Aku Pinjam Dia

Aku Pinjam Dia
Masa Lalu Naoko (1)


__ADS_3

Dilangit yang cerah, sebuah pesawat jet terlihat melintas. Cerahnya langit saat itu seakan tidak berarti apa - apa bagi Naomi, justru seperti sedang dalam suasana mendung yang kelabu Naomi duduk didalam pesawat dengan mata yang sembab dan raut wajah yang sangat sedih.


Diambilnya sebuah handphone miliknya lalu dengan sedikit usaha keras Naomi mengeluarkan sim card didalamnya, yaah....Naomi bertekad untuk mematahkan sim card miliknya dan memilih untuk tidak mengakifkan nomornya lagi. Naoko yang berada disebelah Naomi saat itu heran dengan apa yang baru saja Naomi lakukan. Helaan nafas berat Naoko menarik perhatian Naomi, anak dan ibu itu pun saling tatap namun dalam diam untuk beberapa saat.


"Kenapa?" tanya Naoko singkat, namun Naomi sangat memahami apa yang coba Naoko tanyakan padanya.'


"ini.... agar Jester tidak dapat menghubungiku..." jawab Naomi terdengar sedih


"Kamu membencinya?" tanya Naoko lagi


"Tidak... aku sangat mencintainya..." jawab Naomi lalu kembali menatap handphone miliknya yang telah mati dengan sim card sudah patah itu.


Naoko memahami bukanlah pilihan yang mudah bagi Naomi untuk meninggalkan Jester, tapi Naoko sangat menghargai keputusan yang Naomi ambil. Keduanya kini terlibat percakapan yang cukup intens dan dekat setelah kejadian kematian Evans yang membuat hubungan Naoko dan Naomi memburuk.


"Lalu kenapa kamu lakukan itu?" tanya Naoko lagi, kali ini suaranya terdengar sedikit menekan.


"Agar Jester menganggap aku pergi untuk selamanya... aku ingin dia membuka hatinya dan tidak hanya fokus menungguku pulang, aku ingin dia berusaha dengan keras mencari penggantiku.... aku hanya akan jadi penghalangnya jika masih dapat dihubungi dengan mudah" jawab Naomi, seketika itu Naoko terdengar menghela nafasnya lagi dan mereka pun terdiam sejenak.


Suara deru mesin jet pun terdengar didalam kabin pesawat, kesunyian itu sudah berlangsung lama sampai tiba - tiba Naoko meminta sebuah botol minum yang terletak tidak jauh dari posisi Naomi dengan gestur tangannya. Naomi mengambilkan botol air mineral itu dan memberikannya pada Naoko, setelah menerima dan meminumnya Naoko menatap Naomi dengan tajam.


"Mungkin sudah saatnya kamu mengetahui tentang perjodohanmu dengan Jester yang sudah direncanakan bahkan saat kamu masih didalam kandunganku" ucap Naoko dengan tegas, Naomi terkejut mendengarnya namun dia memilih untuk tetap diam dan memperlihatkan gestur ingin mendengar apa yang baru saja Naoko katakan.


"Semua dimulai saat aku dan Marrie masih remaja, di SMA saat itu... aku dan dia saling membenci satu sama lain, semua karena persaingan ketat kami untuk menjadi wanita terbaik, kembang sekolah, terpintar disekolah, dan menjadi wanita yang digandrungi oleh para murid pria dengan terhormat" Naoko mulai menceritakan masa lalunya, sejenak Naoko terdiam seakan sedang mencoba memutar kembali kenangan itu.


"Sebuah hal mengejutkan ketika pria yang aku sangat cintai memiliki sahabat yang menikahi musuh bebuyutan ku masa SMA itu, dayung bersambut.... Marrie pun merasakan hal yang sama denganku. Kami tetap saling membenci walau ketika berada didepan Evans dan William... kami seolah tidak saling mengenal dan tidak memiliki masalah apapun" lanjut Naoko menceritakan masa lalunya


Naomi menunjukkan sikap seakan siap untuk mendengarkan cerita Naoko, rasa penasarannya begitu kuat tentang perjodohan dirinya dan Jester oleh kedua orang tua Naomi.


"Ini akan menjadi cerita yang panjang... aku ingin kamu memahami ini dan tentukan langkahmu sendiri kedepannya..." ucap Naoko, saat itu Naomi hanya menganggukkan kepalanya.


***UNTUK BEBERAPA EPISODE KEDEPAN, ALUR CERITA MENGGUNAKAN SUDUT PANDANG ORANG PERTAMA SEBAGAI NAOKO***


"Oweeek.... Oweeeek..." suara tangisan bayi terdengar di telingaku...


Aku terdiam dan terus memandang wajah musuh bebuyutan ku selama ini.... Marrie melahirkan anak pertamanya, Seorang bayi laki - laki terlihat sangat sehat dan tampan. Bayi itu diberi nama Jester Gates. Perasaanku campur aduk saat itu, aku turut senang dengan kelahiran anak pertama Marrie namun disisi lain aku merasa kesal karena Marrie lebih dulu mendapatkan momongan.

__ADS_1


"Selamat William!! bayi laki - laki yang sehat seperti dirimu!!" terdengar bahagia pria di sebelahku ini atas kelahiran anak Marrie, dia adalah Evans yang saat itu adalah suamiku dan kami baru saja menikah sejak tiga bulan yang lalu.


"Wahahaha!! aku juga senang!! terima kasih rekomendasinya, istri dan anakku mendapatkan perhatian lebih dari para staff dokter karena mu!" penuh semangat William mengucapkannya


"Ayolah Will, rumah sakit ini berdiri juga karena mu. bagaimana mungkin aku..." belum selesai Evans mengatakannya, saat itu aku melihat William menutup mulut Evans.


Sebuah persahabatan yang begitu kuat bisa ku lihat antara Evans dan William yang merupakan suami dari musuh bebuyutan ku sejak SMA. Memasang wajah yang turut berbahagia dihadapan sahabat Evans adalah satu - satunya yang bisa aku lakukan demi menghargai persahabatan suamiku saat itu.


"Pssstt!! jangan keras - keras!! kita tidak tahu monster itu ada disekitar kita atau tidak!" terdengar membentak William mengatakannya, perlahan aku mendekati Marrie yang masih terbaring sambil menangis bahagia.


"Selamat nyonya Gates atas kelahiran putra kalian, kami keluarga Scott turut bahagia" ucapku, lalu ku lihat senyum seakan sedang mengejekku dari garis bibir Marrie.


"Hohohoho..... terima kasih, karena ini adalah anak PERTAMA kami... aku menerima ucapan tulus mu dengan senang hati" ucap Marrie dengan penekanan pada kata pertama, aku begitu kesal mendengarnya namun dengan sekuat tenaga aku menahan kekesalanku.


"Sama - sama" ucapku sembari meremas tangan Marrie yang tertanam jarum infus yang masih menempel itu


Yaah tindakan bodoh memang... tapi ayolah, aku kesal padanya saat itu. Rintihan Marrie menarik perhatian Evans dan William, aku tahu Marrie ingin balas dendam namun karena kondisinya dia hanya bisa tertawa menatapku.


"Hei anakku kan laki - laki, kalian berusahalah untuk mendapatkan anak perempuan dan kita akan jodohkan mereka!" ucap William dan tentu saja hal itu mengagetkanku dan Marrie, kami serentak menatap mata William dengan terkejut.


Bukan ide yang baik dan bisa aku terima begitu saja, tentu saja didalam lubuk hatiku menolak dengan keras keinginan William. Namun terlihat berbeda dengan Evans suamiku, dia tampak sangat antusias dengan perkataan William.


Kenapa aku mengatakan kami? karena aku sangat memahami jika Marrie pun tidak sudi berbesanan denganku, ketika itu William dan Evans menatap kami serentak. Entah mengapa aku dan Marrie mematung seakan sedang terjebak dalam sandiwara kami sendiri, namun mata berbinar Evans membuatku tidak kuasa untuk menolaknya.


"Naoko, kita akan berusaha mendapatkan anak perempuan" pinta Evans padaku


"I..iya Evans san..." jawabku terbata


Suara tawa William dan Evans seakan menjadi penutup pertemuan kami hari itu, tidak lama setelahnya aku dan Evans pun berpamitan untuk pulang. Di perjalanan saat itu, Evans seakan tidak bosan - bosannya membahas tentang pernikahan anak kami dimasa depan meski saat itu aku eneg untuk membayangkannya.


Tiga minggu setelah Jester lahir.... aku pun dinyatakan positif hamil, aku sangat berharap jika anak yang dikandung ku itu adalah seorang laki - laki. Aku terus saja melakukan apapun yang bisa memperkuat persentase kemungkinan anak dalam kandunganku akan menjadi anak laki - laki dibelakang Evans, sungguh aku merasa bersalah padanya.... tapi aku benar - benar tidak ingin berbesanan dengan Marrie.


Takdir berkata lain...


Ketika kandunganku berumur enam bulan, aku melakukan USG dan dinyatakan jika anakku adalah seorang perempuan. Hatiku hancur mendengar perkataan dokter kepadaku, tapi Evans sebaliknya.... dia begitu bahagia...

__ADS_1


Seberapa bahagia dia? biar aku beritahu gambarannya....


Dirumah sakit Scott setelah aku keluar dari ruang pemeriksaan.... Evans mendatangi semua orang yang berada disana seakan sedang mengumumkan jika dia akan segera menjadi seorang ayah.


"Aku sempurna menjadi seorang ayah!! kamu tahu? bidadari disana itu adalah istriku dan didalam perutnya ada anakku yang seorang perempuan!!" ucap Evans kepada setiap orang yang dia temui hari itu


Aku malu dengan tingkahnya... Evans yang aku kenal sebagai orang yang kalem dan berwibawa, hari itu menjadi orang penuh emosional meluapkan kebahagiaannya. Tapi....


Tapi... aku menangis bahagia... semua perjuanganku mendapatkan hatinya... pengorbananku... cintaku akhirnya terbalaskan... aku berhasil membahagiakan orang yang sangat aku cintai....


"Naoko!! terima kasih!!!" ucap Evans saat itu lalu dia mencium bibirku begitu hangat dan mesra


Kekecewaanku memudar dan menguap begitu saja, aku turut bahagia untuknya....


Sembilan bulan kurang, aku melahirkan seorang anak perempuan yang sehat dan cantik dirumah sakit Scott. Aku melihat Evans berlutut disebelah kasur bayi yang memang sudah tersedia dikamar, aku mendengar dia begitu bahagia sampai menangis terisak - isak disana. Sesekali dia melihat bayi perempuan itu, lalu kembali menunduk dan menangis kembali...


Lucu... aku ingin tertawa saat itu... melihat sikap orang yang selalu aku katakan jika aku mengenalnya dengan baik, namun aku begitu terkejut dengan sikap yang dia tunjukkan hari ini...


"Evans!!! benarkah anak yang keluar dari perut Naoko itu perempuan!!!" kesunyian kamar mendadak buyar dengan kedatangan William, dia membuka pintu seakan seorang FBI yang akan menangkap penjahat incarannya.


Tingkah William tidak membuatku heran, memang begitulah seorang William terhadap Evans suamiku. Tak heran jika rencana perjodohan itu bisa saja terjadi.


"Ooooweeeekkkkk!!!" tangisan anak perempuanku begitu terdengar karena terkejut dengan kehadiran William, tidak lama Marrie muncul dan memukul kepala William dengan sangat keras yang mengagetkanku.


"Tenanglah dasar kau ini!!" bentak Marrie setelah memukul kepala William dengan sangat keras itu, lalu Marrie pun berlari masuk kedalam kamar mendekati kasur bayi perempuanku.


Aku bisa melihat matanya berbinar menatap wajah anakku, tidak lama William berlari mendekati Evans dan sama - sama melihat bayi perempuanku dalam diam. Tangisan anak perempuanku seakan mereka cuekin, aku sedikit kesal karena mereka hanya menonton anakku menangis dengan keras.


"Evans san... bisakah..." belum selesai aku ingin meminta Evans menenangkan anakku, tiba - tiba William merebut Jester dari gendongan Marrie dan meletakkannya disebelah bayi perempuanku.


Entah keajaiban apa yang saat itu terjadi... aku melihatnya sendiri jika tangisan anak perempuanku mendadak berhenti ketika Jester tidur disebelahnya... perlahan Evans dan William menoleh menatapku.


"Siapa namanya, Naoko?" tanya William, aku termenung sejenak


"Evans san... siapa nama anak itu?" tanyaku kepada Evans

__ADS_1


Sejak berharap bayiku adalah bayi laki - laki, aku memang tidak menyiapkan nama bayi perempuan yang ku siapkan malah beberapa nama bayi laki - laki bahkan saat tahu bahwa bayi dalam kandunganku saat itu adalah perempuan aku masih berharap ada keajaiban bahwa ketika dilahirkan bayiku adalah bayi laki - laki, itulah mengapa aku tidak mempersiapkan namanya dan ku pasrahkan pada Evans.


"Anak perempuan yang hadir dari rahim seorang bidadari dalam hidupku... aku berharap dia akan menjadi wanita tangguh seperti dirimu, penuh cinta sepertimu, baik sepertimu dan tumbuh cantik sepertimu.... namanya adalah.... Naomi... Naomi Scott..." ucap Evans sambil menatap mataku dalam - dalam dengan senyum penuh kebahagiaan.


__ADS_2