
Pagi hari dengan awan mendung, disebuah gedung pencakar langit yang begitu mewah Jester terlihat keluar dari dalam lift. Beberapa pegawai disana langsung berdiri dan menunduk memberikan salam pada Jester, dengan lambaian tangan rendah Jester membalas salam mereka semua sembari terus berjalan menuju ruangan miliknya. Sesampainya didepan pintu ruangan, dengan segera Jester membuka pintu dan terlihat Sarah sedang duduk dengan santainya di sofa yang tersedia.
"Sudah lama?" tanya Jester kepada Sarah sembari menutup pintu ruangan
"Aku baru sampai, apa kamu sudah melihat dukungan pegawai kelas bawah kepadamu?" tanya balik Sarah
"Ada apa dengan mereka?" tanya balik Jester dengan nada yang terdengar keheranan
"Mereka mendengar kamu akan segera digantikan karena kasus yang menerpa mu, tapi sepertinya mereka semua sudah sangat nyaman bekerja untukmu. Penolakan mereka atas penggantian mu akan mempengaruhi investor dan para pemegang saham dalam menentukan apa tetap memaksakan kehendak untuk menggantimu atau tidak" jawab Sarah
"Apa data mereka sudah kamu dapatkan?" tanya Jester, untuk sejenak Sarah terdiam dan terus menatap Jester.
"Paman William tidak datang kemari karena masalah ini, dia menitipkan pesan padamu... kakek Arthur dan kakek Julius sudah menentukan rencananya, kamu hanya tinggal menentukan kapan pelatuk itu akan ditarik dan Boom!! kamu akan melakukan kesalahan yang sama dengan kakek kita" jawab Sarah
"Kamu tidak menjawab pertanyaan ku" timpal Jester ketika Sarah tidak menjawab pertanyaannya
"Iya iya... ini data yang kamu minta" ucap Sarah terdengar kesal, tangannya pun memberikan sebuah amplop tebal berwarna coklat kepada Jester.
"Oke, berikan data itu ke sekretaris ku. Berikan surat undangan rapat terbatas khusus kepada mereka besok jam sebelas siang" ucap Jester lalu segera akan keluar lagi dari ruangan, perintah Jester membuat Sarah heran.
"Hei! mau kemana kamu?" tanya Sarah
"Aku ada urusan penting, lakukan perintahku" jawab Jester lalu berlalu begitu saja keluar dari kantornya
Pembicaraan singkat yang cukup intens antara Jester dan Sarah diakhiri dengan kepergian Jester meninggalkan Sarah dengan cukup tergesa.
Diluar ruangan para pegawai kembali memberi hormat pada Jester dan Jester membalasnya dengan gestur tangannya, dengan segera Jester kembali turun menggunakan lift kelantai dasar. Begitu pintu lift terbuka, dengan segera Jester sedikit berlari untuk menemui supirnya. Melihat tuannya yang berlari mendekatinya, dengan segera supir Jester pun berdiri dan berlari mendekati Jester.
"Maaf tuan, saya..." belum selesai supir Jester berkata, Jester pun memotongnya.
__ADS_1
"Tidak apa, antar aku segera ke kampus" timpal Jester
"Baik!" ucap supir Jester
Dengan sigap, supir Jester pun segera berlari untuk mengambilkan Mercedes Benz S450 Jester. Begitu mobil sampai didepan lobby gedung, Jester segera masuk dengan membuka pintunya sendiri. Didalam mobil Jester segera meminta agar supir melajukan mobil itu menuju kampus, tanpa banyak tanya supir Jester melajukan mobil menuju kampus swasta terkenal tempat Jester menuntut ilmu.
Empat puluh lima menit berlalu, gerimis mulai turun dari langit membasahi jalanan. Di lobby kampus, Jester turun dan meminta supir untuk menunggunya ditempat yang menurut supir Jester paling nyaman. Di kampus itu Jester berlari kesana - kemari mencari Camilla, namun untuk beberapa saat Jester tidak dapat menemui Camilla yang ternyata sedang ada kelas. Dengan terpaksa Jester menunggu kelas Camilla usai, Jester duduk disebuah kursi yang tersedia didepan kelas.
Disisi lain di kampus yang sama, Selena terlihat duduk bersama Luke, Harry, Grece, dan Justin di sebuah kelas kampus yang terlihat sepi. Mereka berempat terlihat terkejut sembari menatap wajah Selena, seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar dari mulut Selena.
"Katakan sekali lagi dan kenapa kamu lakukan itu Selena?!" bentak Luke kepada Selena
"Kak Jester sudah merubah pikirannya, Naomi mengatakan jika kak Jester memutuskan untuk merubah pemikirannya dan semalam aku meyakini jika kak Jester memang sudah berubah pikiran!" dengan sedikit bentakan dan tekanan Selena menjawab pertanyaan Luke
"Kita tidak tahu apa benar Jester telah berubah pikiran!! dia masih dipenuhi dengan dendam dan kita semua sudah sepakat untuk tidak memberitahu tentang ini!!" bentak Luke dengan begitu emosi, Selena terdiam dan membuang mukanya.
"Hei Selena, Sarah masih mengemban perintah Jester mengumpulkan nama - nama orang yang ingin menggulingkan Jester dari kursi presiden direktur. Tidak ada tanda Jester meminta Sarah menghentikan perintahnya itu, darimana keyakinan mu itu?" timpal Harry dengan sebuah pertanyaan dan terdengar kesal, namun Selena hanya terdiam dan tidak merespon pertanyaan Harry.
"Aku sudah katakan, kak Jester sudah berubah pikiran!!" bentak balik Selena, perkataan Selena semakin menyulut emosi Luke hingga tubuhnya bergemetar menahan emosi. Harry menepuk dahinya hampir bersamaan dengan Grece yang membenturkan dahi dimeja, sedangkan Justin menatap Jendela memperhatikan gerimis yang mulai turun semakin deras.
"Gerimis seperti ini mengingatkanku pada kejadian ketika Camilla menyerang hubungan Jester dan Naomi, apa kalian ingat kejadian di taman tengah kampus saat itu?" tanya Justin kepada mereka semua, hampir bersamaan Luke, Harry, Selena, dan Grece menatap wajah Justin.
"Iya, memang kenapa? apa hubungannya?" tanya Grece bingung, Justin menoleh menatap Grece.
"Saat itu kejadiannya seakan tidak ada lagi jalan keluar, Jester akan terpuruk seperti saat dirinya ditinggal Luna. Tapi yang terjadi malah sebaliknya, Jester sudah mulai dapat menata hatinya sendiri dan dia sudah tidak serapuh yang kita duga. Ayo kita percayakan semuanya pada Jester" jawab Justin dengan meyakinkan, keyakinan Justin saat itu membuat Selena, Luke, Harry, dan Grece terdiam.
Disaat bersamaan kelas Camilla pun usai, Camilla terlihat keluar dari kelas dan Jester sudah menghadang Camilla dengan wajah datarnya. Melihat Jester yang tiba - tiba datang menemuinya membuat Camilla terkejut, keterkejutan yang tergambar jelas diwajahnya. Namun itu tidak berlangsung lama, senyum Camilla terlihat merekah setelah beberapa saat keduanya terdiam saling menatap.
"Jester? ada apa? kamu ada keperluan denganku?" tanya Camilla dengan nada manjanya
__ADS_1
Ekspresi manja dan rindu seakan terlihat dari wajah Camilla, selalu seperti biasanya ketika berhadapan dengan Jester. Pertemuannya kali ini setelah cukup lama dirinya tidak bisa bertemu dengan Jester membuat Camilla cukup terkejut dan mulai bertanya tentang alasan Jester menemuinya.
"Iya, aku ingin bicara denganmu empat mata. Aku harap kamu tidak keberatan" jawab Jester sedikit memaksa, Camilla menatap jam tangannya lalu melihat ujung koridor kampus.
"Sayang sekali... aku ada kelas Jester, bisakah..." belum selesai Camilla berkata, Jester memotongnya.
"Tidak, aku memaksamu untuk itu" agak dengan bentakan Jester mengatakannya, Camilla terlihat tersentak dengan bentakan Jester.
"Ada apa Jester? kamu marah padaku? atau karena kasus yang menimpa Naomi? aku turut sedih dengan semua yang terjadi, tapi apa kamu akan melimpahkan semua itu padaku?" tanya Camilla dengan nada yang terdengar bergemetar dan ketakutan, wajahnya seakan memohon iba dari Jester.
"Aku hanya ingin berbicara denganmu, itu tidak akan lama. Bisa kan?" tanya Jester kembali memaksa Camilla, dengan helaan nafas dan anggukan kepala Camilla mengiyakan permintaan Jester.
Jester berbalik dan berjalan menuju suatu tempat diarea kampus itu diikuti oleh Camilla, hingga sampailah mereka di taman pojok kampus yang terdapat sebuah gazebo. Disana Jester berhenti berjalan namun masih memunggungi Camilla, begitu pula Camilla yang terlihat terdiam menatap punggung Jester.
"Ada apa Jester? kenapa kamu membawaku kemari? disini adalah tempat paling sepi diantara semua area kampus" dengan suara yang terdengar bergemetar Camilla bertanya
"Kamu ada dibalik tindakan Daniel membuka foto - foto antara Naomi dengan Daniel kan?" tanya Jester dengan tekanan
Sebuah pertanyaan yang cukup mengejutkan harus Camilla dengar dari Jester ditengah gerimis yang menemani. Kemunculan Jester kembali didepannya dengan tuduhan yang Jester bawa untuk dirinya membuat Camilla menunjukkan ekspresi marah dan keberatannya.
"Apa? kenapa kamu menuduhku begitu? apa kamu punya bukti untuk itu? Jester! aku tidak suka kamu..." belum selesai Camilla berkata, Jester memotong.
"Aku memang tidak memiliki bukti, tapi Selena sangat memahami cara kerjamu untuk menghancurkan seseorang. Camilla, kenapa kamu melakukan itu?" tanya Jester lalu berbalik menatap mata Camilla dengan tajam
"Jester, aku tidak melakukan hal yang kamu tuduhkan. Jika kamu tidak memiliki bukti, apa kamu bisa begitu saja percaya pada Selena? dia membenciku karena dulu aku ingin merebutmu dari Naomi dan dirinya, tapi aku lakukan itu karena aku ingin kamu menjadi milikku. Apa kamu lupa tentang kencan kita direstoran pinggir laut waktu itu? aku sudah katakan semua tentang alasan dari tindakanku, tapi semenjak kamu melupakan janjimu... aku sudah berusaha melupakan semuanya" jawab Camilla, nada Camilla terdengar semakin bergemetar karena menahan tangisannya.
"Aku tidak akan termakan sandiwara mu.... Selena sangat memahami cara bermain mu dan aku hanya ingin tahu alasan dibalik tindakanmu, kenapa kamu melakukan ini pada Naomi?!" agak membentak Jester mengatakannya
Rintik hujan kini berubah menjadi hujan deras yang mengguyur, suara air yang jatuh membuat keributan tersendiri dan seakan berusaha menutupi pembicaraan antara Camilla dan Jester dari telinga - telinga orang lain. Keduanya saling terdiam dengan tatapan yang tajam untuk beberapa saat, Camilla tiba - tiba menunduk dan tangan kiri memegang dahinya.
__ADS_1
"Ha... ahaha.... Ahahahaha!!! hahahahaha.... aku benar - benar lupa sudah menyisakan satu petunjuk untukmu Jester!! Ahahahaha...." terdengar bahagia saat Camilla mengatakannya kepada Jester, suara tawa Camilla ditengah deru suara air hujan turun membuat Jester heran dan terdiam menatap mata Camilla.