
Siang hari yang cerah, disebuah cluster perumahan mewah yang terlihat sepi dari kegiatan para warganya. Disalah satu rumah dengan aksen khas budaya jepang, nampak mobil Mercedes Benz C200, BMW 330i, dan BMW 740Li terparkir didepan rumah itu. Didalam rumah, lebih tepatnya didalam ruang keluarga siang itu terlihat Jester, Sarah, Luke, Grece, Justin, Selena dan Harry duduk di sofa.
Diatas meja didepan mereka semua, terlihat beberapa lembar kertas dengan gambar kostum untuk perform. Namun dari tatapan mereka bertujuh, seakan semuanya tidak berfokus pada lembar - lembar yang berserakan diatas meja itu. Semua lebih fokus pada berita yang baru saja tersiar, berita tentang penangkapan seseorang yang diduga melakukan editing foto Daniel dan Naomi yang sempat menghebohkan.
"Apa yang sebenarnya direncanakan Daniel?" gumam Justin
"Darimana dia mendapatkan orang bodoh yang mau berkorban untuknya seperti itu?" Grece menimpali gumaman Justin
"Yang aku dapati cuma Daniel menjual mobilnya... mungkin dia membayar orang itu dengan sejumlah uang" jawab Sarah sembari memberikan handphone miliknya kepada Luke yang menampilkan gambar mobil Honda Civic sedang dijual, pada caption nya tertulis 'Ex Selebgram'
"Darimana kamu tahu ini mobil miliknya?" tanya Luke sembari memperhatikan gambar itu
"Dia membeli mobil itu saat aku dan dia terlibat pekerjaan di kota sebelah, waktu itu aku terpaksa menemaninya..." belum selesai Sarah berkata, Luke menatap Sarah dengan tatapan penuh kecemburuan.
"Berhenti menatapku seperti itu gorila bodoh!" bentak Sarah kepada Luke, dengan wajah kesal Luke membuang muka karena cemburu.
Melihat sikap Luke membuat emosi Sarah naik, Sarah kembali memukuli Luke bertubi - tubi sembari mengungkit kejadian saat kepala Sarah terbentur pintu karena ulah Luke. Penyiksaan Sarah kepada Luke tidak membuat teman - temannya iba dan malah cenderung cuek, hal itu membuat Luke kesal.
"Heei tolong aku!!" teriak Luke meminta tolong
"Sarah... tenang dulu, siksa lah dia sepuas mu saat pembicaraan ini sudah selesai" ucap Jester dengan tenang, Sarah pun menghentikan pukulannya kepada Luke namun Luke terlihat kesal mendengar perkataan Jester.
"Hei Jester, sepertinya Daniel ingin mengambil kesempatan untuk menjadi hero bagi Naomi" ucap Harry menerka - nerka, Grece mengalihkan pandangannya menatap Harry dengan heran.
"Apa maksudmu?" tanya Grece kebingungan
"Bagaimanapun Naomi pasti tahu jika foto yang tersebar itu bukanlah editan, dengan adanya berita seperti ini aku sangat mencurigai jika Daniel ingin mengatakan pada Naomi meski secara tidak langsung bahwa dia berkorban demi memperbaiki nama Naomi" jawab Harry, perkataan Harry seperti disetujui oleh Selena dan Justin dengan anggukan kepala.
"Kalau begitu gawat donk, bisa - bisa Naomi tertipu!! dasar buaya licik!!" dengan nada yang terdengar penuh emosi Grece mengatakannya
"Boleh aku bicara?" tanya Jester sembari memberi gestur tangan agar teman - temannya diam dan memperhatikan dirinya, mereka semua mengalihkan pandangannya menatap Jester dan terdiam.
"Pertama memang benar jika itu bukanlah rencana ku, itu inisiatif Daniel sendiri" ucap jester dengan tenang
"Tuh kan bener!! ayo kita labrak buaya itu!!" penuh emosi Grece menimpali perkataan Jester, namun lagi - lagi Jester dengan gestur tangan meminta Grece untuk diam.
"Kedua... Daniel sudah menyerah mengejar Naomi dan memintaku untuk berusaha keras demi kebahagiaan Naomi" ucap Jester, meski tidak percaya namun semuanya masih terdiam menatap Jester.
"dan ketiga.... Naomi tidak akan sebodoh itu... apa kalian pikir dia akan percaya begitu saja dengan skenario Daniel ini? atau salah satu diantara kalian ada yang dihubungi Naomi untuk menanyakan apa yang dilakukan Daniel?" tanya Jester sembari menatap wajah teman - temannya itu satu per satu, namun semua menggelengkan kepalanya beberapa kali.
"Aku akan tetap waspada, hanya saja mungkin mata ini sudah bisa melihat ketulusan seseorang meski itu dari orang yang jahat sekali..." dengan helaan nafas Jester mengatakannya, tubuhnya pun dia ambruk kan bersandar pada sandaran sofa sembari menatap langit - langit rumah.
__ADS_1
"Aku hanya berharap.... Naomi senang dengan perkembangan kasusnya ini..." celetuk Jester terdengar penuh harap
Disaat bersamaan dengan pertemuan Jester dengan Selena, Luke, Harry, Sarah, Justin dan Grece dirumahnya, Daniel terlihat duduk di dalam Coffee Shop yang terletak ditengah pusat kota. Coffee Shop yang terlihat sepi dari pengunjung meski didepan Coffee Shop itu nampak banyak sekali orang berlalu lalang, sangat cocok untuk orang - orang yang ingin menghindari keramaian.
***Kriing***
Bunyi lonceng penanda ada orang masuk kedalam Coffee Shop itu pun berbunyi, dengan segera seorang pria paruh baya yang bertugas sebagai barista yang sejak tadi membaca koran meletakkan korannya diatas meja untuk menyambut pengunjung barunya siang itu.
"Selamat siang" sapa barista kepada pengunjung yang baru masuk itu, kaki pengunjung itu berjalan mendekati sang barista untuk memesan.
"Double shot espresso, tolong" pesan wanita itu kepada barista, untuk beberapa saat barista itu menatap mata pelanggan.
"Boleh aku sarankan yang lain?" tanya barista itu kepada pengunjung
"Tidak, tolong itu saja" jawab wanita itu dengan tegas, barista itu pun menghela nafasnya sejenak sembari mempersiapkan pesanan.
"Double shot espresso atau Doppio sangat cocok untuk orang yang harus terjaga... tapi anda terlihat harus segera istirahat nona... yakin tidak ingin mengganti menu?" tanya barista itu kepada pelanggannya dengan suara yang terdengar tenang, namun pengunjung wanita itu hanya menggelengkan kepalanya.
Double shot espresso.... biasanya selalu diminati oleh seseorang yang tidak menginginkan matanya terpejam, menginginkan matanya untuk terjaga dengan berbagai alasan yang mereka miliki.
Lalu seorang wanita dengan tatapan mata yang lelah, kantung mata yang menghitam, wajahnya pucat pasi tanpa polesan riasan make up sedikitpun, terlihat sedikit luka pada tangan dan jemarinya datang memesan Double shot espresso. Seakan wanita itu takut matanya terpejam walau kondisinya sangat mengkhawatirkan.
"Beban berat apa yang kamu pikul? saran pria tua ini.... jika memang sangat berat, bagikan kepada orang yang peduli padamu" ucap barista itu dengan bijak, tidak lama secangkir espresso pun dia berikan pada pelanggan.
"Terima kasih nasihat dan kopinya" wanita itu menerima cangkir kopi itu dan memberikan sejumlah uang diatas meja kemudian berjalan mendekati Daniel yang masih terdiam memandangi cangkir kopinya
"Tempat ini adalah tempat pertama kali kita berkencan untuk saling mengenal, kamu yang memilih tempat ini agar dunia tidak mengetahui jika seorang selebgram terkenal sedang berkencan dengan pria antah berantah seperti diriku... benarkan, Naomi?" tanya Daniel sembari mengalihkan pandangannya menatap Naomi, sorot matanya menunjukkan rasa penyesalan yang begitu dalam terlebih Naomi datang dengan penampilannya yang sangat menyedihkan.
Kalimat pertama yang terdengar seperti bualan harus Naomi dengar dan keluar dari mulut Daniel. Sosok pria yang kini telah hilang dari hati Naomi, tidak hanya pernah menjadi monster yang menakutkan Daniel juga membuat Naomi harus kehilangan cinta pertamanya.
"Duduklah dan katakan untuk apa kamu menghubungiku" celetuk Daniel karena Naomi hanya terdiam menatapnya, perlahan Naomi pun duduk didepan Daniel.
Saat itu setiap kata yang Daniel ucapkan hanya menimbulkan kebencian yang semakin memuncak di relung hati Naomi terhadap Daniel. Tatapan mata Naomi tertuju pada wajah Daniel namun menunjukkan ekspresi yang hampir biasa saja. Yaaah... Naomi berhasil meredam seluruh perasaannya dan menghilangkannya begitu saja dengan hati yang sudah kosong karena lelah atas cinta Daniel yang menyakitkan bagi dirinya.
"Untuk apa kamu lakukan itu semua? apa Jester yang memaksamu?" tanya Naomi langsung pada intinya
"Aku melakukannya untuk menebus kesalahanku dan ini bukan perintah Jester" jawab Daniel dengan tegas
"Apa lagi yang kamu rencanakan kali ini?" tanya Naomi menekan Daniel
"Tidak ada apapun, aku sudah katakan semua ini untuk menebus kesalahanku" jawab Daniel
__ADS_1
"Apa salahku padamu sampai kamu tega melakukan ini padaku?" tanya Naomi lagi dengan nada yang mulai meninggi, Daniel hanya terdiam mematung menatap mata Naomi.
Sikap Naomi menyadarkan Daniel bahwa tidak ada lagi yang tersisa dari Naomi untuknya, seketika Daniel merasa bahwa dia telah tega menghancurkan Naomi karena keegoisannya. Satu tarikan nafas panjang dengan dihembuskan perlahan seakan menjadi pertanda sebelum Naomi akhirnya meluapkan semua isi hatinya pada Daniel
"Kamu datang dengan janji untuk membuat duniaku indah, saat itu aku begitu percaya. Memprioritaskan mu adalah kebiasaan ku agar selalu membuatmu senang. Kamu buat aku terlena hingga aku menepis setiap pertanda buruk yang berkali - kali datang hanya karena janji indahnya dunia" dengan suara yang terdengar bergemetar Naomi mengucapkannya, senyum berat Daniel pun terlihat dari garis bibirnya namun mata Daniel menunjukkan seberapa menyesalnya dia.
"Tapi dunia yang indah itu kini sudah musnah, kamu membawanya kelautan yang luas dan menenggelamkannya begitu saja. Kamu mulai sering menyakiti dan melukai aku, terlebih ketika kamu tahu bahwa aku bukan milikmu lagi" Naomi mengucapkannya sembari meremas dengan kuat cangkir berisi espresso didepannya, nafasnya terdengar semakin berat.
"Lama sudah aku pendam ini... apa kamu pernah sedikit saja sadar kalau tidak hanya hatiku yang kamu sakiti selama ini? hidupku pun kamu hancurkan.... kenapa kamu begitu menyiksaku..." terdengar sedih Naomi mengatakannya, sejenak Naomi mengatur nafasnya.
"Apa aku pernah menyakitimu selama ini sampai membuatmu merasa pantas untuk membuatku hancur?! Sadarkah kamu, kini aku harus membencimu untuk mencintai diriku sendiri?!!" tanya Naomi dengan tekanan, sorot matanya kini tertuju tajam menatap Daniel yang masih mematung didepan Naomi.
"Apa aku harus mengulang pertanyaan yang sama agar kamu katakan alasanmu sejahat ini padaku?!" kembali menekan Naomi saat menanyakannya
"Tidak perlu... aku ingat pertanyaan itu dengan sangat baik didalam kepalaku. Aku akan jawab dengan jawaban yang sama, saat itu aku masih memandang mu sebagai milikku" jawab Daniel dengan nada yang terdengar sedih
"Milikmu? setelah semuanya yang sudah jelas tampak didepan matamu, kamu masih bisa menganggap aku adalah milikmu?" senyum sinis terlihat sekilas di wajah Naomi, sementara Daniel memilih untuk tidak menjawab apapun.
"Saat itu aku harus melukai diriku agar sadar bahwa kamu bukanlah yang terbaik untukku, saat itu aku harus menemukan diriku agar bisa melupakanmu...tapi kali ini tidak lagi, bahkan jika kamu membawa dunia indah yang kamu janjikan padaku akan kembali. Semua tidak akan pernah ada artinya lagi, lalu untuk apa dipaksa?!" Tubuh Naomi yang sejak awal duduk dihadapan Daniel sedikit membungkuk kini dia tegakkan dengan kepala yang tidak tertunduk lalu tatapan matanya tajam menatap Daniel yang hanya terdiam seakan membiarkan dirinya melupakan segala isi hatinya.
"Untuk apa terus memaksa? Lepaskan aku, biarkan aku terbang tinggi untuk menjalani dunia indah ku yang telah mampu ku ciptakan tanpamu!" pinta Naomi dengan bentakan, tiba - tiba Daniel menjulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Naomi.
Apa yang dilakukan Daniel saat itu membuat Naomi heran, untuk sejenak tatapan mata Naomi beralih menatap tangan Daniel yang menjulur seakan meminta Naomi untuk menjabat tangannya. Perlahan Naomi kembali menatap wajah Daniel, garis senyumnya masih terlihat namun sorot mata tidak dapat dibohongi jika saat itupun Daniel sedang memendam perasaan sedih dan hancur hatinya.
"Kenapa kita jadi seperti ini? aku tahu semua ini adalah kesalahanku... tapi sampai saat ini pun aku masih sulit untuk menerima kenyataan jika kamu bukan lagi milikku. Tidak ada kata yang pantas untuk aku katakan padamu selain kata... Maafkan aku Naomi..." terdengar lembut suara Daniel saat mengatakannya, Naomi hanya terdiam memandang wajah Daniel itu.
"Disini aku akan katakan untuk terakhir kalinya... aku akan membiarkanmu terbang kemana pun yang kamu inginkan... kita akan melanjutkan hidup kita masing - masing dalam keadaan tidak saling kenal seperti yang kamu inginkan" lanjut Daniel mengatakannya, air mata Daniel terlihat menetes saat mengucapkannya.
Seakan tidak mempedulikan apapun yang Daniel katakan, Naomi berdiri tanpa menyambut jabat tangan Daniel kala itu. Walau sorot matanya masih saling bertatapan, tapi tidak ada sedikitpun belas kasih Naomi kepada Daniel yang meneteskan air matanya.
"Aku akan beri kamu kenang - kenangan terakhir untuk selamanya... aku akan buatkan itu dan ingatlah ketika ada sedikit saja keraguan di hatimu untuk kembali menggangguku, maka lihat lagi kenangan itu dan pergilah menjauh dariku" tegas Naomi mengatakannya lalu meninggalkan Coffee Shop itu, meninggalkan Daniel yang masih menjulurkan tangannya diatas meja, dan meninggalkan semua kenangan mereka berdua ditempat itu.
Daniel menarik kembali tangannya dan dia lipat kan kedua tangan diatas meja, tatapan matanya kini menyorot pada secangkir espresso pesanan Naomi yang tidak dia sentuh sama sekali sejak tadi. Untuk sejenak Daniel hanyut dalam lamunan dan kesedihannya sampai sebuah tangan terlihat mengambil cangkir espresso itu, perlahan perhatian Daniel teralihkan menatap wajah barista yang hendak membersihkan meja.
"Aku ingat pertama kali kamu bersama gadis itu datang kemari... tatapan matanya seakan sudah tidak peduli lagi terhadap dunia dan isinya, hanya ada kamu... senyumnya yang terlihat bahagia sangat terasa bagiku jika dia memang sangat senang bersamamu...." ucap pria paruh baya itu, Daniel tersenyum berat lalu kembali menundukkan pandangannya.
"Pria tua ini sudah sangat berpengalaman memandang tatapan mata seseorang dan yang aku dapati dulu dari tatapan gadis itu adalah.... sebuah tatapan yang mengatakan apapun kesalahanmu padaku, aku akan memaafkan mu. Apa yang sebenarnya sudah kamu lakukan pada gadis sebaik itu?" tanya pria paruh baya itu dengan sedikit tekanan
"Sangat buruk paman.... sangat buruk... aku sampai sulit untuk menjabarkannya padamu" terbata Daniel saat menjawabnya
"Keputusanmu sudah tepat untuk membiarkan gadis itu pergi" timpal pria paruh baya itu lalu segera berbalik membawa cangkir espresso Naomi
__ADS_1
"Jika saja aku bisa memutar waktu.... aku akan lebih cepat menyadari dan lebih cepat untuk melepaskannya demi kebahagiaan Naomi... itu yang aku sesali... tidak ada hal lain lagi yang aku sesali kecuali itu..." ucap Daniel dan kembali menangis terisak - isak, pria paruh baya itu menghentikan langkahnya.
"Tempat ini menjadi saksi bisu kamu dan gadis itu mengikatkan cinta kalian dan disini pula kamu tumbuh dewasa untuk berbesar hati meruntuhkan keegoisan mu sekaligus memutuskan hubungan kalian berdua. Sepertinya kamu akan terus terikat dengan tempat ini" celetuk pria paruh baya itu dan pergi meninggalkan Daniel yang menangis disalah satu sudut meja dalam coffee shop itu