
"Kak... apa kalian akan langsung melupakanku ketika aku sudah terkubur? aku takut.... takut untuk sendirian..." senyum Luna pun lenyap seketika, air mata membasahi pipinya dan suara serak Luna membuat hati Jester terasa seperti teriris - iris.
Langit malam yang cerah di Paris Prancis, sinar bulan memancarkan cahaya terangnya ditemani taburan bintang yang ikut menyinari sebuah jalan yang ramai dengan pengunjung sedang menikmati bioskop terbuka. Disalah satu kursi yang tertata rapih saat itu, Jester dan Luna terlihat sedih dan saling menatap. Suasana meriah dan penuh tawa yang sempat tercipta seketika menjadi kesedihan karena pertanyaan yang Luna sampaikan pada Jester, hati Jester terasa sesak melihat Luna menangis dan menatapnya begitu sedih. Suara pilu Luna pun terasa sangat menyiksa bagi Jester, sebuah suasana yang tidak pernah Jester akan harapkan terjadi dalam hidupnya.
"Aku... ingin menikmati film ini... bukankah seharusnya itu yang akan kita lakukan malam ini?" tanya Jester sembari membuang muka menghindari kontak mata dengan Luna, dalam lubuk hati terdalam Jester masih penuh dengan harapan Luna bisa sembuh dari sakitnya karena itu yang membuat dia tidak mampu untuk menjawab pertanyaan Luna.
"Kak...." belum selesai Luna berkata, Jester memotong.
"Bukankah kamu yang bilang kalau kita kesini untuk senang - senang? kenapa kamu melanggar perkataanmu sendiri? atau kita harus segera pulang dan mengakhiri ini semua sesuai kata - katamu?" tanya Jester menekan Luna, tangan Luna perlahan menyeka air mata yang sempat keluar membasahi pipinya.
"Kamu benar... kenapa aku malah terbawa suasana tidak menyenangkan seperti ini... maafkan...." belum selesai Luna berkata, Jester pun memotong kembali.
"Tidak perlu meminta maaf, aku yang salah karena memancingmu dengan pertanyaan - pertanyaanku... aku pun sama denganmu, aku.... takut kehilanganmu... sampai membuatku bingung harus bagaimana bersikap didepanmu. Tapi sekarang aku hanya ingin kamu bahagia, aku akan wujudkan kebahagianmu itu mulai detik ini... ayo kita sama - sama menikmati momen kebersamaan kita" tegas Jester mengatakannya sembari kembali menatap Luna, dengan wajah terkejutnya Luna pun menatap Jester yang tersenyum.
"Check list impianmu... ayo kita lakukan yang terbaik, aku janji akan terus menemanimu untuk melakukannya" ucap Jester terdengar penuh semangat, merasakan semangat itu membuat garis senyum Luna pun kembali terlihat.
"Janji kamu akan menemaniku menyelesaikan check list itu?" tanya Luna sambil menyodorkan jari kelingkingnya, Jester pun tertegun memandangi jari kelingking Luna saat itu.
Baru Jester sadari perubahan tubuh Luna sangat nampak terlihat setelah memperhatikan jari Luna, untuk pertama kali sejak kehadiran Luna kembali dalam hidupnya Jester memperhatikan Luna dengan baik. Tubuh Luna begitu terlihat ringkih, jarinya terlihat begitu kecil seperti hanya kulit yang membungkus tulang, pergelangan tangannya mengecil dan kulit putih meronanya berubah menjadi putih pucat. Sebuah pemandangan yang mengiris hati Jester dan membuat Jester harus ekstra keras membendung pertahanan air matanya agar terlihat kuat dihadapan Luna.
"Kenapa? gak berani mengikat janji denganku?" tanya Luna terdengar kesal menunggu Jester mengikatkan jari kelingking mereka, Jester pun tersenyum dan mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Luna.
"Sejenak aku merasa... kamu memperlakukan aku seperti anak kecil" jawab Jester dengan tawa kecil yang menyertai setiap katanya, Luna pun tertawa mendengar perkataan Jester.
"Mana janjimu? kamu cuma menempelkan jarimu dijariku" terdengar sebal Luna mengatakannya, wajah juteknya pun terlihat.
"Aku janji... apapun yang terjadi, aku akan menyelesaikan check list mu sampai tuntas. Asalkan kamu juga berjanji untuk berusaha sembuh" tegas Jester mengatakannya, Luna pun tertegun memandangi wajah Jester dan tidak terasa air matanya kembali mengalir namun senyum Luna pun terlihat kala itu.
"Terima kasih kak~ Aku berjanji untuk berusaha sembuh" celetuk Luna, lalu mereka berdua pun kembali menikmati film itu diselingi dengan obrolan ringan yang menyertai mereka. Suara tawa pun terdengar mengikuti canda tawa membicarakan film yang mereka tonton malam itu, senyum mereka merekah menikmati malam itu. Ditengah film Jester dan Luna berfoto berdua lalu Luna pun mencentang salah satu impiannya di sebuah note kecil berwarna pink, dengan penuh semangat Luna menunjukkan sisa impiannya kepada Jester.
Dua jam lebih berlalu dan film pun selesai diputar, Jester berdiri dan hendak mendorong kursi roda yang Luna duduki sejak tadi. Sepanjang perjalanan itu Luna terdiam, tidak seperti biasanya dimana Luna selalu mengajak Jester untuk mengobrol, karena khawatir Jester pun membuka obrolan untuk memecahkan keheningan diantara mereka.
"Luna kamu baik - baik saja?" tanya Jester sembari mendorong kursi roda Luna untuk kembali kerumah sakit tempat Luna dirawat
"Aku baik - baik saja, kenapa kak?" tanya balik Luna
"Kamu... lebih diam dari biasanya, ada apa?" terdengar khawatir Jester bertanya, suara tawa Luna pun terdengar samar - samar.
"Aku ngantuk... maaf ya kak aku merepotkanmu" jawab Luna, Jester pun menghela nafasnya.
"Tidak apa, tidurlah..." lembut Jester mengatakannya
__ADS_1
Sepanjang perjalanan Luna pun tertidur, Jester semakin berhati - hati saat mendorong Luna pulang kerumah sakit. Hingga beberapa menit berlalu didepan rumah sakit saat itu Jester melihat John dan Lisa berdiri tidak jauh dari pintu rumah sakit dengan wajah yang terlihat khawatir melihat Luna yang tertidur, keduanya pun berjalan mendekati Jester.
"Apa Luna baik - baik saja Tuan muda Gates?" tanya John terdengar khawatir
"Dia baik - baik saja... hanya tertidur sepanjang perjalanan..." jawab Jester berusaha untuk membuat John dan Lisa tidak panik
"Terima kasih tuan muda Gates..." terdengar sedih Lisa mengatakannya, Lisa pun terlihat meneteskan air matanya dan membuat Jester terlihat tidak enak hati.
"Tidak apa nyonya Lincoln... ini adalah bentuk janjiku dengannya, jadi tidak usah dipikirkan" timpal Jester terdengar sedikit panik melihat air mata Lisa, John pun merangkul lembut Lisa dan mengelus - elus pundaknya.
"Anda pria yang baik tuan muda Gates, tidak banyak orang yang akan peduli seperti anda jika dalam posisi seperti ini... Luna sangat mengganggu hubungan anda dengan nona muda Scott, entah jika bukan anda dan nona muda Scott yang Luna ganggu... akan seperti apa hari - hari Luna" terdengar sedih John mengatakannya
"Aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan...." timpal Jester dengan senyum merekah menatap John dan Lisa, mendengar perkataan Jester itu John dan Lisa pun terlihat lega. John berjalan mendekati Jester lalu mengambil alih untuk mendorong Luna kedalam kamarnya, perlahan Jester mundur beberapa langkah untuk membiarkan John membawa Luna kembali kedalam kamar.
"Tuan muda Gates... entah apa aku boleh mengatakan ini pada anda atau tidak..." celetuk Lisa ketika John berjalan cukup jauh membawa Luna masuk kedalam rumah sakit, Jester pun terlihat penasaran menatap Lisa.
"Ada apa nyonya Lincoln?" tanya Jester
"Sejak SMP saat dia mengetahui penyakitnya dan harapan hidup yang tidak lama, Luna selalu mengurung diri dikamar dan hanya termenung tanpa semangat sama sekali. Hanya nona muda Parker yang mampu membuatnya untuk kembali keluar kamar, namun Luna tidak pernah lagi tersenyum sejak saat itu sampai pada akhirnya dia lulus SMP dan di SMA bertemu dengan anda..." jawab Lisa terdengar serak karena menahan tangisnya, Jester pun tertegun memandangi wajah Lisa.
"Senyum Luna saat pulang sekolah... itu senyum termanis yang pernah aku lihat, senyum yang sudah lama terkubur... Luna mengatakan dia menemukan cintanya dan saat itu dia rajin berobat dan konsultasi dengan dokternya, namun takdir sungguh kejam padanya.... ketika itu dokter mengatakan kondisi tubuh Luna semakin memburuk..." belum selesai Lisa berkata, Jester memotong.
"Apakah itu saat acara perpisahan kelas tiga di sekolah?" tanya Jester sembari menundukkan kepalanya
"Aku juga mencintainya.... sekarang aku tidak pantas untuk mengatakannya, namun aku masih mencintainya... aku sangat menyesal tidak mengetahui kebenaran ini lebih awal, tapi saat ini yang bisa aku lakukan hanyalah membuatnya bahagia.... dengan apapun yang mungkin bisa aku berikan" timpal Jester dengan lembut, Lisa pun kembali menangis mendengar perkataan Jester.
"Terima kasih.... terima kasih sudah mencitai Luna dan memberikan kenangan yang indah kepadanya... terima kasih untuk semua senyuman yang pernah anda ciptakan diwajah Luna..." dengan derai air mata yang menetes diwajah Lisa mengatakannya, tidak terasa air mata Jester pun mendadak mengalir dan suara Luna tiba - tiba terngiang dikepala saat Luna menyebut nama Jester.
Ditengah suasana haru itu tiba - tiba terjadi keributan didalam rumah sakit yang menarik perhatian Lisa dan Jester, ketika itu beberapa perawat berlari menuju arah yang sama dengan kamar Luna. Dengan sedikit berlari Jester dan Lisa pun masuk kedalam rumah sakit dan melihat ada apa didalam sana, Jester pun menghentikan salah satu perawat yang kebetulan melewatinya.
"Ada keributan apa?!" tanya Jester terdengar sedikit panik
"Pasien atas nama nona Luna Lincoln dalam keadaan kritis, akan dilakukan operasi darurat. Apa tuan anggota keluarga pasien? dokter sedang menunggu untuk menjelaskan detailnya" jawab perawat itu terdengar panik, jawaban perawat itu membuat Jester tersentak dan semangatnya pun seketika meredup.
"Dimana?" tanya Jester yang terdengar bergemetar, matanya terbelalak terlihat ketakutan.
"Disana ada ruang dokter, anda tanyalah disana" jawab perawat itu sembari memberikan gestur tangan menunjuk salah satu lorong, dengan sigap Jester pun berlari menuju ruang dokter. Didepan ruang dokter itu Jester melihat John yang duduk bersandar di tembok dekat pintu masuk kedalam ruang dokter, dengan kepala yang tertunduk dan air mata deras yang menetes dilantai membuat Jester menyadari keadaan Luna sudah sangat kritis.
"Apa... yang terjadi tuan Lincoln?" tanya Jester dengan nafas yang terdengar berat, tubuh Jester pun bergemetar hebat menunggu jawaban John.
"Pembengkakan limpa Luna sudah tidak dapat ditoleransi... operasi pengangkatannya harus segera dilaksanakan... tapi ini sangat beresiko...." jawab John berusaha menahan tangisnya, Jester merasakan bagai tersambar petir disiang bolong ketika mendengar jawaban John.
__ADS_1
Disaat bersamaan Lisa menelepon Selena lalu beberapa menit setelahnya, terlihat Selena, Naomi, Justin, Grece, Luke dan Harry pun berlari mendekati Jester, John dan Lisa yang menunggu Luna dipintu masuk ruang operasi. Tangisan Lisa menambah kepanikan Selena dan Naomi saat itu, Naomi yang melihat Jester termenung langsung berjalan mendekati Jester berinisiatif untuk menanyakan apa yang sebenarnya telah terjadi.
"Apa yang terjadi Jess?" tanya Naomi terdengar panik namun dia berusaha untuk tetap terlihat tenang
"Aku tidak tahu.... aku hanya dapat kabar kalau Luna harus menjalankan operasi sesegera mungkin...." jawab Jester terdengar sedih, suara tangis Selena, Lisa, dan Grece menambah haru suasana ditempat itu.
Dua jam berlalu, lampu tanda operasi diatas pintu masuk pun padam. Seketika itu Jester, Naomi, Selena, John, Lisa, dan Grece berjalan mendekati pintu masuk, dengan hati yang penuh perasaan khawatir dan kepanikan semuanya menunggu hasil operasi yang sudah selesai dilaksanakan. Dikesunyian lorong rumah sakit itu, terdengar suara langkah kaki dari beberapa orang yang berjalan perlahan mendekati pintu. Tidak lama pintu terbuka, disana mereka menatap tim dokter keluar secara bersamaan. Beberapa dokter berjalan segera menjauhi keluarga yang sedang menunggu hasil, hanya ada satu dokter yang mendekati Jester, Naomi, Selena, John, Lisa dan Grece.
"Tuan Gates, kami sangat menyesal dengan apa yang terjadi... operasi nona Luna... gagal..." ucap dokter ketika dia melepaskan masker yang menempel pada wajahnya
"Luna!!" Naomi yang mengerti bahasa prancis seketika histeris Naomi meneriakkan nama Luna ketika mendengar percakapan dokter dengan Jester, melihat reaksi Naomi saat itu membuat Selena, Grece, Justin, Luke dan Harry tahu bahwa Luna telah tiada.
Tangisan Naomi, Lisa, Grece dan Selena pecah seketika, Jester pun seakan kehilangan tenaganya hingga membuatnya terduduk dengan wajah yang terlihat syok berat. Luke dan Harry saat itu terdiam menatap Jester yang begitu terpuruk, namun mereka berdua terlihat ingin menangis ketika itu. Justin yang sejak tadi hanya terdiam akhirnya tidak mampu untuk menahan air matanya, dia berjalan keluar dari lorong rumah sakit untuk menyendiri. Dilorong William melihat Justin keluar dengan derai air mata, Menyadari Luna sudah meninggal saat itu William hanya menghela nafasnya sambil terus berjalan mendekati ruang operasi.
Disana William melihat semuanya menangis, namun matanya tertuju pada anak semata wayangnya yang terduduk bersimpuh dilantai. Nafasnya pun kembali dia hela lalu berjalan mendekati dokter yang masih tidak mampu untuk meninggalkan keluarga pasien, William menjulurkan tangannya kepada dokter dan tidak lama dokter menyambut jabat tangan William.
"Terima kasih atas kerja kerasnya dokter, anda bisa meninggalkan kami" ucap William sembari berjabat tangan dengan dokter
"Kami sangat menyesal" timpal dokter itu lalu melepaskan jabat tangannya dan pergi berlalu begitu saja, tidak lama William berjalan mendekati John yang masih memeluk Lisa dengan penuh air mata yang membasahi wajahnya.
"Aku turut berduka cita, aku tahu ini berat namun aku harap kalian tabah. Urusan rumah sakit dan pengurusan jenasah biar keluarga Gates yang mengurusnya" ucap William sembari menjulurkan tangannya kearah John, terlihat bergemetar tangan John menyambut tangan William.
"Terima kasih Tuan Gates, kami tidak tahu bagaimana cara kami membalas kebaikan anda dan tuan muda Gates" dengan suara yang bergemetar John mengatakannya
"Tidak usah dipikirkan... aku sangat mengenal Luna... Dia... wanita yang sangat baik, salah satu dari sekian banyak wanita yang aku harapkan menjadi menantuku... Haah... anda yang tabah ya" terdengar penuh penyesalan William mengatakannya, William melepaskan tangannya dan kemudian berjalan mendekati Jester yang masih bersimpuh dan tertunduk menatap lantai.
"Aku tahu hatimu sangat pedih saat ini nak, tapi apa ini yang Luna inginkan? terpuruk dan menangis seperti itu?!" agak membentak William mengatakannya, mendengarkan bentakan William kepada Jester membuat Naomi berbalik menatap punggung William dengan amarah.
"Papa!! biarkan Jester menangis!! hatinya saat ini pasti remuk, papa!! apa papa tidak punya perasaan?!!" bentak Naomi dengan air mata yang masih terus menetes, namun William hanya terdiam menatap Jester.
"Apa... yang harus aku lakukan... sekarang papa?" tanya Jester terbata dan terdengar begitu pilu, William menghela nafasnya sebelum menjawab pertanyaan Jester.
"Kamu harus jadi pria sejati nak, bangkitlah dan sambut Luna dengan senyuman" tegas William
"Apa... yang harus aku... sambut? dia... sudah tiada... tidak bernyawa... tidak mendengar... tidak merasakan sentuhan... apa yang harus aku sambut... dari dia?" terbata Jester mengatakannya, tidak lama terdengar suara roda brankar dan beberapa langkah yang hendak keluar dari ruang operasi.
Ketika pintu terbuka, Luna sudah terbaring diatas brankar dengan wajah yang tertutupi selembar kain dan tubuh yang diselimuti kain putih. Sontak Selena, Naomi, Lisa, Grece dan John mendekati jenasah Luna, mereka pun menangis terisak - isak melihat jenasah Luna. Lisa dan Selena terlihat memeluk jenasah Luna dengan erat, ditengah suasana haru itu Jester pun berdiri lalu berjalan mendekati jenasah Luna. Dia membuka penutup wajah Luna dan didapatinya garis senyum wajah Luna terlihat, wajahnya yang pucat pasi, dan matanya yang sudah tertutup rapat membuat Jester terlihat marah.
"Kenapa.... kamu masih tersenyum?!" tanya Jester dengan sedikit bentakan
"Jester!!" bentak Naomi memperingatkan Jester, tiba - tiba Jester menggenggam kedua bahu Luna dan menggoncangnya beberapa kali untuk membangunkan Luna.
__ADS_1
"Bangun!!! Bohong!! Dasar kau pembohong!!! aku tidak akan menerima ini!! kalau kau pergi lagi, aku tidak akan pernah memaafkanmu!!! Bangunlah.... kembalilah.... jangan pergi kemanapun... jangan tinggalkan aku lagi...Aku mohon..." melihat Jester yang menggila saat itu membuat Luke dan Harry bertindak, mereka berdua menarik Jester agar menjauh dari jenasah Luna.
"Kembalilah padaku!! buka matamu Luna!!!! jangan tinggalkan aku!! Suaramu... biarkan aku mendengarnya sekali lagi...aku mohon bukalah matamu..." terdengar pilu Jester mengatakannya, air matanya terus berderai membasahi wajahnya.