Aku Pinjam Dia

Aku Pinjam Dia
Langkah Pertama


__ADS_3

Senja pun tiba, pertemuan antara Luke, Harry dan Camilla telah selesai. Mereka terlihat sepakat tentang rencana yang akan dilakukan untuk membalas rencana Naomi, Selena dan Luna, setelah bersalaman ketiganya pun berpisah di cafe itu menuju rumah masing - masing. Disisi lain pada jam yang bersamaan, Jester dan Naomi kembali berada ditengah padatnya jalan perkotaan menuju rumah sakit pinggiran kota. Perjalanan yang memakan waktu empat puluh menit itu pun dilalui dengan penuh kemesraan diantara, sesekali Naomi bersikap manja kepada Jester.


Sesampainya dirumah sakit pun mereka berjalan bergandengan tangan menuju kamar Becca, didepan kamar terlihat Daniel duduk dikursi tunggu sedang termenung. Mengetahui kehadiran Naomi saat itu Daniel menoleh dan tersenyum, namun Naomi tidak menghiraukannya seakan diantara mereka tidak saling mengenal. Naomi dan Jester pun berpisah didepan kamar rawat Becca, Naomi masuk kedalam kamar sedangkan Jester menuju cafetaria. Daniel? yaah... dia hanya terdiam duduk dikursi itu meratapi nasib.


Tidak disangka didalam kamar ada Sarah yang lebih dulu hadir menjenguk Becca, Naomi pun terkejut melihat kehadiran Sarah saat itu. Dengan antusias Sarah dan Becca menyambut kedatangan Naomi, ketiganya pun nampak akrab dan tidak ada kecanggungan sama sekali. Mengingat hubungan Naomi dan Sarah yang seharusnya tidak baik karena Daniel, namun itu tidak terlihat sama sekali pada malam itu. Canda tawa dan senda gurau terdengar didalam kamar Becca, ketiganya terlihat asyik menikmati momen itu bersama - sama.


Enam puluh menit berlalu, Becca pun tertidur karena pengaruh obat. Saat itu Naomi dan Sarah bergantian mencium kening Becca, setelahnya kedua memutuskan untuk keluar kamar. Diluar kamar, Daniel nampak berdiri saat keduanya keluar secara bersamaan dan terlihat senang. Sarah pun menyapa Daniel namun Naomi langsung melangkahkan kakinya menuju cafetaria rumah sakit, Sarah kembali menghina Daniel dengan kata - kata pedasnya lalu segera meninggalkannya disana.


Di cafetaria saat itu Jester terlihat bermain game di handphonenya, Naomi yang melihat Jester begitu serius menatap layar handphone terpikirkan ingin mengganggunya. Naomi menelepon Jester dan terlihat wajah panik Jester karena bimbang antara mengangkat telepon atau terus bermain game, dengan wajah berat hati Jester mengangkat telepon itu dan Naomi mengatakan jika dia ada dibelakang Jester. Pertengkaran kecil pun terjadi dicafetaria itu dan seakan sudah seperti kebiasaan melihat keributan pada jam - jam Jester datang berkunjung, mereka berdua pun diusir oleh pihak keamanan rumah sakit namun suara tawa Jester dan Naomi justru terdengar sambil berlari.


Jester dan Naomi melakukan perjalanan pulang dan masih terlihat saling bermesraan, tingkah manja Naomi saat itu malah membuat rasa sayang Jester semakin meningkat. Saat lampu lalu lintas berwarna merah, sesekali Jester membelai lembut rambut Naomi dan saling menatap dalam senyum. Suasana romantis itu sering kali terganggu karena lampu hijau menyala dan klakson mobil lain pun saling bersahutan berbunyi, tapi keadaan itu malah membuat Jester dan Naomi tertawa bersama.


Empat puluh menit berlalu, sebuah Mercedes Benz V260 parkir digarasi rumah minimalis dengan aksen khas budaya jepang. Jester dan Naomi turun dari mobil dan masuk kedalam rumah itu menuju kamar masing - masing, yaa... walaupun kamar Jester sebenarnya adalah ruang keluarga namun Jester sudah menganggap itu adalah kamarnya. Setelah Naomi selesai menghapus segala riasan make up nya, dia langsung menuju dapur untuk menyiapkan makan malam. Jester yang mendengar Naomi sudah berada di dapur pun langsung berlari kecil untuk menemani Naomi memasak, Naomi terkejut melihat Jester yang ikut membantunya memasak namun dia membiarkan Jester membantu agar keduanya tetap bisa berdekatan.


Makan malam pun siap dan tersaji dimeja makan, untuk pertama kalinya masakan malam itu ada campur tangan Jester. Beberapa makanan tersaji dengan hiasan makanan yang terlihat berantakan, Jester merasa malu namun Naomi terlihat memuji Jester. Naomi tidak membiarkan hidangan yang Jester buat dengan tangannya dimakan oleh Jester, Naomi tetap bersikeras mengambil makanan hasil tangan Jester saat itu. Setelah satu suapan, Naomi kembali memuji masakan Jester karena cita rasanya. Jester terlihat senang namun perasaan malu nampak dari wajahnya yang memerah, sesekali Naomi menggoda karena ketagihan melihat Jester yang selalu salah tingkah saat malu.


Setelah makan malam selesai, Jester kembali membantu Naomi mencuci piring. Tangan mereka sesekali bersentuhan ketika Naomi memberikan piring bersih kepada Jester yang bertugas menatanya di rak piring, terlihat wajah Jester dan Naomi memerah karena malu. Piring terakhir pun sudah Jester tata di rak piring dan keduanya pun melangkahkan kaki keluar ruang makan yang menjadi satu dengan dapur, dilorong utama rumah terlihat Naomi menarik baju Jester dengan wajah yang memerah. Jester menoleh menatap Naomi, dengan rona pipi yang memerah Naomi kembali mengajak Jester untuk tidur bersama dikamar yang menjadi satu - satunya kamar tidur disana.


Dengan terbata Jester menyetujui, namun Jester berkata akan mengambil handphonenya yang berada di ruang keluarga dan akan segera menyusul Naomi ke kamar. Mengetahui Jester berbohong karena handphone Jester sudah dia genggam, Naomi pun kembali menggoda Jester dengan menyadarkan kalau handphonenya sudah ada ditangan. Jester pun panik dan mencari alasan agar Naomi tidak mengira dia menghindar, namun Naomi paham dan hanya menertawakan kepanikan Jester. Mereka berjalan bersama menuju kamar tidur dengan wajah yang masih merah merona, keduanya terlihat berusaha menguatkan hati agar tidak menjadi salah tingkah.


Didalam kamar Jester lebih dulu rebahan dikasur dan menyelimuti dirinya sambil memunggungi tempat Naomi tidur, sedangkan Naomi duduk dikursi rias dan melakukan perawatan wajah yang menjadi rutinitasnya sehari - hari. Setelah selesai, Naomi pun berjalan mendekati kasur dan merebahkan tubuhnya sambil memunggungi Jester. Lalu Naomi mematikan lampu dan membuat keheningan dikamar itu semakin menambah rasa gugup diantara keduanya, detak jantung mereka seakan dapat didengar oleh masing - masing. Untuk mengurangi rasa gugup, Naomi berinisiatif memulai obrolan santai dan Jester meresponnya dengan baik, sesekali keduanya tertawa bersama.


Hanyut dalam obrolan itu membuat Naomi dan Jester secara tidak sadar tidur berhadapan, keduanya mendadak terdiam saling bertatapan dengan wajah yang selalu memerah karena tersipu malu. Jester saat itu memberanikan diri meminta izin pada Naomi untuk memeluknya, tanpa menjawab tiba - tiba Naomi mendekatkan tubuhnya dan memeluk lebih dulu lalu meletakkan dahinya didada Jester. Detak jantung Jester yang keras terdengar jelas oleh Naomi, sedangkan dia juga dapat mendengar detak jantungnya yang seakan berpacu mengikuti irama detak jantung Jester. Perlahan Naomi mengangkat kepalanya menatap wajah Jester dengan tatapan yang lembut, Jester pun menundukkan kepalanya dan bertatapan dengan Naomi.


Perlahan Jester mendekatkan bibirnya ke bibir Naomi, bibir mereka pun bertaut penuh kemesraan. Kedua tangan Naomi yang memeluk Jester mendadak meremas baju Jester begitu erat, sedangkan tangan kanan Jester meremas lembut kepala belakang Naomi. Detak jantung mereka berdetak semakin tidak beraturan, cukup lama mereka hanyut dalam suasana romantis itu. Hingga tangan kiri Jester yang sejak tadi berada dipinggul Naomi tiba - tiba meremas lembut pinggul Naomi, agak terkejut Naomi saat itu sontak melepaskan tautan bibir mereka.

__ADS_1


"Aaah... ups..." desah Naomi dan langsung menutup mulut dengan tangannya, matanya terbelalak menatap Jester yang juga terkejut dengan ******* Naomi. Sontak Jester membalik badannya dan memunggungi Naomi, ditengah heningnya suasana malam itu membuat suara nafas Jester dan Naomi yang tidak beraturan pun terdengar ditelinga masing - masing. Naomi terlihat masih syok dan membuatnya membatu karena malu, sedangkan Jester terlihat sangat gugup dan malu untuk menatap Naomi kembali. Perlahan mereka mengatur nafas masing - masing, hingga akhirnya Jester memecah kecanggungan.


"Aku mau ambil minum dulu" celetuk Jester dengan nada yang panik, saat hendak beranjak dari kasur... Naomi memeluk Jester dari belakang.


"Jangan kabur~" candaan menggoda Naomi semakin membuat Jester salah tingkah melepaskan pelukan Naomi dan segera keluar dari kamar dengan sedikit berlari, Naomi pun tertawa dibuatnya. Setelah beberapa menit Jester kembali ke kamar, disana Naomi tersenyum menatap Jester.


"Sudah minumnya?" tanya Naomi lembut, Jester hanya mengangguk beberapa kali merespon pertanyaan Naomi dengan wajah yang terlihat masih panik. Tangan Naomi menepuk kasur beberapa kali, memberi isyarat agar Jester kembali merebahkan tubuh ke kasur. Perlahan Jester melangkahkan kakinya menuju kasur masih dengan perasaan canggung, lalu merebahkan tubuhnya kembali memunggungi Naomi. Saat itu Naomi memeluk Jester dari belakang, terkejut lagi Jester dibuatnya.


"Daisuki Desu~" gumam Naomi dengan suara yang lembut sedikit malu - malu, Jester pun bingung saat mendengar gumaman Naomi.


"Hah? kamu bilang apa?" tanya Jester penasaran, Naomi tertawa kecil lalu menggelengkan kepalanya beberapa kali.


"Ra...ha...si...a..." goda Naomi manja, mendengar jawaban Naomi membuat Jester kesal.


Memulai pagi seperti biasa, sehabis buang air kecil lalu Jester menggosok gigi, mencuci muka, dan merapihkan rambutnya yang berantakan. Tidak lama suara bel rumah berbunyi, Jester melangkahkan kakinya menuju pintu utama rumah untuk membukakan pintu. Pada pagi itu Jester merasa heran, siapa ya kira - kira bertamu sepagi ini. Ketika Jester membuka pintu itu, betapa terkejutnya Jester melihat Selena dan Luna datang kerumah mereka.


"Pagi kak" ucap Luna dan Selena bersamaan, mata Jester terbelalak dan nafas Jester mendadak tidak beraturan.


"Mau apa kamu?!" tanya Jester sedikit membentak, wajah syok Jester saat itu tergambar jelas diwajahnya dan membuat Selena khawatir.


"Kak, tunggu.... kamu harus ijinkan Luna untuk bicara" ucap Selena terdengar sangat mengkhawatirkan kondisi Jester, sontak Jester menutup mata dengan tangan kanannya.


"Katakan aku hanya bermimpi buruk kembali bertemu denganmu!!" Jester kembali membentak, suara bentakan Jester saat itu terdengar oleh Naomi dan membuatnya khawatir saat keluar dari kamar. Dengan segera Naomi berlari menuju pintu utama rumah, disana Naomi terkejut dengan kedatangan Luna dan Selena.


"Kalian...." seakan tidak percaya Naomi melihat keberadaan Luna dan Selena dirumah mereka sepagi ini, tanpa pemberitahuan apapun dan tidak membicarakan hal ini sebelumnya. Walau Naomi menyetujui untuk bekerjasama, namun kedatangan mereka tetap membuat Naomi terkejut.

__ADS_1


"Pagi Naomi, senang bertemu denganmu" sapa Luna lembut dan ramah, saat itu Jester berbalik dan berjalan menuju ruang keluarga meninggalkan mereka lalu menutup pintu dengan keras. Hal itu membuat Naomi, Luna dan Selena terkejut.


"Apa yang aku lakukan ini sudah benar? aku takut berbuat salah lagi menghadapi kak Jester..." dengan suara yang terdengar sedih Luna mengatakannya, Naomi kembali menatap Luna dengan sedikit ada kemarahan dalam sorot matanya.


"Apa ini? kalian tidak bicara akan datang sepagi ini" tanya Naomi dengan suara yang pelan namun terbesit kemarahan, Luna tersenyum merespon kemarahan Naomi.


"Tidak banyak waktu yang tersisa, aku harus segera selesaikan kesalahpahaman ku dengan kak Jester... aku harus menyembuhkan luka dalam yang sudah pernah aku gores dihatinya, atau aku akan menyesalinya seumur hidupku" jawab Luna, mendengar jawaban Luna yang terdengar egois membuat Naomi kesal.


"Duuh... kamu seharusnya diskusikan dulu denganku, Jester pasti sangat terpukul saat ini. Kalian masuk dulu aja deh, aku akan tenangkan dia" ucap Naomi kesal, mereka pun masuk kedalam rumah dan Naomi menyuruh Luna dan Selena menunggu diruang makan.


Perlahan Naomi berjalan mendekati ruang keluarga, tangannya mengetuk pintu beberapa kali dan membuka pintu itu dengan pelan. Diruang itu Naomi melihat Jester duduk disofa memegang kepala dengan kedua tangannya dan terlihat bergemetar, sebuah serangan mental tentang luka hati yang begitu parah kembali teriris membuat Jester begitu frustasi. Naomi berjalan mendekati Jester dan duduk disebelahnya lalu memeluk Jester untuk memberikan rasa nyaman kepadanya.


"Jester..dengar... mungkin ini kesempatan untuk menyembuhkan luka dihatimu, kamu pernah bilang kalau kamu membutuhkan alasan kenapa dulu dia menolakmu. Dia ada disini sekarang, tanyakan dan temukan jawabannya.... buat hatimu damai kembali" ucap Naomi lembut dan penuh kehangatan, Jester menggelengkan kepalanya beberapa kali.


"Aku tidak bisa... kepalaku pusing dan mataku berkunang, saat ini dadaku juga sangat sesak dan membuatku hampir tidak bisa bernafas" dengan suara yang terdengar bergemetar Jester mengatakannya, pelukan Naomi semakin erat.


"Aku tahu rasanya, aku sangat mengerti kondisimu sekarang..." belum selesai Naomi bicara Jester memotong


"Kamu tidak tahu dan tidak akan pernah bisa memahami perasaanku!!" bentak Jester, namun saat itu Naomi menggelengkan kepalanya beberapa kali. Perlahan melepaskan pelukannya dari Jester kemudian Naomi berlutut didepan Jester dan mengarahkan wajah Jester dengan kedua tangannya untuk menatap wajah Naomi kemudian menggenggam erat tangan Jester.


"Aku tahu karena aku pernah ada diposisimu... dipermainkan oleh cinta, dihina oleh orang yang kita cintai, dan ditinggalkan begitu saja dengan luka yang masih berdarah... tapi kamu datang menolongku, kamu memberi kekuatan untukku agar aku bisa berdamai dengan hatiku. Apa saat ini aku lari untuk menghindari Daniel? tidakkan.. bersamamu aku mampu menghadapinya dan sekarang aku mampu berdamai dengan hatiku walau kehadirannya tidak bisa aku hindari. Jester... ijinkan aku menolongmu, kesempatanmu sudah datang, kamu bisa temukan jawaban dari semua pertanyaan dalam dirimu yang begitu menyiksa. Kita akan hadapi ini bersama - sama" lembut Naomi mengatakannya, saat itu gemetar tubuh Jester berangsur mereda


"Aku akan hadapi, tapi aku tidak akan bisa melakukannya sendiri karena aku tidak sekuat dirimu. Tolong bantu aku, Naomi" ucap Jester yang mulai tenang, Naomi melepaskan genggaman tangannya kemudian berdiri dan segera berbalik hendak melangkahkan kakinya. Namun Jester tiba - tiba memeluknya dari belakang dan menyandarkan dagunya dibahu Naomi.


"Emosiku akan meledak - ledak, apapun yang aku katakan padamu saat itu.... tidak ada satupun yang benar" bisik Jester lalu melepaskan pelukannya dan berjalan keluar dari ruang keluarga, Naomi masih terlihat bingung dengan bisikan Jester namun dia memilih memikirkannya nanti.

__ADS_1


__ADS_2