
"Jika memang itu yang kamu khawatirkan, tenang saja dan ingat perkataan ku ini baik - baik Jester. Aku tidak akan mengajakmu untuk berpacaran, kamu juga tidak mencintaiku lagi tapi itu tidak apa - apa. Karena itu... biarkan aku saja yang mencintaimu" ucap Camilla sebelum akhirnya pintu lift terbuka dan Camilla meninggalkan Jester di koridor kampus.
Siang menjelang Sore, disalah satu universitas swasta terkenal yang terlihat sepi dari aktifitas karena mahasiswa dan mahasiswi sedang menikmati libur akhir semester ganjil. Di fakultas ekonomi terlihat beberapa mahasiswa dan mahasiswi yang berkumpul diberbagai tempat yang masih merupakan area kampus, salah satunya di lantai enam gedung A terlihat Jester masih berdiri menatap pintu lift yang baru tertutup setelah Camilla masuk dan turun kelantai paling dasar.
Sikap Camilla yang tiba - tiba berubah membuat Jester terkejut, ucapan Camilla sedikit membuat Jester terheran. Tidak seperti Camilla yang biasanya, namun Jester memilih mengabaikan ucapan Camilla dan memilih untuk kembali fokus kepada menyusun rencana untuk kemenangan Selena saat mengikuti seleksi kedua nanti.
Setelah cukup lama Jester termenung, Jester mulai menggerakkan kakinya untuk kembali berkumpul dengan teman - temannya yang sedang menunggu didepan ruang kantor dekan. Ditengah perjalanan Jester bertemu dengan Naomi, Luke, Harry, Justin, Grece dan Selena yang berjalan mendekati Jester, dengan wajah yang terlihat khawatir Naomi langsung berlari mendekati Jester.
"Jess... ada apa?" tanya Naomi, tangan Jester menyentuh kepala Naomi dan mengelusnya dengan lembut. Jester paham ada kecemburuan di hati Naomi saat dirinya mengejar Camilla.
"Aku mencoba memberi pengertian pada Camilla dan ternyata gagal, sepertinya satu - satunya cara cuma membuat Selena memenangi ujian seleksi" jawab Jester dengan tenang, Selena pun tersenyum sinis mendengar jawaban Jester.
"Tapi karena kita sudah terjebak rencananya, maka menurutku ini tidaklah mudah. Dia pasti sudah mempersiapkan segala sesuatunya kan" timpal Selena terdengar tanpa beban
Selena yang memahami sifat licik Camilla mencoba untuk menyadarkan teman - temannya bahwa semua yang terjadi sudah direncanakan dengan matang oleh Camilla, hal itu Selena lakukan agar semua temannya tidak terlalu menaruh harapan yang tinggi padanya. Terlebih Selena sadar diri dengan kemampuannya yang jauh dibawah Camilla adalah bukan hal yang mudah untuk mengalahkannya.
"Mungkin kamu benar, tapi bukan berarti Camilla akan menang mudah. Kamu punya potensi, tinggal sedikit mendapat polesan maka semua akan berjalan lancar" ucap Justin menimpali pesimisme Selena, sejenak mereka semua terdiam.
"Aku masih heran sesuatu" celetuk Justin dengan wajah yang terlihat begitu heran menatap Naomi, merasa sedang ditatap dengan wajah yang menunjukkan kebingungan membuat Naomi ikutan bingung menatap balik Justin.
"Kamu heran apa dariku Justin?" tanya Naomi yang bingung karena Justin menatapnya dengan ekspresi seperti itu.
"Kamu kan dapat contekan dari Jester, kenapa bisa mendapat posisi terlampau jauh dari posisi Selena dan Camilla?" tanya Justin dengan nada yang terdengar heran, Naomi terdiam dengan wajah datar menatap Justin.
Mendadak Grece, Harry, terlebih Jester teringat bahwa Naomi sudah memegang contekan yang dipersiapkan oleh Jester agar Naomi bisa dengan mudah mengerjakan soal ujian dan dapat memenangkan seleksi dengan nilai yang begitu tinggi, mereka semua heran seketika kenapa Naomi masih kalah terhadap Camilla. Luke yang baru mengetahui hal itu juga ikut kaget dan heran bagaimana bisa Naomi masih gagal saat mengikuti seleksi sementara sikap berbeda ditunjukkan oleh Selena yang tampak biasa saja dengan pertanyaan Justin, Selena seperti sudah mengetahui jawabannya.
"Loh iya, apa kamu lupa letak setiap materinya Naomi?" tanya Jester yang ikutan bingung, sontak Luke, Harry, Grece dan Selena menatap Naomi bersamaan. Naomi masih terdiam seribu bahasa dengan ekspresi wajah datarnya, perlahan kedua tangan Naomi menutup wajahnya.
"Aku terlalu takut untuk membuka contekan itu, jadi aku berusaha mengingat semampuku setiap materi yang aku pelajari tadi" terdengar malu dan sedih yang bercampur menjadi satu Naomi menjawab pertanyaan Justin dan Jester
"Hah?!! jadi tadi kamu tidak membukanya sama sekali Naomi?!!" tanya Grece terdengar kesal mendengar jawaban Naomi, Justin pun tertawa geli dan merasa percuma Jester berusaha secepatnya membuatkan Naomi contekan.
"Untung cantik" celetuk Jester, celetukan itu membuat Naomi menatap Jester geram dan mencubit perut Jester begitu kuat dan penuh emosi.
Celetukan Jester juga didengar oleh teman - teman Jester yang sontak membuat mereka kesulitan untuk menahan tawa. Sosok Naomi yang cantik dan selebgram terkenal dengan jutaan fans seakan menjadi keuntungan sendiri walau dalam hal akademik tidak terlalu menonjol. Tawa mereka semakin membuat Naomi malu dan kesal terhadap Jester dan membuatnya melampiaskan kekesalannya pada Jester saat itu juga.
"AAAA!!! Naomi sakit!!" teriak Jester karena kesakitan
"Dasar Jester bodoh!! kenapa tidak kamu berikan saja kertas contekan itu padaku?!!" tanya Luke penuh emosi
"Ya mana mungkin aku berikan padamu? kamu gak punya harapan, gimana kalau kamu yang jadi pendampingku?! kamu hanya akan mempermalukan kampus!!" jawab Jester dengan bentakan juga
"Aku kan bisa memberikan posisiku pada Naomi kalau memang aku yang terpilih, dasar bodoh!!" timpal Luke masih terdengar emosi
"Mana bisa begitu bodoh!! kalau kamu mengundurkan diri maka tetap saja nanti yang terpilih antara Camilla dan Selena!! Siapa pencetus ide bodoh seperti itu?!!" tanya Jester penuh emosi, serentak Naomi, Harry, Justin, dan Grece menunjuk Luke.
"Hah? kapan aku mengatakannya?!" tanya Luke penuh emosi menatap teman - temannya itu secara bergantian.
"Sejak aku mengingatkanmu kalau kamu peringkat tiga tiga tiga" jawab Selena tanpa beban
"Sudah aku duga itu memang ide bodoh dari si gorila ini" celetuk Jester dengan sindiran, adu jotos antara Jester dan Luke pun terjadi di koridor kampus lantai enam pada sore hari itu.
Tidak lama setelah pertengkaran antara Jester dan Luke, mereka semua berpisah untuk pulang kerumah masing - masing dalam keadaan masih harap - harap cemas. Bagaimanapun ikatan diantara mereka semua sangat kuat semenjak meninggalnya Luna, sehingga dibawah alam sadar mereka ada keinginan kuat untuk saling melindungi dan menjadikan Camilla sebagai musuh bersama.
__ADS_1
Jester dan Naomi segera melajukan mobil Ferarri 458 untuk pulang ke kediaman Gates, dimana saat ini kediaman Gates menjadi tujuan mereka pulang saat ini. Perjalanan yang memakan waktu satu jam lebih itu diisi dengan obrolan tentang rencana Jester untuk memenuhi tantangan Arthur, Jester menjabarkan secara detail rencananya pada Naomi.
Di perbukitan yang jauh dari pusat kota, sebuah Ferrari 458 melaju cukup cepat mendekati sebuah rumah dengan pagar tinggi yang mengikuti kontur perbukitan. Rumah berwarna putih dengan design arsitektur klasik ala eropa membuat keindahan rumah besar itu nampak megah, pilar - pilar dari marmer yang begitu tinggi dan besar menambah kemewahan dan keindahan yang bahkan bisa dilihat dari jauh. Dari pagar menuju pelataran rumah saja harus ditempuh minimal dengan sebuah motor agar tidak terlalu kelelahan karena begitu jauhnya jarak yang harus ditempuh jika dengan berjalan kaki. Pagar terbuka begitu Ferarri 458 yang dikemudikan oleh Jester semakin mendekati pintu pagar, semua penjaga yang menggunakan tuksedo hitam langsung menunduk memberi hormat ketika Ferrari 458 Jester melewati mereka. Hingga sampai di pelataran, Jester dan Naomi turun dari mobil dan langsung disambut salah satu penjaga pintu utama rumah.
"Selamat malam tuan muda Jester" sapanya dengan sopan sambil menundukkan kepalanya
"Ya selamat malam juga" ucap Jester sembari memberikan kunci mobilnya, penjaga itu segera menerima kunci mobil lalu membawa Ferarri 458 itu menuju garasi.
Naomi langsung melingkarkan kedua tangannya ke lengan kanan Jester lalu berjalan bersebelahan, mengetahui Naomi yang masih ketakutan berada dirumah itu membuat Jester khawatir. Sejenak Jester menghela nafasnya lalu menatap Naomi yang menyembunyikan wajah di bahu Jester, menyadari Jester menatap membuat Naomi mengangkat kepala untuk membalas tatapan Jester.
"Masih takut?" tanya Jester mencoba menenangkan Naomi, hanya dengan anggukan kepala Naomi merespon perkataan Jester.
"Mau segera pergi dari sini?" dengan senyuman Jester kembali bertanya pada Naomi, namun Naomi lagi - lagi hanya menganggukkan kepalanya merespon pertanyaan Jester.
"Sabar ya, temani aku dulu" sambil mengelus kepala Naomi saat Jester mengatakannya, Naomi pun tersenyum manis saat Jester mengelus kepalanya dengan lembut. Tidak lama terlihat William sedikit berlari menuruni tangga untuk mendekati Jester, melihat William yang begitu terburu - buru membuat Jester dan Naomi mengalihkan pandangannya menatap William.
"Nak, laporan keuangan Exo Fashion and Style sudah selesai dan itu bukan lagi sebuah perusahan yang mengalami kerugian tapi lebih ke sebuah perusahaan yang pesakitan" ucap William begitu sudah berdekatan dengan Jester
"Separah itu?" tanya Jester seakan tidak percaya dengan perkataan William, dengan gestur tangan William mengajak Jester untuk mengikutinya.
Kabar yang kurang membuat Jester senang harus didengar dari William membuat Jester merasa hari ini adalah hari yang kurang beruntung baginya,setelah kejadian di kampus Jester berharap dirumah kakeknya akan akan kabar yang membuatnya sedikit tenang. Tetapi kenyataannya malah sebaliknya, bahkan baru saja dirinya dan Naomi memasuki rumah sudah disambut dengan kabar yang lagi - lagi cukup mengganggu bagi Jester. Kali ini Jester merasa otaknya harus diperas maksimal dengan beberapa kejadian yang menimpanya. Sosok pria sejati yang ditanamkan oleh William sang ayahlah yang membuat Jester begitu semangat dengan semua yang dia hadapi.
"Kemari, ayo kita bahas" ajak William lalu kembali sedikit berlari menaiki tangga lagi
Dengan sigap Naomi melepaskan lingkaran tangannya dari lengan Jester dan segera berlari mengejar William, disebuah ruangan dengan sofa dan meja berada ditengahnya terlihat Marrie sedang duduk disalah satu sofa dengan ekspresi tidak tenang dan Julius sedang berdiri dekat dengan pintu masuk. Kedatangan Jester dan Naomi di ruangan itu membuat Marrie merasa lega, dengan tatapan mata yang terlihat begitu cemas Marrie memulai obrolan bahkan sebelum Jester duduk.
"Rencanamu tidak akan berjalan dengan lancar, ini sudah dalam tahap menuju kehancuran namun masih bisa bertahan karena keuangan Gates grup yang sangat kuat menopang perusahan pesakitan ini" celetuk Marrie
Lembar demi lembar laporan tentang perusahaan Exo Fashion and Style yang Jester terima dari Marrie dia perhatikan dengan detail dan hati - hati. Melihat laporan itu membuat Jester mengerutkan dahinya, laporan keuangan dari perusahan dibawah naungan Gates grup begitu buruk dan parah. Beban - beban hutang dan gaji para direksinya benar - benar menguras kas perusahaan, seakan orang - orang yang terlibat didalam perusahaan itu ingin menghancurkan perusahan dengan sesegera mungkin.
"Bagaimana bisa terjadi seperti ini?" tanya Jester dengan heran sembari mengalihkan pandangannya menatap Julius
"Tuan Andrews memang tidak ingin Exo Fashion and Style dapat menyaingi Arielle Grup dan ini sudah berlangsung sejak dua puluh tahun yang lalu hingga sekarang, jika saja Gates grup melepaskan perusahaan itu lebih cepat mungkin kerugian Gates grup tidak akan setinggi itu" jawab Julius terdengar tenang, Jester kembali mengerutkan dahinya mendengar jawaban Julius.
"Sampai rugi hampir satu juta dollar? apa kakek sehat?" tanya Jester dengan nada yang sedikit menekan dan dengan keheranan.
"Itu sepadan dan tidak bisa dianggap sebuah kerugian" jawab Julius dengan sedikit senyum yang terlihat digaris bibirnya, jawaban Julius membuat Jester, William, Marrie dan Naomi heran.
"Satu juta dollar dikeluarkan untuk membesarkan cucu perempuan satu - satunya di keluarga Gates, tuan besar Arthur sebenarnya menyayangi nona Sarah" ucap Julius meneruskan kalimatnya, sontak kalimat Julius membuat Jester, William, Marrie dan Naomi terkejut.
"Tapi bukannya papa pingin menghancurkan Arielle?!" tanya William dengan nada yang begitu terdengar kaget
"Tuan William.... bagi tuan besar Arthur yang ingin segera istirahat dari dunia bisnis, menentukan siapa yang layak untuk menjadi penerusnya adalah hal yang wajar. Disini tuan besar Arthur sedang menguji siapa yang lebih pantas antara tuan muda Jester atau nona Sarah" jawab Julius dengan tenang, jawaban itu membuat William terdiam.
"Maafkan Julius, tapi selama ini tuan besar Arthur menganggap anak - anaknya adalah kegagalan. Bahkan berharap terhadap putra - putra dari tuan Andrews dan Philips pun tidak bisa karena mereka semua juga tidak kompeten untuk menggantikan tuan besar Arthur" tegas Julius mengatakannya dengan sedikit membungkukkan badan dihadapan William.
"Kalau begitu biarkan saja Sarah yang menang, aku tidak tertarik untuk..." belum selesai Jester berkata, Julius memotong.
"Yang kalah akan dihancurkan, ingat tuan muda Jester... Jika tuan muda kalah dari nona Sarah, itu artinya tuan muda akan kehilangan nona muda Scott" timpal Julius mengingatkan Jester, yang membuat Jester seketika menghela nafas panjang dan kembali fokus akan tantangan dari kakeknya.
Naomi yang berada disana bisa merasakan ketegangan yang terjadi, melihat Jester yang kembali bersemangat setelah mendengar ucapan Julius membuat Naomi merasa terharu. Kekasih yang dia cintai berusaha begitu keras untuk memperjuangkan hubungan dengannya, pernikahan mereka yang akan terjadi empat bulan lagi seperti harga mati yang tidak boleh gagal bagi Jester. Bahkan melihat keseriusan dari kedua orang tua Jester pun juga membuat Naomi terharu dan bahagia karena merasa begitu berharga bagi Jester dan keluarganya.
"Papa, ada kabar dari nyonya Jessica?" tanya Jester dengan suara yang terdengar sedikit panik
__ADS_1
"Dia sedang menunggu kabar dari kita" jawab William tegas
"Ayo kita temui nyonya Jessica sekarang" timpal Jester sembari berdiri dan hendak pergi, kepanikan Jester saat itu sangat terasa bagi Naomi, William dan Marrie.
"Aku ikut!" celetuk Naomi, namun Marrie menarik tangan Naomi agar dia tetap berada ditempat itu.
"Biarkan Will dan Jess yang berangkat, kita tunggu kabar dari mereka" ucap Marrie
"Tapi..." Naomi ingin menolak perintah Marrie, namun gelengan kepala Marrie memotong perkataan Naomi. Dengan berat hati Naomi duduk dan diam disana dengan penuh kecemasan.
Jester dan William berjalan menuju pelataran rumah, disana mereka berdua bertemu dengan Arthur yang terlihat baru saja sampai rumah. Ditemani dua orang pengawalnya, Arthur terlihat menatap William dan Jester secara bergantian dengan ekspresi wajah yang datar.
"Mau kemana kalian?" tanya Arthur dengan suara yang menekan
"Ada sedikit urusan" jawab Jester singkat
"Gates muda... waktumu tidak banyak karena pasokan uang untuk menopang Exo akan segera aku hentikan. Manfaatkanlah dengan baik sisa waktu itu" ucap Arthur dengan nada yang terdengar ada penyesalan atas sikap Jester, bagi Arthur apa yang sedang dilakukan Jester merupakan sebuah kesia - siaan dan tidak serius untuk menyelesaikan tantangan dari Arthur.
"Kakek... bukankah sudah aku bilang, masalah Arielle serahkan saja padaku. Kakek santai saja dirumah ini dengan kursi malas kakek, dalam waktu satu bulan ini akan ada perubahan besar" timpal Jester terdengar santai tanpa beban, William mengalihkan pandangannya menatap Jester.
"Benarkah?" tanya William dengan heran, Jester menoleh menatap William dengan wajah kesal.
"Ooh iya!! kamu benar! papa akan kalah kali ini dari anak kecil ini!" penuh semangat William mengatakannya sambil menunjuk Arthur dengan jari telunjuknya, Jester pun menepuk dahinya melihat tingkah William yang tidak keren sama sekali.
"Aku tunggu" ucap Arthur lalu pergi meninggalkan Jester dan William di pelataran rumah
Tanpa pikir panjang Jester dan William melangkahkan kaki menuju garasi rumah untuk memilih mobil lalu segera meninggalkan kediaman besar Gates menuju kantor utama Arielle Corp, sebelum berangkat William terlebih dahulu menelepon Jessica untuk janjian bertemu di kantor Jessica malam itu. Dua jam berlalu, melewati perjalanan malam yang indah dan cerah. Jester dan William berhenti didepan kantor Jessica dan Sarah, begitu turun mereka langsung dihadang dua orang satpam yang menjaga pintu masuk.
"Maaf.... ada keperluan apa?" tanya salah satu satpam dengan sopan
"Kami ada janji dengan nyonya Jessica, katakan William dan Jester sudah datang" jawab William, mendengar nama keduanya dengan sigap kedua satpam itu mempersilahkan William dan Jester untuk segera menuju lift.
"Tuan - tuan sudah ditunggu oleh nyonya dan nona Arielle" ucap satpam itu sembari menekan tombol lift,
Begitu pintu lift terbuka Jester dan William segera masuk kedalam untuk naik kelantai lima dimana Jessica dan Sarah sedang menunggu mereka, tidak lama pintu tertutup dan kembali terbuka ketika William dan Jester sampai dilantai lima. Disana suara bentakan Sarah dan tangisan Jessica begitu terdengar bahkan sebelum Jester dan William sampai di ruangan kantor Jessica, wajah Jester dan William kompak terlihat menyesal telah datang malam itu.
"Pertengkaran keluarga... bakal canggung ini" celetuk Jester sambil menggeleng - gelengkan kepalanya.
"Sepertinya pertengkaran ini dimulai saat kita janjian bertemu, tadi suara Jessica terdengar baik - baik saja" timpal William
"Gak ada pilihan lain" ucap Jester lalu melangkahkan kakinya menuju sumber suara pertengkaran diikuti William, disebuah ruangan yang tertutup suara Jessica dan Sarah yang bertengkar begitu jelas terdengar. Tanpa mengetuk pintu, Jester membuka pintu dan membuat Jessica dan Sarah menoleh menatap Jester dan William.
"Halo... aku tahu kami mengganggu tapi kami juga tidak punya banyak waktu" ucap Jester begitu pintu terbuka dan menatap Jessica dan Sarah yang berdiri saling berhadapan.
"Kamu ingin mengambil perusahan ini dariku?! langkahi dulu mayat ku Jester!!" bentak Sarah begitu emosional
"Tenang dulu, kita bicarakan ini baik - baik" jawab Jester dengan suara yang terdengar berusaha menenangkan Sarah
"Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi!! Aku tidak ingin diinjak oleh siapapun dan tidak ingin dibawahi oleh siapapun bahkan oleh keluarga Gates itu!!" bentak Sarah lagi
"Kamu sudah tahu siapa dirimu yang sebenarnya?" tanya William menekan Sarah membuat Sarah sempat terdiam beberapa saat sembari menatap William.
"Aku... tahu... lalu apa? terus kenapa? nyatanya memang aku dibuang oleh pria yang seharusnya aku sebut ayah... nyatanya memang dia tidak peduli padaku... nyatanya... nyatanya aku berjuang sendiri selama ini... itukan yang jelas - jelas nyata... aku anak yang tidak diharapkan.... aku berjuang sendiri selama ini untuk menepis semua hal buruk yang melekat padaku...." jawab Sarah dengan air mata yang mulai membasahi pipinya.
__ADS_1