
"Aku....Cemburu....Lucu ya" suara Naomi begitu pelan dengan sedikit tertawa kecil Naomi menjawab pertanyaan Jester, garis bibirnya terlihat tersenyum namun matanya seperti menahan agar tidak ada setetes air mata yang terjatuh.
Pada pagi hari di kampus yang terlihat ramai oleh mahasiswa dan mahasiswi yang sedang menuntut ilmu di kampus itu, semua berjalan normal namun tidak disalah satu lorong kampus pada pagi itu. Seorang mahasiswa terlihat merasa sangat bersalah dihadapan seorang mahasiswi yang sedang tersenyum kepadanya, Ya... mereka adalah Naomi dan Jester.
"Tidak apa, jangan pedulikan aku... kembali lah. Lindungi Camilla dari Selena, dia akan sangat menghargai sikapmu yang melindunginya" Naomi menghembuskan nafas panjang sembari menatap langit - langit saat mengatakannya, Jester menatap Naomi dengan perasaan bersalah.
"Aku tahu, sebelum kesini aku sudah berfikir aku harus melindungi Camilla tapi... sampai sekarang pun kakiku tidak ingin beranjak dari tempat ini" ucap Jester dengan nada khawatir, Jester dan Naomi kembali bertatap mata namun keduanya terdiam.
"Terima kasih" ucap Naomi sembari tersenyum, jantung Jester mendadak berdetak kencang mendengar ucapan terima kasih Naomi dan senyuman Naomi membuat wajah Jester memerah.
"Kak Jester!!" teriak Selena dari arah belakang Jester, Jester berbalik dan melihat Selena yang berjalan dengan wajah marah menatap Jester. Jester hanya terdiam menatap Selena yang semakin mendekatinya, dari tatapan mata Jester membuat Selena merasa ada sesuatu yang terjadi diantara Jester dan Naomi.
"Dosenmu sudah ada dikelas tahu!" ucap Selena dengan bentakan, mendengar bentakan Selena itu membuat Jester tersadar dari lamunannya.
"Hah? benarkah? terima kasih!" Jester menjawab sembari berlari menuju kelasnya kembali meninggalkan Naomi dan Selena berdua. Selena dan Naomi saling bertatapan mata saat itu namun keduanya sama - sama membisu, sangat terlihat keduanya saling menyimpan rasa benci satu sama lain. Naomi beranjak pergi meninggalkan Selena namun Selena berlari mendekati Naomi sambil menarik bahunya agar Naomi berhenti berjalan, Naomi menahan tarikan tangan Selena dan masih tetap memunggungi Selena.
"Sampai kapan kamu akan bersandiwara seperti ini?" tanya Selena dengan nada yang menekan, Naomi menundukkan kepalanya dan terdiam sesaat.
"Apa maksudmu?" Naomi balik bertanya pada Selena dengan nada yang lembut, mendengar pertanyaan Naomi menyulut emosi Selena ketika itu.
"Jangan pura - pura bodoh, kamu tahu apa yang aku tanyakan!!" jawab Selena membentak, Naomi tersulut emosinya mendengar bentakan Selena.
"Aku juga akan mengejar cinta Jester dan Jester sudah mengijinkan aku, kamu tidak punya hak untuk melarangku!" Naomi membalas bentakan Selena, Selena mendorong bahu Naomi yang sedari tadi Selena genggam dengan penuh emosi hingga beberapa buku yang Naomi pegang dari tadi terjatuh.
"Dasar wanita murahan!! Kamu menjadikan kak Jester pelarianmu?! jahat kamu ya!!" bentak Selena dengan penuh emosi, Naomi terdiam lagi beberapa saat sembari memunguti satu per satu bukunya yang terjatuh.
"Jester tahu akan kearah mana hubunganku dengan Daniel, jadi percuma aku jelaskan padamu" jawab Naomi dengan nada yang mulai merendah sembari kembali berjalan meninggalkan Selena, Selena kembali menarik lengan Naomi dengan kasar sampai membuat Naomi berbalik dan menatap Selena.
"Aku akan laporkan ini pada Daniel!" ancam Selena dengan tatapan mata yang terlihat sangat mengintimidasi, Naomi pun menatap Selena dengan penuh amarah.
"Katakan saja, aku tidak peduli dan jujur saja aku berterimakasih padamu jika kamu lakukan itu!! Itu akan mempercepat proses putusku dengannya!" nada Naomi meninggi ketika mengatakannya, Selena terkejut Naomi mengatakan hal yang baginya tidak mungkin akan diucapkan oleh Naomi. Selena sangat mengetahui seberapa besar cinta Naomi pada Daniel, namun seketika Naomi menyerah untuk mempertahankan hubungannya.
"Jadi begitu... jadi begitu caramu... aku tahu, kamu cuma butuh pelariankan? tega kamu ya sama kak Jester yang berkali - kali menyelamatkanmu" dengan terbata Selena mengatakannya, seketika Selena dipenuhi keraguan dan tangannya yang sedari tadi menggenggam lengan Naomi dengan erat mendadak melemah.
"Sudahlah Selena, aku tahu kamu hanya takut untuk bersaing..." belum selesai kalimat Naomi mendadak Selena menampar Naomi dengan keras hingga membuat buku - buku yang Naomi pegang terjatuh kembali.
"Ini untuk tamparanmu yang kemarin!" bentak Selena dengan penuh emosi sampai matanya terlihat berkaca - kaca, Naomi menyentuh pipinya yang baru saja ditampar oleh Selena.
"Sudah puas?" tanya Naomi dengan tenang sembari menatap Selena lagi, Selena terdiam beberapa saat dan tangannya mengepal dan terlihat bergemetar menahan emosinya yang sangat bergejolak.
"Mulai sekarang aku akan gunakan segala cara untuk menjauhkanmu dari kak Jester!!" ancam Selena dengan bentakan, Naomi tersenyum sinis menatap Selena.
"Kamu akan jadikan keadaanku sebagai senjatamu kan?" tanya Naomi dengan nada sinis, namun Selena hanya terdiam menatap Naomi
"Aku sudah siap jika kamu lakukan itu, katakanlah pada Jester.... katakan juga pada dunia.... Sebarkan!! aku tidak peduli!!" ucap Naomi dengan teriakan, teriakan Naomi membuat Selena tersentak hingga membuatnya terdiam membatu menatap Naomi.
"Aku akan terus mengejar Jester, maaf Selena... tapi aku sudah tidak bisa membohongi perasaanku" Naomi menurunkan nada bicaranya sembari kembali memunguti buku - bukunya yang terjatuh.
"Tapi sejak kapan? aku tahu kamu sangat mencintai Daniel dan kamu sudah berikan segalanya untuknya, apa kamu pikir kak Jester...." kalimat Selena dipotong Naomi
"Aku dan dia bertemu di taman tengah labirin festival squere" jawab Naomi singkat sembari kembali menatap Selena dengan tatapan tanpa keraguan sedikitpun, jawaban itu membuat Selena terkejut sampai membuatnya kembali bergemetar.
"Jadi... aroma jeruk itu...di badan kak Jester...aroma parfummu.." Selena terbata mengatakannya
"Entah mengapa hari itu Daniel tiba - tiba membatalkan pergi kerumah orang tuanya lalu mengajakku ketempat itu, ditengah taman labirin aku akhirnya bertemu dengan Jester secara mengejutkan. Suatu hal yang sangat tidak masuk akal kan?" jelas Naomi saat itu, Selena berusaha untuk tidak mempercayai ucapan Naomi saat itu namun disisi lain Selena tahu bahwa yang dikatakan Naomi adalah kebenaran.
"Aku melihatmu menangis di dada Jester sangat pilu, disaat itu aku dipenuhi rasa bersalah padamu dan akhirnya aku membuat sandiwara seakan ibu meneleponku didepan Daniel lalu meminta padanya agar dia ikut sandiwaraku seakan kami berdua memang dari rumah orangtua Daniel saat meneleponmu" jelas Naomi yang nadanya penuh perasaan bersalah, Selena hanya terdiam dan tatapan matanya kosong.
__ADS_1
"Kenapa kita seperti ini.... kenapa.... aku dan kamu...." ucapan Selena terpotong - potong seakan tidak percaya dengan apa yang sudah terjadi, air mata Selena menetes bersamaan dengan tatapannya yang mengarah pada Naomi yang juga meneteskan air matanya.
Keduanya tumbuh dan besar bersama sebagai tetangga dekat, belum lagi hubungan yang terjalin sangat panjang hingga sampai sekarang. Namun keduanya kini sadar sedang dihadapkan pada masalah yang menuntut mereka harus saling mengalah, tapi siapa yang mampu untuk melepaskan perasaan cinta mereka
"Katakan... katakan padaku Selena, bisakah aku tetap menjadi sahabatmu sampai salah satu diantara kita mati terlebih dahulu seperti janji kita dimasa lalu?" tanya Naomi sambil menjulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Selena, Selena terdiam membatu menatap Naomi dengan air mata yang semakin deras mengalir di pipinya.
Selena menundukkan kepalanya dan mengusap air mata yang menetes di pipinya, tidak lama tangan Selena perlahan mendekat pada tangan Naomi yang sejak tadi menunggu uluran tangan Selena. Namun saat itu Selena menghempaskan tangan Naomi dengan sangat keras sembari matanya menatap Naomi dengan penuh amarah, Naomi hanya terdiam sembari menahan rasa sakit ditangannya.
"Munafik!! aku tidak sudi menjadi temanmu lagi!! ini peringatan terkahir Naomi, jauhi kak Jester atau kamu akan terima akibatnya!" bentak Selena, Selena berjalan menabrak bahu Naomi dengan keras dan meninggalkannya disana sendirian.
Seharian penuh kehidupan kampus Jester tidak menyenangkan, setiap jam kosong Jester selalu diperebutkan oleh Selena dan Camilla. Belum lagi kelakuan bodoh Harry dan Luke yang tujuannya melindungi Jester malah membuat Jester semakin terlibat dalam keributan yang tidak perlu dan semakin kacau. Jester terlihat sangat pasrah dan capek, hingga jam kampus Jester pun berakhir.
Perjalanan pulang di jalan perkotaan yang padat dan macet pada siang itu, Jester sudah kehabisan tenaga dan terdiam sambil mengemudikan Mercedes Benz V260 nya. Jester hanya terdiam dan Naomi seperti ingin memecahkan keheningan sekaligus menghibur Jester yang terlihat sangat kesal, Naomi mulai memandangi wajah Jester dengan senyuman manis.
"Capek?" tanya Naomi tanpa beban
"Apa wajah ini menunjukkan sebaliknya?" tanya balik Jester sambil menatap Naomi, Naomi hanya tertawa kecil melihat wajah Jester yang terlihat sangat capek.
"Apa rencanamu untuk Selena? dia terlalu agresif akhir - akhir ini" tanya Naomi kembali mencoba untuk memecahkan keheningan yang terjadi sejak tadi diperjalanan mereka, Jester mengalihkan pandangannya kembali kejalanan.
"Haah... aku gak tau, aku cuma memohon agar ada seseorang membantuku mengatasi Selena dan Camilla. Belum lagi kelakuan bodoh Luke dan Harry, seseorang harus menghentikan mereka menciptakan ide baru" jawab Jester dengan nada yang terdengar capek, Naomi kembali tertawa namun kali ini agak sedikit keras sampai membuat Jester terheran dan kembali mengalihkan pandangannya menatap Naomi.
"Aku bersyukur satu hal hari ini" celetuk Naomi yang terlihat puas tertawa, Jester masih heran dan tidak paham apa yang Naomi syukuri sampai membuatnya tertawa hari ini.
"Aku tidak masuk dalam list yang harus diatasi oleh orang lain, apa kamu sendiri yang akan mengatasiku?" tanya Naomi dengan nada menggoda dan tersenyum manis menatap Jester, wajah Jester mendadak memerah lalu membuang muka menutupi perasaan malunya.
"Argh! jangan sekarang Naomi!!" teriak Jester terdengar marah karena Jester ingin menutupi perasaan malunya, Naomi kembali tertawa melihat tingkah Jester.
Didalam mobil yang sedang melaju ditengah kemacetan itu, Jester dan Naomi saling balas candaaan. Sesekali Jester terlihat tertawa oleh candaan Naomi yang terlihat begitu keras mencoba menghibur Jester, walau saat itu wajah Jester masih terlihat terpaksa untuk tertawa. Hingga beberapa saat mobil Mercedes Benz V260 itu telah terparkir digarasi rumah Jester dan Naomi, keduanya segera turun dari mobil dan berjalan menuju pintu utama rumah.
Ketika keduanya sudah membuka pintu dan masuk kedalam, terlihat sepasang sepatu hak tinggi yang asing bagi Jester sudah tertata rapih di dalam pintu masuk. Jester terlihat heran namun Naomi dengan wajah panik mulai melihat sekeliling, seakan Naomi sudah tahu siapa yang datang pada siang itu dirumah mereka.
"Ii..ibu..." Naomi agak terbata mengatakannya, Jester terkejut mendengar celetukan Naomi.
"Hah? ibu?!" dengan nada terkejut dan rasa tidak percaya Jester mengatakannya, kemudian keduanya mulai berlari menuju ruang tengah dan dari ruangan itu keduanya mendengar suara televisi yang menyala.
"Ibu! selamat sore!" sapa Jester saat melihat Naoko sedang duduk di ruang tengah sembari menonton televisi
"Aku pulang" sapa Naomi hampir bersamaan dengan Jester
"Selamat sore Jester, Naomi... sepertinya kalian baik - baik saja ya" sapa balik Naoko yang tersenyum melihat keduanya terlihat akrab
"Aah... Eeh iya..." jawab Naomi terbata, senyum Naoko menghilang seketika ketika mendengar jawaban Naomi.
"Maaf ibu datang dan langsung masuk seperti ini, ibu meminta kunci cadangan kepada William San dan berharap bisa memberikan kejutan pada kalian" ucap Naoko dengan nada yang ramah walau senyumnya tidak lagi terlihat, Jester terlihat bingung dengan perkataan Naoko.
"Kejutan apa?" tanya Jester untuk memuaskan rasa penasarannya
"Jester, bisa ibu minta waktu berdua dengan Naomi?" tanya Naoko dengan nada yang masih ramah, Jester dan Naomi saling memandang dan Naomi mengangguk lalu Jester kembali menatap Naoko.
"Kalau begitu aku undur diri dulu ibu" ucap Jester sembari membungkuk memberi salam lalu meninggalkan Naomi dan Naoko berdua diruang tengah, Naomi berjalan mendekati Naoko dan duduk di sofa berhadapan dengan Naoko yang dipisahkan oleh sebuah meja. Naomi terlihat duduk dengan sopan dan dengan sikap sempurna menunjukkan keanggunan dirinya namun tetap tidak berani menatap langsung wajah Naoko.
"Apa semuanya berjalan dengan baik?" tanya Naoko mengawali pembicaraan antara seorang ibu dan anak perempuannya, sudah menjadi sesuatu yang menegangkan bagi Naomi ketika keduanya sedang bebicara berdua seperti itu.
"Ii.. iya ibu, semuanya berjalan baik" jawab Naomi terdengar terbata
"Ayah hari ini sangat ingin bertemu denganmu namun kesehatannya sedang tidak baik, jadi ibu diutus oleh ayah untuk melihat keadaan kalian berdua" timpal Naoko, Naomi membungkukkan badan ketika mendengar perkataan Naoko.
__ADS_1
"Terima kasih sudah mengkhawatirkan kami" ucap Naomi sembari mengangkat kembali badannya, namun tetap pandangan mata Naomi tidak mengarah pada Naoko.
"Ibu tadi sempat mengelilingi rumah, sepertinya kamu jarang bersih - bersih dan dapur juga mungkin jarang kamu pakai. Apa aku benar?" tanya Naoko
"Ii.. iya ibu... Maaf" jawab Naomi terdengar kembali terbata, Naoko menghela nafas mendengar jawaban dari Naomi.
"Ya tidak apa, kamu juga masih sangat muda dan masih kuliah juga. Lalu satu hal lagi, aku mencoba untuk menghubungimu tapi tidak bisa, apa yang terjadi?" tanya Naoko yang nada bicaranya mulai berubah, dengan sedikit tekanan Naoko bertanya.
"Maaf ibu, tapi masalah handphone sebenarnya.... handphone ku terjatuh dan rusak" jawab Naomi
"Dan... kamu tidak segera memberi yang baru?" tanya Naoko lagi dengan nada heran dengan jawaban Naomi
"Aah Eeh... iya bu... aku sudah beli yang baru, maaf belum menghubungi ayah dan ibu" jawab Naomi kembali terbata
"Bohong lagi" ucap Naoko dengan nada marah, Naomi terkejut mendengar nada marah dari Naoko dan langsung mengalihkan pandangannya menatap Naoko dan terlihat raut wajah marahnya.
Naoko berdiri dan berjalan hendak keluar dari ruang keluarga di ikuti oleh Naomi, wajah Naomi terlihat takut dan terheran ada apa sebenarnya dengan ibu nya yang mendadak datang dan tiba - tiba marah padanya hanya karena sebuah handphone. Di ruang makan terlihat Jester sedang menaruh kepalanya di meja, melihat Jester membuat Naoko langsung berjalan mendekati Jester. Ketika itu Jester tersentak saat mengetahui Naoko sudah ada didekannya, walau terlihat bingung Jester masih menyempatkan diri menatap wajah Naomi yang terlihat ketakutan.
"Aa... ada apa bu?" tanya Jester yang kebingungan sembari memandangi Naoko kembali, Naoko tidak tersenyum sama sekali mendengar pertanyaan Jester.
"Apa Naomi bertemu dengan Daniel lagi sejak kalian tinggal bersama?" tanya Naoko tanpa basa basi lagi, Naomi akhirnya sadar ternyata Naoko mengetahui dirinya masih menjalin hubungan dengan Daniel kemarin dan itulah alasan Naoko berada dirumah mereka hari ini.
"Ii.. ibu... aku..." Naomi berusaha menjelaskan namun tangan Naoko memberi gestur agar Naomi diam, Naomi terdiam dan Jester terlihat tenang sembari terus memandangi Naoko.
"Aku rasa tidak. Sejak tinggal bersama dan mobil kamu hanya ada satu, aku dan Naomi selalu bersama. Benarkan Naomi?" jawab Jester sembari mencari dukungan pada Naomi, Naomi hanya menganguk - anggukkan kepalanya tanpa berani menjawab pertanyaan Jester.
"Apa yang terjadi pada Handphone Naomi? apa kamu tahu?" tanya Naoko lagi masih terus menekan Jester, saat itu pertanyaan Naoko membuat Jester sedikit menahan tawa karena teringat kejadian diujung tebing.
"Hmm... agak memalukan sebenarnya untuk diceritakan..." belum selesai Jester berbicara, Naomi memotong.
"Jester San..." dengan nada yang terdengar malu Naomi mencoba berbicara kepada Jester namun lagi - lagi Naoko memotong perkataan Naomi.
"Bisa diam Naomi?" tanya Naoko dengan nada marah dan tatapan Naoko saat itu benar - benar menciutkan mental Naomi, Naomi menunduk dan tubuhnya terlihat bergemetar.
"Naomi membuang handphone nya karena terganggu saat mengungkapkan perasaannya padaku" ucap Jester tanpa beban meneruskan kalimatnya yang terpotong, Wajah Naomi mendadak memerah dan menatap Jester dengan marah karena malu.
"Jester San!!" bentak Naomi sembari memandangi Jester, Naoko melihat wajah Naomi sesaat dan kembali menatap Jester
"Apa kamu tahu kalau Naomi sudah membeli handphone yang baru?" tanya Naoko kembali namun nadanya mulai tenang
"Itu Handphone pemberianku" jawab Jester singkat sembari terus menatap Naoko dengan tenang
"Kamu sungguh pria yang baik Jester, terima kasih sudah menerima Naomi dengan baik" ucap Naoko yang tiba - tiba tersenyum kepada Jester, Jester dan Naomi terkejut karena Naoko tiba - tiba tersenyum.
"Ibu pamit pulang" Naoko sedikit menundukkan badannya, Jester langsung berdiri lalu menunduk dan mengantar Naoko menuju pintu utama rumah diikuti oleh Naomi dari belakang. Sesampainya didepan pintu utama ketika Naoko memasang sandalnya, Naoko memandangi Jester kembali
"Jangan sungkan untuk katakan pada ibu kalau Naomi menunjukkan sedikit saja ketidaksetiaannya padamu" ucap Naoko dengan nada yang ramah
"Terima kasih atas perhatiannya bu, tapi ibu tidak perlu khawatirkan itu" timpal Jester dengan senyuman memandang Naoko, saat itu Naoko tersenyum mendengar perkataan Jester.
"Pria selingkuh sekali dua kali masih dapat dimaklumi namun jika wanita yang berselingkuh, tidak ada hal yang dapat di maklumi. Harga diri seorang pria terletak pada wanita yang mendampinginya" Naoko menjelaskan kekhawatirannya, mendengar perkataan Naoko saat itu membuat Naomi menundukkan kepalanya.
"Hmm... menurutku sama saja, menyakiti perasaan pasangan itu kan tidak baik" balas Jester dengan nada yang tegas
"Itulah kenapa aku bilang kamu pria yang baik Jester" Naoko kembali tersenyum menatap Jester, tidak lama bunyi klakson mobil terdengar.
"Supirku sudah datang, Naomi aku ingatkan sekali lagi padamu" mendadak senyum Naoko hilang dan mengalihkan pandangannya ke Naomi, Naomi melihat Naoko dengan tatapan penuh ketakutan
__ADS_1
"Daniel itu tidak baik untukmu, hentikan!" agak dengan bentakan Naoko mengatakannya, Jester dan Naomi jelas terkejut ketika tiba - tiba Naoko mengatakan itu. Dugaan Naomi tentang Naoko yang mengetahui hubungannya dengan Daniel terasa terbukti benar, sedangkan bagi Jester Naoko saat ini mengetahui kebohongan mereka berdua.