Aku Pinjam Dia

Aku Pinjam Dia
Kasih Sayang Seorang Ayah


__ADS_3

"Aku disini khusus untuk menghajar tukang selingkuh" dengan suara berat yang terdengar sangat marah William mengatakannya, Jester hanya terdiam dalam posisi rebahan menatap William.


Sore hari yang terlihat mendung dilangit Paris Prancis, disebuah rumah sakit yang terlihat agak ramai dengan pengunjung. Disalah satu koridor terlihat Jester rebahan dilantai sehabis dibanting oleh William hanya dapat terdiam dan menatap dengan sorot mata penuh kesedihan, melihat sorot mata tidak biasa yang Jester tunjukkan itu membuat William pun menoleh menatap seseorang dari balik kaca jendela.


"Dia.... wanita yang pernah kamu bawa menemui kami kan?" tanya William mencoba mengingat Luna yang terbaring lemah dikasur rumah sakit, Jester pun berdiri lalu kembali menempelkan dahinya di kaca jendela kamar Luna.


"Iya... papa mengingatnya?" tanya Jester


"Tentu saja, tapi... kenapa dengannya? aku kesulitan untuk mengingat karena penampilannya" terdengar heran William mengatakannya, Jester pun menghela nafas saat mendengar perkataan William.


"Ceritanya panjang papa...." jawab Jester menggantung dengan suara yang terdengar berat ingin menangis, William pun menepuk pundak Jester untuk memberikan dukungan moral.


"Kamu ingin cerita ke papa mu ini?" tanya William dengan tegas, mendengar jawaban William membuat Jester mengalihkan pandangannya.


"Kita butuh tempat yang lebih nyaman, aku ingin mendengar pendapat dari papa tentang apa yang harus aku lakukan" jawab Jester, tanpa menjawab apapun William hanya memberikan gestur tangan agar Jester mengikuti dirinya. Disebuah cafe yang tidak jauh dari rumah sakit Jester dan William terlihat duduk disalah satu meja yang tersedia, setelah memesan beberapa makanan kecil dan minuman saat itu William terlihat siap untuk mendengarkan curhatan dari anak semata wayangnya itu.


"Baiklah nak.... katakan apa yang sebenarnya terjadi, aku pikir kamu sedang berselingkuh karena aku mendapat notif pembayaran rumah sakit di paris dari kartu kredit hitam milikmu" ucap William terdengar tenang, mendengar perkataan William itu membuat Jester kesal.


"Selingkuh mana yang menjadikan rumah sakit tempat untuk bertemu papa?!" tanya Jester terdengar kesal, William pun membuang mukanya dan merasa malu karena kebodohannya.


"Papa benar - benar berfikir aku berselingkuh dirumah sakit?" tanya Jester dengan wajah terlihat penuh keheranan, William pun menggebrak meja.


"Sudah kau cerita saja ada apa, dasar anak bodoh!" dengan bentakan William mengatakannya, Jester pun menatap William dengan kesal.


"Haah... aku mau cerita semua dari awal, mungkin akan membosankan tapi... hatiku benar - benar hancur saat ini... aku butuh kebijaksanaan papa..." ucap Jester terdengar sedih


Jester pun mulai menceritakan semua yang terjadi pada dirinya dan Luna, hubungan dia dengan Luna saat ini, dan tentang penyakit yang diderita oleh Luna yang menjadi alasan bagi Luna saat itu meninggalkan dirinya. Ditengah cerita itu mata Jester terlihat berkaca - kaca, namun Jester masih bisa menahannya. William pun merasakan beban berat yang dirasakan oleh anak semata wayangnya itu, pergolakan batinnya yang merasakan penyesalan karena sikap cueknya pada Luna.


"Aku mengerti dan sangat memahami apa yang kamu pikirkan" celetuk William ketika Jester selesai menceritakan semuanya pada William, Jester saat itu hanya menundukkan pandangannya.


"Haah.... nak, aku akan memberimu saran jadi kamu dengarkan aku... kamu harus menyelesaikan urusan masa lalumu terlebih dahulu, karena seseorang yang tidak selesai dengan masa lalunya maka.... dia tidak pantas untuk menjadi pasangan siapapun" tegas William mengatakannya, perkataan William saat itu menarik perhatian Jester sampai Jester mengalihkan pandangannya menatap William.


"Kamu tahu nak, kamu sudah menjadi calon suami nona Naomi tapi dia memberikanmu jalan untuk menuntaskan masa lalumu dengan Luna. Menurut papa nona Naomi sudah berbesar hati jadi saat ini kamu hanya perlu menuntaskan semua masa lalumu, lakukan lah nak dengan penuh tanggung jawab dan ingat kalau kamu sudah punya nona Naomi yang sedang menunggumu" perkataan William semakin menguatkan tekad Jester untuk menuntaskan impian Luna yang dia tulis


"Aku mengerti" timpal Jester sambil mengerluarkan handphonen dari saku celananya, dengan segera Jester menelepon Naomi.


***


"Ya Jess, gimana? ada apa?" tanya Naomi terdengar sedikit panik saat mengangkat telepon


"Naomi... ada yang harus aku bicarakan denganmu" jawab Jester terdengar ragu, Naomi pun terdiam dan hanya terdengar suara nafasnya


"Gini... aku tahu mungkin ini terdengar konyol bagimu tapi aku tidak bisa lakukan ini tanpa persetujuanmu..." ucap Jester meneruskan perkataannya karena Naomi hanya terdiam, tiba - tiba terdengar suara tawa Naomi ketika itu.


"Kenapa kamu tertawa?" tanya Jester heran


"Aku mengerti apa yang ingin kamu katakan padaku, jujur saja aku sempat berfikiran aneh - aneh saat pertama kamu ingin meminta sesuatu dariku" jawab Naomi dengan sedikit suara tawa yang terdengar


"Aneh - aneh apaan?" tanya Jester penasaran

__ADS_1


"Aku... sempat berfikir kamu jatuh cinta lagi sana Luna dan ingin meninggalkanku... aah sudahlah, aku terlalu banyak berfikir buruk" jawab Naomi dengan helaan nafas terdengar lega


"Tidak... tidak terfikirkan sama sekali buat ninggalin kamu" timpal Jester


"Kamu ingin menemani Luna disana sampai sehat? atau ada sesuatu lagi yang mungkin tidak terfikirkan olehku Jess?" tanya Naomi tenang


"Sebenarnya... aku ingin menyelesaikan masa laluku, seperti halnya Luna... aku tidak ingin ada penyesalan dalam hidupku. Aku membutuhkan izinmu dan..." belum selesai Jester berbicara, Naomi memotong.


"Aku mengerti... aku akan izinkan kamu tapi.... Jess, aku mengkhawatirkanmu...." ucap Naomi penuh kekhawatiran, mendengar jawaban Naomi saat itu membuat Jester heran.


"Kenapa dengan aku? yang keadaanya tidak baik - baik saja itu Luna dan bukan aku" tanya Jester terdengar heran dan bingung, Naomi pun menghela nafas sejenak sebelum menjawab pertanyaan Jester.


"Bagaimana bisa aku tidak mengkhawatirkan keadaanmu...? Jess... penolakan Luna saja dulu sangat membuatmu terpuruk sampai harus ditemani Luke dan Harry, dan sekarang kamu harus dihadapankan dengan keadaan Luna yang berjuang antara hidup dan mati. Lalu katakan, bagaimana aku bisa baik - baik saja dengan itu?!" dengan penuh kelembutan dan kekhawatiran Naomi mengatakannya


"Aku baik - baik saja Naomi..." timpal Jester


"Kamu selalu mengatakan seperti itu tapi aku tidak percaya itu benar - benar yang terjadi padamu... aku bisa merasakan hatimu benar - benar sakit, Jess... aku akan kesana untuk mendampingimu" tegas Naomi mengatakannya


"Tidak usah, aku pastikan aku akan baik - baik saja" Jester pun dengan tegas mengatakannya


"Kita pernah sepakat untuk melalui apapun yang terjadi bersama - sama dan.." belum selesai Naomi berkata, Jester memotong.


"Aku baik - baik saja!!" agak membentak Jester mengatakannya, bentakan itu membuat Naomi pun terdiam.


"Maaf... aku tidak bermaksud membentakmu... aku.." penuh penyesalan Jester mengatakannya namun Naomi memotong perkataan Jester


"Naomi... ada papa disini, aku akan meminta papa untuk mendampingiku... jadi kamu tidak usah khawatir" ucap Jester sembari menatap William


"Hah? papa disana?!" tanya Naomi yang terdengar terkejut


"Iya.. ada papa disini" jawab Jester singkat


"Berikan handphonemu ke papa, aku ingin bicara sama papa" terdengar antusias Naomi mengatakannya, walau heran Jester tetap memberikan handphonenya pada William


"Ya nona Naomi, kenapa?" tanya William terdengar heran


"Papa, apa Jester baik - baik saja? dia selalu tidak jujur padaku tentang keadaannya, aku sangat berharap papa berkata jujur padaku" terdengar panik Naomi menjawab pertanyaan William, mendengar kepanikan Naomi membuat William pun tertawa.


"Dia memang tidak baik - baik saja, tapi sudah ada papa disini maka semua akan teratasi nona Naomi" dengan sedikit tawa William mengatakannya, Naomi pun menghela nafasnya mendengar jawaban William.


"Benarkah? Jester selalu memaksakan diri untuk menyelesaikan semua sendiri, aku sangat mengkhawatirkanya papa... jangan suruh Jester untuk hidup seperti papa!!" agak marah Naomi mengatakannya, William pun semakin tertawa mendengar Naomi yang untuk kedua kalinya marah kepadanya


"Papa mengerti, nanti papa akan selalu update keadaan Jester langsung melalui handphone papa supaya kamu bisa tenang. Ok?" terdengar senang William mengatakannya, perhatian Naomi kepada anaknya membuat William bahagia memiliki calon menantu seperti Naomi.


"Papa sudah janji, aku minta papa jaga Jester disana..." terdengar sedih dan penuh harap, perkataan Naomi ini kembali membuat William ketawa geli.


"Iya, papa janji nona Naomi" ucap William berusaha menahan tawanya


"Baik papa... aku menunggu kabar dari papa" terdengar tidak pasrah Naomi saat mengatakannya, William pun kembali tertawa.

__ADS_1


"Baik, tunggu kabar dari papa ya" William pun menutup teleponnya


***


"Apa yang papa dan Naomi katakan? kenapa papa tertawa sampai seperti itu?" tanya Jester heran, William pun mengembalikan handphone Jester.


"Kamu punya istri yang sangat baik nak" jawab William terdengar tenang


"Aku tahu..." dengan sedikit senyuman Jester mengatakannya, sejenak William dan Jester pun terdiam.


"Papa... aku butuh papa disini" celetuk Jester ketika keheningan sempat menyelimuti mereka, perkataan Jester saat itu sedikit mengejutkan William.


"Kenapa? tumben kamu minta ditemani" tanya William heran, Jester pun membuang muka saat mendapat pertanyaan itu.


"Aku... seringkali kehilangan kendali atas emosiku... tapi saat ini yang bisa aku mintai pertolongan sebagai sandaranku hanya papa..." terdengar sedih Jester mengatakannya


"Bagaimana dengan nona Naomi? apa dia tidak bisa membuatmu tenang?" tanya William sedikit menekan Jester, saat itu William tahu bahwa Naomi sudah menawarkan diri untuk menemani Jester namun Jester menolaknya dan kali ini meminta William yang menemani.


"Keberadaannya memang selalu menenangkanku namun, aku punya alasan untuk tidak meminta bantuannya... ini bukan karena Luna tapi... ada sesuatu yang sangat menggangguku saat ini dan aku tidak ingin bermasalah dengan itu sekarang" jawab Jester dengan tegas


"Baik, papa mengerti" ucap William menerima permintaan Jester tanpa pikir panjang, keputusan William yang begitu singkat itu membuat Jester pun terkejut.


"Papa langsung setuju?" tanya Jester kaget, William pun tersenyum menatap Jester.


"Mana ada seorang papa yang tega melihat anaknya menderita? Jika kamu membutuhkan papa, sebagai seorang ayah sudah menjadi kewajibanku untuk selalu mendampingi anaknya. Karena sebesar apapun kamu tumbuh... dimataku kamu tetaplah anak kecil papa" jawab William lalu tertawa keras, Jester pun tertegun menatap William.


"Sial... papa selalu keren dimataku, apa aku bisa menjadi seorang ayah seperti papa" gumam Jester saat itu ditengah tawa William.


Meninggalkan Luna yang masih terbaring tidak sadarkan diri dalam komanya, Jester dan William kembali kehotel untuk beristirahat. William booking satu kamar untuk dirinya sendiri agar dia bisa berkomunikasi dengan Naomi secara bebas, bagaimanapun William sudah berjanji pada Naomi untuk selalu memberikan informasi tentang kondisi Jester maupun Luna.


Mengisi hari - harinya bersama dengan William di Paris Prancis, membuat Jester jauh lebih dapat mengontrol emosinya dengan baik. Kegiatannya selama ini diisi dengan menjenguk Luna dirumah sakit bersama dengan William, mencurahkan kegundahan hatinya kepada William, sesekali mereka menghubungi Naomi agar tidak membuat Naomi cemas. William begitu menjalankan perannya sebagai seorang ayah dengan sempurna bagi Jester, merasakan mendapat dukungan moral yang sangat baik membuat Jester dapat melalui hari - hari beratnya menantikan kesadaran Luna dari komanya dengan lebih tegar.


Dua hari pun berlalu, namun Luna masih saja terbaring tidak sadarkan diri. Hingga tiba - tiba ditengah malam setelah kepulangan Jester dan William yang setiap hari datang untuk menjenguk, mata Luna pun terbuka. Saat itu Luna melirik kanan kiri mencoba memperhatikan sekelilingnya, dalam benaknya pun bertanya - tanya dimana dia sebenarnya saat ini. Perasaan was - was akan dirinya yang dibawa pulang ke negaranya dan tidak dapat meneruskan perjalanan di paris membuatnya meneteskan air mata, kesedihannya pun membuat alat pengukur jantung berbunyi keras dan membuat dua orang perawat segera mendatangi kamar Luna untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut pasca Luna tersadar dari komanya.


"Kami periksa dulu ya nona Luna" dengan tenang salah satu perawat itu berkata, mereka berdua pun berjalan mendekati Luna dan mencatat dan memeriksa beberapa peralatan rekam medis.


"Aku... dimana?" tanya Luna, mendengar perkataan Luna saat itu kedua perawat pun saling menatap


"Ehem... Nona Luna ada di Paris Prancis" jawab salah satunya dengan sedikit terbata karena kesulitan dengan bahasanya


"Siapa... yang membawaku kesini?" tanya Luna lagi


"Itu... ada tuan Jester dan ayahnya..." jawab lagi perawat masih sedikit terbata


"Bisa panggilkan Jester? aku ingin bertemu dengannya" pinta Luna, kedua perawat itu pun saling menatap kembali


"Nona Luna ingin bertemu tuan Jester, kamu pergilah ke administrasi dan katakan nona Luna sudah sadar" ucap salah satu perawat pada perawat lainnya


"Baik" timpal perawat itu lalu segera berlari menuju bagian administrasi untuk menghubungi Jester

__ADS_1


__ADS_2