
Siang hari yang panas dan cerah namun, suhu panas pada siang hari itu masih kalah panas dari perseteruan yang terjadi di salah satu koridor kampus. Terlihat seorang mahasiswa berdiri diantara dua orang mahasiswi yang terlihat sedang berseteru hebat, Jester sedang berada di tengah - tengah antara Naomi dan Selena. Keduanya saling menatap dengan penuh kebencian, Naomi yang biasanya terlihat kalem dan selalu bersikap anggun disetiap kesempatan mendadak menjadi sosok yang temperamental. Sedangkan Selena yang biasanya bersikap sangat bersahabat dan selalu tersenyum, mendadak menjadi sosok orang yang penuh dengan aura permusuhan.
"Kalian ini kenapa sih?! ingat, kalian berdua adalah sahabat! ayolah!" Jester berusaha menenangkan keduanya namun keduanya mengabaikan Jester, Naomi dan Selena masih saling menatap penuh dengan kebencian.
"Aku tidak sudi berteman dengannya lagi!!" dengan bentakan Naomi mengatakannya, Jester sedikit mendorong Naomi agar memberi jarak dengan Selena.
"Kamu pikir aku sudi! Setelah kamu manfaatkan aku selama ini, lalu kamu sejahat ini padaku?! puas kamu tampar aku?!" Selena pun membentak Naomi dan memajukan badannya, namun Jester sedikit mendorong Selena agar tetap berada pada posisinya.
"Cukup!! Cukup kalian berdua!!" Jester membentak keduanya, bentakan Jester membuat Naomi dan Selena mengalihkan pandangannya kewajah Jester
"Kamu kenapa?!" tanya Jester sembari menatap wajah Selena, Jester melihat bekas tamparan tangan Naomi di pipi Selena dan membuat ekspresi wajah Jester berubah menjadi khawatir kepada Selena.
"Aku cuma mempertanyakan komitmen Naomi, dia mengaku sebagai sahabatku tapi dia menusukku dari belakang!" jawab Selena dengan nada marah, mendengar jawaban Selena membuat emosi Naomi kembali terpancing.
"Aku tidak pernah dengan sengaja melakukannya!!" timpal Naomi dengan bentakan, Naomi kembali berusaha mendekati Selena dengan penuh emosi namun Jester masih dapat menahannya
"Benarkah?! jelaskan, kenapa disaat sulit kamu malah mencari - cari kak Jester? kenapa pilihanmu jatuh padanya?!!" Selena semakin emosional mendengar jawaban Naomi, saat itu Selena pun berusaha maju mendekati Naomi namun Jester masih dapat menahannya.
"Itu inisiatifku dan bukan keputusan Naomi, tolong jangan salah paham" jawab Jester yang nada bicaranya terdengar sedikit panik namun berusaha untuk tetap lembut agar Selena menjadi sedikit tenang, jawaban Jester saat itu malah membuat Selena menatap Jester dengan raut wajah sedih.
"Kenapa kak?! kenapa kamu terus membela dia?! kamu harusnya berada di pihak ku yang jelas - jelas hatinya untukmu, bukan seperti dia yang hatinya entah untuk siapa!!" ucap Selena sembari menunjuk muka Naomi, saat itu Naomi ingin menghempaskan tangan Selena namun tangan Jester lebih dulu menurunkan tangan Selena dengan lembut sembari menggenggam tangan Selena beberapa saat.
"Selena tolong... aku tidak membelanya tapi ini murni karena aku yang memintanya" Jester berusaha menjelaskan dengan nada yang lembut agar Selena bisa menahan amarahnya dan berusaha meyakinkan Selena, melihat Jester mendadak lembut kepada Selena membuat Naomi merasakan api cemburu.
"Katakan Jester.... katakan padaku sekarang juga, kamu pilih aku atau dia?!" tanya Naomi dengan nada tegas walau suaranya terdengar mulai serak, Jester terkejut dengan pertanyaan Naomi. Jester menoleh menatap Naomi yang matanya mulai berkaca - kaca, Selena terlihat marah mendengar pertanyaan Naomi.
"Apa? gak salah dengar?! kamu berani bertanya seperti itu? kamu lupa kamu itu milik siapa hah?!" Selena menyindir Naomi dengan nada sinis dan dengan bentakan, tangan Jester mengelus kepala Selena beberapa kali namun tatapan matanya tetap menatap Naomi.
"Aku tidak butuh pendapatmu!! jawab Jester!" Naomi memaksa Jester untuk menjawab namun Jester hanya membatu saat mendengar pertanyaan Naomi, Jester seakan tidak percaya Naomi menyuruhnya memilih sedangkan Naomi adalah milik Daniel.
"Naomi... apa - apaan pertanyaanmu itu?" tanya balik Jester dengan tatapan yang terlihat heran menatap Naomi, Jester melepaskan tangannya dari kepala Selena dan badannya agak berbalik agar berhadapan langsung dengan Naomi.
"Kamu hanya perlu menjawab aku atau dia, jawab Jester... jawab!!" bentak Naomi dan air mata Naomi pun pecah saat itu, Selena menarik lengan Jester agar Jester kembali menoleh padanya namun Jester menahan tarikan Selena dan terus menatap Naomi.
"Kamu mau dengan seseorang yang hatinya entah untuk siapa?!" tanya Selena menekan Jester, saat itu badan Jester sedikit menyerong untuk menatap Selena sehingga Naomi dan Selena kembali bertatapan mata. Naomi menunjuk tepat diwajah Selena dan Naomi terlihat berusaha menahan kata - katanya saat itu sehingga membuat tangannya terlihat bergemetar, Jester menurunkan tangan Naomi yang menunjuk wajah Selena dengan perlahan.
"Kenapa? apa perkataanku salah?!" tanya Selena lagi berusaha memancing emosi Naomi, Jester menatap Selena dengan wajah marah.
"Cukup, aku tidak akan memilih satu pun diantara kalian. Kalian tahu siapa yang aku cintai saat ini" jawab Jester berusaha menenangkan keduanya dan menyadarkan bahwa persaingan diantara mereka adalah sia - sia, keduanya kembali menatap wajah Jester.
"Aku akan bersaing dengan Camilla tapi tidak dengannya, dia seharusnya sadar diri! kakak harus paham kalau dia ini sudah milik orang lain baik jiwa dan raganya!" ucapan Selena terdengar menyindir Naomi, mendengar perkataan Selena membuat Naomi kembali emosi.
"Aku membencimu Selena!!" bentak Naomi menimpali perkataan Selena, Selena kembali menatap Naomi.
__ADS_1
"Kamu pikir aku tidak?! kenapa? mau tampar aku lagi?!" Selena kembali memancing emosi Naomi, Jester terlihat kembali emosi karena dua sahabat ini kembali bertengkar dan saling memancing emosi satu sama lain.
"Stop!! hentikan kalian berdua!! Selena pulang lah!" perintah Jester dengan penuh emosi, Jester benar - benar pada puncak kesabarannya.
"Enggak! aku gak akan pulang kalau kamu tidak antarkan aku pulang!" timpal Selena membalas bentakan Jester sambil menarik lengan Jester, namun Jester menolaknya dengan menggelengkan kepalanya beberapa kali sembari menatap Selena.
"Aku gak bisa, aku dan Naomi satu mobil sekarang" Jester menolak permintaan Selena dengan nada lembut dan berharap Selena dapat memahami situasinya, namun Selena malah memberikan kunci mobilnya ke tangan Jester dengan kasar.
"Pakai mobilku dan antar aku pulang!" Selena tetap memaksa Jester, melihat Selena yang memaksa Jester seperti itu membuat Naomi gregetan.
"Kamu ini benar - benar ya...." timpal Naomi terdengar geram dengan tingkah Selena, mendengar perkataan Naomi saat itu kembali memancing emosi Selena.
"Apa Naomi apa? telpon Daniel dan minta dia untuk antarkan kamu pulang!" Selena kembali memancing emosi Naomi, Naomi terdiam beberapa saat lalu berbalik dan hendak meninggalkan tempat itu namun lengan Naomi digenggam oleh tangan kiri Jester agar Naomi berhenti. Selena yang melihat Jester menahan Naomi mendadak menarik tangan kanan Jester agar membiarkan Naomi pergi dari tempat itu, Terjadi aksi saling tarik saat itu.
"Aku akan antarkan kamu pulang" ucap Jester menatap Naomi yang memunggunginya, Selena semakin emosi mendengar perkataan Jester.
"Tidak tidak tidak!! kakak harus antarkan aku pulang!" timpal Selena sambil terus berusaha menarik lengan Jester, Jester menatap wajah Selena dengan penuh perasaan bersalah.
"Selena tolong, aku tidak bisa memenuhi permintaanmu kali ini" jawab Jester dengan nada lembut sembari memberikan kembali kunci mobil Selena, suara tawa Naomi tiba - tiba terdengar membuat Jester dan Selena heran.
"Kasihan, sampai harus mengemis - ngemis seperti itu" sindir Naomi dan nada suaranya terdengar sangat merendahkan, Jester terkejut Naomi bisa mengucapkan hal seperti itu pada sahabatnya sendiri.
"Kamu tahu kak? dia dan Daniel...." Selena yang marah karena sindiran Naomi hendak membongkar rahasia Naomi, belum selesai Selena berkata Naomi membalikkan badannya dan hendak menampar Selena. Jester menangkap tangan Naomi dan melindungi Selena, lalu mengarahkan tangan Naomi ke pipinya.
"Tampar aku kalau itu bisa membuatmu lega!!" bentak Jester tepat didepan wajah Naomi, Naomi tersentak saat melihat Jester membentaknya seperti itu.
"Selana Cukup! sekali lagi aku dengar kamu memancing emosi Naomi, aku akan berkata kasar padamu!" bentak Jester kepada Selena, Selena tersentak mendengar Jester membentaknya dengan sangat emosional.
"Tapi kak..." belum selesai kalimat Selena, Jester memotong
"Cukup!!" Jester kembali membentak Selena, Selena terlihat kesal dan matanya mulai berkaca - kaca.
"Naomi!! aku tidak akan pernah memaafkanmu!!" Selena berteriak lalu berbalik dan berjalan meninggalkan tempat itu, Naomi menarik tangannya yang dari tadi di genggam oleh Jester.
"Aku mau pulang" celetuk Naomi yang suaranya terdengar mulai tenang dan kemudian berbalik dan berjalan meninggalkan tempat itu, Jester mengalihkan pandangannya melihat Selena yang berjalan menjauhi mereka beberapa saat lalu mulai mengejar Naomi.
Di salah satu koridor kampus terlihat Selena berjalan sendirian setelah terlibat pertengkaran hebat dengan Naomi, tidak terlalu jauh dari tempat pertengkaran itu di sebuah tiang penyangga gedung Selena merasakan ada orang yang sedang menunggunya disana. Orang tersebut berjalan mendekati Selena dari belakang dan menepuk pundaknya, Selena menatap orang tersebut.
"Hai hai~ kerja bagus" ucap Camilla dengan nada yang ramah, Selena terdiam beberapa saat lalu kembali berjalan meninggalkan Camilla.
"Aku melakukan itu bukan karena perintahmu, aku benar - benar kesal padanya" agak sedikit berteriak Selena mengatakannya dan terdengar Selena sangat marah, Camilla tersenyum lalu berjalan mendekati Selena.
"Yah gak apa, malah lebih baik hasilnya daripada yang aku bayangkan" Camilla terlihat sangat mengetahui pertengkaran antara Naomi dan Selena yang baru saja terjadi, mendengar perkataan Camilla membuat Selena berhenti berjalan.
__ADS_1
"Apa yang kamu harapkan dari rencamu ini?" tanya Selena dengan nada yang khawatir, Camilla masih terus berjalan walau langkah kakinya melambat.
"Aku tadi sudah menjalankan tugasku membuat mood Jester memburuk dengan mengerjainya seharian, lalu saat kelas selesai kamu datang dan ganggu lagi mood nya biar dia jadi emosional. Aku sudah menduga Naomi akan mencari Jester ketika kelas berakhir, sekarang tinggal kita tunggu saja bom waktunya. Jester dan Naomi akan bertengkar di mobil dan bahkan di rumah" jawab Camilla menjelaskan kepada Selena tentang rencananya, Camilla sedikit tertawa saat menjelaskannya seperti ada kepuasan tersendiri.
"Kenapa kamu yakin mereka akan bertengkar?" tanya Selena lagi seperti tidak percaya dengan rencana Camilla, Camilla berbalik dan menatap Selena dengan senyuman.
"Yah sesama wanita pasti paham kan? kalau kita sedang kalut maka semua akan kena getahnya dan Jester juga pasti emosinya tidak stabil, hihihi" jawab Camilla terlihat senang, namun Selena malah membuang muka dan tatapan matanya terlihat sedih.
"Naomi pasti masuk perangkapmu, tapi.... aku tidak yakin Kak Jester akan seperti dugaanmu" ucap Selena penuh keraguan, mendengar perkataan Selena membuat Camilla kehilangan senyumannya.
"Benarkah? kita lihat saja besok" dengan suara yang penuh keyakinan Camilla mengatakannya, Selena mengalihkan pandangannya menatap Camilla namun terlihat Selena menyesal.
Di siang yang sama pada pada hari itu, sebuah Mercedes Benz V260 terlihat melaju dengan kecepatan sedang diantara jalan perkotaan yang padat. Terlihat Jester mengendarai mobil keluarga itu hanya berdua dengan Naomi yang duduk disebelahnya, Naomi terlihat sangat emosi saat itu sampai - sampai air matanya menetes dan Jester terlihat datar saja mimik wajahnya.
"Aku tidak menyangka Selena akan sejahat itu! dia sudah aku anggap saudaraku sendiri!" dengan nada tinggi Naomi mengatakannya, Jester menganggukkan kepalanya beberapa kali.
"Ya ya ya..." celetuk Jester dengan tenang, Naomi tidak mempedulikan celetukan Jester.
"Apa yang dia pikirkan tadi?! dia sengaja memancing emosiku kan?! apa tujuannya coba?!" Naomi mengatakannya masih dengan nada tinggi sambil menahan tangisnya, namun Jester hanya menanggapi Naomi dengan santai.
"Aku gak tahu" jawab Jester masih sambil mengangguk - anggukkan kepalanya, Naomi terlihat semakin marah karena melihat respon Jester.
"Jester!! kamu gak bisa ya bela aku sedikit saja?! kamu bikin aku marah tahu gak?!!" Naomi membentak Jester sambil memukul - mukuli lengan Jester dengan kedua tangannya, Jester terlihat hanya diam dan tetap mengangguk - anggukkan kepala
"Jester!! katakan sesuatu!!" bentak Naomi lagi karena Jester hanya terdiam, Jester mengalihkan pandangannya menatap Naomi dan tersenyum.
"Papa mengajarkan agar tidak menjawab apapun ketika wanita emosi, maka sekarang luapkan saja emosimu padaku" ucap Jester tersenyum sambil menatap Naomi, Naomi tertegun memandangi Jester dan wajahnya memerah
"Kamu mau nangis lagi? wajahmu memerah loh" tanya Jester, Naomi membuang muka seketika
"Tidak!! dasar Jester bodoh!!" bentak Naomi dengan penuh emosi, didalam hati Naomi merasa sedikit senang mendengar perkataan Jester tadi namun Naomi malu untuk mengakuinya.
"Kenapa sekarang bilang aku bodoh sih" dengan nada lembut Jester mengatakan itu
"Kamu emang bodoh, uuuhhhh!!!! aku kesal!! aku marah Jester!!!" teriak Naomi sembari memukul jog mobil itu berkali - kali, Jester tertawa melihat tingkah emosional Naomi yang tidak pernah Jester sangka sebelumnya.
"Hahaha, ini sosok Naomi yang tidak pernah aku duga. Kalau marah kamu bersikap seperti ini ya?" tanya Jester dengan nada lembut
"Ini karena aku sangat emosi tahu!! bisakah sedikit saja kamu memahami aku?!" bentak Naomi
"Tentu, aku juga gak terlalu bermasalah. Kamu tetap manis seperti biasanya walau sedang marah" jawab Jester sambil kembali menatap wajah Naomi, Naomi kembali tersipu malu lalu kembali membuang muka.
"Bodoh, tapi.... terima kasih... aku merasa baikan...." gumam Naomi yang wajahnya memerah
__ADS_1
"Hah? kamu bicara sesuatu?" Jester berusaha mendengarkan gumaman Naomi saat itu
Di perjalanan pada siang itu Jester dan Naomi terlihat baik - baik saja, Jester seperti dapat meredam emosi Naomi sedangkan Jester tidak terlihat terganggu dengan mood nya yang buruk sepanjang siang itu. Haah.... Selena sepertinya lebih memahami Jester ketimbang Camilla.