
Pada siang hari di lingkungan kampus yang terlihat ramai oleh kegiatan mahasiswa mahasiswi, sebuah pemandangan tidak biasa terlihat di tengah taman kampus karena pertengkaran dua mahasiswa yaitu Luke dan Jester.
Harry dan Camilla terkejut saat itu dengan tindakan Jester, kedua sahabat ini mendadak terlibat dalam perkelahian yang tidak di duga duga. terjadi kehebohan, Jester dan Luke saling bertatapan mata. Luke berdiri dan membalas pukulan Jester kali ini Jester yang terjatuh
"Kamu ini siapa?!" Luke membentak dengan penuh amarah, Jester masih terdiam saat Luke meneriakinya.
"Ooii ooii Luke, hentikan! ini kampus!" teriak Harry yang mencoba melerai, Camilla terlihat panik dan bingung melihat Jester dan Luke berkelahi.
"Hentikan ocehan mu itu!!" teriak Jester sembari berdiri dan memukul Luke, namun Luke tidak membiarkan dirinya terpukul begitu saja.
Kedua nya terlibat perkelahian dan saling balas pukulan, Harry yang berusaha melerai keduanya nampak kesulitan karena kuatnya tenaga Jester dan Luke. Hingga akhirnya setelah saling mendaratkan pukulan untuk kesekian kalinya akhirnya Luke berhasil menjatuhkan Jester ketanah, menindih dan menguncinya sehingga Jester tidak dapat bergerak.
"Kamu ini siapa?!! sejak kapan kamu menjadi pria brengsek seperti ini hah?!! kamu ingin menduakan Naomi?!!" teriak Luke didepan wajah Jester, dengan tatapan penuh amarah Jester menatap Luke
"Jangan bercanda Luke!! kamu tahu apa hah?!! apa kamu tahu seberapa sukanya aku pada Camilla?!! apa kamu tahu seberapa menderitanya aku ketika ditolak?!!" Jester melepaskan kuncian Luke dengan cara memukul wajah Luke hingga Luke bergulung agak menjauh dari Jester, Luke tersadar saat mendengar perkataan Jester.
"Heii Jester, Camilla mendengar mu tau" ucap Harry saat itu sembari menatap Camilla yang terlihat panik dan membatu
Jester dan Luke masih terduduk di tanah dan saling bertatapan tanpa sepatah katapun, tidak lama Luke mengalihkan pandangannya menatap Camilla dengan penuh rasa marah. Sorot mata Luke jelas memberi isyarat seberapa bencinya dia pada Camilla, Hal itu membuat Camilla gentar hingga tidak dapat berkata - kata.
"Kamu juga sama saja, Aku salah menilai mu. Bisakah kamu berhenti mempermainkan Jester?!" bentak Luke pada Camilla
"Aku... aku tidak bermaksud seperti itu tahu..." Camilla menjawab, suaranya terdengar bergetar dan terbata.
"Hentikan Luke!" dengan bentakan Jester mengatakan itu
"Hei Camilla pergilah dari sini, Luke sedang emosi jadi perkataannya jangan dimasukkan dalam hati" ucap Harry dengan memberi gestur tangan agar Camilla menjauh
Camilla hanya mengangguk lalu meninggalkan mereka bertiga di taman itu, kerumunan disekitar sana pun berangsur angsur membubarkan diri dan menyisakan Three Musketeers yang masih saling terdiam.
Setelah sempat terdiam tanpa saling menatap, tidak beberapa lama Jester berdiri dan hendak meninggalkan Luke dan Harry di taman itu. Setelah pertengkaran mereka nampaknya kondisi Three Musketeers agak canggung, melihat Jester yang akan pergi begitu saja membuat Harry sedikit berlari mendekati Jester untuk menahannya.
"Heii Jester!!" agak berteriak Harry mencoba untuk menghentikan Jester, tanpa menoleh Jester terus berjalan meninggalkan Luke dan Harry
"Aku mau pulang" timpal Jester sambil terus berjalan menuju parkiran kampus
Harry terlihat ingin menghentikan Jester namun Luke menahan Harry agar membiarkan Jester pergi, sempat ingin tetap mengejar namun Harry akhirnya memutuskan untuk membiarkan Jester sendiri.
Dengan menundukkan kepala Jester berjalan merenung sepanjang jalan menuju parkiran kampus, hingga disalah satu sudut parkiran kampus Jester sempat melihat Naomi seakan sedang menunggunya disana. Jester menyadari bahwa itu Naomi namun Jester memilih untuk terus berjalan mengabaikan dan melewati Naomi tanpa sepatah katapun, hingga beberapa langkah suara Naomi pun terdengar.
"Itu pasti sakit kan? dengan tubuh sebesar itu pasti tenaga Luke juga kuat" celetuk Naomi ditengah keheningan mereka, Jester menghentikan langkahnya namun tetap tidak menatap wajah Naomi.
"Aku sudah terbiasa dengan sebuah pukulan, jadi ini tidak masalah untukku" timpal Jester mengatakannya dengan tenang, dengan mata yang menunjukkan kekhawatiran Naomi menatap punggung Jester
"Yang kamu lakukan itu sudah benar, kamu juga sudah menyatakan langsung perasaanmu padanya" puji Naomi atas sikap Jester yang tadi melindungi Camilla dari ucapan kasar Luke, dengan helaan nafas Jester lalu tersenyum sembari berbalik menatap Naomi.
"Heii aku pikir kamu sudah pulang tadi" ucap Jester berusaha mengalihkan pembicaraan, seakan paham jika Jester tidak ingin membahasnya Naomi terdiam sesaat sebelum menimpali perkataan Jester.
"Aku memang sudah pulang, tapi Selena bilang tadi dia bertemu dengan wanita yang kamu suka. Karena penasaran aku dan Selena kembali tapi yang aku dapati malah keributan mu dengan Luke" sindir Naomi, Jester pun merasa malu dan memalingkan wajahnya.
"Yah... memalukan memang... aku bingung harus menjawab apa saat Camilla bertanya tentang video itu" ucap Jester menjelaskan pokok permasalahan diantara mereka, perlahan Naomi menatap langit sembari menghela nafas.
"Kamu gak salah, Luke gak tahu kebenaran tentang kita" ucap Naomi seakan menyesali Jester yang tidak langsung terus terang, begitulah yang Jester rasakan ketika mendengar perkataan Naomi.
"Aku gak bisa beritahu kebenarannya pada Camilla bukan karena aku gak ingin, tapi karena Luke dan Harry sangat dekat dengan papa mama ku. aku benar - benar memalukan ya" dengan penuh penyesalan Jester mengatakannya, Naomi menatap Jester masih seperti sedang menyimpan sesuatu dari Jester.
"Entahlah... tapi sikapmu tadi... cukup jantan, kamu membela wanita itu dari kata - kata kasar Luke" puji Naomi lagi, Jester menatap Naomi yang tersenyum saat mengucapkan kalimat pujian itu.
__ADS_1
Jester mengernyitkan dahi mencoba mencari tahu apa arti dari pujian Naomi kepadanya, keduanya sempat terdiam beberapa saat dengan saling bertatapan mata. Jester merasa bingung untuk memulai pembicaraan lagi namun Naomi juga sepertinya tidak ingin beranjak dari tempat itu meski dia hanya diam, Jester menggaruk garuk dahinya sambil berusaha mencari topik untuk memecahkan keheningan dan kecanggungan diantara mereka.
"Lalu.... dimana Selena? aku membentaknya tadi, aku rasa aku harus mengucapkan maaf padanya" tanya Jester dengan nada penuh penyesalan
"Dia pulang duluan sejak kamu mengungkapkan perasaanmu pada Camilla, dengan suara lantang seperti itu siapa sih yang gak dengar" jawab Naomi dengan nada menyindir, Jester kembali merasa malu saat itu.
"Ooh gitu ya, iya juga sih... Heem, Naomi.. ada yang aku ingin tanyakan padamu" ucap Jester lalu menatap Naomi dengan ekspresi serius, mendadak nada bicara Jester berubah dengan sedikit tekanan.
"Ya? apa?" Naomi menanggapi santai sikap serius Jester
"Sikapmu agak dingin hari ini, apa aku.... berbuat salah padamu? kupikir sejak kejadian di taman kota itu kita bisa sedikit lebih akrab lagi" tanya Jester yang terlihat bingung dengan perubahan sikap Naomi hari ini
Agak lama Naomi terdiam dan hanya menatap Jester sejak pertanyaan itu dilontarkan, lalu tiba - tiba Naomi berbalik hendak meninggalkan Jester tanpa sepatah katapun. Terkejut lah Jester lalu mengejar Naomi yang akan meninggalkannya begitu saja, Jester menggenggam lengan Naomi agar langkahnya terhenti namun Naomi tetap tidak berbalik untuk menatap wajah Jester.
"Heii!! jadi benar aku berbuat salah padamu? katakan lah jangan gini" Jester memaksa Naomi untuk bicara, perlahan Naomi menundukkan kepalanya sebelum menjawab pertanyaan Jester.
"Kamu tidak sadar?" tanya balik Naomi
dengan mengerutkan dahi Jester berusaha mengingat apa dia pernah membuat Naomi marah, namun tidak satupun yang Jester ingat tentang hal yang mungkin bisa membuat Naomi marah padanya dalam satu bulan ini.
"Tidak, setelah kejadian di taman kota itu aku rasa aku tidak membuat kesalahan apapun. Bertemu denganmu saja tidak, bagaimana bisa aku membuatmu marah?" jawab Jester dengan penuh kebingungan, Naomi berbalik dan menarik lengannya agar lepas dari genggaman tangan Jester lalu menatap wajah Jester.
"Jadi menurutmu kenapa Selena saat ini tidak ada di sampingku?" tanya Naomi dengan nada yang begitu menekan
"Dia pulang lebih dulu saat..." Jester menghentikan ucapannya karena tersadar, ekspresi wajah terkejutnya begitu nampak dihadapan Naomi.
"Sepertinya kamu sudah tahu alasannya..." dengan nada datar Naomi mengatakannya, Jester terlihat terkejut saat itu.
Jester berusaha untuk mencari alasan kenapa Selena tiba - tiba menyukainya, sejauh yang Jester tahu selama ini baik dirinya dan Selena tidak pernah memiliki momen apapun yang akan membuat Selena menjadi suka padanya.
"Saat pulang dari taman kota, Selena mengatakan bahwa dia ingin memilikimu dan merebut mu dariku. Aku ingin memberikan ruang untuknya dan maaf kalau kamu merasa aku marah padamu" timpal Naomi lalu hendak berjalan kembali meninggalkan Jester, namun Jester kembali menarik lengan Naomi untuk menahannya.
"Tapi sejak kapan? aku baru bertemu dengannya...." belum selesai kalimat Jester, Naomi memotong tanpa membalikkan badannya kembali menatap Jester.
"Sejak SMA, katanya dia sudah menyukaimu sejak saat itu. Dia adik kelasmu kan? saat itu dia tidak tahu bagaimana caranya agar dekat denganmu karena kamu menyukai sahabatnya, sekarang dia punya kesempatan untuk dekat denganmu. Selamat ya, kamu punya seseorang yang tulus mencintaimu" jawab Naomi dengan tenang
Genggaman tangan Jester melemah dan membuat lengan Naomi terlepas, lalu Naomi berjalan meninggalkan Jester disana. Untuk beberapa saat Jester masih tetap terpaku dan terdiam sembari menatap punggung Naomi yang berjalan terus menjauhi dirinya, otak Jester kini dipenuhi perasaan yang campur aduk antara senang, sedih, panik dan tentu saja rasa bersalah pada Selena karena dia sempat membentak Selena.
Hari pun berganti sejak rentetan kejadian tidak menyenangkan kemarin, di pagi hari Jester terbangun dari tidurnya lebih pagi daripada hari - hari biasanya. Bahkan William pun belum muncul juga dari balik pintu kamar, masih rebahan Jester nampak bengong menatap langit - langit kamarnya hingga beberapa saat William membuka pintu kamar Jester yang membuat Jester tersadar dari lamunannya. Untuk sejenak keduanya saling bertatapan mata, namun tidak satupun dari mereka yang ingin memulai obrolan.
"Ck sial aku terlambat!" gumam William penuh dengan penyesalan, mendengar penyesalan William itu membuat Jester mendadak kesal pada William
"Kenapa papa menyesal hanya gara - gara ini?!" dengan nada penuh kekesalan Jester mengucapkannya, sejenak ekspresi wajah William terlihat khawatir menatap anaknya
"Hei... ada apa anak ku? kamu terlihat murung, atau karena..." William seperti menyadari sesuatu dan langsung berlari mendekati Jester lalu meremas pundak Jester begitu kuat, Jester sampai terkejut karena tiba - tiba William seperti ketakutan menatapnya.
"Apa karena Nona Naomi akhirnya menyadari bahwa kamu kelainan?!!" William mengatakannya dengan perasaan tegang dipenuhi dengan ketakutan, Jester pun emosi mendengar perkataan William.
"Bukan!!! Haah... tidak seperti itu, bagaimana ya?" Jester terdengar bingung sambil menghela nafas, William melepaskan tangannya dari pundak Jester dan duduk dengan santai di kasur bersebelahan dengan Jester.
"Ceritakan saja pada papa mu ini, jangan ragu - ragu. Saran papa pasti bagus untukmu" ucap William dengan penuh keyakinan, namun wajah Jester menunjukkan keraguan atas pernyataan William.
"Papa, menurutmu wanita itu seperti apa?" tanya Jester memulai curhatannya, William terlihat bingung dengan pertanyaan Jester
"Hmm? pertanyaanmu agak sulit dimengerti" jawab William sedikit heran menatap Jester, Jester duduk mendekati William.
"Aku... saat ini sedang mencintai seseorang..." belum selesai bicara William memotong perkataan Jester dengan wajah panik dan ketakutan
__ADS_1
"Dia seorang wanita kan?!" William bertanya terdengar begitu panik , Jester kembali marah atas respon William
"Tentu saja!! aaah sial, masih pagi aku sudah sangat kesal" jawab Jester dengan kesal dan ingin segera mengakhiri curhatannya, William kembali tenang sembari menatap wajah anaknya yang terlihat tertekan.
"Apa wanita itu juga mencintaimu?" tanya William singkat ingin memastikan posisi percintaan yang sedang dialami anaknya, Jester mengalihkan pandangannya menatap William kembali.
"Aku tidak tahu, dia bersikap manis padaku sesekali tapi aku selalu gugup saat bertemu dengannya jadi pasti membuatnya Ilfeel. Disaat bersamaan ada wanita lain yang terang - terangan mencintaiku namun aku tidak memiliki rasa padanya" jawab Jester berusaha menjelaskannya sesingkat mungkin tentang permasalahan cintanya, William berdiri lalu berjalan membuka gorden jendela kamar Jester dan terdiam sejenak menatap keluar jendela.
"Aku tahu kebimbanganmu, Tapi Jester... kadang kita tidak selalu memiliki sesuatu yang kita inginkan, namun disaat bersamaan kita akan mendapatkan ganti dengan yang lebih kita butuhkan. Jika papa bertanya, apakah sesuatu yang kamu inginkan saat ini akan memberikan kamu kebahagiaan?" dengan bijak William mengatakannya dan bertanya pada Jester, namun Jester kembali kesal kepada William.
"Yang kita inginkan pasti akan memberikan kebahagiaan kan? kalau tidak bahagia bagaimana mungkin kita menginginkannya?" Tanya balik Jester dengan nada kesal, dengan senyuman William berbalik menatap Jester.
"Saat kamu kecil kamu itu anak yang sulit makan dan lebih mementingkan bermain bersama teman - temanmu. Disaat bermain itu kamu terlihat sangat bahagia jadi kamu terus terusan bermain seperti keinginanmu, namun perlahan tapi pasti permainanmu saat itu memburuk. Kamu semakin lemas dan tidak terlihat bahagia sampai mama mu datang, membujuk dan menyuapi dengan makanan favoritmu. Saat itu kamu menolaknya sambil berkata aku ingin main... aku ingin main..." William bercerita tentang masa kecil Jester, sejenak William terdiam dan sedikit menahan tawanya sembari menatap anak kecilnya yang sudah tumbuh semakin besar dan dewasa.
"Mama mu dengan segala caranya akhirnya berhasil membujuk dan menyuapi mu, ketika kamu sudah mulai kenyang..... saat itu kamu kembali bersemangat bermain dan seketika permainanmu membaik. Jadi menurut papa saat ini kamu seperti dirimu yang dulu, kamu tidak bisa membedakan mana kebutuhanmu dan mana keinginanmu. Jadi papa tanya sekali lagi, apa saat ini sesuatu yang kamu inginkan akan membuatmu bahagia?" William mengatakannya sambil berjalan mendekati Jester dan menepuk pundak Jester beberapa kali lalu meninggalkannya di kamar itu, namun Jester hanya terdiam menatap William yang berjalan keluar dari kamarnya.
"Huuh... dasar papa, malah memberi pertanyaan berat lainnya... tapi apa benar bersama Camilla akan membuatku bahagia? aku kan belum tau keseharian ku jika bersamanya" gumam Jester nampak kesal sendiri saat itu
sejenak Jester membiarkan pertanyaan William berlalu begitu saja didalam telinganya, Jester pun segera bergegas mandi kemudian bersiap menuju kampus. Dengan membawa porsche 911 merah yang melaju dengan kecepatan sedang serta diiringi lagu favoritnya, pertanyaan dari William kembali mengganggu Jester namun dia memilih memikirkan itu nanti.
Pintu masuk gedung kampus menjadi pemandangan bagi Jester yang sudah tiba di kampus, kemudian Jester segera memarkirkan mobilnya di area parkir dan setelah Porsche 911 terparkir sempurna dia pergi berjalan menuju kelasnya dan secara tidak sengaja bertemu dengan Naomi dan Selena disalah satu koridor kampus.
Jester nampak canggung saat itu, antara mau menyapa atau tidak setelah tahu perasaan Selena padanya. Namun Jester memilih untuk tetap bersikap biasa dan mencoba untuk bersikap seakan tidak mengetahui kebenaran tentang perasaan Selena kepadanya, meski bagi Jester itu tidaklah mudah.
"Pagi Selena... Aoi..." sapa Jester walau merasa ada kecanggungan, mendengar suara Jester saat itu Selena dan Naomi serentak menatap Jester yang menyapa mereka.
"Pagi..." sapa Naomi dingin sedangkan Selena membuang muka saat Jester menatapnya
Meski terlihat cuek dan masih menyimpan rasa marah, namun sebenarnya Selena hanya malu sampai tidak berani untuk menjawab ucapan selamat pagi dari Jester. Melihat apa yang Selena tampakkan pagi itu membuat Jester semakin yakin jika apa yang dikatakan Naomi adalah kebenaran, setelah mengumpulkan keberanian Jester menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Selena.
"Huft... Selena aku minta maaf kemarin agak membentak mu" celetuk Jester,
Selena terdiam beberapa saat sembari memandangi tangan Jester yang mengajaknya bersalaman, lalu pandangan Selena tertuju pada wajah Jester yang terlihat sangat menyesal. Selena tersenyum sambil menahan tawanya lalu berjabat tangan dengan Jester, wajah manis Selena kembali bersamaan dengan menerima jabat tangan dari Jester.
"Apa ini kak? tidak hanya style mu ya bahkan sampai cara mu meminta maaf juga kuno" sindir Selena sambil sedikit tertawa, wajah Jester terlihat memerah menahan malu karena ejekan Selena.
"Hei!! aku ini tulus meminta maaf padamu!" ucap Jester terdengar kesal karena sindiran Selena, Selena pun tertawa kecil karena sikap dan juga wajah Jester yang memerah
"Iyaa.. iyaa.. aku maafkan, aku juga minta maaf karena kemarin tidak menghiraukan perasaanmu pada wanita itu" ucap Selena dan seketika senyuman Selena berubah menjadi ekspresi yang menunjukkan penyesalan, namun tiba - tiba Selena tersenyum manis menatap Jester sambil melepaskan tangannya.
Jester pun membalas senyuman Selena dan tidak beberapa lama terdengar suara Harry memanggil Jester dari kejauhan, hampir bersamaan ketika itu baik Jester, Naomi, dan Selena berbalik melihat Luke dan Harry yang sedang berjalan bersama mendekati mereka.
"Jester!!" sapa Harry agak berteriak
Luke terlihat canggung ketika menatap Jester saat itu, begitu pula dengan Jester yang merasa sangat bersalah saat melihat wajah Luke yang terlihat lebam bekas pukulannya. Jester sadar bahwa dia memukuli Luke dengan sangat keras, berbeda dengan pukulan Luke kepada dirinya yang tidak meninggalkan bekas pukulan berarti. Jester berjalan mendekati Luke dan segera meminta maaf padanya tanpa basa - basi.
"Luke aku menyesal dan maafkan aku bro" ucap Jester dengan penuh penyesalan
Namun Luke tidak menjawab permintaan maaf Jester dan hanya memberikan sepasang kupon berwarna emas kepada Jester tanpa kata, meski heran namun Jester menerima kupon itu.
"Apa ini?" tanya Jester bingung sembari membaca isi tulisan dalam kupon itu
Wajah Jester pun terlihat terkejut setelah membaca tentang kupon itu, berbanding terbalik dengan ekspresi Harry yang nampak begitu antusiasnya melihat Jester menerima kupon itu.
"Voucher makan malam romantis, Aku khusus membelikannya untukmu dan Naomi" celetuk Luke tanpa beban
bagai petir di siang bolong, Jester dan Naomi jelas sangat terkejut dengan celetukan Luke. Pernyataan Luke benar benar membuat Naomi yang sedari tadi hanya diam untuk memberi ruang pada Selena dan Jester mengobrol merasa khawatir, dengan segera tatapan mata Naomi pun menatap ekspresi Selena yang tiba - tiba terdiam dan kehilangan senyumannya.
__ADS_1