
Sore hari menjelang senja di Paris Prancis, disalah satu hotel dekat menara Eiffel yang terlihat ramai dengan para pengunjung. Jester terlihat keluar dari lift dan segera melangkahkan kakinya menuju salah satu sofa dilobby hotel, disana dia duduk sembari menatap layar handphone menunggu Luna. Selama satu jam Jester menunggu namun Luna tidak juga kunjung turun, perasaannya pun gelisah namun dia tidak memiliki akses menuju lantai kamar Luna untuk menjemputnya. Karena perasaannya mulai khawatir, Jester berinisiatif untuk meminta akses menuju kamar Luna pada resepsionis.
(huruf miring menggunakan percakapan dengan bahasa prancis)
"Halo, aku dari kamar 410 atas nama Jester Gates. Aku ingin akses menuju kamar temanku di nomor 320 atas nama Luna Lincoln" ucap Jester kepada resepsionis
"Baik, tunggu sebentar" ucap resepsionis dan memanggil salah satu penjaga disana, Jester pun diarahkan untuk mengikuti penjaga itu menuju lantai tiga.
Jester dan penjaga saat itu naik kelantai tiga, setelah pintu lift terbuka Jester segera menuju kamar Luna. Didepan pintu kamar nomor 320 itu Jester mengetuk beberapa kali, namun Luna tidak kunjung membuka pintu kamar itu. Perasaan Jester pun semakin khawatir, didalam benaknya mulai terfikirkan hal - hal aneh yang mungkin terjadi pada Luna dan salah satunya adalah Luna terpeleset dikamar mandi.
Dengan cekatan Jester berlari kembali untuk turun kelantai lobby, disana Jester segera mengatakan pada resepsionis agar membuka kamar Luna karena dia merasakan khawatir. Ditemani beberapa orang, Jester dan petugas menuju kamar Luna dengan kunci akses kamar. Setelah sampai didepan kamar, petugas sempat mengetuk pintu kamar beberapa kali dan tetap tidak mendapatkan jawaban. Dengan terpaksa petugas pun membuka kamar itu dan betapa kagetnya mereka semua melihat bercak darah yang terlihat dilantai kamar, Jester dan beberapa petugas itu pun mengikuti jejak darah yang dimulai dari kamar mandi menuju dekat kasur berada.
Disebelah kasur Jester melihat Luna terbaring dilantai bersimpah darah yang terlihat keluar dari mulut dan hidungnya sembari memegang ganggang telepon, Jester pun mendekati Luna dan berusaha mencari tahu apa yang terjadi pada Luna namun dia tidak memiliki gambaran apapun. Petugas disana pun segera menelepon rumah sakit terdekat, kepanikan pun terjadi seketika saat itu.
Tidak lama ambulance pun datang dan Luna segera dibawa kerumah sakit terdekat, Jester mengikuti Luna dimobil ambulan itu dan melihat petugas kesehatan melakukan pertolong pertama kepada Luna dengan sangat maksimal. Beberapa menit pun berlalu dengan penuh ketegangan didalam mobil ambulance dan sampailah mereka semua dirumah sakit, disana Luna segera dibawa ke UGD untuk pertolongan secepatnya. Jester yang saat itu bingung dengan apa yang terjadi hanya bisa duduk termenung diruang tunggu UGD, tubuhnya bergemetar karena mengingat saat dirinya melihat Luna bersimbah darah.
Setelah dapat menenangkan diri, Jester mengeluarkan handphonenya dari dalam saku dan segera melakukan panggilan ke Naomi yang tertulis 'My Love'. Setelah lama menunggu, Naomi pun akhirnya mengangkat teleponnya.
***
"Ya hallo..." ucap Naomi terdengar lembut dan serak karena baru terbangun dari tidurnya
"Na.. Naomi! gawat! aku tidak tahu apa yang terjadi pada Luna, tapi ini sunggu gawat!!" terdengar panik Jester mengatakannya, mendengar kepanikan Jester saat itu langsung membuat Naomi sadar dari tidurnya.
"Jess tenang... aku tahu kamu panik, tapi bisa kasih tau aku apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Naomi yang dapat merasakan kepanikan yang luar biasa pada Jester, namun Naomi mencoba tenang agar kepanikan Jester mampu teratasi. Mendengar perkataan Naomi, Jester pun mengatur nafasnya untuk berusaha agar dirinya lebih tenang.
"Luna, dia pingsan dengan bersimbah darah yang terlihat keluar dari hidung dan mulutnya. Aku tidak paham apa yang terjadi padanya, dia sekarang berada dirumah sakit dan masuk UGD. Aku..." belum selesai Jester bicara, Naomi memotong karena menyadari ketakutan dan kepanikan Jester kembali menyerang. Naomi yang lebih dulu mengetahui kondisi Luna, dengan berat hati mulai mencoba untuk menjelaskan pada Jester.
"Jess... tenang, oke... aku harus beritahu kamu sesuatu yang penting dan ini berkaitan dengan Luna..." terdengar sedih Naomi mengatakannya, Jester pun bingung dengan perkataan Naomi.
"Apa ada... yang kamu ketahui dan aku tidak?" tanya Jester heran, Naomi terdengar menghela nafas sejenak.
"Luna.... menderita Leukemia dan dia.... memiliki harapan hidup yang mengkhawatirkan..." jawab Naomi menjelaskan keadaan Luna yang sebenarnya kepada Jester dengan penuh kesedihan, suara serak Naomi terdengar karena menangis namun terdengar suara tarikan nafas Naomi dari balik telepon seakan mencoba untuk tetap tegar agar Jester tidak menjadi semakin panik. Jawaban Naomi saat itu membuat Jester membatu dan terkejut, kepanikan Jester berubah menjadi kesedihan yang tiba - tiba merasuki hati dan pikirannya.
"Alasan Luna dulu menolakmu karena dia tahu tentang penyakitnya dan harapan hidupnya yang singkat dan sekarang pun... dia cuma ingin menuntaskan semua janji - janji kalian yang pernah terucap agar... dia tidak memiliki penyesalan didalam hidupnya" Naomi melanjutkan perkataannya karena Jester hanya terdiam setelah mengetahui kebenaran tentang Luna, mendengar perkataan Naomi membuat Jester merasakan lemas disekujur tubuhnya seakan semangatnya menguap begitu saja.
"Kamu... tahu dari mana...?" tanya Jester terbata
"Orangtua Luna sudah menceritakan semua kepadaku... Jess, bagaimana keadaan Luna? apa perlu kami kesana menyusul kalian?" tanya Naomi terdengar khawatir dan tersirat kesedihan
"Tidak perlu, aku akan panggil pilot papa untuk menjemput kami dengan jet pribadi.... keadaan Luna sangat tidak memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan" jawab Jester terdengar tenang namun Naomi tahu Jester sedang berusaha untuk tidak menangis
__ADS_1
"Baik, aku mengerti.... besok aku ijin untuk kerumah ayah, aku ingin minta izinnya untuk memasukkan Luna ke rumah sakit Scott dengan perawatan terbaik" timpal Naomi
"Aku akan memastikan kondisinya disini... nanti aku akan kabari lagi" ucap Jester lalu segera menutup teleponnya
***
Sejenak Jester menatap layar hanphone dan melihat pantulan wajahnya, disaat itu kenangan tentang Luna pun terbayang. Gerak tubuhnya, suaranya saat berbicara dan tertawa, senyumnya, dan semua sentuhan - sentuhan lembut Luna yang pernah Jester rasakan... semua terputar kembali didalam pikirannya. Tidak terasa air mata Jester pun menetes membasahi pipinya, pikirannya pun kalut dan seakan hatinya meronta saat mengetahui Luna akan pergi dari hidup Jester untuk selama - lamanya.
Dadanya terasa sesak saat mengingat bagaimana perlakukan buruk dia pada Luna sejak dia hadir kembali dalam hidupnya, hanya ada penolakan dan penuh kemarahan yang sering kali Jester tunjukkan didepan Luna selama ini. Rasa sesal itu mendadak memenuhi relung hati Jester, dia pun melamun menatap lantai.
"Anda yang bersama pasien bernama Luna Lincoln?" tanya seseorang perawat yang memecah lamunan Jester, Jester yang sejak tadi melamun pun terlihat terkejut saat seseorang sudah sangat dekat didepannya.
"Iya, bagaimana keadaannya?" ucap Jester sembari menyeka air mata yang masih tersisa dipipinya.
"Dokter ingin berbicara dengan anda, silahkan ikut saya" jawab perawat itu, Jester pun berdiri dan segera mengikuti kemana perawat itu berjalan.
Langkahnya terlihat gontai, namun dengan sekuat tenaga dan hati Jester mengumpulkan keberanian untuk menemui dokter. Mempersiapkan hati untuk mendengarkan penjelasan yang dia yakini akan semakin membuat hatinya hancur, namun di prancis saat ini... Jester memahami hanya dia yang menjadi penanggungjawab keselamatan Luna.
Disebuah ruangan yang menjadi kantor bagi dokter yang menangani Luna, Jester pun masuk setelah perawat membuka pintu. Disana terlihat dua orang dokter sedang berdiskusi dengan cukup serius, namun setelah melihat kedatangan Jester saat itu membuat kedua dokter itu menghentikan diskusi mereka lalu fokus menatap Jester yang duduk didepan mereka.
"Selamat sore" sapa Jester saat sudah duduk dan menatap kedua dokter itu bergantian.
"Jester.... Jester Gates" jawab Jester
"Baik tuan Gates, apa hubungan anda dengan pasien?" tanya dokter terdengar serius
"Aku.... orang yang bertanggungjawab selama dia ada dinegara ini" jawab Jester terdengar sedih, salah satu dokter saat itu izin untuk keluar ruangan.
"Apa yang terjadi pada.... temanku?" tanya Jester terdengar sedih, dokter didepan Jester pun menghela nafasnya.
"Nona Lincoln menderita penyakit Leukemia yang akut, kondisi tubuhnya sudah tidak dapat bertahan lagi dan mungkin dia akan mengalami kelumpuhan yang disebabkan nyeri tulang yang berlebihan. Selama ini nona Lincoln menopang kesehatannya dengan obat - obatan dosis tinggi, namun sekarang tubuhnya sudah tidak mampu menerima obat - obatan itu" jawab dokter menjelaskan kondisi Luna, Jester pun semakin kehilangan semangatnya.
"Bisa kalian... menyembuhkan dan menyelamatkannya...?" tanya Jester terbata dan tersirat penuh harap, namun dokter menanggapi pertanyaan Jester dengan gelengan kepala.
"Organ tubuhnya sudah sangat rusak efek dari kuatnya obat yang nona Lincoln konsumsi selama ini... langkah pertama mungkin pengangkatan limpa yang sudah membengkak, tapi itu sangat beresiko.... kami harus memiliki rekam medis yang jelas dan lengkap" jawab dokter terdengar sangat pesimis, Jester pun membenturkan dahi ke meja yang ada didepannya.
"Apa yang sebaiknya aku lakukan disaat seperti ini?" tanya Jester terdengar serak karena ingin menangis
"Tuan Gates... aku tidak tahu apa hubungan anda dengan nona Lincoln namun sisi saya sebagai orang awam mengatakan bahwa.... nona Lincoln memaksakan tubuhnya untuk menggapai sesuatu sebagai hal terakhir yang mungkin sangat dia inginkan... dan jika boleh saran, saat nona Lincoln sadar... anda dapat bertanya padanya apa yang membuatnya mengambil langkah berbahaya seperti ini" jawab dokter itu mencoba memberi saran, Jester pu terdiam untuk beberapa saat.
"Mungkin hanya itu yang bisa aku katakan saat ini" ucap dokter itu menutup pembicaraan, Jester pun mengangkat kepalanya dan segera berdiri untuk meninggalkan ruangan dokter.
__ADS_1
"Terima kasih sarannya" ucap Jester terdengar sedih
Jester pun keluar dari ruangan itu dan berjalan terlihat linglung dikoridor rumah sakit, hingga beberapa langkah tubuh Jester pun seakan kehilangan kekuatannya dan membuatnya hampir terjatuh menabrak tembok dikirinya. Jester pun terduduk bersandar ditembok itu dengan air mata yang mengalir deras, ingatan tentang Luna saat itu membuat pikirannya kalut dan diselimuti dengan kesedihan.
Penjelasan detail dari dokter semakin membuat Jester larut dalam kesedihan, tubuhnya terasa lemas tak memiliki kekuatan apapun bahkan hanya sekedar untuk menopang berat badannya sendiri. Dengan sisa - sisa tenaga Jester pun terus berjalan hingga sampai ruang tunggu rumah sakit, disana Jester duduk dan menyandarkan punggungnya pada kursi yang dia duduki, Jester terlihat semakin kehilangan semangatnya.
Semalaman Jester duduk didepan ruang tunggu rumah sakit dan tidak bergerak sama sekali dari tempat itu, wajahnya terlihat muram dan sedih yang menjadi satu. Sesekali air matanya tiba - tiba menetes yang dia biarkan membasahi pipinya, matanya terlihat kosong menatap lantai rumah sakit. Hingga pagi pun tiba, matahari terbit cukup cerah pagi itu namun Jester tetap tidak bergerak dari tempatnya.
"Selamat pagi tuan Gates, saya dari bagian administrasi... bisakah anda menandatangani beberapa dokumen?" tanya seorang wanita yang mendekati Jester, mendengar suara itu membuat Jester tersadar dari lamunannya dan menatap wanita itu.
"Ya" jawab singkat Jester lalu berjalan mengikuti wanita petugas administrasi rumah sakit itu menuju sebuah ruangan, disana Jester menandatangani semua dokumen - dokumen yang disodorkan.
"Baik, untuk pertama kami minta deposit senilai 400 Euro. dibayar dengan cara apa?" tanya petugas administrasi, perlahan Jester mengambil dompet disakunya dan memberikan petugas itu kartu kredit hitam dan membuat petugas pun sempat terdiam menatap Jester.
"Gunakan ini" ucap Jester ketika petugas hanya terdiam menatapnya
"Baik..." ucap petugas itu lalu menerima kartu itu, dengan sigap petugas pun menggesek kartu itu dan mengembalikannya pada Jester.
"Ini saya kembalikan tuan Gates" petugas itu pun mengembalikan kartu milik Jester dan kemudian Jester langsung meninggalkan ruangan.
Jester kembali berjalan linglung menuju ruang tunggu, sesampainya disana Jester terlihat duduk dikursi paling pojok dari sudut ruangan. Bersandar pada sandaran kursi dan menopang kepalanya ditembok, entah kapan Jester pun tertidur dalam posisi itu. Hampir tiga jam Jester tertidur dalam posisi itu, dia pun terbangun ketika mulai banyak suara yang terdengar didekatnya. Setelah meregangkan tubuh sejenak, Jester pun kembali berjalan menuju kamar dimana Luna dirawat.
Disana Jester melihat Luna yang terbaring dikasur dengan berbagai peralatan medis yang menempel disetiap bagian tubuhnya, Luna terlihat tanpa satu helai rambut pun dikepalanya dan membuat Jester menyadari bahwa selama ini Luna selalu menggunakan wig untuk menutupi semuanya. Saat itu Jester merasakan kuatnya tekad Luna untuk mewujudkan mimpi - mimpinya. Wajahnya yang terlihat pucat pasi pun semakin mempertegas seberapa parah sakit yang dia alami, Jester pun menghela nafasnya lalu beranjak pergi dari tempat itu.
Dihotel tempat Jester menginap dia bergegas menuju restoran untuk sarapan, melihat sarapannya didepan mata sebenarnya dia enggan untuk makan namun Jester sadar dia satu - satunya orang yang harus kuat untuk mendapingi Luna karena tidak ada lagi orang lain yang bisa menemani Luna disaat seperti ini, karena itulah Jester terlihat memaksakan tubuhnya untuk terus malahap sarapan yang dia ambil.
Setelah selesai Jester kembali ke kamarnya dan mandi, ditengah guyuran air shower saat itu Jester terus menatap hatinya yang hancur. Dia begitu kecewa pada dirinya sendiri setelah mengetahui semua kebenarannya, dalam benaknya pun selalu bertanya 'kenapa Luna tidak langsung jujur saja padanya? ini semua salahmu karena tidak jujur padaku, semua salahmu Luna!'
Hampir satu jam Jester terus mengguyur tubuhnya dengan air sampai kulitnya pun terlihat mengkeriput, namun dia masih tidak bisa menata hatinya yang hancur itu. Jester pun mengeringkan tubuhnya dan menggunakan pakaian lalu segera membaringkan tubuhnya kekasur, menatap langit - langit hotel dan masih termenung. Dia pun teringat pesan dokter yang mengatakan bahwa Luna sengaja mendoping tubuhnya dengan berbagai obat agar dapat mewujudkan impian - impiannya, saat itu Jester teringat tentang note berwarna pink milik Luna dengan daftar panjang hal yang ingin Luna lakukan.
"Apa kamu masih bisa melanjutkan perjalanan ini?" gumam Jester saat itu dan air matanya pun kembali mengalir
Tidak terasa Jester pun tertidur hingga beberapa jam pun berlalu, ketika membuka mata saat itu Jester melihat langit sore yang terlihat mendung dari kaca jendela hotel. Dengan segera Jester pun beranjak dari kasur dan bersiap untuk kembali kerumah sakit menjenguk Luna, dengan menggunakan taksi Jester menuju rumah sakit. Sesampainya dirumah sakit, Jester langsung mengarahkan kakinya menuju kamar Luna dan melihatnya dari balik kaca jendela. Disana Jester masih melihat Luna terbaring dalam pingsannya, seakan tidak ada tanda - tanda Luna akan segera bangun.
"Bangunlah Luna.... aku janji akan menemanimu menyelesaikan impianmu...." gumam Jester saat itu terdengar sangat sedih, Jester menempelkan dahinya ke kaca seakan dirinya sedang meratapi apa yang terjadi didalam hidupnya itu. Tidak lama seseorang terlihat berlari mendekati Jester dan tiba - tiba menarik tangannya dengan sangat kasar hingga tubuh Jester miring, disaat itu seseorang itu langsung membanting Jester dengan gaya judo hingga membuatnya merintih kesakitan.
"Arrgh!! apa - apaan?!!" bentak Jester dan menatap orang yang membantingnya, ternyata orang itu adalah William yang secara mengejutkan datang ke paris.
"Papa?!! apa yang papa lakukan disini?" tanya Jester heran dan masih terbaring
"Aku kesini secara khusus untuk menghajar tukang selingkuh!" jawab William dengan bentakan.
__ADS_1