Aku Pinjam Dia

Aku Pinjam Dia
Yang Sedang Berjalan


__ADS_3

Siang menjelang sore yang terlihat cerah, di parkiran rumah sakit Scott terlihat Jester dan Naomi yang berdiri saling menatap. Wajah Naomi nampak terkejut menatap Jester saat mendengar perkataan Jester, sedangkan Jester hanya berwajah datar menatap Naomi.


Keduanya terdiam untuk beberapa saat sejak Jester meminta Naomi untuk menghentikan rencana mereka, bagaimanapun Naomi merasa semua sudah sangat terlambat untuk dihentikan mengingat ini adalah rencana mereka yang sudah direncanakan sejak lama.


Tanpa menjawab apapun Naomi hanya berjalan melewati Jester menuju mobil Mercedes Benz V260 yang terparkir tidak jauh dari tempat mereka berdua berdiri, dengan satu tarikan nafas panjang Jester mencoba untuk memahami keinginan kuat Naomi. Jester berbalik dan berjalan membuntuti Naomi tanpa sepatah katapun hingga mereka masuk kedalam mobil, dengan segera Jester mengemudikan Mercedes Benz V260 itu menuju ke kediaman besar Gates.


"Bukankah itu sangat terlambat untuk saat ini?" tanya Naomi tiba - tiba ditengah perjalanan pulang mereka, Jester kembali menghela nafasnya sejenak sebelum merespon pertanyaan Naomi


"Tidak ada kata terlambat untuk melakukan sesuatu jika hasil akhirnya belum terjadi" jawab Jester terdengar tanpa beban, Naomi menoleh menatap Jester yang memperhatikan jalanan didepannya.


"Apa yang sebenarnya kamu dan ayah bicarakan?" tanya Naomi kembali mencoba menekan Jester untuk bicara, disebuah lampu lalu lintas yang menunjukkan warna merah Jester menghentikan laju mobil lalu menoleh menatap Naomi.


Naomi merasa curiga akan pembicaraan yang terjadi antara Jester dan Ayahnya dan membuatnya merasa ini semua tentang rencana yang akan Naomi lakukan untuk menampilkan sisi lain yang dia pendam selama ini.


"Sepertinya ayah tahu jika selama ini kamu bersikap seperti orang lain" jawab Jester tegas, namun jawaban Jester tidak mengejutkan Naomi dan seakan Naomi sudah tahu itu.


"Mungkin kamu lupa jika aku yang sekarang adalah hasil dari didikan ibu atas permintaan ayah, demi ayah dan ibu aku menggunakan topeng ini meski aku tidak menyukainya" terdengar kesal Naomi saat mengucapkannya, Naomi pun kembali menatap jalanan didepan.


"Kamu membenci topeng mu?" tanya Jester


"Aku... membencinya... Aku juga ingin hidup seperti apa yang aku inginkan, apa salahnya dengan itu? apa kamu juga sudah tidak ingin menerimaku apa adanya?" dengan nada yang sedikit meninggi Naomi mengucapkannya, Jester pun terdiam sejenak lalu kembali menatap jalanan.


Tekad kuat yang Naomi tampakkan membuat Jester hanya mampu mengikuti semua keinginan Naomi, terlebih dirinya sudah berjanji kepada Evans untuk menjaga Naomi. Jester yang merasa Naomi akan bahagia dengan rencananya itu membuat Jester berharap hal ini tidak akan menimbulkan sesuatu yang tidak diinginkan.


"Aku berjanji pada ayah untuk selalu menjagamu, selama itu tidak menyakitimu maka aku akan menuruti keinginanmu" jawab Jester lembut dengan senyum yang menenangkan namun tidak disambut baik oleh Naomi.


Lampu lalu lintas pun berubah menjadi hijau, Jester kembali melajukan mobilnya menuju kediaman besar Gates. Enam puluh menit berlalu dan sampailah mereka berdua di kediaman besar Gates, dengan kecepatan rendah Mercedes Benz V260 melaju menuju pelataran rumah. Baru juga mobil berhenti didepan pelataran rumah tiba - tiba Naomi langsung keluar dari mobil dan berjalan masuk meninggalkan Jester, mengetahui Naomi yang marah padanya membuat Jester sedikit bingung harus bersikap apa disaat seperti itu.


Seorang penjaga mendekati Jester, dengan segera Jester memberikan kunci mobil miliknya dan penjaga itu segera membawa Mercedes Benz V260 menuju garasi rumah. Jester berjalan masuk kedalam rumah dan secara kebetulan berpapasan dengan Sarah yang hendak keluar dari rumah, dengan wajah heran Sarah menatap Jester. mendapatkan tatapan seperti itu membuat Jester heran, keduanya pun berhenti berjalan saat berhadap - hadapan.


"Ada apa?" tanya Jester heran


"Tidak ada" jawab Sarah, namun ekspresi wajah dan jawaban Sarah terlihat tidak sesuai bagi Jester.

__ADS_1


"Wajahmu tidak menunjukkan jika tidak ada apa - apa" dengan kesal Jester mengucapkannya, Sarah tertawa kecil lalu menghela nafasnya sejenak.


"Aku berpapasan dengan Naomi sebelum denganmu, tapi itu adalah Naomi yang tidak pernah aku duga sebelumnya. Kalian bertengkar?" tanya Sarah dengan senyum yang mengejek, Jester mengalihkan tatapan matanya menatap tangga menuju kamar miliknya dan Naomi.


"Aku bingung harus melakukan apa, ini pertaruhan yang hasilnya tidak akan memberikan keuntungan dan hanya akan ada kerugian" jawab Jester dengan yakin


"Oke... kenapa kamu ambil?" tanya Sarah lagi dengan sedikit menekan, Jester kembali menatap Sarah.


"Aku dulu tidak peduli dengan apa yang akan terjadi sehingga aku menerima pertaruhan itu, namun semua berubah seiring perjalanan hidupku dan kini aku peduli" jawab Jester


"Hentikan saja selama itu masih dapat dihentikan, kamu berfikir seakan itu bukan dirimu" timpal Sarah tanpa beban dan seakan mengejek Jester, tanpa sepatah kata Jester pun berjalan meninggalkan Sarah disana.


"Seorang dokter masih membutuhkan dokter lainnya untuk memeriksakan kesehatan diri sendiri" celetuk Sarah dan mampu menghentikan langkah Jester, keduanya masih saling memunggungi namun masih saling terdiam. Sarah berbalik dan berjalan mendekati Jester, dengan sedikit keras Sarah menepuk pundak Jester.


"Kamu telah menolongku untuk meredakan semua amarahku terhadap keluarga ini, aku sangat berterima kasih padamu atas itu karena pada akhirnya dendam tak berujung ini tuntas... tapi kamu juga seorang manusia yang tidak akan bisa mengerjakan semuanya sendiri, karena itu aku menawarkan diri untuk membantumu jika kamu perlukan" dengan lembut Sarah mengucapkannya, Jester melepaskan tangan Sarah dari pundak lalu berbalik menatap Sarah dengan senyuman.


"Aku terima permintaanmu, tapi untuk saat ini aku tidak memerlukan bantuan apapun" timpal Jester


"Baik, aku mengerti" ucap Sarah lalu berbalik dan meninggalkan Jester di pelataran rumah


Hari demi hari dilalui oleh Jester dan Naomi dalam keadaan dingin, sikap Naomi kepada Jester pun terkesan tidak peduli seakan Naomi benar - benar marah kepadanya. Berulang kali Jester berusaha mencairkan suasana itu namun percuma, Naomi tetap bersikap dingin. Sikap dingin Naomi membuat Jester enggan untuk membahas tentang kecemasan yang Jester rasakan dan memberikan ruang sebanyak mungkin untuk Naomi agar tidak membuat harinya terasa semakin buruk. Hari berlalu sangat cepat, acara yang akan dibintangi oleh Naomi pun akan segera ditayangkan secara live.


Disebuah studio dalam Werner Tower tempat media milik Turner Werner disiarkan secara langsung, terlihat kru televisi dan semua bintang - bintang televisi sibuk dengan kegiatan mereka sebelum acara live itu dilangsungkan. Disalah satu make up room terlihat Jester, Naomi, Luke, Harry, dan Justin menunggu untuk tampil, mereka nampak antusias untuk penampilan perdana mereka setelah sekian lama menjalani latihan yang intens pasca kejadian dengan keluarga Gates.


Diantara semua yang sedang senang ada Naomi dan Jester yang masih saling terdiam, hal itu membuat Luke, Harry, dan Justin merasa canggung berada ditengah pertengkaran Jester dan Naomi. Walau tidak mengerti masalah diantara Naomi dan Jester, namun mereka bertiga seakan enggan untuk ikut campur agar masalah diantara keduanya tidak semakin rumit. Beberapa menit berlalu, Grece muncul dari balik pintu.


"Naomi!! ayo waktunya kamu untuk tampil!!" terdengar semangat Grece mengatakannya, Naomi pun mengalihkan pandangannya menatap Grece. Dengan senyuman berat, Naomi berdiri dari duduknya lalu berjalan mendekati Grece.


Seakan tidak memperdulikan keberadaan Jester yang berada tepat disampingnya Naomi bersiap untuk memulai acara dengan perasaan senang, walau ada rasa kecewa dalam diri Naomi karena sikap yang ditunjukkan oleh Jester kepadanya seakan ingin menghentikan semua impian dititik terakhir perjuangannya selama ini. Tiba - tiba Jester berdiri dan menarik tangan Naomi ingin menghentikan rencana itu, tindakan Jester membuat Naomi, Grece, Luke, Harry dan Justin terkejut.


"Jester...." celetuk Grece dengan raut wajah yang kebingungan, Naomi menoleh menatap Jester yang masih menarik lengannya.


"Masih ada waktu untuk menghentikan ini, aku merasakan sesuatu yang tidak baik akan segera terjadi" penuh harap saat Jester mengucapkannya, perkataan Jester kembali membuat teman - temannya terkejut.

__ADS_1


"Aku tidak bisa mundur lagi, semua sudah kita rencanakan dengan matang" timpal Naomi dengan tegas tanpa keraguan sedikitpun, Naomi menarik lengannya untuk melepaskan genggaman tangan Jester dengan paksa.


Naomi berjalan meninggalkan Jester, Luke, Harry, dan Justin di make up room, sedangkan Grece yang masih terlihat bingung hanya bisa terdiam sembari berjalan dibelakang Naomi. Setelah pintu tertutup rapat dengan segera Luke dan Harry berjalan mendekati Jester, tepukan tangan Luke di bahu Jester membuat Jester menolehkan kepalanya menatap Luke.


"Ada apa?" tanya Luke singkat, Jester menarik nafasnya dalam - dalam lalu menghembuskan perlahan.


"Ini tentang ayah Naomi, aku sudah berbicara dengannya sangat dalam dan dari hati ke hati. Sesuatu yang salah sedang terjadi dan berjalan, tapi aku masih tidak dapat mengetahui apa yang salah dan sedang berjalan itu" jawab Jester dengan nada yang terdengar ragu - ragu


"Aku akan meminta Grece untuk menghentikan acara ini" timpal Justin sembari berjalan hendak menuju keluar dari make up room


"Tidak akan bisa, kamu sudah lihat sendiri bagaimana Naomi mengabaikan ku" ucap Jester menimpali perkataan Justin, mendengar perkataan Jester membuat Justin menghentikan langkahnya.


"Lalu kamu mau gimana?" tanya Luke, Jester pun menghela nafasnya sejenak sembari terus memutar otaknya


"Tidak ada, aku hanya bisa diam dan melihat apa yang akan terjadi jika rencana ini sudah berjalan" jawab Jester terdengar pasrah


Jester yang akhirnya hanya bisa pasrah membiarkan Naomi melanjutkan semuanya dengan harapan tidak akan ada sesuatu yang buruk akan terjadi setelahnya.


Tidak lama sebuah televisi yang ada didalam make up room pun mulai menampilkan acara talk show dengan Naomi sebagai bintang tamunya, pembawa acara terlihat menyebut nama Naomi lalu Naomi muncul dari balik tirai menyapa para penggemarnya. Jester, Luke, Harry, dan Justin serentak mengalihkan pandangannya menatap layar televisi dan memperhatikan acara live yang sedang berlangsung itu, riuh penggemar didalam studio pun terdengar sampai pada akhirnya terhenti ketika pembawa acara memulai bertanya kepada Naomi.


Disisi lain yang berada jauh dari Werner Tower, disalah satu kamar vvip rumah sakit Scott terlihat Evans terbaring disebuah kasur yang sedikit ditegakkan agar Evans dapat menatap layar televisi bersama dengan Naoko yang duduk disebelahnya pada sebuah kursi. Wajah bangga Evans jelas tergambar ketika Naomi muncul sebagai bintang tamu, begitu pula Naoko yang senyumnya merekah menatap wajah sumringah Naomi saat menjawab pertanyaan - pertanyaan dari pembawa acara dengan sangat anggun.


Diluar kamar vvip rumah sakit Scott dimana Evans sedang dirawat, saat itu terlihat Marrie yang duduk disebuah kursi tunggu pengunjung dengan wajah tegang seakan sedang menunggu sesuatu. Agak jauh dari posisi Marrie yang sedang duduk, William berdiri di persimpangan koridor sembari bersandar pada salah satu tembok. Tidak seperti biasanya diantara William dan Marrie menunjukkan wajah khawatir dan tegang selain saat bertemu dengan Arthur,


Jauh dari rumah sakit, disebuah rumah sederhana yang nampak kecil dan terlihat sedikit kumuh. Seorang pria paruh baya terdengar berteriak dalam keadaan mabuk sedang marah - marah kepada wanita paruh baya yang sedang berusaha menyadarkan, pertengkaran pun terdengar begitu memekakkan telinga sampai membuat suasana tidak nyaman jelas terasa dirumah itu.


"Camilla!!! keluar dari kamarmu dan jadikan lah dirimu berguna!!!" teriak pria paruh baya itu


"Kamu yang tidak berguna suami brengsek!! sejauh ini anak kita berjuang sendiri untuk memenuhi kebutuhannya!!" bentak wanita paruh baya kepada pria paruh baya.


"Itu juga berkat aku memperkenalkan dia kepada orang - orang kaya!! tahu apa kamu hah?!!" bentak lagi pria paruh baya dengan sangat keras


Disalah satu kamar yang tertutup dan terkunci, terlihat Camilla sedang duduk didepan meja belajarnya. Kamar yang terlihat berantakan karena benda - benda dikamar itu seakan sudah dilemparkan kemana - mana, jendela kamar yang tertutup gorden tipis berwarna merah muda dan hanya menyisakan sedikit celah agar cahaya matahari masuk, dan juga lampu meja belajar yang hidup menyinari sebuah buku dengan tulisan yang terlihat sangat berantakan menemani Camilla.

__ADS_1


"Lima menit lagi...." gumam Camilla


__ADS_2