Aku Pinjam Dia

Aku Pinjam Dia
Aku Tidak Pantas


__ADS_3

Kecewa.... sebuah kata dari Selena yang terus terngiang ditelinga Jester pada pagi hari yang cerah, setelah pertengkaran yang terjadi di lorong utama rumah membuat Jester membatu memikirkan tentang dirinya yang mengkhianati prinsipnya sendiri. Sebuah prinsip yang ditanamkan oleh William kepada anak laki - lakinya yaitu tidak membiarkan diri menyakiti perempuan baik fisik maupun batin, kali ini Jester mengkhianati prinsip itu bahkan dua kali berturut - turut dalam satu waktu.


Matanya pun kosong menatap pintu kamar tidur dirumah itu, kakinya bahkan tidak mampu untuk melangkah. Didalam kepalanya teringat tangisan Naomi karenanya, tangisan Luna karenanya dan tatapan penuh amarah juga kekecewaan Selena kepadanya, tangannya meremas kepalanya begitu kuat menyesali perbuatannya. Dengan tepukan kedua tangan di kedua pipinya, Jester berusaha menyadarkan dirinya sendiri dari perasaan kecewanya.


"Papa... maaf anakmu telah mengecewakanmu, tapi aku pasti segera selesaikan ini" gumam Jester lalu melangkahkan kakinya mendekati pintu kamar hendak meminta maaf pada Naomi, Luna dan Selena. Didepan pintu saat itu, Jester samar - samar mendengarkan pembicaraan ketiganya. Suara tangisan Naomi terdengar jelas ditelinganya, suara Luna dan Selena yang berniat menenangkan Naomi pun dapat dia dengar.


Didalam kamar Naomi yang menangis terisak - isak duduk meringkuk di kasur memeluk kedua kakinya dan bersandar pada dipan kasur, dengan air mata yang mengalir deras dari kedua matanya. Luna yang berusaha menenangkan Naomi terlihat duduk disebelahnya sembari merangkul tubuh Naomi dan membelai kepalanya, walaupun saat itu dirinya pun terlihat sedang menangis. Sedangkan Selena duduk di pojokan kasur terlihat kecewa, dia tidak menyangka Jester yang biasanya selalu lembut kepada wanita menjadi seperti itu.


"Udah ya Naomi... maaf kamu dan kak Jester jadi seperti ini... semua salahku, kak Jester tidak berniat seperti itu. Aku yakin itu" ucap Luna dengan suara yang pilu berusaha menenangkan Naomi yang masih menangis terisak - isak


"Bangunkan aku.... tolong.... aku pasti dalam mimpi buruk... Jester.... tolong aku...." dengan suara yang pilu Naomi mengatakannya, mendengar Naomi yang seakan tidak menyadari kenyataan membuat Selena pun emosi.


"Kamu tidak bermimpi!!" bentak Selena terdengar sangat emosi


"Selena!!" bentak Luna dengan suara yang serak, bentakan itu membuat dirinya semakin menangis menatap Selena.


"Uuhh!! Semua cowok sama aja!! Ini alasan kenapa aku membenci mereka!!!" bentak Selena begitu emosional, namun Naomi menggelengkan kepalanya beberapa kali ketika mendengar perkataan Selena seakan menolak perkataan Selena.


"Tidak!! Tidak... Jester berbeda... aku cuma sedang bermimpi buruk.... Jester akan segera membangunkan aku, dia akan menolongku... dan pasti menolongku..." Naomi memaksakan diri berbicara walau tangisannya membuatnya sesegukan, melihat Naomi yang tidak bisa membedakan kenyataan dan mimpi menyulut emosi Selena. Dia berjalan mendekati Naomi dan langsung menampar keras pipi Naomi, Luna pun sampai berdiri dari duduknya dan mendorong Selena dengan kuat hingga membuatnya terjatuh.


"Selena!! kamu ngapain?!!" bentak Luna, tidak lama Selena kembali berdiri dan hendak menampar Naomi lagi namun Luna menghalangi.


"Apa kamu sudah sadar?! sudah sadarkan?! ini bukan mimpi Naomi!!" ucap Selena penuh emosi, terjadi aksi saling dorong antara Selena dan Luna.


"Tampar lagi.... aku.... masih belum sadar.... dari mimpi burukku..." terbata Naomi mengatakannya, air matanya pun sudah tidak menetes lagi dari matanya yang kosong menatap Selena.


"Kamu!!" semakin emosi Selena setelah mendengar perkataan Naomi, tiba - tiba Naomi pingsan dan terjatuh dikasur. Luna dan Selena yang panik pun segera mendekati Naomi, namun ketika mereka akan menolong Naomi tiba - tiba Luna pun ikutan pingsan dan terjatuh dilantai.


"Luna!!!" teriak Selena saat itu, karena merasa membutuhkan bantuan akhirnya Selena keluar kamar dan mencari Jester keseluruh sudut rumah. Namun saat itu Jester tidak berada dirumah itu, dia sudah pergi dari rumah tanpa membawa mobilnya.


Disisi lain Jester terlihat berjalan sambil merenungi setiap kesalahannya, setiap langkahnya penuh dengan penyesalan karena dirinya tidak mampu untuk mengendalikan diri. Kenangan tentang William yang mengajarkannya untuk mengendalikan diri pun tergambar jelas dikepalanya, namun kali ini dia mengecewakan William. Tidak terasa satu jam lebih Jester berjalan tanpa arah dan sampailah dia didepan gerbang rumah keluarga Gates, Jester memandangi gerbang yang tertutup itu dengan tatapan penuh perasaan bersalah.


"Kenapa aku kesini? Apa papa dan mama akan memaafkan aku?" gumam Jester, langkah kakinya pun ragu untuk masuk kedalam rumah itu.


Tidak lama seorang penjaga gerbang yang melihat Jester pun hendak mengusirnya, namun ketika penjaga gerbang itu menatap lebih dekat dan ternyata itu adalah Jester... dia pun segera membukakan gerbang tanpa banyak bertanya. Jester yang terkejut karena gerbang tiba - tiba terbuka langsung mengarahkan pandangannya ke pos penjagaan dan baru menyadari ternyata seseorang sedang memperhatikannya melamun, perlahan Jester melangkahkan kakinya menuju pos penjaga.


"Papa mama ada didalam?" tanya Jester datar, penjaga itu langsung memberi hormat pada Jester sebelum menjawab pertanyaan.


"Beliau ada didalam tuan muda" jawab penjaga itu dengan tegas, Jester memberi gestur tangan mengucapkan terima kasih lalu kembali melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah. Dipelataran rumah Jester melihat kepala pelayan yang terkejut melihat Jester datang berjalan kaki dengan penuh keringat ditubuhnya, segera dia berjalan mendekati Jester dan memberikan sapu tangan yang kebetulan dia bawa disaku jas nya.

__ADS_1


"Tuan muda, jika berkenan gunakan sapu tangan ini. Ini belum saya pakai sama sekali" dengan sopan kepala pelayan itu menyerahkan sapu tangannya kepada Jester, dengan senyuman Jester menerima sapu tangan itu.


"Terima kasih, dimana papa dan mama?" tanya Jester sambil mengelap keringat diwajahnya dengan sapu tangan itu


"Tuan besar ada diruang fitnes sedangkan nyonya besar ada diruang membaca, saya akan segera mengabarkan kedatangan anda" jawab kepala pelayan, Jester pun melangkahkan kakinya masuk kedalam ruangan tamu membawa sapu tangannya.


"Aku ambil sapu tangan ini, kamu minta yang baru dari mama" ucap Jester lalu berjalan masuk kedalam rumah, kakinya langsung menuju kekamarnya yang selama ini selalu menemaninya.


Matanya tertuju pada sebuah sofa yang pernah Naomi pakai untuk membuat perjanjian dengannya, sebuah meja yang menjadi saksi bisu awal mula semua kejadian yang sekarang dia alami. Tidak terasa air mata Jester pun menetes ketika mengingat dirinya membuat Naomi menangis, tangannya yang mengepal langsung dia pakai untuk memukul pintu kamar itu dengan keras sebagai ekspresi luapan emosi dan rasa bersalah. Setelah mengatur nafasnya kembali, Jester mengarahkan langkah kakinya untuk duduk disofa itu dengan tatapan kosong tertuju pada meja.


Tidak lama William dan Marrie masuk kedalam kamar itu dengan wajah yang khawatir menatap anaknya, mendapat kabar Jester datang dengan jalan kaki tentu membuat William dan Marrie bertanya - tanya apa yang terjadi pada anaknya. Belum lagi keberadaan Naomi yang tidak bersamanya, tentu ada banyak pertanyaan dikepala Marrie saat itu.


"Jess... kamu baik - baik saja?" tanya Marrie terdengar sangat mengkhawatirkan Jester yang terlihat melamun dan sangat lusuh, perlahan Jester menatap kedua orangtuanya itu dengan air mata yang masih mengalir dimatanya.


"Jess kamu kenapa?!" tanya Marrie panik dan hendak berlari mendekati Jester, namun tangan kekar William menggenggam lengan Marrie untuk menahan langkahnya.


"Nak... kamu perlu papa untuk menemanimu?" tanya William tegas, dengan emosi Marrie melepaskan genggaman tangan William.


"Jester sampai menangis seperti itu dan kamu masih bertanya?!!" tanya Marrie dengan penuh emosi, perasaan khawatir seorang ibu kepada anak semata wayangnya yang begitu dia sayangi menjadi penyebab emosinya memuncak. Namun William bergeming dan tetap menatap mata Jester begitu dalam, perlahan Jester kembali menatap meja.


"Papa, aku butuh kebijaksanaanmu lagi kali ini" jawab Jester dengan suara yang serak, William pun menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan.


"Ceritakan ketika kamu sudah siap" celetuk William saat Jester terlihat lebih tenang, dengan tarikan nafas panjang dan hembusan perlahan... Jester pun mulai menceritakan semua kepada William. Pertemuan dengan Luna di mall, sikap Naomi pada Jester, tentang kotak pandora di hatinya, kehadiran Luna dirumah atas izin Naomi, kecurigaan Luke dan Harry, dan terakhir dengan menceritakan pertengkaran Jester dan Naomi yang baru saja terjadi.


"Saat aku mau meminta maaf... aku mendengar tangisannya dan dia masih mengharapkan aku menolongnya" ucap Jester melanjutkan ceritanya, air mata Jester pun kembali mengalir dari matanya.


"Aku tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah, semua bercampur dan aku tidak dapat menarik kesimpulan!!" dengan emosional Jester mengatakannya, William menepuk punggung Jester dengan lembut.


"Apa kamu masih ingat pesan papa? papa selalu menyuruhmu pahami dulu baru menjawab, pikirlah dulu baru berkata, dan dengarkan dulu baru beri penilaian" ucap William tegas namun suaranya terdengar lembut untuk memberi rasa nyaman kepada anaknya, hanya dengan gelengan kepala Jester merespon perkataan William.


"Coba lihat jejak langkahmu kebelakang dan ingatlah jalan yang sudah kamu tempuh hingga sampai titik ini lalu jadikan pembelajaran, sekarang kamu hanya bisa menatap kedepan dan itulah masa depanmu" masih dengan tegas dan suara yang lembut William mencoba memberikan pengertian pada Jester, namun kata - kata itu membuat Jester semakin menangis.


"Ini berat! ini sangat menyulitkan, sangat menakutkan dan menyedihkan!! hatiku sakit sampai rasanya mau mati!! Aku sudah berusaha, aku sudah berusaha sangat keras untuk berdamai dengan hatiku!! aku berjuang mati - matian dengan segala cara agar semuanya jadi lebih baik!! sungguh... aku bersungguh - sungguh... aku tidak pernah berusaha sekeras ini sebelumnya..." suara Jester pun terdengar pilu saat mengatakannya


"Papa pernah bilang dan kamu seharusnya selalu mengingat pesan papa ini, sudah menjadi tugas pria untuk selalu memaafkan kebohongan wanita. Kalau yang kamu khawatikan nona Naomi membohongimu tentang cintanya padamu, kamu harus memaafkannya dan tidak sepatutnya kamu menyalahkan dia" timpal William dengan suara yang menenangkan, tangan besar William menggenggam kepala Jester.


"Tugas kita hanya untuk menemani mereka, biarkan mereka yang memutuskan apakah mau tetap bersama atau mencari pengganti kita. Nak... sebagai pria kamu tidak boleh memaksakan kehendakmu, memaksakan cintamu padanya, dan memaksanya untuk terus bersama denganmu. Akan ada waktumu untuk berbahagia dengan lawan jenismu, tidak usah terlalu terburu - buru" dengan senyuman William mengatakannya, Jester mengalihkan pandangannya menatap William yang tersenyum padanya.


"Papa bangga kepadamu nak, kamu menjadi pria setia walau banyak kesempatan untukmu menjadi pria brengsek seperti kebanyakan diluar sana. Setia adalah sebuah tugas berat dan kamu masih memegang prinsip itu walau hatimu sudah terkoyak - koyak oleh cinta, tapi memang itulah cinta... deritanya tiada akhir" lembut William mengatakannya untuk menenangkan hati Jester

__ADS_1


"Lalu aku harus bagaimana sekarang? aku sudah tidak pantas menunjukkan wajahku didepan Naomi... aku..." belum selesai Jester berbicara, William memotong dengan tawanya yang terbahak - bahak.


"Wahaha... Nak, papa yakin kamu tahu apa yang harus kamu lakukan. Tapi jika kamu masih membutuhkan kata - kata papa untuk meyakinkan hatimu tentang apa yang harus kamu lakukan... aku akan perjelas sekarang" masih dengan sedikit tawa William mengatakannya, Jester pun tersenyum menatap William.


"Papa benar... kenapa aku bimbang, aku hanya perlu minta maaf dan bertanya padanya apa aku masih pantas untuknya atau tidak" Jester pun sedikit tertawa saat menjawab pertanyaannya sendiri, saat itu tiba - tiba William memberikan handphonenya yang sedang memanggil Luke.


"Masih ada satu lagi yang harus kamu selesaikan" ucap William dengan senyuman menatap Jester, Jester hanya meresponnya dengan sebuah senyuman sembari menerima handphone itu dan meletakkan ditelinganya.


Keraguan dan kesedihannya mendadak sirna setelah mendengar nasihat William, Jester seakan mulai mampu kembali berfikir normal seperti sediakala. Hatinya seakan sudah siap untuk menerima apapun yang akan terjadi pada hubungannya dengan Naomi, Jester pun terlihat semakin bertambah dewasa dan membuat William menatap anaknya begitu bangga.


***


"Ya hallo tuan William, ada apa?" tanya Luke saat teleponnya tersambung


"Hei Luke, ini aku Jester" dengan tenang Jester menjawab


"Ooh Jester, kenapa pakai handphone tuan William?" tanya Luke


"Gini Luke, tentang rencanamu aku sudah memutuskannya untuk menolak" jawab Jester langsung berbicara pada intinya, sempat terdiam Luke tidak menjawab perkataan Jester.


"Jika memang dia hanya memanfaatkan ku, aku tidak apa - apa... biarkan saja dia manfaatkan aku. Memang tugas seorang pria untuk selalu menemani wanita dan memaafkan semua kebohongannya" Jester meneruskan kalimatnya karena Luke tidak meresponnya.


"Aku mengerti" jawab Luke dengan suara yang terdengar berat hati


"Luke aku sangat menghargai tindakanmu, tapi lawan kita adalah seseorang yang aku cintai... aku tidak bisa lagi membuatnya menangis karenaku, biarkan ini menjadi bebanku sendiri" timpal Jester


"Heh bodoh, kamu tidak sendiri. Aku dan Harry akan menemanimu seperti biasa, jadi saat kamu sakit hati dan terpuruk... silahkan hubungi kami, kami akan selalu menemanimu dalam keadaan apapun" dengan suara yang terdengar sedih Luke mengatakannya


"Terima kasih Luke" suara lega Jester membuat Luke terdengar akan menangis.


"Brengsek!! kenapa aku jadi terharu mendengar ucapan terima kasihmu!!" agak membentak Luke mengatakannya, Jester pun tertawa mengetahui Luke yang menangis.


"Berjuanglah!! kamu tahu kemana kamu harus mencari kami jika membutuhkan pertolongan!!" ucap Luke dan langsung memutuskan sambungan teleponnya


***


Perlahan Jester menyeka air matanya yang masih tersisa di pipi dan dagunya, lalu mengembalikan handphone William dengan senyuman.


"Terima kasih papa, aku akan lebih berusaha keras untuk mempertahankan cinta ini. Mungkin aku tidak akan pernah bisa menjadikannya kekasihku seutuhnya, tapi aku sudah rela jika dia hanya setengah hati mencintaiku atau bahkan tidak sama sekali" ucap Jester terdengar lebih tegar, William pun menepuk punggung Jester dengan cukup keras untuk memberikan dorongan moril kepada anaknya itu.

__ADS_1


"Jadilah pria sejati!!" celetuk William dengan tegas.


__ADS_2