Aku Pinjam Dia

Aku Pinjam Dia
Wanita Dibalik Telepon


__ADS_3

Siang menjelang sore hari yang cerah, disebuah kampus swasta yang terkenal dikota itu. Disalah satu fakultasnya terlihat hanya beberapa mahasiswa saja yang melakukan kegiatan dikampus pada sore itu, termasuk disalah satunya ruang musik fakultas ekonomi. Terdapat enam orang duduk melingkar saling berhadapan, Justin, Grece, Harry dan Luke terlihat menahan tawanya menatap Jester yang wajahnya memerah sembari tangannya memijat - mijat ujung jari Naomi yang lecet karena senar gitar.


"Cepat mulai rapatnya, dasar kumpulan orang bodoh!!" bentak Jester, bentakan Jester malah membuat semuanya semakin tertawa terbahak - bahak.


"Aku pikir kamu betah berlama - lama seperti itu" celetuk Justin sambil menahan tawanya, celetukan Justin pun kembali mengundang tawa yang lebih keras.


"Berhenti menggodaku dan mulai saja rapatnya!!" bentak Jester lagi, tiba - tiba tangan kanan Naomi mencubit perut Jester bertubi - tubi


"Aaaw.. aw... Naomi, apa yang kamu lakukan?!" tanya Jester sembari menahan sakitnya cubitan Naomi, dengan wajah jutek Naomi menatap Jester.


"Jangan teriak - teriak seperti itu, aku takut tahu" jawab Naomi dengan nada yang terdengar sebal, tidak lama memandang Jester, Naomi kembali membuang muka menutupi wajahnya yang memerah.


"Iya.. iya.. aku gak akan teriak - teriak lagi" ucap Jester dengan penuh penyesalan, jawaban Jester sontak membuat membuat Luke, Harry, Justin dan Grece kembali tertawa terbahak - bahak


"Sial, Jester tipe suami takut istri. Buahahaha" ucap Luke


"Apa selanjutnya Jester yang akan mencuci baju dan membersihkan rumah? Ahaha" tanya Harry menggoda Jester


"Yang aku tahu biasanya memang seperti itu" jawab Justin menahan tawanya


"Aku pikir Naomi yang bucin, ternyata Jester yang bucin. Ahahaha" celetuk Grece dengan nada puas


"Diam kalian bodoh!!" bentak Jester, namun saat itu tangan kanan Naomi langsung mencubit perut Jester lagi


"Aww.. aww... ayolah Naomi!! kalian bisakah mulai saja rapatnya?" pinta Jester sembari menahan rasa sakit cubitan Naomi yang bertubi - tubi diperutnya


"Uhuk... uhuk... Baiklah, selain untuk menggoda Jester hari ini tujuan kita sebenarnya adalah mendengar apa yang sudah Luke dan Harry lakukan" Justin pun berusaha menaha tawanya dan memulai rapat anggota, walau masih terdengar akan tertawa saat itu namun Luke dan Harry berusaha untuk menahannya.


"Tadi Camilla dan Selena melakukan pertemuan, kami mendapatkan informasinya dari salah satu teman Camilla dan ternyata informasi itu benar" ucap Harry dengan sedikit menahan tawa, Luke menepuk pundak Harry sesaat sambil menutup mulutnya yang akan kembali tertawa.


"Selena sudah mengakui dia bekerjasama dengan Camilla untuk menyingkirkan Naomi dari Jester, walau ternyata Camilla hanya memanfaatkan Selena pada akhirnya" timpal Luke dengan sedikit tertawa, pembicaraan serius saat itu tidak terasa karena semuanya terlihat sangat geli melihat Naomi yang begitu menikmati tangan kirinya dipijat - pijat oleh Jester.


"Lalu apa yang terjadi berikutnya?" tanya Justin penasaran, Luke dan Harry saling menatap dan terdiam untuk beberapa saat.


"Aku ada senjata untuk mengancam Camilla agar dirinya diam untuk empat bulan kedepan, setidaknya saat acara kita selesai maka Camilla akan mulai menyerang kembali" jawab Harry, mata Harry saat itu menatap Jester dengan tajam dan membuat Jester heran.


"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Jester sambil memijat - mijat ujung jari tangan kiri Naomi, saat itu Naomi pun menatap Harry heran.


"Aku perlu bicara secara pribadi dengan Jester, mungkin tidak saat ini namun aku membutuhkan penjelasannya sesegera mungkin" jawab Luke saat itu dengan helaan nafas, semua terlihat penasaran saat itu namun Justin memahami apa yang diinginkan Luke dan Harry.


"Untuk sementara berarti kita punya waktu yang cukup tanpa gangguan menjalankan rencana kita, Naomi aku tanya sekali lagi dan aku harap aku tidak melihat keraguan kali ini. Apa kamu yakin akan melanjutkan pemberontakan ini?" tanya Justin agak menekan, Naomi menganggukan kepalanya beberapa kali dan sorot matanya terlihat sangat yakin menatap Justin.


"Ya, aku akan teruskan rencana ini dan aku meminta bantuan kalian semua" jawab Naomi, Grece tersenyum dengan sedikit menggoda Naomi.

__ADS_1


"Apa bantuan memijit tangan hanya milik Jester? aku tidak keberatan jika kamu memintaku" tanya Grece dengan nada yang terdengar menyindir, wajah Naomi dan Jester pun tiba - tiba kembali memerah.


"Dasar Grece bodoh!! hentikan menggodaku!!" bentak Jester terdengar sangat marah, namun tiba - tiba tangan kanan Naomi menggenggam tangan Jester yang sedang sibuk memijat ujung jari Naomi. Jester mengalihkan pandangannya saat itu menatap Naomi, terlihat wajah cantik Naomi dengan sedikit rona merah di pipinya dan matanya yang tajam dengan bulu mata yang lentik itu menatap mata Jester.


"Yup.... hanya Jester yang bertugas memijat ujung - ujung jariku dan biarkan hanya dia yang melakukannya untukku" ucap Naomi dengan suara yang lebut sedikit malu - malu, mendengar ucapan Naomi saat itu membuat Jester berdiri dan berlari keluar ruangan sembari berteriak


"AAAAaaaa.... aku tidak dengar!!!" teriak Jester dan berlari keluar ruangan dengan perasaan malu, gugup, dan marah yang bercampur aduk didalam dirinya, melihat tingkah Jester saat itu membuat Luke, Harry, Justin, Grece dan Naomi pun tertawa terbahak - bahak.


Setelah puas tertawa, mereka semua berdiri dan mengejar Jester yang lari entah kemana. Tidak lama Luke pun berhasil menemukan Jester yang sedang bersembunyi sembari mengatur perasaan gugupnya, Luke memanggil teman - temannya yang lain dan Jester kembali dikerjai oleh Luke, Harry, Justin, Grece dan Naomi. Dengan keceriaan, senda gurau, saling ejek dan penuh kebahagiaan mereka melalui hari itu namun semua keceriaan itu berbanding terbalik dengan Selena yang nampak sedang menangis didalam kamarnya, Selena terlihat tengkurap dikasurnya menutupi wajahnya dengan sebuah bantal dan terdengar menangis.


Didalam kamar yang luas dan mewah saat itu, Selena terlihat sedang menangis. Selena mengunci pintunya, menutup semua gorden di semua jendela dan tidak membiarkan sedikit pun cahaya masuk kedalam kamarnya, kamarnya pun terlihat berantakan karena ulah Selena yang melampiaskan kemarahannya kepada barang - barang disekitarnya. Ibu Selena saat itu mengetok pintu kamar Selena untuk memastikan keadaannya, namun setelah beberapa kali ketokan Selena tidak juga kunjung menjawab.


"Selena.... makan dulu sayang, kamu belum makan dari pagi" ucap ibu Selena sembari mengetok pintu kamar Selena saat itu, namun Selena tetap terdiam dan tidak menjawab perkataan ibunya. Hingga beberapa saat Selena tidak juga kunjung menjawab, telepon rumah keluarga Parker berdering. Ibu Selena turun dari lantai dua dan segera mengangkat telepon itu


***


"Keluarga Parker disini" ucap ibu Selena dengan ramah


"Halo ibu Parker" terdengar suara perempuan didalam telepon itu, namun ibu Selena saat itu langsung sadar dan mengenali suara itu.


"Loh loh... lama tidak terdengar, bagaimana keadaanmu?" tanya ibu Selena dengan ramah dan terdengar senang


"Baik kok bibi, bisa aku bicara dengan Selena? aku kehilangan nomor handphone nya" tanya wanita didalam telepon itu


"Begitu? duuh ini salahku, baiklah bibi... mungkin beberapa hari kedepan ini aku akan berkunjung. Maaf mungkin akan kembali merepotkan paman, apa tidak apa?" tanya wanita itu


"Tidak pernah akan merepotkan, bibi akan tunggu kedatanganmu. Jangan lama - lama ya, bibi kangen sama kamu" jawab ibu Selena terdengar senang


"Baik, sampai jumpa nanti bibi" ucap wanita didalam telepon itu dan sambungan telepon pun terputus


***


"Duuh Selena, kamu kenapa sih?" tanya ibu Selena pada dirinya sendiri, kemudian ibu Selena pun pergi menuju kamarnya.


Sore hari menjelang Senja, di ruang musik fakultas ekonomi di kampus swasta yang terkenal di kota itu. Terlihat Jester, Naomi, Harry, Luke, Justin dan Grece tersenyum bahagia, mereka berhasil memainkan lagu pilihan Naomi dengan cukup baik saat itu. Justin pun menepuk tangannya beberapa kali memberi selamat pada rekan - rekannya, semua menoleh menatap Justin yang berposisi sebagai vokalis.


"Good, permainan gitar Naomi dan Jester kompak dan tempo kalian sangat baik. Luke aku ingin kamu lebih bersemangat lagi ketika Naomi dan Jester beradu skill gitar di melody, Grece kemampuanmu memang tidak sesuai ekspektasi kami namun kamu masih bisa meningkatkannya saat latihan berikutnya. Harry kamu sempurna, bagaimana dengan suaraku menurut kalian?" dengan antusias Justin mengatakannya, semuanya saling menatap satu sama lain dan tersenyum lebar.


"Suaramu bagus, aku tidak menyangka suaramu sangat mirip dengan penyanyi aslinya" jawab Naomi dengan senyuman menatap Justin, disaat itu Jester, Luke, dan Harry kompak memberi jempol keatas mengapresiasi suara Justin. Namun saat itu Grece terlihat kesal dan membuang muka menatap tembok, Justin pun heran dengan sikap Grece.


"Ada apa sayang? kamu marah karena penilaianku?" tanya Justin dengan lembut, Grece pun menggelengkan kepalanya beberapa kali namun masih terdiam.


"Grece... katakan saja kalau ada sesuatu" timpal Naomi yang juga heran dengan sikap Grece yang marah akan sesuatu, Grece mengalihkan pandangannya menatap Naomi dengan mata yang berkaca - kaca.

__ADS_1


"Aku merusak penampilan kita!!!" air mata Grece pecah bersamaan dengan bentakannya, Grece pun menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Naomi berjalan menuju dudukan gitar dan menaruh gitarnya didudukan itu lalu berjalan mendekati Grece, dengan tepukan lembut di punggung Naomi berusaha menenangkan Grece yang menangis.


"Tidak, kamu tidak merusak penampilan kita. Maaf aku memilih lagu yang membebanimu ya? ayo kita ganti saja lagunya dengan..." ucapan Naomi dipotong oleh Grece, dengan tatapan mata tajam namun air mata tetap mengalir saat itu Grece memandang wajah Naomi.


"Kalau sebuah handphone rusak dilayarnya, bukan berarti kamu harus mengganti seluruh handphone nya kan?! yang cacat dari penampilan tadi adalah aku, maka aku saja yang diganti!!" bentak Grece saat itu kepada Naomi, Justin berjalan mendekati Grece dan menepuk kepalanya beberapa kali. Grece menatap Justin dengan air mata yang masih mengalir deras di pipinya, Justin tersenyum menatap Grece.


"Kalau begitu biarkan saja layar handphone nya rusak, selama bisa dipakai maka tidak masalahkan? bukankah yang terpenting kenangannya saat handphone itu digunakan? apa kamu tidak ingin menjadi kenangan indah itu bersama komponen - komponen lainnya?" tanya Justin terdengar senang, air mata Grece pun semakin deras mengalir. Perlahan Grece menatap Naomi yang duduk disebelahnya, Naomi pun tersenyum manis menatap Grece yang menatapnya dengan sendu


"Maaf Naomi!! aku beban di tim, semoga kamu gak keberatan aku gak mau diganti!!" ucap Grece sembari memeluk Naomi dengan erat, Naomi pun memeluk erat Grece dengan sedikit belaian lembut dikepalanya.


"Tidak, kamu tidak akan terganti. Kamu tetap sahabatku apapun yang terjadi terhadap band ini" timpal Naomi dengan nada yang terdengar lembut berusaha menenangkan Grece, mendengar ucapan Naomi itu membuat Grece semakin menangis.


"Itu artinya kalau band hancur karena permainanmu, maka kamu tetap sahabatnya walau kami tetap menyalahkanmu" celetuk Jester ditengah sahdunya tangisan Grece, mendengar celetukan Jester saat itu membuat Grece marah dan mengambil apapun didekatnya lalu melemparkannya secara betubi - tubi kearah Jester


"Mending kamu diam saja Jester bodoh!!!" bentak Grece menatap Jester, beberapa kali Jester pun tertimpuk benda - benda yang dilempar membabi buta oleh Grece. keributan kembali terjadi diruangan itu, Jester dan Grece yang bertengkar hebat, Justin yang berusaha mengehentikan Grece untuk terus melempar, Luke dan Harry yang tertawa melihat Jester dan Grece seperti kucing dan anjing, dan Naomi yang berusaha menenangkan Jester walau dirinya tidak dapat menahan tawa melihat tingkah laku Jester dan Grece.


Matahari pun terbenam, Jester dan Naomi berpamitan kepada teman - temannya yang lain dan segera akan melanjutkan perjalanan untuk pulang. Namun baru sampai parkiran kampus saat itu, Naomi menarik lengan Jester agar berhenti berjalan. Jester berbalik menatap Naomi, tapi tiba - tiba Naomi menundukkan kepalanya menatap paving diparkiran menghindari kontak mata dengan Jester.


"Ada apa Naomi?" tanya Jester heran


"Uumm... Jester, kamu tahukan... aku gak bisa langsung pulang?" tanya Naomi agak terbata, sejenak Jester tersadar


"Ooh iya, kamu mau kerumah sakit. Mau aku pesankan..." belum selesai kalimat Jester, Naomi mencubit perut Jester dan menatap Jester dengan wajah jutek


"Aaaawww!! Naomi sakit!! apa sih?!" jerit Jester karena sakitnya cubitan Naomi saat itu, wajah jutek Naomi tidak hilang meski cubitan nya lepas


"Tawarkan diri..." celetuk Naomi dengan nada yang terdengar kesal


"Hah? apa mak..." ucapan Jester kembali dipotong oleh cubitan Naomi diperut Jester


"AAAAAA!! Naomi!! cukup, aku gak ngerti maumu!!" teriak Jester, Naomi kembali melepaskan cubitannya dan tetap menatap Jester dengan jutek.


"Tawarkan dirimu untuk mengantarku!!" agak membentak Naomi katakan itu sembari terus mencubit perut Jester bertubi - tubi, Jester pun berlari kesana kemari menghindari cubitan Naomi namun Naomi tidak membiarkan Jester pergi dan terus mengejarnya.


"Iyaa!! iyaaa!! apa kamu mau aku antar Naomi?! tolong jangan cubit lagi!!!" teriak Jester saat itu terdengar pasrah, Naomi menghentikan larinya dan kemudian tersenyum menatap Jester.


"Boleh kalau kamu memaksa, terima kasih Jester" jawab Naomi terdengar senang, lalu Naomi berbalik dan berjalan menuju mobil mereka yang terparkir tidak jauh dari sana. Walau kesal saat itu Jester tidak dapat berbuat apa - apa, dengan langkah berat mengikuti Naomi dari belakang sembari terus menatap punggung Naomi.


Didalam mobil Mercedes Benz V260 itu, Jester dan Naomi memasang sabuk pengamannya dan bersiap akan berangkat. Wajah kesal Jester tidak dapat Jester sembunyikan, namun Naomi terlihat tidak peduli dan memberikan peta dihandphonenya arah menuju rumah sakit yang akan mereka datangi. Jester memperhatikan peta itu dan langsung menginjak gas untuk segera berangkat, keduanya pun terdiam dipadatnya jalan perkotaan pada malam hari itu.


"Kamu... akan bertemu Daniel disana kan?" tanya Jester dengan suara yang terdengar kesal, Naomi mengalihkan pandangannya menatap Jester dengan tatapan datarnya. Jester menoleh menatap wajah Naomi dengan raut wajah kesal, tidak lama Naomi tersenyum.


"Aku cinta kamu" dengan senyuman Naomi mengatakannya, ucapan Naomi saat itu membuat Jester memerah dan detak jantungnya berdetak sangat kencang.

__ADS_1


"Naomi!!!! gak lucu!!!!" teriak Jester didalam mobil, Naomi pun tertawa terbahak - bahak dengan respon Jester saat itu. Pertengkaran kecil pun terjadi didalam mobil yang melaju pelan menuju rumah sakit dimana Becca dirawat, di malam yang cerah itu Jester dan Naomi terlihat seperti sepasang kekasih sungguhan walau sampai saat ini mereka adalah sepasang kekasih kontrak.


__ADS_2