
Di pantai saat dini hari, deburan ombak dan suara angin kencang saat itu seperti menjadi sebuah alunan musik yang indah dan membuat perasaan menjadi tenang. Tapi bagi dua orang yang terlihat sedang berada di bibir pantai saat itu, suara itu menjadi alat untuk menutupi kepiluan. Ya... suara tangisan Naomi teredam oleh suara ombak dan angin, Naomi benar benar tidak menahan semua tangisannya.
Seakan memiliki tempat untuk menangis sekeras mungkin, sosok Naomi yang biasanya terlihat tenang dan anggun mendadak hilang berganti seperti seorang anak kecil yang tidak dapat mengendalikan dirinya saat menangis. Beberapa kali Naomi terdengar mejerit sambil menangis dan disebelah Naomi, Jester hanya memandangi Naomi yang masih bersimpuh menangis dan berteriak. Jester nampak ingin mendekati Naomi untuk menenangkannya namun Jester menahan diri hingga membuat tubuhnya bergemetar, Jester benar - benar ingin membiarkan Naomi menguatkan hatinya sendiri.
Beberapa saat setelah kepiluan dari tangisan Naomi berhenti akhirnya Naomi pun mulai sedikit lebih tenang, Jester dan Naomi duduk bersebelahan dipinggir pantai sambil melihat pemandangan laut malam itu. Mereka berdua saling terdiam dan membisu untuk waktu yang cukup lama, namun Naomi tiba - tiba memecahkan keheningan.
"Terima kasih... dan maaf atas kejadian tadi pagi" ucap Naomi penuh penyesalan, Naomi terlihat menundukkan kepala saat mengucapkannya
"Lupakan... aku pantas menerima itu, aku rasa kamu menahan amarahmu sejak awal kita bertemu hingga sekarang" ucap Jester tenang dan matanya tetap tertuju pada laut.
"Tidak... tidak itu tidak benar, aku tidak marah padamu... maaf kalau kamu merasa aku seperti itu" dengan penuh penyesalan Naomi mengatakannya.
"Heei kita ini manusia, bisa marah, sedih, senang, malu dan lain lain kan? kamu tidak harus selalu memakai topengmu didepanku" sindir Jester sembari menatap Naomi yang masih tertunduk
"Tapi... aku keterlaluan padamu... aku seperti orang yang tidak tahu berterima kasih, selalu merepotkanmu, dan menjadi penghalangmu..." ucap Naomi sembari meremas lengannya dengan kuat
"Itu benar..." dengan tegas Jester mengatakannya dan tanpa senyuman masih menatap Naomi, mendengar perkataan Jester membuat Naomi sedih lalu mengalihkan pandangannya menatap Jester.
"Tapi aku tidak menyesalinya" Jester tersenyum saat melanjutkan kalimatnya, Naomi tersipu malu mendengar perkataan Jester dan membuatnya tertegun.
"Kita impas sekarang, wahaha" ucap Jester dengan tawa kemenangan sembari menatap langit gelap malam itu, Jester hendak berdiri namun Naomi menarik tangan Jester untuk menahannya.
"Bisa... kita disini lebih lama..." pinta Naomi, Jester kembali duduk lalu Naomi menaruh kepalanya dibahu Jester
"Tentu..." Jester nampak malu saat Naomi menaruh kepalanya di bahu Jester, keduanya hanya terdiam hingga muncul sunrise
"Seperti aku... rasa sedih ku hari ini telah berubah menjadi kesenangan dan kebahagiaan.." gumam Naomi saat itu
"Itu benar, tidak mungkin manusia akan terus diselimuti gelap kan. Semangat ya Naomi!" timpal Jester memberi semangat, Naomi yang masih bersandar di bahu Jester hanya tersenyum.
Agak lama mereka berdua menikmati sunrise itu dan kemudian Naomi berdiri dan membersihkan dirinya dari pasir - pasir yang menempel di kaki dan pahanya, Jester pun juga mulai berdiri dan segera berjalan menuju ke mobil namun Naomi masih diam di tempat sambil memandangi punggung Jester. Sadar Naomi hanya terdiam dan tidak mengikutinya berjalan menuju mobil, Jester berbalik menatap Naomi dengan heran.
"Naomi? ada apa?" tanya Jester heran, Naomi tersenyum menatap Jester.
"Kamu boleh meninggalkanku disini, aku akan kembali kerumah orang tua ku dan aku akan katakan semua pada mereka. Aku tidak ingin menjadi penghalangmu lebih lama, kamu harus segera mengejar Camilla" jawab Naomi dengan tegas, mendengar jawaban Naomi saat itu membuat Jester terkejut.
"Kenapa mendadak?" tanya Jester dengan nada yang masih keheranan, Naomi menundukkan kepalanya dan tidak menatap Jester lagi.
"Ini semua tentang dirimu, aku hanya akan menjadi dinding bagimu dan Camilla. Selama orang - orang tahu aku adalah pacarmu, Camilla tidak akan pernah dekat denganmu. Jadi..." belum selesai Naomi menjawab, Jester memotong
"Kamu cerewet ya, Ayo pulang... aku tidak keberatan sama sekali kamu tetap dekat denganku, masalah Camilla biarkan aku yang usahakan sesuatu" ucap Jester sedikit menekan, Naomi sampai mengalihkan pandangannya mendengar perkataan Jester saat itu. Jester menjulurkan tangannya untuk menggandeng Naomi, namun Naomi hanya menunduk dan menyembunyikan senyumnya.
"Dasar bodoh... kamu benar benar bodoh tau..." guman Naomi sembari berjalan dan menyambut tangan Jester, saat itu Jester hendak menarik Naomi menuju mobil namun Naomi menahan langkahnya. Keduanya kemudian saling bertatapan mata, wajah Naomi saat itu terlihat bahagia menatap Jester.
"Aku akan menjadi beban percintaanmu dan kamu tidak berhak untuk protes, karena aku sudah menawarkan untuk meninggalkanmu" ucap Naomi dengan sedikit tertawa, Jester tersenyum menatap Naomi sembari kembali menarik Naomi agar berjalan mendekatinya.
"Tapi setidaknya kamu akan membantuku kan?" tanya Jester dengan penuh harap, Naomi berjalan mengikuti arah tarikan tangan Jester.
"Tentu saja, tapi aku tidak yakin akan berhasil. Kamu terlalu bodoh untuk Camilla" jawab Naomi ketus
"Jahatnya~" ucap Jester memelas, mereka berdua tertawa bersama sembari masuk kedalam mobil dan memulai perjalanan mereka kembali kembali ke kota.
Jalan perkotaaan yang padat pada pagi hari, sebuah Mercedes Benz v260 terlihat melaju dengan kecepatan rendah. Mobil itu melaju menuju pusat kota dan menjadi perjalanan yang melelahkan bagi Jester dan Naomi, tapi kelelahan Naomi sepertinya sudah sampai pada puncaknya hingga membuatnya tertidur didalam mobil. Jester melihat Naomi yang tertidur saat itu disebelahnya dan membuat Jester terpesona, yaa... mata lelaki.
"Wow... Naomi cantik banget ya walau sedang tertidur... Hah?!! aku ngomong apa sih?!" gumam Jester, Jester menambah kecepatan mobilnya agar dirinya kembali fokus pada jalanan. Namun tidak lama matanya kembali menatap wajah Naomi, wajah Jester memerah sesaat ketika menatap Naomi.
"Aarrgghh... aku gak bisa fokus sama jalan!! ini pasti gara - gara ciuman dia" agak berbisik Jester mengatakannya, wajah Jester memerah karena mengingat kejadian Naomi mencium bibir Jester. Jester kembali menatap jalanan perkotaan saat itu, agak melamun Jester terlihat kesal pada diri sendiri.
"Haah... bodohnya aku terpesona sama pacar orang" gumam Jester, Jester berusaha konsentrasi pada jalanan namun tiba - tiba matanya kembali melirik Naomi dan sesaat Naomi membuka matanya lalu mereka berdua bertatapan mata. Jester langsung membuang muka dan melihat kedepan lagi, sedangkan Naomi melakukan peregangan agar terjaga dari tidurnya.
"UUuhhh... maaf aku ketiduran... kamu baik baik saja Jester?" tanya Naomi yang khawatir melihat Jester yang masih menyetir dan tidak istirahat sama sekali sejak tadi.
__ADS_1
"Ahaha.. tentu tentu... ini sudah biasa untukku" jawab Jester terdengar gaguk menjawab pertanyaan Naomi
"Tapi kamu belum tidurkan? gak mau istirahat dulu?" tanya Naomi lagi sembari menatap Jester
"Tidak tidak perlu.... ini bukan apa - apa bagiku" jawab Jester terlihat sedikit kikuk saat menjawab pertanyaan Naomi, melihat kelakuan aneh Jester saat itu membuat Naomi heran.
"Heeh~ kamu sedikit bertingkah aneh ya, cara bicaramu tidak seperti biasanya" ucap Naomi sambil memandangi Jester dengan wajah yang heran, Jester yang menatap Naomi saat itu tiba - tiba salah tingkah.
"Air... ya air aku butuh air kamu tahu, aku akan berhenti di rest area depan kita sehabis ini" ucap Jester terdengar panik, Naomi hanya menatap Jester dengan tatapan curiga sedangkan Jester makin terlihat panik karena Naomi menatapnya terus - menerus.
Di rest area yang terlihat ramai pada pagi itu, Jester memarkirkan mobilnya tepat di depan sebuah mini market. tanpa mematikan mesin mobil, Jester bergegas keluar dari mobil lalu menutup pintunya namun belum juga berjalan menjauh dari mobil, Jester kembali membuka pintu dan masuk lagi kedalam mobil.
"Anu... kamu mau minum juga?" tanya Jester sembari menatap wajah Naomi, saat itu Naomi terdiam beberapa saat sebelum dia menjawab pertanyaan Jester.
"Boleh..." jawab Naomi menggantung
"Apa yang mau kamu beli?" tanya Jester
"Apa saja, teh mungkin... aku ikut kamu" jawab Naomi masih dengan keheranan
"Ooh iya... jadi mau ikut aku? ayo segera turun, aku akan matikan mobilnya" Jester segera mematikan mesin mobilnya lalu segera keluar dari mobil
"Aah tidak... maaf Jester aku kurang fokus, maksudku pilihkan saja minuman untukku. Aku ikut pilihanmu" jawab Naomi, wajah Jester nampak memerah karena malu
"Waaa... sial benar, baiklah tunggu disini oke!" ucap Jester sembari menghidupkan kembali mesin mobilnya dan keluar lalu menutup pintunya dengan keras, namun tiba - tiba Jester kembali membukanya.
"Maaf, aku bukan marah padamu tadi membanting pintu" ucap Jester dengan penuh penyesalan, Naomi semakin yakin Jester bertingkah aneh sejak tadi.
"Ooh tentu... aku paham..." ucap Naomi yang terlihat kebingungan, dengan terburu - buru Jester kembali menutup pintu mobil secara perlahan lalu segera berlari masuk kedalam mini market.
"Haah? kenapa dia itu? kenapa bertingkah begitu..." gumam Naomi, lalu tiba - tiba Naomi teringat perkataan Luke yang mengatakan Jester akan bersikap aneh kalau dia bersama dengan wanita yang dia suka.
"Jangan - jangan dia sempat melihat bajuku tersingkap saat aku tidur tadi!! Tidak!!! tunggu... tunggu tenang Naomi kamu gak boleh berpikiran aneh - aneh" ucap Naomi yang terdengar panik
Agak lama Jester berbelanja, terlihat Jester berjalan dengan membawa tiga bungkus besar yang terlihat penuh. Jester masuk kembali kedalam mobil dan langsung memberikan tiga bungkusan besar kepada Naomi, bungkusan itu berisi semua jenis minuman yang dijual di mini market itu. Naomi sampai tidak dapat berkata - kata karena Jester membawakannya semua jenis minuman, wajah Naomi terlihat kesal, heran, malu dan tidak percaya yang menjadi satu saat melihat tingkah aneh Jester.
"Aku tidak tahu mana yang kamu inginkan jadi aku beli saja semuanya satu - satu, hahaha" ucap Jester dengan suara yang terdengar panik dan malu, Naomi memandangi wajah Jester namun masih terdiam beberapa saat.
"Kamu.... baik baik saja kan?" tanya Naomi antara kaget, tidak percaya, khawatir dan marah pada Jester saat itu
"Ya tentu saja aku baik - baik saja, memangnya aku terlihat aneh?" tanya Jester lalu meneguk minuman yang Jester pegang
"Kamu... bertingkah aneh seperti ini bukan karena suka sama aku kan?" tanya Naomi dengan nada penuh kecurigaan, mendengar pertanyaan Naomi membuat Jester menyemburkan semua air yang ada dimulutnya sekaligus.
"Naomi!! apa - apaan pertanyaanmu itu!! mobil ini jadi tidak bisa digunakan!!" teriak Jester saat itu, Jester terlihat marah karena Naomi bertanya hal yang sensitif baginya.
"Tapi itukan karena kamu yang menyemburkan minumanmu! kenapa jadi aku yang dimarahi?!" balas Naomi ikutan marah pada Jester
"Ini gara gara pertanyaan bodohmu tau!!" jawab Jester dengan marah
"Enak aja!! kamu harusnya tidak perlu bertingkah berlebihan tahu!!" timpal Naomi tidak mau kalah dari Jester
"Ck... huh, kita harus segera ke salon mobil atau mobil ini akan menjadi sarang semut" Jester kesal saat itu sembari mencoba membersihkan bekas minuman sebisanya, Naomi membuang muka
"Kenapa kamu seakan - akan mengatakan ini salahku sih" ucap Naomi yang juga nampak kesal
Jester mengarahkan mobil menuju kesebuah salon mobil yang tidak jauh dari rest area itu, namun disepanjang perjalanan keduanya masih saling bertengkar. Hingga sampailah mereka di salon mobil dan petugas segera melakukan perawatan interior mobil, didalam ruang tunggu terlihat Jester duduk disebelah Naomi dengan wajah yang kesal dan marah sedangkan Naomi duduk dengan menutup wajahnya karena malu membawa tiga bungkus besar berisi semua jenis minuman yang sempat Jester belikan untuknya.
"Kenapa... kenapa aku harus terlibat hal memalukan seperti ini" ucap Naomi dengan perasaan malu, Jester tersinggung mendengar perkataan Naomi saat itu.
"Ini kan gara - gara pertanyaan bodohmu itu!" balas Jester kesal, tidak lama ada beberapa orang asing mendekati mereka.
__ADS_1
"Eeeh kamu Naomi kan? aku penggemarmu loh! boleh aku minta kita untuk berfoto?" tanya salah satu orang asing yang mendekati mereka, ternyata beberapa orang asing ini adalah para penggemar Naomi.
"Waah jadi kalian sedang kencan disini?" tanya penggemar lainnya
"Naomi... tolong donk ijinkan kami berfoto bersama!" tanya penggemar lainnya
"Eeh aah iya... bisa aku minta waktu sebentar? aku dari perjalanan jauh... wajahku pasti kacaukan" jawab Naomi mencoba untuk menghindar namun tetap berusaha bersikap ramah, tetapi rombongan itu tidak juga mau mengerti.
"Tidak.. kamu tetap cantik, aku iri pada kecantikanmu!" ucap salah satu penggemarnya, Naomi tiba - tiba dikelilingi oleh orang - orang asing namun Jester terlihat tidak peduli saat itu dan masih saja terlihat kesal.
Tidak lama setelah di keliling penggemarnya, Naomi terbawa oleh penggemarnya dan meninggalkan Jester dan juga tasnya di ruang tunggu salon mobil itu. Didalam tas itu terdengar bunyi ringtone yang terus menerus menyala. Jester penasaran dan sedikit membuka tas Naomi lalu menutupnya kembali hingga suara dering berhenti, tidak lama Handphone itu berbunyi kembali. Akhirnya Jester memberanikan diri untuk membuka tas itu lalu melihat handphone Naomi, ada telepone masuk tertulis "Selena Bestie"
"Selena? hmm.... mungkin kalau aku angkat gak akan jadi masalah kan?" tanya Jester pada dirinya sendiri, Jester pun mengangkat telepon dari Selena.
***
"Hallo" ucap Jester
"Hah?! kak Jester?!!" Selena terkejut
"Eeh iya ini aku" jawab Jester
"Kak Jester kenapa handphone Naomi ada padamu?! dimana kakak sekarang?!!" Selena membentak
"Duuh gimana ya, ceritanya panjang" jawab Jester
"Jangan bilang kak Jester kencan dengan Naomi!!" Selena kembali membentak
"Engga... gak seperti yang kamu pikirkan kok" bantah Jester
"Ini terlalu pagi kak untuk membuatku cemburu! kakak jahat!!" ucap Selena masih membentak
"Haah... aku bilang tidak, aku sedang di Carwash lagi cuci mobil" ucap Jester tenang
"Lalu kenapa harus bawa Naomi? trus kenapa handphone Naomi ada di kakak?" tanya Selena yang nada bicaranya mulai rendah
"Ceritanya panjang, masalah handphone tadi aku pikir karena kamu yang telepon jadi tidak masalah jika aku yang angkat kan" jawab Jester tenang
"Aku sudah di rumah kalian, tapi cuma ada kak Luke disini. Apa kalian berdua gak kuliah?" tanya Selena
"Yaah, sepertinya gak bisa. Naomi saat ini di tempel penggemarnya" jawab Jester
"Haah? kakak membawa Naomi dengan ceroboh sih, kasian dia kan" ucap Selena
"Lah mana aku tahu bakal begini? lagian ini juga karena salahnya" ucap Jester
"Bisa perhatikan para penggemar Naomi? selalu saja ada yang mencuri kesempatan untuk melecehkannya" Selena memperingatkan Jester
"Benarkah?" Jester mengalihkan pandangannya hendak mencari Naomi, tapi tiba - tiba Naomi menarik handphone nya dengan wajah marah
***
"Berani beraninya kamu ambil handphone di tasku!" Naomi mengatakannya dengan bentakan, Jester terkejut tiba - tiba Naomi berada disebelahnya
"Eeh Itu kan cuma Selena jadi gapapa kan aku angkat" ucap Jester berusaha menjelaskan karena Naomi terlihat marah padanya, Naomi membuang muka mendengar alasan Jester.
"Tidak sopan! gimana kalau aku simpan benda pribadi wanita di tas itu?" tanya Naomi sambil meninggalkan Jester lalu melanjutkan telepon dengan Selena
Beberapa saat berlalu mobil mereka berdua selesai dibersihkan, Naomi masih sibuk menerima permintaan para penggemarnya. Pria wanita berkumpul mengelilingi Naomi untuk sekedar mengobrol maupun berfoto bersama, namun disaat itu ada yang berusaha mencuri kesempatan untuk menaruh tangannya di pinggul Naomi. Dengan sigap Jester berlari dan menahan tangan si pencolek itu, lalu menariknya keluar dari kerumunan hingga membuat si pencolek terjatuh tersungkur dan semua pandangan tertuju pada Jester dan si pencolek
"Apa yang akan kamu lakukan brengsek?!" bentak Jester yang sangat marah pada saat itu
__ADS_1