
Sore hari didepan lobby kampus swasta terkenal yang menjadi tempat Jester menuntut ilmu, terlihat Hyundai Staria berjalan lambat dan berhenti tepat di depan lobby. Di depan lobby itu terlihat kedua orang tua Selena berdiri menanti kedatangan Selena, tidak lama Jester dan Selena pun turun dari mobil dengan wajah yang terlihat senang dan sumringah. Dengan membawa piala kemenangan saat itu Selena berlari memutari mobil Hyundai Staria dan mendekati kedua orang tua Selena untuk memamerkan piala kemenangannya, kedua orang tua Selena terlihat senang dan bangga dengan kemenangan yang dibawa oleh Selena.
"Tada... ini piala kemenangan ku untuk yang ke delapan belas kalinya seumur hidup!" dengan suara yang terdengar sangat bahagia Selena mengatakannya
Selena yang sejak sekolah tingkat dasar memang sering menjuarai berbagai perlombaan pun dengan bangga memamerkan piala kemenangannya kali ini kepada orangtuanya. Raut wajah bangga selalu ditampakkan oleh kedua orang tua Selena sebagai apresiasi atas keberhasilan putrinya itu. Seperti sudah menjadi tradisi, setiap selesai mengikuti perlombaan, kedua orang tua Selena selalu menyambut kepulangannya.
"Selamat ya sayang" ucap ibu Selena lalu memeluknya dengan erat, sedangkan ayah Selena mengelus kepala Selena dengan lembut dan penuh rasa bangga.
"Aah iya ayah ibu... ini Jester Gates" ucap Selena memperkenalkan Jester kepada ayah dan ibunya, dengan segera Jester menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan dengan ayah Selena.
"Tuan dan Nyonya Parker, salam kenal" ucap Jester, ayah Selena menjabat tangan Jester dan tersenyum dengan ramah.
"Tuan muda Gates, salam kenal. Terima kasih sudah menjadi teman Selena" ucap ayah Selena kepada Jester
"Aku mau keatas dulu buat taruh piala ini keruang piala" ucap Selena kepada ayah dan ibunya, Selena lalu menarik tangan Jester untuk ikut masuk kedalam lobby untuk menuju keruang dekan dilantai lima.
Di lift saat itu senyum Selena masih terlihat merekah, tangannya begitu kuat menggenggam piala kemenangan mereka berdua. Melihat tingkah Selena saat itu membuat Jester ikut senang walau terasa begitu heran, mengingat ini bukan piala pertama Selena seperti yang Selena katakan sebelumnya jika itu adalah piala ke delapan belas nya sampai sekarang.
"Ini bukan piala pertamamu... kenapa sesenang itu?" tanya Jester penasaran, Selena menoleh menatap Jester.
"Entahlah, aku begitu bersemangat saat melihat piala ini" jawab Selena, Jester pun tertawa.
"Mungkin karena ini adalah piala pertamamu untuk universitas" timpal Jester, mendengar jawaban itu Selena pun mengalihkan pandangannya menatap piala itu dan sedikit mengangkatnya sampai Selena dapat melihat tulisan yang tertera di piala itu. Terukir nama Jester Gates dan Selena Parker beserta tahun kemenangan, senyum Selena pun kembali merekah lalu memeluk piala itu kembali.
"Mungkin.... siapa tahu..." terbata Selena mengatakannya dan pintu lift pun terbuka, Selena dengan penuh semangat sedikit melompat keluar dari lift lalu berbalik menatap Jester dengan senyum manisnya.
"Ayo kita segera taruh piala ini ditempatnya!" terdengar sangat bersemangat Selena mengatakannya dan kembali membuat Jester tertawa, Selena berjalan lebih dulu dan diikuti Jester menuju ruang piala kampus.
Diruang piala itu terlihat hanya terdapat sembilan piala yang sudah tersusun rapih didalam sebuah kotak kaca, Selena terlihat terkejut melihat perolehan piala kampusnya itu. Seakan tidak percaya kampus yang begitu terkenal seperti itu hanya memiliki sedikit piala, perlahan Selena masuk kedalam ruang piala dan segera melihat - lihat piala - piala yang sudah tertata rapih didalam kotak kaca. Disana Selena melihat nama Jester di semua piala, lalu perlahan pandangan Selena menatap Jester yang berdiri bersandar di kusen pintu.
"Semua.... piala ini... kamu yang memenangkan?" tanya Selena dengan heran
"Iya... kampus ini memang terkenal dengan akreditasinya namun sayang orang - orangnya terlalu enggan untuk berkompetisi, sebagian besar dari mereka adalah anak - anak orang kaya yang masa depannya sudah terjamin karena kekayaan orang tua jadi.... yah mereka merasa hanya membuang - buang waktu jika mengikuti perlombaan" jawab Jester dengan datar
"Piala itu termasuk di akademik jadi taruh di lemari yang paling kanan itu, menyedihkan sekali memang karena hanya ada satu piala disana" sambil menunjuk salah satu lemari Jester mengatakannya, Selena menoleh sesuai petunjuk tangan Jester dan disana hanya ada satu piala.
Perlahan Selena berjalan mendekati lemari itu dan membaca tulisan yang tertera, dengan kompetisi yang sama namun telah didapat satu tahun sebelumnya. Tertulis nama Jester Gates dan Johan Laporta, lalu perlahan Selena kembali menatap Jester.
"Siapa... Johan Laporta?" tanya Selena penasaran
"Dia kakak angkatan kita dan sudah lulus, satu - satunya yang bersemangat ketika seleksi akan dimulai. Di tahun itu, hanya ada empat orang termasuk aku yang mengikuti lomba. Karena itu ketika tahun ini banyak yang ikut, dekan menjadi sangat senang walau jika dekan tahu alasannya... dia pasti akan kembali sedih" jawab Jester dengan sedikit suara tawa, Selena kembali tersenyum.
"Berarti aku menjadi pendamping wanita kak Jester pertama yang bersama - sama memenangkan piala untuk universitas... aku benarkan?" tanya Selena, pertanyaan Selena saat itu mengingatkan Jester ketika mereka berdua datang ke festival square untuk pertama kalinya.
__ADS_1
"Eeh.. yaah... sepertinya begitu..." jawab Jester terbata karena bingung harus menjawab apa, Selena berbalik lalu membuka lemari kaca dan menaruh piala yang dimenangkannya disebelah piala Jester dan Johan. Perlahan Selena kembali menutup lemari itu dan berjalan memutari setiap lemari kaca sembari menyentuhnya dengan tangan kanannya, tingkah Selena saat itu membuat Jester heran.
"Ada apa?" tanya Jester kepada Selena, dengan sedikit suara tawa Selena kembali berjalan mendekati Jester sembari tersenyum.
"Ayo kita ambil piala - piala lainnya dan isi penuh lemari kaca ini dengan piala yang kita menangkan" terdengar lembut Selena mengatakannya pada Jester, mendengar perkataan Selena membuat Jester tertawa lalu menjulurkan tangannya untuk melakukan fist bump dengan Selena.
"Ayo kita lakukan, Selena" penuh semangat Jester mengatakannya, Selena menyambut fist bump Jester
"Ayo!" timpal Selena juga terdengar bersemangat
Keduanya keluar ruangan dan menutup pintu itu dengan obrolan ringan dan penuh canda tawa, keakraban diantara Jester dan Selena sangat terlihat kala itu. Di depan lobby kampus, terlihat William, Marrie, ayah dan ibu Selena sedang mengobrol bersama sembari menanti kehadiran Jester dan Selena, melihat kehadiran Jester dan Selena saat itu secara bersamaan senyum merekah terlihat dari wajah William, Marrie, ayah dan ibu Selena.
Dengan obrolan ringan selama beberapa menit, mereka pun berpisah untuk pulang kerumah masing - masing. Diperjalanan keluarga Gates sore itu menggunakan Mercedes Benz S450, terlihat William, Marrie dan Jester berbicara dengan pembicaraan yang serius, kini Jester harus kembali konsentrasi untuk menghadapi tantangan dari Arthur.
"Perkembangan sejauh ini bagus, hanya saja... kondisi Evans terus memburuk, aku harap kamu segera melakukan langkah berikutnya. Pikirannya tentang Naomi yang disekap oleh kakek mu membuat kondisi kesehatan Evans terus memburuk" ucap William penuh rasa khawatir, Jester merasa bersalah saat mendengar perkataan William.
"Setelah ini, aku akan menandatangani beberapa kontrak jual beli antara Exo dan Arielle. Sarah sudah aku berikan instruksi, saat Exo memiliki uang untuk membeli saham dari teman - teman... saat itulah aku memenangkan pertaruhan ini" timpal Jester menjelaskan lanjutan dari rencananya, Marrie membalik badannya menatap Jester yang duduk dibelakang.
"Jess, mama sama papa benar - benar tidak bisa menemukan dimana Naomi berada didalam rumah kakek. Apa mungkin... kakek membawanya keluar dari rumah?" tanya Marrie pada Jester, dengan wajah kesal Jester menatap Marrie.
"Mama, aku juga tidak tahu" jawab Jester terdengar kesal
"Maksud mama, apa mungkin kamu kepikiran hal itu. Papa bilang kalau kakek mu pasti menyekap Naomi didalam rumah itu, tapi mama berfikir jika kakek mu membawa Naomi pergi dari rumah itu" ucap Marrie menduga - duga, Jester berfikir sejenak sembari menatap jalanan lewat kaca jendela samping.
"Kenapa kamu seyakin itu nak?" tanya William penasaran, Jester mengalihkan pandangannya menatap mata William dari spion didalam mobil.
"Karena aku tidak mendengar jeritan Naomi selama satu minggu ini, entah hanya intuisi ku atau memang seperti itu adanya... tapi aku meyakini hal intuisi ku" jawab Jester dengan senyuman yang terlihat merekah, melihat Jester yang begitu yakin dengan feelingnya saat itu sedikit membuat William dan Marrie merasa lega.
Perjalanan yang ditempuh selama satu jam lima belas menit itu dipenuhi dengan cerita Jester selama dirinya dan Selena berjuang untuk memenangkan perlombaan, Marrie begitu bangga terhadap Jester yang mewarisi kepandaiannya. Hingga akhirnya Mercedes Benz S 450 terlihat mendekati sebuah pagar rumah yang menjulang tinggi mengikuti kontur perbukitan, pagar pun terlihat terbuka secara otomatis ketika Mercedes Benz S450 itu sudah sangat dekat.
Di kediaman Gates ketika mobil Mercedes Benz S450 yang dikendarai William sampai didepan pelataran rumah, hampir bersamaan Jester, William dan Marrie pun turun dari mobil. Dengan segera seorang pria berpakaian tuksedo hitam mendekati mereka dan menerima kunci mobil dari William lalu membawa mobil Mercedes Benz s450 itu kembali ke garasi, sedangkan Jester, William dan Marrie berjalan bersama masuk kedalam rumah dengan suara tawa dan obrolan ringan.
Disepanjang perjalanan dari pelataran rumah hingga ke kamar Jester, diantara William, Marrie dan Jester terdengar suara obrolan yang menyenangkan. Suara tawa dan obrolan mereka terdengar menggema di koridor rumah hingga membuat pekerja yang berada disana saling menatap ke rekan mereka, suara yang sudah lama tidak pernah terdengar dirumah itu adalah suara tawa. Beberapa dari pekerja yang mendengar suara tawa Jester, William dan Marrie saat itu terlihat saling tersenyum terbawa keakraban keluarga kecil Gates.
Hingga akhirnya di depan kamar Jester saat itu, William dan Marrie berpisah untuk kembali ke kamarnya masing - masing. Di dalam kamar Jester melihat dua wanita berpakaian maid sedang berdiri didekat pintu masuk, dengan wajah heran saat itu Jester menatap keduanya.
"Ngapain kalian disini?" tanya Jester kepada kedua wanita berpakaian maid itu
"Kami menunggu perintah jika tuan muda Jester membutuhkan kami" jawab salah satu wanita itu, Jester menggaruk dahinya beberapa saat.
"Tidak usah, aku butuh istirahat jadi silahkan keluar" perintah Jester, dengan segera kedua wanita itu pun keluar dari kamar Jester dan menutup pintu kamar secara perlahan.
Malam itu terasa sepi bagi Jester ketika dirinya sudah berada didalam kamar, terasa sangat berbeda ketika Jester masih bersama Naomi dikamar itu. Terlebih sudah satu minggu penuh Jester tidak juga bertemu Naomi, bahkan suaranya pun sudah tidak pernah dia dengar selama satu minggu ini. Jester berjalan mendekati Jendela dikamar itu dan menatap indahnya perbukitan ketika senja, tatapannya begitu sedih karena memikirkan Naomi.
__ADS_1
"Apa benar kamu baik - baik saja... Naomi.." gumam Jester
Tidak lama suara ketukan pintu terdengar, seseorang terlihat ingin menemui Jester saat itu. Jester berbalik lalu berjalan mendekati pintu untuk membuka dan mencari tahu siapa yang mengetuknya, begitu pintu terbuka saat itu Jester melihat Julius. Dengan senyum Julius menatap Jester yang terlihat kesal, walau mendapat tatapan seperti itu namun Julius tidak menghapus senyum dari wajahnya.
"Selamat kembali tuan muda Jetser, aku dengar dari tuan William jika kamu memenangkan lomba antar universitas itu. Julius ucapkan selamat atas kemenangannya, semoga kemenangan itu menular ke rencana mu untuk mengalahkan tuan besar Arthur" terdengar bahagia Julius mengatakannya, namun ekspresi wajah Jester masih terlihat kesal.
"Terima kasih" jawab Jester dengan singkat
"Aku mendapat telepon dari Jeremy dan Burgess, sesuai perintah tuan muda... aku sudah melakukan tugasku dengan baik" ucap Julius dengan suara yang terdengar serius namun sedikit berbisik - bisik, Jester tersenyum mendengar perkataan Julius.
"Aku tahu, temanku sudah mengatakannya dan saham Arielle juga sudah ada di tanganku. Dengan ini aku bisa segera melancarkan rencana ku yang lain, lalu bagaimana dengan kakek? ada pergerakan?" tanya Jester pada Julius dengan suara yang juga terdengar berbisik - bisik.
"Tuan muda sangat diabaikan oleh tuan besar, Julius harap tuan muda bisa mengambil kesempatan ini sebaik - baiknya" timpal Julius masih berbisik
"Aku mengerti, lalu... apa aku boleh bertanya tentang Naomi?" tanya Jester pada Julius, sempat terdiam beberapa saat tiba - tiba Julius kembali tersenyum.
"Nona muda Scott baik - baik saja, tuan muda tidak perlu khawatir. Semakin cepat rencana tuan muda berjalan, semakin cepat pula kalian berdua akan kembali bersama" jawab Julius mencoba menenangkan Jester, namun Jester tidak puas dengan jawaban Julius tapi Jester sangat paham jika dia memang tidak dapat berbuat apa - apa disaat seperti ini.
"Aku rindu padanya" gumam Jester lalu menghela nafasnya, Julius tertawa mendengar gumaman Jester sembari berbalik hendak meninggalkan Jester disana.
"Anggap saja ini ujian cinta kalian berdua, tabung rindu itu dan pecahkan ketika kalian bertemu nanti" timpal Julius sembari pergi berjalan meninggalkan Jester disana, dengan wajah kesal Jester menatap Julius yang semakin menjauhinya. Perlahan Jester menutup pintunya lalu merebahkan tubuh di kasur untuk beristirahat, sejenak Jester mencoba untuk melupakan rasa rindunya pada Naomi dengan tidur.
Malam harinya, disebuah kafe dipusat kota yang terlihat cukup ramai oleh pengunjung. Terlihat Daniel yang sedang menikmati minumannya yang dia pesan sembari menggulir layar handphonenya, matanya tertuju pada layar handphone yang menampilkan berbagai berita tentang pernikahan Jester dan Naomi diberbagai akun ingram berita yang Daniel ikuti. Seakan semua berita sekarang sedang fokus pada pernikahan Jester dan Naomi, hati Daniel pun panas membara membaca berita - berita itu.
Tidak lama terlihat Camilla berjalan mendekati meja Daniel, namun langkahnya terhenti sejenak untuk memesan minuman kepada waiters yang kebetulan berpapasan dengannya. Setelah memastikan pesanannya sudah tercatat, Camilla kembali berjalan mendekati Daniel lalu duduk berhadap - hadapan dengan Daniel. Keduanya tidak saling menatap karena Daniel masih terlihat fokus menatap layar handphone dan tangannya sibuk menggulir layar, dengan helaan nafas Camilla mencoba mendapatkan perhatian Daniel.
"Belum panas juga hatimu terus menggulir ingram? semua berita pasti tertuju pada pernikahan Jester dan Naomi" celetuk Camilla yang terdengar tanpa beban itu, Camilla seolah tidak memikirkan perasaan Daniel.
"Diam" jawab Daniel singkat dan terdengar sedikit marah, mendengar Daniel yang marah membuat Camilla tertawa.
"Apa kamu sudah membawa berita yang ingin aku dengar?" tanya Camilla pada Daniel, perlahan Daniel menaruh handphone miliknya di atas meja lalu mengalihkan perhatiannya menatap Camilla.
"Akan ada acara besar yang akan melibatkan Naomi, kata temanku... Naomi akan menampilkan sosok yang selama ini dia pendam dengan cara bermain gitar. Lagu yang dipilih juga jenis rock keras, sepertinya sesuai dugaan mu... Naomi akan memberontak pada orangtuanya" jawab Daniel, Camilla tersenyum sinis mendengar jawaban Daniel.
"Hari ini temanku yang bekerja di rumah sakit Scott mengatakan jika ayah Naomi sedang terbaring sakit, namun sosok Naomi tidak pernah muncul untuk menjenguk. Kamu tahu apa artinya?" tanya Camilla, mendengar pertanyaan itu membuat Daniel heran.
"Ti..tidak.. memang apa?" tanya Daniel terdengar heran, Camilla kembali tertawa karena kebodohan Daniel.
"Pantas saja kamu dicampakkan oleh Naomi, selain miskin kamu juga tidak pintar ya" ejek Camilla lalu tertawa keras, Daniel yang merasa tersinggung saat itu hanya bisa membuang muka dengan wajah yang terlihat kesal.
Seringkali Camilla dengan bahagianya memojokkan dan mengejek kebodohan Daniel tanpa memikirkan perasaanya, namun Daniel yang kesal tidak mampu membalas dan berbuat apa - apa karena dirinya membutuhkan Camilla untuk melancarkan rencananya.
"Naomi sepertinya tidak dapat keluar dari tempatnya berada sekarang, entah dimana dia berada sekarang. Ketika aku ke kampus satu minggu lalu tepat saat Jester dan Selena berangkat keluar kota untuk mengikuti lomba... Naomi juga tidak hadir, dengan itu aku menarik kesimpulan... Naomi sedang ditahan oleh Arthur Gates karena dia sangat tidak senang dengan semua pemberitaan yang sudah beredar ini" ucap Camilla menjelaskan persepsinya kepada Daniel
__ADS_1