
Minggu pagi yang disambut dengan awan mendung membuat udara terasa begitu dingin, aktivitas warga disebuah cluster perumahan terlihat sepi pada hari itu. Tidak seperti hari minggu biasanya, hanya sedikit warga yang berolahraga, jogging, dan senam disekitaran area cluster. Begitu pula disalah satu rumah yang berada dalam area cluster perumahan tersebut, rumah dengan aksen khas jepang milik Jester dan Naomi terlihat dan terdengar sepi. Namun ketenangan dirumah itu tidak berlangsung lama, Naomi terlihat berjalan begitu semangat dilorong utama rumah menuju ruang keluarga. Dengan keras Naomi membuka pintu masuk keruang keluarga itu untuk membangunkan Jester, sontak Jester pun terbangun dengan perasaan terkejut.
"Waaa!! apa?! apa?!!" teriak Jester yang terdengar sangat terkejut, Naomi berdiri menatap Jester di pintu masuk dengan senyuman yang merekah.
"Pagi Jester!!" sapa Naomi dengan teriakan, Jester yang terkejut saat itu sampai terduduk sembari menatap pintu dimana Naomi sedang berdiri menatap dirinya yang masih ada dibalik selimut.
"Kenapa tiap pagi selalu seperti ini sih?" tanya Jester dengan nada yang terdengar kesal, Naomi tertawa dan berjalan mendekati Jester lalu duduk di tatami bersebelahan dengan Jester.
"heii heii... hari ini ada acara apa?" tanya Naomi dengan penuh semangat, Jester menggaruk kepalanya beberapa saat sembari berfikir.
"Apa ya? belum ada sih, paling Justin ngajakin buat latihan. Kalau tidak ada, aku mau keluar sebentar karena ada urusan dengan papa, aku mau kesana agak siang - siangan nanti" jawab Jester, mata Naomi berbinar lalu memegang tangan kiri Jester yang berada diatas selimut.
"Aku ikut!" Celetuk Naomi dengan antusias, Jester pun terkejut dengan sikap dan celetukan Naomi.
"Haah?! kenapa ikut? aku ada urusan pribadi dengan papa!" tanya Jester dengan nada yang terdengar terkejut, raut wajah Naomi mendadak jutek menatap Jester.
"Aku bosan kalau dirumah sendiri, kamu kan cuma mau kerumah papa mama... apa salahnya aku ikut?" tanya balik Naomi dengan nada yang terdengar sebal, Jester mengalihkan pandangannya menatap langit - langit rumah sembari menggaruk dahinya beberapa kali
"Aa gimana ya? aku tuh harus bicara berdua dengan papa, kalau ada kamu..." ucapan Jester dipotong Naomi dan genggaman tangan Naomi semakin erat.
"Aku kan bisa menunggu dikamarmu, jadi kamu bebas bicara berdua dengan papa" timpal Naomi dengan nada yang terdengar sebal, Jester menepuk dahinya dengan keras lalu menatap Naomi dengan raut wajah kesal.
"Aku gak punya pilihan kan?" tanya Jester kesal, Naomi pun tertawa sembari berdiri namun masih menatap wajah Jester.
"Benar, kamu memang gak punya pilihan selain membawaku" jawab Naomi lalu berjalan keluar menuju ruang makan yang menyatu dengan dapur, Jester terdiam beberapa saat sembari menatap Naomi yang berjalan meninggalkannya dengan wajah kesal.
Hujan pun turun, Jester merapihkan kasur lipatnya lalu segera berjalan menuju ruang makan. Diruang makan itu Jester melihat Naomi yang sedang duduk di kursi makan menunggu Jester, sarapan pagi telah tersedia di meja makan. Dengan senyuman Naomi menyambut Jester yang baru masuk kedalam ruang makan, wajah Jester memerah menatap senyum Naomi yang membuatnya nampak cantik dan mempesona. Jester berjalan dan duduk dikursi makan berhadapan dengan Naomi, dengan sigap Naomi memberikan piring sendok dan garpu kepada Jester.
"Apa ada makanan yang ingin aku buatkan untukmu Jester?" tanya Naomi saat Jester menerima peralatan makan dari Naomi
"Aku gak pilih - pilih makanan kok, apapun masakan..." belum selesai Jester menjawab, Naomi memotong jawaban Jester.
"Apa makanan favoritmu?" tanya Naomi dengan nada suara yang terdengar sangat penasaran, tatapan mata Naomi menunjukkan seberapa antusiasnya dia untuk memasak makanan favorit Jester.
"Hmm.. Chicken Cordon Bleu" jawab Jester singkat, Naomi menepuk kedua tangannya dan tersenyum menatap Jester.
"Besok sepulang dari kampus antarkan aku ke supermarket ya, aku akan buatkan kamu chicken cordon bleu" Naomi terdengar antusias saat mengatakannya, Jester tersenyum melihat ekspresi Naomi. Keduanya pun menikmati sarapan dipagi itu, dengan obrolan yang hangat membuat suhu dingin tidak terasa dirumah Jester dan Naomi.
Setelah sarapan, keduanya segera bersiap untuk pergi menuju rumah keluarga Gates. Secara bergantian Naomi dan Jester mandi, lalu keduanya pun kembali terlibat pertengkaran kecil karena Naomi mengatur baju yang harus Jester pakai pada hari itu. Belum lagi pertengkaran kecil karena Naomi berniat menata ulang model rambut Jester, namun Jester menolaknya dengan keras dan Naomi mengalah untuk membiarkan rambut Jester tetap seperti biasa.
Setelah semuanya siap, keduanya menuju garasi mobil dan segera melanjutkan perjalanan menuju rumah keluarga Gates. Dengan diselingi obrolan ringan perjalanan Jester dan Naomi pada hari itu terasa tidak lama, walau butuh sekitar empat puluh menit perjalanan untuk sampai di rumah keluarga Gates. Dipelataran rumah keluarga Gates, Jester dan Naomi disambut oleh kepala pelayan dirumah itu. Keduanya langsung masuk kedalam rumah dan segera menemui Marrie yang berada diruang baca sesuai arahan dari kepala pelayan, didalam ruangan itu Jester dan Naomi melihat Marrie yang duduk sembari membaca sebuah buku.
"Jester... Naomi, tumben berkunjung?" Marrie terlihat terkejut dengan kehadiran keduanya, senyum merekah diraut wajah Marrie menyambut kehadiran anak dan calon mantu tersayang.
__ADS_1
"Siang mama" sapa Naomi dengan lembut dan senyuman yang merekah diwajahnya, Marrie menutup buku yang dibacanya dan meletakkan dimeja lalu segera berlari kecil mendekati Naomi. Marrie memeluk Naomi dengan erat sembari mengelus kepalanya beberapa kali, Naomi terlihat menikmati tangan hangat Marrie saat memeluk dan mengelus kepalanya.
"Mana papa?" tanya Jester pada Marrie, sesaat Marrie melepaskan pelukannya dan menatap Jester lalu mencubit perut Jester dengan keras.
"AAAA!!! mama!! apa yang mama lakukan?!!" teriak Jester sembari menahan rasa sakit hasil cubitan Marrie, Naomi pun tertawa melihat tingkah ibu dan anak yang terlihat sangat akrab.
"Kamu tidak menyapa mama mu dulu dan langsung bertanya dimana papa? sungguh anak durhaka" tanya Marrie terdengar kesal pada Jester, dengan raut wajah kesal Jester menatap Marrie.
"Gak perlu cubit gitu juga kan, lagian... AAAA!!!" ucapan Jester terpotong karena Naomi mencubit perut Jester, Naomi menatap Jester dengan jutek.
"Langsung saja ucapkan selamat siang, apa sulitnya sih?" tanya Naomi terdengar kesal
"Iyaa iyaa!! Selamat siang mama, duuh kenapa harus cubit perut sih?" tanya Jester sembari mengelus - elus perutnya mencoba untuk meredakan rasa nyeri, Naomi dan Marrie pun tertawa bersama. Tidak lama pintu ruang membaca kembali terbuka, William muncul secara tiba - tiba dan langsung berlari mendekati Jester lalu membantingnya dengan jurus judo. Tindakan William itu membuat Naomi Syok saat melihatnya, sedangkan Marrie terlihat biasa saja dengan senyuman yang selalu merekah diwajahnya.
"Uarrgh!! apa - apaan papa?!!" teriak Jester sembari merintih kesakitan, William langsung menatap Naomi dan tersenyum dengan penuh semangat.
"Pagi anak perempuanku!! kamu selalu menawan seperti biasanya" sapa William terdengar senang, namun Naomi masih terdiam beberapa saat karena syok melihat kelakuan William pada anaknya sendiri.
"Aah.. Eeh iya.. pagi pa..pa" jawab Naomi terbata
"Ada apa nih? kenapa kalian datang tanpa pemberitahuan?" tanya William penasaran
"Aku ada keperluan sama papa mama" jawab Jester yang masih terlentang di karpet ruang baca itu, Marrie dan William menatap Jester nyaris bersamaan dengan raut wajah yang penasaran.
"Aah... Eeh iya, kalau begitu aku kekamarmu dulu ya Jess" ucap Naomi lalu membungkuk kan badan dan segera berjalan meninggalkan ruang baca, Jester, William dan Marrie terdiam sampai pintunya tertutup rapat. Diruang baca itu sangat kedap suara, sebuah ruangan yang sangat disukai Marrie untuk menghabiskan hari - harinya dengan membaca.
"Aku butuh bantuan papa dan mama, aku sebenarnya sedikit bingung harus mulai darimana. Tapi karena kita punya banyak waktu luang jadi aku akan mulai semuanya dari awal" ucap Jester memecah keheningan, Merrie dan William hanya mengangguk merespon ucapan Jester kala itu.
Jester pun memulai dengan menceritakan masa lalu Naomi, melanjutkannya dengan membicarakan hubungan antara Naomi dan Naoko, tentang belenggu ketakutan Naomi pada Naoko, dan diakhiri dengan meminta tolong pada William dan Marrie sesuai arahan Justin. Wajah terkejut William dan Marrie tidak dapat ditutupi saat mendengar semua cerita Jester, Marrie sampai menutup mulut dengan tangannya seakan tidak percaya Naomi yang dia kenal selalu tersenyum itu memiliki cerita kelam dibelakangnya.
"Begitulah, aku harap mama dan papa bisa membantu rencana Naomi" ucap Jester menutup ceritanya, William dan Marrie saling menatap dan dengan raut wajah yang terlihat berat untuk mempercayai cerita Jester.
"Rasanya sulit untuk mempercayai ceritamu Jester, benarkah seperti itu masa lalu nona Naomi?" tanya William dengan nada yang terdengar ragu, Jester menghela nafas sebelum menjawab pertanyaan William.
"Aku juga berharap cerita itu hanya mimpi" jawab Jester terdengar sedih
"Will, bukannya kamu bilang kelumpuhan Evans karena kecelakaan mobil? kenapa berbeda dengan yang diceritakan Jester?" tanya Marrie pada William, William pun berfikir keras mencoba menelaah semua informasi yang sempat dia terima.
"Saat itu Naoko yang mengatakan Evans kecelakaan mobil, tapi Naoko tidak memberitahuku dia kecelakaan dimana dan pakai mobil apa sampai membuatnya koma seperti itu. Saat sudah sadar dan aku menemuinya pun Evans mengatakan itu kecelakaan mobil, tapi raut wajahnya saat itu terlihat tanpa penyesalan apapun dan malah aku melihatnya ada kebanggaan tersendiri yang dia simpan" jelas William dan terus berusaha mencari celah cerita Jester adalah kebohongan, Marrie menatap Jester dengan serius.
"Naoko adalah wanita tangguh dengan hati sekeras baja, rencanamu adalah kesia - siaan" ucap Marrie dengan emosi, Jester menoleh menatap Marrie
"Aku tahu, tapi Naomi sudah membulatkan tekat untuk..." belum selesai Jester bicara, Marrie menggebrak meja dan membuat kaget Jester dan William.
__ADS_1
"Naoko adalah ibu Naomi, Naoko berhak untuk menjadikan Naomi menjadi seperti apapun yang dia inginkan dan Naoko pasti punya alasan untuk itu!! kamu jangan ikut campur karena kamu tidak tahu alasan dibalik Naoko melakukannya!!" bentak Marrie pada Jester, namun saat itu Jester terlihat tidak terima dengan ucapan Marrie
"Apapun alasannya apakah seseorang tidak boleh mengekspresikan dirinya sendiri?! tanya Jester agak dengan bentakan
"Jester! Anak harus tunduk dan menurut pada orangtuanya, karena tidak akan pernah ada orangtua yang akan mencelakakan anaknya sendiri! Pahami itu dulu, jadi orangtua juga tidak mudah!" jawab Marrie dengan bentakan, Jester pun terdiam sejenak lalu menarik nafasnya dalam - dalam.
"Apa harus menyuruh ikan untuk memanjat pohon? apa harus menyuruh kucing untuk menyelam di lautan? Apa harus Naomi mengurung dirinya sendiri hanya untuk menjadi sosok yang bukan dirinya?!" tanya Jester menekan, Marrie kembali menggebrak meja.
"Jester! kamu..." namun bentakan Marrie dihentikan oleh William
"Nak, kenapa kamu ingin nona Naomi menjadi dirinya sendiri? apa kamu gak puas dengan nona Naomi yang sekarang?" tanya William dengan nada yang terdengar santai dan tenang, Jester mengalihkan pandangannya menatap William.
"Tidak, dia menjadi sosok wanita yang sangat baik. Aku tidak punya keluhan apapun selama tinggal bersamanya" jawab Jester yang nada bicaranya mulai rendah
"Lalu kenapa kamu ingin membantunya untuk menjadi dirinya sendiri? itu adalah prinsip Naoko sebagai ibu untuk menjadikan anak perempuannya layak menjadi istrimu, itu semua untuk dirimu" tanya William lagi, Jester terdiam sejenak menatap William. Tidak lama Jester menundukkan kepalanya, mendadak Jester tertawa kecil.
"Aku tidak peduli dengan prinsip ibu dan aku tidak ingin Naomi menjadi seperti ibu, cukup menjadi dirinya sendiri dan aku... aku ingin dia menjadi layak untukku karena dirinya dan bukan karena paksaan orang lain" jawab Jester dengan tegas, Marrie dan William pun terdiam mendengar jawaban Jester.
"Kamu ini! jangan keras kepala dan terima saja apa yang sudah susah - susah Naoko bangun untuk dirimu!! mama tidak akan..." bentakan Marrie dipotong oleh William
"Kebanyakan orangtua rela melakukan apa saja demi anaknya kecuali, membiarkan anaknya menjadi dirinya sendiri. Kebanyakan anak - anak juga tidak pernah bagus untuk mau mendengarkan orangtua tetapi, mereka tidak pernah gagal untuk meniru orangtua mereka" ucap William dengan tenang, mendengar ucapan William itu Marrie dan Jester mengalihkan pandangannya menatap William.
"Jika kita biarkan nona Naomi tetap pada ketakutannya, maka itu akan menjadi masalah saat nona Naomi menghadapi anaknya sendiri kelak. Dia akan memperlakukan cucu kita seperti Naoko memperlakukan Naomi, apa itu yang ingin kamu lihat sayang?" tanya William menyadarkan Marrie, Marrie pun tersentak seakan menyadari sesuatu saat mendengar perkataan William.
"Jester, papa akan mendukungmu" celetuk William dengan tegas, Jester pun tersenyum mendengar ucapan William.
"Terima kasih papa" timpal Jester terdengar senang, William dan Jester pun menatap Marrie yang masih terdiam.
"Bagaimana sayang? apa kamu tidak ingin melihat cucu mu tumbuh dengan prinsip kebebasan seperti kita?" tanya William lagi, Marrie pun membuang muka dan terlihat kesal.
"Aku harus memikirkannya dulu, Naoko bukan tipe orang yang mau mendengar yang tidak ingin dia dengar" jawab Marrie dengan emosi, William dan Jester pun terdiam lalu kembali saling menatap.
"Tapi aku tidak ingin cucuku diperlakukan seperti Naoko memperlakukan Naomi, aku harus mengusahakan sesuatu" ucap Marrie melanjutkan kalimatnya dengan nada yang terdengar malu - malu, William pun tertawa terbahak - bahak mendengar celetukan Marrie
"Itulah prinsip kebebasan keluarga Gates, semua boleh mengekspresikan dirinya sendiri sesuai dengan keinginannya tanpa terkecuali!" ucap William dengan tegas dan semangat, namun Jester menatap William dengan kesal.
"Lalu kenapa aku harus hidup dengan prinsip menjalani hidup seperti William?!" tanya Jester yang terdengar kesal, William pun memukul Jester namun Jester dapat menangkis pulukan itu.
"Dasar anak bodoh! hidup seperti William itu keren tahu!!" bentak William
"Keren darimananya?!! penuh kekerasan begini itu keren darimana?!!" tanya Jester dengan bentakan, lalu keduanya pun berantem dan saling pukul satu sama lain. Marrie tertawa melihat kelakuan anak dan ayah yang tidak pernah berubah ini, Marrie menaruh tangannya di meja lalu menopang kepala dengan tangannya sembari menatap William dan Jester yang berantem.
"Ya... kalian benar, apa gunanya hidup jika terkekang. Baik Jester, mama paham... Mama ikut membantu" celetuk Marrie, sejenak William dan Jester pun berhenti berantem sembari menatap Marrie yang tersenyum menatap keduanya. Namun Jester dan William kembali berantem seperti kucing dan anjing, aksi saling pukul, banting dan tendang pun tidak terelakkan, tawa Marrie semakin keras melihat keduanya berantem.
__ADS_1
Mereka bertiga keluar dari ruang membaca dan mendatangi Naomi yang terlihat tiduran di kasur kamar Jester, Naomi terkejut melihat kedatangan William, Marrie dan Jester kekamar dengan tiba - tiba. Hendak beranjak dari kasur namun Marrie menahan Naomi dengan gestur tangannya, Marrie berjalan mendekati Naomi dan langsung memeluk Naomi dengan erat penuh kehangatan.
Walau tidak paham apa yang terjadi, Naomi sangat menikmati pelukan hangat Marrie yang terasa berbeda dengan pelukan saat menyambutnya di ruang membaca. Lalu mereka berempat pun terlibat dalam percakapan yang penuh kehangatan, suara tawa terdengar bahkan sampai keluar kamar membuat pekerja yang bertugas dirumah keluarga Gates pun ikut merasakan kehangatan hubungan mereka. Senyum Naomi yang merekah itu kadang membuat sedih Marrie, seakan masih tidak mempercayai tentang masa lalu kelam Naomi dengan Naoko.