu. Aku ini wanita yang punya insting kuat, saat itu aku merasa akan terjadi sesuatu padamu yang akan mengantarmu bertemu dengan seseorang. Namun aku tidak menyangka itu adalah Naomi Scott yang terkenal itu, bahkan orang tua kalian pun juga saling mengenal" jawab Camilla dengan penyesalan, Jester bersandar pada kursi dan menatap langit langit restoran
"Haah... maaf aku tidak mempercayai kata - katamu" timpal Jester lalu duduk tegak kembali dan mulai menikmati makanan didepannya, Camilla sedikit kesal saat itu mendengar perkataan Jester
"Tapi aku serius Jester, bayangkan saat itu aku menerima mu dan kamu ditakdirkan bertemu dengan Naomi, mungkin kamu akan berubah padaku dan tergoda padanya" agak dengan bentakan Camilla mengatakannya, Jester yang jantungnya masih berdetak sangat kencang dari tadi berusaha untuk tenang dan terus menyantap makanannya
"Kamu hanya sedang mengerjaiku kan? jantungku sudah akan berhenti berdetak karena lelah, jadi tolong hentikan saja" tangan Jester bergemetar memegang sendok dan garpu saat mengatakannya, Camilla melihatnya lalu menatap Jester dengan serius
"Kalau begitu gini aja, apa yang bisa aku lakukan agar kamu mempercayai kata - kataku?" tanya Camilla tanpa keraguan sedikit pun, Jester meletakkan kembali sendok dan garpunya lalu mulai menatap Camilla dengan serius juga
"Camilla..... mau kamu melakukannya denganku?" tanya Jester agak terbata namun tetap terdengar tegas tanpa keraguan, Camilla pun terlihat terkejut sampai wajahnya memerah. Sesaat setelah bertatapan dengan Jester, Camilla menutupi sebagian wajah dengan rambut panjangnya dan menatap Jester dari balik celah - celah rambut itu.
"Tapi.... aku masih perawan.... apa kamu gak masalah?" tanya balik Camilla dengan terbata dan perasaan malu, Jester yang saat itu memakan hidangannya saat menunggu Camilla menjawab menjadi tersedak.
"Uhuk... Uhuk...!! Argh!! Hah? apa..? uhuk!!" Jester belum selesai menyelesaikan kalimatnya langsung mengambil minumannya untuk meredakan gatal ditenggorokan karena tersedak, Camilla mengambilkan tissue dan memberikannya pada Jester.
"Ma.. Maaf, aku tarik lagi ucapanku! uhuk.. uhuk... hah..." Jester pun berusaha sekuat tenaga meneruskan kalimatnya yang sempat terpotong itu, Camilla merapihkan rambutnya dan menunduk dengan wajah yang terlihat sedih.
"Sudah aku duga... kamu tidak mau terikat karena memberikan noda pada wanita perawan ya" celetuk Camilla, mendengar celetukan itu membuat Jester mendadak panik dan malu. Seakan Camilla sedang menyindirnya sebagai pria yang tidak akan bertanggungjawab jika permintaannya benar - benar dituruti, sedikit menggebrak meja Jester hendak berbicara kembali.
"Bukan!! bukan seperti itu, maaf!! aku hanya baru sadar aku telah mengajukan perminataan yang tidak sopan, jadi maafkan aku dan lupakan ucapanku tadi" timpal Jester terdengar panik, lagi - lagi mereka berdua menjadi pusat perhatian tamu - tamu di restoran itu. Keduanya pun terdiam sesaat untuk mengalihkan perhatian, setelah nampak tenang kembali keduanya kembali saling menatap.
"Jadi kamu tidak suka dengan yang tidak berpengalaman?" tanya Camilla, pertanyaan itu kembali membuat Jester terkejut dan panik.
"Bukan!! bukan seperti itu... bukan..... duuh, aku hanya... sudahlah. pokoknya aku minta maaf dan aku tarik lagi perkataanku tadi" jawab Jester yang terlihat pasrah dengan pandangan negatif Camilla terhadapnya, namun Camilla terlihat kesal saat itu.
"Pria itu harus bisa dipegang kata - katanya, sekali kamu sudah ucapkan kamu tidak boleh menariknya" timpa Camilla yang terlihat marah pada Jester, Jester pun menaruh kepalanya dimeja dan tangannya terlihat mengepal.
__ADS_1
"Iya aku tahu, tapi..." belum selesai kalimat Jester, Camilla pun memotong
"Aku benar - benar menyukaimu Jester, jadi jika kamu menginginkannya aku akan..." ucapan Camilla pun dipotong dengan gestur tangan Jester yang menyuruh Camilla untuk berhenti berbicara, Jester mengangkat kepalanya perlahan dan menatap Camilla dengan serius.