
"Jika Naomi meninggalkanmu! apa kamu masih tidak mau untuk melihatku sebagai sosok yang akan kamu pilih untuk jadi pendamping mu?!" dengan bentakan Selena mengatakannya, Jester dan Selena saling bertatapan mata saat itu.
Malam hari yang cerah dengan pandaran cahaya bintang yang begitu berkilau, disebuah cluster perumahan mewah terlihat sebuah rumah dengan aksen khas budaya jepang yang begitu menarik perhatian karena nampak berbeda dengan rumah lainnya diarea cluster. Pintu rumah itu terlihat terbuka dengan sosok Jester dan Selena yang saling bertatapan mata, Jester masih membatu menatap Selena yang terlihat begitu serius setelah mengungkapkan isi hati.
"Se...lena..." terbata Jester saat mengucapkannya, matanya masih terlihat terbelalak menatap Selena yang perlahan menundukkan kepalanya.
"Aku masih memahami jika dulu kamu tidak melihatku sama sekali karena Luna... sekarang pun juga... aku berusaha dengan sangat kuat menjadi sosok Luna agar kamu melihatku namun aku mengerti kamu lebih memilih Naomi... tapi jika...." Selena terdiam sejenak lalu menghela nafas sebelum meneruskan kalimatnya
"Maaf...." ucap Selena lalu berbalik dan berlari keluar dari rumah menuju mobil Mercedes benz C200 miliknya
"Selena!" teriak Jester sembari berlari mengejar Selena, namun Jester menghentikan langkahnya didepan pelataran rumah dan hanya melihat mobil Selena yang melaju dengan cepat meninggalkan rumah.
Serasa dejavu bagi Jester mendengar perkataan Selena, entah harus bersikap seperti apa lagi kepada Selena agar Selena sadar bahwa Jester hanya menganggap Selena sebagai sahabat. Untuk sesaat Jester khawatir jika selama jauh dari Naomi, Jester kembali bersikap baik dan seolah memberi harapan kepada Selena.
Untuk beberapa saat Jester hanya terdiam menatap mobil Mercedes benz C200 yang terus menjauh sampai tidak terlihat lagi, Jester berbalik dan berjalan masuk kedalam rumah. Agak berlari Jester menuju kamar sembari melakukan panggilan telepon, tidak beberapa lama seseorang yang Jester telepon pun mengangkat.
***
"Ya Jester, ada apa?" tanya Sarah ketika telepon tersambung
"Sarah, tadi Selena kesini dan dia berbicara hal aneh tentang Naomi" nada Jester terdengar panik
"Apa yang Selena katakan?!" tanya Sarah juga terdengar panik
"Dia tidak mengatakannya secara jelas, tapi yang aku tangkap sepertinya Naomi ingin meninggalkanku" jawab Jester masih dengan kepanikannya
"Hah?" Sarah terdengar bingung
"Apa yang harus aku lakukan Sarah?! aku bingung!!" tanya Jester terdengar panik
"Jester.... Jester.... duuh... kamu cuma sedang panik" ucap Sarah
"Sarah! aku tidak sedang bercan..." belum selesai Jester berkata, Sarah menimpali
"Apa Selena dengan tegas bilang kalau Naomi akan meninggalkanmu?" tanya Sarah memotong ucapan Jester, sejenak Jester terdiam.
"Naomi tidak akan melakukan itu... kamu cuma overthinking saja" ucap Sarah
"Be...benarkah?" tanya Jester terbata
__ADS_1
"Iya... kamu yang tenang dan aku akan mencoba untuk melakukan sesuatu, oke?" jawab Sarah terdengar tenang, Jester menghela nafas untuk mengendalikan dirinya.
"Baik, aku minta tolong ya... aku sedikit kacau akhir - akhir ini" ucap Jester yang mulai terdengar tenang
"Oke, diterima" tegas Sarah mengucapkannya lalu sambungan telepon pun terputus
***
Jester menutup teleponnya dan merebahkan tubuhnya di kasur dalam kamar, matanya menatap langit - langit kamar dengan pandaran cahaya redup berwarna kuning yang menyinari kamar. Pikirannya berkecamuk tentang segala kemungkinan Naomi akan pergi meninggalkannya selayaknya Luna yang juga pernah pergi begitu saja, seketika kenangan bersama Luna terbayang hati Jester terasa begitu sesak.
Perkataan Selena berhasil mengganggu pikiran Jester, keinginannya begitu kuat untuk segera menghubungi Naomi namun tidak Jester lakukan karena Jester masih ingin memberi ruang bagi Naomi untuk menenangkan diri. Selain kebingungan harus bersikap apa kepada Naomi, menurut Jester dengan tidak menghubungi Naomi akan membuat Naomi merasa nyaman dan fokus untuk memulihkan dirinya. Saat seperti ini hanyalah Luna yang Jester butuhkan untuk membantunya, Jester larut dalam kesedihan dan kebimbangannya. Dia benar - benar takut untuk kembali kehilangan orang yang begitu dia cintai.
Namun kehadiran Sarah membuatnya merasa sedikit ada harapan untuk bisa mengatasi segala kegundahan hatinya. Jester berharap Sarah akan seperti Luna yang bisa membantunya untuk membawa Naomi kembali padanya.
"Apa aku... akan mengalami patah... hati lagi...." gumam Jester, air matanya tidak sadar mulai menetas melewati telinga dan terjatuh di kasur
"Apa aku... melakukan kesalahan... Naomi..? bicaralah padaku.... jangan seperti ini...." gumam Jester
Tidak terasa Jester pun tertidur malam itu, melewati malam yang penuh dengan kesedihan dan kebimbangan. Kedatangan Selena sebelumnya menambah beban hati Jester, pikiran yang dipenuhi dengan segala kemungkinan Naomi akan pergi meninggalkannya kini semakin menghantui.
Hingga pagi menjelang, matahari terbit dengan mendung yang menutupi sinarnya. Jester membuka mata dan terdiam menatap langit - langit kamar dengan lampu yang masih menyala, Jester pun duduk dipinggiran kasur sembari mengusap kedua matanya dengan tangan. Tiba - tiba ucapan Selena semalam kembali terngiang di dalam kepalanya, dengan kuat Jester meremas rambutnya.
"Arrrghh!!! kenapa harus selalu seperti ini!!!" teriak Jester terdengar begitu putus asa.
"Selamat pagi tuan, mau kemana kita hari ini?" tanya supir itu dengan sopan
"Aku ada satu mata kuliah lalu setelah selesai antar aku ke Gates Tower" jawab Jester, mendengar perintah Jester membuat supir pribadi Jester menatap tuannya dengan wajah heran.
"Kenapa?" tanya Jester yang bingung dengan raut wajah supirnya
"Maaf tuan... bukankah selama ini tuan selalu kuliah daring dari Gates Tower? buat apa lagi tuan masuk kuliah secara reguler?" tanya supir Jester dengan nada heran, Jester mengalihkan pandangannya menatap langit mendung pagi itu.
"Aku... rindu masa - masa remajaku ditempat kuliah, mungkin sesekali menjadi selayaknya mahasiswa normal tidak buruk juga" jawab Jester lalu kembali menatap supir pribadinya
"Tolong antar aku" pinta Jester lalu berjalan menuju mobilnya'
"Siap!" timpal supir pribadi Jester sembari berlari mendekati Mercedes benz S450 untuk membukakan pintu penumpang belakang
Mercedes Benz S450 itu pun melaju pelan keluar dari garasi dan langsung menuju kampus swasta terkenal dimana menjadi universitas tempat Jester menuntut ilmu, tiga puluh menit berlalu dan Jester sudah sampai di kampusnya. Saat mobil Mercedes benz S450 melaju lambat menuju parkiran kampus, Jester pun teringat semua kenangannya. Tentang Naomi, Camilla, Selena, Luke, Harry, Justin, Grece, bahkan kenangan bersama Luna yang pernah menunggunya selesai kuliah pun terputar begitu saja dalam benak.
__ADS_1
"Kita sudah sampai tuan" ucap supir menyadarkan Jester dari lamunannya, Jester sedikit tersentak lalu menatap mata supir pribadinya itu dari spion tengah.
"Ooh... eeh iya, maaf aku melamun tadi. kamu tunggulah disekitaran kampus, aku tidak terlalu lama" ucap Jester sembari keluar dari mobil.
Untuk pertama kali sejak menyandang status Presiden Direktur Gates Familly, akhirnya Jester kembali menghirup udara segar di kampus kesayangannya. Kampus yang menjadikannya seorang kutu buku dengan segudang prestasi yang luar biasa, kampus yang membuatnya mengenal cinta dan bertemu dengan Naomi. Sosok yang sangat dia rindukan saat ini. Setiap sudut kampus diperhatikan dengan penuh kerinduan oleh Jester sampai akhirnya ada suara yang membuyarkan perhatian Jester.
"Jester?" ucap Grece memastikan jika yang dilihatnya benar - benar Jester, mendengar suara itu Jester langsung menoleh mencari sumber suara.
"Grece, Justin!" sapa Jester dengan nada yang terdengar senang
"Wah waah... seorang presiden direktur perusahan ternama merelakan waktunya kuliah reguler" sindir Justin dengan candaan, Jester tertawa mendengar sindiran Justin.
"Ada apa kok kamu ke kampus? apa kamu rindu pada kami?" tanya Grece antusias
"Sesekali merasakan menjadi mahasiswa jelata tidak salah kan?" tanya balik Jester dengan sindiran, sindiran itu mematik emosi Grece
"Aku bukan mahasiswa jelata dasar Jester bodoh!!" bentak Grece begitu emosi, Jester dan Justin pun tertawa bersama.
"Selamat datang kembali Jess" ucap Justin sembari merangkul Jester, sambutan dan senyuman hangat Justin membuat Jester termenung sejenak menatap Justin yang berada disebelahnya.
Kehadiran Jester di kampus membuat Justin merasa lega, Justin merasa keadaan Jester tidak seburuk yang dia pikirkan.
"Terima kasih, aku akan berusaha menikmatinya" timpal Jester
"Tidak sopan!! saat wanita sedang marah kalian tidak berhak untuk cuek kepadaku!!" bentak Grece lagi, Jester pun terkesan tidak peduli sembari berjalan meninggalkan Justin dan Grece di parkiran kampus.
Merasa dicuekin, Grece langsung melempar semua benda yang ada disekitarnya kepada Jester. Ranting, kerikil, sampah - sampah botol, dan lain sebagainya, beberapa benda yang dilempar Grece pun tepat mengenai Jester. Dengan segera Jester berlari sembari menoleh kebelakang dan menjulurkan lidahnya mengejek Grece, aksi kejar - kejaran antara Jester, Grece dan Justin terhenti ketika Jester menabrak Luke yang berjalan berdampingan dengan Harry.
Luke dan Harry terkejut dengan kehadiran Jester di kampus, tidak seperti hari - hari biasanya yang sudah berjalan sejak Jester menjadi presiden direktur di Gates Family Grup. Keributan yang menjadi bahan tontonan mahasiswa dan mahasiswi lain kembali dipertontonkan oleh Jester, Luke dan Harry, sudah menjadi kebiasaan jika three musketeers berkumpul maka akan terjadi kehebohan yang menarik perhatian.
Kehebohan itu semakin menjadi - jadi seketika saat mahasiswa dan mahasiswi lain menyadari keberadaan Jester, tidak lama Jester dikerumuni oleh para fansnya dengan begitu antusias. Dengan sigap Luke, Harry, Justin, dan Grece mencoba untuk membubarkan kumpulan fans Jester, merasa mendapatkan kesempatan saat itu Jester segera berlari hendak menuju ruang musik.
Ditengah pelariannya, ada saja orang yang melihat Jester berlari. Beberapa mahasiswa pun mengikuti arah lari Jester, ditengah pelariannya itu tiba - tiba seseorang menarik lengan Jester untuk masuk kedalam toilet wanita. Sesosok wanita yang menarik lengan Jester itu langsung menutup mulut Jester dan memberi gestur dengan jari yang diletakkan di bibirnya agar Jester diam, mata Jester pun sedikit terbelalak melihat sosok itu adalah Camilla.
"Pssstt! diam dulu, disini masih tidak aman" berbisik Camilla mengucapkannya, dengan segera Camilla kembali menarik Jester hingga masuk kedalam salah satu bilik toilet lalu Camilla mengunci bilik itu bersama dengan dirinya dan Jester.
Meski Jester merasa tidak nyaman dan risih, namun gestur tangan Camilla yang meminta Jester untuk tetap diam membuat Jester pun terdiam tanpa perlawanan sedikit pun. Tidak lama beberapa suara mahasiswi terdengar masuk ke toilet wanita dan membuat Jester juga Camilla panik, Camilla berbalik dan menatap mata Jester.
"Naikkan kakimu ke closet" bisik Camilla sembari menunjuk celah pintu bilik
__ADS_1
Jester menatap celah pintu dan menyadari jika keberadaannya bisa diketahui dari celah itu, dengan segera Jester menaiki closet duduk untuk menutupi sepatunya dari celah yang mungkin saja bisa dilihat oleh mahasiswi yang masuk. Namun Jester tidak dapat menjaga keseimbangan tubuhnya sehingga Jester akan terjungkal, dengan sigap Camilla berbalik dan menjadi sandaran bagi Jester.
Jester memeluk Camilla dari belakang dan mereka berdua begitu menempel satu sama lain....