
Pagi hari yang mendung disalah satu jaringan hotel Gates yang terletak dikota satelit, salah satu jaringan hotel Gates yang cukup jauh dari pusat kota. Terlihat Naomi keluar dari mobil taksi online yang dia tumpangi sejak dari rumah, dengan penyamaran yang sempurna Naomi pun mulai berjalan menuju lobby. Mencari tempat duduk disekitar area lobby untuk menunggu Daniel menjemputnya, Naomi pun mulai membuka Ingram di handphonenya lalu mengirim pesan kepada Daniel tentang keberadaannya yang sudah menunggu di lobby hotel.
Tidak lama menunggu Daniel yang juga terlihat menyamar pun mendekati Naomi, tanpa banyak basa basi Daniel langsung memberi gestur tangan agar Naomi mengikutinya menuju kamar. Didalam lift mereka berdua hanya terdiam tanpa berkata apapun, sesampainya di lantai enam mereka langsung menuju kamar nomor 615. Didalam kamar itu Daniel duduk dikasur sedangkan Naomi hanya terdiam berdiri didekat pintu masuk, mata Naomi menatap sebuah jendela yang dapat memandangi langit pagi yang mendung.
"Kemarilah, buat apa kamu berdiri disana" celetuk Daniel memecahkan keheningan
"Katakan apa maumu?!" tanya Naomi dengan bentakan, kepalanya terus mendongak sembari menatap Daniel seakan memandang rendah Daniel.
"Hanya ada kamu dan aku disini, menurutmu apa yang mungkin aku minta darimu?" terdengar sinis Daniel mengatakannya, emosi Naomi pun mulai naik hingga membuat tubuhnya bergemetar.
"Daniel!! aku bukan alat pemuasmu!! aku ini manusia yang juga punya hati dan perasaan!!!" bentak Naomi begitu emosi, Daniel pun berdiri sambil menatap Naomi penuh amarah
"Kamu pikir aku tidak punya perasaan?!! senang sudah menyiapkan pesta pernikahan?!!" tanya Daniel dengan bentakan, Naomi pun terkejut dengan pertanyaan Daniel.
"Kenapa?! terkejut aku tahu tentang persiapan pernikahanmu?!!" Daniel berjalan mendekati Naomi dan langsung menatap matanya dengan penuh amarah
"Aku pernah jahat apa sama kamu? selama ini kamu yang selalu menyakitiku dan aku hanya diam... kamu punya dendam apa sama aku? sampai kamu tega sejahat ini sama aku..." tanya Naomi dan saat itu air matanya mulai menetes deras
"Diam!! kamu itu punyaku dan selamanya akan menjadi milikku!!" bentak Daniel didepan wajah Naomi sampai membuatnya tersentak karena ketakutan, Naomi pun menundukkan kepalanya.
"Lepaskan aku.... Daniel.... aku mohon padamu... selama ini aku sudah tersiksa denganmu... aku mo..." belum selesai Naomi bicara, Daniel pun memotong
"Aku akan buat kamu ingat kalau kamu itu milikku!!" bentak Daniel, Daniel pun menarik tangan Naomi lalu mendorongnya ke kasur dengan sangat kasar
"Daniel!! aku tidak akan pernah memaafkanmu!!" bentak Naomi saat itu dengan derai air mata yang semakin deras membasahi pipinya, namun Daniel tersenyum sinis merespon bentakan Naomi.
"Lalu apa yang akan terjadi kalau kamu tidak memaafkanku?" terdengar sinis Daniel mengatakannya
Sontak Naomi hendak beranjak dari kasur namun Danile lagi - lagi berhasil menahan Naomi, Daniel pun menindih tubuh Naomi yang sudah tidak berdaya karena syok dan ketakutan. Tubuh Naomi bergemetar hebat, air matanya pun menetes deras, sorot matanya menatap tajam menyiratkan kebencian kepada Daniel, namun Daniel seakan tidak peduli dan terus melakukan aksinya menghentikan pemberontakan Naomi. Kedua tangan Naomi ditahan diatas kepala Naomi, tubuh Daniel yang berada diantara kaki Naomi pun memaksa Naomi untuk terus membuka kedua kakinya walau dirinya berusaha merapatkannya sekuat tenaga. Perlahan Daniel mengarahkan ciumannya ke leher jenjang Naomi, merasakan deru nafas Daniel yang penuh nafsu itu membuat mata Naomi terbelalak.
"Daniel!!! hentikan aku mohon!!" bentak Naomi dan terus berusaha memberontak, namun semakin memberontak Naomi semakin sadar tenaganya tidaklah cukup saat ini. Syok dan ketakutan yang berlebihan membuat Naomi tidak dapat mengeluarkan seluruh tenaganya.
Naomi mulai memejamkan matanya dan mengatur nafas serta emosinya ditengah cumbuan Daniel, melemaskan otot - ototnya agar Daniel merasa dirinya sudah tidak akan memberontak demi mendapat momentum Daniel mengendorkan tekanannya. Tidak lama Naomi merasakan genggaman tangan Daniel melemah, saat itu dengan satu tarikan nafas panjang Naomi mengeluarkan seluruh sisa tenaganya untuk memberontak. Melepaskan genggaman tangan Daniel, memukulnya bertubi - tubi hingga Danile kesakitan, mendorong Daniel hingga jatuh kelantai lalu segera melangkahkan kaki menuju pintu.
Mengetahui Naomi akan lari membuat Daniel gelap mata, dia pun menjegal kaki Naomi dengan kakinya yang hendak berlari hingga membuatnya terjatuh keras dilantai. Dengan merintih kesakitan Naomi kembali berusaha untuk bangkit, tapi Daniel menarik kaki Naomi dan menyeretnya kembali medekat ke kasur lalu dengan kasar Daniel membangunkan tubuh Naomi dan mendorongnya kekasur.
Ditatapnya wajah Daniel dengan sorot mata yang begitu tajam walau derai air mata terus keluar dari kedua matanya, seakan dirinya tidak menyangka orang yang pernah dia cintai tega melakukan hal keji seperti ini padanya. Nafas Danile pun terengah - engah namun senyum sinisnya masih tergambar jelas diwajahnya menatap Naomi, Daniel kembali merangkak dikasur mendekati Naomi yang terlihat sangat ketakutan.
"Tolong hentikan.... Daniel, aku mohon...." pinta Naomi begitu memelas, tubuhnya pun semakin kehilangan tenaga walau tetap berusaha untuk menjauhi Danile yang terus mendekatinya.
"Berontaklah semampumu, aku akan ingatkan kembali kenapa kamu adalah milikku" ucap Daniel dengan tenang, Daniel kembali memegang kedua kaki Naomi dan menariknya lalu menindih badannya. Tubuh Naomi pun menggeliat berusaha untuk memberontak, namun tenaganya sudah benar - benar habis.
Ditengah tidak berdayanya Naomi saat itu, Daniel kembali melancarkan aksinya. Cumbuan - cumbuan Daniel kini sudah tidak membuat tubuh Naomi merespon, matanya mulai berkunang - kunang, tubuhnya yang bergemetar hebat pun semakin menambah hilangnya tenaga untuk memberontak, hanya ada perasaan sesak didada sampai membuatnya kesulitan bernafas. Namun semua itu sirna ketika Naomi merasakan tangan Daniel yang mulai meraba masuk kedalam rok bagain dress yang dia gunakan saat itu, kesadarannya mendadak bangkit lagi dan membuatnya kembali memberontak.
__ADS_1
"Daniel!!!" teriak Naomi sambil berusaha melepaskan diri dari dekapan Daniel, namun Daniel masih terlalu kuat untuk Naomi. Tidak lama bunyi telepon di kamar hotel itu pun berdering, Daniel yang terkejut langsung menatap telepon itu.
Daniel beranjak dari kasurnya lalu menarik tangan Naomi dan menyeretnya hingga tepi kasur, mendekap mulut Naomi dengan bantal dan menahannya begitu kuat. Setelah memastikan semua perlawanan Naomi sia - sia karena kurangnya tenaga, Daniel pun mengangkat telepon itu.
***
"Halo" sapa Daniel
"Kamu ngapain? kita harus melihat hasil fotonya!" bentak Sarah
"Ooh ya... nanti saja, aku masih ada urusan" jawab Daniel dengan tenang. Suara Sarah diujung telepon cukup mengagetkan Daniel, bagaimana bisa Sarah tahu dirinya dikamar yang berbeda dengan lokasi photoshoot yang mereka lakukan tadi. Tapi Daniel enggan untuk memikirkannya lebih jauh karena dia ingin segera menutup telepon untuk antisipasi Naomi mulai bersuara.
"Aku sekarang ada di lobby, ada hal penting yang harus aku bicarakan" ucap Sarah, Daniel pun terkejut mendengar perkataan Sarah.
"Kamu bukannya udah pulang?" tanya Daniel
"Iya tadi aku udah pulang, tapi ada hal penting yang harus kita diskusikan tentang sesi photoshoot kali ini" jawab Sarah
"Nanti sajalah! aku masih ada urusan!" ucap Daniel panik
"Aku akan kekamarmu, gila... sampai buka kamar baru, apa yang terjadi? banyak duit kamu sekarang?" terdengar mengejek Sarah saat mengatakannya.
"Sarah! aku masih ada urusan dan aku tidak ingin menemuimu dika..." belum selesai Danile berkata, Sarah memutuskan teleponnya. Hal itu semakin membuat panik Daniel.
***
"Lepas...kan aku... aku akan anggap kejadian ini tidak pernah terjadi..." terbata Naomi mengatakannya, suaranya begitu memelas seakan sedang memohon pada Daniel
"Kamu ingat aku punya teman yang jadi wartawan?" tanya Daniel dengan suara yang sedikit menekan, Naomi pun terkejut dengan pertanyaan Daniel.
"Sarah akan kekamar ini, jadi kalau kamu memberontak maka jangan salahkan aku jika foto itu akan tersebar dengan sangat cepat" ancam Daniel
Ancaman Daniel membuat Naomi kembali ragu untuk memberontak, seketika kekuatannya seperti hilang tetapi dia masih berusaha sekuat mungkin untuk terhindar dari perbuatan Daniel. Naomi pun menundukkan kepalanya dan kembali menangis sejadi - jadinya, kakinya tidak kuat lagi untuk menopang berat tubuhnya dan membuatnya duduk meringkuk bersandarkan tembok. Daniel duduk dipojokan kasur menunggu kedatangan Sarah dan benar saja suara ketokan pintu terdengar tidak lama setelahnya, Daniel pun berjalan mendekati pintu dan membuka sedikit pintu itu.
"Heh! enak - enakan kamu disini ya, kita harus bekerja!" bentak Sarah terdengar kesal
"Kamu kan harusnya udah check out pagi buta tadi, kenapa balik?" tanya Daniel
"Kenapa menahanku disini? kamu menyembunyikan sesuatu didalam? Aku mau masuk, kita akan bahas ini didalam!" tanya Sarah dengan curiga, Daniel hanya terdiam beberapa saat mendengar pertanyaan Sarah.
"Kamu bukan tipe orang yang suka buang - buang waktu seperti ini, kenapa kamu kembali kesini?" tanya Daniel mencurigai Sarah, merasa dicurigai Sarah pun tersenyum sinis menatap Daniel.
"Kamar di hotel ini mahal loh, kamu rela pindah kamar dengan uang pribadi.... apa yang kamu lakukan disini?" tanya balik Sarah dengan penuh kecurigaan, keduanya pun terdiam saling menatap penuh dengan kecurigaan.
__ADS_1
"Aku lagi ada urusan, kalau kamu tidak ada kepentingan dan hanya kepo... mending kamu pulang sekarang" ucap Daniel berusaha memutuskan pembicaraan, saat itu Sarah pun tertawa.
"Daniel... ooh Daniel... kamu sedang menggali kuburanmu sendiri" celetuk Sarah terdengar mengejek Daniel, Daniel pun terkejut dengan celetukan Sarah seakan rahasianya telah terbongkar dan Sarah sudah mengetahuinya. Dalam benaknya, Daniel merasa Naomi sudah merencanakan sesuatu sebelum dia datang ketempat ini. Sontak Daniel menutup pintunya dengan keras, lalu berjalan mendekati Naomi yang masing meringkuk dan menangis.
"Apa yang kamu rencanakan?" tanya Daniel penuh amarah
"Jester.... tolong aku...." dengan pilu Naomi bergumam, gumaman itu terdengar oleh Daniel dan membuatnya naik pitam.
Daniel langsung menarik Naomi agar berdiri dari duduknya dan segera melemparkan tubuh Naomi kembali kekasur, dengan beringas Daniel menarik dress Naomi hingga membuatnya sobek dibeberapa bagian. Melihat Daniel yang begitu liar itu membuat Naomi kembali ketakutan dan syok, kini dress itu tidak sepenuhnya menutupi tubuhnya. Naomi terus memberontak agar Daniel tidak lagi menindih tubuhnya, namun semakin berontak maka semakin banyak pula sobekan dress Naomi saat itu.
"Daniel! aku mohon hentikan!!" teriakan serak dan terdengar pilu itu tidak dihiraukan oleh Daniel, kelakuannya semakin menjadi - jadi merobek dress yang dikenakan Naomi saat itu. Pemberontakan Naomi tidak ada gunanya, tenaga Daniel terlalu kuat untuknya. Beberapa saat tubuh Naomi pun tersingkap, tangisan pilu Naomi semakin menjadi - jadi dan Daniel seakan sudah gelap mata.
"Jester!!!!!" teriak Naomi saat itu kemudian tidak lama pintu kamar terbuka begitu keras dan mengagetkan Daniel juga Naomi, perhatian mereka pun tertuju pada pintu kamar. Jester, Luke, Harry, Luna dan Selena masuk kedalam kamar itu menatap Daniel penuh amarah. Daniel pun berdiri bersiap untuk menghadapi rombongan yang masuk dengan paksa, sebuah keadaan yang tidak disangka oleh Daniel bahkan oleh Naomi sekalipun.
Mata Jester pun tertuju pada Naomi yang masih terlentang dikasur dengan kondisi baju yang sudah robek - robek, mata yang memerah dan wajah yang sudah penuh oleh air mata. Tatapan mata Naomi pada Jester pun menyiratkan ketakutan yang teramat sangat, tubuhnya yang bergemetar dan terlihat lemas menambah kesedihan Jester melihat kondisi Naomi.
"Kenapa kalian bisa masuk?!!" bentak Daniel
"Kamu bodoh ya? ini hotel punya keluarga kak Jester, mendengar calon istrinya tersiksa disini tentu dia akan melakukan segala cara buat menyelamatkannya!!" jawab Selena dengan bentakan
Jester berjalan mendekati Naomi dan menatapnya penuh dengan kelembutan, Naomi hanya terdiam dan sorot matanya mengikuti arah langkah Jester yang mendekatinya. Setelah dekat, Jester pun membopong Naomi dengan lembut untuk memberinya rasa aman.
"Maaf... aku terlambat... ini terakhir kalinya aku tidak peka terhadap keadaanmu.." penuh penyesalan Jester mengatakannya, Naomi pun kembali menangis dengan keras.
"Harry! ambilkan selimut!" perintah Jester pada Harry, dengan sigap Harry berlari dan menarik selimut dari kasur lalu membalut tubuh Jester dan Naomi dengan selimut itu.
"Kamu aman sekarang.... pulang ya..." lembut Jester mengatakannya, Naomi yang saat itu masih nangis terisak - isak pun hanya sanggup untuk mengangguk merespon perkataan Jester. Beberapa langkah Jester beranjak dari tempatnya, dia pun berhenti kembali.
"Hei kamu! ini tidak berakhir disini, aku akan mencarimu walau sampai keujung dunia sekalipun..." walau terdengar tenang, namun kemarahan Jester tersirat dari setiap kata yang dia ucapkan. Jester pun menoleh menatap Daniel yang terlihat sangat ketakutan, kedua mata mereka bertemu dan saat itulah sorot mata Jester sampai membuat kakinya lemas.
"Aku akan hancurkan hidupmu sampai kamu berharap mati lebih baik daripada terus hidup!" ancam Jester lalu dia kembali berjalan melewati Luke, Selena dan Luna.
"Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan" celetuk Jester saat melewati Luke
"Gak usah khawatir" timpal Luke, saat itu Jester kembali berjalan keluar dari kamar dan Luke pun menutup pintu kamar itu. Dilorong hotel dekat dengan lift, terlihat Sarah seperti menunggu kedatangan Jester saat itu.
"Maaf aku cuma bisa membantu kalian mengulur waktu, aku tidak menyangka ini akan terjadi" celetuk Sarah saat melihat Jester yang berjalan sambil membopong Naomi, Sarah pun menekan tombol lift nya dan tidak lama pintu lift pun terbuka.
"Itu sudah cukup, ini salahku yang terlambat menyadari kalau Naomi sedang tidak baik - baik saja" timpal Jester lalu berjalan masuk kedalam lift itu
"Aku tahu kamu sangat marah padanya, tapi aku mohon dengan sangat jangan besar - besarkan masalah ini kepada media... itu akan sangat mengganggu nama baikku dan perusahaanku" ucap Sarah sambil menundukkan badannya kearah Jester dan Naomi, perlahan pintu pun mulai tertutup dan Sarah masih menunduk.
Didalam Lift itu Jester yang membopong Naomi pun terdiam, matanya menatap pantulan dirinya dan melihat Naomi yang sesegukan pasca menangis. Begitu pintu lift terbuka, disana sudah banyak pekerja hotel yang berjejer membentuk pagar hingga sampai kepintu lobby untuk menutupi keberadaan Naomi dari tamu hotel lainnya. Naomi pun terkejut melihat pagar manusia itu lalu mengarahkan pandangannya menatap Jester yang terus berjalan menuju mobil Mercedes Benz V260 yang sudah terparkir tepat didepan pintu Lobby, satpam yang berjaga pun langsung membukakan pintu penumpang depan lalu Jester mendudukkan Naomi dikursi penumpang depan.
__ADS_1
"Katakan kepada menejemen agar kejadian ini tidak sampai ketelinga mama dan papa" ucap Jester kepada satpam itu, lalu segera berlari menuju kemudi mobil untuk segera meninggalkan tempat itu.
Pagi itu menjadi pagi yang mengerikan bagi Naomi, sebuah pengalaman yang tidak akan pernah dia lupakan sepanjang hidupnya. Jester yang lagi - lagi menjadi penyelamat bagi Naomi pun semakin menambah perasaan cinta Naomi pada Jester, sepanjang perjalanan saat itu walau sempat terdiam namun Naomi terus memandangi wajah Jester yang terlihat tersenyum penuh kelembutan.