
Siang hari yang cerah dengan udara yang cukup panas, di salah satu parkiran kampus swasta terkenal dipusat kota terlihat empat Mercedes Benz G63 menghadang mobil Mercedes Benz V260 milik Jester. Dari mobil Mercedes Benz G63 turun dua belas pria berpakaian tuxedo berwarna hitam, lengkap dengan kaca mata hitam yang mereka kenakan semakin menambah kesan mereka seperti anggota mafia yang kejam.
Jester dan Luke berdiri paling depan menghadang kedua belas pria itu untuk melindungi Naomi, Harry, Selena, Justin dan Grece, mereka semua tidak mengerti apa yang kedua belas pria ini inginkan dari mereka. Terdiam dan saling menatap tanpa sepatah katapun, tiba - tiba salah satu dua belas pria bertuxedo itu mengeluarkan selembar foto dan mencocokkan wajah difoto itu dengan wajah Jester.
"Dia orangnya" ucap pria yang memegang foto sambil menunjuk kearah Jester, sontak Naomi, Selena, Harry, Justin dan Grece menatap Jester secara bersamaan.
"Kamu punya masalah sama mafia?" tanya Naomi ketakutan, Jester tidak merespon pertanyaan Naomi dan terus menatap kedua belas pria itu dengan tatapan tajam. Pria bertuxedo yang membawa foto Jester maju beberapa langkah mendekati Jester, lalu menaruh tangan kanan didada kiri dan sedikit membungkuk.
"Tuan Muda Jester Gates, kami di perintahkan menjemput dan mengantar anda untuk menemui kakek anda di kediaman besar Gates Family" ucap pria itu dengan sopan, perkataan pria itu kembali membuat Jester dan teman - temannya terkejut.
"Mana mungkin aku percaya pada kalian" tegas Jester mengatakannya, dengan sigap pria bertuxedo itu mengeluarkan handphone milikinya dan melakukan panggilan video yang diarahkan langsung kepada Jester. Tidak lama dilayar handphone tersebut muncul wajah William dan Marrie yang terlihat khawatir, wajah terkejutnya pun begitu terlihat ketika mereka melihat Jester dan teman - temannya.
***
"Jess!! kamu baik - baik saja?" tanya Marrie yang begitu khawatir
"Papa? mama?" tanya balik Jester hampir bersamaan dengan pertanyaan Marrie
"Hei nak, bagaimana keadaan nona Naomi? kamu harus menjaganya dengan baik nak!" dengan panik William mengatakannya
"Siapa orang - orang aneh ini, papa?" tanya Jester, William dan Marrie saling menatap dan lalu keduanya menghela nafas bersamaan dan menatap Jester kembali.
"Nak sudah waktunya kamu tahu tentang keluarga besarmu atau mungkin lebih tepatnya tentang kakekmu Arthur Gates" jawab William dengan tegas dan tersirat ketakutan, Jester pun terlihat terkejut mendengar perkataan William.
"Papa... aku punya kakek?" tanya Jester terdengar bingung
"Ya tentu saja anak bodoh! kamu pikir papa lahir dibawa burung bangau?!" bentak William penuh emosi
"Ya mana aku tahu, papa aja gak pernah cerita tentang kakek!!" jawab Jester begitu kesal pada William
"Sudah! sudah!! duuh kalian ini bertengkar disaat sepertin ini!! Jess... ikut dengan pria - pria itu dan ingat selalu jaga Naomi! kami akan menjelaskannya ketika kamu sudah sampai disini, mengerti?" tegas Marrie mengatakannya
"Mama dimana? kenapa aku harus ikut mereka?" tanya Jester penasaran
"Kami di rumah besar keluarga Gates, sama sepertimu.... mama dan papa diculik oleh kakek. Jadi kamu menurut saja, kakek bukan tipe orang yang mau menerima penolakan" jawab Marrie dengan panik, Jester pun menganggukkan kepalanya lalu video call pun terputus
***
"Bisa kita pergi sekarang tuan muda Jester Gates?" tanya pria bertuxedo itu, Jester menatap Luke dan memberikan kunci mobilnya kepada Luke.
"Bawa mobilku bersamamu, aku akan menghubungimu jika membutuhkan bantuan. Jadi tetap dekat - dekat dengan handphonemu" tegas Jester mengatakannya, Luke menerima kunci itu dan segera mengangguk.
"Naomi, kamu gapapa kan?" tanya Jester menoleh menatap Naomi yang berada dibelakangnya, wajah takutnya jelas terlihat.
"Aa... aku baik - baik aja" jawab Naomi sedikit terbata, Jester menjulurkan tangannya untuk menggandeng Naomi.
"Jangan jauh - jauh dariku" ajak Jester, Naomi langsung menyambut tangan Jester sembari menganggukkan kepalanya.
"Semua, antar tuan muda dan nona Scott ke kediaman besar Gates!!" perintah salah satu orang bertuxedo itu lalu semuanya kembali masuk kedalam Mercedes Benz G63 termasuk Jester dan Naomi, tidak lama rombongan Mercedes Benz G63 itu meninggalkan kampus.
Selama perjalanan itu Jester dan Naomi yang duduk bersebelahan di mobil ke dua dari empat rombongan Mercedes Benz G63 hanya bisa terdiam, tidak banyak permbicaraan yang keluar dari bibir Jester dan Naomi karena tegangnya suasana didalam mobil.
Perjalanan yang memakan waktu lebih dari satu jam itu melewati perbukitan yang terlihat asri, diujung bukit terlihat sebuah rumah megah yang sudah nampak pagarnya bahkan dari kejauhan. Jester dan Naomi terlihat kagum dengan desain arsitektur rumahnya yang seakan menyatu dengan perbukitan, hingga beberapa menit kemudian sampailah Jester dan Naomi didepan pagar rumah kediaman besar Gates.
__ADS_1
Begitu pagar rumah terbuka, rombongan mobil Mercedes Benz G63 langsung menuju kedepan pelataran rumah yang menjadi pintu utama untuk masuk kedalam rumah yang terlihat megah itu. Begitu turun dari mobil, Jester dan Naomi langsung disambut dengan delapan wanita dengan pakaian maid. Mereka langsung membungkukkan badannya kearah Jester dan Naomi, tidak lama terlihat seseorang pria paruh baya berjalan mendekati Jester dan Naomi.
"Selamat datang di kediaman besar Gates Family, tuan muda Jester Gates" terdengar begitu sopan pria paruh baya itu mengatakannya
"Terima kasih" singkat Jester menimpali perkataan pria paruh baya tersebut
"Saya kepala pelayan dirumah ini, nama saya Julius dan saya yang akan bertanggungjawab memenuhi segala kebutuhan tuan muda dan nona Scott dirumah ini" ucap Julius kembali dengan sopan
"Baik pak Julius, katakan dimana aku bisa bertemu dengan kedua orangtuaku?" tanya Jester agak menekan
"Panggil saja saya Julius tuan muda, untuk saat ini anda tidak diperkenankan menemui Tuan William dan Nyonya Marrie sampai kakek anda Tuan besar Arthur yang mengizinkannya" jawab Julius terdengar begitu sopan dan berhati - hati dalam berbicara, Jester menghela nafasnya.
"Lalu buat apa aku kemari pak Julius?" terdengar kesal Jester mengatakannya, agak tertawa Julius saat mendengar pertanyaan Jester.
"Panggil saja saya Julius, tuan dan nona bisa beristirahat dulu dikamar yang sudah dipersiapkan" jawab Julius
"Lalu pak Ju..." belum selesai Jester berkata, Julius memotong
"Panggil Julius saja tuan muda" timpal Julius
"Ooh iya iya pak Juli..." Jester menghentikan kata - katanya lalu menatap Julius dalam - dalam dan terdiam beberapa saat
"Arrgh!! aku gak biasa menyebut nama langsung orang yang lebih tua dariku!!" agak berteriak Jester mengatakannya, Naomi dan Julius pun tertawa melihat tingkah Jester.
"Anda benar - benar anak tuan William, mungkin anda lah yang ditunggu oleh tuan besar Arthur selama ini" dengan sedikit tawa Julius mengatakannya, perkataan Julius menarik perhatian Naomi dan Jester ketika itu.
"Apa maksudnya Julius?" tanya Naomi penasaran, Julius mengalihkan pandangannya menatap Naomi dan terlihat sedih.
"Umur tuan besar Arthur tidak muda lagi, sudah saatnya beliau menentukan siapa penerus dari keluarga Gates namun baik tuan Andrews, tuan William dan tuan Phillip tidak memenuhi ekspentasi dari tuan besar Arthur" jawab Julius terdengar sedih, Jester dan Naomi pun terdiam.
"Aah Eeh... iya tidak apa..." jawab Naomi terbata, Julius pun langsung memandu Jester dan Naomi untuk masuk kedalam rumah besar itu diikuti oleh delapan wanita berpakaian maid dibelakangnya.
Menyusuri lorong rumah yang terlihat sangat luas dan megah, bahkan membuat Jester dan Naomi tertegun memandangi sekitar mereka. Rumah mereka sudah sangat besar dan mewah, namun ketika melihat rumah keluarga besar Gates masih juga membuat Jester dan Naomi terkagum - kagum. Disebuah pintu dengan ganggang yang berlapis emas, Julius memberi gestur tangan sembari menoleh menatap Jester dan Naomi yang tepat dibelakangnya.
"Disini kamar tuan dan nona, jika ada yang kurang para pembantu rumah tangga dibelakang kalian akan segera menyiapkan semuanya. Mereka ada didepan pintu ini dan akan bergantian menjaga dan siap untuk menerima semua permintaan tuan dan nona" ucap Julius terdengar ramah, Naomi membungkukkan badannya.
"Terima kasih Julius" ucap Naomi dan membuat Julius terkejut
"Nona! tidak boleh menundukkan badan untukku!" agak panik Julius mengatakannya dan membuat Naomi langsung mengangkat badan lalu menatap Julius dengan ketakutan, Julius langsung menoleh kanan kiri terlihat ketakutan
"Ada apa pak.. eeh maksudku Julius?" tanya Jester yang ikutan panik, Julius menghela nafas lalu mencoba menata nafasnya yang terengah - engah.
"Uhuk... begini, dirumah ini strata sangat dijunjung tinggi. Kalian adalah tuan dirumah ini, aku hanyalah pelayan. Ingat ini, apa tuan dan nona paham?" tanya Julius terdengar ketakutan, Jester dan Naomi merasakan kekhawatiran Julius saat itu lalu hanya mengangguk beberapa kali.
"Silahkan tuan dan nona beristirahat" pinta Julius kepada Jester dan Naomi, tanpa kata apapun Jester dan Naomi berjalan masuk kedalam kamar yang telah disediakan. Sempat terdiam sejenak, Julius menatap para pembantu rumah tangga.
"Kalian tahu apa tugas kalian dan tentang menundukknya nona Naomi jangan sampai tuan Arthur mendengarnya, apa kalian paham?" tegas Julius mengatakannya
"Mengerti" ucap kedelapan pembantu rumah tangga bersamaan, Julius menghela nafasnya sejenak.
"Tuan dan nona muda ini begitu mirip dengan tuan William.... pasti akan ada masalah baru dirumah ini, semoga membawa angin perubahan baru dan bukan menjadi angin ribut" gumam Julius sembari pergi meninggalkan tempat itu, para pembantu membubarkan diri dan tersisalah dua orang yang berdiri didepan pintu kamar.
Didalam kamar yang sangat mewah, semua terlihat tersedia dikamar tersebut. Bahkan terlampau luas dan lengkapnya fasilitas dikamar itu, seakan kamar itu adalah sebuah rumah didalam rumah. Jester terlihat sangat mengagumi kamarnya sampai membuatnya antusias untuk berkeliling melihat - lihat sekitar, namun antusiasnya Jester berbanding terbalik dengan Naomi yang nampak terdiam menatap Jester dengan wajah yang ketakutan.
__ADS_1
"Wow... bukankah ini seperti sebuah rumah kecil? bahkan ada pantry dan mini bar didalam sini, kenapa aku gak kepikiran buat kamar seperti ini ya?" terdengar antusias Jester mengatakannya sembari berkeliling mengitari kamar untuk melihat - lihat
"Jess.... kamu gak takut?" tanya Naomi terdengar sedikit bergemetar, Jester pun mengalihkan pandangannya menatap Naomi dengan wajah datar.
"Kenapa takut? jika Arthur itu adalah kakekku, bukannya dia akan sayang padaku sebagai cucunya?" tanya Jester terdengar heran pada ketakutan Naomi, mendengar pertanyaan tanpa beban Jester membuat Naomi menghela nafasnya.
"Jess... kalau dia benar - benar sosok kakek sayang cucu, bukannya sudah dari dulu dia mendatangimu dan memperkenalkan dirinya padamu? papa dan mama juga tidak akan sepanik itu kan? kamu gak merasa ada yang aneh?" tanya Naomi terdengar sedikit kesal pada cueknya Jester, seakan tidak mempedulikan ketakutan Naomi saat itu Jester berjalan mendekati jendela lalu membuka tirainya agar cahaya masuk kedalam kamar.
"Jess!! aku serius!" agak membentak Naomi mengatakannya, Jester menoleh menatap Naomi dengan senyuman.
"Kalau aku menunjukkan seberapa khawatirnya aku saat ini, apa kamu tidak akan semakin tertekan?" tanya Jester dengan suara yang terdengar tenang, mendengar pertanyaan Jester membuat Naomi tersentak sadar.
"Maafkan aku Jess... aku pikir kamu..." belum selesai Naomi berkata, Jester memotong sembari kembali menatap Jendela yang langsung dapat melihat hijaunya perbukitan.
"Kamu tahu, papa tidak pernah sepanik itu dan mama juga selalu tertawa jika melihat aku dan papa berdebat dan bertengkar. Tapi melihat ekspresi papa dan mama membuat aku sadar, satu - satunya yang bisa aku lakukan saat ini adalah berusaha tenang dan berfikir dengan kepala dingin" timpal Jester dengan tenang, perlahan Naomi menundukkan kepalanya dan terlihat menyesal telah berfikiran buruk tentang Jester.
"Maaf Jess... aku gagal menjadi pendamping yang baik untukmu..." terdengar penuh penyesalan Naomi mengatakannya, Jester berbalik dan berjalan mendekati Naomi lalu mengelus kepala Naomi dengan lembut.
"Tidak apa, kamu begitu ketakutan dan itu artinya aku yang gagal menjadi sosok pelindungmu" dengan senyuman hangat Jester mengatakannya, Naomi pun tersenyum membalas senyum Jester lalu Naomi langsung memeluk Jester begitu erat.
"Ayah pernah bilang kalau keluarga Gates itu sangat mengerikan, hanya papa yang berbeda dari tiga bersaudara dikeluarga Gates. Mereka bisa berbuat sesuka hati mereka untuk menghancurkan seseorang jika mereka ingin, aku takut itu akan terjadi pada ayah" dengan nada yang sedih dan khawatir Naomi mengatakannya, Jester memeluk Naomi dengan erat mencoba memberi rasa aman kepadanya.
"Aku tidak akan biarkan itu terjadi, kita harus lihat dan amati dulu apa yang sebenarnya terjadi setelah itu baru kita akan pikirkan langkah selanjutnya" timpal Jester dengan suara yang terdengar tenang, Naomi mendongakkan kepalanya menatap Jester.
"Kita?" tanya Naomi dengan senyum, Jester pun dibuat heran mendengar pertanyaan Naomi.
"Iya, kita... apa ada masalah?" tanya Jester dengan bingung
"Kamu menepati janjimu untuk selalu melakukan semuanya bersama - sama... aku jadi senang mendengarnya~" jawab Naomi manja dengan senyum manis menatap Jester, Jester pun dibuat tertawa melihat tingkah Naomi. Suasana menyenangkan itu mendadak pecah ketika seseorang mengutuk pintu kamar Jester dan Naomi dengan pelan, sejenak Jester dan Naomi menatap pintu dan terdiam.
"Duuh aku berdebar..." celetuk Naomi sembari terus menatap pintu, Jester melepaskan pelukan Naomi lalu berjalan mendekati pintu untuk membukakan pintu itu.
Begitu pintu terbuka, Jester melihat tiga wanita dengan pakaian maid menunduk dihadapan Jester. Wanita dikiri membawa gaun pesta mewah berwarna merah, sedangkan wanita dikanan membawa setelan tuxedo mewah berwarna biru dongker.
"Selamat sore tuan muda Jester Gates, kami ingin mengantar pakaian ini untuk digunakan saat makan malam" ucap wanita yang berada ditengah, Jester sempat menatap pakaian yang mereka bawa.
"Kenapa harus menggunakan pakaian ini?" tanya Jester heran
"Maaf tuan muda kami bersalah, kami akan membawakan pakaian yang lebih baik lagi kemari" terdengar panik wanita yang berada ditengah saat mengucapkannya, Naomi pun berlari dan menyela diantara Jester dan ketiga wanita itu.
"Jess! ini acara makan malam keluarga besar Gates, sudah pasti kita harus menggunakan pakaian seperti ini!" timpal Naomi dengan panik, Jester hanya menatap Naomi dengan heran.
"Terima kasih, kami terima pakaian ini" ucap Naomi sembari mengambil dua pakaian yang dibawa oleh ketiga wanita itu, dengan segera ketiga wanita itu undur diri dan Naomi pun berjalan masuk kembali ke kamar diikuti Jester setelah dia menutup pintu dengan rapat.
"Makan malam dirumah dengan pakaian mewah, sungguh aneh" celetuk Jester tanpa beban, Naomi menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Jester dengan wajah kesal.
"Hei... ini bukan makan malam biasa, jaga sikapmu Jess" timpal Naomi terdengar kesal
"Iya aku tahu, tapi kita kan keluarga. Kenapa tidak bersikap lebih santai?" tanya Jester terdengar kesal, Naomi pun menghela nafasnya.
"Papa benar - benar mendidikmu sangat bebas ya, bahkan hal seperti ini pun kamu buat tanpa beban" jawab Naomi datar, Jester berjalan dan merebahkan tubuhnya dikasur.
"Makan malam hari ini kamu harus menuruti aku, kamu gak boleh membantahku. Aku ingin kamu tampil formal dan aku juga berharap kamu menjaga sikapmu Jess" ucap Naomi dengan sedikit menekan, Jester hanya mengacungkan jempolnya untuk merespon perkataan Naomi.
__ADS_1
"Jess~ ayo donk... kalau kamu gak mau melakukannya demi keluarga ini, setidaknya lakukan demi aku. Aku mengkhawatirkan ayah...." pinta Naomi terdengar sedih, Jester pun tersenyum menatap Naomi.
"Iya iya sayang... aku akan menurut malam ini dan tidak akan membantahmu" dengan lembut Jester mengucapkannya, Naomi terlihat lega mendengar jawaban Jester lalu tersenyum manis menatapnya. Sore itu menjadi sore yang menegangkan bagi Naomi dengan desas - desus yang sempat dia dengar tentang keluarga Gates, bagaimana pun Naomi ingin semua berjalan baik tanpa masalah.