Aku Pinjam Dia

Aku Pinjam Dia
Arielle Yang Tersisa


__ADS_3

Siang menjelang sore disebuah perbukitan yang jauh dari pusat kota, terlihat sebuah rumah dengan pagar yang menjulang tinggi mengikuti kontur perbukitan. Sebuah rumah mewah yang menjadi kediaman bagi keluarga Gates nampak banyak sekali penjaga yang berkeliling disekitar area rumah, sungguh bukan rumah yang terlihat ramah untuk para tamu.


Disalah satu ruangannya terlihat Jester, Naomi, William, Marrie, dan Jessica sedang duduk di sofa dengan wajah yang serius sedang membicarakan sesuatu yang sangat penting, sedangkan Julius masih berdiri di pintu yang menjadi akses keluar masuk kedalam ruangan tertutup itu. Jester satu - satunya orang yang tersenyum penuh semangat dan optimisme tinggi, sedangkan William, Marrie, Naomi dan Jessica nampak sangat khawatir.


Bagaimanapun persidangan hari ini benar - benar begitu menegangkan dan juga tantangan dari Arthur bukan hal yang bisa disepelekan karena banyak hal yang dipertaruhkan untuk mewujudkan keinginan seorang Arthur Gates, terlebih Jester dengan usia mudanya yang masih menjadi mahasiswa aktif dan belum pernah sama sekali mengendalikan sebuah perusahaan membuat semuanya yang berharap pada Jester begitu panik akan sikap yang Jester perlihatkan.


"Baiklah, pertama aku harus tahu keuangan perusahaan!" celetuk Jester, sontak celetukan Jester membuat William menatap Julius.


"Julius, kumpulkan semua data keuangan perusahan Exo Fashion and Style!" tegas William mengatakannya


"Siap" ucap Julius singkat


"Oh jadi nama perusahaan yang akan aku tangani itu Exo" timpal Jester yang baru mengetahui nama perusahaan yang akan dia ambil alih itu, William, Marrie, Naomi dan Jessica langsung bertambah pesimistis mendengar perkataan Jester.


"Kamu baru tahu? kamu yakin bisa menangani ini Jess?" tanya Marrie terdengar sangat ragu


"Aku pikir ada Gates Gates nya seperti hotel papa" jawab Jester dengan sedikit suara tawa yang terdengar


"Itu cerita yang panjang nak, suatu saat papa akan jelaskan" timpal William


"Baik dan untuk yang Kedua, nyonya Jessica aku ingin mengakuisisi Arielle Corp dibawah perusahaan Exo" ucap Jester sambil memandangi wajah Jessica yang masih terlihat sedih dan heran, perkataan Jester membuat Marrie terkejut.


"Jadi rencana mu itu mengambil alih kepemilikan Arielle Corp?" tanya Marrie dengan suara yang terdengar kaget


"Iya, aku berfikir jika kakek hanya menginginkan perusahaan Exo Fashion and Style menjadi nomor satu, maka dengan menjadikan Arielle corp dibawah perusahaan Exo berarti aku sudah menyelesaikan tugas dari kakek" jawab Jester tenang, tiba - tiba suara deham Julius memecahkan konsentrasi semua orang yang berada disana.


"Ehem... maaf Julius menyela, tapi rencana tuan muda Jester tidak bisa terlaksana" timpal Julius dengan tegas, perkataan Julius membuat semua orang menatap serius Julius.


"Kenapa tidak bisa?" tanya Jester heran


"Setahu Julius, keuangan Exo Fashion and Style sangat buruk. Dengan beban utang kepada pemasok cukup tinggi, belum lagi beban - beban gaji dan biaya operasional. Membeli perusahaan lain untuk di akuisisi hanya akan menambah beban perusahaan, lagi pula bagaimana mungkin perusahaan dengan keuangan yang sangat baik akan dibeli oleh perusahaan yang sekarat?" jelas Julius kepada Jester. Dengan detail Julius menceritakan kondisi sebenarnya perusahaan Exo Fashion and Style kepada Jester yang sengaja Arthur tidak ceritakan sebelumnya pada Jester.


"Tapi jika aku menandatangani perjanjian akuisisi maka tidak..." belum selesai Jessica menimpali perkataan Julius, Julius memotong.


"Meski nyonya Jessica menandatangani perjanjian akuisisi, namun orang tuan Arthur Gates yang menjadi mata - mata di perusahan Arielle Corp pasti akan menjadi penghalang" timpal Julius tegas, perkataan Julius membuat Jessica terkejut dan bingung.


"Mata - mata ? Siapa orang itu?" tanya Jessica penasaran dan masih terkejut.


"Pemegang saham nomor dua dan tiga dari Arielle Corp, tuan Jeremy dan tuan Burgess" jawab Julius dengan tenang dan datar, Jessica kembali dikejutkan oleh jawaban Julius.


"Mereka... adalah teman - temanku...." terbata Jessica mengatakannya seakan tidak mempercayai apa yang sudah dia dengar.


"Kamu akrab dengan... mereka?" tanya Marrie mencoba mencari tahu sedekat apa hubungan antara Jessica dan dua orang yang sudah disebutkan oleh Julius.


"Lebih dari akrab.... saat pertama kali Arielle Corp IPO (Initial Public Offering) dan sahamnya masih murah.... tiba - tiba kedua orang ini memborong semua sisa saham yang ada dipasaran... aku, Jeremy dan Burgess membangun Arielle Corp bersama - sama sampai sekarang ini..." terbata Jessica mengatakannya dari nada bicaranya tersirat Jessica masih belum bisa sepenuhnya percaya akan ucapan Julius, suara helaan nafas Julius terdengar saat itu.

__ADS_1


"Apa nyonya Jessica menganggap tuan besar Arthur Gates tidak mengawasi gerak - gerik tuan Andrews secara ketat setelah apa yang terjadi pada kalian?" tanya Julius terdengar tidak percaya bahwa Jessica tidak mencurigai apapun dari hadirnya Jeremy dan Burgess yang tiba - tiba itu, Jessica pun menundukkan kepalanya karena merasa sudah tidak akan ada harapan lagi.


"Tuan besar Arthur Gates sangat berhati - hati dan penuh dengan rencana, tuan besar Arthur Gates juga selalu menyimpan berbagai rencana cadangan tergantung situasi dan kondisi yang disampaikan oleh mata - mata yang sudah ditaruh didalamnya. Itu sudah menjadi kebiasaannya, karena itulah rencana tuan muda..." belum selesai Julius berkata, Jester memotong


"Kakek kali ini ceroboh dengan membiarkan aku dan papa bekerjasama" tegas Jester dengan penuh percaya diri menimpali perkataan Julius, perkataan Jester itu membuat semua orang terkejut bahkan William sendiri.


"Ya itu benar, papa benar - benar bodoh membiarkan aku dan anakku bekerjasama!" tegas William mengatakannya, kepalanya terlihat menggeleng - geleng saat mengatakan hal itu dengan tangan yang dia lipat di dada dan dengan percaya diri William membusungkan dadanya.


"Will, kamu paham apa yang akan direncanakan Jess?" tanya Marrie terkejut karena Will begitu percaya diri seakan Will sudah tahu akan kearah mana Jester membawa mereka semua untuk memenangkan pertarungan dengan Arthur, William pun menoleh menatap Marrie dengan tatapan penuh keyakinan.


"Tidak, aku tidak tahu dan aku juga masih bingung" tegas William mengatakannya


"Suami bodoh!! kenapa kamu melawak disaat seperti ini?!!!" bentak Marrie lalu mencubiti perut William penuh emosi, William hanya bisa berlari menjauhi Marrie yang terus mengejar dan berusaha untuk mencubit perut William bertubi - tubi.


"Aaampuunn! Ampuun sayang!!!" teriak William memohon pada Marrie, Naomi pun tertawa melihat calon mertuanya yang bertingkah seperti remaja yang masih dimabuk asmara itu. Naomi teringat tingkahnya jika kesal dan marah pada Jester, seakan melihat cerminan dirinya sendiri.


Pemandangan pasangan paruh baya yang bertingkah seperti remaja ini sedikit meredam ketegangan yang ada dalam ruangan itu, Julius dan Jessica terlihat sedikit menahan tawa akan tingkah yang ditunjukkan oleh William dan Marrie saat itu sebelum akhirnya mereka kembali berkonsentrasi membahas tentang semua rencana Jester.


"Tuan muda Gates... kenapa anda begitu yakin jika.... Arielle Corp bisa diselamatkan?" tanya Jessica terbata dan menatap Jester penuh keraguan, Jester tersenyum lebar sebelum menjawab pertanyaan Jessica.


"Jika kakek melangkah seribu kali maka aku akan melangkah seribu satu kali didepannya, Sarah adalah temanku yang berharga dan tidak akan pernah aku biarkan teman - temanku menderita walau itu artinya aku juga harus berkorban. Pertemanan ini akan selalu aku jaga karena aku sudah berjanji pada seseorang" jawab Jester dengan senyum merekah dan optimis, Jessica tertegun menatap wajah Jester.


"Serahkan ini padaku nyonya Jessica, nyonya cukup percaya dan bantu aku sepenuh hati" celetuk Jester lagi dan menatap Jessica dengan serius, Jessica tertawa kecil mendengar perkataan Jester.


"Keluarga Gates yang menakutkan itu akan berubah seratus delapan puluh derajat jika tuan muda Jester yang memimpin" dengan sedikit tawa yang terdengar saat Jessica mengatakannya, Jessica menjulurkan tangannya ingin berjabat tangan dengan Jester.


"Ayo kita kalahkan kakekku" dengan senyuman Jester mengatakannya, Jessica menganggukkan kepalanya dan senyumnya masih terus merekah.


"Lalu... apa rencana mu Jess?" tanya Naomi penasaran, Jester melepaskan jabat tangannya lalu menatap Naomi dengan senyum penuh kemenangan.


"Begini rencana....." jawab Jester dan membuat Marrie berhenti menyiksa William yang dia duduki punggungnya dilantai


Jester menjelaskan semua rencananya didepan Naomi, William, Marrie, Jessica dan didengar langsung oleh Julius, senyum Julius memberi arti dia sangat senang dengan rencana Jester yang diluar dugaan itu. Baik William, Marrie dan Jessica terlihat tidak ada satupun diantara mereka yang keberatan. Hingga dua jam lebih rapat diantara mereka pun selesai dilakukan, mereka semua sudah sepakat dan sudah sangat paham tugas mereka masing - masing.


Julius mengantar Jessica untuk keluar dari kediaman Gates, namun ditengah perjalanan menuju gerbang terlihat Andrews menghadang jalan Jessica dan Julius. Andrews menatap Jessica dengan tatapan yang menunjukkan kesedihan dan penyesalan, namun tatapan itu tidak digubris oleh Jessica yang hanya menundukkan pandangannya seakan dia menolak untuk saling bertatap mata lagi.


"Jessica... aku perlu bicara denganmu" pinta Andrews kepada Jessica


"Tidak ada yang perlu kita bicarakan tuan Andrews Gates" tolak Jessica dengan sopan


"Jessica! kita sudah sejauh ini dan kamu tiba - tiba menyerah?!" penuh dengan emosi Andrews mengatakannya, Jessica langsung mengangkat kepala dan menatap Andrews dengan berlinang air mata.


"Dulu kamu hanya diam saja ketika aku ditekan oleh ayahmu, tapi aku terima dan diam saja!! sekarang didepan matamu sendiri ayahmu akan menghancurkan anak semata wayang mu dan kamu masih saja hanya diam?! kemana naluri mu sebagai seorang ayah untuk melindungi anak kita?!!" bentak Jessica begitu emosi, perkataan Jessica membuat Andrews terdiam tertegun memandangi wajah Jessica yang berlinang air mata.


"Aku bahkan rela mempertaruhkan nyawaku untuk Sarah... aku rela pindah sana sini untuk melindungi Sarah dari cengkraman ayahmu... aku rela kehilangan segalanya demi anakku dan anakmu... tapi kamu? apa yang sudah kamu korbankan untuknya? apa?!!" bentak Jessica lagi, Andrews pun menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Sekarang... seseorang yang tidak ada hubungannya sedang berjuang untuk menyelamatkan masa depan anak kita... dan kamu masih saja hanya berdiam diri... pengecut" ucap Jessica lalu kembali berjalan hendak menuju pagar utama kediaman Gates, sedangkan Andrews hanya terdiam mematung menatap lantai seakan menyesali yang terlah terjadi.


Julius yang mendengar dan menyaksikan langsung hanya bisa menghela nafasnya dan kembali berjalan mengejar Jessica, dengan lembut tangan Julius menepuk pundak Andrews lalu segera berlalu begitu saja. Hingga di pelataran rumah dimana Jessica berdiri sambil menangis dan menyeka air matanya, Julius memanggil seorang penjaga untuk mendekat dan membisikinya sesuatu. Penjaga itu menganggukkan kepalanya lalu segera melangkah pergi, kemudian Julius kembali berjalan beberapa langkah sampai dia berdiri sejajar dengan Jessica.


"Rencana tuan muda Gates terlihat sangat matang, semua tergantung bagaimana kita menyelesaikan tugas yang diberikan oleh tuan muda Gates" ucap Julius terdengar tenang, Jessica kemudian mengangkat kepalanya dan menatap air mancur yang jaraknya cukup jauh dari tempatnya berdiri.


"Pak Julius...." celetuk Jessica menggantungkan kalimatnya, Julius perlahan menatap Jessica.


"Ya?" dengan rasa penasaran Julius bertanya


"Angin yang pernah anda katakan pada saya sudah berhembus... Tuan muda Gates... Jester Gates yang akan merubah keluarga besar yang dingin ini akan menjadi hangat.... aku akan menjadi jembatan penopang agar itu terjadi dan semoga kedepan tidak ada lagi Jessica Jessica lain sepertiku" dengan senyum penuh ketulusan Jessica menjawab dan menatap Julius


"Ya... aku berharap seperti itu, sampaikan salam ku pada cucu ku.... aku kakek jauhnya merasa malu tidak dapat berbuat apapun untuknya..." terdengar sedih Julius mengatakannya, Jessica kembali menatap air mancur di taman.


"Tidak apa paman.... ayah pasti mengerti mengapa semua ini bisa terjadi sampai seperti ini..." dengan penuh penyesalan Jessica mengatakannya, Julius pun menghela nafasnya.


"Hanya tersisa aku, kamu dan Sarah dari keluarga besar Arielle, namun semua itu pantas kita dapatkan mengingat pengkhianatan keluarga besar kita pada tuan besar Arthur Gates" dengan nada yang terdengar tenang Julius mengatakannya, Jessica hanya menganggukkan kepalanya beberapa kali.


"Kali ini untuk kedua kalinya Arielle akan berkhianat pada tuan besar Arthur Gates lewat tanganku, semoga pilihan kita tepat mempercayakan semuanya pada tuan muda Jester" ucap Julius lagi melanjutkan perkataannya, tidak lama sebuah mobil pun berhenti didepan pelataran rumah. Jessica langsung berjalan hendak masuk kedalam mobil itu, namun langkahnya terhenti dan kemudian berbalik menatap Julius saat Jessica membuka pintu mobil.


"Paman.... berjanjilah satu hal..." ucap Jessica


"Apa?" tanya Julius


"Ketika tuan muda Jester menjadi pemegang keluarga Gates... berhentilah bekerja dan kembalilah kerumah besar... pimpin lagi keluarga Arielle sesuai pesan mendiang kakek, aku dan Sarah akan kembali membangun keluarga besar ini bersama - sama denganmu" jawab Jessica lalu tersenyum kepada Julius yang hanya terdiam menatap Jessica tanpa ekspresi, tidak lama Jessica masuk kedalam mobil itu dan meninggalkan kediaman Gates.


Hari berlalu dan malam berganti pagi, Jester terbangun dari tidurnya dan matanya menatap wajah cantik Naomi yang masih tertidur pulas. Garis senyum Jester terlihat seiring dia menatap wajah calon istrinya itu, perlahan Jester beranjak dari tidurnya dan segera melangkahkan kaki menuju kamar mandi untuk memulai rutinitasnya. Tidak lama Jester sudah menyelesaikan rutinitasnya dan ketika kembali menuju kasur, Jester melihat Naomi duduk bersandar di dipan kasur.


"Ohaiyou darling~" sapa Naomi terdengar manja, garis senyum Naomi merekah seiring melihat senyum Jester saat menatapnya


"Selamat pagi sayang, sudah siap pergi ke kampus?" tanya Jester terdengar senang, Naomi menjulurkan kedua tangannya memberi gestur agar Jester memeluknya.


"Peluk~" jawab Naomi dengan manja, Jester langsung sedikit berlari dan melompat ke kasur dekat dengan Naomi. Begitu dekat Jester langsung memeluk Naomi dengan erat, begitu pula dengan Naomi yang langsung membalas pelukan Jester dengan erat.


"Jess....~" celetuk Naomi masih terdengar manja


"Iya sayang?" tanya Jester


"Aku kan kehilangan waktu untuk belajar.... sedangkan pesaing - pesaing ku punya banyak waktu untuk belajar..." jawab Naomi yang suaranya tiba - tiba menekan, Jester pun mendadak berkeringat dingin.


"Kamu bantu aku ya.... mana mungkin aku merelakan kamu pergi dengan Selena berdua terlebih dengan Camilla!!!" bentak Naomi, mendengar perkataan Naomi membuat Jester mendadak panik.


"Waa! gak mungkin lah Naomi!! kamu harus belajar dengan kemampuanmu, kalau tidak aku bisa mempermalukan nama universitas!!" dengan panik Jester merespon bentakan Naomi, pelukan erat Naomi semakin erat sampai membuat Jester kesakitan.


"Kan kamu pintar!! aku juga cuma jadi pendamping mu kan?!!" bentak Naomi penuh emosi

__ADS_1


"Aaarrgh!! gak gitu Naomi!! akan ada ujian individu yang akan menentukan..." belum selesai Jester berkata, Naomi pun mencubit perut Jester bertubi - tubi.


Pagi itu menjadi pagi yang sangat ribut dan tidak pernah terjadi dirumah besar keluarga Gates, keributan yang sampai terdengar keluar kamar membuat dua wanita dengan berpakaian maid yang sedang berdiri didepan pintu kamar Jester dan Naomi pun heran dan saling menatap.


__ADS_2