Aku Pinjam Dia

Aku Pinjam Dia
Kebesaran Hati Naomi


__ADS_3

Pagi hari yang cerah dan indah, dipuncak bukit dimana terdapat danau yang indah disana. Di pintu masuk menuju danau terparkir dua buah mobil Mercedes Benz v260 dan BMW 740Li dan dipinggir danau terlihat empat orang yang masih terdiam mematung menatap satu sama lain, Jester dan Evans memandangi Naomi sedangkan Naomi memandangi Jester dan satu orang lagi tidak berani memandang siapa pun sehingga hanya menatap sebuah pepohonan disekitaran danau itu.


"Kamu kenapa?" tanya Naomi memecah keheningan diantara mereka


"Aku baik - baik saja" Jester menjawab dengan nada yang tenang seakan meminta Naomi agar tidak mengkhawatirkannya, namun raut wajah Naomi semakin menunjukkan kesedihan menatap Jester.


"Bohong!! Aku tahu kamu sedang tidak baik - baik saja" balas Naomi menekan Jester agar berhenti membohonginya, Jester membuang mukanya karena tidak tahan melihat tatapan Naomi yang mengkhawatirkan dirinya.


"Aku hanya ingin menenangkan diri" Jester masih berusaha membuat Naomi tidak mengkhawatirkannya, mendengar jawaban Jester membuat Naomi terlihat marah.


"Kamu gak boleh menenangkan diri sendiri!! aku ingin menemanimu dalam keadaan apapun, izinkan aku menemanimu!!" dengan bentakan Naomi mengatakannya, Evans yang berada disana mendengarkan percakapan keduanya terlihat terkejut seakan tidak percaya Naomi bisa membentak. Jester mengalihkan pandangannya lagi menatap Naomi, Jester terdiam sesaat sebelum kembali berbicara.


"Maaf... aku terbiasa melakukannya sendiri, aku tidak berfikir untuk melibatkan siapa pun" ucap Jester sambil membuang muka kembali, Naomi berjalan mendekati Jester dan tiba - tiba memeluknya dengan erat


"Kamu sekarang tidak sendiri lagi.... mulai sekarang sampai kapan pun aku akan menemanimu dalam keadaan apapun" ucap Naomi dengan lembut sambil terus memeluk Jester dengan erat, Jester terkejut saat Naomi memeluknya begitu erat namun Jester tidak membalas pelukan itu dan hanya terdiam.


"Jangan merasa sendiri lagi... ingat aku saat kamu sedang kalut ataupun butuh sesuatu" ucap Naomi dengan nada yang lembut, mata Jester berkaca - kaca mendengar ucapan Naomi saat itu.


"Terima kasih... Naomi" dengan lembut dan terharu Jester mengatakannya, suasana romantis itu mendadak pecah ketika...


"Ehem..." Evans memecahkan suasana romantis itu, Jester dan Naomi terkejut dan Naomi segera melepaskan pelukannya sembari sedikit menjauh dari Jester.


"Aa... ayaah...? sejak kapan ada disini?!!" dengan nada yang terdengar panik dan menahan perasaan malunya Naomi bertanya sambil menatap Evans, Jester membalikkan badannya untuk menutupi wajahnya yang memerah karena malu.


"Aku sudah sejak tadi disini" dengan sedikit tawa Evans menjawab pertanyaan Naomi, wajah Naomi memerah dan untuk menutupi perasaan malunya Naomi menutup wajah dengan kedua tangannya dengan sedikit hentakan kaki ditanah.


"Aaah aku baru sadar, kenapa ayah datang ke danau ini?" tanya Jester sembari membalikkan badannya kembali menatap Evans, namun Jester ingin segera mencairkan suasana yang canggung itu.


"Walau terlambat tapi terima kasih sudah bertanya Jester, aku memang sering kesini hampir setiap hari untuk menenangkan pikiranku. Sebenarnya aku yang heran melihatmu disini, tapi karena kamu anak Will aku jadi sedikit mengerti kenapa kamu berada di danau ini" jawab Evans dengan senyuman yang merekah menatap Jester dan Naomi, Jester tersadar bahwa gejolak didalam hatinya berangsur menghilang setelah mendengar cerita Evans saat itu.


"Ayah.... terima kasih sudah berbagi pengalaman denganku" ucap Jester sambil menundukkan kepalanya


"Aku senang bisa membantu" ucap Evans yang terlihat senang dapat membantu Jester dengan pengalamannya, sesaat Evans seperti melihat dirinya sendiri saat muda ketika melihat Jester namun dengan versi yang lebih baik. Sebuah versi yang Evans ingin rubah dalam hidupnya, versi yang tanpa penyesalan diakhir ceritanya.


"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Naomi yang heran melihat kedekatan Jester dan Evans, Naomi tidak percaya Jester sudah sedekat ini dengan ayahnya. Jester dan Evans saling menatap dan tersenyum bersama sebelum menjawab pertanyaan Naomi, secara bersamaan Jester dan Evans menatap Naomi.


"Rahasia, ini adalah pengalaman seorang pria. Kemari Naomi, aku rindu ingin memelukmu" ucap Evans sambil memberi gestur agar Naomi memeluknya. Dengan langkah perlahan Naomi mendekati Evans yang berada diatas kursi roda lalu memeluk Evans dengan sangat erat, Evans mengelus kepala Naomi beberapa kali lalu menepuk - nepuk punggung Naomi.


"Kamu kuat Naomi... ayah percaya kamu kuat" gumam Evans didekat telinga Naomi, Naomi terkejut saat Evans mengatakannya namun tiba - tiba Naomi tersenyum karena merasakan kehangatan pelukan seorang ayah yang penuh cinta untuk dirinya.


Matahari pagi mulai memancarkan cahayanya dengan terik, suasana hangat pun sangat terasa dari obrolan Evans, Jester dan Naomi. Ketiganya membicarakan keseharian mereka, pengalaman Jester dan Naomi selama tinggal bersama, Evans yang terlihat antusias mendengarkan keluhan Jester tentang Naomi dan sebaliknya, tertawa bersama hingga beberapa jam mengobrol akhirnya ketiganya berpisah di danau itu dan pulang kerumah masing - masing.


Menjelang siang sebuah Mercedes Benz v260 terlihat melewati perbukitan pinggiran kota dengan kecepatan sedang, didalam mobil itu terlihat Naomi dengan wajah penuh perasaan bersalah menatap Jester yang terlihat sangat kesal dan marah.


"Aku kan sudah minta maaf dari tadi" ucap Naomi dengan gestur meminta maaf pada Jester sambil terus menatap wajahnya.


"Ugh... Tapi kenapa bisa sampai seperti itu?" tanya Jester dengan nada yang terdengar kesal, mendengar pertanyaan Jester membuat Naomi ikutan kesal.


"Yaa gimana lagi, mobil ini terlalu besar untukku. Aku juga sudah bilang sejak awal aku gak bisa mengendarainya" jawab Naomi memberi pembelaan untuk dirinya, Naomi kemudian melipatkan kedua tangan dan bersadar pada kursi sambil menatap jalan didepannya. Raut wajah kesal Naomi saat itu membuat Jester semakin yakin Naomi tidak sedikitpun merasa bersalah, ingin marah namun Jester takut untuk membuat Naomi menangis.

__ADS_1


"Kamu kan bisa pakai taksi online atau apa gitu, gak harus memaksakan diri begini. Itu sudah bukan goresan lagi namanya!" Jester semakin kesal mendengar alasan dari Naomi, Naomi melihat Jester yang membentaknya dengan wajah sedih.


"Huuuuhuu..... kamu jahat!!!" Naomi mulai menangis sembari menutup wajah dengan kedua tangannya, Jester panik sampai memberhentikan mobilnya di pinggir jalan untuk menenangkan Naomi.


"Waa... engga.. maaf Naomi aku gak marah kok, itu bisa diperbaiki. Maafin aku ya tadi membentakmu, kamu gak perlu nangis untuk hal remeh seperti itu" ucap Jester berusaha menenangkan Naomi, namun tiba - tiba Naomi kembali melipat tangannya dan menatap kedepan.


"Ya sudah, jangan marah - marah lagi" tanpa beban Naomi mengatakannya, merasa dikerjain membuat Jester kembali emosi.


"Kamu pura - pura nangis?!!" Jester bertanya dengan nada marah, mendengar Jester marah padanya membuat Naomi kembali menatap Jester dengan perasaan sebal.


"Habis kamu gak berhenti marah - marah, aku kan bingung harus gimana lagi. Kalau gak kamu maafin, aku akan nangis sampai rumah" ancam Naomi, Jester kehabisan kata - kata namun matanya tetap melihat wajah Naomi. Dalam benak Jester ingin sekali meluapkan marahnya tapi Jester takut dengan ancaman Naomi, dengan perasaan kesal Jester kembali menatap jalanan.


"Sejak kapan kamu jadi tukang ancam seperti ini?" Jester bertanya dengan raut wajah kesal, Naomi hanya tertawa melihat wajah Jester yang terlihat kesal padanya.


Jester kembali memacu mobilnya menuju rumah dan keduanya terlibat pertengkaran kecil didalam mobil, walaupun terlihat Naomi yang mengendalikan emosi Jester. Hingga beberapa menit perjalanan keduanya sampai di pintu masuk cluster perumahan mereka, Jester dan Naomi melihat sebuah Mercedes Benz c200 putih terparkir didepan rumah mereka.


"Siapa itu?" tanya Jester yang penasaran melihat mobil asing terparkir didepan rumah mereka, namun saat itu Naomi tahu siapa yang sedang menunggu mereka disana.


"Selena, sepertinya hari beratmu akan dimulai" jawab Naomi sembari menghembuskan nafas agak keras


"Gaah... kenapa dia harus datang sekarang sih?" tanya Jester dengan nada kesal, wajah capek Jester langsung tergambar jelas ketika tahu siapa yang sedang menunggunya dirumah.


Jester melewati mobil Selena dan langsung memarkirkan Merceds Benz V260 di garasi rumah, tidak beberapa lama Selena turun dari mobilnya dan berjalan mendekati garasi rumah. Tidak lama setelah mobil Jester terparkir sempurna, Jester dan Naomi turun bersamaan dan disambut oleh nada tinggi Selena.


"Kak! aku chat kamu dan kenapa hanya kamu baca?!" tanya Selena dengan nada marah menatap Jester, saat itu Selena tidak menatap Naomi sama sekali namun beberapa kali Naomi mencuri pandang menatap Selena.


"Hah? tapikan...." Jester menggantung jawabannya sembari menatap wajah Naomi namun Naomi mengacuhkannya lalu berjalan masuk kedalam rumah meninggalkan Jester dan Selena berdua di garasi rumah.


"Engga kok, cuma mungkin aku lupa untuk langsung membalas. Lalu ada urusan apa kamu kesini?" tanya Jester sembari menggaruk - garuk dahinya


"Kenapa jadi seperti ini kak?! kamu serius sama Naomi?" tanya Selena dengan tekanan


"Duuh gimana ya? aku gak bisa jawab pertanyaanmu" jawab Jester yang terdengar capek dan bosan mendengar pertanyaan Selena saat itu.


"Lalu gimana sama Daniel? kamu gak memikirkanku juga?!" tanya Selena yang semakin emosi karena jawaban menggantung Jester, namun Jester tidak terpancing sama sekali dan masih terlihat capek.


"Masalah Daniel dan Naomi aku gak bisa jawab apa - apa, tapi kalau tentangmu kan aku sudah pernah jawab. Aku masih mencintai Camilla" jawab Jester dengan nada datar menanggapi Selena yang terdengar marah, lagi - lagi jawaban Jester membuat Selena kembali naik pitam.


"Tapi tidak seperti itu yang aku lihat! kakak dan Naomi terlalu dekat akhir - akhir ini!" bentak Selena, Jester menarik nafas dan menghembuskan perlahan sembari menatap Selena.


"Ya kami kan satu rumah, satu mobil, dan satu kampus, gimana bisa gak terlihat dekat?" tanya Jester yang masih dengan nada datar menjawab Selena yang emosi, Selena malah terlihat semakin marah mendengar pertanyaan Jester.


"Kamu bohong tentang labirin kan? lalu kamu juga katakan pada Naomi kalau kamu memperbolehkan dia untuk mengejar cintamu kan?!" tanya Selena dengan tekanan menyudutkan Jester, mendengar pertanyaan Selena membuat Jester terkejut. Didalam otaknya langsung menyalahkan Naomi, Jester yakin Naomi yang membocorkan semuanya.


"Da.. darimana kamu tahu?!" tanya Jester dengan nada yang terdengar panik karena mata Selena terlihat berkaca - kaca, Jester merasa di khianati oleh Naomi saat itu.


"Jahat!! kamu jahat kak sama aku!!" Selena berteriak dan terduduk sambil menangis seperti anak kecil didepan Jester, kepanikan Jester bertambah melihat tingkah Selena ketika itu.


"Waaa... Selena! jangan nangis!! iya iya... aku minta maaf, tapi itu semua diluar kendaliku!!" ucap Jester yang panik sambil berusaha menenangkan Selena, Orang - orang komplek yang kebetulan lewat menatap keduanya dan membuat Jester semakin panik.

__ADS_1


"Ini semua karena kak Jester bodoh!!" Selena berteriak didepan wajah Jester, Jester pun kesal mendengar Selena yang mengejek dirinya.


"Bisa ya nangis sambil menghina orang" dengan nada yang terdengar pasrah Jester mengatakannya


"Pokoknya seharian ini aku ingin kak Jester menemaniku!!" teriak Selena namun nadanya masih terdengar serak karena menangis


"Duuh aku capek... lagian aku ada satu mata kuliah lagi sebelum sore, apa kamu gak ada kuliah?" tanya Jester dengan nada yang terdengar capek, Selena terdiam dengan tatapan marah mendengar pertanyaan Jester.


"Jadi untuk Naomi ada dan untuk ku gak ada? jahat!!" Selena kembali menangis dengan keras dan membuat orang - orang disekitar memperhatikan keduanya lagi, Jester berusaha menenangkan Selena dengan mengelus kepalanya beberapa kali namun Selena masih terus menangis seperti anak kecil. Wajah Jester terlihat sangat lelah  walau dia sedang berusaha menenangkan Selena, tidak beberapa lama Naomi keluar dari rumah dan berbicara dari pelataran rumah


"Temani saja dia ke Festival Squere, itu tempat favorit Selena. Kamu juga tidak akan terlalu capek kalau kesana" celetuk Naomi seketika, Selena dan Jester menatap Naomi yang terlihat baru keluar lagi dari dalam rumah dan berdiri dipelataran rumah memandang keduanya.


"Ajak dia naik bianglala, walau akan lebih indah saat malam hari tapi itu tempat favoritnya. Jangan lupa belikan dia crepes pisang coklat keju sebelum naik yang penjualnya ada di sebelah taman labirin" jelas Naomi lagi melanjutkan kalimatnya, Jester paham bahwa satu - satunya cara untuk keluar dari situasi itu adalah mengajak Selena untuk kencan.


"Haah.... begitu ya? baiklah, ayo Selena" Jester berdiri dan hendak pergi mengajak Selena menuju festival squere


"Apa maumu?!" tanya Selena dengan bentakan sembari berdiri menatap Naomi, Jester terkejut ketika Selena tiba - tiba membentak Naomi seperti itu.


"Memberikan kamu ruang, Jester saat ini terlalu lelah untuk menuruti semua keinginan mu. Jadi aku berikan saja saran yang paling mungkin membuatmu senang" jawab Naomi dengan nada agak meninggi


"Kamu lagi pamer kedekatanmu dengan kak Jester didepanku?!" tanya Selena yang kembali membentak, Naomi tersentak mendengar bentakan Selena saat itu. Jester menepuk dahinya dengan keras melihat kelakuan dua sahabat yang sekarang bertengkar seperti kucing, dalam pikirannya kali ini mencari cara bagaimana agar bisa memisahkan mereka tanpa membuat salah satunya berfikir bahwa Jester memihak.


"Aku hanya memberikan saran untuk Jester! kenapa kamu jadi sensi?" tanya balik Naomi dengan bentakan


"Kamu tanya kenapa?! kamu gak sadar juga kenapa aku seperti ini?!" Selena kembali membentak


"Iya aku paham, terus aku salah mencoba memberi saran untuk menyenangkanmu?!" ucap Naomi masih membentak


"Dia gak butuh saranmu!! aku juga gak mau ikuti saranmu!!" ucap Selena dengan bentakan


"Selena.... aku gak suka sama wanita yang emosional begitu loh" celetuk Jester seketika setelah mendapatkan ide dari perkataan Selena, mendengar celetukan itu membuat Selena mengalihkan pandangannya menatap Jester.


"Tapi kak... dia yang memulai..." ucapan Selena dipotong Jester


"Naomi cuma memberiku saran, bukankah itu tindakan yang baik? atau mungkin sarannya salah?" tanya Jester dengan nada yang lembut sembari menatap Selena dengan tekanan, Selena hanya menatap Jester dan terdiam beberapa saat lalu menunduk dan berjalan mendekati Naomi namun tetap dalam posisi menunduk.


"Terima kasih...." ucap Selena dengan nada yang lembut, Selena berjalan kembali menjauhi Naomi menuju mobilnya dan langsung duduk di kursi penumpang depan dengan wajah yang terlihat bersalah. Naomi berjalan mendekati Jester sembari memberikannya selembar baju ganti dan jaket serta parfum milik Jester, dengan senyuman Naomi memberikannya.


"Heii aku tahu kamu lelah, tapi bisakah mengajaknya berkencan?" tanya Naomi dengan nada yang terdengar senang, Jester membuka baju olahraganya dan mulai memakai baju yang dibawakan Naomi.


"Aku tidak yakin bisa memberikannya kesan yang baik, tapi aku akan coba" jawab Jester sembari mengenakan jaket yang Naomi bawakan untuknya.


"Dia suka tempat yang meriah dan ramai, makan - makanan manis seperti coklat. Tapi aku yakin apapun itu asal bersamamu dia pasti senang" ucap Naomi lembut, Naomi menyemprotkan parfum ketubuh Jester beberapa kali dan merapihkan penampilannya saat itu.


"Iya iya... aku pergi dulu ya.." ucap Jester dengan nada yang capek, Naomi tersenyum melepas kepergian Jester.


Jester berjalan memasuki mobil Selena dan meninggalkan Naomi dirumah itu, setelah beberapa saat Naomi masih berdiri terdiam melihat Mercedes Benz c200 yang semakin menjauhi dirinya. Secara perlahan Naomi mengarahkan tangan kanannya ke dada dan mulai meremas bajunya dengan genggaman yang erat dan kepalanya menunduk seketika, beberapa saat terdiam Naomi memejamkan kedua matanya.


"Sakit.... aku benar - benar bodoh ya..." gumam Naomi

__ADS_1


Tidak lama setelah Jester dan Selena pergi, dari belakang Naomi datang sebuah BMW 330i warna hitam dan berhenti didepan rumah. Naomi membalikkan badan dan melihat Justin dan Grece keluar dari mobil itu, Grece berlari dan langsung memeluk Naomi.


"Naomi!!" sapa Grece dengan nada yang terdengar manja, pelukan Grece seperti memberikan semangat untuk Naomi. Naomi tersenyum dan membalas pelukan Grece, ketika itu Justin hanya tersenyum menatap Naomi.


__ADS_2