
Selasa pagi yang cerah, Jester terbangun dari tidurnya. Diruang keluarga yang masih terlihat gelap karena sinar matahari tertutupi oleh gorden, Jester pun beranjak dari kasur lipatnya dengan mood yang buruk lalu memulai rutinitas. Dimulai dari melipat kembali kasurnya, membuka gorden - gorden diruangan itu, membuka pintu yang menghubungkan ke area kolam, lalu berjalan menuju kamar mandi. Harapannya pagi itu pudar untuk dapat bertemu Naomi saat membuka mata, Jester pun berjalan dengan menyiapkan hati mendapati kemungkinan tidak bisa lagi menemani Naomi hari ini.
Dilorong utama rumah, Jester berpapasan dengan Selena. Garis senyum merekah ketika mereka saling menatap, namun tetap terdiam tanpa kata. Dikamar mandi, Jester menatap kaca wastafel kemudian mencuci wajahnya, lalu menyikat gigi dan merapihkan rambutnya. Setelah selesai, Jester melangkahkan kakinya menuju dapur dan berharap dia bisa bertemu Naomi atau setidaknya Luna. Namun ketika berada didapur, dia hanya melihat Selena yang menyajikan hasil masakannya diatas meja makan.
"Pagi kak" sapa Selena saat menatap Jester yang berdiri terdiam dipintu, Jester menghela nafasnya lalu berjalan mendekati salah satu kursi dan duduk disana.
"Gimana keadaan Naomi?" tanya Jester terdengar khawatir
"Dia.... bisa dibilang membaik, sesekali Luna membuatnya tersenyum dengan candaannya" jawab Selena, mendengar jawaban Selena saat itu membuat Jester sedikit lega.
"Apa dia... tidak mencariku?" tanya lagi Jester terbata, Selena menatap Jester sesaat dalam diamnya.
"Tidak, tapi dia membicarakanmu dengan Luna sesekali" jawab Selena lalu tersenyum menatap Jester, mendengar jawaban itu membuat Jester kecewa.
"Sudahlah kak, gapapa... yang penting dia segera bangkit. Bukankah itu yang paling penting saat ini?" ucap Selena mencoba menyadarkan Jester tentang fokus utama yang seharusnya Jester pikirkan
"Iya aku tahu... tapi aku..." Jester menggantungkan kalimatnya sejenak dan membuat Selena penasaran dengan lanjutan kalimat Jester.
"Tapi apa?" tanya Selena penasaran
"Aaa ya... itu.. kamu tahukan? aku dan dia sering bersama... dari kemarin aku gak bisa ketemu... sekarang rasanya sepi dirumah ini..." jawab Jester terbata sambil membuang muka menutupi perasaan malunya, tingkah Jester saat itu membuat Selena tertawa geli.
"Kak, kamu itu umur berapa? kok masih bertingkah seperti anak SMA yang sedang jatuh cinta? kalau rindu katakan saja kamu rindu, gengsi amat" sindir Selena dengan tawanya, Jester pun kesal dengan ejekan Selena.
"Aku bukan gengsi buat bilang rindu padanya, tapi aku hanya..." Jester kembali menggantung kalimatnya karena dia tidak tahu apa yang harus dikatakan untuk membantah perkataan Selena.
"Hanya....?" tanya Selena mengejar perkataan Jester dengan nada yang menggoda, Jester semakin kesal yang dia tunjukkan dari raut wajahnya saat menatap Selena. Selena pun tertawa terbahak - bahak sembari memberikan piring dan peralatan makan kepada Jester, tidak lama Luna masuk kedalam ruang makan.
"Pagi..." sapa Luna, Jester dan Selena mengalihkan pandangannya menatap Luna yang berjalan mendekati mereka sembari membawa piring - piring sisa makan malam kemarin yang dia bawa ke kamar. Kehadiran Luna saat itu membuat Jester berharap mendapatkan kabar bahwa Naomi ingin bertemu dengannya, dengan penuh semangat Jester pun bertanya pada Luna.
"Bagaimana keadaan Naomi?" tanya Jester sedikit menekan Luna
"Dia baik... cuma belum saatnya untuk kamu bertemu dengannya" jawab Luna sembari berjalan menuju tempat cuci piring, Jester pun terlihat sedih mendengar jawaban Luna.
"Kak, tenang aja... bukan berarti Naomi tidak ingin bertemu denganmu atau membencimu atau apapun yang saat ini kamu pikirkan, dia cuma sedang menata hatinya untuk berhadapan denganmu" dengan nada yang berusaha menenangkan Luna mengatakannya, namun kalimat itu tidak dapat menenangkan hati Jester yang gusar dan sangat merindukan Naomi.
"Haah... sampai kapan? apa kamu tidak mengatakan aku tidak bermasalah sama sekali apapun yang terjadi padanya?" tanya Jester dengan penuh penyesalan
"Ini tidak semudah yang kamu pikirkan kak, mental Naomi benar - benar hancur saat ini. Bersabarlah... aku akan membantu sebisaku" jawab Luna masih berusaha menenangkan Jester, saat itu Luna kembali membawa beberapa piring yang akan dia gunakan untuk membawa beberapa lauk sarapan bikinan Selena.
"Dia sangat merindukan Naomi, makanya jadi gak sabaran gitu" dengan nada yang menggoda Selena mengatakannya, Luna pun tertawa mendengar perkataan Selena saat itu.
"Hei... kalian ada kuliahkan? sekalian saja pergilah berdua kesuatu tempat untuk menghabiskan waktu, biar gak dikit - dikit Naomi" dengan suara yang terdengar antusias Luna mengatakannya, Luna yang merasa tidak tega melihat keadaan Jester pun mencoba untuk memberikan alternatif agar Jester mencari ketenangan sejenak dengan aktifitas duiluar rumah bersama Selena. Luna tahu itu akan sulit bagi Jester mengingat keadaan Naomi, tetapi Luna yakin keadaan Naomi akan baik - baik saja.
"Ide bagus sih, apa kamu gak ada acara?" tanya Jester saat itu menatap Selena
__ADS_1
"Eemm... aku gak ada acara, tapi..." jawab Selena menggantung sembari menatap Jester
"Tapi apa?" tanya Jester saat itu penasaran, Selena pun menghela sembari membuang muka.
"Kak.... aku masih merasa canggung saat berada didekatmu, setelah apa yang pernah kita lalui... aku rasa perasaan itu masih sulit untuk aku pendam" jawab Selena, Jester pun memahami apa yang dirasakan Selena.
"Kalian harus segera membiasakan diri, kak kamu harus paham hatimu sudah milik Naomi jadi kamu harus bersikap bahwa Selena hanya teman dan untukmu Selena... kamu tahu teman tidak makan teman, jagalah hatimu" tegas Luna mengatakannya, saat itu baik Selena dan Jester menatap Luna dengan ekpresi yang berbeda. Jester terlihat datar saja seakan dia memang sudah paham apa yang harus dia jaga, sedangkan Selena terlihat ragu untuk menyetujui perkataan Luna.
"Aku... mengerti..." terbata Selena mengatakannya sambil menundukkan kepalanya, Luna pun menghela nafasnya lalu mengangkat beberapa piring yang sudah dia isi dengan berbagai lauk yang Selena buatkan.
"Aku mengharapkan yang terbaik darimu, Selena.... aku harap kamu benar - benar memahami posisimu dan tidak menimbulkan masalah baru" tegas Luna mengatakannya lalu berjalan pergi meninggalkan Jester dan Selena diruang makan.
Sejenak Jester dan Selena pun saling terdiam, Jester saat itu menatap Selena dengan penuh perasaan bersalah. Kata - kata Luke dan Harry dulu kembali menggema ditelinganya, kata - kata yang bagai peringatan awal atas sikap baiknya yang kemudian disalahartikan hingga membuat kemelut antara Naomi dan Selena.
"Kalau kamu masih berat hati... aku gapapa kok, aku bisa menghabiskan waktuku dengan Luke dan Harry" celetuk Jester memecahkan kebisuan diantara mereka, Selena perlahan menatap Jester.
"Aku bukan mengatakan aku keberatan untuk menemanimu... jadi tidak apa... toh Luna mengatakan aku harus segera bisa menata kembali hatiku agar bisa memendam perasaanku padamu" ucap Selena sedikit terbata, Jester pun tidak dapat menimpali apapun untuk merespon perkataan Selena.
Menghabiskan beberapa menit untuk sarapan berdua dalam keheningan, baik Jester dan Selena saat itu benar - benar tidak tahu apa yang harus mereka katakan untuk mencairkan suasana. Setelahnya mereka berdua pun bersiap - siap untuk berangkat ngampus, tidak lama Jester dan Selena bertemu kembali digarasi dan Jester menawarkan untuk berangkat dengan satu mobil. Selena yang menyetujuinya langsung kembali masuk kedalam rumah untuk menggantung kunci mobilnya didekat pintu masuk rumah, lalu masuk kedalam mobil Mercedes Benz V260 Jester.
Melalui perjalanan yang hening diantara mereka berdua, tiga puluh menit perjalanan terasa begitu lama bagi Jester yang terbiasa berangkat ngampus bersama Naomi dengan penuh obrolan dan canda tawa. Parkiran kampus menjadi tujuan utama Jester saat itu, setelah mobil terparkir sempurna saat itu Jester dan Selena pun berpisah disana untuk menuju kelas masing - masing.
Dihari itu pada jam pertama perkuliahan, Jester akan bertemu dengan Luke. Dengan hati penuh keyakinan bahwa Luke akan mengamuk padanya karena dia telah menjadikan Luke sebagai bahan negosiasi dengan Sarah, namun ketika mengingat kejadian itu lagi - lagi senyum psikopat Jester pun merekah. Bagai dayung bersambut, dugaan Jester benar - benar terjadi, Luke pun tidak henti - hentinya membentak Jester dan memaki - makinya. Dengan wajah datar tanpa rasa bersalah, Jester hanya terdiam menerima setiap perkataan Luke hingga dosen datang.
Tidak lama setelah berpisah dari Luke, kelas kedua Jester pada hari itu pun kembali dimulai. Bertemu dengan Harry dan Anna yang menjadi pacar Harry saat itu, Jester masih terlihat murung dan sedih. Harry meminta Anna untuk meninggalkan mereka berdua duduk dikursi paling belakang dikelas, keduanya pun saling mengobrol membicarakan keadaan Naomi dan Jester sedikit terbuka untuk mengeluarkan isi hatinya yang membuatnya terus murung. Namun saat itu Harry hanya menjadi pendengar yang baik, mencoba memberikan Jester tempat untuk curhat agar tidak larut dalam kesedihannya.
Sembilan puluh menit berlalu, Jester dan Harry berpisah didepan kelas mereka. Jester pun melangkahkan kakinya menuju parkiran kampus, ditengah perjalanannya Jester saat itu bertemu dengan Justin dan Grece dikoridor kampus. Justin dan Grece bertanya tentang keadaan Naomi dan Jester pun menjawab seadanya, bukan karena ingin menghindari mereka namun karena memang Jester pun sampai sekarang belum bisa bertemu dengan Naomi. Mengetahui itu Grece dan Justin pun terlihat sedih, dengan diakhiri menitip salam pada Jester untuk Naomi mereka berpisah. Jester kembali berjalan menuju parkiran, didekat Mercedes Benz V260 saat itu Selena terlihat menunggu Jester. Mengetahui Jester berjalan mendekatinya, Selena pun tersenyum manis.
"Lama menunggu?" tanya Jester
"Engga kok, mau kemana kak?" tanya balik Selena
"Hmm... aku gak tau harus kemana, kamu ada ide?" tanya Jester terlihat kebingungan
"Bagaimana kalau kedai ice cream yang pernah aku katakan padamu?" Selena pun mengingatkan Jester tentang permintaan Selena kepada Jester, seakan teringat dari janjinya membuat Jester menepuk kedua tangannya.
"Lah iya ya... ini kesempatan kita untuk kesana, mumpung udara juga lagi panas - panasnya. Ide bagus tuh buat mendinginkan badan dan pikiran" jawab Jester menyetujui ide Selena, mendengar jawaban Jester membuat Selena tertawa. Keduanya pun masuk kedalam mobil untuk segera berangkat menuju kedai ice cream yang ditunjuk, namun keduanya kembali membisu disepanjang perjalanan.
Tidak membutuhkan waktu lama, mereka pun sampai dikedai ice cream yang ditunjuk. Setelah memarkirkan mobil, mereka pun berjalan masuk kedalam kedai ice cream yang terlihat cukup ramai saat itu. Mengantri bersama menunggu giliran dan ketika mendapat giliran, mereka terlihat saling berdiskusi tentang ice cream yang akan mereka pilih. Tidak lama pesanan mereka pun sudah tersajikan, Jester membawa ice cream mereka kesalah satu meja yang tersedia disana. Keduanya pun menikmati ice cream yang telah mereka pesan, sesekali Jester dan Selena pun berbagi ice cream itu untuk sekedar menyicipi.
"Ice cream yang enak, pantas saja seramai ini" celetuk Jester saat itu
"Memang sesuai iklannya, aku menemukan tempat ini dari Ingram" timpal Selena sambil menikmati ice cream itu, Sejenak mereka pun kembali terdiam sambil menikmati ice cream mereka.
"Eemm... kak... sejak kapan kamu sadar kalau kamu mencintai Naomi?" tanya Selena memecah keheningan, pertanyaan Selena saat itu membuat Jester terkejut dan wajahnya pun memerah karena malu.
__ADS_1
"Kenapa kamu tanya hal seperti itu?!!" tanya balik Jester terdengar panik, Selena pun tertawa sejenak lalu kembali menarik nafasnya dalam - dalam dan menghembuskan perlahan.
"Aku cuma penasaran... apa benar mitos taman labirin di festival squere benar - benar sekuat itu?" ucap Selena terdengar tenang, senyumnya pun merekah ketika mengingat kenangan yang pernah terjadi diantara mereka.
"Entahlah, aku tetap pada prinsipku tidak mempercayai mitos itu. Aku pernah bertemu dengan Luna dan nyatanya aku tidak bersamanya kan" tegas Jester mengatakannya, perkataan itu membuat senyum Selena hilang seketika.
"Kalau memang mitosnya benar, seharusnya Luna akan berada disisiku dan bukannya Naomi. Yaah... tidak dipungkiri juga aku bersama Naomi karena kami bertemu ditaman tengah, tapi semua juga karena usaha kedua orangtua kami yang tiba - tiba menyuruh kami tinggal disatu atap" Jester melanjutkan ucapannya dengan tenang dan tanpa beban, saat itu Selena terdiam dan kembali menikmati ice creamnya.
"Ngomong - ngomong soal itu.... aku sadar sesuatu, kenapa kamu bersikap seperti Luna? aku sampai merasa nyaman kalau kamu ada didekatku" tanya Jester dengan heran, Selena pun tersentak mendengar perkataan Jester.
"Apa.... Luna tidak memberitahumu?" tanya balik Selena
"Dia mau cerita sih... tapi aku menolaknya, saat itu rasanya aku ingin segera mengakhiri kejadian itu" jawab Jester kembali terdengar tanpa beban, Selena semakin heran dengan jawaban Jester.
"Kejadian apa?" tanya Selena semakin penasaran, Jester terdiam sejenak menatap Selena.
"Aku bertemu untuk kedua kalinya di taman tengah dan gara - gara itu semua ingatanku yang pernah aku buang mendadak muncul kembali" jawab Jester, Selena pun terkejut mendengar jawaban itu.
"Benarkah? Luna tidak menceritakannya padaku" timpal Selena masih dengan heran, lalu mereka pun terdiam kembali dan menikmati ice cream.
"Lalu... kenapa kamu bersikap seperti Luna? dulu pertama kali bertemu kamu sudah membuatku merasa tidak asing sama keberadaanmu walau saat itu aku tidak tahu kenapa, tapi sekarang akhirnya aku sadar kalau keberadaanmu benar - benar seperti Luna" tanya Jester masih mencoba menekan Selena, saat itu Selena pun menatap Jester dengan senyuman.
"Luna memintaku untuk menjadi pacarmu" jawab Selena dengan senyuman menatap Jester, jawaban itu membuat Jester terkejut.
"Haah?! kenapa kamu terima permintaan aneh seperti itu?! memangnya kamu itu apa?!!" tanya Jester dengan nada yang terdengar terkejut, Selena pun menghela nafasnya dan menundukkan kepala.
"Semua dilakukan karena dia sangat mencintaimu, dia tahu waktunya tidak banyak dan dia khawatir kamu jatuh cinta pada orang yang tidak baik. Satu - satunya teman yang dipercaya olehnya hanyalah aku, jadi dia memohon padaku agar berjanji sekuat tenaga untuk mengejarmu" jawab Selena, Jester pun kesal mendengar jawaban Selena.
"Kenapa dia memperlakukanmu seperti itu? bukankah itu jahat?" tanya Jester dengan kesal
"Kak... kamu lupa baru saja mengorbankan sahabatmu untuk menjadi bahan transaksi dengan Sarah demi Naomi?" dengan sindiran Selena mengatakannya, Jester geli sendiri mendengar kalimat sindiran Selena.
"Demi orang yang dia cintai, Luna mengatur segalanya agar kamu bisa tetap hidup bahagia... aku tidak tahu bagaimana hubunganmu dengan Camilla, tapi kamu pun tahu kalau dia bukan wanita yang baik.... yah aku pun tidak jauh beda dengannya" Selena pun melanjutkan kalimatnya, Jester terdiam lalu kembali menikmati ice cream.
"Sejak kapan Luna tahu dia akan pergi? kenapa dia memberikanku harapan?" tanya Jester
"Kak... biarkan Luna yang akan memberitahumu, dia sudah mempersiapkan semuanya... aku cuma ingin kamu percaya dan menyimpan Luna didalam hatimu karena hanya itu yang dia inginkan hingga waktunya tiba, percayalah... dia tidak seburuk yang kamu duga, dia sangat mencintaimu dan dia....." tiba - tiba air mata Selena pun menetes, melihat Selena yang menangis membuat Jester panik.
"Lah? kok nangis? kamu kenapa?!" tanya Jester sembari memberikan tissue kepada Selena
"Ahaha... gak tahu... tiba - tiba aku ingin menangis, maaf..." jawab Selena sambil menyeka air matanya dengan tissue yang Jester berikan, mereka pun terdiam sejenak.
"Selena.... apa masih ada hal yang kamu sembunyikan tentang Luna?" tanya Jester sedikit menekan, Selena pun tersenyum manis lalu menggelengkan kepalanya beberapa kali.
Saat itu mereka pun terdiam kembali tanpa kata, menghabiskan segelas ice cream lalu memutuskan untuk pulang kerumah. Dirumah saat itu lagi - lagi Jester tidak dapat bertemu dengan Naomi, dia masih terlihat mengurung diri dikamar. Hanya sesekali dia melihat Luna yang keluar mengintip dimana Jester berada karena Naomi hendak keluar kamar menuju kamar mandi, Jester dilarang untuk menunjukkan wajahnya didepan Naomi. Walau sedih mendengarnya, tapi Jester merasa hanya itu yang bisa dia lakukan untuk membantu Naomi dan berharap ini tidak berlangsung lama.
__ADS_1