Aku Pinjam Dia

Aku Pinjam Dia
Satu Minggu Terpisah


__ADS_3

Malam cerah berganti dengan minggu pagi yang sedikit mendung, di sebuah rumah mewah dengan pagar menjulang tinggi yang terletak diujung bukit terlihat beberapa pria dengan tuksedo dan berkacamata hitam sedang berjaga disekitaran area rumah. Didalam rumah yang berlantai empat dengan banyak ruangan didalamnya itu Jester berjalan - jalan mengelilingi rumah dan membuka setiap pintu dirumah itu untuk melihat bagian dalamnya dan berharap dapat bertemu dengan Naomi, namun setelah banyak pintu yang dapat Jester buka tidak satu pun Jester bertemu dengan seseorang.


"Aaargghh!! rumah macam apa ini, pintunya banyak banget!!" dengan teriakan yang terdengar kesal dan putus asa Jester mengucapkannya


"Ada sekitar 112 ruangan yang terbagi menjadi kamar, kantor, ruang hiburan, dan lain - lain lagi, sudah jelas mengapa pintunya terlihat banyak sekali tuan muda Jester" timpal Julius sembari berjalan mendekati Jester, dengan wajah kesal Jester berbalik menatap Julius yang tersenyum.


"Dari sekian banyak ruangan, Naomi ada dimana?" tanya Jester terdengar kesal, Julius pun tertawa mendengar pertanyaan Jester.


"Tuan muda Jester masih tidak boleh bertemu dengan nona muda Scott atas perintah tuan besar Arthur Gates" jawab Julius dengan sedikit suara tawa yang terdengar, Jester pun menghela nafasnya sejenak.


"Aku rindu padanya... semalaman aku teringat - ingat suara tawa dan ketika dia kesal padaku... tidak bisakah aku hanya mendengar suaranya?" pinta Jester dengan nada yang terdengar sedih dan memelas, Julius hanya menggelengkan kepalanya beberapa kali merespon permintaan Jester.


"Kalau begitu beritahu aku kenapa aku tidak dapat menelepon Naomi lewat handphone miliknya?" tanya Jester dengan suara yang terdengar menekan


"Nona muda Scott ada didalam ruangan yang terdapat pengacak sinyal, jadi segala bentuk hubungan nirkabel akan terganggu" jawab Julius


"Apa dia baik - baik saja?" tanya lagi Jester masih dengan suara yang menekan, Julius menganggukkan kepalanya beberapa kali untuk merespon pertanyaan Jester.


"Aku menjamin nona muda dalam keadaan sangat baik, dia memperoleh segalanya disana. Tidak ada kebutuhannya yang kurang satupun dan selalu ada pelayan wanita yang siap untuk memenuhi semua permintaan nona muda Scott. Satu - satunya yang tidak didapat oleh nona muda adalah keluar dari kamar itu" jawab Julius mencoba membuat Jester berhenti mengkhawatirkan Naomi, mendengar jawaban itu membuat Jester kembali menghela nafasnya.


Mendengar penjelasan Julius membuat Jester semakin yakin jika Naomi baik - baik saja, lagipula sepanjang Jester membuka banyak pintu tadi tidak satupun dari ruangan itu yang terlihat seperti ruangan penyiksaan. Jester hanya menyesalkan kenapa Naomi harus tidak diberi akses untuk berkomunikasi dengannya.


Jester kesal karena tidak dapat menghubungi dan memberi kabar kepada Naomi tentang keberangkatannya untuk lomba antar universitas. Tanpa bisa mengabari Naomi, Jester khawatir Naomi akan over thinking kepadanya dan Selena ditempat lomba nanti. Ingin melakukan sesuatu namun Jester sadar tidak ada yang bisa dia lakukan untuk Naomi saat ini.


"Baiklah... terima kasih informasinya" ucap Jester sembari hendak meninggalkan koridor itu


"Tuan muda..." celetuk Julius saat Jester baru melangkahkan kakinya beberapa langkah, mendengar namanya dipanggil Jester langsung berhenti berjalan lalu berbalik.


"Bagaimana dengan rencana tuan muda? apa ada masalah? ada yang bisa aku bantu?" tanya Julius kepada Jester


"Untuk saat ini tidak ada, aku juga harus pergi selama seminggu ini untuk keluar kota" jawab Jester


"Keluar kota? apa ada hubungannya dengan..." belum selesai Julius berkata, Jester memotong.


"Tidak ada, aku keluar kota karena aku punya kewajiban sebagai mahasiswa untuk mengharumkan nama kampus. Aku terpilih untuk mewakili kampus dalam lomba tingkat nasional" timpal Jester terdengar datar, perkataan Jester sedikit membuat Julius terkejut dan heran.


"Anda... tidak khawatir tuan muda akan gagal" terbata Julius mengatakannya, seakan Julius kehilangan kata - kata untuk merespon perkataan Jester yang terkesan benar - benar meremehkan tantangan Arthur. Mendengar perkataan Julius membuat Jester tertawa terbahak - bahak, tawa Jester kembali membuat Julius terkejut.


"Pak Julius..." belum selesai Jester berkata, Julius memotong.


"Julius saja tuan muda" timpal Julius, Jester dengan wajah datarnya menatap Julius yang juga menunjukkan ekspresi datar.


"Aku membencimu disaat seperti ini" ucap Jester dengan datar

__ADS_1


Mulai malas untuk meladeni Julius yang enggan untuk disebut dengan sebutan 'pak' membuat Jester meluapkan kekesalannya. Jester memang kesulitan untuk hanya sekedar menyebut nama Julius, namun kali ini Jester seperti sudah menyerah untuk berdebat masalah ini dengan Julius.


"Terima kasih atas perhatian tuan muda Jester" timpal Julius juga dengan datar


"Arrgh!! sudahlah, pokoknya aku akan segera selesaikan sebelum bulan ini berganti. Aku hanya memintamu untuk merahasiakan semuanya dari kakek, lalu saat aku memerlukan bantuan mu aku hanya ingin kamu melakukan sesuai yang aku minta tanpa banyak tanya!" dengan kesal Jester mengatakannya lalu kembali berjalan meninggalkan Julius di koridor rumah itu.


Pagi itu Jester, William, dan Marrie meninggalkan kediaman besar Gates menggunakan Mercedes Benz S 450 milik Arthur, mereka bertiga pergi menuju kampus Jester karena hari ini adalah hari dimana Jester harus pergi mewakili kampus untuk ikut lomba antar universitas bersama dengan Selena. Menggunakan kendaraan khusus kampus membuat Jester dan Selena harus berkumpul di kampus untuk kemudian mereka berangkat bersama - sama, hal itulah yang membuat Jester harus diantar oleh William dan Marrie.


"Kakek hari ini sepertinya sedang mengadakan meeting dengan ahli keuangannya setelah mendengar saham Hotel Gates dilepas ke pasar" ucap William ditengah perjalanan mereka bertiga


"Bagus, setidaknya ada ketertarikan dari kakek sesuai prediksi ku" timpal Jester


"Informasi dari Naoko mengatakan jika dalam tiga hari ini saham Scott Hospital akan lepas ke pasar, sayangnya hari ini... Evans jatuh sakit sampai harus membuatnya dirawat intensif dirumah sakit" ucap Marrie dengan suara yang terdengar sedih, wajah William dan Jester terlihat sedih mendengar kabar itu.


"Anaknya sedang berada dikandang singa dan tersekap disana, bagaimana mungkin sebagai ayah dia tidak kepikiran. Itu yang mungkin membuat kesehatannya menurun" timpal William dengan suara yang terdengar sedih.


"Papa mama, bisakah setelah ini kalian menemui ayah dan katakan padanya jika Naomi dalam keadaan baik - baik saja? aku mendapatkan informasi itu langsung dari pak Julius" pinta Jester, perkataan Jester membuat William langsung mengalihkan pandangannya menatap Jester.


Keadaan Evans yang memburuk sejak mendengar kabar tentang Naomi yang disekap tentu saja membuat Jester khawatir. Selain khawatir tentang keadaan Evans, Jester juga takut Naomi mendengar kabar tentang keadaan ayahnya yang memburuk karena mengetahui dirinya disekap oleh Arthur. Kerena itulah Jester meminta kepada orangtuanya untuk memberikan kabar tentang Naomi kepada Evans dan Naoko.


"Benarkah Julius mengatakannya? apa dia mengatakan dimana nona Naomi disekap?" tanya William terdengar bersemangat, bagi William asal ada sedikit petunjuk dimana Naomi disekap itu sudah cukup untuk menemukannya karena William sangat menghafal kediaman Gates secara keseluruhan.


"Tidak, pak Julius tidak mengatakan apapun selain mencoba membuatku berhenti mengkhawatirkan keadaan Naomi karena dia berada ditempat aman dan nyaman" jawab Jester, mendengar jawaban Jester membuat William dan Marrie menghela nafasnya secara bersamaan.


"Sangat berlebihan!! kalian hanya terpisahkan dalam waktu satu bulan, tidak usah berlagak seakan kalian akan berpisah selama bertahun - tahun!!" bentak William begitu kesal


"Aku kan hanya curhat karena aku merindukan Naomi!!" bentak balik Jester kepada William.


"Dasar anak bodoh!! berhenti membuat kami orang tua ini ingin kembali merasakan darah muda!" bentak William lagi begitu terdengar iri melihat percintaan anak muda, Marrie pun tertawa terbahak - bahak melihat ayah dan anak yang kembali bertengkar didepan matanya. Tidak lama Marrie yang duduk di kursi belakang tiba - tiba merangkul Jester dan William hingga kepala mereka bertiga saling menempel, senyum Marrie pun merekah.


"Saat muda mama tidak pernah membayangkan akan memiliki anak sepertimu Jess, terima kasih sudah hadir menemani hidup mama..." celetuk Marrie saat itu, wajah Jester pun memerah ketika mendengar perkataan Marrie.


"Lalu tentangku?" tanya William dengan irinya karena hanya Jester yang diucapkan terima kasih sudah mau hadir dalam hidup Marrie


"Aku tidak menyangka akan mendapat suami bodoh sepertimu" jawab Marrie dengan sedikit suara tawa, William pun terdiam dan kesal karena jawaban Marrie.


"Tapi aku juga merasa beruntung mendapatkan suami yang penuh tanggungjawab sepertimu, aku merasa beruntung hidup ditengah kalian semua dan terima kasih keluargaku" terdengar bahagia Marrie saat mengatakannya, William dan Jester pun tertawa kecil mendengar perkataan Marrie.


Perjalanan yang menghabiskan waktu satu jam itu dipenuhi dengan perasaan bahagia, mereka bertiga mengisi perjalanan itu dengan senda gurau seperti biasa yang seakan menjadi rutinitas mereka setiap kali berkumpul bersama. Momen yang begitu berarti bagi ketiganya setelah melewati masa - masa yang cukup berat semenjak kejadian penculikan yang dilakukan oleh Arthur kepada mereka bertiga, sejak kejadian itu rasanya begitu sulit untuk mendapatkan momen seperti ini, hampir setiap hari dipenuhi ketegangan dalam kediaman kakek Jester. Hingga satu jam lebih berlalu, Mercedes Benz S 450 terlihat mendekat didepan lobby kampus.


Didepan lobby sudah terlihat Selena dengan dua koper sedang berdiri menunggu kedatangan Jester, disana juga terlihat seorang pria paruh baya bernama Alex yang akan menjadi supir bagi Jester dan Selena untuk menuju tempat perlombaan mereka akan dilangsungkan. Tidak lama Jester segera turun setelah berpamitan kepada William dan Marrie, begitu Jester menutup pintu Mercedes Benz S 450 itu langsung melaju meninggalkan Jester.


Jester berbalik lalu berjalan mendekati Selena yang heran menatap Jester, mendapat tatapan seperti itu membuat Jester bingung tentang penampilannya hari ini. Jester beberapa kali memeriksa baju, celana dan sepatunya lalu merapihkan rambut dan mengusap wajah mencoba mencari tahu apa yang membuat Selena terlihat heran menatap Jester.

__ADS_1


"Apa ada yang salah dengan penampilanku?" tanya Jester dengan nada yang terdengar bingung


"Kak... kamu tahukan kita akan pergi selama... satu minggu?" tanya balik Selena saat itu


"Yup" jawab Jester dengan singkat


"Kamu tahukan kita tidak akan pulang pergi?" tanya Selena lagi mencoba memancing Jester


"Iya tahu lah, orang bodoh mana yang akan melakukan perjalanan darat selama delapan jam dalam keadaan mau ikut lomba bergengsi ini?" tanya balik Jester dengan nada kesal, Selena menghela nafasnya.


"Berarti kamu kelupaan dengan barang - barang bawaan mu" ucap Selena mengambil kesimpulan karena Jester tidak membawa apapun selain tas kecil yang biasa Jester bawa untuk menaruh handphone dan dompetnya saat berada diluar ruangan.


"Oh barang bawaan ku, aku memang tidak membawanya" jawab Jester tanpa beban, jawaban Jester membuat Selena memandang Jester dengan wajah seakan jijik.


"Iiuuh... kamu akan menggunakan baju itu selama seminggu?" tanya Selena lagi terdengar jijik membayangkan kejorokan Jester


"Bukan seperti itu!!! haduh... aku akan membelinya ketika disana, aku malas ribet jadi aku memutuskan akan membeli pakaianku disana dan saat aku akan pulang biasanya baju - baju yang aku beli akan aku berikan pada orang - orang yang menginginkannya" jawab Jester


"Itu benar dan aku selalu menjadi yang pertama mengambil pakaian yang hendak dibuang oleh Jester untuk anakku" timpal Alex lalu mengangkat dua koper milik Selena untuk membawanya menuju bagasi mobil Hyundai Staria, bersamaan dengan itu Jester berbalik hendak masuk kedalam Hyundai Staria itu namun tiba - tiba Selena menarik baju Jester untuk menghentikan langkah Jester.


"Kemana Naomi kak?" tanya Selena seketika saat dirinya menarik baju bagian belakang Jester, Jester menoleh menatap Selena.


"Dia... sedang disekap oleh kakekku di rumah kakek... aku dilarang menemuinya sampai rencana ku selesai dilaksanakan" jawab Jester dengan suara yang terdengar sedih, Selena pun terkejut mendengar perkataan Jester.


Selena terkejut saat tahu Naomi disekap oleh kakek Jester, selama ini yang Selena tahu baik Jester maupun Naomi seperti baik - baik saja menjalankan tantangan dari Arthur. Sebagai seseorang yang pernah sangat dekat dengan Naomi, Selena sedikit mencemaskan kepergian Jester yang malah meninggalkan Naomi sedangkan Selena sangat memahami bahwa hanya Jester yang bisa memberikan ketenangan dan rasa nyaman untuk Naomi.


"Lalu kenapa kamu malah pergi?! kamu kan seharusnya me..." belum selesai Selena berkata, Jester memotong.


"Semua rencana ku sudah matang, ini hanya masalah waktu saja sampai akhirnya aku dan Naomi akan kembali bersama" timpal Jester berusaha untuk tenang dan terlihat baik - baik saja, namun Selena memahami jika Jester menyimpan perasaan khawatirnya dalam - dalam agar tidak mengganggu konsentrasi dan fokusnya.


"Aku tahu kamu sedang menyimpan rasa khawatir mu, aku juga memahami ketenangan mu ini juga untuk mendukung rencana mu agar kakek mu lengah dan tidak mewaspadai semua gerak - gerik mu. Tapi..." Selena menggantung kalimatnya lalu tersenyum manis menatap Jester


"Didepan ku kamu tidak perlu berlagak kuat, aku akan mencoba untuk membuatmu benar - benar merasa tenang. Jadi kalau kamu mau... ijinkan aku mendengar segala kegundahan mu selama satu minggu ini" ucap Selena meneruskan kalimatnya yang sempat dia gantung tadi, Jester tersenyum lalu kembali menatap depan memunggungi Selena.


"Kamu tidak harus melakukan itu Selena, antara aku dan kamu sudah jelas akan seperti apa hubungan kita ini. Aku hanya menganggap mu sebagai teman dan sahabatku, jika kamu masih menyimpan rasa cintamu padaku... aku sarankan untuk segera kubur rasa itu dalam - dalam" ucap Jester dengan tegas walau dalam hati Jester terasa berat untuk mengucapkan kalimat yang dapat menyakiti hati Selena, perlahan Selena melepaskan tangannya dari baju Jester.


"Maaf Selena.... aku tidak ingin menyakiti hatimu tapi... aku harus tegas agar tidak terkesan memberikan harapan karena hatiku sudah aku berikan seluruhnya pada Naomi" terdengar sedih saat Jester mengatakannya


"Aku tahu... aku tahu itu semua kak... tapi memendam cinta yang sudah dari dulu tumbuh tidaklah mudah... meski aku tahu cintaku hanya bertepuk sebelah tangan... aku tidak apa, aku memahami resiko itu... karena aku..." sesenggukan Selena membuatnya berhenti untuk berbicara, mendengar Selena yang menangis saat itu membuat Jester berbalik dan menatap Selena yang menunduk.


"...Karena aku sangat bahagia saat disayangi olehmu...meski aku tahu itu bukan perasaan cinta. Dan tentang cinta lamaku yang tidak berbalas ini, tidak akan pernah berakhir... tapi aku tidak apa - apa... aku baik - baik saja.." ucap Selena lalu berlari melewati Jester begitu saja menuju Hyundai Staria yang sudah terparkir didepan lobby kampus, Selena masuk di kursi belakang dan menutup pintunya begitu Selena sudah duduk didalamnya.


"Sial... apa lagi drama hidupku setelah ini" gumam Jester lalu berbalik dan berjalan masuk kedalam mobil milik kampus itu.

__ADS_1


Perjalanan delapan jam menuju kota yang menjadi tuan rumah diadakannya perlombaan bergengsi antar universitas akan dilalui Jester dan Selena, meninggalkan segala masalah beserta Naomi yang masih terkurung didalam kediaman besar Gates membuat Jester seakan enggan untuk pergi. Namun melihat tujuan Jester untuk membuat Arthur lengah, maka hal ini perlu Jester lakukan meski hatinya merasa berat.


__ADS_2